berist irahat .
Di ant ara mereka ada empat at au lima orang yang t et ap t inggal dan mohon pet unj uk dari Luang Pu t ent ang bagaimanakah met ode paling simpel guna t erbebas dari st ress dan depresi, dimana hal ini t elah menj adi masalah lama bagi mereka. Mereka menginginkan met ode yang “ paling cepat ” .
Luang Pu menj awab,
“ Jangan mengirim bat inmu ke-luar. ” 24. Kebenaran Duniawi
Seorang ibu ket urunan China, sehabis menghormat kepada Luang Pu, bert anya, “ Saya harus pindah ke Dist rik Prakhonchai, Propinsi Buriram, mendirikan t oko di dekat t empat t inggal sanak-keluarga saya. Mereka semua masing-masing saling menyarankan agar saya berj ualan ini, it u, beda ragam barang yang menurut mereka bakal laris. Saya j adi bingung t ent ang j ualan apa yang bakal laku, maka saya menghadap Luang Pu mohon saran sebaiknya saya berj ualan apa?”
Luang Pu mengat akan,
“ Jualan apapun oke, selama ada yang beli. ” 25. Buanglah
Seorang ibu prof esor, set elah mendengarkan Luang Pu mengaj ar prakt ik Dhamma, bert anya t ent ang bagaimana cara yang sesuai dengan Dhamma dalam “ mengenakan-dukacit a” (ist ilah Thai unt uk menghormat i masa berdukacit a).
Ibu t ersebut berkat a, “ Jaman sekarang orang-orang t ak lagi mengenakan-dukacit a dengan cara yang benar yang sesuai adat kelaziman, meski sebenarnya Raj a Rama VI t elah menent ukan st andar baku semasa pemerint ahannya. Ket ika keluarga dekat , at au sesepuh keluarga j auh kit a meninggal, mest inya kit a harus berdukacit a selama 7 hari, 50 hari, at au 100 hari. Namun akhir-akhir ini orang t ak lagi mengikut i adat t ersebut . Maka saya ingin bert anya: Bagaimanakah cara yang t epat unt uk berdukacit a?” Luang Pu menj awab,
“ Dukacit a it u adalah sesuat u unt uk dipahami. Ket ika kamu t elah paham sepenuhnya, kamu lepaskan. Jadi, mengapa kamu malah ingin mengenakannya t erus?”
Ajaran
Tertinggi
Dua Monlam yang diadakan pada t ahun 2009 ini mengait kan Candi Borobudur dengan Guru At isha Dipamkara, pendiri aliran Kadampa di Tibet . Mengapa? Karena dikisahkan Guru At isha dulu pernah belaj ar di Sumat ra di bawah bimbingan Guru Suvarnadvipa (Serlingpa) Dharmakirt i. Di kit ab Tangyur (Tripit aka Tibet an) diesbut kan bahwa Guru Dharmakirt i hidup pada masa Raj a Sri Cudamaniwarman di Vij ayanagara, Suvarnadvipa (Sumat ra). Menurut beberapa sej arawan, Beliau j uga pernah dat ang ke t anah Jawa, ke Candi Borobudur. Guru Dikisahkan Guru At isha mengelilingi Candi Borobudur sembari bernamaskara sampai di puncak candi. Konon j uga dit emukan t empat pert apaan (medit asi) Guru At isha di daerah Magelang. Bahkan di lukisan t hangka Guru Suvarnadvipa Dharmakirt i t ergambar t ampak samping Candi Borobudur.
Tradisi Kadampa sendiri t elah mengalir dalam silsilah Kagyu. Gampopa, seorang Bhiksu dokt er yang merupakan salah sat u Guru silsilah awal dari t radisi Kagyu, pernah belaj ar di aliran Kadampa yang dibent uk oleh Guru At isha. Gampopa dit ahbiskan sebagai bhiksu dengan nama Sonam Rinchen oleh Guru dari t radisi Kadampa bernama Shawalingpa. Selain it u, Marpa yang j uga salah sat u Guru silsilah awal dari t radisi Kagyu pernah bert emu langsung dengan Guru At isha dan pernah belaj ar di bawah bimbingan-Nya j uga. Dengan demikian silsilah dari Indonesia t elah kembali ke Indonesia, t elah kembali ke Bhumisambhara (Borobudur) bersamaan dengan diadakannya dua Kagyu Monlam pada bulan Maret 2009.
Suat u ket ika At isha dit anya oleh muridnya [ Ku, Ngog dan Brom] , “ Apakah aj aran yang t ert inggi it u?”
At isha menj awab,
“ Kepandaian t ert inggi adalah membuang keakuan.
Kemuliaan t ert inggi adalah menguasai pikiran sendiri.
Kebaj ikan t ert inggi adalah memiliki keinginan unt uk menolong makhluk lain.
Sila t ert inggi adalah menj aga kewaspadaan t erus-menerus.
Obat t ert inggi adalah menyadari ket idaknyat aan segala sesuat u.
Kebebasan t ert inggi adalah t ak t erpengaruh oleh hal-hal duniawi.
Pencapaian t ert inggi adalah mengurangi dan mengubah set iap keinginan.
Pemberian t ert inggi t erdapat dalam t anpa kemelekat an.
Lat ihan bat in t ert inggi adalah pikiran yang t enang.
Kesabaran t ert inggi adalah kerendahan hat i. Usaha t ert inggi adalah melepaskan ket erikat an pada set iap kegiat an.
Medit asi t ert inggi adalah pikiran t anpa keinginan.
Kebij aksanaan t ert inggi adalah t idak melekat pada apa pun yang muncul. ”
Syukur dan Terimakasih
Saya set ulus-t ulusnya bersyukur dan bert erimakasih kepada begit u banyak pihak yang t elah menyokong baik moril maupun mat eriil, sehingga Ret ret Ch’ an 7 di Jogj a bisa berlangsung lancar, t ermasuk anggot a keluarga kit a masing-masing di rumah yang t elah menyokong keikut sert aan kit a pada ret ret t ersebut .
Sungguh membahagiakan ket ika ada banyak sahabat bergot ong-royong melakukan kebaj ikan bersama-sama. . .
Kwalitas Retret Ch’ an 7 di Jogj a
Saya melapor ke GJFS bahwa para pesert a ret ret kali ini kebanyakan adalah sobat -sobat sit t ing grup, t api bukan berart i mereka prakt isi-prakt isi kawakan lho. GJFS menj awab, “ Oke, kwalit as sit t ing mereka t ak begit u pent ing. Yang pent ing adalah f akt a bahwa nyat anya mereka mau rut in ikut di sit t ing grup, berart i mereka punya right -view, ini paling pent ing. ”
Dan surprise, surprise, t ernyat a dengan kelihaian panduan GJFS, mayorit as pesert a j adi bisa duduk t enang selama berj am-j am. Saya kenal semua pesert a, t ahu kemampuan sit t ing mereka masing- masing, dan t ernyat a semuanya j adi bisa sit dengan lebih baik ket imbang kemampuan sit harian mereka. Bahkan aj aib, beberapa orang yang j elas-j elas t ak pernah berlat ih samasekali pun bisa perf orm dengan sangat baik bagai prakt isi kawakan.
Fenomena “ Open-Up”
Set elah ret ret selesai, luarbiasa sekali ant usias sambut an sobat -sobat di sessi sharing. Saya menyat akan ke GJFS, “ Shif u, dalam ret ret kemarin
perf orma Anda sungguh hebat dan menyent uh sekali . . . ” . . . Beliau menj awab, “ Terimakasih. Tapi it u j uga karena bat in kalian open-up. ”
Open-up adalah f enomena ket ika prakt isi yang berlat ih int ensif [ dalam ret ret ] dengan t ert ib, baik, dan t ekun--maka mekanisme-pert ahanan-dirinya (self def ense mechanism) mengendor, egonya melembut , dan hat i & benaknya membuka (open-up)--dengan demikian approach sang guru bisa masuk, mengena, dan sangat ef ekt if .
Saya beranggapan bahwa ini adalah ret ret kami yang PALING SUKSES. Barangkali lebih t epat nya dari wakt u ke wakt u ret ret kit a memang j adi semakin baik dan semakin baik. Dari sisi PESERTA & PENYELENGGARA: peningkat an kwalit as ret ret yang signifi kan ini ant ara lain disebabkan oleh: di Jogj a dilakukan persiapan & pengondisian sebelum ret ret selama 3 bulan, baik menyangkut mat eri ret ret maupun sampai hal-hal kecil t eknis yang sepele. Kami melakukan diskusi, rapat , lat ihan bersama, survey, melaporkan perkembangan, berembug t ent ang acara, j adwal, akomodasi, pengenalan t at at ert ib, dst , dst .
Dari hal-hal t ersebut saya berkesimpulan bahwa seyogianya ret ret -ret ret Ch’ an bukanlah event -event t erpisah at au event -event dadakan yang ibarat bikin part y lalu bubar, part y lagi lalu bubar begit u saj a. Seyogianya ret ret adalah sebuah kulminasi dari suat u rangkaian lat ihan-lat ihan panj ang keseharian kit a. Fenomena open-up t idaklah t erj adi begit u saj a, menurut hemat saya selain memang karena kelihaian sang Ch’ an Mast er, t api it u disebabkan oleh 3 poin yang saya sebut kan di at as.
Individual Things
GJFS kurang berminat j ika t eachings beliau [ dalam ret ret ] direkam dan disebarluaskan. Set elah direnung-renung saya j uga sungguh sepakat dengan hal ini. Teachings di dalam ret ret adalah t erj adi pada suat u sikon yang sangat part ikular yang t idak bisa digeneralisir. Jika seseorang mendengarkan t eachings t ersebut di luar suasana ret ret , ia t akkan memperoleh banyak manf aat . Salah-salah ia malah bisa sesat dengan meremehkan dan merasa sudah t ahu t anpa lewat ngelakoninya sendiri at aupun menj adikannya bahan analisis ini dan it u.