BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam masa remaja, pemikiran dan perasaan tentang seksualitas mulai muncul seiring dengan pengalaman remaja ketika mengalami cinta pertama, memiliki teman yang aktif secara seksual, dan ketika rasa ingin tahunya tentang seksualitas mulai meningkat (Gianotta, Ciairano, Spruijt, & Spruijt-Metz, 2009). Secara biologis, munculnya pemikiran serta perasaan seksual tersebut juga dikarenakan pubertas yang dialami oleh remaja. Pubertas mempengaruhi sistem hormonal di dalam tubuh termasuk hormon seksual sehingga munculah hasrat seksual. Kondisi tersebut yang menyebabkan remaja memiliki rasa ingin tahu untuk melakukan eksplorasi di area seksualnya. Eksplorasi pada area seksual memang wajar terjadi pada tahap perkembangan remaja. Hampir setiap orang yang memasuki masa remaja akan melakukan hal tersebut (Kincaid, Jones, Sterrett, & McKee, 2012). Namun, terlibat dalam aktivitas seksual menjadi sebuah hal yang patut mendapat perhatian lebih sebagai bagian dari eksplorasi terhadap seksualitas yang dilakukan oleh remaja (Graber, Brooks-Gunn, & Galen, 1998; Mitchell & Wellings, 1998a; Tapert, Aarons, Sedlar, & Brown, 2001). Hal ini dikarenakan seksualitas pada remaja melibatkan aspek fisik dan interpersonal.
Menjalin hubungan yang intim dengan lawan jenis meupakan aspek interpersonal terkait seksualitas yang menjadi salah satu tahap dari perkembangan remaja (Hurlock, 1973). Salah satu usaha menjalin relasi intim dengan lawan jenis adalah dengan berpacaran. Munculnya dorongan seksual dan rasa cinta membuat remaja ingin selalu dekat dan mengadakan kontak fisik dengan pacar. Kedekatan fisik maupun kontak fisik yang terjadi antara remaja yang sedang pacaran akan berbeda dengan kedekatan fisik atau kontak fisik antara remaja dengan teman dan keluarga. Kedekatan fisik inilah yang akhirnya akan mengarah pada perilaku seksual dalam pacaran (Rahman dan Hirmaningsih, dalam Mayasari, 2000).
Kecenderungan remaja untuk terlibat perilaku seksual dalam pacaran dikarenakan kematangan emosi dan kognitif belum dapat dicapai sepenuhnya pada masa remaja. Someville, Jones, dan Casey (2010) menyatakan bahwa secara neurobiologis, perkembangan jaringan tubuh yang menunjang perkembangan sosioemosinal (amygdala) pada remaja berkembang sangat pesat, namun tidak diimbangi dengan perkembangan jaringan tubuh yang berperan dalam perkembangan kognitif, pembuatan keputusan, penalaran, dan perencanaan (prefrontal cortex). Bagian ini belum mencapai pertumbuhan secara sempurna sampai seseorang memasuki masa dewasa awal. Di sisi lain, perkembangan yang pesat pada aspek sosioemosional pada remaja menyebabkan remaja lebih sensitif terhadap stimulus yang bersifat emosional seperti munculnya gairah seksual. Padahal, kemampuan untuk menyeimbangkan emosi dan kognisi pada remaja masih belum matang
(Someville dkk, 2010). Hal ini membuat seseorang yang berada pada tahap remaja memiliki kekurangan dalam kontrol diri terhadap rasa ingin tahu yang dimilikinya (Steinberg, 2008). Kombinasi dari meningkatnya sensitivitas remaja terhadap rangsangan emosional serta kurangnya kontrol terhadap diri yang membuat remaja rentan terlibat dalam aktivitas seksual (Someville, Jones, & Casey, 2010) terutama saat berpacaran.
Hasil dari penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa remaja memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk terlibat dalam aktivitas seksual dibandingkan dengan orang dewasa. Lebih parahnya lagi, remaja cenderung melakukan perilaku berisiko dalam aktivitas seksualnya. Berdasarkan penelitian sebelumnya diketahui bahwa semakin dewasa seseorang, maka keterlibatannya dalam perilaku-perilaku berisiko semakin berkurang. Berkurangnya perilaku-perilaku berisiko tersebut dapat dijabarkan menjadi beberapa hal, seperti berkurangnya konsumsi minuman keras (Fleming dkk., 2000 dalam Searle, 2009) dan berkurangnya kesempatan untuk terlibat cinta satu malam karena orang dewasa lebih berfokus pada bagaimana mempertahankan suatu hubungan (Szielasko, Symons, dan Price, 2013). Orang dewasa juga cenderung untuk terlibat dalam hubungan jangka panjang yang berkomitmen dibandingkan dengan remaja. Hal ini mengakibatkan berkurangnya kecenderungan untuk terlibat dalam perilaku seksual berisiko. Penelitian sebelumnya (Waller, 1937 dalam Searle, 2009) juga menemukan bahwa remaja cenderung mencari hubungan yang bersifat jangka pendek daripada cinta romantis yang bersifat jangka panjang. Tujuan
mereka terlibat dalam suatu hubungan hanya untuk mencari gairah dan eksploitasi pada area seksual.
Peneliti melihat bahwa remaja tidak bisa begitu saja mengekspresikan dorongan seksual dalam dirinya karena norma yang ada. Akan tetapi, libido yang sangat kuat tetap membuat remaja melakukan perilaku seksual walaupun ada norma yang mengatur. Maka dari itu, salah satu caranya adalah dengan melakukan perilaku seksual dengan pacar. Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan pada tahun 2011 oleh DKT Indonesia (salah satu produsen merek kondom). DKT Indonesia melakukan survey terkait perilaku seksual remaja dengan 663 responden berusia 15-25 tahun di lima kota besar yaitu Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali. Hasilnya, bahwa rata-rata responden berhubungan seks pertama pada usia 19 tahun. Pada umumnya, mereka berhubungan seks dengan pacar (88 persen), yang wanita dengan sesama jenis (9 persen), dan yang pria bersama pekerja seks (8 persen) (dalam www.lifestyle.okezone.com, diakses pada 11 Mei 2015).
Perilaku seksual memiliki dampak negatif yang besar bagi kehidupan remaja dan lingkungan di sekitarnya apabila dilakukan tanpa pengetahuan yang cukup. Kehamilan dini, aborsi, penularan penyakit menular seksual (Goodson, Evans, Edmunson, 1997; Kothick, Shaffer, Forehand, 2001), meningkatnya kejahatan, penggunaan alkohol, narkoba (Donovan & Jessor, 1985; Hockaday dkk., 2000; Tapert dkk., 2001, Naimi, Lipscomb, Brewer, & Gilbert, 2003 dalam Gianotta, dkk, 2009) dan meningkatnya angka kelahiran anak-anak tidak diinginkan (Bukatko, 2008) adalah beberapa contoh akibat
dari perilaku seksual. Namun, dampak negatif justru semakin terlihat seiring bertambahnya usia remaja. Melihat dampak perilaku seksual pada remaja tentang penyakit menular seksual contohnya di Yogyakarta sungguh memprihatinkan. Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi DIY mencatat 2588 kasus HIV/AIDS dari tahun 1993 sampai Maret 2014. Berdasarkan data tersebut, 41 kasus dialami oleh remaja berusia 14-15 tahun sedangkan 890 kasus dialami oleh remaja berusia 20-29 tahun (dalam www.aidsyogya.or.id, diakses pada 11 Mei 2015). Hal ini didukung dengan survey sebelumnya yang dilakukan oleh Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan (LSCK) pada tahun 2002 dengan subjek mahasiswa. Hasilnya, sebanyak 97,5% dari total responden berjumlah 1660 orang, mengaku telah kehilangan keperawanannya karena seks pranikah dengan pasangan (dalamwww.sosbud.kompasiana.com, diakses pada 11 Mei 2015).
Dampak yang timbul karena perilaku seksual juga memiliki pengaruh jangka panjang yang buruk pada remaja. Kehamilan pada masa remaja yang disebabkan karena perilaku seksual berkaitan dengan pencapaian akademik yang rendah, depresi, dan self-esteem yang rendah (Corcoran, Franklin, & Bennett, 2000; Hockaday, Sedahlia, Shelley, & Stockdale, 2000). Selain itu, efek jangka panjang yang cukup membahayakan bagi remaja adalah timbulnya perasaan bersalah, depresi, dan marah (Simkins, 1984 dalam Sarwono 2011). Regulasi emosi remaja yang belum matang berpotensi membuat remaja sulit mengatasi perasaan bersalah karena melakukan hubungan seksual.
Penelitian sebelumnya menjelaskan bahwa komunikasi, terutama dengan ibu, adalah faktor protektif yang paling konsisten. Beberapa penelitian sebelumnya melaporkan bahwa ibu adalah sosok yang paling sering disebutkan sebagai orang yang berkomunikasi dengan remaja terkait masalah seksualitas (Miller, Levin, Whitaker, & Xu, 1998 dalam Aspy, 2007). Ketika ibu memberitahu anak remajanya untuk tidak terlibat dengan perilaku seksual, mereka cenderung untuk tidak terlibat dalam perilaku seksual bahkan ketika ada pengaruh dari orang lain untuk aktif secara seksual (Dittus & Jaccard, 2000; Whitaker & Miller, 2000 dalam Aspy, 2007). Remaja yang orang tuanya mengizinkan atau tidak mengkomunikasikan penolakannya terhadap perilaku seksual cenderung lebih aktif secara seksual (Todd, Fisher, Hill, Walker, 2008; Jaccard, Dittus, & Gordon, 1998; Sieving, McNeely, & Blum, 2000 dalam Kincaid, Jones, Sterrett, McKee 2012).
Berdasarkan teori di atas, peneliti berasumsi bahwa seharusnya ketika seorang anak dekat dengan ibunya maka anak akan terhindar dari perilaku seksual pada masa remaja karena memungkinkan terjadinya komunikasi yang intensif. Namun, berdasarkan hasil observasi di lapangan, peneliti menemukan fenomena dimana anak yang tinggal dan dekat dengan ibunya tetap terlibat perilaku seksual. Hal ini berarti ada sesuatu yang lebih mendasar daripada keberadaan figur seorang ibu dan komunikasi yang dibangun terkait seksualitas. Peneliti menduga bahwa ikatan emosional atau kelekatan merupakan dasar yang penting dalam hubungan antara anak dengan orang tuaya. Hubungan tanpa ikatan emosional tidak memberikan rasa aman pada
anak. Apalagi jika dalam berinteraksi anak mendapat tekanan dari orang tua, akan membuat anak merasa tidak dekat dan tidak menjadikan orang tuanya sebagai ”role model”. Anak akan lebih percaya kepada "peer group"nya sehingga mudah terpengaruh dengan pergaulan negatif (Eliasa. 2011).
Penelitian sebelumnya menunjukkan adanya keterkaitan antara hubungan orang tua dengan anak yang positif dengan berkurangnya keterlibatan remaja dalam perilaku seksual. (Wight D dan Abraham C, 2005; Aspy dkk., 2007). Hubungan yang positif terbentuk dari komunikasi dan kelekatan aman yang terjalin antara anak dengan orang tua (Pearson, Muller, dan Frisco, 2006). Kelekatan adalah ikatan emosional yang terbentuk antara orang tua dengan anaknya (Bowlby, 1969). Menurut Bowlby (1969, 1973) dan peneliti lainnya (Ainsworth dkk., 1978; Sroufe, 1988 dalam Peluso dkk, 2004), kelekatan yang aman ditunjukkan dengan perasaan intim yang kuat, perasaan aman dan nyaman ketika berada dekat dengan orang tua. Seorang anak yang mendapatkan kelekatan yang aman akan merasakan kehangatan dan kualitas hubungannya dengan orang tua akan menjadi positif. Mereka akan merasa dirinya aman dan tidak cemas untuk menjalin relasi dengan teman dan pacar sehingga anak-anak seperti ini tidak rentan terhadap perilaku seksual. Selain itu, kelekatan aman memungkinkan terjadinya komunikasi yang intim dengan orang tuanya (Ainsworth dkk., 1978). Seorang anak yang dengan bebas dapat berkomunikasi terutama tentang seksualitas dengan orang tuanya akan cenderung terhindar dari perilaku seksual berisiko di masa remaja karena orang tua dapat menjadi “role model” untuk memberikan
konseling dan pendidikan seks kepada anaknya (Pearson, Muller, & Frisco, 2006 ; Ajidahun & Akoko, 2013; Dittus dan Jaccard, 2000; Lammers, Ireland, Resnick, dan Blum, 2000 dalam Regnerus & Luchies 2006). Akan tetapi, peneliti tidak menemukan studi yang membahas kelekatan terhadap ibu secara spesifik berkaitan dengan perilaku seksual.
Di sisi lain, terjadi kontradiksi antara beberapa penelitian sebelumnya terkait kelekatan dan perilaku seksual berdasarkan studi literatur yang dilakukan oleh Buhi dan Goodson (2007). Beberapa penelitian menyebutkan bahwa tidak ada korelasi antara kedekatan anak kepada orang tua dengan perilaku seksual di masa remaja (Diiorio C, Dudley, Soet, McCarty, 2004; Roche, Mekos, Alexander, dkk., 2005; Cleaveland, 2003; French, 2003). Beberapa penelitian lainnya menunjukkan hasil lain seperti kedekatan dengan ibu dan waktu yang dihabiskan dengan ibu dapat mencegah perilaku seksual hanya kepada anak perempuan saja, tidak dengan laki-laki, komunikasi dengan orang tua memiliki efek yang berbeda pada laki-laki dan perempuan, pengawasan dari orang tua tidak memiliki hubungan (Ramirez-Valles, Zimmerman, Juarez, 2002; Ream, Savin-Williams, 2005; Davis, Friel 2001; Rose, Bhaskar, & dkk., 2005; Biddlecom, Awusabo-Asare, Bankole, 2009). Inkonsistensi hasil dalam penelitian sebelumnya terjadi karena penelitian sebelumnya menggunakan konstruk kedekatan dengan orang tua namun dengan pemahan konsep yang berbeda sehingga pengukuran kedekatan dengan orang tua menggunakan instrumen atau metode penskalaan yang berbeda-beda. Selain itu, reliabilitas dan validitas dari data yang digunakan
belum teruji. Hal ini dikarenakan beberapa penelitian sebelumnya tidak menggunakan sampel dalam jumlah besar yang dapat mewakili seluruh populasi. Selain itu, peneliti sebelumnya hanya menggunakan analisis statistik univariat dibandingkan menggunakan analisis statistik bivariat yang mampu menganalisis beberapa variabel bebas dan variabel terikat sehingga hasil analisis dari data tersebut tidak mencerminkan kompleksitas dari perilaku seksual. Keterbatasan ini membuat hasil penelitian sebelumnya tidak dapat digeneralisir karena hubungan sebab akibat antar variabel tidak dapat dibangun dan kurangnya kontrol terhadap bias (Buhi & Goodson, 2007).
Berdasarkan pemaparan teoritis penulis di atas, penulis menduga bahwa jika kelekatan orang tua (khususnya ibu) dapat diukur dengan alat ukur yang mampu menampung konsep kelekatan yang digunakan pada penelitian sebelumnya, serta jumlah subjek diperluas pada berbagai kelompok remaja, maka kelekatan terhadap ibu memiliki suatu keterkaitan dengan perilaku seksual sekaligus dapat menjadi prediktor keterlibatan remaja dalam perilaku seksual. Selain itu, penulis juga menduga bahwa rentang usia selama masa remaja memiliki keterkaitan dengan kelekatan terhadap ibu dan perilaku seksual. Maka dari itu, penulis merasa perlu melakukan penelitian tentang perilaku seksual pada remaja berpacaran terkait rentang usia dan kelekatan terhadap ibu untuk melihat bagaimana hubungan variabel-variabel tersebut.