Laporan Evaluasi Kinerja Badan Karantina Pertanian TA 2012 vi 7) Desiminasi Penilaian Persyaratan Teknis IKH (30 orang)
BIDANG KERJASAMA
D. Kerjasama Multilateral
1) Laporan Pertemuan Commission Phytosanitary Measures (CPM-7),
International Plant Protection Convention, 19-23 Maret 2012
SidangCPM-7sebagai rutin diselenggarakan setiap tahun oleh Sekretariat
Internasional Plant Protection Convension (IPPC), FAO,berkedudukan di
Roma, Italia. Sidang CPM-7 IPPC ini dihadiri oleh para wakil pejabat tinggi dari negara-negara anggota berjumlah 177 negara.
Pembahasan umum materi sidang terkait kebijakan internasional sistem perlindungan tumbuhan dan penetapan standard internasional dengan ruang lingkup pertanian, kehutanan, lingkungan hidup dan tumbuhan yang hidup diair dalam mewujudkan ketahanan pangan dan harmonisasi perdagangan globa lselaras dalam WTO-SPS. Delegasi Indonesia pada sidang CPM-7dihadiri olehKetua delegasi Ir. BanunHarpini, MSc, Kepala Badan Karantina Pertanian dengan anggota Dr. Ir. ArifinTasrif, MSc, Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati, Ir. Erma Budiyanto, M.Si., Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Ditjen Tanaman Pangan, Dr. Ir. Antarjo Dikin, Wakil Asia Anggota Standard Committee IPPC dari Badan Karantina Pertanian, YadiRusyadi, Kepala Subdit Teknologi Pengendalian OPT.
Pada Pembukaan Sidang CPM–7disampaikan sambutan Direktur Jenderal FAOdengan catatan pentingnya kehadiran delegasi untuk berkontribusi mengentaskan kerawanan pangan dunia dalam kebijakan perlindungan dan pendistribusian pangan tanpa ada hambatan denngan penggunaan standard yang disepakati bersama. Sambutan singkat dari sekretaris jenderal IPPC menyampaikan ucapan terima kasih kepada delegasi untuk membangun komitmen mengentaskan berbagai kesulitan dalam berbagai sektor terutama pada pertanian, kehutanan serta melibatkan generasi muda.
Agenda sidang CPM-7 yang disepakati membahas butir-butir penting yang perlu menjadi perhatian dan tindak lanjut:
1. Laporan kerja Standard Committee selama tahun 2011 telah membuat konsep standard atas usulan dari Sidang CPM dalam pertemuan Standard Committee 25 negara secara rutin dan pemanfaatan virtual elektronik, namun masih lambat penyelesaian draft, serta kompleksitas permalahan untuk penerapan kebijakan internasional tersebut dalam perdagangan global antara lain: konsep standard pemeriksaan kontainer kosong (empty sea container) dari mobiltas antar negara dalam pencegahan kontaminasi quarantine pests, perlakuan dielectric treatment (microwave) hanya terbatas pada komodtas kayu bukan untuk kemasan kayu.
2. Diterimanya pada pleno CPM terhadap revisi terminologi dari istilah Official Control dan Not Widely Distributed yang masih selas definisi dalam PP No. 14 tahun 2002 tentang karantina tumbuhan.
3. Diterimanya dalam pleno terdapat Annex ISPM 27 Diagnostic Protocol untuk Trogoderma granarium Everts dan Plum Pox Virus sedangkan
244 Laporan Tahunan Badan Karantina Pertanian TA 2012
untuk perlakuan Cold treatment diserahkan kembali kepada Standard Committee (SC) untuk dilakukan kaji ulang pada pertemuan SC mendatang.
4. Cold treatment terhadap buah untuk perlakuan lalat buah dibatalkan diterima untuk CPM, tentunya ini akanditeruskan ke SC untuk
pembahasan lebih lanjut.
5. Beberapa hal disampaikan pembahasan terkait untuk upaya peningkatan percepatan proses dan kualitas pembuatan standard IPPC dengan 30 rekomendasi yang disampaikan dari Focus Group antara lain: selama masa 14 hari sebelum sidang CPM, masing-masing negara hanya diperkenankan mengajukan koreksi bersifat substansi dengan alasan teknis yang dapat dipertanggung jawabkan,Sekretariat akan memperhatikan usulan NPPO bila adanya surat resmi keberatan terhadap akan ditetapkan standard dansetiap standard harus memuat kajian dampak terhadap biodiversity.
6. NPPO perlu memperhatikan usulan revisi dari proces pengembangan standard dari IPPC yang akan disyahkan dalam CPM meliputi tahapan umum: Pengembangan program kerja IPPC berupa pembuatan daftar topik standard yang akan dibuat; drafting; member consultation dan adopsi serta publikasi.
7. Dalam pleno disampaikan review terhadap kelangsungan pelaksanaan IPPC meliputi: Strategic Framework tahun 2012-2019; Financial report 2011; Budget and operational plan 2012; the IPPC resource mobilization strategy. Sekretariat IPPC melakukan kajian ulang terhadap daftar standard yang akan diselesaikan oleh SC berdasarkan urutan prioritas kebutuhan serta sekretariat menghapus terhadap usulan CPM sebelumnya untuk dikerjakan SC. Indonesia keberatan akan dihapuskannya standard IPPC tentang Appropriate Level of Protection (ALOP). Standard ini perlu dibuat oleh sekretariat mengingat setiap negara menetapkan batasan ALOP beragam yang tidak diketahui parameter yang digunakan, diharapkan bila ada standard untuk penetapan ALOP maka akan lebih transparan suatu negara dan dapat meminimalkan hambatan import terutama dari negara maju.
8. STDF dari WTO Geneva akan menyelenggarakan seminar internasional Invasive Aliens Species, IAS pada tanggal 12-13 July 2012 sebelum sidang WTO-SPS. Tujuan dari seminar untuk memberikan pemahaman tentang IAS dan hubungan yang penting antara SPS, lingkungan pada perdagangan. Diharapkan negara anggota dapat menghadiri seminar dengan pendaftaran 16 April 2012 secara online.
9. Selaras dengan pengembangan layanan single window dalam upaya percepatan arus barang dalam perdagangan, STDF WTO akan membentuk working group untuk mewujudkan harmonisasi perdangan dan peningkatan pengelolaan SPS pada perbatasan negara. Topik
245 Laporan Tahunan Badan Karantina Pertanian TA 2012
bahasan merupakan kerjasama antara Karantina, Badan POM dan instansi Bea Cukai.
10. Terbentuknya organisasi perlindungan tumbuhan regional untuk kelompok negara Near East (NEPPO) merupakan bagian dari IPPC, semoga NEPPO dapat berkontribusi dan kerjasama dengan APPPC. 11. e-Phyto yang telah dibahas dalam workshop diselenggarakan di Korea
merupakan bentuk sertifikat elektronik dari ISPM 12 diharapkan secara voluntari negara anggota dapat mengembangkannya dengan negara mitra dalam perdagangan. Usulan dari CPM agar untuk dapat operasionalnya e-phyto akan dibentuk sterring committee atas nama CPM forum. Indonesia menyampaikan dalam sidang CPM bahwa telah siap aplikasi e-phyto untuk bermitra dari aplikasi yang telah dikembangkan Badan Karantina Pertanian.
12. Penggunaan logo ISPM 15 pada kemasan kayu sebagai pengganti sertifikat kesehatan (Phytosanitary Certificate,PC) yang dikeluarkan oleh NPPO masing-masing negara sebagai mandat penggunaan logo ISPM 15 dikeluarkan oleh FAO perlu dilindungi secara hukum agar tidak terjadi penyalahgunaan. PC merupakan dokumen resmi negara yang dikeluarkan NPPO, Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian. Badan Karantina Pertanian wajib mengendalikan penggunaan mark logo ISPM 15 pada kemasan kayu dalam perdagangan internasional. Logo ISPM 15 yang dikeluarkan oleh NPPO wajib dipatenkan dari lembaga paten Indonesia, selanjutnya secara resmi disampaikan kepada FAO untuk pengawasan penyalah gunaan tingkat internasional, ditetapkan persyaratan penggunaan logo dapat diterima internasional oleh NPPO. Selanjutnya NPPO wajib berkontribusi kepada FAO terkait untuk jaminan perlindungan terhadap logo ISPM 15 NPPO Indonesia secara internasional untuk biaya perpanjangan registrasi sebesar US $ 27,000.00.
13. Adanya MoU IPPC dan Ozone secretariat agar menjadi perhatian Negara anggota IPPC sebagai tindak lanjut pertemuan Montereal Protocol di Bali 21-25 Nopember 2011, maka penggunaan fumigan methyl bromide (MB) hanya untuk aplikasi karantina dan pra-pengapalan. Terkait perlakuan karantina hanya untuk eradikasi quarantine pests saja dan dilarang untuk penggunaan karantina terhadap non-quarantine pests. Upaya yang perlu dilakukan untuk pengurangan/pengganti penggunaan methyl bromide oleh setiap negara yaitu: penggunaan alternative MB, mengurangi penggunaan MB, mengurangi secara fisik dari emisi MB, dan mencatat penggunaan MB secara kuantitas, jenis OPTK yang diberikan treatment, komoditas yang diberikan perlakuan, untuk tujuan impor atau export pada tindakan karantina. Penggunaan MB selama ini agar dilaporkan kepada sekretariat ozone, the United Nation of Environmental Program, Nairobi, Kenya sebelum 13 Maret 2013.
14. Pembahasan rules dan procedures terkait pemilihan ketua dan wakil ketua dari CPM masih memerlukan perhatian untuk disepakati serta
246 Laporan Tahunan Badan Karantina Pertanian TA 2012
pertimbangan pemberlakuan urutan 7 regional IPPC, serta pengusulan ketua mendatang sidang CPM-8 akan dipimpin oleh wakil regional Asia. Indonesia untuk pemilihan ketua CPM-8 mendatang mendukung Korea selaku wakil Regional Asia, namun dari hasil voting dari 128 negara dihasil sbb: 2 abstaint, 1 rusak, 63 untuk UK dan 62 untuk Korea (Asia).
15. Simposium dilakukan disela-sela CPM dan materi penting yang perlu menjadi perhatian terhadap perdagangan tumbuhan melalui internet global sebagai pathway, dari hasil observasi bahwa umumnya tidak dilengkapi persyaratan kesehatan dan sungguh berisiko bagi negara. Selain itu terhadap perhatian mobilitas tumbuhan aquatik diperdagangkan yang belum diketahui status tanaman dapat bermanfaat atau sebagai pests (gulma).
Disela sela sidang CPM-7 dilakukan pertemuan bilateral dengan negara mitra dagang Indonesia terkait adanya hambatan dagang:
Indonesia-Malaysia:
Indonesia meminta klarifikasi terkait adanya hambatan dagang daun Nypa
fruticans dan tumbuhan Vitex trifolia ke Malaysia terhadap penerapan
analisa risiko (Pest Risk Analysis, PRA) yang dilakukan Malaysia.
Penjelasan Malaysia bahwa dari hasil intersepsi kedua komoditas yang dilalu lintaskan dengan PRA sementara tidak ditemukan quarantine pests (OPTK) dan pihak Malaysia segera membuat pernyataan resmi akan dibukanya hambatan dagang tersebut.
Canada – Indonesia:
Canada meminta penjelasan terhadap adanya hambatan Indonesia kentang Atlantis asal Canada dengan adanya Virus Potato Mop Top dan kontaminasi Erwinia carotovoraserta meminta bagaimana upaya penyelesaian bersama sesuai dengan aturan SPS yang berlaku. Berikut adanya pemberlakuan keamanan pangan terhadap kentang Canada. Canada juga akan menawarkan capacity building untuk Indonesia, kiranya peluang mana yang dapat dibantu oleh Canada.
Berdasarkan hasil analisa risiko terhadap kentang asal Canada dan hasil intersepsi terhadap bibit kentang yang pernah masuk ke Indonesia, bahwa pernah ditemukan adanya cemaran virus mop top dan bakteri Erwinia pada kentang tersebut sehingga dilakukan pemusnahan. Untuk penyelesaian dengan Indonesia maka diberikan peluang sepanjang Canada dapat memproduksi kentang dari area yang bebas quarantine pests tersebut sebagaimana aturan SPS dan telah dibuktikan oleh team ahli Indonesia melalui pengujian lapang dan laboratorium.
Selain dari pada itu disampaikan kebijakan importasi bibit kentang di Indonesia hanya untuk varietas Atlantik dan tidak diijinkan untuk varietas
247 Laporan Tahunan Badan Karantina Pertanian TA 2012
Granola. Untuk kebutuhan kentang konsumsi, Indonesia menerapkan aturan keamanan pangan (Permentan No. 88 tahun 2011 tentang PSAT), bahwa harus bebas dari cemaran bahan kimia dan mikiroorganisme berbahaya/pestisida pada produk yang dikirim ke Indonesia. Untuk pembuktian tersebut Indonesia menawarkan untuk pengujian terlebih dahulu terhadap budidaya pertanian yang bebas penggunaan bahan kimia berbahaya/pestisida serta industri hilirnya terhadap produk kentang yang akan dikirim bebas dari cemaran. Pembuktian tersebut akan dilakukan oleh team ahli Indonesia.
Indonesia menawarkan pada Canada untuk uji lapang oleh team ahli Indonesia kemungkinan dapat dilakukan pada bulan Juni 2012 sekaligus team ahli akan melakukan pengujian keamanan pangan di USA.
Untuk tawaran Canada pada capacity building, Indonesia mengajukan long term scholarship untuk degree Master dan PhD di Canada pada bidang bioteknologi molukuler,sistem keamanan pangan di Canada dan mengirim expert Canada dalam penguatan sistem perkarantinaan Indonesia.
Indonesia-Philippines:
Indonesia memintakan penjelasan kepada Phillipine terhadap proses analisa risiko pada rencana export buah berry (black berry, blue berry dan rash berry) ke Phillipine belum diselesaikan yang telah berlangsung selama 1 tahun, data dukung apa yang masih diperlukan dari permintaan yang telah dipenuhi.
Philipine telah mengkaji keinginan Indonesia dari analisa risiko, dan pada dasarnya sudah tidak ada hambatan, surat resmi akan segera diselesaikan untuk menerima produk buah berry Indonesia. Hal ini karena buah berry tidak ditanam luas di Phillipine.
Indonesia-Vietnam:
Indonesia menanyakan kepada Vietnam terhadap hambatan export benih jagung yang sudah cukup lama belum terselesaikan terhadap adanya perbedaan temuan jenis organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dari analisa risiko yang dilakukan oleh team Vietnam. Hasil observasi Vietnam ada 39 jenis OPT yang berbahaya dari Indonesia sehingga lama waktu diperlukan untuk pengkajian.
Indonesia-Japan
Terkait ekspor rock-melon ke Jepang yang terhambat, disampaikan bahwa melon di Mataram ditanam di Rumah kaca, tanpa bahaya lalat buah.
248 Laporan Tahunan Badan Karantina Pertanian TA 2012
Indonesia menjelaskan bahwa market access rock melon ke Jepang, seharusnya tidak perlu menunggu hasil kerjasama Jica (Jepang) – Indonesia tentang “Implementasi VHT buah mangga”, karena Rock Melon yang diusulkan dikultivasi pada agribisnis rumah kaca (Screen House) dan bebas dari infestasi lalat buah. Apabila Jepang ingin melakukan Verifikasi Lapang, maka pihak Indonesia akan sangat menghargai. Indonesia mengharapkan agar akses pasar rock melon ke Jepang dapat ditindaklanjuti dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Perwakilan Jepang Mr. Masato Fukushima masih memerlukan data sistem pengamanan dari investasi yang pernah dikirimkan melalui KBRI Jepang yang belum diberika tanggapan. Jepang meminta agar data tersebut segera dikirimkan untuk segera diselesaikan. Perwakilan Jepang menjelaskan terhadap banyaknya permintaan import produk pertanian yang akan dimasukkan ke Jepang sedangkan proses analisa risiko (PRA) cukup banyak, maka diminta Indonesia memilih prioritas antara Melon dan Mangga.
Pada posisi ini, Badan Karantina Pertanian selaku fasilitasi perdagangan (market akses) akan melakukan negosiasi untuk dapat memfasilitasi kedua produk tanpa harus melakukan pilihan dengan strategi konsep PRA dibuat oleh team ahli Badan Karantina Pertanian untuk negara Jepang guna percepatan membantu team Jepang.
2) Laporan Sidang Komite Sanitary And Phytosanitary (SPS) ke-53 (28-29 Maret 2012), ke-54 (9-11 Juli 2012), ke-55 (15-19 Oktober 2012) Di WTO, Jenewa
a. Penyusunan Posisi Pertemuan
Kegiatan Penyusunan Posisi Pertemuan Kerjasama Multilateral dimaksudkan untuk menyusun posisi Indonesia sebagai bahan negosiasi delegasi Indonesia dalam berbagai pertemuan kerjasama multilateral. Kegiatan berupa rapat-rapat koordinasi penyusunan posisi Indonesia untuk beberapa pertemuan kerjasama multilateral, antara lain Sidang Komite Sanitary and Phytosanitary (SPS) WTO dan Sidang Commission
on Phytosanitary Measures (CPM).
Sekretariat WTO secara reguler mengadakan Sidang Komite SPS-WTO sebanyak tiga (3) kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Maret, Juni dan Oktober. Pertemuan rutin yang diadakan tiga kali setiap tahunnya ini merupakan forum bagi upaya harmonisasi perdagangan dalam kerangka Sanitary and Phytosanitary (SPS) Measures. Selama tahun 2012 telah diselenggarakan Sidang Komite SPS-WTO ke-53, 54, dan 55.
Sidang CPM merupakan pertemuan rutin yang dilaksanakan setahun sekali di Kantor Pusat FAO di Roma-Italia. Sidang tersebut dihadiri oleh anggota CPM yang berasal dari negara-negara anggota IPPC dan
249 Laporan Tahunan Badan Karantina Pertanian TA 2012
WTO-SPS Committee, Standard and Trade Development Facility, dan
Convention on Biological Diversity. Hal-hal yang dibahas selama sidang
CPM antara lain: review status perlindungan tanaman di seluruh dunia, identifikasi tindakan yang dapat ditempuh untuk pengendalian organisme pengganggu tumbuhan yang tersebar di suatu daerah baru, pengembangan standar internasional, penetapan peraturan dan prosedur untuk penyelesaian perselisihan, pengesahan pedoman pengakuan terhadap organisasi perlindungan tumbuhan regional, dan kerjasama dengan lembaga internasional lainnya mengenai hal-hal yang tercakup dalam IPPC.