Dari Ibnu Mas’ud berkata: Rosululloh bersabda, “Tidak dihalalkan darah (membunuh) seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Alloh dan bersaksi bahwa aku adalah utusan Alloh, kecuali karena salah satu dari tiga sebab: seorang yang telah menikah berzina, membunuh jiwa dihukum dengan hukuman mati, dan seseorang yang keluar dari agamanya serta memisahkan diri dari al-jamaah.” (Diriwayatkan oleh Bukhoriy dan Muslim)
“Tidak dihalalkan darah (membunuh) seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Alloh dan bersaksi bahwa aku adalah utusan Alloh,
Hadits ini merupakan dasar hukum kapan seorang muslim boleh dibunuh. Seorang muslim adalah seorang yang bersyahadatain dengan memenuhi syarat dan rukunnya dan tidak melakukan hal-hal yang membatalkannya. Maka seseorang yang sebelumnya kafir, dan mengucapkan syahadatain tanpa mengubah gaya hidupnya, syirik tetap syirik, tidak ada i’tiqad, maka ia tidak masuk Islam dengan syahadatainnya.
Keislaman seseorang tidak diukur semata-mata mengucapkan syahadat, tetapi sesuai dengan makna syahadat. Syahadat merupakan syahadat jika diucapkan menggunakan keyakinan terhadap apa yang diucapkan, sekaligus tunduk akan konsekuensinya. Namun, jika ada seseorang yang tanpa kita ketahui latar belakangnya yang sebelumnya kafir, kemudian tanpa kita ketahui penyebabnya ia mengucapkan syahadatain, maka kita tetap menahan diri untuk tidak membunuhnya sehingga diketahui secara benar bahwa ia muslim atau bukan. Jika ketika dalam kesehariannya terbukti bahwa ia melakukan perbuatan kekafiran atau melakukan perbuatan yang tidak mencerminkan kandungan makna syahadatain, maka dia bukanlah muslim. Sebagaimana, ketika dalam perang, seorang shohabat dihadapkan pada seseorang yang mengucapkan syahadatain hanya untuk melindungi nyawanya saja, tetap saja kita harus menahan diri untuk agar jangan sampai membunuhnya. Maka, di dalam Islam diajarkanlah tabayyun, atau klarifikasi sehingga jelas kekafiran pada diri seseorang.
kecuali karena salah satu dari tiga sebab:
Penyebutan bilangan baru kemudian rinci adalah metode nabawi dan kita mendapat pahala jika mengikuti cara Nabi dalam mengajar menggunakan cara ini, sekali lagi tentunya bersama niatan untuk ittiba’. Dengan menyebutkan bilangan terlebih dahulu sebelum merinci akan lebih mudah untuk diingat.
seorang yang telah menikah berzina, membunuh jiwa dihukum dengan hukuman mati, dan seseorang yang keluar dari agamanya serta memisahkan diri dari al-jamaah.
Pertama, orang yang sudah menikah dengan pernikahan yang sah (secara syar’i) kemudian berzina. Orang seperti ini dihukum dengan rajam. Hukum rajam ini tidak hanya di Al-Qur’an, melainkan juga di Taurat. Bahkan di dunia hewan pun pernah ada hukum rajam yang dilakukan oleh kera. Hukum rajam ini termasuk membunuh dengan cara yang baik. Perlu diingat bahwa membunuh dengan cara yang baik tidak ditinjau dengan cepatnya mati ketika dibunuh. Rajam dilakukan dengan melempari pezina menggunakan batu yang tidak terlau besar dan kecil. Tidak terlalu besar agar tidak langsung mati dan tidak terlalu kecil agar tidak terlalu menyakiti.
Kedua, qishash, yakni membunuh orang yang menghilangkan nyawa muslim lainnya. Dalam qishash ini terdapat kekecualian yakni tidak untuk muslim yang membunuh orang kafir dan ayah membunuh anaknya. Hukuman qishash bukanlah harga mati, melainkan bisa dimaafkan oleh orang yang memiliki hak qishash. Berkaitan dengan qishash bisa dilihat pada kitab-kitab fiqh.
Ketiga, meninggalkan agamanya dan memisahkan dari jama’ah. Meninggalkan agama di sini bisa diartikan murtad atau keluar dari Islam, dengan perincian ada yang diberi kesempatan untuk bertobat dan ada yang tidak diberi kesempatan untuk bertobat. Juga meninggalkan jama’ah, seperti khuruj dari imam yang sah, meski tidak meninggalkan agamanya tetapi dia meninggalkan jama’ah, ia tidak mau berbaiat dengan imam yang sah.
Demikianlah ketiga hal yang menjadikan seorang muslim boleh dibunuh. Namun, harus diingat bahwa pelaksanaan pembunuhan bukan dilaksanakan oleh masyarakat umum, tetapi oleh imam di negara yang menegakkan hukum Islam atau yang mewakilinya. Jadi, para hakim yang ditunjuk pemerintah untuk mengadili manusia dan menerapkan hukum Islam. Adapun di negara yang tidak menerapkan hukum Islam, maka tak seorang pun berhak mengeksekusi perihal penumpahan darah sesama muslim atau yang lainnya, meski yang melakukan penumpahan darah meminta untuk dieksekusi. Maka diwajibkan untuk yang menumpahkan darah bertaubat dengan taubat yang sebenarnya.
Adapun hukuman yang tidak sampai meninggalkan nyawa maka boleh dilakukan jika atas kemauan si pelaku. Pelaku boleh datang kepada orang ‘alim untuk minta dihukum. Misalnya, kita memukul saudara kita maka boleh-boleh saja diqishash, jika sama-sama ridla.
Jadi tidak semua yang syari’at memerintahkan untuk kaum muslimin membunu maka praktek pembunuhannya boleh dilakukan siapa saja yang mau melakukannya. Kadang orang berdalih dengan perintah Alloh atau Rosul-Nya tanpa melihat bagaimana pemahaman yang sebenarnya. Misalnya, perintah “bunuhlah tokoh-tokoh kekafiran”15, kemudian dia lihat pastor tokoh kekafiran. Maka kapan lewat malam-malam, tangkap lalu sembelih. Atau presiden Amerika ke Indonesia, dibom. Itu penyimpangan dan termasuk bid’ah karena itu diatasnamakan agama dan tidak ada tuntunan dari Alloh dan Rosul-Nya. Dan dia niatkan dengan itu untuk mengabdi kepada Alloh . Dan sekarang ini banyak sekali praktek-praktek pembunuhan di masyarakat kita dengan dalih atas nama penerapan agama padahal hakikatnya Islam berlepas diri dari perbuatan tersebut.
sodomi? Sodomi perkaranya lebih berat dibandingkan zina, maka dia dibunuh dua-duanya. Ulama berselisih pendapat bagaimana cara membunuhnya. Apakah dirajam, atau dibunuh saja, atau dijatuhkan dari gedung yang tinggi kemudian dijatuhi batu –sebagaimana yang terjadi pada kaum Nabi Luth. Bahkan ada yang dibakar. Walhasil mereka akhirnya dibunuh apapun caranya yang penting dibunuh karena begitu kejinya perbuatan mereka. Allohu’alam.
HADITS KE-15