• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dalam mencegah kanker serviks adalah dengan menghindari faktor resiko yang dapat menyebabkan kanker serviks. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah kanker serviks adalah sebagai berikut:

1. Jangan biarkan keputihan terus menerus. 2. Hati-hati dalam memilih pembalut. 3. Hindari berhubungan intim saat haid. 4. Hindari memakai toilet kotor.

5. Jauhi oral seks.

6. Menghindari berhubungan intim di usia dini. 7. Kebersihan organ intim saat haid.

8. Pola hidup sehat seperti konsumsi makanan yang sehat, hindari merokok, dan berolah raga teratur (Arum, 2015).

Pencegahan kanker serviks dimulai dari penyampaian informasi tentang faktor risiko deteksi dini untuk mendapatkan lesi prakanker leher rahim dan melakukan pengobatan segera, apabila ditemukan kelainan pada kegiatan penapisan (screening), segera dilakukan rujukan secara berjenjang sesuai dengan kemampuan rumah sakit. Pencegahan kanker leher rahim meliputi tiga tingkatan pencegahan yaitu ; primer, sekunder, dan tersier.

1. Pencegahan Primer

Pencegahan primer dimaksudkan untuk mengeliminasi dan meminimalisasi pajanan penyebab dan faktor resiko kanker, termasuk mengurangi kerentanan individu terhadap efek dari penyebab kanker. Selain faktor risiko, ada faktor protektif yang akan mengurangi kemungkinan seseorang terserang kanker pendekatan pencegahan ini memberikan peluang paling besar dan sangat cost-effective dalam pengendalian kanker tetapi membutuhkan waktu yang lama, seperti memberikan edukasi tentang perilaku gaya hidup sehat.

2. Pencegahan Sekunder

Ada dua komponen deteksi dini yaitu penapisan (screening test) dan edukasi tentang penemuan dini (early diagnosis):

a Penapisan atau skrining

Penapisan adalah upaya pemeriksaan atau tes yang sederhana dan mudah yang dilaksanakan pada populasi masyarakat sehat yang bertujuan untuk membedakan masyarakat yang sakit atau berisiko terkena penyakit diantara masyarakat yang sehat.Upaya penapisan dikatakan adekuat bila

tes mencakup seluruh atau hampir seluruh populasi sasaran, untuk itu dibutuhkan kajian jenis pemeriksaan yang mampu laksana pada kondisi sumber daya terbatas seperti Indonesia.

b Penemuan dini (early diagnosis)

Penemuan dini adalah upaya pemeriksaan pada masyarakat yang telah merasakan adanya gejala.Oleh karena itu edukasi untuk meningkatkan kesadaran tentang tanda-tanda awal kemungkinan kanker diantara petugas kesehatan, kader masyarakat, maupun masyarakat secara umum merupakan kunci utama keberhasilannya.

Program atau kegiatan deteksi dini yang dilakukan pada masyarakat hanya akan berhasil apabila kegiatannya dihubungkan dengan pengobatan yang adekuat, terjangkau aman dan mapu laksana, serta mencakup 80% populasi perempuan yang berisiko. Untuk itu dibutuhkan perencanaan akan kebutuhan sumber daya dan strategi-strategi yang paling efektif untuk melaksanakan program ini.

Dimana ada beberapa metode yang dikenal untuk melakukan penapisan kanker leher rahim dengan tujuan penapisan untuk menemukan lesi prakanker.

a. Inspeksi Visual dengan Aplikasi Asam Asetat (IVA) adalah pemeriksaan dengan cara mengamati dengan menggunakan spekulum melihat leher rahim yang telah dipoles dengan asam asetat atau asam cuka (3-5%). Pada lesi prakanker akan menampilkan warna bercak putih yang disebut aceto white epithelium.

b. Pemeriksaan Sitologi (Papanicolaou/ tes pap) adalah suatu prosedur pemeriksaan sederhana sitopatologi, yang dilakukan dengan tujuan untuk menemukan perubahan morfologis dari sel-sel epitel leher rahim yang ditemukan pada keadaan prakanker dan kanker

3. Pencegahan Tersier a Diagnosis dan terapi

Diagnosis kanker leher rahim membutuhkan kombinasi antara kajian klinis dan investigasi diagnostik.Sekali diagnosis ditegakkan harus dapat ditentukan stadiumnya agar dapat mengevaluasi besaran penyakit dan melakukan terapi yang tepat.Tujuan dari pengobatan adalah menyembuhkan, memperpanjang harapan hidup dan meningkatkan kualitas hidup.Prioritas pengobatan harus ditujukan pada kanker dengan stadium awal dang yang lebih berpotensial untuk sembuh.Standar pengobatan kanker meliputi operasi (surgery), radiasi, kemoterapi dan hormonal disesuaikan dengan indikasi patologi.

b Pelayanan Paliatif

Hampir diseluruh dunia, pasien kanker yang terdiagnosis stadium lanjut dan pengobatan harus terpadu termasuk pendekatan psikososial, rehabilitasi dan terkoordinasi dengan pelayanan paliatif untuk memastikan peningkatan kualitas hidup pasien kanker.Untuk kasus seperti ini pengobatan yang realistis adalah mengurangi nyeri dengan pelayanan paliatif (KEMENKES RI, 2013).

Program penemuan dan tata laksana penderita kanker, yaitu dengan pelatihan tenaga teknis deteksi dini dan tata laksana kanker leher rahim, sosialisasi

program.Rangkaian kegiatan yang meliputi kegiatan promotif, preventif, deteksi dini, dan tindak lanjut (KEMENKES RI, 2015).

Gambar 2.4 pencegahan kanker serviks

2.2.1 Bentuk Kegiatan Pelaksanaan Deteksi Dini Kanker Leher Rahim 1. Pasif

Deteksi dini kanker leher rahim dilaksanakan di fasilitas kesehatan yang telah mempunyai tenaga kesehatan terlatih seperti puskesmas, klinik swasta dan integrasi dengan program lain yaitu infeksi saluran reproduksi/infeksi menular seksual (ISR/IMS), KB(BKKBN). Langkah-langkah dalam deteksi dini adalah sebagai berikut:

1) Persiapan tempat, bahan, peralatan SDM dan penentuan waktu pelaksanaan.

3) Penginformasian kegiatan kepada masyarakat melalui bidan desa, kader kesehatan dan perangkat desa.

4) Penetapan teknis pelaksanaan

a. Pendaftaran dengan pembaguan nomor urut b. Pembuatan kartu nama

c. Pemanggilan klien dan suaminya.

d. Pemberian konseling dan informed consent (meminta kesediaan kepada klien dan suaminya untuk dilakukan tindakan).

e. Pelaksanaan IVA oleh bidan dengan dikonfirmasi oleh dokter puskesmas.

f. Pelaksanaan krioterapi oleh dokter/bidan di puskesmas untuk IVA positif.

g. Penjelasan rencana tindak lanjut baik pada kasus positif maupun negatif.

h. Pencatatan dan pelaporan pada form yang telah tersedia. i. Pemulangan klien.

2. Aktif

Deteksi dini dilaksanakan pada acara-acara tertentu dengan berkoordinasi dan bekerja sama dengan lintas program dan lintas sektor seperti peringatan hari besar, percepatan deteksi dini dan tempat pelaksanaan tidak hanya di fasilitas kesehatan namun bisa di kantor, pusat keramaian yang memenuhi syarat untuk melakukan pemeriksaan IVA dibawah koordinasi FKTP setempat.

Kader kesehatan terdiri dari PKK, Dharma Wanita, Anggota Persit, Bhayangkari, Organisasi Wanita, Organisasi Keagamaan dan Organisasi Masyarakat.

1) Melakukan Sosialisasi tentang deteksi dini

a. Pentingnya deteksi dini untuk pencegahan kanker. b. Manfaat melakukan deteksi dini kanker.

c. Kerugian akibat kanker yang harus ditanggung oleh pasien dan keluarganya baik secara moril dan materil

d. Meningkatkan kualitas hidup masyarakat di daerah tersebut melalui pola hidup sehat bebas dari kanker

e. Menyampaikan informasi fasilitas kesehatan yang dapat melakukan pelayanan deteksi dini.

2) Mendorong masyarakat untuk melakukan deteksi dini a. Identifikasi sasaran yang akan dilakukan deteksi dini.

b. Mengedukasi sasaran untuk bersedia melakukan deteksi dini (KEMENKES, 2015).

2.2.2 Penapisan Kanker Leher Rahim Dengan Pendekatan Kunjungan Tunggal – Single Visit Approach (SVA)