BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
E. Pembahasan
Berdasarkan hasil uji hipotesis yang telah dilakukan, penelitian ini menunjukkan bahwa kelekatan ibu-anak tidak dapat menjadi prediktor terhadap perilaku seksual pada remaja. Peneliti menyimpulkan bahwa hasil
tersebut dikarenakan salah satu dari tiga uji asumsi klasik yang peneliti lakukan gagal atau tidak memenuhi standar uji asumsi klasik dengan model
Ordinary Least Squares (Ghozali, 2006). Menurut Gujarati (dalam Gozali,
2006), ada beberapa asumsi utama yang harus terpenuhi untuk mendasari model regresi klasik menurut model Ordinary Least Squares. Asumsi-asumsi utama tersebut diantaranya adalah model regresi harus linear, residual memiliki distribusi normal, dan data harus bersifat homoskesdatisitas.
Pada gambar 5, pola persebaran data yang ditunjukkan dalam
scatterplot menunjukkan pola lurus dan tidak acak. Hal ini menunjukkan
pelanggaran homoskesdatisitas, dengan kata lain data bersifat heteroskedastisitas atau variasi pada variabel dependen untuk setiap nilai dari variabel independen berbeda. Artinya, ketika ada variasi lain dari perilaku seksual pada remaja, maka kelekatan terhadap ibu memiliki skor prediksi yang berbeda untuk setiap variasi tersebut. Padahal, untuk menjadi prediktor yang baik sebuah variabel harus dapat menjadi penjelas yang baik untuk setiap variasi dari variabel yang akan diprediksi. Ketika hal tersebut dicapai, maka kemampuan model regresi dalam menerangkan variasi variabel dependenpun akan semakin baik sehingga daya prediksinya meningkat (Ghozali, 2006). Seberapa jauh pengaruh variabel penjelas/independen (kelekatan terhadap ibu) dalam menerangkan variasi dari variabel dependen (perilaku seksual) terlihat pada tabel 6, yaitu pada nilai standardized
coefficients (β). Nilai β untuk kelekatan ibu-anak hanya -0.078 dan tidak
model regresi pada penelitian ini tidak mampu menerangkan variasi dari variabel dependen sehingga nilai koefisien determinasi yang didapat pada analisis regresi ini juga sangat rendah. Dengan kata lain, variabel kelekatan ibu-anak tidak mampu memprediksi perilaku seksual pada masa remaja.
Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian Feeney, Peterson, Gallois, & Terry (2000), dan Paulk & Zayack (2013) yang menunjukkan bahwa pola kelekatan dengan orang tua dapat memprediksi perilaku seksual yang berisiko pada remaja. Menarik untuk dibahas mengapa kelekatan terhadap ibu tidak dapat memprediksi perilaku seksual pada masa remaja padahal penelitian lain menunjukkan pola kelekatan dengan orang tua dapat memprediksi perilaku seksual yang berisiko pada remaja. Peneliti kemudian melakukan studi literatur terhadap dua penelitian tersebut untuk mengetahui bagaimana ketidakcocokan hasil dapat terjadi.
Peneliti menemukan bahwa ada sebuah kesamaan dalam penelitian Feeney, Peterson, Gallois, & Terry (2000), dan Paulk & Zayack (2013). Kedua penelitian tersebut sama-sama melakukan prediksi kelekatan terhadap perilaku seksual dengan setiap variabel memiliki lebih dari satu varian. Pada penelitian Feeney, Peterson, Gallois, dan Terry (2000), kelekatan dengan orang tua dipecah menjadi beberapa variasi yaitu ketidaknyamanan terhadap kedekatan, kecemasan dalam realsi, sejarah kelekatan dan komunikasi tentang seks. Sedangkan variabel perilaku seksual dipecah menajdi sexual
self-efficacy, sexual locus of control, dan sikap terhadap penggunaan kondom.
setiap variasi dari kelekatan memiliki hubungan dengan variasi dari perilaku seksual yang signifikan. Kekuatan hubungan tersebut dijadikan dasar untuk menentukan bahwa kelekatan dapat menjadi prediktor untuk perilaku seksual. Senada dengan penelitian Feeney, Paulk & Zayack (2013) juga melakukan hal yang serupa yaitu memecah variabel kelekatan dan perilaku seksual menjadi beberapa variasi. Paulk & Zayack (2013) memecah variabel kelekatan menjadi kelekatan cemas dan kelekatan menghindar. Variabel perilaku seksual berisiko dipecah menjadi usia pertama kali melakukan seks, jumlah pasangan, penggunaan kondom, dan tindakan-tindakan yang meningkatkan risiko dalam seks. Variabel-variabel tersebut kemudian diregresikan secara linear dan hasilnya signifikan.
Berdasarkan hasil studi literatur tersebut, peneliti menarik sebuah kesimpulan lain bahwa jumlah variasi pada variabel bebas maupun variabel dependen yang diikutsertakan dalam analisis regresi, membawa pengaruh yang signifikan terhadap daya prediksi yang dihasilkan. Dengan kata lain, pada penelitian ini, untuk memprediksi perilaku seksual pada remaja tidak cukup hanya dengan menambah jumlah subjek dan melihat kelekatan ibu-anak saja, akan tetapi perlu melihat variasi lain dari kelekatan dengan ibu supaya variabel kelekatan terhadap ibu dapat benar-benar memprediksi perilaku seksual pada masa remaja.
Kemudian, uji hipotesis yang kedua menunjukan bahwa tidak ada korelasi antara kelekatan terhadap ibu dengan perilaku seksual pada remaja yang berusia 10 sampai 18 tahun. Peneliti melihat bahwa kegagalan hipotesis
disebabkan karena data yang diberikan subjek yang berusia 10 sampai 18 tahun terkait variabel perilaku seksual kurang valid. Melalui hasil pengamatan ketika peneliti mengambil data penelitian, peneliti menemukan cukup banyak subjek yang memberikan respon negatif ketika mengisi skala perilaku seksual terutama pada subjek SMP. Ekspresi mereka menunjukkan bahwa mereka enggan untuk memberikan jawaban jujur karena malu dan mereka menganggap hal tersebut tidak pantas. Hal ini mengakibatkan ada subjek yang tidak mau mengisi skala atau subjek yang tidak jujur dan cenderung mengarah pada jawaban yang sesuai dengan norma masyarakat (social desirability). Dalam tabel 2 terlihat bahwa hanya dua data dari subjek SMP yang dapat digunakan. Bahkan, di beberapa sekolah yang menjadi tempat pengambilan data penelitian, menolak untuk mengizinkan peneliti membagikan angket penelitian apabila skala perilaku seksual tidak dihilangkan sehingga variasi subjek berkurang. Kejadian serupa ternyata juga dialami oleh peneliti lain yang melakukan penelitian terkait perilaku seksual (Viasti, 2014). Hal ini membuktikan bahwa seksualitas masih menjadi topik yang tabu untuk diperbincangkan pada masyarakat di Indonesia. Padahal, berdasarkan deskripsi data terhadap variabel perilaku seksual diperoleh mean empirik yang lebih besar dari mean teoritis. Hal ini berarti remaja di bawah 18 tahun memiliki kecenderungan untuk melakukan perilaku seksual.
Uji hipotesis yang ketiga menunjukkan bahwa ada korelasi negatif antara kelekatan terhadap ibu terhadap perilaku seksual pada remaja yang berusia 19 sampai 22 tahun. Hal ini mendukung penelitan dari Kobak, Herres,
Gaskins, Laurencau (2012). Remaja yang mengidentifikasi teman sebaya sebagai figur lekat utama cenderung terlibat dalam perilaku berbahaya dan berisiko. Hal ini dikarenakan remaja kurang mendapat bimbingan dari orang tua (Kobak, Herres, Gaskins, Laurencau, 2012) dan kerentanan remaja untuk terlibat perilaku berisiko meningkat dalam konteks pertemanan (Steinberg, 2007). Lebih jauhnya lagi, remaja yang mengidetifikasi pasangan sebagai figur lekat sering membuat kesalahpahaman dalam menanggapi rasa cinta yang dalam untuk memelihara suatu ikatan. Akibatnya, kepercayaan remaja terhadap bimbingan dari orang tua berkurang, relasi romantis yang dibangun lemah, dan rentan terlibat perilaku seksual (Kobak, Herres, Gaskins, Laurencau, 2012). Selain itu berdasarkan pengamatan peneliti, subjek remaja yang berusia diatas 18 tahun lebih mampu menjawab sesuai dengan keadaan dirinya. Berbeda dengan subjek berusia dibawah 18 tahun yang menunjukkan respon negatif, subjek remaja yang berusia diatas 18 tahun lebih menunjukkan keterbukaan diri ketika mengisi skala perilaku seksual sehingga data yang diberikan lebih valid dan mendukung hasil dari penelitian ini.
Disisi lain, peneliti mendapatkan hasil yang menarik bahwa tingkat kelekatan terhadap ibu justru meningkat pada remaja berusia 19 sampai 22 tahun begitu juga dengan keterlibatannya dalam perilaku seksual. Hal ini bertentangan dengan teori yang peneliti gunakan dalam penelitian ini. Peneliti menduga bahwa orang tua juga perlu melakukan pengawasan terhadap anak remajanya agar kemungkinan terlibat perilaku menyimpang rendah. Selain itu, sikap orang tua yang masih mentabukan perbincangan
terkait seksualiatas justru membuat jarak dengan anak sehingga tidak membetuk ikatan emosional yang baik dengan anak dan akhirnya mendorong remaja untuk terlibat perilaku seksual. Pendidikan seks adalah salah satu cara untuk mengurangi atau mencegah penyalahgunaan seks, khususnya mencegah dampak-dampak negatif yang tidak diharapkan (Sarwono, 2011). Akan tetapi, ada pihak-pihak yang menganggap bahwa dengan pendidikan seks, anak menjadi tahu terlalu dini dan karena dorongan seksual yang besar membuat anak menjadi ingin mencobanya. Pendidikan seks yang dimaksud adalah pendidikan yang menyeluruh sehingga tidak hanya menjelaskan tentang seksualitas tetapi juga pendidikan mengenai moralitas, norma, dan tanggung jawab terkait seksualitas.
Berdasarkan penelitian ini juga dapat dilihat bahwa remaja rentan terlibat perilaku seksual tidak terbatas pada rentang usia atau tingkat pendidikan tertentu. Dapat diartikan bahwa seiring bertambahnya pengetahuan tidak membuat seseorang terhindar dari perilaku seksual dalam masa berpacaran. Media informasi seperti internet menjadi salah satu sumber pengetahuan bagi remaja untuk mencari informasi tentang seks. Akan tetapi, remaja justru mencari informasi melalui situs-situs porno yang seharusnya tidak dikunjungi remaja. Hal ini membuat remaja belajar hal yang keliru terkait seks dan akhirnya terjebak dalam perilaku seksual pada saat berpacaran. Selain itu, pergaulan yang semakin bebas mungkin menjadi salah satu faktor kuat yang mendorong remaja terlibat perilaku seksual. Kebebasan pergaulan antarjenis kelamin saat ini tidak mengenal usia atau tingkat
pendidikan dan sangat mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari terutama di kota-kota besar.