• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V MODAL SOSIAL MENGALAMI DESRUSPSI

6.3. Bencana dan Modal Sosial di Relokasi Siosar

6.3.5. Jaringan Sosial

Modal Sosial tidak dibangun hanya oleh satu individu, melainkan terletak pada kecenderungan yang tumbuh dalam suatu kelompok untuk bersosialisasi sebagai bagian penting dari nilai-nilai yang melekat. Modal Sosial akan kuat tergantung pada kapasitas yang ada dalam kelompok masyarakat untuk

membangun sejumlah asosiasi berikut membangun jaringannya. Salah satu kunci keberhasilan membangun modal sosial terletak pula pada kemampuan sekelompok orang dalam suatu asosiasi atau perkumpulan dalam melibatkan diri pada suatu jaringan sosial.

Masyarakat selalu berhubungan dengan masyarakat lain melalui berbagai variasi hubungan yang saling berdampingan dan dilakukan atas prinsip kesukarelaan (voluntary), kesamaan (equality), kebebasan (freedom), dan keadaban (civility). Kemampuan anggota-anggota kelompok atau masyarakat untuk selalu menyatukan diri dalam suatu pola hubungan yang sinergis akan sangat besar pengaruhnya dalam menentukan kuat tidaknya modal sosial suatu kelompok tersebut.

Jaringan sosial dapat terbentuk secara tradisional, misalnya atas dasar kesamaan garis keturunan (lineage), pengalaman-pengalaman sosial turun-temurun (repeated social experience), dan kesamaan kepercayaan pada dimensi ketuhanan (religius beliefs), ada pula yang dibangun berdasarkan orientasi dan tujuan dengan pengelolaan organisasi yang lebih modern.

Setiap individu, yang punya hobby atau kesukaan yang sama, cenderung membentuk komunitas, agar segala kegiatan yang punya persamaan minat bisa melakukan kegiatan tersebut bersama-sama. Tetapi tak semua orang suka berkomunitas, alasannya beragam, dari mulai tidak percaya diri, kurang suka rame-rame dan tak begitu menganggap penting berkomunitas, karena fokus pada karya saja sudah lebih dari cukup, keputusan ini sangat perlu dihargai, karena setiap individu mempunyai hak untuk bergabung atau tidak.

Tabel 6.12.

Perlu bergabung dalam kelompok

No Nama Desa

Perlu bergabung dalam kelompok

Total

Ya Tidak

F % F % F %

1 Bekerah 28 93,3 2 6,7 30 100

2 Suka

Meriah 24 80 4 20 30 100

3 Simacem 28 93,3 2 6,7 30 100

Jumlah 80 8 90

Sumber:Penelitian Lapangan 2017

Pada daerah penelitian di kawasan Siosar yang mengatakan ya untuk perlu bergabung dalam kelompok sebesar (93,3%) di Desa Bekerah, Desa Suka Meriah (80%) dan Desa Simacem (93,3%) yang perlu bergabung dengan kelompok. Tetapi ada juga yang tidak ingin bergabung seperti Desa Bekerah (6,7%), Desa Suka Meriah (20%) dan Desa Simacem (6,7%). Masyarakat Desa Bekerah dan Simacem sangat antusias bergabung dalam kelompok. Hal ini dapat terlihat dari kelompok-kelompok yang di bentuk NGO melalui bidang peternakan dan pertanian. Di Desa Bekerah yang memulai untuk berkoperasi.

Bergabung atau tidaknya dalam suatu perkumpulan atau komunitas, tak akan memengaruhi kualitas karya seseorang, yang bergabung atau tidak, bisa sama-sama menelurkan karya nyata nya. Sudut pandang tentang berkomunitas, dalam pandangan diri saya pribadi, adalah penting, karena banyak hal yang kurang kita ketahui atau hal yang sama sekali tidak kita ketahui, bisa dibahas dan kita temukan keberadaannya dalam komunitas yang kita ikuti, sesuai minat tentunya.

Untuk pengembangan suatu komunitas diperlukan berbagai potensi dan sumber daya baik secara internal maupun eksternal. Modal sosial khususnya

jaringan dan relasi-relasi merupakan potensi yag dapat mensinergikan dan mengunkap potensi dan modal lainnya. Potensi modal jaringan dan relasi menjadi inti dalam dinamika pembangunan suatu komunitas.Kompleksitas jaringan dan relasi yang tercipta dalam suatu komunitas merupakan salah satu indicator kekuatan yang dimiliki komunitas.

Jaringan itu sendiri dapat terbentuk dari hubungan antar personal, anatar individu dengan institusi, serta jaringan anatar institusi. Sementara jaringan sosial merupakan dimensi yang bisa saja memerlukan dukungan dua dimensi lainnya karena kerjasama atau jaringan sosial tidak akan terwujud tanpa dilandasi norma dan rasa saling percaya.

Tabel 6.13

Kerjasama antara kelompok

No Nama Desa

Kerjasama antara kelompok

Total

Ya Tidak

F % F % F %

1 Bekerah 29 97 1 3 30 100

2 Suka

Meriah 24 80 4 20 30 100

3 Simacem 19 63,3 11 36,7 30 100

Jumlah 72 16 90

Sumber:Penelitian Lapangan 2017

Pada daerah penelitian di kawasan Siosar yang mengatakan ya untuk kerjasama antara kelompok sebesar (97%) di Desa Bekerah, Desa Suka Meriah (80%) dan Desa Simacem (63,3%) yang ingin kerjasama dengan kelompok.

Tetapi ada juga yang tidak ingin bergabung seperti Desa Bekerah (3%), Desa Suka Meriah (20%) dan Desa Simacem (36,7%). Masyarakat Desa Bekerah melihat kerjasama antara kelompok itu sangat penting, karena melalui kerjasama tersebut masing-masing kelompok sangat mendukung.

“...Dahulu sebelum terjadinya erupsi Gunung Sinabung kami masih memiliki rasa kekeluargaan yang sangat erat, masih saling mengerti, saling menghargai. Kalau ada tetangga yang kesusahan di Bekerah sana, tetangga itu kayak keluarga sendiri. Kalau disini sudah kayak orang lain, sudah ngga peduli sama sekali, sudah acuh tak acuh. Kalo sekarang sudah di jambur saja untuk adat-istiadat nya. Sudah tak ada lagi rasa saling segan...” (wawancara Yuni).

Kuatnya jaringan yang ada akan menimbulkan kesetiaan kelompok di mana setiap anggota akan merasa menjadi bagian dari kelompok tersebut. Dari sisi pembelajaran, proses pembelajran anggota dalam kelompok menjadi lebih efektif dengan terhubungnya mereka dalam sebuah jaringan. Pengetahuan yang ada baik pengetahuan lama atau baru akan menjadi pengetahuan kelompok ketika mereka berada dalam satu jaringan dengan tujuan yang sama. Transfer pengetahuan yang ada dalam kelompok menjadi lebih cepat dengan terhubungnya mereka dalam satu jaringan.

Tabel 6.14

Responden di kawasan Siosar yang mengatakan ya untuk kerjasama dengan pihak lain sebesar (96,7%) di Desa Bekerah, Desa Suka Meriah (26,7%) dan Desa Simacem (76,7%) yang ingin kerjasama dengan pihak lain. Tetapi ada juga yang tidak ingin bergabung kepada pihak lain seperti Desa Bekerah (3,3%), Desa Suka Meriah (73,3%) dan Desa Simacem (23,3%). Masyarakat Desa

Bekerah yang berkeinginan untuk maju dan bangkit kembali. Hal ini terlihat dari beberapa kelompok bentuk NGO dan pemerintah di desa ini yang menanggapi secara serius.

Kelompok yang memiliki sikap outward looking memungkinkan untuk menjaling koneksi dan jaringan kerja yang saling menguntungkan dengan assosiasi atau kelompok diluar kelompoknya. Hal ini akan mendorong kemajuan dan pengembangan individu dalam suatu kelompok. Dalam masa modern sekarang ini individu dan kelompok maju sangat ditentukan oleh kemampuan untuk beradaptasi terhadap lingkungannya.

“...Khusus untuk rumah mereka tidak dilibatkan, kalau untuk lahan pertanian mereka kita libatkan.ketika lahan pertanian sudah di patok-patok mereka kita panggil, untuk membagi lahan pertanian dengan sistim cabut nomor. Hal-hal yang bisa kita akomodir kita akomodi...”

(wawancara Natanael).

Pemberdayaan merupakan tujuan dari pengembangan masyarakat.

Pemberdayaan mengadung arti menyediakan sumber-sumber, kesempatan, pengetahuan dan ketrampilan kepada warga masyarakat untuk meningkatkan kapasitasnya agar dapat menentukan masa depannya, dan dapat berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat dan mempengaruhi kehidupan masyarakat.

Tabel 6.15

Kerjasama untuk penguatan dan pemberdayaan

No Nama Desa

Kerjasama untuk penguatan

dan pemberdayaan Total

Ya Tidak

F % F % F %

1 Bekerah 29 96,7 1 3,3 30 100

2 Suka

Meriah 27 90 3 10 30 100

3 Simacem 28 93,3 2 6,7 30 100

Jumlah 84 6 90

Sumber:Penelitian Lapangan 2017

Responden di kawasan Siosar yang mengatakan ya untuk kerjasama untuk penguatan dan pemberdayaan sebesar (96,7%) di Desa Bekerah, Desa Suka Meriah (26,7%) dan Desa Simacem (76,7%) yang ingin kerjasama dengan pihak lain. Tetapi ada juga yang tidak ingin bergabung kepada pihak lain seperti Desa Bekerah (3,3%), Desa Suka Meriah (73,3%) dan Desa Simacem (23,3%).

Masyarakat Desa Bekerah melihat bahwa sebuah kemajuan kelompok yang telah dibentuk harus memiliki kerjasama yang baik. Anggota kelompok juga harus saling mendukung dan memotivasi anggotanya supaya cepat berkembang pesat.

Program rehabilitasi dalam pengembangan suatu komunitas tidak bisa hanya mengandalkan potensi internalnya, oleh karena itu perlu membangun relasi keluar disamping untuk mengoptimalkan potensinya juga untuk membuka peluang potensi yang ada diluar komunitasnya.

Modal sosial yang bersifat bridging inilah yang menjadi kekuatan yang relevan untuk dikembangkan. Hal ini dapat dilihat dari tabel berikut:

Tabel 6.16 Program rehabilitasi di Siosar

Faktor Desrupsi Modal Sosial

a. Bidang Pertanian dan Peternakan

Tingkat partisipasi masyarakat di Siosar masih rendah karena mata pencaharian masyarakat awalnya adalah mayoritas pertanian. Luas lahan juga mempengaruhi dalam menambah penghasilan masing-masing setiap keluarga

b.Bidang Keterampilan Menjahit dan Pengolahan makanan ringan

Tidak semua perempuan di Siosar terlibat program ini, sehinga kecemburuan sosial juga terjadi.

c.Bidang Koperasi Dalam mengelola Koperasi rasa percaya sesama anggota harus ada, sehingga perputaran uang dapat berjalan dengan baik

Sumber:Diolah oleh Peneliti

BAB VII

MEMBANGUN KEMBALI MODAL SOSIAL DI SIOSAR

7.1. Revitalisasi Modal Sosial di Siosar

Prioritas utama pemerintah kabupaten Karo, Sumatera Utara adalah meningkatkan sektor pertanian dan pariwisata. Kabupaten Karo telah diberkati dengan tanah yang subur, produktif serta pemandangan yang indah yang harus dibangun dan ditingkatkan. Sebagai hasilnya, sektor pertanian telah menjadi mata pencaharian dan sumber penghasilan utama secara turun temurun selama bertahun-tahun.

Namun akibat letusan gunung Sinabung sejak tahun 2010, masyarakat Karo tidak lagi dapat bergantung dan bertahan pada sektor pertanian. Sektor ini telah kehilangan daya saingnya. Mereka perlu menggeser fokusnya ke industri kecil dan jasa. Pelatihan keterampilan, kewirausahan, dan peningkatan usaha yang disediakan oleh pihak-pihak lain telah memotivasi masyarakat untuk menjadi lebih kreatif secara ekonomi dalam pengembangan bisnis.

Kegiatan yang dilakukan untuk pemulihan ekonomi kepada korban letusan gunung Sinabung telah meningkatkan semangat dan kemampuan kewirausahaan masyarakat Karo. Mereka sekarang menjadi lebih aktif dan kreatif dalam mengubah potensi komoditas dan keterampilan ke dalam bisnisnya sebagai cara untuk meningkatkan hidup dan dukungan kepada keluarganya. Hal ini, pada akhirnya akan mengurangi penganguran dan menciptakan lebih banyak peluang kerja.

Melalui program dan kegiatannya yang telah memicu perubahan pola pikir dan fokus masyarakat. Melalui pelatihan, kewirausahaan dan pemasaran.

Lembaga yang membantu pemulihan ekonomi masyarakat pasca bencana menyediakan pilihan alternatif pendapatan bagi masyarakat. Selain dari peningkatan kapasitas untuk masyarakat lokal, lembaga tersebut mendukung peningkatan kapasitas bagi staf pemerintah dari dinas-dinas terkait seperti Dinas Tenaga Kerja dan koperasi. Pemerintah diharapkan dapat mengambil alih, mereplikasi dan melanjutkan program peningkatan keterampilan, kewirausahaan dan akses atas keuangan serta memperluas program-program demi cakupan yang lebih luas.

Semakin banyak orang yang diberdayakan untuk memulai dan meningkatkan usaha mereka guna mengembangkan dan memperkuat pembangunan ekonomi daerah. Yang paling penting adalah bagaimana dapat mengelola potensi-potensi yang ada agar memiliki nilai tambah. Selain itu, melalui program kewirausahaan, kita memiliki sesuatu yang unik darii daerah ini sehingga dapat dijual sebagai bagian dari atraksi wisata.

7.2. Pengaruh Bencana Gunung Sinabung Terhadap Modal Sosial di Siosar

Perubahan sosial yang terjadi dengan cepat, menyebabkan sebuah kebingungan dan menimbulkan suatu kejutan kebudayaan atau cultural shock bagi masyarakat. Perubahan-perubahan sosial yang terjadi pada kehidupan sosial masyarakat , perubahan pada pola interaksinya, perubahan mata pencaharian dan sistem ekonomi, sistem kemasyarakatan, dan organisasi- organisasi sosial. Adapun dampak negatif dari erupsi gunung Sinabung ini di

antaranya ialah membuat penduduk yang tinggal di sekitar gunung Sinabung harus kehilangan lapangan pekerjaan, rumah tempat tinggal, dan perlengkapan hidup lainnya. Rumah beserta barang-barangnya rata dengan tanah akibat terjamah awan panas.

Korban erupsi gunung Sinabung tidak hanya mengalami kerugian berupa material saja tetapi banyak di antara mereka yang merasa sedih bahkan tertekan akibat harus kehilangan orang-orang yang disayanginya karena meninggal akibat terkena awan panas. Selain itu banyak anak-anak yang harus ketinggalan mata pelajaran karena sekolah diliburkan. Dampak lain dari erupsi gunung Sinabung menyebabkan sejumlah warga kehilangan ternak dan pekerjaan sehari-hari. Untuk saat ini, pemerintah sudah menyediakan hunian tetap bagi para korban erupsi gunung Sinabung, pemerintah juga telah mengganti hewan-hewan ternak warga lereng gunung Sinabung yang hilang atau mati saat erupsi gunung Sinabung terjadi.

Perubahan sosial yang terjadi dengan cepat, menyebabkan sebuah kebingungan dan menimbulkan suatu kejutan kebudayaan atau cultural shock bagi masyarakat. Perubahan sosial yang terjadi pada kehidupan sosial masyarakat kawasan lereng gunung Sinabung antara lain, perubahan pada pola interaksinya, perubahan mata pencaharian dan sistem ekonomi, sistem kemasyarakatan, dan organisasi-organisasi sosial.

Perubahan juga terjadi pada pola pemukiman warga daerah lereng pegunungan yang umumnya berpencar dan tidak teratur, pola pemukiman di lereng Sinabung saat ini menjadi lebih teratur dan saling berdekatan. Setelah adanya bencana erupsi gunung Sinabung yang mengharuskan mereka berkumpul

dalam satu area pemukiman yang telah dibuat oleh pemerintah maupun lembaga lain yang memberi bantuan berupa tempat tinggal sementara, merubah pola pemukiman penduduk yang berimbas pada pola interaksinya. Pada saat memiliki nasib yang sama yaitu sedang menghadapi suatu masalah yang sama dan harus mencari jalan keluar bersama, maka rasa solidaritas dalam kelompok penduduk dari berbagai desa di lereng gunung Sinabung yang mengungsi meningkat.

Tabel 7.1. Kondisi Kerentanan Sosial Indikator Kondisi Pra

Dengan berdekatan rumah masyarakat antara yang satu dengan yang lain. Maka hubungan kekerabatan dapat terjalin dengan baik

Pemerintah untuk Memulihkan

kembali perekonomian

masyarakat dengan cara

memberikan Lahan pertanian, bidang peternakan yang dibantu

oleh organisasi yang berada di bawah PBB yaitu FAO dan ekonomi kreatif dibantu oleh organisasi yang berada di bawah

Dahulu lahan pertanian ketiga desa tersebut luas tetapi sekarang luas lahan pertanian terbatas

Mental Mandiri Mental

Ketergantung an Bantuan

Pemerintah pusat, daerah dan organisasi yang berada di bawah PBB yaitu ILO dan FAO selalu berusaha membuat masyarakat mandiri dengan dibentuknya kelompok-kelompok yang bertujuan untuk memulihkan

ekonomi masyarakat

Solidaritas Tolong Menolong

Individual Selain kegiatan-kegiatan sosial yang ada di masyarakat seperti kerja tahun, lalu jambur juga merupakan tempat mereka untuk

1.Pemerintah dan organisasi yang berada di bawah PBB yaitu ILO dan FAO melakukan pertemuan-pertemuan antar masyarakat untuk menjalin silahtuhrahmi kembali.

2.Pesta Kerja tahunan yang merupakan tradisi budaya suku karo juga menjadi ajang masyarakat berinteraksi. menjaga kekompakan antar sesama masyarakat

Sumber:Diolah oleh Peneliti

Tabel 7.3 Saling Percaya (Trust) Indikator Kondisi Pra pihak-pihak lain transparan

kecemburuan

Pemerintah dan organisasi yang berada di bawah PBB yaitu ILO dan FAO bekerja keras untuk memulihkan kepercayaan itu dengan membangun pemukiman masyarakat

Pemerintah dan organisasi yang berada di bawah PBB yaitu ILO dan FAO membentuk beberapa kelompok pertanian dan

peternakan untuk

memulihkan ekonominya.

Sehingga masyarakat diwajibkan hadir untuk mengikuti setiap kegiatan yang dilakukan. kelompok-kelompok yang di bentuk oleh pemerintah dan organisasi yang berada di bawah PBB yaitu ILO dan FAO masyarakat dapat benyak memberikan ide-ide

untuk memajukan

Pemerintah dan organisasi yang berada di bawah PBB yaitu ILO dan FAO melalui

pendampingan yang

diberikan kepada masyarakat dapat mencari jalan keluar

Untuk melakukan kegiatan gotong royong keterlibatan

semua pemangku

dikooordinir masyarakat

kepentingan pada masyarakat siosar baiknya terlibat.

Misalnya karang taruna menanam pohon untuk penghijauan di sekitar pemukiman dan jalan menuju

Pemerintah dan organisasi yang berada di bawah PBB yaitu ILO dan FAO berusaha untuk melibatkan setiap anggota masyarakat ikut serta. Baik itu terlibat dalam kelompok tani atau kelompok-kelompok lain yang ada di desa tersebut Kerjasama

Pemerintah dan organisasi yang berada di bawah PBB yaitu ILO dan FAO selalu berupaya untuk membuat kegiatan-kegiatan yang memulihkan kondisi ekonomi keluarga dengan cara setiap anggota masyarakat harus bekerjasama dengan ikut dalam kelompok-kelompok yang ada di masyarakat Sumber:Diolah oleh Peneliti

7.3. Penguatan Kelembagaan di Relokasi Siosar

Pada pasca bencana alam peran masyarakat memiliki peran sebagai menjaga kehidupan sosial yang harmonis, memelihara keseimbangan, keserasian, keselarasan, dan fungsi kelestarian serta kemampuan komunitas untuk mengembangkan kerja sama (kemitraan) dalam rangka tujuan bersama, yang dilandasi semangat kebersamaan, nilai-nilai agama dan kearifan lokal. Hal ini

dalam masyarakat sehingga menjadi kearifan lokal yang unik untuk setiap komunitas.

7.3.1 Jambur

Jambur adalah sebuah bangunan yang cukup luas yang banyak digunakan oleh masyarakat untuk acara pesta, baik itu pernikahan maupun perpulungan dalam suku Karo. Jambur berbeda bukanlah bangunan untuk tempat tinggal sebab bangunan ini tidak berdinding dan berpanggung. Hampir di setiap daerah Karo bangunan jambur didapati, baik di kabupaten, maupun di kecamatan. Keberadaan bangunan ini sangat membantu masyarakat Karo saat mengadakan pesta adat atau acara besar yang membutuhkan tempat. Bangunan ini konon dibangun karena latar belakang penduduk Karo yang pekerjaan sehari-harinya adalah bertani, sehingga mereka membutuhkan tempat untuk menampung hasil pertanian sebelum di pasarkan. Kemudian berkembang fungsinya sebagai tempat mengadakan pesta syukuran hasil panen setiap tahunnya, perkembangannya kemudian digunakan sebagai tempat pelaksanaan pesta adat.

Gambar 7. Jambur di Siosar

Jambur dilengkapi dengan dapur umum yang cukup besar dengan peralatan memasak untuk ukuran acara besar, serta dilengkapi dengan toilet.

Ketika ada pesta masyarakat atau tuan rumah tidak perlu repot-repot menyewa tenda atau tratak dengan biaya yang cukup besar. Selain sebagai tempat penyelamatan dan perlindungan, escape building kini juga dimanfaatkan warga sebagai tempat melakukan berbagai kegiatan sosial lainnya, seperti tempat penyelenggaraan pesta adat perkawinan, tempat pertemuan, dan tempat latihan mitigasi bencana.

7.3.2 Kelompok Tani

Secara konseptual peran kelompok tani lebih merupakan suatu gambaran tentang kegiatan-kegiatan kelompok tani yang dikelola berdasarkan kesepakatan anggotanya. Kegiatan tersebut dapat berdasarkan jenis usaha, atau unsur-unsur subsistem agribisnis, seperti pengadaan sarana produksi, pemasaran, pengolahan hasil pasca panen, dan sebagainya. Pemilihan kegiatan kelompok tani ini sangat

tergantung pada kesamaan kepentingan, sumberdaya alam, sosial ekonomi, keakraban, saling mempercayai, dan keserasian hubungan antar petani, sehingga dapat merupakan faktor pengikat untuk kelestarian kehidupan berkelompok, dimana tiap anggota kelompok dapat merasa memiliki dan menikmati manfaat sebesar-besarnya dari kelompok tani.

Sebagai organisasi sosial masyarakat, kelompok tani berfungsi sebagai wadah belajar-mengajar bagi anggotanya guna meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap serta tumbuh dan berkembangnya kemandirian dalam berusahatani dengan produktivitas yang meningkat, pendapatan yang bertambah, dan kehidupan lebih sejahtera. Selain itu, kelompok tani juga berfungsi sebagai wahana kerjasama diantara sesama petani dalam kelompok tani dan antar kelompok tani, serta dengan pihak lain. Melalui kerjasama ini diharapkan usahataninya akan lebih efisien serta lebih mampu menghadapi ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan. Terakhir kelompok tani juga berfungsi sebagai unit produksi, yang dilaksanakan oleh masing-masing anggota kelompok tani secara keseluruhan sebagai satu kesatuan usaha yang dapat dikembangkan untuk mencapai skala ekonomi, baik dipandang dari segi kuantitas, kualitas maupun kontinuitas.

Peningkatan jumlah kelompok tani tersebut belum diikuti dengan peningkatan kualitas sehingga masih banyak kelompok tani belum mampu mandiri atau masih tetap ditentukan dari atas dalam berbagai hal seperti dalam menentukan jenis komoditas yang diusahakan, menentukan pasar, menentukan mitra usaha, menentukan harga komoditas dan sebagainya. Akibatnya, kualitas kelompok tani yang terbentuk tidak dapat berperan sebagai aset komunitas

masyarakat desa yang partisipatif, sehingga pengembangannya belum signifikan meningkatkan kapasitas masyarakat itu sendiri untuk menjadi mandiri dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani.

Saat ini kondisi sebagian besar kelompok tani dari tahun ke tahun dapat dikatakan belum mengalami perkembangan seperti yang diharapkan atau dapat dikatakan stasioner bahkan menurun. Secara empiris gambaran dari kelompok tani tersebut sebagai berikut: (1) sebagian kelas kelompoknya tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya, status kelasnya lebih tinggi namun kegiatannya bila diukur dengan skor penilaian ternyata dinamikanya rendah, dan (2) sebagian kelompok tani sudah “bubar” namun masih terdaftar. Rendahnya kinerja kelompok tani yang ada antara lain disebabkan rendahnya peran pengurus kelompok tani, anggota kelompok tidak jelas, struktur organisasi tidak lengkap dan tidak berfungsi, produktivitas usahatani rendah dan kurangnya pembinaan dari aparat penyuluh.

7.3.3 Kelompok Perempuan

Pendekatan kelompok melalui kelompok usaha merupakan strategi pemberdayan masyarakat yang efektif untuk masyarakat lapisan bawah.

Keberadaan kelompok akan memberikan manfaat lebih besar bagi anggotanya karena dapat dipakai untuk meningkatkan kemampuan berusaha, mengembangkan pengetahuan dan sistem nilai yang mendukung kehidupan usaha, menyuburkan moralitas usaha yang baik. Dan meningkatkan kualitas kehidupan yang lebih luas seperti usaha bersama, kerumah tanggaan, kemasyarakatan dan sebagainya.

Salah satu program penanggulangan kemiskinan dengan pendekatan kelompok ialah pembentukan Kelompok Usaha. Manfaat Kelompok tidak hanya mencakup pengembangan aspek ekonomi, tetapi juga aspek sosial. Kelompok

Usaha merupakan media untuk meningkatkan pendapatan, mengembangkan usaha, membangun interaksi dan kerja sama dalam kelompok, mendayagunakan potensi dan sumber ekonomi lokal, memperkuat budaya kewirausahaan, mengembangkan akses pasar, menyelesaikan masalah serta memenuhi kebutuhan.

Namun, demikian, banyak kelompok usaha yang telah dibentuk dan dikembangkan oleh pemerintah tidak mencapai sasaran bahkan banyak pula yang mengalami kegagalan hal ini disebabkan oleh penyeragamaan tindak lanjut dari program. Sedangkan perkembangan Kelompok Usaha itu tidak sama sehingga permasalahan dan kebutuhannya pun berbeda.

7.4. Mengembangkan Mata Pencaharian

Program bantuan pemulihan Gunung Sinabung (SIRESUP) yang bertujuan memberikan kontribusi pada upaya pemulihan pasca bencana. Dengan program berikut: 1. Mendukung konsep, strategi dan implementasi program mata pencaharian, dengan target dan strategis khusus bagi para pengungsi bencana, 2.

Menciptakan program-program bagi menambah pendapatan masyarakat, 3.

Menciptakan program-program bagi menambah pendapatan masyarakat, 3.