BAB V MODAL SOSIAL MENGALAMI DESRUSPSI
6.3. Bencana dan Modal Sosial di Relokasi Siosar
6.3.3. Partisipasi
Kemampuan orang atau individu atau anggota-anggota komunitas untuk melibatkan diri dalam suatu jaringan hubungan sosial merupakan salah satu kunci keberhasilan untuk membangun modal sosial. Manusia mempunyai kebebasan untuk bersikap, berperilaku dan menentukan dirinya sendiri dengan kekuatan yang dimilikinya. Pada saat seseorang meleburkan diri dalam jaringan sosial dan menyinergiskan kekuatannya maka secara langsung maupun tidak, ia telah menambahkan kekuatan ke dalam jaringan tersebut. Sebaliknya, dengan menjadi
bagian aktif dalam suatu jaringan, seseorang akan memperoleh kekuatan tambahan dari jaringan tersebut.
Asosiasi atau kelompok adalah asosiasi dengan keterlibatan anggota keluarga masyarakat terbanyak setelah asosiasi wanita dan keagamaan.
Keterlibatan masyarakat dalam membentuk kelompok sangat penting. Adapun kelompok ternak ayam, sapi, kambing, perbengkelan, pengelolaan makan ringan, dan koperasi.
Tingginya tingkat keterlibatan anggota rumah tangga di dalam berbagai asosiasi lokal di daerah Siosar karena beberapa faktor dalam kondisi keluarga masing-masing pada 3 desa tersebut. Kondisi keluarga masyarakat di Siosar memungkinkan setiap anggota keluarganya ikut terlibat dalam setiap organisasi/asosiasi/kelompok yang ada atau paling kurang ada satu anggota rumah tangga yang ikut dalam satu asosiasi.
Keterlibatan masyarakat Siosar di dalam berbagai asosiasi menandakan bahwa proses interaksi sosial masyarakat di desa tersebut semakin kuat.
Interaksi yang berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama akan menghasilkan kualitas dan kuantitas interaksi yang lebih tinggi, sehingga akan menjadi modal untuk pembentukan modal sosial dikemudian hari.
Secara umum di ketiga desa tersebut kelompok/asosiasi yang diangggap penting dan paling banyak dimasuki anggota rumah tangga adalah asosiasi/kelompok. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa kebutuhan masyarakat akan nilai spiritual keagamaan yang dianut bagi setiap anggota rumah tangga sangatlah penting. Nilai spiritual menjadi modal (kepercayaan dan jaringan) bagi masyarakat untuk bangkit dan membangun kembali desanya
secara bersama- sama. Jaringan yang terbentuk dari kelompok-kelompok tersebut akan memudahkan masyarakat terhadap akses ke sumber-sumber bantuan dan sekaligus membangun kepercayaan pihak-pihak luar yang akan berinvestasi untuk pembangunan desa mereka.
Keragaman keanggotaan di dalam asosiasi lokal, tidak ada perbedaan yang nyata antara Desa Bekerah, Desa Suka meriah dan Desa Siamcem.
Keragaman keanggotaan dalam asosiasi lokal merupakan bahwa hubungan antara satu kelompok dengan kelompok lain saling membentukan dan kerjasama.
Keragaman keanggotaan di dalam asosiasi lokal memiliki dampak yang positif dan negatif terhadap modal sosial. Dampak positif karena memudahkan anggota kelompok/asosiasi untuk saling percaya satu sama lain, berbagi informasi dan mencapai kesepakatan/membuat keputusan. Dampak negatif, karena lebih sedikit manfaat yang diperoleh dari pertukaran informasi, sehingga proses pengambilan keputusan di tingkat desa menjadi lebih sulit.
Kehadiran kelompok adalah tidak terelakkan. Kodrat biologis manusia, kapasitasnya menggunakan bahasa dan kodrat lingkungannya terolah sedemikian rupa sehingga telah terbukti sejak ribuan tahun yang lalu, manusia hidup dalam kelompok. Walaupun perlu pula diberikan catatan bahwa mungkin saja manusia secara bersama hadir dalam kedekatan secara fisik tapi tidak berada dalam kelompok.
Tabel 6.8
Responden masyarakat di Siosar menyatakan ya untuk menghadiri pertemuan sebesar (96,7%) di Desa Bekerah, Desa Suka Meriah (26,7%) dan Desa Simacem (93,3%). Sebagian responden ada juga yang menjawab tidak di Desa Bekerah (3,3%), Desa Suka Meriah (73,3%) dan Desa Simacem (6,7%).
Masyarakat Desa Bekerah dan Desa Simacem melihat pentingnya menghadiri setiap pertemuan. Karena setiap pertemuan akan membahas hal-hal yang di anggap penting untuk kemajuan bersama. Setiap anggota masyarakat wajib berkontribusi kepada kelompok sebagai wujud komitmen dalam rangka keswadayaan serta ikatan kelompok.
“...Hampir 50% menerima. Tapi sesuai bidang nya. Ada peternakan bebek, lembu, sapi, ayam, ikan lele, puyu. Hanya tidak bisa berjalan dengan baik. Mungkin suhu nya tidak cocok. Sebenarnya mereka sudah tahu apa yang dibutuhkan, Cuman tidak dikasih semua. Karena akhirnya bikin ribut, masyarakat jadi berantam, tidak sepahaman. Ada bantuan dari pihak koperasi berupa pompa air...” (wawancara Yuni)
Modal sosial juga dapat dilihat sebagai tingkat partisipasi masyarakat, bahwasanya modal sosial yang tinggi akan membawa dampak pada tinginya partisipasi masyarakat sipil dalam berbagai bentuknya. Kepercayaan merupakan modal sosial yang penting dalam membangun kemitraan berbasis nilai kekeluargaan yang akhirnya akan menumbuhkan rasa memiliki dari masyarakat.
Kelompok/Komunitas memiliki sejumlah potensi khususnya modal sosial yang membuat bagi warganya dapat bertahan hidup bahkan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan kebutuhan masa kini. Proses-proses sosial yang berlangsung selama ini mencerminkan kuatnya modal sosial yang dimiliki oleh komunitas.
Modal sosial tersebut dapat dilihat dari sistem kerja, hubungan sosial dan aktivitas sosial lainnya.
Tabel 6.9
Kehadiran dalam kegiatan
No Nama Desa
Kehadiran dalam kegiatan
Total
Ya Tidak
F % F % F %
1 Bekerah 9 30 21 70 30 100
2 Suka
Meriah 12 49 18 60 30 100
3 Simacem 17 56,7 13 43,3 30 100
Jumlah 38 52 90
Sumber:Penelitian Lapangan 2017
Responden masyarakat di Siosar menyatakan ya untuk kehadiran dalam kegiatan sebesar (30%) di Desa Bekerah, Desa Suka Meriah (40%) dan Desa Simacem (56,7%). Sebagian responden ada juga yang menjawab tidak di Desa Bekerah (70%), Desa Suka Meriah (60%) dan Desa Simacem (43,3%). Tingkat kehadiran pada masyarakat Desa Simacem tinggi hal ini menyebabkan bahwa partisipasi masyarakat juga tinggi. Tingkat partisipasi anggota juga menentukan keberhasilan kegiatan yaitu mencapai angka 50 persen dengan frekuensi aktif mengikuti pertemuan kelompok/organisasi setiap kali pertemuan. Melihat dari tingkat frekuensi pertemuan anggota.
“...Dalam kegiatan program yang ada di masyarakat kami memiliki tim pendamping, misalnya dalam mengambil keptusan masyarakat dilibatkan, misalnya seperti aspirasi-aspirasi masyarakat kita tampung semua. Mulai dari musyarawah desa, lalu dibawa kecamatan lalu di
bawa ke badan penanggulangan bencana daerah (BPBD).
Keterlibatan masyarakat sangat besar. Mereka yang tahu apa masalahnya. Kita hanya mencarikan solusi dari permasalahan tersebut, keterlibatan mereka yang kita harapkan semua. Kita tidak bisa menentukan programnya, programnya yang buat masyarakat itu sendiri. Kita yang mencarikan solusi bisa di akomodir apa tidak apa tidak bertentangan dengan peraturan yang ada apa tidak, kita tetap menjalankan sesuai dengan peraturan masyarakat juga menerima menjadi sebuah kebutuhan...” (wawancara Natanael)
Modal sosial adalah konsep yang muncul dari hasil interaksi di dalam masyarakat dengan proses yang lama. Meskipun interaksi terjadi karena berbagai alasan, orang-orang berinteraksi, berkomunikasi, dan kemudian menjalin kerjasama pada dasarnya dipengaruhi oleh keinginan untuk berbagi cara untuk mencapai tujuan bersama yang tidak jarang berbeda dengan tujuan dirinya sendiri.
Interaksi semacam ini melahirkan modal sosial; berupa ikatan-ikatan emosional yang menyatukan orang untuk mencapai tujuan bersama, yang kemudian menumbuhkan kepercayaan dan keamanan yang tercipta dari adanya relasi yang relatif panjang.
Responden masyarakat di Siosar menyatakan ya untuk kearifan memberikan ide sebesar (30%) di Desa Bekerah, Desa Suka Meriah (26,7%) dan Desa Simacem (63,3%). Sebagian responden ada juga yang menjawab tidak di
Desa Bekerah (70%), Desa Suka Meriah (73,3%) dan Desa Simacem (70%).
Masyaralat Desa Simacem aktif memberikan ide-ide yang terkait dalam pembangunan relokasi siosar. Perangkat desa juga memiliki peranan penting dalam memajukan desa tersebut.
Pada masyarakat telah diketahui memiliki asosiasi-asosiasi informal yang umumnya kuat dan memiliki nilai-nilai, norma, dan etika kolektif sebagai sebuah komunitas yang saling berhubungan. Hal ini merupakan modal sosial yang dapat mendorong munculnya organisasi-organisasi modern dengan prinsip keterbukaan, dan jaringan-jaringan informal dalam masyarakat yang secara mandiri dapat mengembangkan pengetahuan dan wawasan dengan tujuan peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup bersama dalam kerangka pembangunan masyarakat. Berkembangnya modal sosial di tengah masyarakat akan menciptakan suatu situasi masyarakat yang toleran, dan merangsang tumbuhnya empati dan simpati terhadap kelompok masyarakat di luar kelompoknya.
Musyawarah dan mufakat merupakan proses pembahasan persoalan atau permasalahan secara secara bersama-sama demi mencapai suatu kesepakatan bersama. Yang dimaksud dengan musyawarah mufakat itu sendiri adalah dimana setelah melakukan musyawarah.
Tabel 6.11
Musyawarah menyelesaikan masalah
No Nama Desa
Musyawarah menyelesaikan
masalah Total
Ya Tidak
F % F % F %
1 Bekerah 29 96,7 1 3,3 30 100
2 Suka
Meriah 27 90 3 10 30 100
3 Simacem 29 96,7 1 3,3 30 100
Jumlah 85 5 90
Sumber:Penelitian Lapangan 2017
Responden masyarakat di Siosar menyatakan ya untuk musyawarah menyelesaikan masalah sebesar (96,7%) di Desa Bekerah, Desa Suka Meriah (90%) dan Desa Simacem (96,7%). Sebagian responden ada juga yang menjawab tidak di Desa Bekerah (3,3%), Desa Suka Meriah (10%) dan Desa Simacem (3,3%). Masyarakat di 3 desa Siosar memilih musyawarah merupakan jalan untuk menyelesaikan masalah. Hal ini jug bagian dari budaya karo yang selalu mendepankan musyawarah.
Kekuasaan tertinggi dalam kepemimpinan adat Kuta ada pada runggu atau musyawarah yang dipimpin anak beru tua jabu atau ketua anak beru. Musyawarah adat yang juga biasa disebut musyawarah anak beru senina ini mencerminkan tradisi demokrasi yang kuat dalam masyarakat Karo. Jauh sebelum kemunculan organisasi-organisasi modern yang merujuk pada pola pengorganisiran Eropa, masyarakat Karo telah mengenal tradisi demokrasi yang menjunjung tinggi musyawarah sebagai pemegang otoritas pengambil keputusan tertinggi.
Untuk menumbuhkan kepercayaan,pertukaran informasi yang diberikan di antara warga haruslah informasi yang jujur dan terbuka. Informasi yang diberikan tidak akan berarti apabila dalam hubungan–hubungan tadi tidak didasari
kepedulian. Setiap warga yang berhubungan dalam masyarakat akan menggunakan dan terlibat untuk memecahkan masalah di lingkungannya apabila ada kepedulian di antara mereka. Apabila warga masyarakat mempunyai kemampuan dan kemauan saling berbagi, saling peduli , maka kepentingan–
kepentingan individu akan mengalah kepada kepentingan–kepentingan komunitas kelompok.