• Tidak ada hasil yang ditemukan

Vîrya Pâramitâ

Dalam dokumen Buddha pada masa sekarang. (Halaman 94-108)

(Kesempurnaan Semangat)

(1) Setelah kesabaran aku akan mengembangkan semangat; Karena bodhicitta hanya akan berdiam pada mereka yang mendorong dirinya.

Sebagaimana tak ada ruang yang tanpa angin,

Demikian pula kebajikan tak akan terjadi tanpa semangat.

(2) Apakah semangat itu? Yaitu menemukan kesenangan di dalam apa yang baik.

Yang merupakan faktor kebalikan dari yang telah dijelaskan Seperti; kemalasan, ketertarikan terhadap ketidakbajikan Dan menghalangi diri karena patah semangat.

(3) Kerena terikat pada kesenangan pembicaraan tak berguna. Karena keinginan untuk tidur

Dan karena tidak memiliki rasa takut terhadap penderitaan roda samsara,

(4) Terjaring oleh jala klesha,

Aku telah memasuki jala kelahiran. Mengapa aku tetap tak juga sadar, Bahwa aku hidup di mulut raja kematian?

(5) Tidakkah aku melihat

Bahwa ia telah menjagal secara sistematis seluruh spesiesku? Siapa pun yang tetap tidur mendengkur

Sudah pasti akan seperti kerbau dengan penjagal.

(6) Setelah menutup seluruh jalan untuk melarikan diri Yamadipati mencari seseorang untuk dibunuh, Bagaimana aku bisa menikmati makan? Juga bagaimana aku bisa tidur pulas?

(7) Selama kematian tetap benar-benar mengancam Baru kemudian aku akan mengumpulkan kebajikan Bahkan jika aku kemudian menghentikan kemalasan, Apa gunanya? Karena sudah tak ada waktu lagi!

(8) Jika ini tidak diusahakan, bila ini dilakukan Dan jika hal ini dilakukan hanya separuhnya, Tiba-tiba Dewa Yama datang

Lalu muncul pikiran, “Oh tidak, aku sedang berusaha!”

(9) Wajahnya berlinang air mata Matanya merah didera kesedihan,

Keluargaku akhirnya akan kehilangan harapan Dan aku akan melihat para Yamaduta.

(10) Menyesal ingat akan kejahatan yang telah kulakukan Mendengar suara neraka,

Dalam ketakutan aku akan menutupi tubuhku dengan kotoran. Kebajikan apa yang dapat kulakukan dalam situasi kacau ini?

(11) Jika bahkan dalam hidup saat ini aku dilanda ketakutan Laksana ikan di dalam pasir panas penggorengan, Bagai meski telah mengetahui betapa tak tertahankannya kelahiran di neraka

Yang akan diakibatkan oleh perbuatan burukku?

(12) Bagaimana aku akan menyepelekannya seperti ini Saat aku telah melakukan perbuatan (yang akan berakibat) Tubuh bayiku (kelahiranku) masuk ke dalam cairan air keras mendidih

Di neraka yang sangat panas?

(13) Begitu banyak penderitaan yang tak tertanggungkan menimpa mereka

Dan mereka yang menginginkan hasil tanpa melakukan usaha apa pun.

Saat tertangkap oleh kematian mereka akan menjerit seperti dewa “Oh tidak, aku tertimpa penderitaan!”

(14) Dengan menggunakan perahu tubuh manusia,

Bebaskan dirimu sendiri dari sungai besar penderitaan! Karena sangat sulit mendapatkan perahu ini lagi, Tak ada waktu untuk tidur, hai orang bodoh!

(15) Dengan mengabaikan kesukacitaan utama Dharma suci Yang merupakan sumber kebahagiaan tanpa batas, Mengapa aku terlibat dalam sebab penderitaan? Mengapa aku menyukai berbagai hiburan dan semacamnya?

(16) Tanpa menuruti kemurungan, aku harus mengumpulkan semangat

Dan dengan seksama mengendalikan diriku sendiri. Kemudian dengan memandang diri sendiri sama dengan yang lain Aku harus mempraktekkan menukar diri sendiri dengan

(17) Aku tak akan terlibat dalam kegemaran akan hiburan dan semacamnya,

“Bagaimana aku akan dapat bangun?”

Karena Sang Tathagata mengatakan apa yang benar Telah mengungkapkan kebenaran ini:

(18) “Bila mereka mengembangkan perhatiannya dengan kuat, Bahkan jika ia seekor ngengat, nyamuk, lebah ataupun serangga

Akan mencapai pencerahan yang tiada banding Yang sangat sulit untuk dicapai.”

(19) Karenanya, bila aku tak mengabaikan jalan hidup Bodhisattva. Bagaimana bisa orang sepertiku yang telah lahir sebagai manusia

Tak dapat mencapai Kebuddhaan, oleh karena saya dapat mengetahui

Apa yang berguna dan apa yang merugikan?

(20) Namun demikian hal itu menakutkanku untuk berpikir Bahwa mungkin aku telah memberikan tangan dan kakiku Tanpa membedakan antara apa yang berat dan apa yang ringan Aku mengalami rasa takut akibat kebimbangan.

(21) Selama berkalpa-kalpa yang tak terhitung Aku dipotong, ditikam dan dikubur,

Serta berganti-ganti kehidupan yang tak terbilang lagi Tetapi aku tetap belum mencapai kesadaran juga.

(22) Karena penderitaan

Merasuki kesadaranku akan terhenti; Yang merupakan penderitaan yang disengaja

Guna menghapuskan serta menghancurkan sakit yang berat.

(23) Bahkan dokter menyembuhkan penyakit Dengan pengobatan yang tidak menyenangkan, Karenanya demi untuk mengatasi berbagai macam penderitaan

Aku harus dapat menanggung beberapa hal yang tak nyaman.

(24) Namun ‘Tabib Terunggul’ tak menggunakan Cara pengobatan biasa seperti itu,

Dengan menggunakan teknik yang benar-benar sangat ampuh Ia menyembuhkan segala jenis penyakit akut.

(25) Pada mulanya ‘Guru Jagat’ menyatakan Bahwa pemberian sesuatu seperti makanan. Kemudian bila telah terbiasa terhadap ini,

Seseorang dapat terus memberikan bahkan hingga dagingnya sendiri.

(26) Pada saat itu ketika pikiranku telah berkembang Dalam hal memandang tubuhku sebagai makanan, Lalu rintangan apakah yang akan terjadi

Bila tiba saatnya untuk mendanakan tubuhku sendiri?

(27) Setelah meninggalkan segala kejahatan di sana tak akan ada penderitaan

Dengan kebijaksanaan di sana tak akan kekurangan kesukacitaan;

Tapi sekarang pikiranku telah dipengaruhi oleh pandangan salah Dan tubuhku telah menyebabkan penderitaan dengan berbuat ketidakbajikan.

(28) Oleh karena tubuh gembira karena kebajikannya Dan pikiran bahagia karena kebijaksanaannya,

Bahkan jika berdiam dalam roda samsara demi kebajikan yang lain

(29) Karena kekuatan bodhicittanya

Bodhisattva menghapuskan kejahatan masa lampaunya Dan memetik samudra kebajikan

Karenanya ia dikatakan melampaui para Sravaka.

(30) Karenanya, setelah menunggangi kuda bodhicitta Yang menghalau segala keputusasaan dan keletihan, Barang siapa ketika mengetahui bahwa pikiran ini berpindah dari kebahagiaan satu ke kebahagiaan lainnya, Akankah larut dalam keputusasaan?

(31) Penopang ketika berusaha demi kebajikan semua makhluk Adalah kehendak, keteguhan, kegembiraan dan

seterusnya.

Kehendak dikembangkan melalui rasa takut menderita Dan dengan merenungkan kebajikan kehendak itu sendiri.

(32) Karenanya demi untuk mengembangkan semangatku Aku harus menghindari kekuatan yang berlawanan dengannya

Untuk menopang kehendak, kepercayaan diri, kegembiraan dan seterusnya

Untuk melaksanakan dengan tekun dan gigih dalam mengendalikan diri.

(33) Aku harus mengatasi

Berbagai kesalahanku juga yang lain,

Dan untuk menghancurkan setiap kesalahan itu Aku akan berusaha hingga samudra kalpa habis.

(34) Namun jika dalam diriku sendiri aku tidak melihat Bahkan perbedaan antara penanganan hingga mengosongkan kesalahan itu,

Lantas mengapa aku sakit hati?

Oleh karena sekarang aku telah menjadi gudang penderitaan yang tiada terbilang.

(35) Demikian pula aku harus merealisasi

Berbagai kebajikan bagi diri saya sendiri serta yang lain, Dan (dengan tujuan) mencapai segala kebajikan tersebut Semoga aku dapat menyesuaikan diriku dengan

penyebabnya bahkan hingga samudra kalpa mengering.

(36) Akan tetapi aku tidak mengembangkan sepantasnya Meski sebagian dari kebajikan itu.

Betapa mengherankannya menyia-nyiakan waktu, Kelahiran yang telah kudapatkan ini yang berasal dari beberapa kebetulan.

(37) Aku tak melakukan persembahan kepada Hyang Buddha, Aku tak memberi kegembiraan apa pun dalam festival besar, Aku tak melakukan apa pun bagi Dharma,

Aku tak memenuhi harapan orang miskin.

(38) Aku tidak memberi rasa aman pada mereka yang ketakutan Dan aku juga tidak memberi kebahagiaan pada yang lemah. Satu-satunya yang telah kuberikan adalah

Membuat sakit kandungan ibu dan menimbulkan penderitaan.

(39) Baik dalam hidup saat ini maupun masa lampau Telah terjadi perampasan yang seperti ini Karena kurangnya aspirasiku pada Dharma!

Siapakah yang akan menolak aspirasi pada Dharma ini?

(40) Sang Sugata sendiri telah mengatakan

Bahwa kehendak adalah akar dari segala rupa kebajikan; Akarnya secara langsung berkaitan

Dengan akibat perbuatan yang masak.

(41) Penyakit fisik, pikiran tidak bahagia Segala macam bentuk kecemasan Serta terpisah dari apa yang dicintai

Semuanya timbul akibat cara hidup yang salah.

(42) Sebaliknya dengan melakukan perbuatan baik Yang didasari oleh kehendak pikiran,

Ke mana pun aku pergi aku akan hadir bersama dengan Panen buah kebajikan tersebut.

(43) Namun dengan berbuat kejahatan,

Meskipun aku menginginkan kebahagiaan,

Ke mana pun aku pergi aku akan selalu dikuasai sepenuhnya Oleh senjata kesedihan (yang disebabkan) oleh hidupku yang jahat.

(44) Sebagai akibat kebajikan aku akan berdiam di tempat luas, harum dan hati tenteram oleh bunga padma, Auraku akan terpelihara oleh makanan dari ucapan menyenangkan Hyang Jina,

Wujudku yang agung akan muncul dari bunga padma mekar oleh cahaya para Sugata,

Dan sebagai Bodhisattva aku akan berdiam di hadirat Hyang Jina.

(45) Akan tetapi sebagai akibat dari perbuatan buruk kulitku akan matang oleh para algojo Yamabala,

Dalam gumpalan cairan tembaga meleleh oleh panas akan diguyurkan pada tubuhku.

Hancur oleh pedang menyala serta tombak, dagingku tercacah menjadi beratus-ratus potong

Dan aku akan terkapar di atas tanah besi panas membara.

(46) Karenanya aku harus berkehendak pada kebajikan Dan dengan penuh hormat menjadikan diriku sejalan dengannya Setelah menjalankan kebajikan dengan sikap vajradhvaja, Aku selanjutnya akan berusaha menyelaraskan diriku dengan sikap percaya diri.

(47) Pertama-tama aku akan mengkaji dengan seksama apakah yang baik untuk dilaksanakan

Untuk mengetahui apakah aku bisa atau tidak menjalankannya Jika aku tidak dapat, sangat baik bagiku untuk meninggalkannya, Namun sekali aku telah menjalankannya aku tidak akan menyerah.

(48) Bila tidak, kebiasaan buruk ini akan berlanjut dalam hidup yang lain

Dan kejahatan serta penderitaan akan terus berkembang, Juga perbuatan lain yang dilakukan pada saat itu berbuah Akan melemah dan tak akan berhasil.

(49) Kepercayaan diri harus digunakan untuk perbuatan baik, (Penaklukan) klesha dan kecakapanku (untuk

melakukannya).

Berpikir “Aku sendirilah yang harus melakukannya” Adalah sikap percaya diri dalam berbuat.

(50) Lemah, batinnya ternoda

Manusia di dunia ini tak dapat membawa kebajikan bagi dirinya sendiri.

Karenanya aku akan melakukannya untuk mereka Oleh karena beda dengan diriku, mereka tidak cakap.

(51) (Bahkan) jika orang lain mengerjakan tugas yang tak penting Mengapa aku duduk di sini (tanpa berbuat sesuatu)? Aku tak melakukan pekerjaan mereka karena menganggap diri mulia;

Akan lebih baik bagiku bila tidak memiliki kesombongan seperti ini.

(52) Saat gagak mematuk bangkai ular

Ia akan bertingkah seolah dirinya adalah seekor elang. Demikian pula jika kepercayaan diriku lemah

Aku akan terpengaruh oleh pelanggaran kecil.

(53) Bagaimana bisa mereka yang karena patah hatinya telah meninggalkan usaha

Untuk menemukan kebebasan akibat kekurangan ini? Tetapi meski rintangan besar akan menghadang yang sukar untuk diatasi

(54) Karenanya dengan pikiran yang siaga Aku akan mengatasi segala kesalahan, Bila aku kalah oleh suatu kesalahan

Keinginanku untuk menaklukkan ketiga dunia hanya akan menjadi gurauan.

(55) Aku akan menaklukkan apa pun

Dan tak ada apa pun yang dapat menaklukkanku! Aku, Jinaputra yang bagaikan singa,

Akan tetap percaya diri dalam cara demikian.

(56) Siapa pun yang memiliki rasa kebanggaan diri akan hancur karenanya;

Ia yang ternoda dan tak memiliki kepercayaan diri. Bagi mereka yang memiliki kepercayaan diri jangan gentar pada kuatnya musuh,

Menyadari bahwa di masa lampau telah berada di bawah perintah musuh kebanggaan diri.

(57) Tergerak oleh klesha sikap kebanggaan diriku, Aku akan dibawa olehnya ke dalam alam rendah. Ia menghancurkan kegembiraan kemeriahan hidup manusia. Aku akan menjadi budak, memakan makanan orang lain,

(58) Bodoh, buruk, lemah dan tidak dihargai di mana-mana Hanya dilecehkan oleh orang-orang

Juga dipandang sebagai bagian kebanggaan diri

Katakan padaku, apa yang lebih menyedihkan dari hal ini?

(59) Barang siapa yang melihat sikap percaya diri dengan maksud untuk menaklukkan musuh kebanggaan diri Dialah orang yang percaya diri, pahlawan penakluk, Singkatnya, siapa pun yang telah menaklukkan tersebarnya musuh, kebanggaan diri ini,

Sepenuhnya (meraih) buah seorang Tathagata, memenuhi harapan bagi semesta.

(60) Bila aku mendapati diriku di tengah kekacauan klesha Aku akan berusaha mengatasinya dengan beribu-ribu cara Seperti singa di antara para rubah

Aku tak akan terpengaruh oleh banyaknya noda ini.

(61) Seperti halnya seorang pria yang akan melindungi matanya Ketika bahaya besar dan kekacauan terjadi

Demikian pula aku tak akan terbawa oleh noda di dalam batinku

(62) Lebih baik bagiku untuk terbakar Terbunuh dan terpenggal kepalaku Daripada menyerah takluk

Kepada klesha yang senantiasa hadir Demikian pula dalam segala keadaan

Aku tak akan pernah melakukan hal lain kecuali yang pantas.

(63) Seperti mereka yang menginginkan piala kemenangan Seorang Bodhisattva adalah tertarik

Pada tugas apa pun yang dapat dijalankan

Ia tak pernah merasa cukup, ia hanya membuatnya gembira.

(64) Meskipun orang-orang bekerja untuk mendapatkan kebahagiaan Tidaklah pasti bisa atau tidak mereka mendapatkannya Akan tetapi bagaimana bisa mereka yang bekerja saja sudah bahagia

Memperoleh kebahagiaan selain ia melakukannya?

(65) Bila aku merasa bahwa diriku tak memiliki sesuatu pun yang cukup menarik

Yang bagaikan madu mengolesi tajamnya pisau

Lantas mengapa aku harus merasa bahwa aku telah cukup memiliki

Kebajikan yang masak dalam kebahagiaan serta kedamaian?

(66) Sehingga untuk menyelesaikan tugas ini Aku harus berusaha demi itu

Seperti gajah yang tersiksa oleh panas matahari di tengah hari Menceburkan diri ke dalam telaga dingin yang

menyegarkan.

(67) Bila semangatku mengendur, aku akan menghentikan apa pun yang kukerjakan

Agar dapat melanjutkannya lagi nanti

Setelah melakukan sesuatu dengan baik, aku harus menyisihkannya

Dengan keinginan untuk menyelesaikan apa selanjutnya.

(68) Sama seperti cara seorang pahlawan tua menghadapi Pedang musuh di medan pertempuran

Demikianlah halnya aku akan menghindari senjata klesha Dan dengan cekatan mengikat musuh ini.

(69) Jika seseorang menjatuhkan pedangnya di medan pertempuran

Ia akan dengan cepat mengambilnya kembali karena takut Demikian pula jika aku kehilangan senjata kewaspadaan Aku akan segera mengembalikannya, karena takut pada neraka.

(70) Sebagaimana racun yang telah menyebar ke seluruh tubuh Dengan bergantung pada sirkulasi darah

Demikian pula bila klesha mendapat kesempatan Ketidakbajikan akan menyelinap ke dalam pikiranku.

(71) Mereka yang berlatih harus penuh perhatian

Seperti orang yang ketakutan mengangkat bejana penuh dengan minyak wijen

Yang diancam oleh seseorang dengan pedang terhunus Yang akan membunuhnya bila tertumpah meski hanya setetes.

(72) Sama halnya dengan diriku yang akan segera berdiri Bila seekor ular naik ke pangkuanku

Demikianlah bila perasaan mengantuk atau kemalasan muncul Aku akan segera menghentikannya.

(73) Setiap kali kadang-kadang ketidakbajikan terjadi Aku harus mengkritik diriku sendiri

Dan selanjutnya merenung untuk beberapa lama Sehingga aku tidak akan membiarkan hal itu terulang kembali.

(74) “Demikian pula dalam segala situasi tersebut Aku akan melindungi diriku dengan kewaspadaan” Melalui tekad ini sebagai sebuah sebab aku menginginkan Bertemu dengan Guru atau menyelesaikan tugas yang diberikannya kepadaku.

(75) Agar memiliki kekuatan untuk segala hal

Aku akan mengingat sebelum menjalankan perbuatan apa pun Nasehat di dalam bab tentang kesadaran

Selanjutnya dengan gembira menjalankan tugas tersebut.

(76) Sebagaimana angin yang bertiup kembali dan seterusnya Mengendalikan gerakan sepotong kapas

Demikian pula aku akan dikendalikan oleh kebahagiaan Dan dengan cara ini meraih segala sesuatu.

Bab VIII

Dalam dokumen Buddha pada masa sekarang. (Halaman 94-108)