Laporan Evaluasi Kinerja Badan Karantina Pertanian TA 2012 vi 7) Desiminasi Penilaian Persyaratan Teknis IKH (30 orang)
BIDANG KERJASAMA
A. Dokumen Kerjasama Nasional
Rumusan Hasil Pertemuan Optimalisasi Kerjasama Perkarantinaan Di Wilayah Lintas Batas Negara
Pertemuan ini diselengarakan di Solo, pada tanggal 14-16 Maret 2012 dan dihadiri peserta dari Unit Pelaksana Teknis Badan Karantina Pertanian yang berada di wilayah perbatasan antara lain BBKP Belawan, BKP Kelas I Batam, BKP Kelas I Pekanbaru, BKP Kelas I Pontianak, BKP Kelas I Balikpapan, BKP Kelas I Kupang, BKP Kelas I Manado, BKP Kelas I Jayapura, BKP Kelas II tanjung Pinang, BKP Kelas II Tarakan, SKP Kelas I Tanjung Balai Asahan, SKP Kelas I Entikong, SKP Kelas I Merauke, SKP Kelas I Tanjung Balai Karimun, dan narasumber dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), dan Badan Karantina Pertanian.
Memperhatikan arahan Kepala Badan Karantina Pertanian yang disampaikan oleh Kepala Pusat Kepatuhan, Kerjasama dan Informasi Perkarantinaan, dan pemaparan kebijakan dan pelaksanaan operasional
219 Laporan Tahunan Badan Karantina Pertanian TA 2012
oleh narasumber dari Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani, Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Direktorat Kepabeanan-Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Badan Nasional Pengelola Perbatasan, serta hasil diskusi yang berkembangan selama pertemuan, bersama ini disampaikan hasil rumusan sebagai berikut:
I. Karantina dan Pengawasan Keamanan Hayati
a) Pada tahun 2011 kegiatan karantina tumbuhan dan pengawasan keamanan hewani di wilayah lintas batas laut dan darat terdiri atas kegiatan ekspor 16 jenis komoditas hewan dengan jumlah frekuensi ekspor 686 kali, sementara itu kegiatan impor mencakup 16 jenis komoditas tumbuhan dengan jumlah frekuensi impor 311 kali. Untuk kegiatan karantina tumbuhan dan keamanan hayati nabati meliputi kegiatan ekspor mencakup 153 jenis komoditas tumbuhan dengan jumlah frekuensi ekspor 4.541 kali, sedangkan kegiatan impor meliputi 144 jenis komoditas tumbuyhan dengan jumlah frekuensi impor sebanyak 4.311 kali.
b) Di wilayah perbatasan darat terdapat tempat pemasukan dan pengeluaran berupa Pos Lintas Batas Negara (PLBN) meliputi : (i) Entikong (Kabupaten Sanggau, Kalbar-Malaysia), (ii) Nanga Badau (Kabupaten Kapuas Hulu, Kalbar-Malaysia), (iii) Jagoi Babang (Kabupaten Bengkayang, Kalbar-Malaysia), (iv) Jasa Senaning (Kabupaten Sintang, Kalbar-Malaysia), (v) Aruk (Kabupaten Sambas, Kalbar-Malaysia), (v) Mota‟ain (Atambua, NTT-Timor Leste), Metameuk/Metamasin (Atambua, NTT-Timor Leste), (vi) Napan/Wini (Atambua, NTT-Timor Leste), (vii) Skou (Jayapura, Provinsi Papua-PNG), (ix) Sota (Merauke, Provinsi Papua-PNG).
c) Di wilayah perbatasan laut terdapat tempat pemasukan dan pengeluaran meliputi : (i) Tenau Timor Leste), (ii) Wini (NTT-Timor Leste), (iii) Atapupu (NTT-(NTT-Timor Leste), (iv) pelabuhan ferry Bolok (NTT-Timor Leste), (v) Nunukan (Kaltim-Malaysia), (vi) Sebatik (Kaltim-Malaysia), (vii) Panipahan (Riau Kepulauan-Malaysia-Singapura), (viii) Tambelan, (ix) Moro, (x) Tanjung Medang, (xi) Tarempa, (xii) Sedanau, (xiii) Teluk Belitung, (xiv) Kuala Gaung, (xv) Belakang Padang, (xvi) Tanjung Kedabu, (xvii) Kuala Enok, (xviii) Tanjung Batu, (xix) Sinaboi Letung, (xx) Selat Batu, (xxi) Senayang, (xxii) Sekunyang, (xxiii) Sei Pakning, (xxiv) Sei Guntung, (xxv) Serasan, (xxvi) Serapung, (xxvii) Midai, (xxvii) Bagansiapi-api, (xxviii) Siak Sri Indrapura, (xxix) Dabo Singkep, (xxx) Tanjung Balai Karimun, (xxxi) Tembilahan, (xxxii) Rengat, (xxiii) Selat Panjang, (xxxiv) Dumai, (xxxv) Tanjung Pinang, dan (xxxvi) Pekanbaru.
220 Laporan Tahunan Badan Karantina Pertanian TA 2012
d) Penyediaan sarana, prasarana dan petugas karantina hewan dan karantina tumbuhan serta peraturan dan petunjuk pelaksanaan/teknis dilaporkan oleh UPT Badan Karantina Pertanian di wilayah perbatasan khususnya untuk pos lintas batas darat dan laut tertentu belum optimal untuk dapat melaksanakan tindakan karantina dan pengawasan keamanan hayati secara efektif. Sehubungan dengan hal tersebut, disarankan untuk dilakukan langkah-langkah optimalisasi tindakan karantina dan pengawasan keamanan hayati antara lain sebagai berikut: (i) pengaturan tindakan karantina dan pengawasan keamanan hayati secara khusus terhadap lalu lintas barang tentengan, (ii) pos lintas batas dikelola secara terpadu agar fungsi instansi Pusat dan Daerah dapat terkoordinasi dengan baik, (iii) meningkatkan sarana dan prasarana serta petugas karantina, (iv) meningkatkan keamanan dan kesejahteraan petugas karantina, (v) regulasi perijinan pemasukan dan pengeluaran di PPLBN diatur secara khusus dan proporsional, (vi) meningkat kepatuhan masyarakat terhadap peraturan perundangan perkarantinaan dan pengawasan keamanan hayati melalui kegiatan pre-emtif, preventif dan penegakan hukum.
II. Pengawasan dan Pelayanan Kepabeanan
a) Dalam Pengawasan dan Pelayanan Kepabeanan di Pos Lintas Batas Negara dilakukan pengaturan secara khusus terkait dengan lalu lintas : (i) penumpang adalah setiap orang yang melintasi perbatasan wilayah negara denga menggunakan sarana pengangkut v tetapi bukan awak sarana pengangkut danbukan Pelintas Batas, (ii) awak sarana angkut adalah setiap orang yang karena sifat pekerjaannya harus berada dalam sarana pengangkut dan datang bersama sarana pengangkut, (iii) pelintas batas adalah penduduk yang berdiam atau bertempat tinggal dalam wilayah perbatasan Negara serta memiliki kartu identitas yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang dan yang melakukan perjalanan lintas batas di daerah perbatasan melalui pos lintas batas.
b) Dalam Pengawasan dan Pelayanan Kepabeanan di Pos Lintas Batas Negara dilakukan pengaturan secara khusus terkait dengan lalu lintas barang meliputi : (i) Barang Pribadi Pelintas Batas, yaitu semua barang yang dibawa oleh Pelintas Batas, tetapi tidak termasuk barang dagangan, (ii) Barang Pribadi Penumpang, yaitu semua barang yang dibawa oleh Penumpang, tetapi tidak termasuk barang dagangan, (iii) Barang Pribadi Awak Sarana
Pengangkut, yaitu semua barang yang dibawa oleh Awak Sarana
Pengangkut, tetapi tidak termasuk barang dagangan, (iv) Barang
221 Laporan Tahunan Badan Karantina Pertanian TA 2012
tidak wajar untuk keperluan pribadi, diimpor untuk diperjualbelikan, barang contoh, barang yang akan digunakan sebagai bahan baku atau penolong industry, dan/atau barang yang akan digunakan untuk tujuan selain pemakaian pribadi, (v) Barang Impor, yaitu semua barang yang masuk melalui Pos Pengawasan Lintas Batas tetapi tidak dibawa oleh Pelintas Batas.
c) Pengaturan bea masuk terhadap Barang Penumpang berupa : (i) pembebasan bea masuk terhadap nilai pabean paling banyak FOB USD 250,00 (dua ratus lima puluh UD Dollar) per orang atau FOB USD 1.000,00 (seribu US Dollar) per keluarga per kedatangan, (ii) Barang Kena Cukai untuk setiap orang dewasa paling banyak 200 batang sigaret, 25 batang cerutu, atau 100 gram tembakau iris/hasil tembakau lainnya, dan 1 (satu) liter minuman mengandul etil alkohol.
d) Pengaturan bea masuk terhadap Barang Awak Sarana Angkut berupa : (i) pembebasan bea masuk terhadap nilai pabean paling banyak FOB USD 50,00 (dua ratus lima puluh UD Dollar) per orang atau per kedatangan, (ii) Barang Kena Cukai untuk setiap orang dewasa paling banyak 40 batang sigaret, 10 batang cerutu, atau 40 gram tembakau iris/hasil tembakau lainnya, dan 1 (satu) liter minuman mengandul etil alkohol.
e) Pengaturan bea masuk terhadap Barang Pelintas Batas berupa : (i) Indonesia-Papua New Guinea : nilai pabean paling banyak FOB USD 300,00 (tiga ratus US Dollar) per orang untuk jangka waktu 1 (satu) bulan, (ii) Indonesia-Malaysia : nilai pabean paling banyak FOB MYR 600,00 (enam ratus ringgit Malaysia) per orang untuk jangka waktu satu bulan apabila melewati batas darat (land border), dan nilai pabean paling banyak FOB MYR 600,00 (enam ratus ringgit Malaysia) setiap perahu untuk setia trip, apabila melewati batas laut (sea border), (iii) Indonesia-Filipina : nilai pabean paling banyak FOB USD 250,00 (tiga ratus US Dollar) per orang untuk jangka waktu 1 (satu) bulan, (iv) Indonesia – Timor Leste : nilai pabean paling banyak FOB USD 50,00 (tiga ratus US
Dollar) per orang per hari. III. Perhubungan Laut
a) Dasar hukum Perhubunan Laut merujuk kepada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan, dan Peraturan Pemerintah Noor 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perbatasan.
222 Laporan Tahunan Badan Karantina Pertanian TA 2012
b) Kegiatan perdagangan luar negeri dilakukan melalui Pelabuhan Utama dan Terminal Khusus. Terminal Khusus wajib memenuhi persyaratan : (i) aspek administrasi, (ii) aspek ekonomi, (iii) aspek keselamatan dan keamanan pelayaran, (iv) aspek teknis fasilitas kepelabuhanan, (v) fasilitas kantor dan peralatan penunjang bagi intansi pemegaang fungsi keselamatan dan keamanan pelayaran, instansi bea an cukai, imigrasi dan karantina, (vi) jenis komoditas khusus.
c) Kegiatan angkutan laut lintas batas dimaksudkan untuk memperlancar operasional kapal, memenuhi kepentingan dengan Negara tetangga, ditetapkan oleh Menteri, dilakukan oleh perusahaan angkutan laut nasional atau perusahaan pelayaran rakyat. Penetapan oleh Menteri berdasarkan kepada : (i) usulan kelompok kerjasama sub-regional dan (ii) jarak tempuh pelayaran tidak melebihi 150 mil laut. Perusahaan angkutan laut nasional menggunakan kapal berukuran paling besar GT 175 (seratus tujuh puluh lima Gross Toonage). Dalam kaitannya dengan pengembangan ekonomi kawasan perbatasan diharapkan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut berperan aktif dalam memfasilitasi angkutan laut untuk kegiatan ekonomi dan perdagangan antara pulau dan wilayah untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan.
IV. Fasilitasi Perdagangan Lintas Batas Negara
a) Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Batas Wilayah Negara, dan Perpres Nomor 22 Tahun 2010 tentang Badan Nasional Pengelola Perbatasan. Dalam Grand Design dan rencana Induk Pengelolaan Batas wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan mempunyai 7 (tujuh) RE jangka panjang, yaitu : orientasi, posisi, formulasi, konsolidasi, strukturisasi, re-vitalisasi, dan re-formulasi di tempat-tempat pemasukan dan pengeluaran di kawasan perbatasan.
b) Re-posisi peran strategis kawasan perbatasan yang semula sebagai beranda belakang Negara menjadi beranda depan Negara melalui 4 (empat) elemen strategis yaitu: (i) penyediaan sarana, prasarana, (ii) pengembangan simpul-simpul pertumbuhan, (iii) penguatan kapasitas pemerintah daerah dan masyarakat, (iv) peningkatan pengamanan dan penegakan hukum.
c) Pengertian perdagangan lintas batas Negara (Dagtasbara) adalah perdagangan secara khusus yang dilakukan antara penduduk
223 Laporan Tahunan Badan Karantina Pertanian TA 2012
kedua Negara, yang berdomisili diperbatasan kedua Negara, memiliki Tanda Pas Lintas Batas (TPLB) yang diterbitkan oleh otoritas yang ditetapkan oleh masing-masing pihak. Falsafah Dagtasbara adalah perlakuan khusus bagi masyarakay di wilayah perbatasan untuk meningkatkan taraf hidup dan membangun wilayah terdepan Negara Republik Indonesia.
d) Permasalahan dan tantangan yang perlu mendapat perhatian ke depan adalah : (i) ketersedian personel yang tahan di daera terpencil, (ii) kebutuhan mendorong leberanian, (iii) sarana dan prasarana yang masih belum memadai, (iv) dukungan insentif perbatasan, (v) penguatan sinergitas fungsi-fungsi Pusat dan Daerah, (vi) peran pemerintah Daerah dan masyarakat perlu ditingkatkan.