BAB II. LANDASAN TEORI
D. Dinamika Antara Kelekatan Terhadap Ibu dengan Perilaku Seksual dan
Bowlby menggambarkan kelekatan sebagai sistem kontrol motivasi yang memiliki tujuan untuk mengusahakan keselamatan dan perasaan aman pada masa bayi dan kanak-kanak melalui hubungan anak dengan ibu (Bowlby, 1969). Dalam mengusahakan keselamatan dan perasaan aman, bayi akan menunjukkan perilaku seperti menangis, memanggil, menempel,
mencari, dan perilaku lainnya. Perilaku tersebut muncul pada saat muncul bahaya atau bayi merasa stress. Ibu yang responsif, akan selalu ada untuk melindungi dan menghibur ketika ancaman atau stressor itu datang. Hal tersebut akan menghasilkan kedekatan serta kontak dengan ibu. Anak yang memiliki orang tua, terutama ibu, yang mencintai dan dapat memenuhi kebutuhannya akan mengembangkan model hubungan yang positif dan kelekatan yang didasarkan pada rasa percaya (trust). Kebutuhan anak yang terpenuhi secara intensif, konsisten, dan kelekatan aman dengan ibu akan menjadi dasar bagi anak untuk mengembangkan internal working model yang aman dimana anak merasa bahwa dirinya berharga dan diterima (Bowlby, 1969, 1973, 1980; Sroufe, 1990).
Menurut Bowlby (1973), seorang anak yang tumbuh dengan kelakatan aman dan memiliki internal working model yang aman ketika bayi, memiliki konsep diri, keyakinan, dan kepercayaan dalam dirinya bahwa dia adalah pribadi yang dicintai dan dapat mencintai. Anak dengan pribadi seperti ini cenderung mengembangkan resiliensi diri yang seimbang dan mampu untuk menempatkan dirinya ketika menjalin ikatan emosional dengan orang lain saat beranjak dewasa. Selanjutnya, secara terus-menerus anak akan mengembangkan model yang serupa dalam dirinya. Model ini selanjutnya akan digeneralisasikan anak dari orang tua pada orang lain, misalnya pada guru dan teman sebaya. Anak akan berpendapat bahwa guru dan teman adalah orang yang dapat dipercaya (Eliasa, 2001).
Sebaliknya, jika kebutuhan anak tidak terpenuhi atau mendapat penolakan dari orang tua, maka anak akan mengembangkan rasa curiga (mistrust), terasing, cemas, sedih, depresi, dan bahkan rasa marah (Bowlby 1969/1982, 1973, 1980). Hal ini akan menjadi dasar terbentuknya internal working model yang tidak aman dan hal ini dapat membuat anak merasa takut serta ragu bahwa ia akan diterima dan didukung oleh sekitarnya (Bowlby, 1969, 1973, 1980; Sroufe, 1990). Anak yang tumbuh dengan kecurigaan juga akan menjadi pencemas dan kurang mampu menjalin hubungan sosial (Eliasa, 2001). Anak yang tumbuh dengan penuh kecemasan seperti ini tidak memiliki konsep diri yang baik dan membuat dirinya kurang mampu menempatkan diri ketika mencari ikatan emosional di tahap selanjutnya seperti pada tahap berpacaran. Akibatnya, ketika terlibat dalam sutau hubungan sosial seperti relasi berpacaran, anak tersebut lebih rentan terlibat aktivitas seksual demi mendapatkan ikatan emosional dari pasangannya atau orang lain sebagai kompensasi dari perasaan kurang kasih sayang yang dirasakannya (Rosenthal, dkk, 2001 dalam Dawson, Shih, Moor, dan Shrier, 2008). Selain itu, ketika anak merasa cemas atau depresi mereka juga cenderung untuk melakukan perilaku seksual bahkan cenderung berisiko sebagai media untuk mengurangi perasaan-perasaan tersebut (Dawson, Shih, Moor, dan Shrier, 2008).
Berbeda halnya dengan anak yang memiliki kelekatan aman dengan ibu. Anak akan merasa bahwa dirinya berharga dan dicintai sehingga anak tersebut tidak mudah terlibat dalam perilaku seksual demi mencari cinta dan kasih sayang dari pasangannya. Anak dengan kelekatan aman juga lebih baik
dalam regulasi emosi sehingga anak tersebut tidak terlibat perilaku seksual untuk mengatasi perasaan negatif yang dirasakannya. Selain itu, kelekatan yang aman pada anak memungkinkan anak menjadi lebih terbuka pada ibu, sehingga anak bisa dengan bebas menceritakan hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas (Miller, Levin, Whitaker, & Xu, 1998 dalam Aspy, dkk, 2007). Ketika interaksi ini terjadi, ibu dapat berdiskusi pada anaknya untuk tidak terlibat pada perilaku seksual di usia dini sehingga anak dapat terhindar dari perilaku seksual pada masa remaja (Mathew dan Curtin, 1998 dalam Ajidahun dan Akoko, 2013; Blake, dkk, 2001). Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa anak yang dapat mendiskusikan bersama ibunya untuk tidak terlibat aktivitas seksual, mereka dapat memegang prinsip tersebut meskipun ada pengaruh dari teman sebaya atau pacar untuk ikut terlibat aktif secara seksual (Dittus & Jaccard, 2000; Whitaker & Miller, 2000). Berdasarkan penjabaran teori ini, peneliti menduga bahwa kelekatan anak dengan ibu dapat memprediksi keterlibatan remaja dalam perilaku seksual.
Kelekatan yang terbentuk dengan orang tua memang mendasari relasi seseorang dengan orang lain di masa mendatang. Akan tetapi, anak yang memasuki masa remaja mulai membentuk ikatan baru dengan figur lekat selain orang tua, yaitu dengan teman sebaya dan pacar (Rosenthal dan Kobak, 2010). Kelekatan tersebut dimulai sejak remaja awal dan semakin menguat pada masa remaja akhir karena pada usia ini remaja mulai mempertimbangkan relasinya dengan teman sebaya atau pacar. Maka dari itu, usia pada remaja juga menjadi faktor yang memiliki keterkaitan dengan
kelekatan anak-ibu, dimana semakin bertambahnya usia remaja maka kelekatan dengan ibu semakin berkurang karena remaja mengalihkan figur lekatnya dengan orang lain. Pergeseran kelekatan ini tentu saja akan mempengaruhi internal working model yang telah dibangun selama ini. Peran orang tua sebagai figur lekat yang mulai berkurang membuat pengaruh dari teman sebaya menjadi sangat berarti bagi remaja, apalagi bagi remaja yang sangat bergantung pada perlindungan atau bimbingan dari teman sebaya atau pacar. Padahal, kerentanan remaja untuk terlibat perilaku berisiko meningkat dalam konteks pertemanan (Steinberg, 2007). Salah satu perilaku yang berisiko adalah terlibat dalam perilaku seksual sebelum waktunya.
Skema 1
Kaitan antara variabel Perasaan aman
Merasa berharga Terbuka
Pantas dicintai Self-relience Attachment to mother
(internal working model)
Kemampuan
menempatkan diri dalam ikatan emosional
Regulasi emosi
Perilaku seksual
Remaja 10-18 tahun Ibu sebagai figur lekat
masih kuat
Internal working model tidak berubah
Remaja 19-22 tahun Pergeseran figur lekat
dari ibu menjadi teman atau pacar
Perubahan internal working model