• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rapat Koordinasi Koordinator lapangan dan Workshop Implementasi SKIM AUDIT Badan karantina Pertanian

Laporan Evaluasi Kinerja Badan Karantina Pertanian TA 2012 vi 7) Desiminasi Penilaian Persyaratan Teknis IKH (30 orang)

DOKUMEN KEGIATAN PUSAT KARANTINA TUMBUHAN DAN KEAMANAN HAYATI NABATI TA 2012

C. Rapat Pembahasan Permohonan Ijin Pemasukan Vectobact (Bacillus

I. NON TEKNIS

8) Rapat Koordinasi Koordinator lapangan dan Workshop Implementasi SKIM AUDIT Badan karantina Pertanian

Rapat Koordinasi Koordinator lapangan dan Workshop Implementasi SKIM AUDIT Badan karantina Pertanian dilaksanakan pada tanggal 26 dan 27 Maret 2012 di Cipayung. Rapat koordinasi ini diikuti oleh 250 peserta dibuka oleh Kepala Badan Karantina Pertanian dalam pembukaannya Kepala Badan mengharapkan bahwa dengan adanya Program Skim Audit Badan karantina Pertanian lebih berkembang karena tunututan masyarakat yang mengharapkan Pelayanan Pemerintah yang harus transparan, tidak diskriminatif, dan akuntabel. Sejauh ini, Program Skim Audit Barantan telah berhasil melakukan registrasi 129 perusahaan fumigasi, 118 perusahaan kemasan kayu, dan 52 Instalasi Karantina Tumbunan Milik Pihak ke-3. Dari jumlah tersebut lebih kurang 20 % dikenakan sanksi berupa pembekuan dan pencabutan karena dinilai kurang komitmen dalam mengikuti program ini.

bersyukur bahwa pasca workshop tahun lalu telah banyak hal-hal penting yang dilakukan, diantaranya penyempurnaan ke-sistem-an program registrasi, dan aspek legalitas keberadaan Skim Audit Barantan. Penghargaan dari

Kementerian Lingkungan Hidup dalam bentuk “Ozon Award”, membuktikan bahwa program ini telah mendapat pengakuan dan berperan dalam pelestarian lingkungan hidup.

Kebijakan Barantan sudah final bahwa keberadaan Program ini dibutuhkan dan akan terus ditingkatkan eksistensinya. Skim Audit Barantan sebatas program Badan Karantina Pertanian bukan kelembagaan atau organisasi tersendiri. Keberadaan program ini telah memberikan banyak manfaat antara lain : (1) memfasilitasi kelancaran dan kelangsungan komoditas ekspor Indonesia, (2) memberikan kontribusi dalam penyerapan tenaga kerja; (3) memberikan kontribusi terhadap pendapatan negara dalam bentuk pajak. Dari berbagai manfaat itu semua yang sangat penting program ini diharapkan akan mempercepat proses quarantine minded masyarakat Indonesia sehingga sistem perkarantinaan tangguh dan terpercaya lebih mudah diwujudkan.

Dalam membangun program ini Badan Karantina Pertanian mengusung prinsip S A V E (Simple, Akuntable, Voluntary and Efficient). Simple, proses registrasi dilakukan sesederhana mungkin, dengan tidak mengabaikan kaidah akreditasi secara umum. Akuntable, proses registrasi dapat dipertanggunjawabkan.

185 Laporan Tahunan Badan Karantina Pertanian TA 2012

Voluntary, proses registrasi berlangsung sukarela. Efficient, proses registrasi dilakukan dengan biaya relative murah. Melalui prinsip itu, diharapkan setiap masalah yang terjadi karena masih adanya kelemahan sistem dapat diselesaikan dengan baik. Penyelesaian permasalahan yang kontra produktif dengan tujuan pemberian kewenangan kepada pihak ke-3 dapat dihindari. Kami masih mencatat adanya complain bahkan somasi sebagai wujud dan cerminan ketidakpahaman makna filosofis dari pendelegasian kewenangan.

Berkaitan dengan efektifitas pengawasan, kami telah meminta kepada pelaksana program Skim Audit untuk memanfaatkan teknologi informasi. Untuk pelaksanaan fumigasi, pengawasan akan lebih efektif apabila setiap penerbitan Sertifikat Fumigasi yang dilakukan oleh perusahaan Fumigasi AFASID dapat dikontrol secara langsung oleh Petugas Karantina pada UPT yang bersangkutan. Sistem ini akan mengurangi terjadinya ketidaksesuaian dalam penerbitan Sertfikat Fumigasi sekaligus dapat mengontrol secara langsung jumlah pemakaian metil bromida.

Dalam pelaksanaan Sertifikasi Kemasan Kayu, Badan Karantina harus memiliki sistem untuk dapat menjawab secara pasti ketika ada pertanyaan berapa jumlah kemasan kayu yang dibubuhi marka ISPM No. 15 yang dikeluarkan dari wilayah RI ? Untuk itu, menurut hemat kami yang dapat dilakukan adalah mengontrol pemberian marka ISPM No. 15 yang dilaksanakan oleh provider ISPM 15 melalui sistem barcode.

Berkaitan dengan komitmen, kami mengharapkan seluruh stakeholder yang hadir dalam workshop ini dapat menyepakati beberapa perubahan mendasar dalam Draft Pedoman Registrasi yang telah disiapkan oleh secretariat Skim Audit Barantan. Tentunya perubahan draft yang akan disampaikan nanti dilatarbelakangi keinginan bersama dalam memperbaiki sistem yang ada selama ini.

Hasil Rumusan Kelompok Instalasi Karantina Tumbuhan, sebagai berikut :

- Hasil rumusan working group discussion IKT Tahun 2011 sebagian besar telah ditindak lanjuti.

- Pelaksanaan Penetapan Instalasi Karantina Tumbuhan (IKT)

 Mengingat biaya investasi yang tinggi, Forum mengusulkan waktu perpanjangan penetapan IKT selama 5 tahun. Monitoring dan evaluasi terhadap IKT yang telah ditetapkan dilaksanakan sesuai ketentuan, minimal sekali dalam 6 bulan atau sewaktu-waktu diperlukan dan bila terdapat ketidaksesuaian pemilik wajib melakukan perbaikan.

 Penetapan IKT milik pihak ketiga di setiap UPT disesuaikan antara lain dengan: 1) kebutuhan setiap UPT untuk memperlancar tindakan karantina tumbuhan. 2) volume dan frekuensi arus barang.

 Lokasi IKT diutamakan berada di tempat pemasukan/pengeluaran, namun bila tidak memungkinkan dan dengan pertimbangan tertentu dapat dilakukan diluar tempat pemasukan/pengeluaran.

 Disarankan pelaksanaan Penilaian IKT dilakukan oleh penilai yang berasal dari UPT setempat.

186 Laporan Tahunan Badan Karantina Pertanian TA 2012

- Tarif

Forum menyarankan bahwa besaran tarif penggunaan IKT milik pihak ketiga ditentukan oleh Asosiasi pemilik IKT dan pengguna IKT berdasarkan mekanisme pasar.

- Sumber Daya Manusia (SDM)

Diupayakan penilai IKT diseluruh Indonesia memiliki kemampuan dan pemahaman yang sama dalam menilai suatu IKT sesuai dengan peruntukannya.

- Keorganisasian

Asosiasi pemilik IKT telah dibentuk dengan nama APJASIKAPI yang berkedudukan di Jakarta, dan diharapkan menjadi asosiasi pemilik IKT lingkup nasional.

Berdasarkan hasil diskusi dan masukan mengenai beberapa permasalahan yang berkembang saat Diskusi Kelompok Perusahaan Kemasan Kayu, masukan dan tanggapan dari narasumber, koorlap dan Kepala UPT lingkup Badan Karantina Pertanian maka bersama ini, disampaikan hasil rumusan sebagai berikut :

a) Perlu ditentukan persyaratan jumlah minimal SDM untuk jenis-jenis pekerjaan tertentu yang harus dimiliki oleh sebuah perusahaan kemasan kayu , baik yang telah memiliki nomor registrasi maupun yang akan diregistrasi oleh Badan Karantina Pertanian dikaitkan dengan kapasitas produksi,volume kegiatan perlakuan dan sertifikasi;

b) Dalam rangka peningkatan kompetensi personal kunci diperusahaan (manager mutu dan manager teknis) diharapkan adanya perbaikan sistem pelatihan dan penilaian ulang terhadap kompetensi personal kunci;

c) Adanya penerapan sanksi kepada personal kunci (MT dan MM) berupa pembekuan/pencabutan sertifikat kompetensi/attenden MT atau MM, apabila keterlibatan MT atau MM terbukti secara jelas mengakibatkan terjadi suspend pada perusahaan provider ISPM#15 tempatnya bekerja; d) Bagi perusahaan yang akan mengajukan registrasi pertama kali untuk

mendapatkan nomor ID perlu dipersyaratkan kembali pengalaman satu tahun memproduksi sendiri kemasan kayu;

e) Bagi perusahaan yang akan mengajukan registrasi pertama kali untuk mendapatkan nomor ID perlu dipersyaratkan surat rekomendasi dari Assosiasi, sedangkan bagi perusahaan yang akan memperpanjang nomor registrasi mohon agar dipersyartkan kartu anggota sebagai bukti keanggotaan dalam Assosiasi;

187 Laporan Tahunan Badan Karantina Pertanian TA 2012

f) Bagi perusahaan yang baru mendapatkan nomor registrasi perlu dipersyaratkan keharusan hanya memberi marka pada hasil produksinya sendiri selama 1 tahun berturut-turut;

g) Bagi perusahaan kemasan kayu yang telah memiliki nomor ID harus mempunyai target minimal 30% memproduksi sendiri dan hanya memberi marka pada kemasan kayu hasil produksi sendiri atau vendor dari ID yang sudah diikat dengan sub kontrak;

h) Perlu ditetapkan aturan/kebijakan yang jelas tentang incomming pallet; i) Incoming pallet harus berasal dari vebdor yang diikat dengan sub kontrak,

dan di Pedoman Reg. Perlu di atur sub kontrak;

j) Perusahaan kemasan kayu harus memiliki subkontrak MoU dengan perusahaan fumigasi AFASID, jika perusahaan menggunakan perlakuan untuk kemasan kayu dengan MB, sebaliknya jika perusahaan kemasan kayu yang menerapkan secara penuh perlakuan HT tidak dipersyaratkan lagi melakukan kerjasama (MoU) dengan perusahaan fumigasi AFASID; k) Perusahaan Kemasan Kayu dan Fumigasi AFASID tidak diperkenankan

berada dalam satu kepemilikan dan nama yang sama;

l) ID.999 milik Badan Karantina Pertanian hanya boleh dipergunakan sesuai peruntukannya;

m) Kemasan kayu dimarking sebelum diberi perlakuan pada dasarnya tidak diperbolehkan namun untuk kondisi-kondisi tertentu kiranya dapat diperkenankan;

n) Kemasan Kayu yang sudah berisi komoditas yang berasal dari wilayah layanan luar pulau Jawa yang dikapalkan lewat pelabuhan pengeluaran Tanjung Priok atau Surabaya sebaiknya perlakuan/marking harus dilakukan sebelum diisi komoditas (di tempat asal kemasan kayu dan komoditas) namun dalam kondisi-kondisi tertentu kiranya dapat diperkenankan;

o) Ketentuan keharusan memarking kemasan kayu hasil produksi sendiri sekurang-kurangnya 30% dari order yang diterima setiap bulannya dengan menggunakan Perlakuan HT masih sulit diterapkan terutama untuk wilayah layanan DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten untuk itu mohon ditinjau kembali;

p) Wilayah layanan pelaksanaan marking/sertifikasi kemasan kayu tetap dibatasi berdasarkan Pedoman Registrasi Perusahaan Kemasan Kayu Skim Audit Barantan;

q) Perusahaan kemasan kayu yang sudah mendapat nomor ID harus mempunyai akses penuh terhadap eksportir, customer, atau klient nya: r) Setuju dengan rencana penggunaan system barcode pada setiap kemasan

kayu yang dimarking, namun kami mohon diberi cukup waktu untuk persiapan biaya, sarana dan prasarana, SDM, serta sosialisasi kepada eksportir, customer atau client;

s) Sambil menunggu kesiapan system barcode secara online, diusulkan untuk sementara pelaksanaan system barcode terhadap kemasan kayu dengan cara penempelan stiker pada setiap kemasan kayu dimana biaya

188 Laporan Tahunan Badan Karantina Pertanian TA 2012

pencetakan stiker dibebankan kepada anggaran pencetakan yang ada di setiap UPT, sedangkan sistim penomorannya ditentukan oleh Pusat;

t) Setuju dengan rencana pengenaan pajak PNBP terhadap setiap marka (sebagai pengganti sertifikat karantina) yang dipakai oleh pihak ketiga,namun demikian agar diperjelas terlebih dahulu landasan hukumnya;

u) Koperasi yang telah mendapatkan nomor AFASID agar dapat bersaing secara professional dan mandiri dengan pihak ketiga yang non koperasi; v) Koorlap/Kepala UPT agar lebih meningkatkan pengawasan dan

pembinaan pelaksanaan perlakuan dan sertifikasi/marking kemasan kayu oleh pihak ketiga;

w) Peran dan fungsi Assosiasi APJASKINDO sebagai wadah sarana komunikasi penyebaran informasi terbaru dari Barantan harus lebih ditingkatkan;

x) APJASKINDO perlu dilibatkan dalam Management Review SAB;

y) APJASKINDO dapat dilibatkan dalam proses penilaian hasil audit terhadap perusahaan kemasan kayu;

z) Mohon dengan hormat kepada Ibu Kepala Badan Karantina Pertanian untuk memberikan teguran tertulis bagi perusahaan kemasan kayu pemilik ID yang dengan sengaja menolak untuk hadir didalam acara workshop implementasi SAB;