• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.3 Deskripsi Hasil Penelitian

4.3.3 Disposisi

Disposisi atau sikap dari pelaksana kebijakan adalah faktor penting ketiga dalam pendekatan mengenai pelaksanaan suatu kebijakan publik. Jika pelaksanaan suatu kebijakan ingin efektif, maka para pelaksana kebijakan tidak hanya harus mengetahui apa yang akan dilakukan tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk melaksanakannya, sehingga dalam praktiknya tidak terjadi bias. Hal-hal penting yang perlu dicermati pada variabel disposisi ini adalah :

a. Pengangkatan birokrat; disposisi atau sikap para pelaksana akan menimbulkan hambatan-hambatan yang nyata terhadap implementasi kebijakan bila personil yang ada tidak melaksanakan kebijakan-kebijakan yang diinginkan oleh pejabat-pejabat tinggi. Karena itu, pemilihan dan pengangkatan personil pelaksana kebijakan haruslah orang-orang yang memiliki dedikasi pada kebijakan yang telah ditetapkan; lebih khusus lagi pada kepentingan warga.

b. Insentif; Edward menyatakan bahwa salah satu teknik yang disarankan untuk mengatasi masalah kecenderungan para pelaksana adalah dengan

memanipulasi insentif. Oleh karena itu, pada umumnya orang bertindak menurut kepentingan mereka sendiri, maka memanipulasi insentif oleh para pembuat kebijakan mempengaruhi tindakan para pelaksana kebijakan. Dengan cara menambah keuntungan atau biaya tertentu mungkin akan menjadi faktor pendukung yang membuat para pelaksana kebijakan melaksanakan perintah dengan baik. Hal ini dilakukan sebagai upaya memenuhi kepentingan pribadi (self interest) atau organisasi.

Dalam pelaksanaan Program Desa Pesisir Tangguh di Desa Tanjung Pasir sikap dari para implementor sudah cukup baik dan efektif karena sudah ada arahan yang jelas dan tepat sehingga tidak bias. Hal tersebut seperti yang dipaparkan oleh Bapak Hairul Latief selaku Kepala Bidang Kelembagaan Perikanan Dinas Kabupaten Tangerang, berikut pemaparannya:

“karena disana sudah ada RPDP jadi semua unsur harus patuh dengan program yang berjalan, tujuan program ini dari pusat dan disetujui oleh Dinas Kelautan dan pendampingnya dari kita, sehingga kita setuju dengan tujuan program. Kalau persamaan sikap jelas ada, kalau tidak ada tidak mungkin berjalan PDPT dari Dinasnya, dari Desa sampai Masyarakat. Jadi sudah ada persamaan sikap.” (wawancara dengan Bapak Hairul Latief, pada 18 april 2017, pukul 11:34 WIB di Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tangerang).

Berdasarkan wawancara tersebut, bahwa sikap dari pelaksana program atau implementor sudah cukup baik dan efektif, karena telah disusun dalam Rencana Pengembangan Desa Pesisir (RPDP) sehingga implementor harus mematuhi segala aturan yang ada dalam pelaksanaan program. Persamaan sikap pun sudah sinkron antara lembaga-lembaga terkait, serta Stake Holder dengan Masyarakat. Karena hal-hal tersebutlah program dapat dilaksanakan dengan baik.

Hal senada pun dituturkan oleh Bapak Syahril Ruhyat selaku Staff Kepala Seksi Pembangunan Desa Tanjung Pasir, berikut penuturannya:

“kesadaran implementor alhamdulillah sudah bagus, dan kami sortir untuk orang-orang yang melaksanakan program. Jadi kami selalu siap. Pasti kami setuju dengan tujuan program karena memang kami menyerap dari bawah. Kalau masalah program yang sudah kami berikan sudah kami beri penjelasan, namun pembinaan yang belum cukup atau kurang rutin tapi semuanya sudah mengrti akan program yang berjalan.” (wawancara dengan Bapak Syahril Ruhyat selaku Staff Kepala Seksi Pembangunnan Desa Tanjung Pasir pada 06 april 2017 pukul 11:30 WIB di Kantor Desa Tanjung Pasir).

Berdasarkan wawancara tersebut, bahwa kesadaran dari pelaksana program atau implementor sudah cukup baik, karena dalam hal penempatan orang pun disortir sehingga program dapat berjalan dengan baik. Kemudian untuk persamaan sikap antara masing-masing implementor pun sudah cukup baik karena sudah ada penjelasan mengenai program kepada Kelompok Masyarakat Pesisir, hanya saja kurang rutin dalam hal pembinaan dari pihak Desa kepada Kelompok Masyarakat Pesisir, tetapi program dapat berjalan dengan baik.

Diposisi pun cukup baik sampai pada tahap eksekusi program, hal tersebut dipaparkan oleh Ketua Kelompok Masyarakat Pesisir Desa Tanjung Pasir, Ketua Kelompok Masyarakat Pesisir bidang usaha krupuk Ibu Elia dan Ketua Kelompok Masyarakat Pesisir bidang MCK/pengadaan air bersih Ibu Sahada, berikut pemaparan dari Ketua Kelompok Masyarakat Pesisir bidang usaha krupuk Ibu Elia:

“iya kesadaran sudah memadai karena memang masyarakat hanya iya saja karena memang sudah percaya. Kami setuju dengan tujuan program karena memang semuanya jelas seperti dana sekian dan maksudnya pun jelas. Palingan untuk gak samanya mah pas rapat saja sih, tapi pas program jalan mah lancar karena sudah dibahas dirapat.” (wawancara dengan Ibu Elia selaku Ketua Kelompok Masyarakat Pesisir Tanjung Pasir (kelompok usaha krupuk) pada 06 april 2017, pukul 12:10 WIB di kediaman Ibu Elia).

Berikut pemaparan dari Ketua Kelompok Masyarakat Pesisir bidang MCK/pengadaan air bersih Ibu Sahada:

“iya sih sudah sadar, bahkan kami bersyukur ada PDPT di Tanjung Pasir sendiri, walaupun masyarakat bertanya-tanya akhirnya saya kasih penjelasan dan diterima juga akhirnya. Iya kita setuju sama tujuan program, malah kita berterima kasih ada PDPT ini. Ya antara pemerintah sama masyarakat sih sudah oke, palingan permasalahannya sih masyarakat pengen gratis soalnya kan kalau mesin rusak harus dibetulkan dan mengalirkannya pakai token pulsa jadi masyarakat bayar Rp. 1000 per hari.” (wawancara dengan Ibu Sahada selaku Ketua Kelompok Masyarakat Pesisir bidang MCK/pengadaan air bersih pada 06 april 2017, pukul 14:25 WIB di kediaman Ibu Sahada).

Berdasarkan wawancara tersebut bahwa sikap dari pelaksana program sudah cukup baik karena memang masyarakat sendiri menganggap program ini baik bagi masyarakat sehingga masyarakat dapat menerima program dengan baik, dengan tujuan program pun para pelaksana setuju dengan adanya Program Desa Pesisir Tangguh di Desa Tanjung Pasir. Permasalahan yang timbul dalam teknis program adalah dimana masyarakat yang enggan membayar Rp. 1000 per hari yang nantinya untuk biaya pengaliran air sampai ke rumah-rumah masyarakat sekitar, sehingga terjadi pemutusan aliran bagi masyarakat yang menunggak pembayaran, bahkan ada beberapa masyarakat yang menunggak pembayaran hingga 3 bulan.

Berdasarkan hasil wawancara serta pengamatan yang dilakukan oleh peneliti dapat disimpulkan bahwa Disposisi atau sikap dari pelaksana Program Desa Pesisir Tangguh di Desa Tanjung Pasir sudah cukup baik dan efektif. Hanya saja dari pihak masyarakat sendiri yang tidak ingin ada biaya tambahan dalam

operasional program seperti halnya MCK/pengadaan air bersih, namun program telah dilaksanakan dengan baik.

Dokumen terkait