HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Peran Individu Dalam Proses Difusi Inovasi
C.3. Early Majority
a. Sebagai Komunikan (Message Reception)
Proses komunikasi yang terjadi pada kategori ini adalah bagaimana anggota dalam kategori ini menerima pesan (message reception) atau informasi mengenai DSLR dan bagaimana mereka mentransmisikan pesan (message dissemination) tersebut pada kategori di bawahnya.
Proses penerimaan pesan pada kategori ini sendiri dimulai dengan bagaimana seorang komunikan melakukan proses pencarian atau pengumpulan informasi yang memiliki keterkaitan dengan sebuah inovasi. Dalam proses penerimaan informasi ini peneliti menghubungkan dengan aspek teori dalam difusi inovasi, dimana sebelum suatu kategori mengadopsi sebuah inovasi dibutuhkan beberapa fase yang harus dilewati.
Rogers (1983 : 164-185) memberikan gambaran tentang beberapa tahapan dalam proses pengambilan keputusan dalam difusi inovasi sebagai berikut:
1. Knowledge
Pada tahapan ini, individu atau unit pengambilan keputusan lain merasakan terpaan inovasi yang ada dan mencapai pemahaman bagaimana inovasi tersebut berfungsi. Tipe pencarian informasi pada tahapan ini dapat dijabarkan menjadi, software information, yang terdapat pada inovasi itu sendiri dan mampu mengurangi ketidakpastian tentang hubungan sebab dan akibat yang terlibat dalam rangka meraih hasil yang kita inginkan (seperti menyadari adanya kebutuhan dan masalah individu), how-to knowledge yang terdiri atas penggunaan informasi penting untuk menggunakan inovasi dengan benar. Ketika seorang individu tidak mendapat informasi memadai pada tahapan ini, maka mereka akan menolak atau tidak meneruskan sebuah inovasi. Principles knowledge terdiri atas informasi yang berkenaan dengan fungsi dasar yang menjadi pokok bagaimana sebuah inovasi bekerja.
Pada awal pencarian informasi mengenai keberadaan DSLR, kategori awal pengguna ini justru mendapatkan banyak informasi dari teman ataupun relasi mereka (saluran komunikasi interpersonal). Minimnya informasi dari inovator saat itu mengenai produk DSLR menjadi sedikit penghalang bagi commit to user
individu kategori ini untuk mempelajari sepsifikasi kamera DSLR ini. Hal ini disebabkan teknologi inovasi ini pada saat itu merupakan hal langka dan terlampau mahal untuk dimiliki.
Dalam proses difusi inovasi komunikasi menjadi titik penting bagaimana sebuah pesan dapat dikomunikasikan. Sebelum memahami proses difusi inovasi melalui saluran komunikasi perlua danya pemahaman mengenai unsur source dan channel. Source atau sumber adalah individu atau organisasi yang menciptakan pesan. Sedangkan channel adalah sarana yang digunakan untuk menyebarkan pesan pada penerima (receiver) (Rogers, 1983 : 198).
Ada dua saluran menurut Rogers (1983 : 17) yang lazim digunakan, yakni mass media channels dan interpersonal channels. Mass media adalah segala sesuatu yang digunakan sebagai sarana transmisi pesan, meliputi radio, televisi, koran, dan lainnya yang memungkinkan sumber untuk mencakup beberapa audiens. Di sisi lain, saluran interpersonal lebih efektif untuk membujuk seorang mengadopsi ide baru, khususnya jika channel interpersonal tersebut menghubungkan dua atau lebih individu yang berdekatan.
Saluran komunikasi melalui media massa dirasa mampu menjangkau target audiens secara luas, namun dari efek perubahan perilaku, saluran komunikasi interpersonal memiliki cakupan yang lebih efektif.
Saluran komunikasi melalui media massa menemui hambatan karena kompleksnya audiens. Jaringan dan koneksi antar individu tidak bisa diprediksi. Untuk itu saluran komunikasi individu melalui komunikasi interpersonal dirasa mampu menjangkau jaringan sosial tersebut.
Sedangkan saluran interpesonal dianggap mampu memberikan pengaruh yang kuat. Saluran komunikasi interpersonal meliputi penyampaian pesan melalui proses tatap muka antar dua individu atau lebih.
Pada bagian ini kita melihat bagaimana individu setuju dengan cara kita mengorganisasi dan mengatur informasi dan bagaimana informasi mempengaruhi sistem kognitif kita (Rogers, 1983 : 123).
Littlejohn (2002 : 123) mengemukakan sebuah teori Information-Integration Theory yang melihat bagaimana seseorang mengumpulkan dan commit to user
mengorganisasi informasi tentang orang lain, objek, situasi, atau ide dan bentuk perilaku (Littlejohn, 2002 : 123). Ada beberapa variabel penting bagaimana sebuah informasi mampu mengubah pola perilaku kita, informasi harus memenuhi dua syarat, yakni Valence, bagaimana sebuah informasi mendukung kepercayaan kita dan sikap yang kita miliki, informasi memiliki “positive valence” namun, ketika sebuah informasi tidak mendukung sikap dan kepercayaan kita informasi tersebut mengandung “negative valence” (Littlejohn, 2002 : 124).
Variabel selanjutnya adalah weight , ketika sebuah informasi dirasa memiliki sebuah kebenaran maka kita akan memberikan weight atau penekanan / perhatian yang lebih tinggi atas informasi tersebut. Namun, ketika informasi dirasa tidak benar, tingkat penekanan akan rendah.
Sebuah sikap terdiri atas akumulasi dari informasi tentang objek, personal, situasi, dan pengalaman. Perubahan sikap terjadi karena informasi baru menambah sikap atau merubah salah satu pandangan mengenai weight dan valence dari informasi lain.
Pada tahap knowledge subjek mulai melakukan proses pencarian informasi mengenai DSLR. Hal ini terkait dengan makin mendesaknya penggunaan DSLR karena adanya tuntutan deadline yang tidak bisa dipenuhi dengan menggunakan kamera analog yang mereka gunakan sebelumnya. Selain itu munculnya teknologi digital pada awal periode tahun 2000-an membuat penggunaan analog mulai ditinggalkan. Hal ini terkait dengan kecepatan kerja dan efisiensi dari segi harga dan hasil yang didapatkan. Produsen film untuk kamera analog semakin sulit didapatkan, hal ini yang membuat mereka harus memutar otak bagaimana mencari alternatif teknologi lama mereka.
Proses penerimaan pesan (message reception) dilakukan seorang early majority melalui kontak dengan berbagai saluran komunikasi dan sumber informasi. Dari awal muncul inovasi teknologi DSLR mereka aktif mencari informasi mengenai teknologi tersebut. Pada awal kemunculannya pada periode Tahun 2000-an belum tersedia banyak informasi mengenai produk ini. Informasi mereka dapatkan dari berbagai saluran komunikasi, melalui commit to user
media cetak dan saluran komunikasi interpersonal. Media elektronik seperti internet masih sangat terbatas pada saat itu. Kebanyakan informasi diperoleh melalui media cetak seperti koran dan majalah.
“Saya ga belajar dari media apapun. Saya ga pernah baca, teori saya abaikan. Saya waktu itu sempetnya belajar dari brosur, biasanya dapet dari produsen, atau pameran. Dulu brosur ini dikirim ke media-media kita. Di brosur itu terbatas informasinya, saya cuma belajar soal spesifikasi aja dari brosur itu, bukan teknis. Saya pertama kali ga merasakan kesulitan, penggunaannya kan mirip dengan analog. Saya dapat pelatihan dari Jakarta waktu itu soal kamera digital. Dari forum fotografi Jakarta waktu itu sekitar tahun 2003-an. Saya karena terbiasa pakai analog jadi ga kesulitan dengan kamera digital.”
(Sunaryo Haryo Bayu, Fotografer Senior Solopos, 48 th)
“Pertama kali dapat info sih saya nyari-nyari sendiri. Dari kantor tidak menyediakan. Kalau informasi soal DSLR saya tanya temen-temen aja yang lain.
Waktu itu saya dapat informasi soal kamera D70 itu saya baca-baca dari iklan koran aja terus titip temen yang berada di Singapore. Di Jogja (daerah) belum ada mungkin saat itu.”
(Tarko Sujarno, Jakarta Pos Kontributor Yogyakarta, 52 th)
“Saya mendapat informasi soal DLSR dari majalah, jadi sebelum muncul di pasar saya sudah dapat informasi dari majalah saat itu kalau sebentar lagi akan beredar kamera DSLR. Sejak tahun 1998 saya udah dapat informasi. Belum ada internet saat seperti saat ini. Saya belajar dari majalah soal hasil foto dari fotografer luar negeri dari majalah itu. Dari majalah seperti Foto Asia dan Foto Media saya mendapatkan info dari media itu.” (Ali Lutfi, Jakarta Globe dan Kontributor EPA, 38 th)
“Saya dapat informasi mengenai DSLR itu dari toko kamera, majalah dan dari temen-temen, banyak saat itu temen-temen yang pindah ke DSLR jadi saya tanya-tanya mereka. Kalau yang terakhir beli kamera ini saya banyak tanya nya ke penjual kamera nya malahan apa kelebihan dan kekurangan kamera ini.
Kalau saya jadi orang tu sering nanya ke temen seperti senior saya dari Jogja. Dia yang sering pertama kali nyoba teknologi baru, jadi sering nanya ke dia.”
(Pang Hway Seng, Fotografer Profesional, 63 th) commit to user
Rogers (1983 : 200) memberikan beberapa asumsi mengenai tingkatan penggunaan saluran komunikasi dalam proses difusi tersebut.
1. Asumsi 1 : Mass media relatif lebih penting pada fase pengetahuan dan saluran komunikasi interpersonal lebih penting pada fase persuasi
Sill (1958) menemukan bahwa jika menginginkan daya serap terhadap adopsi bisa tinggi, maka diperlukan penggunaan saluran komunikasi dengan waktu ideal dan secara berkelanjutan, bergantian antara penggunaan saluran media massa kemudian saluran interpersonal.
Pada fase pengetahuan mengenai inovasi, penggunaan media massa memberikan perhatian / awareness, menuju grup, dan pada akhirnya menuju masing-masing individu. Daya dorong pengetahuan terhadap inovasi diciptakan oleh media massa untuk kemudian saluran interpersonal berperan menggerakan individu pada fase persuasi.
,sedangkan mas media keseluruhan merupakan kosmopolitan.
2. Asumsi 3 : Saluran media massa relatif lebih penting dibanding saluran interpersonal untuk adopter tingkat awal dibanding adopter tingkat akhir.
Pada saat ini inovator hanyalah satu-satunya tingkatan dalam sistem difusi yang mengadopsi sebuah ide baru sehingga tidak ada seorang pun dalam sistem yang berpengalaman dengan inovasi. Seorang late adopter tidak perlu berhubungan langsung dengan media massa, dirinya lekat dengan saluran interpersonal pada sistem sosial. Early adopter membutuhkan informasi karena sifatnya yang suka berpetualang mencari informasi, untuk itu stimulus dari media massa cukup untuk menggerakan mereka. Sedangkan late adopter membutuhkan pengaruh yang kuat dan cepat, seperti jaringan interpersonal.
Model komunikasi multi-step flow secara umum dapat diterima untuk menjelaskan saluran komunikasi dan pola penyebaran pesan dalam proses difusi inovasi. Model multi-step flow menyadari adanya banyak penghubung antara media dan final receiver, model ini melihat lebih banyak kemungkinan dalam proses penyebaran dan penerimaan pesan. Dalam proses difusi inovasi,
individu tertentu akan mendengar langsung sebuah informasi melalui media dimana individu yang lain tidak melakukannya (Littlejohn, 2002 : 314).
Segala informasi yang minim melalui media tersebut menciptakan rasa ingin tahu tentang apa saja yang bisa dihasilkan melalui teknologi DSLR ini. Hal ini membawa mereka kepada fase selanjutnya dalam proses difusi inovasi. Bergerak dari fase kognitif menjadi afektif.
2. Persuasion Stage (Tahapan Persuasi)
Tahapan ini menunjukan bagaimana seorang individu bersikap setelah melalui tahapan pertama dalam pengetahuan. Seorang individu akan terlibat lebih secara psikologis kepada inovasi tersebut: mereka akan aktif mencari informasi mengenai sebuah ide baru, dimana mereka mencari informasi, pesan apa yang mereka terima, dan bagaimana mereka menginterpretasikan pesan tersebut.
Pada tahapan persuasi yang erat hubungannya dengan proses pengambilan keputusan, seorang individu akan aktif mencari beberapa tipe informasi, yakni : innovation-evaluation information yang mana untuk mengurangi ketidakpastian tentang konsekuensi yang diharapkan pada sebuah ide baru (inovasi). Tipe informasi ini didapat dengan mudah melalui evaluasi ilmiah mengenai inovasi, biasanya bersifat subjektif berasal dari orang terdekat yang telah menggunakan ide tersebut dan sangat meyakinkan. A preventive innovation adalah ide baru yang diadopsi individu dalam rangka menghindari peristiwa yang tidak diinginkan terjadi di masa depan (Rogers, 1983 : 169).
Proses pencarian informasi pada tahap ini sangat mempengaruhi sisi afektif dibanding kognitif individu saat mendapatkannya. Inidividu pada kategori ini akan mencari informasi yang terkait dengan segala sesuatu yang mengurangi ketidakpastian terhadap produk inovasi yang akan diadopsi. Karakter sebuah inovasi yang mempengaruhi penerimaan oleh seorang individu dapat dijelaskan sebagai berikut (Rogers, 213-232) :
a. Relative Advantage (Kegunaan Relatif)
Adalah sebuah tingkatan dimana inovasi diterima sebagai sesuatu yang lebih baik untuk menggantikan sebuah ide. Tingkat relatifitas ini bisa diukur melalui faktor ekonomi, kepuasan, dan kecocokan dalam menggunakan sebuah inovasi. Makin tinggi sebuah keuntungan relatif dari inovasi, maka makin cepat pula sebuah adopsi akan terjadi.
Pada tahapan ini hampir semua menyadari pentingnya DSLR dalam menunjang kinerja mereka. Kamera analog sudah tidak lagi menjadi acuan karena dirasa sudah tidak mampu memenuhi target kerja dan terlalu rumit dalam proses produksi dan pasca produksinya. Relative advantage yang ditawarkan oleh teknologi DSLR mendorong percepatan adopsi teknologi ini. Kepraktisan dan kecepatan yang menjadi daya tarik bagi sebagian fotografer khususunya di dunia jurnalistik.
“Kalo pertama makai DSLR sih ga ada kesulitan, malahan DSLR itu sangat memudahkan. Kalau kamera digital sih saya otodidak karena sering belajar dari hasil memakai analog dulu. Internet belum seperti sekarang waktu tahun 2000 itu.”
(Sunaryo Haryo Bayu, Fotografer Senior Solopos, 48 th)
“Kalau teknis sih hampir mirip dengan analog kok. Ga ada kesulitan. Waktu pakai film sih kurang leluasa. Tinggal pencet kalau pakai pocket atau DSLR, kepraktisan dan kecepatan. Langsung jalan aja waktu itu ga pakai belajar-belajar, karena udah familiar aja dengan analog Nikon saat itu. Hampir sama dengan kamera analog, Cuma banyak mode yang dimainkan di kamera digital.
Begitu menerima saya langsung pakai, belajar di lapangan waktu itu langsung saya pakai. Tidak ada kesulitan, malah langsung terbantu saat itu.”
(Tarko Sujarno, Jakarta Pos Kontributor Yogyakarta, 52 th)
b. Compatibility (Kecocokan)
Adalah sebuah tingkatan dimana sebuah inovasi diterima karena konsisten dengan nilai-nilai yang sudah ada, pengalaman masa lalu, dan kebutuhan oleh adopter potensial.
Beberapa temuan dari wawancara menunjukan nilai kecocokan inovasi yang mereka coba adaptasi terbantu karena adanya pengalaman masa lalu menggunakan analog. Jadi proses belajar individu pada tahap ini commit to user
berlangsung cepat. Kecocokan terhadap nilai kebutuhan akan produk digital saat itu menjadikan sebagian besar narasumber menjadi tertarik dan terdorong untuk melakukan adopsi.
“...Langsung jalan aja waktu itu ga pakai belajar-belajar, karena udah familiar aja dengan analog Nikon saat itu. Hampir sama dengan kamera analog, Cuma banyak mode yang dimainkan di kamera digital.”
(Tarko Sujarno, Jakarta Pos Kontributor Yogyakarta, 52 th)
“...Kalau kamera digital sih saya otodidak karena sering belajar dari hasil memakai analog dulu.”
(Sunaryo Haryo Bayu, Fotografer Senior Solopos, 48 th)
c. Complexity (Kompleksitas/Kerumitan)
Adalah sebuah tingkatan dimana sebuah inovasi dilihat dari sisi kesulitan untuk memahami dan menggunakannya. Beberapa inovasi sudah siap untuk dipahami oleh beberapa anggota sistem sosial : anggota yang lain mungkin merasa rumit dan lambat dalam mengadopsi.
Nilai kerumitan pada teknologi digital DSLR mampu teratasi dengan tingkat kemahiran narasumber ketika menggunakan analog. Mereka menyebut teknologi ini tidak berbeda jauh dari sisi penggunaan dengan kamera analog terdahulu. Hal ini membuat proses adopsi berlangsung cepat. Bisa dikatakan pengalaman masa lalu dengan produk analog membawa nilai tambah tersendiri yang mempermudah mereka.
Informasi mengenai kamera digital untuk mempermudah penggunaan bukan menjadi hal yang mutlak lagi. Kesulitan yang dialami bagi pengguna awal ini adalah proses post produksi terkait dengan editing yang tidak secara langsung berhubungan dengan adopsi teknologi ini.
“...Langsung jalan aja waktu itu ga pakai belajar-belajar, karena udah familiar aja dengan analog Nikon saat itu. Hampir sama dengan kamera analog, Cuma banyak mode yang dimainkan di kamera digital.
Begitu menerima saya langsung pakai, belajar di lapangan waktu itu langsung saya pakai. Tidak ada kesulitan, malah langsung terbantu saat itu.”
“Tidak ada kesulitan dalam transisi penggunaan kamera analog ke digital. Kesulitan lebih ke post produksi nya. Masalah komputer yang lambat pada saat itu.”
(Ali Lutfi, Jakarta Globe dan Kontributor EPA, 38 th)
“Saya ga ada kesulitan menggunakan kamera DSLR itu, kesulitannya justru pada post produksinya, bagaimana memproses di komputer itu sendiri.
Hitungan hari saya belajar. Tidak lama saya belajar, dari sales nya saja saya sudah bisa mengoperasikan. Lebih susahnya ya itu bagaimana back up data nya, gimana kalo file rusak, gimana edit nya, seperti itu lah susahnya.”
(Pang Hway Seng, Fotografer Profesional, 63 th) d. Trialability (Percobaan)
Adalah tingkatan dimana sebuah inovasi dapat di eksperimen dengan batasan dasar. Sebuah inovasi atau ide baru yang bisa dicoba dalam rencana instalasi akan lebih cepat diadopsi dibanding sebuah ide baru yang tidak bisa dicoba.
Meskipun informasi yang didapatkan dari berbagai media masih minim, tingkat pengetahuan individu terhadap teknologi analog terdahulu membantu mereka lekas beradaptasi melakukan percobaan dengan inovasi baru. Hal ini menunjukan DSLR merupakan bentuk inovasi yang mudah diadopsi kategori ini.
“...Begitu menerima saya langsung pakai, belajar di lapangan. Waktu itu langsung saya pakai.”
(Tarko Sujarno, Jakarta Pos Kontributor Yogyakarta, 52 th)
“...Hitungan hari saya belajar.”
(Pang Hway Seng, Fotografer Profesional, 63 th)
e. Observability (Observatif)
Adalah sebuah tingkatan dimana hasil dari sebuah inovasi dapat dilihat oleh orang lain. Makin mudah sebuah hasil inovasi diamati oleh seseorang, maka inovasi tersebut akan mudah untuk diadopsi.
Informasi yang didapatkan melalui komunikasi interpersonal mengenai sebuah teknologi menjadikan sebuah inovasi mutlak harus memenuhi sarana observability dengan maksud ketika sebuah inovasi sudah diadopsi tingkat penggunaanya pun harus mudah diamati orang lain agar proses persebaran informasi dapat cepat berlangsung.
Pada fase ini saluran komunikasi interpersonal memberi nilai tambah bagi persebaran informasi, artinya sebuah inovasi harus mampu di observasi secara verbal maupun non verbal. Ketika inovasi mampu disaksikan nilai lebih nya, maka proses adopsi akan berjalan cepat.
“...Kalau saya jadi orang tu sering nanya ke temen seperti senior saya dari Jogja. Dia yang sering pertama kali nyoba teknologi baru, jadi sering nanya ke dia.”
(Pang Hway Seng, Fotografer Profesional, 63 th)
3. Decision Stage (Tahapan Keputusan)
Tahapan pengambilan keputusan terjadi ketika seorang individu atau unit pengambilan keputusan lain terlibat dalam aktivitas yang bertujuan untuk memilih atau menolak sebuah inovasi. Adopsi adalah keputusan untuk menggunakan secarap penuh sebuah inovasi jalan tindakaan terbaik. Rejection adalah penolakan dalam menggunakan sebuah inovasi.
Pada tahapan ini beberapa narasumber memiliki beberapa alasan yang menguatkan mereka untuk segera mengadopsi sebuah inovasi. Berpindah dari sistem manual menjadi digital. Pada fase ini seorang adopter akan mengambil keputusan apakah menerima atau menolak sebuah inovasi. Setiap keputusan disertai alasan yang menguatkan mereka mengenai kegunaan sebuah inovasi.
Optional innovation-decisions terjadi ketika individu dalam sistem sosial memutuskan untuk mengadopsi sebuah inovasi karena keputusan yang merdeka dari dirinya sendiri terlepas dari anggota lain dalam sistem sosial. Meskipun dalam pengambilan keputusannya mereka dipengaruhi oleh norma sosial dan pengaruh komunikasi interpersonal.
“Ya karena di analog itu mahal di produksi, beli developer dan sebagainya. Sangat mahal. Kesulitan di lapangan sangat banyak dengan manual, terbatasnya jumlah roll film terutama. Kalau kita dipaksa makai analog ya kalah kita.”
(Sunaryo Haryo Bayu, Fotografer Senior Solopos, 48 th)
“Waktu itu sih tuntutan keadaan, karena pocket sudah tidak bisa menuruti kecepatan kerja terutama deadline. Kamera DSLR memotong banyak proses kerja dibandingkan dengan analog.”
(Tarko Sujarno, Jakarta Pos Kontributor Yogyakarta, 52 th)
“Terutama kemudahan ya, proses analog ke hasil fisik biasanya kita membutuhkan 1 jam. Efisiensi waktu, biaya, DSLR sangat memudahkan pekerjaan kita.”
(Ali Lutfi, Jakarta Globe dan Kontributor EPA, 38 th)
“Saya harus memakai DSLR, saya berfikiran kalau saya tidak memakai DSLR saya mati, waktu itu periode 2001-an toko kamera yang menjual film sudah bangkrut, lalu saya dapat film darimana? Dari majalah Foto Indonesia saya biasanya dapat kabar soal perkembangan dunia kamera, misal isu pailitnya Kodak, makanya saya jadi ngeri. Makanya saya terus terpaksa belajar DSLR itu.”
(Pang Hway Seng, Fotografer Profesional, 63 th)
Dalam proses penciptaan dan interpretasi pesan ini terdapat fakta pada salah satu narasumber bahwasanya dalam pengadaan kamera DSLR pengambilan keputusan adopsi merupakan proses pertukaran informasi dan bergantung pada keputusan seorang early adopter. Hal ini terkait hirarki perusahaan yang mengharuskan pengadaan dan keputusan mengadopsi teknologi DSLR tertentu merupakan hasil pertukaran informasi dengan early adopter. Sementara pada narasumber lain pengadaan atau adopsi kamera tidak mengalami proses seperti ini dikarenakan mereka secara sukarela menerima kamera (disediakan oleh kantor) ataupun merupakan kepemilikan pribadi.
Collective innovation-decisions adalah pilihan untuk mengadopsi atau menolak inovasi yang dibuat secara konsesus diantara anggota dari sistem sosial. Semua anggota unit dari sistem sosial biasanya akan patuh terhadap keputusan dari sistem ketika melakukan adopsi. commit to user
“...Kalau pengadaan kamera sih kita yang ngasih saran, misal pakai merk ini hasil seperti ini, kemudahan ini. Saya sharing ke bagian umum untuk pengadaan, kita sharing dengan mereka. Kita meyakinkan mereka pentingnya penggunaan kamera digital itu seperti itu. Kalau bagian umum berorientasi harga sedangkan kita teknis.
Sering terjadi crash waktu itu awal-awal penggunaan kamera digital itu. Biasanya soal pengadaan kamera itu. Biasanya karena perbedaan orientasi tadi. Kita ngasih perbandingan tu, bagaimana kalau memakai digital di Kompas atau Jawa Pos. Kadang mereka kurang bisa menerima karena alasan harganya terlalu mahal.” (Sunaryo Haryo Bayu, Fotografer Senior Solopos, 48 th)
Pada tahapan pengambilan keputusan, penting bagi seorang inovator untuk menghasilkan relative advantage bagi calon adopter yang ingin mereka tuju karena tidak ada satu inovasi yang mampu diadopsi tanpa melalui proses trial atas inovasi tersebut. Ketika relative advantage dirasakan seorang adopter maka akan mendorong mereka pada proses adopsi inovasi secara menyeluruh.
Ketika seorang adopter memilih sebuah inovasi, tentunya mereka sudah mengalami reduksi informasi yang mengurangi ketidakpastian akan inovasi yang akan diadopsi. Innovasi yang baru haruslah memenuhi kelima unsur tersebut diatas untuk memberi kemudahan adopsi ke depannya.
Segala kemudahan yang ditawarkan oleh DSLR pada waktu itu membuat semua subjek pada penelitian ini menyatakan bahwa keputusan mereka melakukan adopsi terhadap sebuah inovasi DSLR merupakan hal yang mutlak dilakukan. Selama melakukan adopsi tersebut semua narasumber