BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori
7. Dividen
a. Pengertian Dividen
Dividen merupakan bagian dari keuntungan perusahaan yang dibagikan untuk pemegang saham. Menurut pendapat (Baridwan,
2004:434), dividen merupakan pembagian laba suatu perusahaan untuk para pemegang saham yang besarnya sebanding dengan jumlah dari lembar saham yang dimiliki. Banyaknya lembar saham yang dimiliki maka, semakin banyak pula dividen yang di terima.
Dimana dividen akan diberikan apabila mendapatkan persetujuan dari pemegang saham pada RUPS. Jadi secara umum, pemegang saham akan lebih menyukai dividen yang akan diberikan secara tunai (Darmadji & Fakhruddin, 2012 : 140). Bentuk-bentuk dari dividen yang akan dibagi oleh perusahaan , Menurut Baridwan (2004:434), adalah sebagai berikut :
2) Divden kas
Dividen yang satu ini adalah paling umum digunakan oleh perusahaan merupakan dividen kas (tunai). Dimana para pemegang saham akan menerima dividen sebesar tarif dari per lembar saham yang dikalikan dengan jumlah dari lembar saham yang dimiliki.
3) Dividen Aktiva
Selain Kas Dividen ini berupa aktiva seperti surat-surat berharga atau saham suatu perusahaan, barang-barang dari hasil produksi perusahaan, atau aktiva lainnya.
4) Dividen Utang
Dividen yang satu ini timbul dikarenakan saldo dari laba cukup untuk pembagian dividen, dan saldo kas yang ada tidak cukup.
Jadi perusahaan akan mengeluarkan dividen utang yang berupa janji tertulis untuk membayar utang di waktu yang akan datang.
5) Dividen Likuidasi
Merupakan dividen yang akan dibagikan dengan sebagian dari pembagian laba dan sebagian lagi dari pembagian modal.
b. Kebijakan Dividen
Kebijaksaan dari dividen merupakan keputusan suatu keuangan, yaitu untuk mempertimbangkan apabila pembayaran dividen akan meningkatkan kemakmuran pemegang saham. ( Ahmad, 2004:191).
Dimana besar kecilnya suatu dividen yang akan dibayarkan oleh perusahaan akan mempengaruhi laba ditahan oleh perusahaan. Jdi laba dari perusahaan yang ditahan dalam jumlah besar, maka laba akan dibayarkan sebagai dividen menjadi lebih kecil.
c. Factor Yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen 1) Tingkat Ekspansi Aktiva
Semakin cepat suatu perusahaan berkembang, semakin besar kebutuhannya untuk membiayai ekspansi aktivanya, perusahaan cenderung untuk menahan laba daripada membayarkannya dalam bentuk dividen.
2) Stabilitas laba
Suatu perusahaan yang mempunyai laba stabil sering kali dapat memperkirakan berapa besar laa dimasa yang akan datang.
d. Teori Kebijakan Dividen
Dalam Brigham & Houston (2001:66) ada tiga teori kebijakan dividen dari preferensi investor, yaitu sebagai berikut:
1. Teori Ketidakrelevanan Dividen Merton Miller dan Franco Modigliani berpendapat bahwa nilai suatu perusahaan hanya
ditentukan oleh kemampuan dasarnya untuk menghasilkan laba dan risiko bisnisnya. Yang artinya nilai suatu perusahaan tergantung pada pendapatan yang dihasilkan oleh aktivanya dan bukan pedapatan tersebut dibagi antara dividen dan laba ditahan.
Pernyataan MM ini diasumsikan tidak adanya biaya pajak dan pialang. Sehingga teori ketidakrelevanan dividen yaitu kebijakan dividen tidak mempunyai pengaruh terhadap harga saham perusahaan maupun terhadap biaya modalnya.
2. The Bird in The Hand Theory Menurut Gordon dan Lintner kebijakan dividen relevan terhadap nilai suatu perusahaan. Dalam hal ini investor lebih menyukai pendapatan yang diharapkan dari dividen daripada pendapatan yang diharapkan dari keuntungan modal (capital gain). Teori ini menyatakan bahwa investor menyukai dividen, karena kas ditangan lebih bernilai daripada kekayaan dari bentuk lain atau bisa disebut dengan istilah “Para investor memandang satu burung ditangan lebih berharga daripada seribu burung di udara”.
3. Teori Preferensi Pajak Ada tiga alasan yang berkaitan dengan pajak untuk beranggapan bahwa investor mungkin lebih menyukai pembagian dividen yang rendah daripada yang tinggi:
a. Investor yang kaya (memiliki sebagian besar saham dan menerima sebagian dividen yang dibayarkan) mungkin lebih suka perusahaan menahan dan menanamkan kembali laba ke dalam perusahaan. Pertumbuhan laba dianggap menghasilkan kenaikan harga saham, dan keuntungan modal
yang pajaknya rendah akan menggantikan dividen yang pajaknya tinggi.
b. Pajak atas keuntungan tidak dibayarkan sampai saham terjual. Invetor lebih menyukai capital gain karena dapat menunda pembayaran pajak. c. Ahli waris dari seorang investor yang meninggal yang memiliki saham dapat menggunakan nilai saham pada hari kematian sebagai dasar biaya dan terhindar dari pajak keuntungan modal.
Karena adanya keuntungan pajak tersebut, para investor mungkin lebih suka perusahaan menahan sebagian besar laba perusahaan.
Selain tiga teori diatas Brigham & Houston (2001:71) dalam bukunya juga menjelaskan dua teori lain tentang kebijakan dividen, yaitu :
1. Signaling Hypothesis Theory Teori ini menyatakan bahwa investor menganggap perubahan dividen sebagai isyarat dari perkiraan manajemen atas laba. Kenaikan dividen seringkali menyebabkan kenaikan harga saham, sebaliknya pemotongan dividen umumnya menyebabkan penurunan harga saham. MM berpendapat bahwa kenaikan dividen yang lebih tinggi daripada yang diperkirakan merupakan isyarat bagi investor bahwa manajemen perusahaan meramalkan peningkatan laba dimasa mendatang. Sebaliknya jika penurunan dividen maupun kenaikan dividen lebih kecil dari perkiraan memberi isyarat bahwa manajemen meramalkan laba yang rendah di masa mendatang. Perubahan harga saham
sesudah pembagian dividen merupakan isyarat yang penting dalam pengumuman dividen tersebut. Sehingga pengaruh pengisyaratan harus benar-benar dipertimbangkan oleh manajemen perusahaan ketika merencanakan suatu perubahan dalam kebijakan dividen.
2. Clientele Effect Theory Teori ini menjelaskan tentang kecenderungan suatu perusahaan untuk menarik sekelompok investor yang menyukai dividennya. Karena setiap investor memiliki preferensi berbeda atas kebijakan dividen. Suatu perusahaan yang merubah kebijakan dividennya mengakibatkan dua kemungkinan yaitu:
a. Pemegang saham saat ini tidak menyukai kebijakan baru dan akan menjual saham mereka dan mengakibatkan saham menjadi turun. Jika hanya sedikit investor yang menyukai kebijakan baru tersebut maka harga saham akan terus tertekan.
b. Menarik lebih banyak investor yang menyukai kebijakan dividen yang baru sehingga harga saham akan naik.