• Tidak ada hasil yang ditemukan

di Pajangan Bantul Insanul Qisti Barriyah

Prodi Pendidikan Seni Rupa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa [email protected]

Wika Harisa Putri

Prodi Akuntansi Universitas Janabadra [email protected]

Rudi Suryanto

Prodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta [email protected]

ABSTRAK

Semakin berkembangnya zaman dan teknologi, kita dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menghasilkan berbagai macam karya. Mencipta seni atau desain baru menjadi langkah awal munculnya suatu karya seni dalam hal ini karya seni furniture.

Takkan ada seni apabila tidak ada proses penciptaan seni. Mencipta seni mungkin berat bagi seorang pemula seni dan bahkan bagi seorang seniman yang sedang berada dalam kondisi/keadaan yang tidak mendukung. Untuk itu perlu adanya pengetahuan tentang hal-hal yang dapat mendukung dan menghambat proses penciptaan karya seni.

Sektor kerajinan, menurut klasifikasi Departemen Perdagangan Republik Indonesia merupakan satu sektor yang masuk sebagai salah satu bentuk Industri Kreatif diantara 14 sektor industri lainya. Sementara, di dalam kenyataannya dari sekian banyak industri kerajinan khususnya kerajinan furni-ture yang ada di Indonesia ini belum banyak industri yang mengandalkan ‘kreativitas’ sebagai ujung tombak perusahaannya.

Dari problematika di seputar dunia kerajinan yang ada, diperoleh fakta bahwa pendekatan yang dilakukan justru menghindari apa yang dikenal sebagai usaha kreatif. Akar permasalahan yang mungkin menjadi penyebab adalah sebagian besar pelaku usaha industri kerajinan merupakan usaha ‘membuat’ saja, bukan berkreasi.

Kreativitas pada intinya merupakan kemampuan umum untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya.

Kreativitas dapat dipancing keluar dengan mengidentifikasi masalah yang muncul kemudian memakai-nya untuk melakukan riset atau penelitian, mengumpulkan informasi, menganalisa dan mengembang-kan strategi untuk menyelesaimengembang-kan masalah.

154 Pemanfaatan IPTEKS dalam Membangun Desa Mandiri dan Religius PENDAHULUAN

Semakin berkembangnya jaman dan teknologi, persaingan antar bangsa dan negara sangat ketat sekarang ini. Setiap pribadi, kelompok, maupun suatu bangsa, harus mampu memikirkan, membentuk cara-cara baru atau mengubah cara-cara lama secara kreatif, agar dapat terus hidup dan bergerak dan tidak tergilas dalam. Oleh karena itu pengembangan kreativitas, tinjauan dan penelitian-penelitian tentang proses kreativitas, kondisi-kondisi serta cara-cara yang dapat memupuk, merangsang dan mengembangkannya menjadi sangat penting.

Mengapa kreativitas begitu penting dalam hidup dan perlu dipupuk sejak dini? Karena berkreasi orang dapat mewujudkan (mengaktualisasikan) dirinya, dan perwujudan dan aktualisasi diri merupakan kebutuhan pokok tingkat tertinggi dalam hidup manusia (Maslow, 1959).

Kita dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menghasilkan berbagai macam karya. Jika kita hanya terpaku pada konsep dan visi misi di masa lalu saja, kita akan tergilas jaman dan orang-orang yang mau berpikir ke depan. Termasuk dalam dunia desain dan arsitektur, kita pun harus memiliki inovasi tinggi untuk menciptakan berbagai macam barang yang apik, dinamis, dan juga efisien. Salah satu prasyarat unggul dalam dunia desain yang kontemporer adalah mampu beradaptasi dengan segala perubahan yang pasti bisa muncul kapan saja.

Kreativitas merupakan manivestasi dari individu yang berfungsi sepenuhnya. Dengan kreativitas memungkinkan manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Dalam era pembangunan ini kesejahteraan dan kejayaan masyarakat maupun negara bergantung pada sumbangan kreatif berupa ide-ide baru, penemuan-penemuan baru dan teknologi baru. Untuk mencapai hal ini perlulah sikap, pemikiran dan prilaku kreatif dipupuk sejak dini .

Pada buku pedoman rencana pengembangan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Pemerintah Indonesia melalui beberapa departemen khususnya Departemen Perindustrian, Departemen Perdagangan, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Departemen Departemen Komunikasi dan Informasi, dan Departemen Tenaga Kerja, telah menaruh perhatian besar terhadap perkembangan ini, dimulai dengan usaha untuk membuat road map industri, pelatihan-pelatihan, hingga penyelenggaran pameran bertemakan ekonomi kreatif dan industri kreatif.

Pemerintah sendiri menargetkan industri kreatif Indonesia tumbuh 6,3 persen pada 2009 serta penciptaan lapangan kerja baru untuk 5,4 juta orang (5,9 persen), dan pengurangan kemiskinan. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan bahwa sumbangan ekonomi kreatif sekitar 4,75% pada PDB 2006 (sekitar Rp 170 triliun rupiah) dan 7% dari total ekspor pada 2006. Pertumbuhan ekonomi kreatif mencapai 7,3% pada 2006, atau lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,6%. Sektor ekonomi itu juga mampu menyerap sekitar 3,7 juta tenaga kerja setara 4,7% total penyerapan tenaga kerja baru, dimana salah satu kontributor yang cukup besar adalah dari sektor kerajinan dengan kontribusi sebesar 18,38%. (Simatupang, Togar M.)

Sektor kerajinan, menurut klasifikasi Departemen Perdagangan Republik Indonesia merupakan satu sektor yang masuk sebagai salah satu bentuk Industri Kreatif diantara 14 sektor industri lainya. Sementara, di dalam kenyataannya dari sekian banyak industri kerajinan khususnya kerajinan furniture yang ada di Indonesia ini belum banyak industri yang mengandalkan ‘kreativitas’ sebagai ujung tombak perusahaannya.

Begitu juga dengan desain produk furnitur pada Industri Kerajinan di Pajangan Bantul sebenarnya sangat beragam, namun mereka tidak berusaha memunculkan karya sendiri dan hanya tergantung dengan pesanan yang datang.

Strategi Penguatan Kreativitas dalam Peningkatan Inovasi Desain Furniture bagi Industri Kerajinan ... 155

Mencipta seni atau desain baru menjadi langkah awal munculnya suatu karya seni dalam hal ini karya seni furniture. Takkan ada seni apabila tidak ada proses penciptaan seni yang diiringi dengan adanya kreativitas. Mencipta karya baru mungkin berat bagi seorang pemula dan bahkan bagi seorang seniman yang sedang berada dalam kondisi/keadaan yang tidak mendukung. Untuk itu perlu adanya pengetahuan tentang hal-hal yang dapat mendukung dan menghambat proses penciptaan karya seni dan peningkatan kreativitas. Hal tersebut merupakan faktor-faktor yang terkait langsung dalam proses penciptaan karya sehingga seorang kreator dapat menyiasati berbagai hambatan dan kendala yang ditemuinya dalam membuat suatu karya.

Dari latar belakang tersebutlah, begitu penting penguatan kreativitas dalam peningkatan inovasi desain furniture bagi industri kerajinan kreatif di Pajangan Bantul.

KREATIVITAS

Kreativitas dapat didefinisikan secara berbeda-beda. Sedemikian beragam definisi tersebut, sehingga pengertian kreativitas tergantung pada bagaimana orang mendefinisikan. Tidak ada satu definisi pun yang dianggap dapat mewakili pemahaman yang beragam tentang kreativitas. Hal ini disebabkan oleh dua alasan. Pertama, sebagai suatu “konstruk hipotesis”, kreativitas merupakan ranah psikologis yang kompleks dan multidimensional, yang mengundang berbagai tafsiran yang beragam. Kedua, definisi-definisi kreativitas memberikan tekanan yang berbeda, tergantung dasar teori yang menjadi acuan pembuat definisi (Dedi Supriadi, 1994: 2). Menurut Utami Munandar (1992: 51) kreativitas merupakan proses munculnya hasil-hasil baru ke dalam tindakan. Hasil-hasil baru itu muncul dari sifat-sifat individu yang unik yang berinteraksi dengan individu lain, pengalaman maupun keadaan hidupnya.

Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk komposisi, produk atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru dan sebelumnya tidak dikenal pembuatnya.

Banyak definisi tentang kreativitas merupakan salah satu masalah kritis dalam meneliti, meng-identifikasi dan mengembangkan kreativitas. Dalam dunia pendidikan kreativitas perlu dikembang-kan. Sehubungan dengan perkembangan kreativitas, terdapat empat aspek konsep kreativitas. Rhodes, (1987) diistilahkan sebagai “Four P’s of creativity: Person, Proses, Press, Product”.

Kemampuan kreatif merupakan kemampuan yang dimiliki setiap manusia, hanya saja kadarnya berbeda-beda setiap manusia, sehingga kreativitas manusia memerlukan keunikan dalam memunculkannya. Jawwad (2004) dikutip dari Kemendikbud (2011:28), kreativitas adalah kemampuan berfikir untuk meraih hasil-hasil yang variatif dan baru, serta memungkinkan untuk diaplikasikan baik dalam bidang keilmuan, keolahragaan, kesusastraan, maupun bidang kehidupan lain yang melimpah. Sedang menurut Chandra dikutip dari Kemendikbud (2011:28), kreativitas adalah kemampuan mental dan berbagai jenis keterampilan khas manusia yang dapat melahirkan pengungkapan unik, berbeda, orisinil, sama sekali baru, indah, efisien, tepat sasaran dan tepat guna.

Beberapa uraian di atas dapat dikemukakan bahwa kreativitas pada intinya merupakan ke-mampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan, maupun karya nyata, baik dalam bentuk karya baru maupun kombinasi dari hal-hal yang sudah ada, yang semua-nya itu relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumsemua-nya.

156 Pemanfaatan IPTEKS dalam Membangun Desa Mandiri dan Religius AGIL CRAFT DAN WIRAMULYA PAJANGAN BANTUL

Sebagian besar proses produksi yang dilakukan oleh Agil Craft dan Wira Mulya adalah finish-ing barang kerajinan dan perabot kayu setengah jadi menjadi barang jadi. Bahan baku industri ini didominasi oleh produk setengah jadi dari kayu limbah, ranting, dan akar jati yang diproduksi oleh supplier (pengrajin) di Bantul, Bojonegoro, Ngawi, Jepara, dan Blora. Sampai saat ini, bahan baku akar, ranting, dan kayu limbah masih mudah diperoleh, baik di kawasan hutan Perhutani ataupun di hutan-hutan rakyat, terutama di daerah Gunung Kidul dan Pacitan.

Industri yang memanfaatkan bahan baku limbah kayu semacam ini termasuk dalam kategori industry yang “eco friendly”, sehingga sangat dihargai di pasar yang mengedepankan keberlanjutan sumberdaya alam dan lingkungan hidup.

Kayu jati merupakan kayu terbaik untuk digunakan sebagai bahan baku perabotan (furni-ture) dan kerajinan karena kekuatan dan keawetannya. Untuk menjaga mutu produk, Agil Craft dan Wiramulya selalu memastikan bahwa bahan baku yang digunakan oleh pengrajin rumahan “supplier”nya merupakan bahan yang terbaik. Industri ini bahkan melakukan supervisi secara berkala kepada para pengrajin untuk memastikan kualitas bahan baku yang nantinya akan difinishing dan dipasarkan oleh Agil Craft dan Wira Mulya.

Agil menerapkan seleksi yang ketat pada bahan setengah jadi yang dikirimkan oleh para peng-rajin, untuk tetap menjaga kualitas bahan baku yang didapatkan dari pengrajin tersebut. Terlebih dengan adanya dukungan bantuan pembuatan kiln dry (oven kayu) dari tim pengabdi pada tahun pertama, mutu bahan baku berupa kayu saat ini selalu bisa memenuhi syarat dari buyer dengan kandungan air (MC) tertentu.

Gambar 1. Produk Agil Craft

Sedangkan proses produksi perabot dan kerajinan kayu oleh CV Wira Mulya, proses penjaminan mutu produk dilakukan dalam empat tahapan penting, yaitu: pertama, dalam pemilihan bahan baku oleh pengrajin (supplier) dan supervisi produksi di tingkat supplier; kedua, pemilihan dan pemilahan produk setengah jadi dari supplier; ketiga, perlakuan dan pemberian obat anti hama dan rayap; dan yang terakhir inspeksi (quality control) sebelum packing dilakukan. Selain tiga langkah dalam alur produksi tersebut, ada upaya lain yang dilakukan oleh CV Wira Mulya untuk menjamin mutu produk, yaitu dengan melakukan penyimpanan barang siap angkut (pre loading storage) dan supervisi proses pemuatan barang (loading) yang ketat.

Produk Agil Craft cukup beragam, namun semuanya berupa barang perabot dan kerajinan dari kayu dan sebagian bahkan dari batu. Salah satu produk andalan Agil Craft adalah stol dan

Strategi Penguatan Kreativitas dalam Peningkatan Inovasi Desain Furniture bagi Industri Kerajinan ... 157

mirror. Namun demikian, beberapa jenis produk seperti meja akar dan meja berbahan ranting dalam beberapa waktu terakhir mulai banyak diminati oleh buyer. Kesan natural dari produk – produk tersebut sedang menjadi salah satu tren yang masih saja menguat di pasar internasional. Seiring dengan didapatkannya sertifikat legalitas kayu pada akhir tahun 2013, produk berbahan baku kayu cukup mendominasi produksi dan pemasaran Agil Craft.

Gambar 2. Produk CV Wira Mulya

Produk CV Wira Mulya cukup beragam, namun semuanya berupa barang perabot dan kerajinan dari dahan dan ranting kayu jati dan munggur. Salah satu produk andalan CV Wira Mulya adalah stol, meja dan kursi. Namun demikian, beberapa jenis produk seperti mirror berbahan ranting dalam beberapa waktu terakhir mulai banyak diminati oleh buyer.

Berdasarkan apa yang dilihat oleh penulisdidalam berhubungan dengan pelaku industri sendiri, terdapat beberapa hal yang menyebabkan implementasi masih sulit dilaksanakan pada tingkat operasional, khususnya sektor kerajinan. Hal tersebut antara lain disebabkan oleh:

1. Sikap yang diambil oleh Agil Craft dan CV Wiramulya di Pajangan Bantul lebih kepada bentuk ’industri berdasarkan pesanan’, dengan kata lain, hampir sebagian besar indsutri kerajinan furnitur lebih melaksanakan produksi berdasarkan pesanan, bukan pada usaha untuk menghasilkan kreasi sendiri. Dan dengan demikian, industri kerajinan mebel/furnitur akan mengalami stagnasi kreasi. Hal ini selanjutnya akan menempatkan industri kerajinan mebel/ furnitur pada peran yang tidak besar pada perkembangan perekonomian masyarakat sekitar selaku pekerja utamanya. Karena CV Wira Mulya dan Agil Craft menghadapi masalah ketiadaan sumber daya yang mumpuni dalam mendesain produk. Permasalahan ini khususnya menjadi-kan Agil dan Wira Mulya tidak dapat mengembangmenjadi-kan diri dan tergantung pada buyer dalam pemasaran produknya, karena memang semua produk yang dipasarkan saat ini merupakan pesanan dengan desain yang telah ditentukan oleh buyer.

2. Pola usaha yang dilakukan lebih kepada pola berdagang, bukan berkreasi.

3. Ketergantungan yang tinggi pada material konvensional menyebabkan tingkat kompetisi yang tinggi terhadap kerajinan dari tempat produksi lain, yang notabene memiliki kekuatan teknologi produksi yang lebih maju.

METODE/APLIKASI

Kondisi yang memperlihatkan kelemahan dari produksi di Agil Craft dan CV. Wira Mulya tersebut sebetulnya dapat segera diatasi dengan melihat banyaknya potensi yang dimiliki. Sejalan dengan permasalahan tersebut didasarkan pada satu penelitian dalam pengabdian yang djumpai

158 Pemanfaatan IPTEKS dalam Membangun Desa Mandiri dan Religius

oleh penulis, yaitu dengan melihat terdapatnya peluang untuk dapat memanfaatkan beberapa hal, antara lain:

1. Pemanfaatan tenaga kerja produktif yang membutuhkan lapangan kerja baru.

2. Pemanfaatan tenaga kerja untuk diberi pelatihan kreativitas dalam pembuatan desain. Yaitu dengan menawarkan pendekatan ‘Peningkatan Potensi Kreativitas Penciptaan Karya Furniture’ dengan menggunakan material yang biasa mereka gunakan seperti pada pendekatan

’Design by Doing melalui Eksplorasi Material’ yang telah dikembangkan sebelumnya oleh sekolah

desain Bauhaus di Jerman pada tahun 1919.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Andry, M.Sn Staf Pengajar Tetap Jurusan Desain Produk FSRD ITENAS, Bandung selama kurang lebih 6 tahun ke belakang menunjukkan bahwa melalui pendekatan ini, dapat diperoleh karya karya kerajinan inovatif yang memiliki nilai jual yang cukup tinggi.

Metode yang dilakukan dalam meningkatkan kreativitas pagi para pengrajin di industri kerajinan kreatif di PT Agil dan Wira Mulya adalah melalui pendekatan, pembinaan kreativitas dan pendampingan dalam pembuatan produk.

Gambar 3. Proses pelatihan peningkatan potensi kreativitas penciptaan karya furniture

Secara umum, proses pelatihan dan pendampingan yang dilalui adalah sebagai berikut: 1. Memahami Karakteristik Material, yaitu pemberian teknik-teknik pada material untuk

mengenali karakteristik yang dimiliki pada material yang biasa dipergunakan. Termasuk dalam pengenalan ini adalah pengenalan karakter fisik dan kimia, karakteristik estetik, karakteristik dimensional, dan karakteristik struktural.

2. Penggalian Potensi, setiap pemahaman yang menguntungkan dicoba untuk diungkapkan dalam bentuk deskripsi tulisan alternatif.

Strategi Penguatan Kreativitas dalam Peningkatan Inovasi Desain Furniture bagi Industri Kerajinan ... 159

3. Implementasi, yaitu proses dimana semua kemungkinan alternatif yang dianggap meng-untungkan dicoba untuk diterapkan pada produk fungsional.

4. Optimalisasi desain, tahap di mana dilakukan pertimbangan-pertimbangan agar desain memiliki nilai yang optimal, termasuk di dalamnya adalah pertimbangan kompromis dengan aspek-aspek lain hingga kemudahan produksi.

5. Pemantauan pada pendampingan proses pembuatan desain yang diciptakan.

HASIL PEMBINAAN KREATIVITAS DAN PENDAMPINGAN

Beberapa desain hasil pelatihan yang telah dilakukan dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

160 Pemanfaatan IPTEKS dalam Membangun Desa Mandiri dan Religius KESIMPULAN

Dari pengabdian pendampingan yang dilakukan dan upaya penerapannya bagi para pelaku usaha kerajinan, diperoleh beberapa kesimpulan sementara:

1. Proses berkreasi merupakan proses kerja intelektual yang berkolaborasi dengan mental, psikis dan latar budaya yang saling mempengaruhi, maka dalam perwujudannya diperlukan pendekatan kreatif dan kepekaan agar dapat menghadirkan karya-karya yang bersumber pada nilai-nilai tradisi, budaya, bangsa, yang penuh perbedaan sehingga akan mampu melahirkan karya berkualitas dan inovatif.

2. Bahwa berkreasi bukanlah sesuatu hal yang sulit untuk dilakukan, namun kadang persoalan itu tumbuh saat ingin memulai. Pola pikir pengrajin harus diupayakan untuk dirubah, agar hasil kreasi dapat bernilai lebih.

3. Kreativitas merupakan salah satu potensi yang utama bagi perkembangan ekonomi kreatif, maka diperlukan langkah bersama yang sinergis bagi semua pengrajin dan pelaku di industri kerajinan untuk membangun hal ini khususnya pemimpin industri yang lebih menekankan pada aspek rasional, yang kadangkala justru menurunkan kreativitas.

4. Perlu usaha dan upaya yang lebih nyata lagi untuk membangun kemampuan bekerjasama dan berkompetisi

UCAPAN TERIMA KASIH

1. Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi 2. Universitas Sarjjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta 3. Universitas Janabadra Yogyakarta

4. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

DAFTAR PUSTAKA

Supriadi, Dedy. (1994). Kreativitas Kebudayaan dan Perkembangan Iptek, Bandung: Alfabeta. Simatupang, Togar M. Industri Kreatif Jawa Barat. Masukan Kepada Dinas Perindustrian dan

Perdagangan Provinsi Jawa Barat 2007.

Munandar, Utami. (1992). Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta: PT Gramedia.

School of Integrity (SOI), Dari Sekolah untuk Generasi Antikorupsi:.... 161

School of Integrity (SOI), Dari Sekolah untuk Generasi Antikorupsi: