DAFTAR PUSTAKA
DIVERSIFIKASI KONSUMSI PANGAN Konsumsi Pangan Pokok
Pangan Pokok Frek/ hari (kali)
Frek/ minggu
(kali)
URT/g Jumlah orang yang makan Rasi
Nasi Lainnya
57
Lampiran 5 Pedoman Wawancara Informan
Pemerintah Desa Cireundeu
1. Bagaimana perkembangan pertanian di desa ini?
2. Apakah ada bantuan dari pemerintah untuk pengembangan pertanian? Bantuan seperti apa?
3. Apakah ada program bantuan pangan dari pemerintah? Bagaimana pengelolaannya?
4. Apakah pihak desa memiliki program kerja yang berhubungan dengan pangan atau gizi? Bagaimana program tersebut berjalan?
5. Apa bahan makanan yang sulit didatangkan ke pasar desa?
6. Apakah harga bahan makanan di pasar desa masih standar dibandingkan dengan wilayah lainnya?
7. Pengurus di lembaga-lembaga desa lebih banyak perempuan atau laki- laki?
8. Apakah pernah terjadi konflik di desa? Jika ada bagaimana konflik tersebut terjadi?
9. Apa masalah terbesar yang dihadapi masyarakat desa? Tokoh Masyarakat dan Masyarakat Umum
1. Adakah makanan yang menjadi pantangan untuk masyarakat? 2. Dimanakah anda biasanya menyimpan cadangan makanan?
3. Apa yang anda lakukan ketika berada dalam kondisi kekurangan pangan? 4. Jenis pangan apa yang paling banyak membutuhkan uang?
5. Apa makanan dan minuman yang rutin dikonsumsi oleh keluarga anda? 6. Darimana sumber air minum yang dikonsumsi keluarga anda?
7. Apa saja hambatan yang anda hadapi dalam memproduksi pangan? 8. Apa kendala yang anda alami dalam pengusahaan hutan rakyat?
9. Apa alasan anda memilih tanaman-tanaman singkong yang ada di kebun anda untuk ditanam?
10. Apakah ada tengkulak di Desa Cireundeu?
11. Apa manfaat yang anda rasakan dengan memiliki sawah?
12. Bagaimana pelayanan kesehatan (Puskesmas) di Desa Cireundeu?
13. Menurut anda apakah laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama?
14. Menurut anda apakah perempuan dan laki-laki memiliki peran yang sama dalam keluarga?
15. Menurut anda apakah perempuan dan laki-laki memiliki peran yang sama dalam masyarakat?
16. Apakah laki-laki pantas mengerjakan pekerjaan rumah tangga? 17. Apa pendapat anda tentang perempuan yang bekerja di luar rumah?
18. Apakah ada aturan di masyarakat yang membedakan laki-laki dan perempuan?
Lampiran 6 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner
Uji Statistik Validitas
Variabel Tingkat Diversifikasi
Konsumsi Pangan Pokok Keterangan
Tingkat Pendidikan -0.0776 Tidak Valid
Tingkat Pengeluaran -0.112 Tidak Valid
Ukuran Rumah Tangga -0.328** Valid
Status Kepemilikan Lahan 0,381** Valid
Luas Lahan 0,454** Valid
Pola Pembagian Kerja 0,162 Tidak Valid
Tingkat Akses 0,351** Valid
Tingkat Kontrol 0,425** Valid
Tingkat Aturan Lokal 0,345** Valid
Besarnya Peran Elit Lokal 0,435** Valid
Uji Statistik Reliabilitas
Cronbach's Alpha N of Items
59
Lampiran 7 Dokumentasi
Lahan kebun singkong milik warga Singkong yang baru dipanen Cireundeu
Warga sedang membersihkan singkong Singkong yang telah dipisahkan yang baru panen daging buah dan kulitnya
Singkong diparut menggunakan Singkong yang sudah diparut mesin pemarut singkong dibersihkan
Singkong yang sudah dibersihkan lalu dijemur hingga kering selama 2-3 hari
Singkong digiling menggunakan alat sealer
Singkong yang sudah digiling Beberapa karung singkong hasil gilingan
61
Lampiran 8 Catatan Lapang
Kampung Cireundeu, 28 Februari 2015
Sumber: Kang YDI (33 tahun) dan Kang OGS (34 tahun)
Rasi (beras singkong) memiliki kadar glukosa yang rendah dibandingkan dengan glukosa pada beras padi, sehingga rasanya lebih hambar dan kurang enak. Kelebihannya adalah mengonsumsi rasi akan lebih cepat kenyang dan tidak cepat basi jika didiamkan sehari atau dua hari. Rasi tersebut jika lama disimpan akan mengeras kembali dan bisa dimasak lagi tanpa merubah tekstur ataupun rasa dari rasi tersebut. Selain itu, 1 kilogram rasi dapat mencukupi lebih dari 5 orang karena porsi sedikit saja sudah bisa mengeyangkan. Hal ini terbukti tidak hanya pada orang-orang yang terbiasa makan rasi, orang-orang yang sekali mencoba rasi pun beranggapan demikian. Jadi, mengonsumsi rasi sebenrnya lebih hemat dan menguntungkan. Namun, hal tersebut tidak merubah pola makan banyak orang karena rasanya yang hambar dan tidak semua orang suka. Kebiasaan mengonsumsi beras padi pun menjadi salah satu alasan sulitnya merubah pola makan.
Kampung Cireundeu, 03 Maret 2015 Sumber: Abah WDY (tidak diketahui)
Perkembangan pertanian di Kampung Cireundeu dimulai dari tahun 1918, di mana persawahan masih cukup luas. Masyarakat Cireundeu ingin merdeka lahir batin dan tidak tergantung pada satu jenis bahan pangan saja. Maka dicarilah tanaman yang cara penanamannya cukup mudah, namun memiliki hasil yang baik. Tanaman tersebut adalah singkong. Di Kampung Cireundeu ini tidak ada pertanian padi, semua lahan digunakan untuk menanam singkong. Adanya pembagian daerah yang dilakukan oleh warga, yaitu 60 hektar digunakan untuk daerah baladah, 4 hektar digunakan untuk pemukiman, dan 56 hektar digunakan untuk pertanian.
Tidak ada makanan yang dijadikan pantangan untuk masyarakat Adat. Pantangan yang ada adalah tidak boleh memakan yang bukan haknya dan tidak boleh memakan hasil kerja orang lain. Alasan masyarakat tidak mengonsumsi padi bukan karena pantangan, tetapi untuk menguji diri sampai sejauh mana kekuatan kita tanpa mengonsumsi padi. Selain itu, banyak bahan pangan lainnya yang bisa dijadikan pangan pokok untuk dikonsumsi. Permasalahan yang terjadi dalam pertanian singkong ini adalah alih fungsi kebun menjadi pemukiman dan adanya kebusukan pada singkong yang ditanam.
Di RT 03 ada sekitar 70 KK, terdiri dari 70 orang masyarakat adat dan 120 orang masyarakat muslim. Masyarakat adat memiliki cara ciri manusia menerapkan aturan. Aturan tersebut, meliputi welas asih, tatakrama, budi bahasa, dan undak usuk. Masyarakat adat memiliki hari bersejarah mereka yang dirayakan setiap satu syura. Perayaan tersebut merupakan rasa syukur para petani yang masih mempunyai singkong untuk pangan pokoknya.
Kampung Cireundeu, 06 Maret 2015 Sumber: Bapak SDJ (36 tahun)
Peremajaan atau pemulihan tanah dilakukan pada kebun singkong. Didiamkan terlebih dahulu selama satu sampai dua musim, apabila tanahnya sudah mulai bagus lagi baru dimulai kembali penanaman singkong. Meremajakan tanah dengan cara tradisional. Biasanya jika suami menjadi petani, maka istri pun akan ikut membantu. Jika perempuan tidak ikut membantu, maka akan kurang tenaga kerja. Laki-laki bertugas menyangkul dan menanam, sedangkan perempuan membantu dalam membersihkan lahan (ngored). Bila perempuan tidak diikursertakan maka laki-laki harus membayar orang untuk membersihkan lahannya. Hal ini mengindikasikan bahwa perempuan mempunyai peran yang penting dalam pertanian. Perempuan dan laki-laki harus bekerja sama apabila menginginkan hasil yang maksimal dalam bertani singkong. Menanam singkong tidak membutuhkan modal, hanya dibutuhkan lahan dan kemauan. Benihnya tidak perlu membeli hanya memotong saja batang singkong yang sudah dipanen. Hal tersebut menjadi salah satu masalah juga karena tanahnya sudah tidak bagus lagi dan batang singkong yang sudah jenuh, mengakibatkan hasil produksi menurun.
Pernah ada bantuan benih dari pemerintah namanya benih dalur hidayah. Benih tersebut hasil dari teknologi, sehingga dibutuhkan perlakuan yang khusus, sedangkan petani di Kampung Cireundeu bertani dengan cara yang tradisional. Benih tersebut bisa menghasilkan 30-70 kg per pohon. Banyak petani yang tertarik untuk mencoba menanam, namun hasilnya ternyata kurang memuaskan. Kampung Cireundeu menetapkan pembatasan pemakaian pupuk kimia. Hanya urea saja yang diperbolehkan digunakan di lahan, selebihnya menggunakan pupuk kandang. Benih singkong yang bagus adalah benih karikil, namun saat ini sedang ada penyakit bintik yang menyerang tanaman singkong. Satu sampai dua batang benih tetap ditanam untuk menjaga varietas agar tidak hilang. Sekarang para petani menggunakan benih garnawis dan sampeu bodas untuk benih singkongnya. Hasilnya tidak jauh beda dengan karikil. Hanya selisih beberapa kilo. Kerikil sekali di bisa dapat kanji 30 kg dan rasi 15 kilo per kuintal. Hasil garnawis mungkin hanya mendapatkan 25-27 kg kanji, tetapi rasinya mencapai 15 kilo per kuintal juga. Selain benih tersebut, benih-benih yang lain kurang bagus, singkongnya terasa kesat dan rasinya menjadi keras.
Masyarakat yang mengonsumsi rasi di RT 03 lebih dari 200 orang, kurang lebih sekitar 70 KK. 70 KK ini terdiri dari rumah tangga rasi yang seluruh anggota rumah tangganya mengonsumsi rasi, rumah tangga campuran yang sebagian anggota rumah tangganya mengonsumsi rasi, sebagian lagi mengonsumsi beras, dan rumah tangga yang seluruh rumah tangganya mengonsumsi beras. Secara keyakinan mereka orang adat juga. Namun sangat disayangkan masih ada warga yang menerima raskin, sekitar 28 karung untuk 28 keluarga di RT 03 dan 32 karung untuk 32 keluarga di RT 02. Masyarakat adat tidak dapat melarang warga yang ingin mengonsumsi beras, namun sebaiknya pemerintah juga berperan dalam mendukung rasi sebagai makanan pokok agar terciptanya diversifikasi pangan. Masyarakat juga harus berani mencoba bahan pangan selain beras untuk menjadi pangan pokok sehari-harinya. Apalagi pemerintah sudah menyatakan akan berhenti impor beras, hal ini menyebabkan persediaan beras semakin terbatas. Lain halnya dengan singkong. Masyarakat Cireundeu mempunyai cara menanam sendiri yaitu menggunakan sistem bergilir.
63
Satu hektar lahan dibagi lima. Petani akan menanam singkong sesuai dengan siklusnya bergantian dari lima bagian lahan tersebut, sehingga tiap bulannya selalu ada singkong yang bisa dipanen. Hal ini membuat persediaan singkong menjadi banyak dan tidak terbatas.
Masyarakat dahulu ada yang beralih menanam tanaman selain singkong untuk diversifikasi, namun hasilnya kurang bagus. Sehingga singkong diakui sebagai tanaman yang kuat dan bisa tumbuh di mana saja. Pemilihan singkong sebagai pangan pokok didasarkan pada pertimbangan cara menanamnya, pengolahannya, dan lain sebagainya, jadi tidak asal pilih tananam singkong. Harus ada solusi dalam tiap prosesnya dan meliat kemungkinan terburuk dari menanam suatu jenis tanaman. Berdasarkan pertimbangan tersebut singkong dinilaipaling memungkinkan untuk dijadikan pangan pokok dibandingkan tanaman lainnya.
Ada beberapa program pemerintah di Kampung Cireundeu, yaitu (1) Dewi Tapak (Desa Wisata Ketahanan Pangan). tahun 2011 melakukan sosialisasi dan melibatkan kampung sebelah Cireundeu agar bisa menjaga lingkungannya. Hanya berlangsung selama beberapa bulan, lalu berhenti. Proyeknya kurang jelas. Kebetulan pendamping dalam proyek tersebut adalah dari UNJANI dan UNPAD. Ada permasalahan dalam pencairan dana yang dianggap kurang serius dilakukan oleh pihak universitas. Pada akhirnya launching Dewi Tapak dibatalkan; (2) Program perluasan lahan 50 hektar untuk kebun singkong. Program tersebut bertentangan dengan masyarakat adat karena ada aturan yang tidak memperbolehkan hutan larangan untuk beralih fungsi menjadi lahan pertanian, sehingga perluasan lahan dinilai tidak mungkin; (3) Program Domba Revolving, yaitu pemerintah memberikan dana 100 juta rupiah. Masyarakat membeli satu ekor dan harus mengembalikan 2 ekor. Program tersebut dinilai cukup berhasil; (4) Program yang diberikan oleh PNPM Pariwisata untuk menjadikan Kampung Cireundeu sebagai desa wisata. Program tersebut dinilai berhasil karena melibatkan masyarakat sebagai perencana program. Masyarakat menentukan apa saja yang diperlukan Kampung Cireundeu untuk menjadi desa wisata dan membuat anggaran biaya. Anggaran tersebut kemudia diserahkan kepada pihak PNPM dan dana pun cair. Kemudia masyarakat yang membeli perlengkapan seperti gamelan, perunggu, angklung, sound, laptop, infokus yang menjadi aset bagi Kampung Cireundeu untuk mengenalkan budaya sunda. Program ini tepat sasaran karena dari masyarakat Kampung Cireundeu dan kembali lagi untuk masyarakat.