• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VII MEMBANGUN KEMBALI MODAL SOSIAL DI

7.4. Mengembangkan Mata Pencaharian

7.4.2. Kondisi pada usaha kecil

Upaya pemulihan ekonomi juga perlu diikuti pemulihan pada lembaga keuangan. Dalam hal ini lembaga keuangan memiliki peran penting dalam permodalan usaha di daerah pasca bencana. Dari sini dibutuhkan strategi yang baik dalam pemulihan ekonomi masyarakat agar mempercepat pertumbuhan ekonomi. Kegiatan ekonomi dalam masyarakat yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menghasilkan ide, tidak hanya melakukan hal-hal yang rutin dan berulang. Karena bagi masyarakat ini, menghasilkan ide merupakan hal

Kegiatan ekonomi dalam masyarakat yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menghasilkan ide, tidak hanya melakukan hal-hal yang rutin dan berulang. Karena bagi masyarakat ini, menghasilkan ide merupakan hal yang harus dilakukan untuk kemajuan.

Pengertian kesejahteran masyarakat adalah suatu tatanan kehidupan masyarakat dan penghidupan masyarakat baik materiil maupun spiritual yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilaan dan ketenteraman lahir, batin yang memungkinkan setiap warga Negara untuk mengadakan suatu usaha dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah, rohaniah dan social yang sebaik-baiknya bagi diri, keluarga serta masyarakat.

Seharusnya tidak ada istilah gagal dalam bisnis ini karena memang sebatas hanya sebagai usaha sampingan atau penghasilan tambahan. Berikut ini merupakan pokok-pokok alasan kenapa Anda seharusnya mencoba bisnis sampingan.

Tabel 7.7

Usaha Sampingan Keluarga

No Nama Desa

Usaha Sampingan Keluarga

Total

Ya Tidak

F % F % F %

1 Bekerah 17 56,7 13 43,3 30 100

2 Suka

Meriah 22 73,3 8 26,7 30 100

3 Simacem 23 76,7 7 23,3 30 100

Jumlah 62 28 90

Sumber:Penelitian Lapangan 2017

Responden yang menyatakan ya untuk usaha sampingan keluarga sebesar (43,3%) di Desa Bekerah, Desa Suka Meriah (73,3%) dan Desa Simacem (76,7%). Sebagaian masyarakat ada juga yang mengatakan tidak seperti Desa

Bekerah (43,3%), Desa Suka Meriah (26,7%) dan Desa Simacem (23,3%).

Masyarakat Desa Suka Meriah dan Desa Simacem usaha mereka selain bertani ada juga mereka yang berternak dan para ibu-ibu yang ikut dalam pengelolaan makanan ringan.

“...Usulan untuk membentuk wadah koperasi digagas oleh pemerintah.

Awalnya kami mencoba mendorong masyarakat dengan jamur tiram, karena lokasi jamur tiram tidak begitu luas lalu modalnya pun ringan, produksinya cepat, tingal cari pemasaran tempo hari sudah dikasih jalan keluar juga. Pemasaran sudah ditampung pemerintah. Karena ini juga belum berjalan, minat dari masyarakat juga belum ada tidak menjadi skala prioritas, lahannya tidak harus besar, bibitnya juga dari dinas. Artinya masyarakatnya saja belum siap. Kalau berdiskusi dengan masyarakat pengennya mereka karena dari turun temurun ya bertani, apapun dia bentuk usahanya tapi pengelolaannya berkaitan dengan pertanian, walaupun kita dirikan koperasi itu tadi pertanian tetap diutamakan. Koperasi ini dibilang sambil ya betul juga sambilan memang itulah sudah nafasnya...” (wawancara Ariadi)

Beberapa pengetahuan yang juga perlu diketahui agar makin banyak orang menjalani usaha sampingan ini yaitu:

a. Berawal dari ide bagus dan kemampuan unik, Kebanyakan perusahaan besar yang sudah sangat terkenal di dunia sekarang ini berawal dari sebuah usaha sampingan yang merupakan buah ide bagus, serta kemampuan dan keterampilan dalam menjalankan ide tersebut. Tingkat kompetisi makin rendah dan peluang sukses makin besar jika ide Anda unik dan jarang ada orang lain yang memiliki. Anda tinggal merancang strategi untuk mengeksekusi ide tersebut menjadi kenyataan.

b. Peluang pasar masih terbuka luas, Jangan pernah bingung untuk membuka usaha sampingan. Jika Anda adalah seorang yang kreatif, maka semua bisa dijadikan bahan bisnis untuk usaha sampingan. Pastikan usaha yang akan dibuka, entah itu barang atau jasa, memang ada yang bersedia membeli.

Supaya usaha bisa tepat sesuai dengan perencanaan, pertimbangkan juga besarnya kompetisi yang akan Anda hadapi nantinya

Pendapatan rumah tangga adalah jumlah penghasilan riil dari seluruh anggota rumah tangga yang disumbangkan untuk memenuhi kebutuhan bersama maupun perseorangan dalam rumah tangga. Hal ini mengandung pengertian bahwa pendapatan rumah tangga adalah sejumlah penghasilan yang diterima oleh anggota rumah tangga baik itu suami, istri, anak dan saudara ataupun orang lain yang menjadi anggota keluarga rumah tangga tersebut sebagai hasil dari jerih payah kerjanya untuk memenuhi kebutuhan bersama maupun perorangan dalam rumah tangga.

Tabel 7.8 Penghasilan Masyarakat

No Nama Desa

Penghasilan Masyarakat

Total

Ya Tidak

F % F % F %

1 Bekerah 23 76,7 7 23,3 30 100

2 Suka

Meriah 8 26,7 22 73,3 30 100

3 Simacem 11 36,7 19 63,3 30 100

Jumlah 42 48 90

Sumber:Penelitian Lapangan 2017

Responden yang menyatakan ya untuk penghasilan masyarakat sebesar (76,7%) di Desa Bekerah, Desa Suka Meriah (26,7%) dan Desa Simacem (63,3%). Sebagaian masyarakat ada juga yang mengatakan tidak seperti Desa Bekerah (23,3%), Desa Suka Meriah (73,3%) dan Desa Simacem (36,7%).

Pendapatn Masyarakat Desa Suka Meriah belum terlihat begitu membaik, karena sebagian masyarakatnya kurang terlibat dalam kegiatan/program-program untuk memulihkan ekonomi masyarakat.

Pendapatan atau juga disebut juga income dari seorang warga masyarakat adalah hasil penjualannya dari faktor-faktor produksi yang dimilikinya pada sektor produksi. Dan sektor produksi ini membeli faktor-faktor produksi tersebut untuk digunakan sebagai input proses produksi dengan harga yang berlaku dipasar faktor produksi. Harga faktor produksi dipasar faktor produksi (seperti halnya juga untuk barang-barang dipasar barang) ditentukan oleh tarik menarik, antara penawaran dan permintaan.

7.5. Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana

Program pengurangan resiko bencana adalah kegiatan terencana, menyeluruh dan terorganisir yang bertujuan untuk mengurangi resiko bencana, kerentanan fisik, sosial dan ekonomi masyarakat dan negara terhadap bencana sehingga dapat memperkecil resiko bencana. Pembuat kebijakan dan setiap orang yang terlibat dalam pengambilan keputusan dalam pembangunan harus benar-benar memahami kaitan antara bencana dan pembangunan mengingat bahwa pembangunan itu dapat mengurangi atau meningkatkan resiko bencana.

Tabel 7.9

Kesiagaan Terhadap Bencana

No Nama Desa

Kesiagaan Terhadap Bencana

Total

Ya Tidak

F % F % F %

1 Bekerah 29 96,7 1 3,3 30 100

2 Suka

Meriah 18 60 12 40 30 100

3 Simacem 24 80 6 20 30 100

Jumlah 71 19 90

Sumber:Penelitian Lapangan 2017

Responden yang menyatakan ya untuk kesiagaan terhadap bencana sebesar (93,3%) di Desa Bekerah, Desa Suka Meriah (60%) dan Desa Simacem

(80%). Sebagaian masyarakat ada juga yang mengatakan tidak seperti Desa Bekerah (3,3%), Desa Suka Meriah (40%) dan Desa Simacem (20%). Masyarakat Desa Bekerah yang paling siap untuk menghadapi bencana. Hal ini merupakan desa awal mereka dahulu sangat dekat dengan Gunung Sinabung. Pelajaran dahulu ketika Gunung Sinabung erupsi terjadi masyarakat sudah terlatih dengan sendirinya.

“...Kalau kita liat di siosar kondisi angin cukup tinggi terutama pada bulan-bulan januari anginnya cukup kencang. Masyarakat kita sosialisasikan bangunan-bangunan untuk diperhatikan keamanannya.

Kita kemarin membantu atapnya yang diterbangkan secara otodidak mereka sudah belajar. Simulasi bencana belum ada, tapi sosialisasi tentang bencana dilakukan secara informal...”(wawancara Natanael)

Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi. Dalam definisi diatas tidak memasukkan kegiatan rekonstruksi. Namun pada prinsipnya upaya penanggulangan bencana mengacu pada siklus manejemen bencana yang memuat upaya mitigasi, emergensi, rehabilitasi, dan rekonstruksi.

Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, bencana dilihat sebagai interaksi antara ancaman bahaya dengan kerentanan masyarakat dan kurangnya kapasitas untuk menangkalnya. Penanggulangan bencana saat ini lebih diarahkan pada bagaimana mengelolah resiko bencana sehingga dampak bencana dapat dikurangi atau dihilangkan sama sekali.

Tabel 7.10

Pengetahuan Kebencanaan dan Strategi Merespon Meningkat

No Nama Desa

Pengetahuan Kebencanaan dan

Strategi Merespon Meningkat Total

Ya Tidak

Responden yang menyatakan ya untuk pengetahuan kebencanaan dan strategi merespon meningkat sebesar (97,7%) di Desa Bekerah, Desa Suka Meriah (76,7%) dan Desa Simacem (97,7%). Sebagaian masyarakat ada juga yang mengatakan tidak seperti Desa Bekerah (3,3%), Desa Suka Meriah (23,3%) dan Desa Simacem (3,3%). Masyarakat Desa Bekerah dan Simacem dalam pengetahuan kebencanaan sudah tahu dengan belajar sama alam itu sendiri.

Sehingga masyarakat Desa Bekerah dan Desa Simacem yang dahulu desa mereka yang termasuk ring 1 atau radius 4 km dari puncak Gunung Sinabung. Oleh sebab itu kedua desa ini bila ada bencana mereka sudah ada pengetahuan dan meresponnya.

“...Tidak unsur kesengajaan tetapi kepada lebih personal kapasitas.

BPBD Kab Karo terbentuk setelah bencana personilnya bukan orang yan memiliki keahlian dan kemampuan di bidang kebencanaan.

Pemerintah daerah karo terbatas dari segi pengetahuan dan ketrampilan, sementara status gunung sinabung secara bersama memiliki 3 fase ada darurat,saat bencana, dan pasca bencana. Hal ini juga yang membuat pemerintah kurang konsentrasi. Bila penangannya tidak tepat maka menimbulkan ketergantungan, makanya itu perlu perencanaan yang konfrehensif mengenai bantuan-bantuan itu. Tidak hanya diberikan,tetapi masyarakat tetap mendorong sikap-sikap kemanusiaan...” (wawancara Thoib).

Ada beberapa strategi yang dapat diambil untuk mengurangi dampak kerugian akibat bencana antara lain:

Strategi pertama adalah menghilangkan atau secara signifikan mengurangi kemungkinan terjadinya bencana. Jika hal ini tidak dapat dilaksanakan.

Strategi kedua adalah mengurangi besarnya dampak dan keganasan bencana dengan mengubah karakteristik ancaman, meramalkan atau mendeteksi potensi bencana (sistem peringatan dini), atau mengurangi kerentanan dengan memperbaiki unsur-unsur struktural dan non-struktural masyarakat.

Strategi ketiga adalah mempersiapkan pemerintah dan masyarakat untuk menghindari atau merespon bencana dengan tepat dan efektif sehingga kerugian dapat dikurangi. Strategi terakhir ini mencakup upaya meningkatkan kapasitas masyarakat untuk dengan secepatnya memulihkan diri setelah terjadi bencana danmenguatkan diri untuk menghadapi kemungkinan terjadinya bencana di masa depan.

Jadi strategi penanggulangan bencana tidak terbatas pada tanggap darurat dan pemulihan pasca bencana saja, tetapi juga meliputi upaya membangun ketangguhan masyarakat untuk menghadapi ancaman bahaya bencana. Bencana belakangan ini tidak lagi dilihat semata-mata dari aspek penyebabnya, tetapi lebih dari segi dampaknya, dan manusia harus dapat menyiasati serta hidup berdampingan dengan risiko bencana. Penanggulangan bencana dianggap sebagai proses tidak terpisahkan antara sebelum bencana, pada saat bencana dan setelah terjadinya bencana (Pasal 5 UU No. 24/2007 tentang PB). Pengurangan risiko bencana harus dipadukan dalam aspek-aspek keseharian kehidupan masyarakat termasuk dalam keadaan tidak ada bencana. Program pembangunan akan kurang

berdayaguna, bahkan akan dapat memicu bencana baru yang merugikan masyarakat, apabila tanpa memasukkan aspek pertimbangan risiko bencana.

Dalam membangun kembali modal sosial dibutuhkan waktu yang panjang dengan cara-cara yang berbeda. Hal ini dapat dilihat dari tabel berikut:

Tabel 7.11 Membangun kembali modal sosial Faktor-faktor Revitalisasi Modal Sosial

a. Jambur Jambur merupakan tempat yang penting bagi masyarakat karo karena sebagai tempat menampung hasil pertanian sebelum di pasarkan., sebagai tempat mengadakan pesta syukuran, pesta hasil panen setiap tahunnya, sebagai tempat pelaksanaan pesta adat.

b.Kondisi pada usaha kecil

Warung-warung kecil juga memiliki peran penting dalam membangun modal sosial tersebut, karena di warung tersebut muncul kepercayaan serta sebagai tempat berinteraksi antara yang satu dengan yang lain.

c.Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana

Masyarakat di Siosar sudah memiliki pengalaman saat erupsi terjadi yang terdahulu. Sehingga kesatuan terus terbangun pada masyarakat

Sumber:Diolah oleh Peneliti

BAB VIII PENUTUP

8.1. Kesimpulan

Bencana erupsi Gunung Sinabung Kabupaten Karo memiliki pengaruh situasi pada masyarakat Siosar untuk memperbaiki tatanan kehidupan dengan cara modal sosial. Norma-norma sosial masyarakat “meretak” dibandingkan sebelum dan sesudah erupsi. Jaringan sosial yang terjalin erat sebagai masyarakat agraria turut mempegaruhi sendi-sendi kehidupan masyarakat korban sinabung.

Kepercayaan (trust) sebagai pola tersendiri, ikut terkena dampak yang bisa dirasakan di tempat pengungsian. Singkatnya, modal sosial yang telah meresap dalam interaksi sosial masyarakat Karo, terutama lokasi masyarakat Siosar yang akan memiliki habitus baru dalam berbagai aspek.

Ada tiga (3) aspek yang menjadi kesimpulan sebagai temuan dari rumusan masalah penelitian sebagai berikut:

Pertama, bencana dapat merusak tatananan sosial yang sudah ada bahkan membuat retaknya modal sosial di dalam masyarakat. Sejak terjadi bencana sampai di pengungsian bahwa masyarakat mengalami desrupsi. Hal ini juga mempengaruhi ketika berada di lokasi relokasi Siosar.

Kedua, program pemulihan bencana sinabung yang dilakukan oleh pemerintah dan non pemerintah mempunyai kontribusi penting dalam aspek sosial korban sinabung. Rehabilitasi dilakukan melalui kegiatan: perbaikan lingkungan daerah bencana, perbaikan prasarana dan sarana umum, pemberian bantuan perbaikan rumah masyarakat, pemulihan sosial psikologis, pelayanan kesehatan, rekonsiliasi dan resolusi konflik, pemulihan sosial ekonomi budaya, pemulihan

keamanan dan ketertiban, pemulihan fungsi pemerintahan, dan pemulihan fungsi pelayanan publik. Perlu diakui bahwa koordinasi diantara instansi lembaga pemerintahan kabupaten karo belum maksimal, disebabkan anggaran yang sangat terbatas, apalagi status bencana gunung sinabung masih bencana lokal. Hal ini dapat dilihat pada:

Ketiga, dalam revitalisasi sosial pada saat bencana alam meluluh lantakan normalitas kehidupan dan mengakibatkan penderitaan manusia di atasnya, kita melihat peristiwa yang luar biasa yang jarang terjadi dalam situasi normal.

Semangat dan energi untuk membantu dan menolong kepada para korban tanpa melihat hubungan darah, etnis dan agama tiba-tiba bangkit. Bencana alam menggugah rasa kemanusiaan kita dan bahkan menyatukan rasa kepedulian kita.

Ketika bencana atau krisis melanda, maka masyarakat yang tangguh tadi akan menjadi tanggon, yang artinya dapat diandalkan untuk menghadapi dan mengatasi bencana. Pembangunan yang tanggap dan tangguh bencana juga harus merupakan pembangunan yang didasarkan pada prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dan pengentasan kemiskinan, karena kemiskinan merupakan sumber kerentanan bencana yang paling utama yang kesemuanya memperlihatkan kuatnya ikatan sosial dan pada sisi yang lain menunjukkan kuatnya toleransi di dalam komunitas.

8.2. Implikasi Teoritis

Coleman mengidentifikasi tiga unsur utama yang merupakan pilar modal sosial. Pertama, kewajiban dan harapan yang timbul dari rasa kepercayaan dalam lingkungan sosial. Kedua pentingnya arus informasi yang lancar di dalam struktur sosial untuk mendorong berkembangnya kegiatan dalam

masyarakat. Arus informasi yang tidak lancar cenderung menyebabkan orang menjadi tidak tahu atau ragu-ragu sehingga tidak berani melakukan sesuatu.

Ketiga adalah norma-norma yang harus ditaati dengan sanksi yang jelas dan efektif. Tanpa adanya seperangkat norma yang disepakati dan dipatuhi oleh segenap anggota masyarakat maka yang muncul adalah keadaan anomie dimana setiap orang cenderung berbuat menurut kemauan sendiri tanpa merasa ada ikatan dengan orang lain. Mekanisme juga dapat untuk menjatuhkan sanksi karena tidak ada norma yang disepakati bersama berkaitan dengan sanksi tersebut.

Modal sosial sebagai ground theory dalam penelitian penanganan bencana sinabung di kabupaten karo merupakan satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan dalam modal sosial. Proporsi masing-masing bagian dari modal sosial, misalnya kekuatan norma-norma sosial tidak berproposisi dengan jaringan maupun kepercayaan. Ada kecenderungan dalam modal sosial melunturnya nilai-nilai kepercayaan (trust) diakibatkan pihak luar yang ikut terlibat dalam komunitas baru. Selain itu, daya survival masing-masing kelompok atau keluarga terjadi begitu masih, dengan tujuan mempertahankan keberlangsungan kehidupan.

Indikator ini justru melahirkan dinamika sosial menjadi sebuah “gaya hidup” baru untuk mempertahankan hidup.

8.3. Saran

Penangulangan bencana sinabung masih dibutuhkan penanganan serius dari stakeholder, terutama pemerintah setempat. Penetuan status bencana erupsi sinabung, menjadi alasan tersendiri bagi pemerintah untuk mencari solusi, akan

tetapi hal itu seharusnya jangan membuat pemerintah lemah. Pemerintah dalam hal ini harus melihat modal sosial dalam masyarakat korban erupsi sinabung.

Ada tiga hal yang menjadi saran peneliti baik kepada pemerintah maupun masyarakat erupsi sinabung sebagai berikut.

Pertama, kondisi sosial-kultural dalam masyarakat karo bisa dijadikan menjadi sarana untuk memobilisasi masyarakat untuk bangkit dan berpikir kreatif, terutama modal sosial untuk membangun habitus baru.

Kedua, penanganan erupsi Gunung Sinabung dengan melibatkan pemerintah dan lembaga yang dibawah naungan PBB yaitu FAO dan ILO yang lebih fokus pada pemberdayaan masyarakat, terutama ekonomi kreatif.

Ketiga, strategi penangulangan bencana ke depan seharusnya dilaksanakan kerjasama melalui peraturan antara instasi pemerintah yang satu dengan yang lain, agar tidak terjadi double program.

DAFTAR PUSTAKA

Anton, Novenanto.2016. Tinjauan Kritis atas Peran Negara dalam Kasus Lapindo.

Lab Sosio, Pusat Kajian Sosiologi, Jurnal Sosiologi Membangun Bencana.

Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Indonesia

Alison Klebanoff Cohen and Joseph W. Schuchter. Urban Health. Revitalizing Communities Together The Shared Values, Goals, and Work of Education, Urban Planning, and Public Health. Bulletin of the New York Academy of Medicine, 90 (2).

Amawidyati & Utami. (2007). Religiusitas dan Psychological Well-Being Pada Korban Gempa. Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.

Awaliyah,N.,E.Sarjanti, dan Suwarno. 2014. Masyarakat Dalam Mitigasi Bencana Banjir di Desa Penolih Kecamatan Kali Gondang Kabupaten Purbalingga. Jurnal Pengetahuan, 3 (2): 92–95.

BPS. 2003. Kabupaten Tanah Karo & Kantor Pengolahan Data Kabupaten Tanah Karo. Kabanjahe: BPS.

BNPB. 2011. Tahapan Proses Komunikasi Fasilitator dalam Sosialisasi Pengurangan Risiko Bencana. Jurnal, 2(2):15 – 23.

BNPB. The Indonesian National Agency for Disaster Management.National progress report on the implementation of the Hyogo Framework for Action (2013-2015)

Bourdiau, P. And Wacquant, L. 2014. An Invitation to Reflexive Sociology. Chicango. University of Chicango Press.

Belinda.2013.e-journal SocSci Med. Social Capital and Disaster Preparedness Among Low Income Mexican Americans in a Disaster Prone Area. UT School of Public Health-Brownsville, 80 Fort Brown, Brownsville.

BPBD Karo.2016. Data Relokasi Pemukiman siosar tahapI .Kabupaten Tanah Karo. Kabanjahe

Bungin, Burhan. 2009. Metodologi Penelitian Kuantitatif: Komunikasi, Ekonomi, dan Kebijakan Publik Serta Ilmu-ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana.

Carter,W.nick (2008). Disaster Management :a disaster manajer’s handbook, Asian Development Bank, Philipines

Chambers, R & G.R.Conway.(1991).Sustainable rural Livelihood:Practical Concepts for 21 Century.IDS Discusion Paper No.296. IDS. Sussex

Chatarina& Enny.2012.Penanganan Dampak Sosial Psikologis Korban Bencana Merapi (Sosial Impact of Psychological Treatment Merapi Disaster Victims).JurnalInformasi, Vol. 17, No. 02 Tahun 2012

Creswell, J.W., 2010. Research Design: Qualitative, Quantitative, and MixedMethods Approaches. London: Sage Publication.

Daniel P. Aldrich and Michelle A. Meyer.2014.e-journal Social Capital and Community Resilience. American Behavioral Scientist.Purdue University, Beering Hall, 100 North University Street, West Lafayette, USA.

Denzin, K. Norman dan vonnas S. Handbook of Qualitative Research.

Yogyakarta: PustakaPelajar, 2009.

Etty Soesilowati.2010. Jurnal Ekonomi dan Kebijakan. Implementasi Integrasi Sektoral Program Kebijakan Aceh Singkil Pasca Bencana.

Estuning . 2016. Relokasi Permukiman Desa Suka Meriah Akibat Kejadian Erupsi Gunung Api Sinabung Kabupaten Karo. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota (Journal of Regional and City Planning) Vol. 27.No. 2 Tahun 2016 Fadli, 2010.Peran Modal Sosial Dalam Percepatan Pembangunan DesaPasca

Tsunami (Kasus Pembangunan Perumahan dan Peningkatan Pendapatan Keluarga di Beberap aDesa di Kabupaten Aceh Besar) [tesis]. Bogor.

Sekolah Pasca sarjana Institut Pertanian Bogor.

Fukuyama, F. 2001. Sosial Capital, Civil Society, and development. Third Word Quarterly, 22(1):7-200.

Grootaert,C and T Van Bastelaer.2002. Understanding and Measuing Social Capital, Analysis:1-320

Hasnawir.2012.Intensitas Curah Hujan Memicu Tanah Longsor Dangkal Di Sulawesi Selatan. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol.1 No.1 Agustus 2012

HM. Pahrudin. 2011. Jurnal Urgensi Revitalisasi Kearifan Lokal Di Tengah Ancaman Bencana Alam Di Indonesia., Vol. XXXII.Universitas 'Aisyiyah Yogyakart.

John W Cresswell. 2001. Qualitative Inquiry And Research Design : Chosing Among Five Traditions

Johnson, D.W, Frank P. Johnson, 2004, Joining Together Group Theory and Group Skills, Boston, London, Toronto, Sydney, Tokyo, Singapore: Allyn and Bacon.

Katherine Maurer and Robert L. Hawkins. 2010. E-Journal Bonding, Bridging and Linking: How Social Capital Operated in New Orleans following Hurricane Katrina. British Journal of Social at New York University Kathleen.2016.e-journal Research Artivle. Social Resources and Community

Resilience in the Wake of Superstorm Sandy. Department of Sociology, University of Chicago, Chicago, Illinois, United States of America

Kenneth Green.2014.e-journal The Role Of Social Capital In Disaster Resilience.

A research report on the influence of social capital on disaster resilience in the Ayerwaddy Delta, Myanmar

Ketut,dkk. 2015. Pelatihan Mitigasi BencanaAlam Gempa Bumi Pada Siswa Sekolah Dasar Negeri 1 Pengastulan Kecamatan Seririt Kabupaten Buleleng Bali .Universitas Pendidikan Ganesha. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 4, No.1, April 2015

Lyon, F. 2000. Trust, Network and Norms: The Creation of Sosial Capital in Agricultural Economies in Ghana.World Development Vol. 28, No. 4 Lawang, Robert M.Z.1995.Kapita Sosial Dalam Perspektif Sosiologi:Suatu

Pengantar, Depok:FISIP UI Press

Loretta Pyles& Tonya Cross.2008.e-Journal of Community Practice Community Revitalization in Post-Katrina New Orleans: A Critical Analysis of Social Capital in an African American Neighborhood

Maloney, erin K and Coppola, Damon P.(2009). Communicating Emergency Preparedness: strategic for creating a disaster resilient.USA: Auerbach Publicationa Taylor & Francis Group.

Melissa Dawn Dodd, (2016) "Intangible resource management: social capital theory development for public relations", Journal of Communication Management, Vol. 20 Issue: 4, pp.289-311

Moh.Iqbal Mabruri. 1979. Hubungan Antara Kepribadian Tangguh Dan Religtusitas Dengan Kesejahteraan Psikologi Pada Korban Bencana Alam Di Yogyakarta. Program Studi Psikologi Universitas Negeri Semarang.

Jurnal Ilmiah PsikologiVoL 1 No. 2

Purba, A. 2013. “ Langkah-langkah Strategis Komisi Penanggulangan Bencana GBKP Dalam Merespon Bencana Letusan Gunung SinabungTahun 2013”.

www.gbkp.or.id (Diakses: 3 September 2016).

Pramono. 2008. Fungsi capital sosial dalam pemulihan pasca bencana (Studi Kasus Pemulihan Pasca Bencana Gempa dan Tsunami di Desa Lampolu

Kecamatan Kuta Alam Banda Aceh –NAD) [disertasi]. Program studi Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Indonesia.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. 2013. Hasil Analisa Kimia Batuan Letusan Gunung Sinabung. Pos Pengamatan Gunung Api Sinabung Simpang Empat.

Riduwan. 2008. Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian. Bandung:

Alfabeta.

Roundtable report.2012. The application of social capital to disaster resilience National Disaster Resilience, Melbourne, Australia

Roundtable report.2012. The application of social capital to disaster resilience National Disaster Resilience, Melbourne, Australia