• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dhyâna Pâramitâ

Dalam dokumen Buddha pada masa sekarang. (Halaman 108-141)

(Kesempurnaan Meditasi)

(1) Setelah mengembangkan virya dengan cara itu Aku akan meletakkan pikiranku dalam konsentrasi Bagi orang yang pikirannya mengembara

Ia berada di antara taring klesha.

(2) Tetapi dengan menyepikan tubuh dan pikiran Kegelisahan tak akan muncul

Untuk itu aku akan meninggalkan keramaian hidup duniawi Dan sepenuhnya menjauhi gangguan klesha.

(3) Karena kecintaan pada orang-orang dan keinginan akan perolehan

Pelepasan hidup duniawi tak akan terjadi

Untuk itu aku akan bersungguh-sungguh meninggalkannya Mengingat demikianlah jalan yang telah ditempuh oleh para bijaksana.

(4) Setelah memahami bahwa klesha sepenuhnya dikalahkan Oleh vipasana yang dipadukan dengan samatha

Pertama-tama aku akan mengembangkan samatha Yang akan dicapai melalui kebahagiaan murni tanpa keterikatan pada hidup duniawi.

(5) Karena adanya harapan seorang makhluk berpindah Dalam bentuk makhluk pengembara lainnya

Ia tak akan melihat orang yang telah dicintainya lagi Selama beribu-ribu kali kehidupan.

(6) Tidak melihat mereka aku sedih

Pikiranku tak dapat didiamkan dalam keseimbangan Bahkan bila aku memandang mereka sungguh tak ada puasnya Seperti sebelumnya, aku terus tersiksa oleh keinginan.

(7) Dengan menjadi terikat pada makhluk hidup Aku benar-benar buta pada kenyataan kebenaran keberadaan

Aku kecewa hancur oleh (samsara)

Akhirnya aku akan tersiksa oleh penderitaan.

(8) Hanya memikirkannya,

Hidup ini akan berlalu tanpa arti

(Bahkan) keluarga dan sahabat yang tak kekal Akan menghancurkan Dharma (yang membawa pada) keabadian.

(9) Jika aku bersikap sama seperti orang yang kekanak-kanakan Aku pasti akan menuju ke alam yang rendah

Dan jika aku dibawa ke sana oleh mereka yang tak sebanding (dengan Arya)

Apa gunanya aku mempercayakan diriku pada mereka yang kekanak-kanakan?

(10) Sesaat mereka teman

Sesaat kemudian mereka menjadi musuh

Mengingat bahwa mereka marah bahkan dalam situasi yang gembira

Sungguh sulit untuk menyenangkan orang-orang duniawi.

(11) Mereka marah ketika sesuatu yang baik diucapkan Mereka juga menjauhkanku dari sesuatu yang berguna Jika aku tak mau mendengar apa yang mereka katakan Mereka menjadi marah, sehingga menuju ke alam rendah.

(12) Mereka iri pada yang lebih mulia, bersaing dengan yang sebanding

Sombong pada yang lebih rendah, melambung saat dipuji Dan bila sesuatu yang tidak menyenangkan diucapkan mereka marah

Sama sekali tak ada kebajikan dari mereka yang kekanak-kanakan.

(13) Dengan bergaul bersama orang yang kekanak-kanakan Tak diragukan lagi timbullah ketidakbajikan

Seperti memuji diriku sendiri dan merendahkan orang lain Dan membicarakan kebahagiaan samsara.

(14) Mempercayakan diriku pada orang lain dengan cara ini Tak akan membawa apa pun kecuali kemalangan Oleh karena mereka tak akan memberiku kebajikan Aku juga tak akan membawa kebajikan baginya.

(15) Aku harus menjauh dari orang-orang yang kekanak-kanakan Bila mereka dijumpai, ingat, aku akan menyenangkan mereka dengan bergembira

Aku harus bersikap baik sekedar sebagai sopan-santun Namun tidak menjadi benar-benar akrab.

(16) Dengan cara yang sama seperti ketika lebah mengambil madu dari bunga

Aku akan sekedar melakukan apa yang perlu dalam praktek Dharma

Tetapi tetap menjaga jarak

Seolah aku belum pernah bertemu dengan mereka sebelumnya.

(17) “Aku mempunyai harta berlimpah serta kehormatan Karenanya banyak orang menyukaiku”

Memelihara perasaan kebanggaan diri seperti ini Aku pasti menciptakan ketakutan setelah mati nanti.

(18) Demikianlah, engkau yang pikiranmu bingung Tertarik pada segala obyek

Engkau juga akan terikat pada

Beribu-ribu penderitaan yang akan muncul.

(19) Mengingat bahwa orang bijaksana seharusnya tidak terikat Oleh karena takut pada akibat keterikatan yang akan timbul Dengan pikiran yang mantap pahami dengan baik

Bahwa sifat dari benda-benda tersebut yang harus dijauhi!

(20) Meskipun aku memiliki harta benda Termasyhur dan dipuja puji

Betapapun ketenaran dan kehormatan yang kumiliki mengagumkan

Sama sekali tak dapat menemaniku setelah kematian.

(21) Bila terdapat seseorang yang menghinaku

Kebahagiaan apa yang dapat kumiliki ketika dipuji? Dan bila ada orang lain yang memujiku

Kebahagiaan apa yang dapat kumiliki bila dihina?

(22) Bahkan bila Hyang Jina sendiri tak dapat menyenangkan Berbagai kemauan bermacam-macam makhluk hidup Lantas apa perlu dikatakan lagi tentang orang jahat seperti diriku ini?

Untuk itu aku harus membuang keinginan untuk bergaul dengan orang duniawi.

(23) Ia mencela mereka yang tidak memiliki harta benda Dan menjelek-jelekkan mereka yang memilikinya

Bagaimana bisa mereka yang sifatnya begitu keras dapat lama bersama-sama

Bahkan sekedar memperoleh suatu kesenangan (dariku)?

(24) Hal itu telah dinyatakan oleh Sang Tathagata

Bahwa orang seharusnya tidak bersahabat dengan orang yang kekanak-kanakan

Mengingat bahwa kecuali mereka telah menemukan jalannya sendiri

Anak-anak itu tidak akan bahagia.

(25) Bila aku harus pergi berdiam di hutan

Di antara rusa, burung-burung serta pepohonan

Yang tidak mengucapkan kata-kata tidak menyenangkan Akankah menyenangkan bersama-sama dengan mereka?

(26) Bila berdiam di dalam gua

Di caitya yang sunyi dan di pangkal pohon Jangan menginginkan pulang

Tumbuhkan ketidakterikatan.

(27) Kapan aku harus tinggal beberapa lama Di tempat yang tidak ada kata ‘milikku’ Yang berciri terbuka dan luas

Dan di mana lagi aku akan dapat bersikap tidak terikat?

(28) Kapan aku akan menjalani hidup yang bebas dari rasa takut Hanya memiliki mangkok patra dan sedikit kain lusuh Memakai pakaian yang tidak diinginkan oleh siapa pun Yang tak cukup bahkan untuk menyembunyikan tubuh ini?

(29) Setelah berangkat ke tempat pembuangan mayat Kapan aku akan dapat memahami

Bahwa tubuhku ini dengan tulang kerangka orang lain Sebenarnya sama dalam hal menjadi obyek

ketidakkekalan?

(30) Kemudian, disebabkan oleh baunya Bahkan rubah pun tak akan

Mendekati tubuhku

Karenanya akan jadi apa ini.

(31) Meskipun tubuh ini tampak sebagai satu wujud Tulang dan daging dengan mana ia terangkai Akan terurai dan terpisah-pisah

Berapa banyak lagi yang akan menjadi sahabat serta semacamnya?

(32) Saat lahir aku terlahir sendirian

Demikian pula saat mati aku akan mati sendirian Rasa sakitnya tak dapat dibagi dengan orang lain

Lantas apa gunanya menjalin persahabatan yang menjadi rintangan?

(33) Sama seperti orang bepergian yang sedang berada di jalan besar (Meninggalkan suatu daerah) dan memasuki daerah lainnya Demikianlah mereka yang sedang menyusuri jalan keberadaan samsara

Meninggalkan satu kelahiran memasuki kelahiran yang lain.

(34) Hingga tiba saatnya bagi tubuh ini Diangkat oleh empat orang pemikul

Ketika dunia (berdiri mengelilingi) berduka cita Hingga kemudian aku beristirahat (kaku) di hutan.

(35) Tidak ditemani oleh siapa pun dan tak dihiraukan oleh siapa pun

Tubuhku akan tinggal sendirian di tempat terpencil Jika aku sudah berpikir sebagai orang yang sudah mati Ketika aku mati di sana tak akan ada orang yang berkabung.

(36) Mengingat di sana tak ada orang yang mengelilingi Yang menggangguku dengan kesedihannya

Dengan demikian di sana tak akan ada orang yang mengganggu

Perenunganku pada Hyang Buddha.

(37) Oleh sebab itulah aku akan tinggal sendirian Bahagia dan puas dengan sedikit kebutuhan

Dalam hutan yang sangat menyenangkan hati dan indah Menghapus segala gangguan.

(38) Setelah meninggalkan segala perhatian pada yang lain Dengan hanya didorong oleh satu tekad

Aku akan berusaha menempatkan pikiranku pada keseimbangan (dalam samatha)

Dan menaklukkannya (dengan vipasana).

(39) Baik di dunia ini maupun berikutnya

Keinginan telah menimbulkan kemalangan besar Terbunuh, diikat dan dikuliti dalam hidup saat ini

Maupun terlahir di neraka dalam hidup yang akan datang.

(40) Demi memenuhi berbagai permintaan (wanita) Pertama-tama yang dilakukan adalah pergi berdua Segala bentuk ketidakbajikan dan bahkan reputasi buruk Tidak dihiraukan demi menyenangkannya.

(41) Aku terlibat dalam perbuatan berbahaya demi mereka Bahkan meskipun akan menguras hartaku

Akan tetapi tubuhnya

Yang sangat kunikmati dalam hubungan badan,

(42) Tiada lain hanyalah tulang kerangka Ia sebenarnya tidak nyata dan tidak ada Demikiankah obyek keinginan dan nafsu itu

Kenapa aku tidak pergi saja ke tempat yang tiada lagi penderitaan?

(43) Di tempat pertama aku berusaha untuk mengangkat penutupnya

Pada saat ia bangun ia tertunduk malu menatap ke bawah Apakah dilihat orang atau tidak

Wajahnya ditutupi dengan kain.

(44) Tapi sekarang mengapa aku harus melarikan diri Setelah melihat secara langsung

Wajah yang mengganggu pikiran itu

Seolah diberikan kepadaku oleh burung hering?

(45) Dulu aku telah benar-benar menjaga tubuhnya Pada saat orang lain mendelikkan mata padanya. Mengapa bersedih, apakah dirimu tak menjaganya lagi sekarang

Selagi ia disambar oleh burung-burung itu kini?

(46) Oleh karena burung hering dan yang lainnya memakan Onggokan daging yang aku lihat ini

Mengapa aku melakukan persembahan untaian bunga, cendana dan perhiasan

Kepadanya yang kini menjadi makanan bagi makhluk lain?

(47) Bila aku takut pada tulang kerangka yang kulihat Meskipun tahu ia sama sekali tak bisa bergerak Bagaimana bisa aku tidak takut pada mayat hidup Yang bisa berjalan-jalan dengan sedikit perasaan?

(48) Meskipun aku terikat padanya saat ia masih terbungkus kulit Mengapa aku tak menginginkannya lagi saat ia tak terbungkus kulit lagi?

Karena aku tak memerlukannya lagi lalu Bagaimana bisa begitu terpana padanya saat ia terbungkus kulit?

(49) Mengingat bahwa baik kotoran maupun ludah Berasal dari makanan

Mengapa aku membenci kotoran Tetapi senang sekali pada air liur?

(50) Katun juga lembut bila disentuh

Tapi karena aku tak mendapatkan kenikmatan seks pada bantal Aku berpikir bahwa tubuh wanita tidaklah kotor dan berbau enak

Wahai orang penuh nafsu, engkau telah tertipu oleh apa yang sesungguhnya kotor!

(51) Berpikir bahwa dirinya tak dapat tidur bersama-sama katun ini Meski ia juga lembut bila diraba

Orang yang bingung, buruk dan penuh nafsu Kesal terhadap keadaan seperti itu.

(52) Jika aku tak suka pada apa yang tidak bersih

Lantas mengapa aku menggagahi bagian bawah tubuh orang lain

Yang sebenarnya hanyalah rongga tulang dan lendir Ditutupi dengan lumpur daging?

(53) Tubuhku sendiri berisi berbagai kekotoran Yang terus menerus kualami

Lantas mengapa, mendambakan sesuatu yang kotor lagi Akankah aku menginginkan kantong kotor orang lain?

(54) Tapi yang kunikmati itu adalah daging

Jika demikian apa yang ingin kusentuh dan lihat.

Mengapa aku tidak menginginkan dalam bentuk nyatanya Yang bebas dari praduga mental?

(55) Bahkan, berbagai perasaan yang mungkin kuinginkan Sebenarnya tak dapat disentuh atau dilihat

Dan apa pun yang dapat disentuh bukanlah mental Sehingga mengapa melakukan persetubuhan yang tak berarti?

(56) Tidaklah begitu aneh bila aku tidak mengerti Bahwa tubuh orang lain sesungguhnya kotor Namun sungguh aneh bila aku tak paham Jika tubuhku sendiri sebenarnya kotor.

(57) Setelah melupakan bunga teratai mudaku

Mekar oleh cahaya matahari yang bebas dari awan Mengapa, dengan pikiran yang menginginkan sesuatu yang kotor

Akankah aku mengisi kerangka kotor?

(58) Karena aku tidak ingin menyentuh Suatu tempat yang dikotori oleh kotoran Lantas mengapa aku menginginkan tubuh Yang darinya kotoran itu keluar?

(59) Bila aku menginginkan apa yang kotor

Mengapa aku menyetubuhi bagian bawah tubuh orang lain Yang keluar dari tempat yang kotor (kandungan)

Dan timbul dari benih di dalamnya?

(60) Aku tidak menginginkan seekor belatung kotor Yang keluar dari segumpal kotoran

Lantas mengapa aku menginginkan tubuh ini yang sebenarnya seluruhnya kotor

Yang juga terjadi karena kotoran?

(61) Bukan saja karena aku tak meremehkan Kekotoran dari tubuhku sendiri

Namun karena suatu obsesi pada apa yang kotor Aku menginginkan kantong kotor yang lain lagi.

(62) Bahkan meski sesuatu yang menimbulkan selera seperti makanan lezat

Nasi matang serta sayur

Membuat tanah kotor dan bersampah

Haruskah dimuntahkan setelah berada di dalam mulut.

(63) Meskipun kekotoran yang demikian benar-benar nyata Jika aku tetap tidak paham aku harus pergi ke

pembuangan mayat

Dan menyaksikan tubuh-tubuh kotor (milik orang lain) Yang telah dibuang jauh di sana.

(64) Setelah menyadari bahwa ketika kulitnya terbelah membuka

Ia menimbulkan kengerian yang luar biasa Bagaimana bisa hal sepertu itu terjadi Bisakah ia memberi kesenangan lagi?

(65) Wewangian yang telah dipakai di tubuh seseorang Seperti cendana serta lainnya, bukanlah tubuh orang lain Lantas mengapa aku terikat pada tubuh orang lain Di mana bau wanginya tidak berasal darinya?

(66) Oleh karena bau tubuh sesunggunya apek Bukankah lebih baik tidak terikat terhadapnya? Mengapa mereka yang menginginkan sesuatu yang tak berarti dari dunia

Mengolesi tubuh ini dengan bau yang menyenangkan?

(67) Dan bahkan bau harum kayu cendana

Bagaimana bisa ia keluar dari tubuh manusia? Lantas mengapa aku terikat pada tubuh orang lain Sedang baunya sendiri tidak berasal darinya?

(68) Mengingat bahwa tubuh dengan telanjang terbaring dalam keadaan aslinya

Sungguh menakutkan kuku-kukunya dan rambutnya yang panjang

Bau busuk gigi-giginya yang kekuningan Dan yang diselubungi oleh bau kotoran,

(69) Mengapa aku berusaha sedemikian rupa untuk memolesnya Seperti (membersihkan) senjata yang akhirnya akan melukaiku?

Oleh karena seluruh dunia diserang oleh penyakit gila Mempengaruhi mereka yang bingung pada dirinya sendiri.

(70) Ketika pikiranku bangkit (di atas tujuan duniawi)

Karena setelah menyaksikan yang tiada lain kecuali tulang belulang di kuburan

Akankah ada suatu kebahagiaan di kota kematian Yang penuh oleh kerangka-kerangka yang berjalan?

(71) Bahkan, tubuh seorang wanita yang kotor itu Tak dapat diperoleh tanpa membayar

Untuk mendapatkannya aku harus menguras hartaku sendiri Dan dalam hidup nanti akan menderita di alam neraka.

(72) Seperti anak kecil aku tak dapat mengembangkan kekayaanku Sebagai pemuda apa yang harus kulakukan (tak dapat memiliki seorang istri)?

Dan pada masa akhir hidupku bila aku memiliki kekayaan Sebagai orang tua, apa gunanya hubungan seks kemudian?

(73) Beberapa orang jahat dan penuh nafsu

Membiarkan dirinya bekerja keras sepanjang hari Setelah pulang ke rumah di senja hari

Ia merebahkan tubuhnya telentang seperti mayat.

(74) Beberapa yang lain menderita karena tersesat di perjalanan Dan telah pergi sangat jauh dari rumahnya

Bahkan mereka jauh dari pasangannya

Mereka suatu ketika tidak melihat pasangannya selama setahun.

(75) Beberapa orang yang mencari keuntungan

Karena bingung, bahkan menjual dirinya sendiri demi kebaikan (perempuan dan semacamnya)

Tetapi tidak memperoleh apa yang diinginkannya

Mereka dengan tanpa tujuan terbawa oleh hembusan angin perbuatan orang lain.

(76) Beberapa orang lagi telah menjual tubuhnya sendiri Dan dengan tanpa daya diperintah oleh orang lain Bahkan saat istrinya melahirkan

Anaknya lahir di pangkal pohon dan di tempat terpencil.

(77) Beberapa orang bodoh didorong oleh keinginan

Menginginkan mata pencaharian dengan berpikir “Aku akan hidup sebagai seorang tentara”

Kemudian, meskipun takut mati, mereka pergi ke medan peperangan

Yang lain lagi menjadi budak demi gaji.

(78) Beberapa orang penuh nafsu bahkan memotong tubuhnya sendiri Yang lain menjatuhkan dirinya di ujung galah

Beberapa menusuk dirinya dengan pisau

Dan yang lain lagi membakar dirinya – seperti ini benar-benar terjadi.

(79) Karena penderitaan yang dialami saat mengumpulkan, menjaga dan akhirnya kehilangannya

Aku akan menganggap kekayaan sebagai penuh oleh tak terhitung persoalan

Mereka yang terdorong oleh keterikatannya terhadap kekayaan Tidak memiliki kesempatan untuk mencapai pembebasan dari penderitaan keberadaan samsara.

(80) Dengan cara seperti binatang menyusun sarangnya Yang hanya dapat makan rumput seukuran mulutnya Demikianlah orang yang penuh harapan

Memiliki berbagai kerugian seperti itu dan sedikit keuntungan.

(81) Mengingat bahkan seekor binatang pun dapat mengalami hal ini (sedikit keuntungan)

Mereka yang disiksa oleh perbuatan masa lampaunya Melewatkan kesempatan serta berkahnya yang sangat sulit didapatkan

Demi kebajikan sesuatu yang tidak berarti yang sebenarnya tidak begitu penting.

(82) Obyek yang menjadi keinginan sudah pasti akan hilang Dan setelah itu aku akan jatuh ke dalam neraka Namun Kebuddhaan sendiri tercapai

Dengan mengalami berjuta-juta kesulitan seperti ini.

(83) Terus-menerus terlibat menyia-nyiakan hidupku Demi kebajikan apa yang sebenarnya tidaklah penting Mengingat bahwa pengalaman penderitaan lebih berat daripada mengikuti jalan hidup Bodhisattva

Meskipun (padanya) tak akan ada pencerahan.

(84) Setelah merenungkan penderitaan di alam neraka Jelas bahwa tak ada yang menyamainya

Dari penyebab penderitaan berat pada makhluk hidup Dengan senjata, racun, api, jurang serta musuh.

(85) Setelah dengan cara ini mengembangkan pengurangan keinginan Aku akan mengembangkan kegemaran pada penyepian Orang yang beruntung berdiam di hutan yang tenang Bebas dari gangguan dan godaan pikiran.

(86) Ia tinggal di dalam rumah batu yang terhampar luas yang menyenangkan

Disejukkan oleh aroma cendana cahaya bulan Dikipasi oleh kedamaian, hembusan hutan sunyi

Memikirkan apa yang membawa kebajikan bagi yang lain.

(87) Ia tinggal selama waktu yang ia inginkan

Di dalam rumah kosong, di pangkal pohon dan di dalam gua Setelah meninggalkan penderitaan karena rasa memiliki dan menjaga harta

Ia berdiam dalam keadaan merdeka, bebas dari tanggungan,

(88) Hidup sesuai pilihannya, tanpa keinginan Tak lagi berhubungan dengan orang lain

Bahkan orang yang berkuasa sekalipun sulit mendapatkan Hidup sebahagia dan sepuas ini.

(89) Setelah dengan cara demikian

Merenungkan kebajikan pengasingan diri

Aku akan bersungguh-sungguh menghalau noda klesha Dan bermeditasi pada bodhicitta.

(90) Pertama-tama aku akan berusaha

Untuk bermeditasi pada kesamaan antara diri sendiri dengan makhluk lain

Aku akan melindungi semua makhluk sebagaimana melindungi diriku sendiri

Mengingat bahwa kami semua sama dalam menginginkan kebahagiaan dan tidak menginginkan penderitaan.

(91) Meskipun di sana terdapat berbagai bagian dan aspek yang berbeda-beda sebagaimana telapak tangan;

Sebagai sebuah tubuh yang akan dilindungi adalah satu. Demikian pula semua makhluk yang berbeda-beda kebahagiaan serta penderitaannya

Telah menginginkan kebahagiaan yang sama seperti diriku.

(92) Penderitaan yang kualami

Tidak membuat orang lain menderita apa pun Namun penderitaanku itu akibat anggapanku yang menganggap diri sebagai ‘aku’

Yang kemudian menjadi tak tertanggungkan lagi.

(93) Demikian pula penderitaan makhluk lain Tak akan menimpaku

Hingga, menganggap (bahwa orang lain sebagai) ‘aku’, penderitaan mereka menjadi penderitaanku

Karenanya itu akan menjadi semakin berat untuk ditanggung.

(94) Oleh karena aku akan mengatasi penderitaan makhluk lain Karena penderitaan itu, merupakan penderitaanku sendiri Dan aku akan membawa kebajikan bagi yang lain Oleh karena mereka makhluk hidup, sama seperti diriku.

(95) Jika baik diriku dan makhluk lain

Serupa dalam menginginkan kebahagiaan Apa istimewanya diriku?

Mengapa aku hanya berusaha demi kebahagiaanku sendiri?

(96) Bilamana baik diriku maupun makhluk lain Sama dalam hal tidak menginginkan penderitaan Apakah yang istimewa dari diriku?

Mengapa aku hanya melindungi diriku sendiri, bukannya yang lain juga?

(97) Tapi mengapa aku harus melindungi mereka

Jika penderitaan mereka tidak membuatku menderita apa pun? Lantas mengapa juga melindungi diriku dari penderitaan nanti Bila itu tidak membuatku menderita saat ini?

(98) Adalah suatu kesalahan pandang bila berpikir Aku akan mengalami (penderitaan hidup nanti) Karena orang lain yang mati

Orang lain pulalah yang akan lahir kembali.

(99) Tentu saja di mana pun terdapat penderitaan

Yang mengalaminya harus melindungi dirinya sendiri dari penderitaan itu

Meskipun penderitaan kaki bukanlah penderitaan tangan Lalu mengapa tangan menjaganya?

(100) Meskipun hal ini mungkin tidak adil

Itu terjadi oleh karena anggapan adanya diri

Namun sudah pasti bahwa apa pun tidak adil bagi diriku sendiri maupun yang lain

Haruskah semua jerih payah akan sia-sia.

(101) Ini seperti arus dan ombaknya

Kesalahannya sama seperti aksamala dan tentara Ia tidak sungguh-sungguh memiliki penderitaan Karena siapa yang telah mengendalikannya?

(102) Karena tak ada pemilik penderitaan yang berdiri sendiri Tak dapat dibedakan sama sekali antara (yang dari diriku atau orang lain)

Untuk itu aku akan menghalaunya karena ia menimbulkan derita Mengapa aku begitu yakin (bahwa aku akan tak perlu mengatasi penderitaan orang lain)?

(103) Tetapi, (mengingat bahwa baik penderitaan maupun yang mengalaminya tidak benar-benar eksis), mengapa aku harus menghalau penderitaan dari semua?

Di sini tak ada tempat untuk berargumentasi

Karena bila aku mencegah penderitaanku sendiri, sudah pasti aku akan menghindarkan penderitaan semuanya. Bila tidak, karena aku seperti halnya makhluk yang lain Aku tak mencegah bahkan penderitaanku sendiri.

(104) Tetapi karena belas kasih ini akan menimbulkan berbagai penderitaan diriku

Mengapa aku harus membuat diriku mengembangkannya? Haruskah aku merenungkan penderitaan makhluk hidup Bagaimana bisa penderitaan akibat belas kasih akan bertambah?

(105) Jika karena penderitaan satu orang

Penderitaan semua makhluk akan dapat dihancurkan Seharusnya orang yang baik hati akan menanggungnya Demi kebajikan dirinya sendiri serta makhluk lain?

(106) Karena itu Bodhisattva Supushachandra

Meskipun sadar bahwa siksaan raja akan menimpanya Menanggung penderitaannya sendiri

Dengan maksud mencegah penderitaan banyak orang.

Dalam dokumen Buddha pada masa sekarang. (Halaman 108-141)