• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V MODAL SOSIAL MENGALAMI DESRUSPSI

6.3. Bencana dan Modal Sosial di Relokasi Siosar

6.3.1. Kepercayaan

Modal sosial masyarakat yang tinggi dicirikan oleh adanya rasa saling percaya antar masyarakat, tingginya kerapatan jaringan kerja, interaksi sosial antar masyarakat kuat, adanya pertukaran informasi yang bermanfaat, intensitas kerjasama yang tinggi, serta kepatuhan terhadap norma dan nilai-nilai bersama untuk mewujudkan harapan bersama dan juga berkurangnya sifat oportunistik individu.

Modal sosial akan mendorong terjadinya suatu proses pembangunan yang beretika dan bermoral yang bertujuan untuk mencapai keseimbangan melalui distribusi pembangunan yang merata dan berkelanjutan. Partisipasi masyarakat dalam setiap kegiatan yang mempunyai tujuan untuk kebaikan bersama, tingkat toleransi dan tingkat kriminalitas juga merupakan indikator modal sosial dalam suatu masyarakat (Stone 2001).

Desa Bekerah memiliki stok modal sosial masyarakat yang paling tinggi, disusul kemudian Desa Simacem dan yang paling rendah yaitu di Desa Suka Meriah. Begitu juga dengan komponen modal sosial dimensi struktural dan modal sosial. Tinggi rendahnya tingkat modal sosial tersebut tentunya berkaitan dengan perbedaan tingkat rasa percaya, kerjasama, interaksi sosial masyarakat dan lain sebagainya di masing- masing desa.

Tabel 6.1

Kepercayaan terhadap sesama masyarakat

No Nama Desa

Kepercayaan terhadap sesama

masyarakat Total

Ya Tidak

F % F % F %

1 Bekerah 30 100 0 0 30 100

2 Suka

Meriah 11 37 19 63 30 100

3 Simacem 24 80 6 20 30 100

Jumlah 65 25 90

Sumber:Penelitian Lapangan 2017

Responden yang menyatakan Ya untuk kepercayaan terhadap sesama masyarakat sebesar (100%) di Desa Bekerah, Desa Suka Meriah (70%) dan Desa Simacem (90%). Sebagian masyarakat ada yang mengatakan tidak sepeti Desa Suka Meriah (30%) dan Desa Simacem (10%).

Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antara modal sosial masyarakat Desa Bekerah dengan Desa Simacem, begitu juga antara Desa Bekerah dengan Desa Suka Meriah dan antara Desa Simacem dengan Desa Suka Meriah. Perbedaan ini juga terlihat dari peran serta masyarakat terhadap program-program yang di adakan di desa tersebut.

“...Saya rasa kalau disini sudah berkurang semua. Dahulu pemikiran masih kacau balau. Sama siapapun tidak percaya. Karena masih teringat harta dikampung, jadi sudah tidak percaya...”

(wawancara Nasanto).

Interaksi sosial dalam kapital sosial sangat penting, karena kapital sosial itu selalu dilihat dalam hubungannya dengan kegiatan bersama, kelompok atau jaringan, dimana interaksi sosial merupakan media yang paling utama. Interaksi sosial di dalam masyarakat dilihat dari adanya tindakan sosial yang dilakukan secara kolektif untuk mencapai tujuan bersama yang dibatasi oleh

institusi tertentu sehingga nilai dan normanya jelas dan hubungan yang terkandung didalamnya dapat terlihat jelas pula.

Kondisi ini tentunya membutuhkan perhatian dan peran pemerintah, bukan hanya pemerintah pusat tetapi juga pemerintah daerah dan jajarannya, hal ini sudah diatur dalam Undang Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, dalam pasal 5 berbunyi “Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjadi penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana”

Tujuan pemerintah daerah dalam pengelolaan bencana meliputi hal-hal berikut ini : a. Mengidentifikasi orang dan wilayah yang rentan bencana dalam lingkup kabupaten. b. Memastikan bahwa semua anggota masyarakat menyadari potensi dampak bencana alam. c. Membagikan saran dan panduan praktik yang baik kepada masyarakat untuk mitigasi bencana. d. Menjaga hubungan dengan para pejabat yang bertanggung jawab dalam perencanaan, kesehatan, dan kesejahteraan dengan mengeluarkan peringatan atau sistem pengendalian massa.

Tabel 6.2

Kepercayaan terhadap pemerintah

No Nama Desa

Kepercayaan terhadap pemerintah

Total

Ya Tidak

F % F % F %

1 Bekerah 29 96,7 1 3,3 30 100

2 Suka

Meriah 19 63 11 37 30 100

3 Simacem 29 96,7 1 3,3 30 100

Jumlah 77 13 90

Sumber:Penelitian Lapangan 2017

Responden yang menyatakan Ya untuk Kepercayaan terhadap pemerintah sebesar (97%) di Desa Bekerah, Desa Suka Meriah (37%) dan Desa Simacem (87%). Bahwa masyarakat desa Bekerah dan desa Simacem masih mempercayai pemerintah pusat melalui BNPB yang banyak terlibat langsung dalam relokasi ke daerah Siosar. Hal ini sesuai Undang-undang No. 24 Tahun 2004 Pasal 26 ayat 1 menyatakan bahwa setiap orang berhak: a) mendapatkan perlindungan sosial dan rasa aman, khususnya bagi kelompok masyarakat rentan bencana; b) mendapatkan pendidikan, pelatihan, dan keterampilan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana; c) mendapatkan informasi secara tertulis dan/atau lisan tentang kebijakan penanggulangan bencana; d) berperan serta dalam perencaanaan, pengoperasian, dan pemeliharaan program penyediaan bantuan pelayanan kesehatan termasuk dukungan psikososial; e) berpartisipasi dalam pengambilan keputusan terhadap kegiatan penanggulangan bencana, khususnya yang berkaitan dengan diri dan komunitasnya; dan f) melakukan pengawasan sesuai dengan mekanisme yang diatur atas pelaksanaan penanggulangan bencana.

“...Pertanian, pemberdayaan masyarakat sendiri seperti pemberdayaan pertanian, peternakan, industry-industri, itulah yang perlu disarankan.

Karena ya masi 1,5 thaun ndisini masi belum bisa mandiri. Peran pemerintah seperti perencana kalo dilibatkan secara umum masih minim, Cuma pemerinrtah desa tetap mengadakan koordinasi...”

(wawancara Kasma).

Kehadiran pemerintah dalam penanganan korban erupsi sinabung di lakukan mereka secara bersama-sama oleh Pemerintah kabupaten Karo menghadapi masalah terkait penanganan Sinabung, yaitu relokasi pengungsi korban erupsi Gunung Sinabung.

Tabel 6.3 Ada Dukungan Tidak ada

dukungan

Responden yang menyatakan Ya untuk dukungandari pemerintah sebesar (100%) di Desa Bekerah, Desa Suka Meriah (70%) dan Desa Simacem (94%).

Desa Bekerah sangat begitu yakin dengan Pemerintah pusat melalui BNPB dan Pemkab Karo melalui BPBD telah berupaya memenuhi kebutuhan para pengungsi seperti sandang dan pangan. Penanganan pengungsi adalah fokus utama pemerintah. Bahkan, saat ini pemerintah juga tengah merelokasi warga tiga desa di radius 3 km dari Gunung Sinabung ke Siosar.

Pemerintah Daerah bertanggungjawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana di wilayahnya. Bupati/walikota sebagai penanggungjawab utama dan Gubernur memberikan dukungan perkuatan.

Tabel 6.4

Responden di Desa Bekerah yaitu Pemkab (10%) BPBD (80%) Organisasi Non Pemerintah (6,7%), Desa Suka Meriah Pemkab (76,7%) BPBD (23,3%) dan Desa Simacem Pemkab (23,3%) BPBD (76,7%). Desa Suka Meriah melihat peran pemerintah daerah sangat baik karena masyarakatnya banyak terlibat pada program-program yang dilaksanakan di desa itu. Sedangkan peran BPBD di Desa Bekerah masyarakatkan melihat lembaga ini memiliki peranan juga untuk memajukan desa tersebut.

Pemerintah Daerah bertanggungjawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana di wilayahnya. Bupati/Walikota sebagai penanggungjawab utama dan Gubernur memberikan dukungan perkuatan.

Tanggungjawab Pemerintah Daerah yaitu :Mengalokasikan dana penanggulangan bencana,Memadukan penanggulangan bencana dalam pembangunan daerah, Melindungi masyarakat dari ancaman bencana, Melaksanakan tanggap darurat,Melakukan pemulihan pasca bencana.

“...Peran pendamping adalah menjembatani antara kebutuhan masyarakat dan kepentingan pemerintah. Tahap awal yang melakukan pemetaan sosial. Kita petakan tokoh-tokoh, petakan kelompok-kelompok tiap desa. Baru diajak diskusi atau ngobrol. Untuk mengenali apa persoalan yan mendasar. Terkait dengan masalah yang mereka hadapi. Kenapa mereka tidak mau pindah. Ketika ditemukan masalah lalu di diskusikan dengan pemerintah, apa solusi yang di ambil. Setelah itu kita buatkanlah workshop untuk merumuskan masalah-masalah tersebut, maka kita undang semua pemangku kepentingan, termasuk perwakilan masyarakat. Akhirnya ketemulah solusi untuk Siosar. Ketika mereka mau pindah, pemerintah telah menyiapkan lahan pertanian yang rencananya di konseptualkan akhirnya dibatalkan harus di swakelolakan masyarakat. Masyarakat yang mengerjakan itu, dana diberikan kepada masyarakat. Agar mereka punya alasan kuat untuk pindah ke atas, karena mereka mengharapkan lahan sendiri sejak awal tidak nunggu bersih.

Termasuk runggu itu mencabut tunggul-tunggul, akhir masyarakat setuju kalau mereka mempunyai kegiatan kalau menghasilkan sumber pendapatan disana. Caranya adalah dana pemerintah untuk dikontraktualkan menjadi swakelola. Pemerintah memberikan dana

sebesar Rp 18.000.000,-, pembagian ini dibagi 4 termin. 1.Rp 4.500.000,- yang ke 2;Rp1.Rp 4.500.000,- yang ke 3.Rp 6.000.000,- dan ke 4.Rp 3.000.000,-. Yang berguna untuk pembersihan lahan, untuk pengolaan lahan dan pemanfaatan lahan. Begitu masyarakat mendapat dana awal mereka berbondong-bondong ke lahan disitulah kita buat komitmen konsep sosial masyarakat. Begitu lahan sudah digarap maka mereka harus segera pindah, pindahnya dilakukan secara bertahap...” (wawancara Thoib).

Program terkait tanggap darurat dan logistik yang dilakukan ialah evakuasi masyarakat terdampak, penampungan sementara, tahap pengkajian kerugian, kerusakan, dan kebutuhan, penanganan kebutuhan dasar, persiapan huntara (Hunian sementara), penanganan psikososial – ekonomi juga terdapat tahapan transisi dari tanggap darurat kebagian rehabilitasi yaitu penanganan hunian tetap dan Tahap pasca bencana: pemulangan pengungsi, rehabilitasi pemukiman, pemulihan sosial-ekonomi, perbaikan sarana dan prasarana, pemulihan psikososial, dan rehabilitasi manusia.

Program badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) Kabupaten Karo yang mencakup pada bagian rehabilitasi & rekonstruksi bencana erupsi gunung Sinabung adalah pembuatan hunian tetap. Untuk tahap pertama yang sudah dilakukan 3 desa yang direlokasi ke daerah Siosar dan fasilitas umum dilengkapi.

Desa yang direlokasi ke Siosar adalah desa Suka Meriah, Desa Simacem, dan desa Bekerah. Jumlah yaitu 370 kepala keluarga (KK).

Pasca bencana, kondisi mental masyarakat begitu menurun, sehingga masayarakat membutuhkan sebuah wadah untuk pengamalan nilai-nilai keagamaan. Dengan memahami nilai-nilai spiritual tersebut membuat masyarakat lebih bisa menerima apa yang telah terjadi sebagai sebuah cobaan.

Nilai-nilai spiritual yang didapat masyarakat menjadi motivasi bagi

masyarakat desa untuk bangkit dan membenahi diri mereka untuk membangun kembali apa yang telah rusak.

Tabel 6.5 Kondisi saling percaya

No Nama Desa

Kondisi saling percaya

Total Penting Tidak Penting

F % F % F %

1 Bekerah 30 100 0 0 30 100

2 Suka

Meriah 22 73.3 8 26,7 30 100

3 Simacem 23 76,7 7 23,3 30 100

Jumlah 75 15 90

Sumber:Penelitian Lapangan 2017

Mayoritas Responden masyarakat di Siosar menyatakan saling percaya itu penting hal ini dapat terlihat dari Desa Bekerah (100%), Desa Suka (73,3%), Desa Simacem (76,7%). Walaupun ada yang menyatakan tidak penting karena kondisi mereka terlalu lama di lokasi pengungsian sehingga saling percaya itu berkurang. Masyarakat Desa Bekerah meyakinin saling percaya itu harus ada untuk mendukung dan menunjang kemajuan desa tersebut. Misalnya dalam bentuk kelompok-kelompok yang ada pada masyarakat.

“...Rasa percaya itu secara otomatis berjalan sendirinya. Kalau sebelum dipengungsi rasa kekeluargaan itu besar. Saat pengungsian itulah katahuan sifat orang itu bagaimana sekarang...”

(wawancara Yuni)

Agama juga memiliki kedudukan sentral dalam memperlemah atau memperkuat dimensi modal sosial (Hasbullah 2006). Agama berguna dalam memperkaya dimensi spiritual dalam kehidupan, dimana agama memberikan inspirasi terhadap perubahan-perubahan sosial dalam masyarakat. Agama juga mengajarkan masyarakat untuk menjunjung tinggi keadaban dan mengutamakan silaturrahmi (interaction) antar individu, kelompok dan

lingkungannya juga mengajarkan untuk tidak berprasangka jahat kepada orang lain. Dengan demikian jelas keterlibatan masyarakat dalam asosiasi keagamaan akan memberikan dampak terhadap peningkatan modal sosial melalui jaringan (Network) dan kepercayaan (trust).

6.3.2. Norma Sosial

Norma merupakan bagian dari modal sosial yang terbentuknya tidak diciptakan oleh birokrat atau pemerintah. Norma terbentuk melalui tradisi, sejarah, tokoh kharismatik yang membangun sesuatu tata cara perilaku seseorang atau sesuatu kelompok masyarakat, didalamnya kemudian akan timbul modal sosial secara spontan dalam kerangka menentukan tata aturan yang dapat mengatur kepentingan pribadi dan kepentingan kelompok.

Norma yang dimaksudkan disini merupakan pendukung dan pemberi imbalan pada suatu perilaku tertentu. Norma yang dapat menekan kepentingan dengan mengutamakan kebutuhan masyarakat merupakan bentuk modal sosial yang sangat kuat. Hal ini memfasilitasi tindakan tertentu dan kendala-kendala lain.

Temuan penelitian masyarakat korban Sinabung menegaskan bahwa ada perubahan kebiasaan gotong royong selama dipengungsian sebagai berikut.

“...Sewaktu di desa kami yang lama, bagaimana adat istiadatnya itu yang di Siosar juga begitu. Adat istiadat ya masih apa, masih kental.

Contohnya, kita kan didalam rukunnya suku Karo ini ya dicontohlah antara kita bertetangga, kita ke sudara-saudara, kita bikin acara pesta, ada acara kemalangan, sistem gotong-royonhnya masih cukup kental gitu, sistem kebersamannya gitu...

Maksudnya, nilai-nilai leluhur, misalnya seperti kalo suku Karo pak tidak boleh antara mertua laki-laki dengan menantu. masih, masih terpelihara....

Maksudnya, nilai-nilai leluhur, misalnya seperti kalo suku karo pak tidak boleh antara mertua laki-laki dengan menantu. masih, masih terpelihara...” (wawancara Sulaiman)

Temuan ini semakin menegaskan “kerentakan sosial” yang terbentuk dalam masyarakat pasca bencana. Kondisi ini memaksa mencari alternatif-alternatif baru dalam bentuk penaggulangan bencana. Temuan di atas diperkuat dengan hasil sebaran kuessioner dengan sejumlah responden sebagai berikut.

Tabel.6.6 Taat pada peraturan

No Nama

Desa

Taat pada peraturan

Total

Ya Tidak

F % F % F %

1 Bekerah 29 96,7 1 3,3 30 100

2 Suka

Meriah 17 57 13 43 30 100

3 Simacem 24 80 6 20 30 100

Jumlah 70 20 90

Sumber:Penelitian Lapangan 2017

Responden masyarakat di Siosar menyatakan ya untuk taat pada peraturan sebesar (96,7%) di Desa Bekerah, Desa Suka meriah (57%) dan Desa Simacem (80%). Sebagian masyarakat menyatakan tidak Desa Bekerah (3%), Desa Suka meriah (67%) dan Desa Simacem (20%). Pada masyarakat Desa Bekerah salah satu termasuk yang menginginkan relokasi sehingga masyarakat di desa itu mengikuti setiap peraturan-peraturan yang berlaku.

Norma-norma ini tertuang dalam bentuk aturan-aturan yang harus ditaati dalam pelaksanaan upaya mitigasi agar dapat berjalan secara maksimal. Jika ada kesalahan atau melanggar aturan-aturan yang telah dibuat dan disepakati maka akan ada sanksi.

“...Kalau budaya selama ini masih berjalan dengan baik, misalnya kalau ada pesta tahunan pun, setiap bulan 10 dulu dikampung kita.

Agama pun termasuk rukun. Kalau lebaran yang muslim merayakan bersilaturahmi. Makanya saya katakana berjalan dengan baik ketiga desa nya...” (wawancara Agus Sastra)

Tabel 6.7

Pihak-pihak yang harus mentaati peraturan penanganan bencana

No Nama Desa

Pihak-pihak yang harus mentaati peraturan

penanganan bencana Total

Pemkab BPBD Ornop Masyarakat

F % F % F % F % F %

Responden pada penelitian ini masyarakat Siosar harus mentaati terlihat di Desa Bekerah Masyarakat (83,3%) organisasi non pemerintah (13,3%) BPBD (3,3%), Desa Suka meriah Masyarakat (90%) pemerintah kabupaten (13,3%) BPBD (3,3%) dan Desa Simacem Masyarakat (83,3%) pemerintah kabupaten (16,7%). Masyarakat di 3 desa ini masih mematuhi orang-orang yang dianggap tokoh di desanya, kecenderungan tokoh ini yang lebih dahulu di desa tersebut.

Masyarakat masih kurang percaya dengan pihak-pihak di luar desa.

“...Peran badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) Kab Karo mulai berjalan setelah dibentuk tahun 2014 jadi memang semacam mengambil alih dari SKPD sebelumnya. Kita emang fungsi badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) ini khan kalau kami singkat KPK (Koordinasi Pengendali dan Komando) jadi 3 fungsi itu yang kita jalankan. Kalau misalnya ada masalah pertanian kita koordinasi dengan dinas pertanian. Berawal eh..ini khan lokasi baru. Pada awalnya merasa keberatan mengingat psikologi masyarakat yang dulu tanamannya subur.tingkat kesuburannya kurang baik dibandungkan dengan desa asalnya. Mereka disana mengalami kesulitan-kesulitan juga ditambah dengan akses jalan juga jauh keluhan masyarakat ini kita akomodir dan tampung kita bawa ke forum lalu kita berikan solusinya. Mereka minta jalan yang bagus, kami di desa juga punya jambur,akhirnya kami buatkan jambur untuk 3 desa.luas tanah 10x20 meter per kepala keluarga (KK) dengan tipe rumah 21...”

(wawancara Natanael)

Secara nyata peran masyarakat itu terlibat pada pra bencana, saat bencana, dan pascabencana. Peran masyarakat pada saat pra bencana antara lain; (1) Berpartisipasi pembuatan analisis risiko bencana; (2) Melakukan penelitian terkait kebencanaan; (3) Membuat Rencana Aksi Komunitas; (4) Aktif dalam Forum pengurangan resiko bencana (PRB); (5) Melakukan upaya pencegahan bencana;

(6) Bekerjasama dengan pemerintah dalam upaya mitigasi; (7) Mengikuti pendidikan, pelatihan dan penyuluhan untuk upaya pengurangan resiko bencana (PRB); dan (8) Bekerjasama mewujudkan Desa/Kelurahan Tangguh Bencana.

Peran masyarakat pada saat bencana antara lain: (1) Memberikan informasi kejadian bencana ke badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) atau iInstansi terkait; (2) Melakukan evakuasi mandiri,; (3) Melakukan kaji cepat dampak bencana dan (4) Berpartisipasi dalam respon tanggap darurat sesuai bidang keahliannya. Sementara itu peran masyarakat pada saat pasca bencana adalah: (1) Berpartisipasi dalam pembuatan rencana aksi rehabilitasi dan rekonstruksi, dan (2) Berpartisipasi dalam upaya pemulihan dan pembangunan sarana dan prasarana umum.

6.3.3. Partisipasi

Kemampuan orang atau individu atau anggota-anggota komunitas untuk melibatkan diri dalam suatu jaringan hubungan sosial merupakan salah satu kunci keberhasilan untuk membangun modal sosial. Manusia mempunyai kebebasan untuk bersikap, berperilaku dan menentukan dirinya sendiri dengan kekuatan yang dimilikinya. Pada saat seseorang meleburkan diri dalam jaringan sosial dan menyinergiskan kekuatannya maka secara langsung maupun tidak, ia telah menambahkan kekuatan ke dalam jaringan tersebut. Sebaliknya, dengan menjadi

bagian aktif dalam suatu jaringan, seseorang akan memperoleh kekuatan tambahan dari jaringan tersebut.

Asosiasi atau kelompok adalah asosiasi dengan keterlibatan anggota keluarga masyarakat terbanyak setelah asosiasi wanita dan keagamaan.

Keterlibatan masyarakat dalam membentuk kelompok sangat penting. Adapun kelompok ternak ayam, sapi, kambing, perbengkelan, pengelolaan makan ringan, dan koperasi.

Tingginya tingkat keterlibatan anggota rumah tangga di dalam berbagai asosiasi lokal di daerah Siosar karena beberapa faktor dalam kondisi keluarga masing-masing pada 3 desa tersebut. Kondisi keluarga masyarakat di Siosar memungkinkan setiap anggota keluarganya ikut terlibat dalam setiap organisasi/asosiasi/kelompok yang ada atau paling kurang ada satu anggota rumah tangga yang ikut dalam satu asosiasi.

Keterlibatan masyarakat Siosar di dalam berbagai asosiasi menandakan bahwa proses interaksi sosial masyarakat di desa tersebut semakin kuat.

Interaksi yang berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama akan menghasilkan kualitas dan kuantitas interaksi yang lebih tinggi, sehingga akan menjadi modal untuk pembentukan modal sosial dikemudian hari.

Secara umum di ketiga desa tersebut kelompok/asosiasi yang diangggap penting dan paling banyak dimasuki anggota rumah tangga adalah asosiasi/kelompok. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa kebutuhan masyarakat akan nilai spiritual keagamaan yang dianut bagi setiap anggota rumah tangga sangatlah penting. Nilai spiritual menjadi modal (kepercayaan dan jaringan) bagi masyarakat untuk bangkit dan membangun kembali desanya

secara bersama- sama. Jaringan yang terbentuk dari kelompok-kelompok tersebut akan memudahkan masyarakat terhadap akses ke sumber-sumber bantuan dan sekaligus membangun kepercayaan pihak-pihak luar yang akan berinvestasi untuk pembangunan desa mereka.

Keragaman keanggotaan di dalam asosiasi lokal, tidak ada perbedaan yang nyata antara Desa Bekerah, Desa Suka meriah dan Desa Siamcem.

Keragaman keanggotaan dalam asosiasi lokal merupakan bahwa hubungan antara satu kelompok dengan kelompok lain saling membentukan dan kerjasama.

Keragaman keanggotaan di dalam asosiasi lokal memiliki dampak yang positif dan negatif terhadap modal sosial. Dampak positif karena memudahkan anggota kelompok/asosiasi untuk saling percaya satu sama lain, berbagi informasi dan mencapai kesepakatan/membuat keputusan. Dampak negatif, karena lebih sedikit manfaat yang diperoleh dari pertukaran informasi, sehingga proses pengambilan keputusan di tingkat desa menjadi lebih sulit.

Kehadiran kelompok adalah tidak terelakkan. Kodrat biologis manusia, kapasitasnya menggunakan bahasa dan kodrat lingkungannya terolah sedemikian rupa sehingga telah terbukti sejak ribuan tahun yang lalu, manusia hidup dalam kelompok. Walaupun perlu pula diberikan catatan bahwa mungkin saja manusia secara bersama hadir dalam kedekatan secara fisik tapi tidak berada dalam kelompok.

Tabel 6.8

Responden masyarakat di Siosar menyatakan ya untuk menghadiri pertemuan sebesar (96,7%) di Desa Bekerah, Desa Suka Meriah (26,7%) dan Desa Simacem (93,3%). Sebagian responden ada juga yang menjawab tidak di Desa Bekerah (3,3%), Desa Suka Meriah (73,3%) dan Desa Simacem (6,7%).

Masyarakat Desa Bekerah dan Desa Simacem melihat pentingnya menghadiri setiap pertemuan. Karena setiap pertemuan akan membahas hal-hal yang di anggap penting untuk kemajuan bersama. Setiap anggota masyarakat wajib berkontribusi kepada kelompok sebagai wujud komitmen dalam rangka keswadayaan serta ikatan kelompok.

“...Hampir 50% menerima. Tapi sesuai bidang nya. Ada peternakan bebek, lembu, sapi, ayam, ikan lele, puyu. Hanya tidak bisa berjalan dengan baik. Mungkin suhu nya tidak cocok. Sebenarnya mereka sudah tahu apa yang dibutuhkan, Cuman tidak dikasih semua. Karena akhirnya bikin ribut, masyarakat jadi berantam, tidak sepahaman. Ada bantuan dari pihak koperasi berupa pompa air...” (wawancara Yuni)

Modal sosial juga dapat dilihat sebagai tingkat partisipasi masyarakat, bahwasanya modal sosial yang tinggi akan membawa dampak pada tinginya partisipasi masyarakat sipil dalam berbagai bentuknya. Kepercayaan merupakan modal sosial yang penting dalam membangun kemitraan berbasis nilai kekeluargaan yang akhirnya akan menumbuhkan rasa memiliki dari masyarakat.

Kelompok/Komunitas memiliki sejumlah potensi khususnya modal sosial yang membuat bagi warganya dapat bertahan hidup bahkan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan kebutuhan masa kini. Proses-proses sosial yang berlangsung selama ini mencerminkan kuatnya modal sosial yang dimiliki oleh komunitas.

Modal sosial tersebut dapat dilihat dari sistem kerja, hubungan sosial dan aktivitas sosial lainnya.

Tabel 6.9

Kehadiran dalam kegiatan

No Nama Desa

Kehadiran dalam kegiatan

Total

Ya Tidak

F % F % F %

1 Bekerah 9 30 21 70 30 100

2 Suka

Meriah 12 49 18 60 30 100

3 Simacem 17 56,7 13 43,3 30 100

Jumlah 38 52 90

Sumber:Penelitian Lapangan 2017

Responden masyarakat di Siosar menyatakan ya untuk kehadiran dalam kegiatan sebesar (30%) di Desa Bekerah, Desa Suka Meriah (40%) dan Desa Simacem (56,7%). Sebagian responden ada juga yang menjawab tidak di Desa Bekerah (70%), Desa Suka Meriah (60%) dan Desa Simacem (43,3%). Tingkat kehadiran pada masyarakat Desa Simacem tinggi hal ini menyebabkan bahwa partisipasi masyarakat juga tinggi. Tingkat partisipasi anggota juga menentukan keberhasilan kegiatan yaitu mencapai angka 50 persen dengan frekuensi aktif mengikuti pertemuan kelompok/organisasi setiap kali pertemuan. Melihat dari tingkat frekuensi pertemuan anggota.

“...Dalam kegiatan program yang ada di masyarakat kami memiliki tim pendamping, misalnya dalam mengambil keptusan masyarakat dilibatkan, misalnya seperti aspirasi-aspirasi masyarakat kita tampung semua. Mulai dari musyarawah desa, lalu dibawa kecamatan lalu di

bawa ke badan penanggulangan bencana daerah (BPBD).

Keterlibatan masyarakat sangat besar. Mereka yang tahu apa masalahnya. Kita hanya mencarikan solusi dari permasalahan tersebut, keterlibatan mereka yang kita harapkan semua. Kita tidak bisa menentukan programnya, programnya yang buat masyarakat itu sendiri. Kita yang mencarikan solusi bisa di akomodir apa tidak apa tidak bertentangan dengan peraturan yang ada apa tidak, kita tetap menjalankan sesuai dengan peraturan masyarakat juga menerima menjadi sebuah kebutuhan...” (wawancara Natanael)

Modal sosial adalah konsep yang muncul dari hasil interaksi di dalam masyarakat dengan proses yang lama. Meskipun interaksi terjadi karena berbagai alasan, orang-orang berinteraksi, berkomunikasi, dan kemudian menjalin kerjasama pada dasarnya dipengaruhi oleh keinginan untuk berbagi cara untuk mencapai tujuan bersama yang tidak jarang berbeda dengan tujuan dirinya sendiri.

Modal sosial adalah konsep yang muncul dari hasil interaksi di dalam masyarakat dengan proses yang lama. Meskipun interaksi terjadi karena berbagai alasan, orang-orang berinteraksi, berkomunikasi, dan kemudian menjalin kerjasama pada dasarnya dipengaruhi oleh keinginan untuk berbagi cara untuk mencapai tujuan bersama yang tidak jarang berbeda dengan tujuan dirinya sendiri.