• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

4.5 Divisi Kelembagaan

4.5.1 Divisi Anak dan Perempuan

Sebagai sebuah lembaga swadaya masyarakat yang konsen terhadap perlindungan anak dan perempuan khususnya di Sumatera Utara, Yayasan Pusaka Indonesia menitik

beratkan pekerjaannya pada advokasi anak dan perempuan baik litigasi maupun non litigasi. Berbagai kasus sudah di tangani oleh Yayasan Pusaka Indonesia, baik anak sebagai korban maupun anak sebagai pelaku tindak pidana ataupun perempuan yang menjadi korban KDRT, trafiking dan kasus-kasus lainnya. Peningkatan kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di 2 tahun terakhir menuntut divisi ini untuk lebih berbenah dan memiliki startegi yang lebih matang dalam melakukan kerja-kerja advokasi terhadap isu anak dan perempuan.

Kini Yayasan Pusaka Indonesia ingin adanya perobahan dalam meningkatkan kualitas kerja divisi anak dan perempuan dalam menunjang keberlangsungan kerja lembaga melakukan perlindungan terhadap anak dan perempuan, menjadikan Yayasan Pusaka Indonesia sebagai lembaga yang mampu melahirkan young lawyers yang memiliki visi perlindungan anak dan perempuan, serta mengembangkan program yang mengarah pada riset center dalam isu anak dan perempuan.

Visi dari Divisi Anak dan Perempuan adalah terwujudnya kesadaran keberpihakan terhadap perempuan dan anak korban kekerasan berbasis gender di Indonesia, dengan memberikan perlindungan dan penguatan bagi perempuan dan anak korban kekerasan berbasis gender, memberikan pelayanan yang optimal terpadu, berupa; pelayanan hukum, pelayanan rehabilitasi dan melakukan upaya pencegahan tindak kekerasan berbasis gender di masyarakat.

Secara garis besar tujuan Divisi Anak dan Perempuan adalah:

1. Menguatkan jaringan pengamanan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak.

2. Memperpendek birokrasi penanganan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak.

3. Mendorong masyarakat agar melakukan pencegahan tindak kekerasan berbasis gender.

4. Memperkuat layanan advokasi ABH & Perempuan korban kekerasan & eksploitasi. Yang menjadi ruang lingkup Divisi Anak dan Perempuan adalah:

1. Advokasi Kebijakan, (khususnya yang menyangkut kepentingan anak dan perempuan).

2. Pendampingan terhadap Anak dan Perempuan (khususnya di bidang pendidikan, kesehatan, sosial ekonomi dan hukum).

3. Penguatan ekonomi keluarga

Aktivitas yang utama yang dilakukan oleh divisi Anak dan Perempuan adalah memeberikan pelayanan, pendamping hukum kepada anak dan perempuan yang berhadapan dengan hukum, baik sebagai korban maupun sebagai pelaku. Namun, seiring dengan pengembangan dan perubahan stuktur Yayasan Pusaka Indonesia, maka pelayanan hukum tidak hanya berfokus pada penanganan hukum anak dan perempuan berkonflik dengan hukum, tetapi juga melakukan advokasi untuk kepentingan perempuan dan anak.

Tugas umum pelayanan hukum di Divisi Anak dan Permpuan adalah:

1. Mengkoordinir semua kegiatan baik internal maupun dalam hubungannya dengan divisi lain yang ada di Yayasan Pusaka Indonesia dan badan pengurus.

2. Menyusun program kerja divisi dan membuat laporan divisi kepada ketua badan pengurus.

3. Membangun hubungan kerjasama (Networking) dengan instansi pemerintah, aparat penegak hukum, LSM dan masyarakat umum, dalam melakukan kerja-kerja advokasi khususnya penanganan kasus.

4. Melakukan kampanye (pembentukan opini publik) terhadap kasus yang di tangani agar dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat umum baik melalui konfrensi pers, pers rilis, ataupun web-site Yayasan Pusaka Indonesia. Dalam hal ini, memberikan support data ke Divisi Indok untuk mengkampanyekan kasus.

5. Melakukan pendataan terhadap kasus-kasus anak dan perempuan yang terjadi baik lokal maupun nasional.

6. Melakukan analisis terhadap kasus-kasus yang di tangani untuk mengatasi hambatan yang di hadapai diskusi bedah kasus dengan melibatkan divisi lain, ataupun mengembangkan program baik di divisi litigasi ataupun divisi lainnya yang terkait. 7. Melakukan investigasi dan monitoring terhadap kasus-kasus yang di tangani, secara

litigasi dan non litigasi.

8. Memberikan pendampingan dan pelayanan hukum terhadap anak, perempuan dan masyarakat umum yang membutuhkannya.

Adapun yang menjadi bidang kerja Pelayanan Hukum di Divisi Anak dan Perempuan adalah:

1. Melakukan pendampingan dan pelayanan hukum terhadap anak, perempuan dan masyarakat pencari keadilan, termasuk bimbingan psikologis dan kesehatan.

2. Mengembangkan jejaring kerja (Networking) dalam rangka melakukan pembelaan dan perlindungan terhadap anak dan perempuan berkonflik dengan hukum.

3. Melakukan pengembangan jaringan kerja yang lebih komprehensif terhadap anak dan perempuan yang di dampingi oleh Yayasan Pusaka Indonesia dalam proses litigasi. 4. Melakukan penyadaran masyarakat tentang persoalan-persoalan yang menyangkut

pada penegakan hukum dan perlindungan terhadap anak dan perempuan (sosialisasi, pelatihan paralegal, kampanye publik).

5. Melakukan kajian dan analisis terhadap peraturan dan kebijakan yang mengatur tentang perlindungan anak dan perempuan.

6. Mendokumentasikan kasus-kasus yang di tangani.

7. Aktif dalam setiap tindakan yang bermuara pada perlindungan perempuan dan anak diserulah level.

8. Melakukan investasi dan monitoring terhadap kasus-kasus yang tangani, baik yang menempuh jalur litigasi maupun nonlitigasi.

2.5.2 Divisi Pengembangan Komunitas (Community Development)

Pengertian Masyarakat merujuk kepada sekelompok orang yang tinggal menetap di suatu wilayah tertentu. Kaitannya dengan isu Pengembangan Masyarakat (Community

Development), dimaksudkan agar komunitas masyarakat mempunyai andil di dalam

mengidentifikasi, menemukan dan menganalisis berbagai kekuatan dan sumber-sumber lainnya yang ada pada tiap individu dan masyarakat. Tujuannya untuk mencari solusi terbaik tentang cara-cara peningkatan kapasitas masyarakat agar mampu mandiri dan bertahan dalam menghadapi berbagai situasi, dengan memanfaatkan dan mengaktifkan sebesar-besarnya sumber daya yang dimiliki baik oleh individu maupun kelompok masyarakat.

Yayasan Pusaka Indonesia sebagai sebuah lembaga yang konsern terhadap perlindungan anak dan perempuan dan juga isu-isu strategis lainnya, telah membentuk satu divisi yang diberi nama Community Development. Mempunyai tujuan atau cita-cita besar untuk membangun dan meningkatkan kemandirian masyarakat dengan memberdayakan seluruh sumber daya yang ada di masyarakat itu sendiri. Pada kenyataannya, program

Community Development (Comdev) akan menempatkan masyarakat sebagai subjek dan

pelaku bagi lahirnya komunitas masyarakat yang cerdas dan memiliki kepedulian lebih, yang mau berbuat dalam menentukan nasibnya sendiri.

Tidak bisa dipungkiri memang jika dalam prakteknya sering timbul pro dan kontra mengenai program yang akan dan sedang dijalankan di masyarakat. Untuk menghilangkan keragu-raguan di masyarakat, maka masyarakat akan diikutsertakan dalam program, dengan diberikan pilihan dan kesempatan untuk memberi masukan atau peranan. Untuk mencapai efisiensi dalam pengembangan masyarakat tersebut, maka masyarakat harus mempunyai

kapasitas untuk menganalisa kondisi dan merumuskan persoalan serta kebutuhan-kebutuhannya.

Berkaitan dengan hal di atas, maka Yayasan Pusaka Indonesia melalui divisi

Community Development (Comdev) membuat dan menjalankan program yang akan

mendorong komunitas masyarakat agar berani dan mau berbuat untuk kebaikan di komunitasnya. Dengan bersandar kepada kearifan lokal dan upaya-upaya partisipatif yang melibatkan seluruh komponen di masyarakat, diyakini model ini akan menyadarkan dan menumbuhkan tanggung jawab di komunitasnya. Posisi Yayasan Pusaka Indonesia hanya sebagai fasilitator, karena berhasil atau tidaknya suatu program akan tergantung peran serta dan dukungan penuh seluruh elemen.

Adapun yang menjadi visi misi pengembangan komunitas adalah:

Visi: Terciptanya tatanan masyarakat yang mandiri dan sejahtera untuk mendukung terwujudnya perlindungan anak dan perempuan secara menyeluruh.

Misi:

1. Meningkatkan perekonomian masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi yang memanfaatkan sumberdaya dan potensi lokal.

2. Meningkatkan Sumber Daya Manusia dalam meningkatkan mutu pendidikan, kesehatan dan ekonomi.

3. Meningkatkan kapasitas pemerintahan lokal untuk mendukungan hubungan dan tata sosial masyarakat dalam perlindungan anak dan perempuan.

4. Menggali potensi sumber energi lokal yang dapat mendukung pemanfaat energi terbarukan.

5. Mengembangkan potensi dan peran serta masyarakat dalam pengurangan pamanasan global.

Selain itu juga Divisi Pengembangan Komunitas juga menjalakan program Pengurangan Resiko Bencana dengan perencanaan program Mengembangkan Budaya Keselamatan dan Ketangguhan masyarakat. Untuk mencapai hal tersebut beberapa langkahpun perlu dilakukan dengan :

1. Melakukan pendidikan tentang kesadaran bencana kepada masyarakat, khususnya bagi yang tinggal di kawasan rawan bencana.

2. Membentuk kelompok penanggulangan bencana di masyarakat.

3. Mendampingi dan menguatkan posisi dan eksistensi Kelompok Tanggap Bencana Masyarakat (KPBM).

4. Menyebarkan informasi dan regulasi tentang kebencanaan.

5. Melakukan kegiatan Advokasi dan mendorong pemerintah dan lembaga-lembaga lain-bagi lahirnya akuntabilitas publik dalam meresponsi dan menanggulangi bencana. 6. Menjalin kerjasama dan membangun partisipasi dengan lembaga lokal, nasional dan

international dalam urusan kebencanaan.

7. Melakukan kajian dan pengembangan pola-pola penanganan bencana.

8. Menghimpun dan mendistribusikan dukungan dan bantuan bagi korban bencana. 9. Melakukan kajian dan analisis risiko bencana masyarakat, terkait dengan bencana

alam dan non-alam.

4.5.3 Divisi Kewirausahaan Sosial

Komunitas atau kelompok masyarakat bawah selama ini masih tergolong dalam kelas marginal. Pemerintah tidak menjadi pengayom bagi keberlangsungan hidup komunitas dalam bentuk regulasi dan kebijakan. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan gerakan sosial lainnya juga bergerak terbatas dan tidak kongkrit. Mereka bergerak hanya sampai pada level advokasi isu strategis. Namun, untuk keberlanjutan dan aksi kemandirian ekonomi, LSM

sebagai institusi pun tidak mampu survive terhadap dirinya sendiri, apalagi untuk mendampingi kemandirian ekonomi komunitas. Mereka berkembang menjadi lembaga yang bergantung pada lembaga donor atau dana internasional.

Para pengusaha (kolektif dan individual pada tingkat lokal, nasional maupun lintas Negara), tidak menyematkan semangat dan motivasi kepada komunitas untuk memanfaatkan peluang-peluang usahanya. Mereka justru bersikap eksploitatif dan semakin memperjelas perbedaan antara kelas bawah dan kelas atas. Mestinya, dunia bisnis tumbuh dan berkembang di dalam lingkungan tertentu untuk kesejahteraan lingkungan dan komunitas marjinal tersebut.

Maka dalam rangka kemandirian ekonomi, komunitas mestinya mulai bangkit, melihat sendiri peluang usahanya, dan mengelola bersama dengan baik. Pengelolaan ini tentu terkait pada hal peluang usaha, struktur organisasi, aturan main, jaringan pasar, system dan mekanisme pembagian hasil, dan saving kepada keberlanjutan organisasi.

Menjadi catatan penting perjalanan panjang 12 tahun Yayasan Pusaka Indonesia dengan kerja-kerja advokasi yang dilakukan, telah berhasil mengurangi kegelisahan masyarakat atas lemahnya perlindungan hukum terhadap hak anak dan perempuan. Tetapi Yayasan Pusaka Indonesia sepakat, belum banyak melakukan kerja pemberdayaan bagi kelompok dampingan khususnya dalam peningkatan ekonomi yang sering menjadi sumber dari persoalan yang ada.

Keberadaan Divisi Social Enterpreneur akan menjadikan “kita” atau semua pihak dalam elemen Yayasan Pusaka Indonesia, mulai berpikir dan bekerja untuk satu perubahan sosial yang berkelanjutan serta pengembangan kelembagaan yang mandiri dengan pengelolaan bidang usaha. Dengan menghimpun kekuatan, potensi dan semangat serta memahami nilai-nilai yang dikembangkan, maka wirausaha sosial yang swadaya atau

mandiri, peduli, anti eksploitasi, kemitraan dan bersinergi memiliki ekspektasi satu tahun ke depan, divisi ini akan mengerjakan program kerja yang terukur.

2.5.4 Divisi Informasi dan Dokumentasi

Tujuan dari Divisi Riset, Informasi dan Dokumentasi adalah melakukan pengelolaan informasi dan dokumentasi untuk kemudian dikemas menjadi informasi yang siap digunakan, baik oleh kalangan internal maupun eksternal. Hal ini dilakukan untuk menunjang peran Yayasan Pusaka Indonesia sebagai mediator dan fasilitator antara pemerintah dengan komunitas korban dan komunitas pejuang hak asasi anak dan perempuan serta lingkungan.

Berbagai Program kerja yang dilakukan oleh Divisi Informasi dan Dokumentasi

Yayasan Pusaka Indonesia diantaranya adalah perpustakaan,

website www.pusakaindonesia.or.id, data base, kliping, pembuatan bulletin, buku, dan media kampanye lainnya, termasuk juga mengekspose berita keberbagai media masa lokal maupun Nasional tentang kerja-kerja Yayasan Pusaka Indonesia.

Secara garis besar tujuan dari divisi Inventaris, Dokumentasi, pengembangan dan Riset ini adalah sebagai berikut :

1. Terbantunya kinerja divisi-divisi yang ada di Yayasan Pusaka Indonesia sesuai dengan kebutuhan.

2. Terpublikasikannya berbagai kegiatan dan program kerja Yayasan Pusaka Indonesia secara nasional maupun internasional melalui berbagai media.

3. Tersedianya perpustakaan yang ideal di Yayasan Pusaka Indonesia.

4. Terinventarisnya segala inventaris yang dimiliki oleh Yayasan Pusaka Indonesia baik yang berada di Medan maupun diluar Medan.

6. Terbangunnya koordinasi dan komunikasi dalam penyampaian informasi setiap divisi divisi sesuai dengan struktur Yayasan Pusaka Indonesia.

Divisi Informasi dan Dokumentasi berkewajiban:

1. Membuat, mempublikasikan dan menyebarkan produk-produk terbitan Pusaka Indonesia ke berbagai kalangan.

2. Membuat pers release dan konperensi pers hasil kerja-kerja Yayasan Pusaka Indonesia ke berbagai media massa baik lokal, nasional dan internasional.

3. Melakukan kajian dan riset sesuai dengan kebutuhan Yayasan Pusaka Indonesia. 4. Mengupayakan produk-produk dan kinerja dari Divisi Indok menjadi salah satu

bagian dalam upaya fund raising

5. Menjaga, merawat dan menginventarisir segala inventaris Yayasan Pusaka Indonesia. 6. Melakukan pengklipingan koran sesuai dengan isue .

7. Melakukan pendataan terhadap berbagai isue sesuai dengan program kerja Yayasan Pusaka Indonesia.

8. Melakukan Monitoring evaluasi dan koordinasi program-program kerja divisi Riset, Pengembangan dan Indok.

Dokumen terkait