kunj ungi, t ermasuk Indonesia. Jasa-j asanya t erhadap penyebaran agama Islam di Nusant ara t idaklah dapat dipungkiri. Beliau merupakan seorang Haj i, j uru mudinya yait u Wang Jinghong besert a para pembant unya, semuanya adalah Muslim.
Dalam buku “ Cina Muslim di Indonesia” dikat akan bahwa banyak orang Tionghoa di Indonesia yang beralih ke Islam dipandang sebagai sebuah usaha unt uk “ mengikut i j ej ak langkah Cheng Ho at au Sam Po” . Maka dari it u t idaklah heran apabila sekarang masj id berasit ekt ur Tiongkok bermunculan di Indonesia, sepert i Masj id Muhammad Cheng Ho di Surabaya.
Namun di lain sisi, sudah lama pula berdiri klent eng-klent eng unt uk menghormat i Zheng He, sepert i Klent eng Sam Po Kong di Semarang dan Klent eng Mbah Rat u di Surabaya. Ini menunj ukkan bahwa meskipun Zheng He seorang Muslim, ia j uga dihormat i oleh para penganut agama Tao, Buddha dan Khonghucu. Selama pelayarannya, banyak awak kapal Zheng He yang beragama Buddha dan Tao. Bahkan ia pernah memboyong sert a bhiksu Buddhis bernama Fei Huan.
Namun pernahkah
kit a menyangka bahwa Zheng He, selain sebagai seorang Muslim, j uga adalah seorang Buddhis? Jadi t idak hanya menghormat i, t ernyat a beliau sendiri j uga adalah seorang Buddhis. Zheng He menerima Trisarana dan Sila Bodhisat t va pada t ahun 1403 dari Maha Bhiksu Dao Yan (Yao Guangxiao, 1335-1418) yang memberinya nama Buddhis “ Fushan” . Gelar Zheng He yait u “ Sanbao Daren” j uga sarat dengan nuansa agama Buddha. “ Sanbao” (
三寶
) berart i Tiga Permat a (Trirat na) - Buddha, Dharma, Sangha. Walaupun gelar Zheng He menggunakan sebut an Sanbao (三保
), namun di cat at an sej arah Dinast i Ming j uga t ercat at penggunaan sebut an Sanbao (三
寶
) unt uk “ Sanbao Daren” - Yang Mulia Sanbao.Berdasarkan cat at an yang dit ulis oleh Guru Negara Maha Bhiksu Dao Yan dalam Kat a Pengant ar dari Sut ra Marichideva Dharani yang dicet ak ulang pada t ahun 1403:
“ Zheng He adal ah seor ang Buddhi s Mahayana, nama Buddhi snya adal ah Fushan. Ia mendanai pencet akan Sut r a… Kebaj i kannya t er l al u besar unt uk di ungkapkan dengan kat a-kat a. Suat u har i i a dat ang memi nt a saya unt uk menul i s kat a pengant ar bagi Sut r a i ni . Demi ki anl ah saya kemudi an menul i s pengant ar i ni . ”
Dalam Kat a Pengant ar “ Sila- Sila bagi Upasaka” yang dicet ak pada periode awal Dinast i Ming t ert ulis:
“ Zheng He adal ah si da-si da di i st ana Mi ng. Ia meyaki ni agama Buddha. Nama Buddhi snya adal ah Fushan [ Sonam Dr ashi ] yang ber ar t i ‘ kebahagi aan dan kebaj i kan’ …. Ia ber dana dal am pencet akan Sut r a Tr i pi t aka sehi ngga sut r a t er sebut dapat di l af al kan secar a l uas…. Ia ber har ap bahwa semua or ang di l i ngkungan Buddhi s dapat maj u ber kembang (bat i nnya). Zheng He membi ayai pencet akan 10 set Sut r a Tr i pi t aka. ”
10 set Sut ra yang dicet ak Zheng He it u sekarang t elah lenyap. Dan
pat ut diket ahui, yang dicet ak oleh Zheng He bukanlah Tripit aka Tiongkok, melainkan Tripit aka Tibet an. Kaisar Zhudi j uga mempercayakan pengawasan pembangunan Vihara Bao-en pada Zheng He. Ini menunj ukkan bahwa Zheng He memang benar-benar seorang Buddhis dan aj aran Buddha pun dapat diyakini oleh umat Muslim.
Pada t anggal 15 Februari 1409, Zheng He membawa sebuah prasast i dari Nanj ing ke Srilanka. Dalam prasast i yang kemudian dit empat kan di Srilanka pada t ahun 1411 it u t ert ulis:
“ Yang Mul i a Kai sar Di nast i Mi ng yang agung t el ah mengi r i m si da-si da Zheng He, Wang Ji nghong dan yang l ai nnya unt uk membacakan pesannya di hadapan Sang Buddha, Sang Bhagava. ”
LINTAS AGAMA
Prasast i t ersebut j uga menulis puj i-puj ian yang dit uj ukan pada Sang Bhagava oleh Laksamana Zheng He dan rasa t erima kasih beliau at as perlindungan t erhadap pelayaran armada Zheng He. Kemudian dit eruskan dengan cat at an berbagai macam persembahan barang-barang berharga yang bert uj uan unt uk menghormat i Sang Buddha.
Kemesraan Zheng He dengan Buddhisme t ampaknya t erbent uk karena pengaruh lingkungan ist ana, yang mana Kaisar Yong Le adalah siswa Buddha, pun karena adanya Maha Bhiksu Dao Yan yang berdiam di ist ana sebagai Guru Negara.
Di Thailand sendiri ada 2 kuil yang diperunt ukkan bagi Zheng He. Yang pert ama adalah Kuil Sanbao di Bangkok, berseberangan dengan Candi Sanbao. Dit ulis oleh Zhang Xia pada t ahun 1618 bahwa di Bangkok t erdapat “ suat u masj id yang didirikan oleh Zheng He dalam masa Yongle, di dalam kuilnya ada pat ung Buddha set inggi rumah. ” Yang dimaksud masj id di sini sebenarnya adalah vihara. Yang kedua ada di Ayut t haya, yait u Wat (Vihara) Phanan Choeng. Konon Zheng He yang kala it u dat ang ke Ayut t haya pada t ahun 1407, t urut membant u memperbaiki rupang Buddha “ Phra Phanan Choeng” yang rusak.
Demikianlah Zheng He t idak hanya membant u penyebaran agama Islam, namun j uga akt if dalam kegiat an pembabaran agama Buddha di berbagai negara, menunj ukkan bahwa beliau sangat menghormat i dan t oleran t erhadap agama lain. Bahkan salah sat u kelent eng Sam Poo Kong di Surabaya, yait u kelent ang Mbah Rat u, apabila dilihat seakan secara t idak langsung mere
fl
eksikan hubungan ant ara Zheng He dengan agama Buddha, di mana alt ar Sang Buddha dit empat kan bersebelahan dengan alt ar Sanbao Daren (Zheng He).Fakt a bahwa ia adalah seorang Muslim namun j uga seorang Buddhis, membukt ikan bahwa unt uk mempelaj ari agama Buddha, seseorang t idak harus bergant i agama. (gdlf )
Sumber-sumber:
Yuanzhi, Kong. Sam Po Kong (Zheng He) dan Indonesia
ht t p: / / eng. t i bet . cn/ cul t ur e/ t i bet ol ogy/ 200811/ t 20081127_440393. ht m
h t t p : / / e n gl i sh . p l ad ai l y. c om . c n / si t e 2/ sp e c i al - report s/ 2005-07/ 13/ cont ent _249001. ht m
LINTAS AGAMA
Rupang Buddha di Wat Phanan Choeng
Klent eng HONG SAN KO TEE berada di Jl. Cokroaminot o daerah pusat kot a Surabaya. Tempat ibadah TITD ini akrab disebut sebagai Klent eng Cokro. Salah sat u keist imewaan Klent eng Cokro ini adalah merupakan sat u-sat unya klent eng yang memperingat i pergant ian t ahun baru Islam (1 Muharam at au 1 Suro), pun j uga sat u-sat unya kelent eng di Surabaya yang memiliki bangunan bergaya candi dengan rupang Dewi Sri yang khas Jawa.
Senin 29 Desember 2008, bert epat an dengan hari 1 Muharam 1430 Hij riyah, pukul 12. 00 dimulailah rit ual 1 Suro di Klent eng Cokro yang diikut i puluhan masyarakat Tionghoa dari kot a Surabaya dan sekit arnya. Uniknya, perlengkapan rit ual berupa puluhan nasi t umpeng persembahan dari masyarakat Tionghoa, at as nama pribadi at aupun perusahaan. “ Unt uk t ahun ini panit ia menerima 89 t umpeng dari masyarakat Tionghoa Surabaya dan luar kot a, ” ungkap Juliani Puj iast ut ik selaku pengurus klent eng. Menurut ket erangan Juliani, munculnya t radisi 1 Suro di Klent eng Cokro berhubungan dengan penghormat an t erhadap Dewi Sri, sang dewi padi, yang pat ungnya dit empat kan di kompleks klent eng. Rit ual diadakan sebagai sarana unt uk bersyukur dan int ropeksi diri selama sat u t ahun ke belakang, sekaligus mengharap keberunt ungan di t ahun mendat ang.
Upacara 1 Suro ini dipimpin seorang modin, Slamet Riadi (60), warga Klampis Surabaya yang sudah dua
kali memimpin rit ual t ahunan ini di Klent eng Cokro. “ Diawali pembacaan al Fat ihah dan ayat kursi, lalu kami bersama-sama berdoa unt uk keselamat an dan rezeki di t ahun mendat ang, ” j elas Slamet Riadi usai memimpin acara.
Serangkaian doa t erlant un dalam peringat an t ersebut , di ant aranya berupa permohonan agar Pemilu 2009 berj alan sukses, berharap agar permasalahan lumpur Lapindo bisa t erselesaikan sert a semoga senant iasa t ercipt a kedamaian dan ket ent raman di seluruh wilayah Negara Kesat uan Republik Indonesia dan t empat lainnya.
Set elah pembacaan doa, seluruh t umpeng diberkat i dengan cara mengelilingkan asap kemenyan yang dibawa oleh sang modin. Set elah it u t umpeng bisa diambil kembali oleh pemiliknya at au diserahkan kepada klent eng unt uk dibagikan kepada umat dan masyarakat umum yang hadir mengikut i upacara. Dua t umpeng milik keluarga Mart ohadi Wongsodirj o diambil kembali unt uk diserahkan dan dimakan bersama dengan anak-anak Pant i Asuhan Aisyaht ong Mariam di kawasan Perak Barat Surabaya. “ Selain sebagai media religi, t umpeng adalah sarana paling ef ekt if unt uk memupuk kebersamaan ant ar manusia lint as agama dan et nis, ” demikian penj elasan Mart ohadi. (zuhri)