• Tidak ada hasil yang ditemukan

OUTPUT Jumlah ibu yang

5.8 Deteksi Dini

Deteksi dini adalah kegiatan untuk mengungkapkan akan adanya kemungkinan mengidap penyakit kanker serviks dengan menggunakan metode IVA ,yaitu dengan memeriksakan lehar rahim secara visual menggunakan asam cuka berarti melihat leher rahim dengan mata telanjang untuk mendeteksi abnormalitas setelah pengolesan asam asetat atau cuka (3-5%)(KEMENKES RI, 2013).

Pemeriksaan IVA dilaksanakan setiap hari rabu di Puskesmas Tanjung Morawa. Pemeriksaan IVA ini dilakukan selama 5 tahun sekali, sebelum dan sesudah pemeriksaan IVA harus di berikan konseling, berisikan tentang manfaat dan keuntungan melakukan pemeriksaan IVA, Hasil yang didapat setelah melakukan IVA, tindakan selanjutnya jika ditemukan hasil nya, dan kapan harus melakukan kunjungan ulang.

Seorang perempuan yang mendapat hasil tes IVA negatif, harus menjalani penapisan minimal 5 tahun sekali.Mereka yang mempunyai hasil IVA positif dan mendapatkan pengobatan, harus menjalani tes IVA berikutnya enam bulan kemudian (KEMENKES RI 2013). Berdasarkan hasil penelitian, terdapat pasien yang telah melakukan IVA 5 (lima) tahun lalu telah melakukan kunjungan ulang dan juga terdapat pasien yang tidak melakukan kunjungan ulang dengan alasan pasien tersebut tidak mempunyai keluhan setelah pemeriksaan IVA yang lalu. Dalam menghadapi pasien yang tidak melakukan kunjungan ulang salah satu informan yang menjadi petugas IVA menyatakan

Belum kan tugas kita kan banyak, ya kalau dia ingat sebaiknya ya harus seperti itu lah ,,, tapii kayaknya belum sampai sejauh itu lah ,, cuman anjuran kami berikan.

Udah kan sekali lima tahun programnya, kami kan mulai programny dimulai tahun 2006 eh 2007 bulan 7 berarti udah mulai jalan 7 tahun kami ini. Ada yang gag kunjungan dan ad yang kunjungan ulang.

Ya pokoknya kalau setingkat cryo itu pasti sembuh

Berdasarkan wawancara di atas, Puskesmas Tanjung Morawa hanya memberikan anjuran untuk melakukan kunjungan ulang dan menyatakan kalau setelah pemeriksaan IVA negatif akan seterusnya negatif dan juga yang sudah dilakukan cryotheraphy sudah pasti sembuh dan tidak terkena kanker serviks. Dapat disimpulkan bahwa yang menyebabkan pasien yang tidak melakukan

kunjungan ulang yaitu pasien tersebut tidak memiliki keluhan setelah melakukan pemeriksaan IVA pertama dan juga dikarenakan puskesmas tanjung morawa memiliki program yang banyak sehingga yang tidak melakukan kunjungan ulang 5 (lima) tahun sekali tersebut tidak menjadi perhatian puskesmas.

Menurut KEMENKES RI, 2013 , dalam melaksanakan program tersebut, sistem yang digunakan merupakan SVA (Single Visit Approach) yaituPendekatan Kunjungan Tunggal) atau dengan istilah “Dilihat dan Diobati/see and treat” untuk pencegahan kanker leher rahim melalui pemeriksaan IVA yang dilanjutkan dengan pengobatan krioterapi. Dengan kata lain, apabila seorang klien yang dinilai IVA (+) akan mendapatkan tawaran pilihan pengobatan dengan krioterapi atau rujukan untuk pelayanan lain, pada hari yang sama saat dia menjalani penapisan tersebut.Pendekatan ini bertujuan untuk menghindari kunjungan berulangdari ibu/klien dan mengurangi kemungkinan ketidak hadiran kembali pada kunjungan berikutnya. Namun dalam prakteknya prakteknya kebanyakan tidak memakai sistem ini karena setiap kasus berbeda-beda yaitu, pasien diberi obat dulu setelah pemeriksaan IVA pasien meminta izin dari suaminya dahulu sebelum melakukan krioterapi atau menunggu kesiapan pasien dalam melakukan krioterapi, karena sebelum melakukan krioterapi diperlukan informed consent oleh pasien.

5.9 Pengobatan

Pengobatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tindaklanjut setelah pemeriksaan IVA.Program atau kegiatan deteksi dini yang dilakukan pada masyarakat hanya akan berhasil apabila kegiatannya dihubungkan dengan pengobatan yang

adekuat. Pengobatan yang dilakukan yaitu dengan cryotheraphy, jika setelah terdeteksi abnormalitas setelah pengolesan asam asetat 3-5% (KEMENKES RI, 2013).

Krioterapi mencakup proses pembekuan leher rahim, baik menggunakan CO2 terkompresi atau NO2 sebagai pendingin. Pengobatan berupa penerapan pendinginan terus menerus selama 3 menit untuk membekukan didikuti pencairan selama 5 menit kemudian 3 menit pembekuan kembali.Krioterapi dapat dilakukan jika lesi acetowhite kurang dari 75%,lesi tidak meluas sampai dinding vagina dan tidak dicurigai adanya kanker (KEMENKES RI, 2013).

Berdasarkan hasil penelitian Puskesmas Tanjung Morawa memiliki pelayanan krioterapi. Jika hasil pemeriksaan IVA negative maka pasien tersebut tidak dilakukan pengobatan apa pun, dan dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan ulang 5 tahun yang akan datang, namun jika ditemukan lesi pra kanker dapat dilakukan krioterapi, dalam melakukan krioterapi dilihat dahulu seberapa luas lesi prakanker tersebut jika lesi prakanker luas >75% rahim tertutup maka itu bukan lagi tanggung jawab puskesmas dan langsung merujuk ke Rumah Sakit Deli Serdang yang berada di Pakam atau dapat juga dirujuk ke RSUHP Adam Malik. Namun jika luas prakanker <75% leher rahim tertutup dapat dilakukan krioterapi, jika ditemukan ada servisitis, pasien tersebut diberikan obat terlebih dahulu dan kembali lagi ke puskesmas 2 minggu kemudian untuk melakukan krioterapi dan Jika tidak ada servisitis, dapat dilakukan krioterapi langsung. Setelah melakukan krioterapi pasien di anjurkan kunjungan ulang 1 bulan berikutnya untuk dievaluasi kembali.Kemudian pasien kembali lagi 6 bulan berikutnya kemudian dilakukan pemeriksaan IVA kembali jika hasil IVA negatif maka pasien dianjurkan kembali 5 tahun berikutnya.

1. Secara keseluruhan implementasi progam deteksi dini kanker serviks dengan metode IVA di Puskesmas Tanjung Morawa sudah berjalan baik, dikarenakan pada 5 (lima) tahun pertama sudah mencapai target yaitu 80% dari wanita usia subur. Namun tahun 2014, yang melakukan test IVA yaitu 568 orang kurang dari jumlah sasaran yaitu 1032 orang selama setahun, hal ini dikarenakan masih terdapat masyarakat yang tidak berkeinginan untuk melakukan pemeriksaan IVA dengan alasan belum merasakan sakit dan juga takut mengetahui penyakitnya

2. Jumlah petugas yang bertanggung jawab atas program IVA ini sudah mencukupi, namun masih terdapat 2 (dua) petugas yang belum dilatih dan terdapat bidan desa dan kader dalam membantu sosialisasi, mengajak dan mengumpulkan masyarakat untuk melakukan pemeriksaan IVA

3. Ketersediaan bahan dan peralatan dalam melakukan pemeriksaan IVA dan krioterapi sudah lengkap dan memadai, dan perlatan tersebut masih bisa berfungsi dan digunakan.

4. Ruangan untuk melakukan pemeriksaan IVA dan krioterapi tidak memeliki ruangan khusus dan bergabung dengan ruangan MTBS dan perawatan. Hal ini dikarenakan, program puskesmas yang banyak dan ruangan yang terbatas. Namun, kedua ruangan tersebut masih dikatakan nyaman karena ketika pemeriksaan ruangan tersebut tidak boleh dimasukin orang selain pasien dan si pemeriksa.

5. Advokasi sudah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Deli Serdang dan Puskesmas Tanjung Morawa kepada Stake Holders.

6. Sosialisasi mengenai program deteksi dini dengan metode IVA sudah dilakukan dengan baik. Namun, hambatan yang masih terasa terdapat pada masyarakat yang belum memiliki kesadaran untuk melakukan deteksi dini tersebut dan juga masih terdapat kader yang tidak ingin melakukan pemeriksaan IVA dengan alasan takut akan mengetahui penyakitnya.

7. Koordinasi dilakukan oleh Puskesmas Tanjung Morawa secara lintas sektor, dan juga dalam masyarakat itu sendiri, seperti BKKBN, YKI, perusahaan asing dan swasta, Kader posyandu, dan juga PKK.

8. Pelaksanaan deteksi dilakukan pada setiap hari rabu, seharusnya wanita usia subur melakukan pemeriksaan IVA 5 (lima) tahun sekali, namun masih terdapat masyarakat yang tidak melakukan kunjungan ulang dengan alasan tidak ada keluhan dan juga konseling sudah dilakukan oleh puskesmas sebelum dan sesudah pemeriksaan.

9. Puskesmas Tanjung Morawa sudah memiliki pelayanan krioterapi yaitu tindak lanjutan setelah pemeriksaan IVA

6.2 Saran

1. Kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Deli Serdang

Mengadakan pelatihan IVA kepada tenaga kesehatan yang bertugas dalam pelaksanaan program IVA secara berkala dan teratur, agar program deteksi dini dapat terselenggara dengan baik.

2. Kepada Puskesmas Tanjung Morawa

a. Lebih mengedukasi kader-kader tentang pentingnya pemeriksaan IVA, agar dapat menjadi role model terhadap masyarakat. Sehingga, masyarakat mau diajak untuk melakukan pemeriksaan IVA.

b. Selain melakukan sosialisasi terhadap masyarakat puskesmas mengadakan sosialisasi terhadap petugas kesehatan tentang program IVA, agar petugas tidak hanya melakukan atau mengajak masyarakat untuk deteksi dini melainkan juga memeriksakan diri untuk melakukan pemeriksaan IVA. c. Lebih meningkatkan sosialisasi agar wanita usia subur memiliki kesadaran

dan kemauan untuk memeriksakan dirinya ke puskesmas, dengan cara melakukan penyuluhan dengan membawa media-media yang dapat menerangkan manfaat dan keuntungan pemeriksaan IVA, dan mengenai mencegah, gejala dan bahaya kanker serviks

d. Melakukan Sosialisasi secara khusus dan terpisah untuk laki-laki dan perempuan, dimana tujuan dilakukan sosialisasi kepada laki-laki agar mereka dapat mendukung istrinya untuk melakukan pemeriksaan IVA e. Harus lebih meningkatkan konseling agar masyarakat memahami kalau

pentingnya melakukan pemeriksaan IVA dengan frekuensi lima tahun sekali dan melakukan pendataan terhadap pasien yang melakukan IVA sehingga bisa mengingatkan pasien agar melakukan kunjungan ulang.

American Cancer Society. 2014. Cancer Facts And Figures. Amerika

Anggraini, Firia Dwi. 2013. Analisis Implementasi Program Deteksi Dini Kanker Serviks Melalui Pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) di Puskesmas Wilayah Kota Surabaya Tahun 2013. Skripsi. Universitas Sumatera Utara, Medan.

Arum, Sheria Puspita. 2015. Stop Kanker Serviks. Notebook. Yogyakarta. Bungin,Burhan. 2008. Penelitian Kualitatif. Kencana

David Tsu, Vivien dan Jerenimo, Jose. 2014. Cancer Control ; Visual Inspection Of The Cervix: Progress To Date And The Rationale For Continued Investment: 83-90. www.cancercontrol.info. Diakses pada tanggal 28 juli 2015 pukul 20.00 wib.

Emilia, Ova, dkk. 2010. Bebas Ancaman Kanker Serviks. Media Pressindo. Yogyakarta.

Kementerian Kesehatan RI, 2013. Pedoman Teknis Pengendalian Kanker Payudara dan Kanker Leher Rahim. Jakarta.

2014. Panduan Layanan Terintegrasi. Jakarta 2014. Profil Kesehatan Indonesia 2013. Jakarta.

2015. Buletin Jendela Data & Informasi Kesehatan, Semester 1, 2015. Jakarta.

2015. Panduan Program Nasional Gerakan Pencegahan Dan Deteksi Dini Kanker Leher Rahim Dan Kanker Payu Dara. Jakarta

Kustiyati, Sri dan Winarni. 2011. Deteksi Dini Kanker Leher Rahim Dengan Metode Iva Di Wilayah Kerja Puskesmas Ngoresan Surakarta. GASTER, 681 – 694.

Maulana, Heri D.J. 2007. Promosi Kesehatan. EGC. Jakarta

Miles, MB dan Hubberman, AM. Analisis Data Kualitatif. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Menteri Kesehatan RI, 2009. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Jakarta.

Nugroho, Taufan dan Utama, Bobby Indra., 2014. Masalah Kesehatan Reproduksi Wanita. Nuha Medika. Yogyakarta

Saryono, Anggraeni, 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Bidang Kesehatan. Nuha Medika. Yogyakarta.

Sugandha, Dann. 1991. Koordinasi Alat Pemersatu Gerak Administrasi. Cetakan kedua Intermedia. Jakarta.

Susanti, Aris. 2010. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan rendahnya Kunjungan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) Di Wilaya Kerja Puskesmas Halmahera Kecamatan Semarang Timur Tahun 2010. Skripsi. Universitas Negri Semarang.

Syafrudin., Theresia dan Jomima., 2009. Ilmu Kesehatan Masyarakat Untuk Mahasiswa Kebidanan. TIM. Jakarta.

Titisari, Ira. 2013. Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pelaksanaan Program Skrining Kanker Serviks Metode Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) di Puskesmas Kota Kediri. Skripsi. Universitas Diponegoro. World health Organization. 2014. Comprehensive Cervical Cancer Control A

Guide To Essential Practice. http://www.who.int/reproductivehealth /publications/cancers/cervical-cancer-guide/en/. Diakses Pada Tanggal

ANALISIS IMPLEMENTASI PROGRAM DETEKSI DINI