• Tidak ada hasil yang ditemukan

Late Majority

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah (Halaman 102-116)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Peran Individu Dalam Proses Difusi Inovasi

C.4. Late Majority

a. Late Majority Sebagai Komunikan (Message Reception)

Proses komunikasi yang terjadi pada kategori ini adalah bagaimana anggota dalam kategori ini menerima pesan (message reception) atau informasi mengenai DSLR. Pada kategori ini mereka tidak lagi mentransmisikan pesan (message dissemination) pada kategori di bawahnya. Karena pada kategori ini mereka tidak lagi mempunyai power untuk mempengaruhi kategori di bawahnya (Laggards). commit to user

Proses penerimaan pesan pada kategori ini sendiri dimulai dengan bagaimana seorang komunikan melakukan proses pencarian atau pengumpulan informasi yang memiliki keterkaitan dengan sebuah inovasi. Informasi mengenai teknologi inovasi bisa didapat dari berbagai saluran komunikasi yang digunakan. Dalam proses penerimaan informasi ini peneliti menghubungkan dengan aspek teori dalam difusi inovasi, dimana sebelum suatu kategori mengadopsi sebuah inovasi dibutuhkan beberapa fase yang harus dilewati.

Proses penerimaan pesan (message reception) dilakukan seorang late majority melalui berbagai saluran komunikasi. Kebanyakan dari mereka mulai menggunakan media cetak dan elektronik seperti internet pada saat itu. Hal ini terjadi karena masa dimana mereka menggunakan kamera DSLR untuk pertama kali, gelombang informasi melalui internet tengah mengalami booming. Selain itu pada kategori ini adopter menggunakan saluran komunikasi interpersonal dalam rangka mengumpulkan informasi mengenai kamera DSLR.

Kategori senior sebelum mereka (early majority) tidak memiliki peran dalam memberikan informasi terkait teknologi inovasi DSLR tertentu. Bisa dikatakan subjek penelitian pada kategori ini tidak menggunakan pertimbangan dari early majority dalam proses adopsi teknologi. Informasi lebih digali dari inovator sebagai penyaji informasi teknis. Sedangkan kategori early majority memberikan informasi bersifat non teknis. Karena dari sisi pencarian informasi kategori ini lebih aktif dalam menggunakan berbagai media saluran komunikasi termasuk media elektronik melalui internet.

Rogers (1983 : 164-185) memberikan gambaran tentang beberapa tahapan dalam proses pengambilan keputusan dalam difusi inovasi sebagai berikut:

1. Knowledge

Pada tahapan ini, individu atau unit pengambilan keputusan lain merasakan terpaan inovasi yang ada dan mencapai pemahaman bagaimana inovasi tersebut berfungsi. Tipe pencarian informasi pada tahapan ini dapat dijabarkan menjadi, software information, yang terdapat pada inovasi itu sendiri dan mampu mengurangi ketidakpastian tentang hubungan sebab dan akibat yang terlibat dalam rangka meraih hasil yang kita inginkan (seperti menyadari adanya commit to user

kebutuhan dan masalah individu), how-to knowledge yang terdiri atas penggunaan informasi penting untuk menggunakan inovasi dengan benar. Ketika seorang individu tidak mendapat informasi memadai pada tahapan ini, maka mereka akan menolak atau tidak meneruskan sebuah inovasi. Principles knowledge terdiri atas informasi yang berkenaan dengan fungsi dasar yang menjadi pokok bagaimana sebuah inovasi bekerja.

Pada bagian ini kita melihat bagaimana individu setuju dengan cara kita mengorganisasi dan mengatur informasi dan bagaimana informasi mempengaruhi sistem kognitif kita (Littlejohn, 2002 : 123).

Information-Integration Theory melihat bagaimana seseorang mengumpulkan dan mengorganisasi informasi tentang orang lain, objek, situasi, atau ide dan bentuk perilaku (Littlejohn, 2002 : 123). Ada beberapa variabel penting bagaimana sebuah informasi mampu mengubah pola perilaku kita, informasi harus memenuhi dua syarat, yakni Valence, bagaimana sebuah informasi mendukung kepercayaan kita dan sikap yang kita miliki, informasi memiliki “positive valence” namun, ketika sebuah informasi tidak mendukung sikap dan kepercayaan kita informasi tersebut mengandung “negative valence” (Littlejohn, 2002 : 123).

Variabel selanjutnya adalah weight , ketika sebuah informasi dirasa memiliki sebuah kebenaran maka kita akan memberikan weight atau penekanan / perhatian yang lebih tinggi atas informasi tersebut. Namun, ketika informasi dirasa tidak benar, tingkat penekanan akan rendah.

Sebuah sikap terdiri atas akumulasi dari informasi tentang objek, personal, situasi, dan pengalaman. Perubahan sikap terjadi karena informasi baru menambah sikap atau merubah salah satu pandangan mengenai weight dan valence dari informasi lain.

Dalam teori difusi inovasi, kategori ini merupakan kategori late adopter dimana tingkat penerimaan informasi mengenai inovasi tergolong lambat. Namun, dari sisi penggunaan teknologi untuk mendapatkan informasi, kategori ini adalah mereka yang melek internet. Seiring dengan booming internet pada waktu itu, maka informasi mengenai teknologi kamera DSLR mulai banyak bermunculan disediakan oleh situs-situs tertentu di dunia maya. Selain itu media commit to user

cetak seperti majalah serta interaksi dengan individu lain melalui komunitas maupun interpersonal tetap digunakan sebagai acuan mendapatkan informasi.

Informasi yang didapatkan melalui media seperti internet lebih banyak digunakan untuk mencari tahu mengenai proses pengambilan foto yang baik, sedangkan saluran interpersonal dijadikan pertimbangan pembelian produk DSLR itu sendiri. Pada kategori muda ini, saluran komunikasi yang digunakan untuk mengumpulkan materi mengenai produk inovasi sangat beragam, namun kebanyakan tidak mencari informasi mengenai apa itu inovasi DSLR ? peneliti melihat temuan ini sebagai hal baru dimana proses knowledge menjadi minim dilakukan. Hal ini bisa terjadi karena sebagian besar anggota sistem sosial sudah mengadopsi teknologi DSLR dan atau mereka telah melihat penggunaan DSLR melalui berbagai media (komunitas foto) atau penggunaan kamera analog sebelumnya.

“Saya kenal DSLR dari teman-teman, nyoba-nyoba pakai. Selain itu saya sering baca majalah Chip Foto Video saat itu saya baca-baca preview kamera lewat media itu sekitar tahun 2006-an. Kadang saya lihat dulu hasil-hasil dari fotografer Kompas atau Radar Jogja.”

(Kurniawan Arie, Fotografer Harian Joglosemar, 28 th)

“...Biasanya lewat internet, majalah, sekitar seminggu dua kali mungkin. Informasi yang saya cari lebih ke dramatisasi foto, pemilihan angle, lebih ke pemilihan foto. “

(Agoes Rudianto, Kontributor Kantor Berita Turki, 28 th)

“...Maksudnya ? kalau untuk membelinya saya dulu nanya-nanya temen dulu cari info.”

(Fahmi Widayat, Fotografer Profesional, 30 th)

“...Saya dulu dapat referensi soal DSLR itu dari teman, dan internet. kalau penggunaan kameranya saya dapatkan dari manual book kamera.”

(Fahmi Widayat, Fotografer Profesional, 30 th)

“Kalau dari internet biasanya lebih ke perbandingan harga dan detail spesifikasinya, kalau jaman itu belum ada situs yang commit to user

signifikan membahas fotografi seperti sekarang ini. Dulu Cuma pake google untuk mencari website toko-toko kamera untuk mengecek harga saja.”

(Hasan Sakri Ghozali, Fotografer Tribun Jogja, 28 th)

Ada dua saluran menurut Rogers yang lazim digunakan, yakni mass media channels dan interpersonal channels. Mass media adalah segala sesuatu yang digunakan sebagai sarana transmisi pesan, meliputi radio, televisi, koran, dan lainnya yang memungkinkan sumber untuk mencakup beberapa audiens. Di sisi lain, saluran interpersonal lebih efektif untuk membujuk seorang mengadopsi ide baru, khususnya jika channel interpersonal tersebut menghubungkan dua atau lebih individu yang berdekatan (Rogers, 1983 : 17).

Saluran komunikasi melalui media massa dirasa mampu menjangkau target audiens secara luas, namun dari efek perubahan perilaku, saluran komunikasi interpersonal memiliki cakupan yang lebih efektif.

Saluran komunikasi melalui media massa menemui hambatan karena kompleksnya audiens. Jaringan dan koneksi antar individu tidak bisa diprediksi. Untuk itu saluran komunikasi individu melalui komunikasi interpersonal dirasa mampu menjangkau jaringan sosial tersebut.

Sedangkan saluran interpesonal dianggap mampu memberikan pengaruh yang kuat. Saluran komunikasi interpersonal meliputi penyampaian pesan melalui proses tatap muka antar dua individu atau lebih.

Rogers memberikan beberapa asumsi mengenai tingkatan penggunaan saluran komunikasi dalam proses difusi tersebut (Rogers, 1983 : 200).

1. Asumsi 1 : Mass media relatif lebih penting pada fase pengetahuan dan saluran komunikasi interpersonal lebih penting pada fase persuasi

Sill (1958) menemukan bahwa jika menginginkan daya serap terhadap adopsi bisa tinggi, maka diperlukan penggunaan saluran komunikasi dengan waktu ideal dan secara berkelanjutan, bergantian antara penggunaan saluran media massa kemudian saluran interpersonal.

Pada fase pengetahuan mengenai inovasi, penggunaan media massa memberikan perhatian / awareness, menuju grup, dan pada akhirnya menuju masing-masing individu. Daya dorong pengetahuan terhadap inovasi

diciptakan oleh media massa untuk kemudian saluran interpersonal berperan menggerakan individu pada fase persuasi.

2. Asumsi 2 : Saluran kosmopolitan relatif lebih penting pada fase pengetahuan (knowledge), dan saluran lokal (localite) relatif lebih penting pada fase persuasi pada proses keputusan-difusi inovasi

Cosmpolite communication channel atau secara harfiah saluran komunikasi kosmpolitan, adalah mereka yang berasal dari luar sistem sosial yang tengah diinvestigasi : saluran lain mengenai ide baru yang mencakup individu-individu dari sumber di dalam sistem sosial mereka. Saluran interpersonal masuk ke dalam lokal maupun kosmopolitan, sedangkan mas media keseluruhan merupakan kosmopolitan.

Dalam proses difusi inovasi komunikasi menjadi titik penting bagaimana sebuah pesan dapat dikomunikasikan. Sebelum memahami proses difusi inovasi melalui saluran komunikasi perlu adanya pemahaman mengenai unsur source dan channel. Source atau sumber adalah individu atau organisasi yang menciptakan pesan. Sedangkan channel adalah sarana yang digunakan untuk menyebarkan pesan pada penerima (receiver) (Rogers, 1983 : 198).

Littlejohn (2002 : 314) menyatakan model komunikasi multi-step flow secara umum dapat diterima untuk menjelaskan saluran komunikasi dan pola penyebaran pesan dalam proses difusi inovasi. Model multi-step flow menyadari adanya banyak penghubung antara media dan final receiver, model ini melihat lebih banyak kemungkinan dalam proses penyebaran dan penerimaan pesan. Dalam proses difusi inovasi, individu tertentu akan mendengar langsung sebuah informasi melalui media dimana individu yang lain tidak melakukannya.

2. Persuasion Stage (Tahapan Persuasi)

Tahapan ini menunjukan bagaimana seorang individu bersikap setelah melalui tahapan pertama dalam pengetahuan. Seorang individu akan terlibat lebih secara psikologis kepada inovasi tersebut: mereka akan aktif mencari informasi mengenai sebuah ide baru, dimana mereka mencari informasi, pesan apa yang mereka terima, dan bagaimana mereka menginterpretasikan pesan

Pada tahapan ini anggota kategori ini mulai menindaklanjuti apa yang mereka dapatkan pada fase knowledge. Informasi yang diperoleh lebih dalam mengenai spesifikasi kamera, teknik pengambilan gambar, bahkan olah gambar. Media yang digunakan dalam tahap ini bervariasi, mulai dari media internet sampai dengan komunikasi interpersonal dengan rekan di lapangan.

“...Media selain itu saya belajar lewat internet misal dari fotografer.net, klinik foto kompas juga sering saya kunjungi. Keinginan saya menghasilkan foto yang baik membuat saya harus mengkonsumsi informasi soal bagaimana spesifikasi kamera dan teknis penggunaan kameranya.”

(Kurniawan Arie, Fotografer Harian Joglosemar, 28 th)

“...Selain itu untuk belajar teknis saya sering belajar lewat teman-teman di klub foto Fotkom di Jogja.”

(Kurniawan Arie, Fotografer Harian Joglosemar, 28 th)

“Kalau saya jarang mengikuti perkembangan teknologi, kalau dituruti ga ada habisnya, kalau memperhatikan perkembangan kamera digital sih sekali dua kali, kalau diturutin sekarang bisa banyak sekali perkembangan nya, dan tentunya harga semakin mahal.”

(Agoes Rudianto, Kontributor Kantor Berita Turki, 28 th)

“...Tapi kalau mempelajari teknis dan spesifikasinya saya biasa nanya temen-temen yang sudah duluan makai mas, kadang browsing di internet juga lewat media Facebook biasanya.” (Fahmi Widayat, Fotografer Profesional, 30 th)

“...Kalau dari teman biasanya kita ngomongin soal merek kamera tertentu, seperti kelebihan dan kekurangannya serta memaksimalkan dana yang dimiliki untuk memiliki teknologi terbaru.”

(Hasan Sakri Ghozali, Fotografer Tribun Jogja, 28 th)

Sama seperti kategori adopter diatas mereka, pencarian informasi mengenai DSLR dipengaruhi beberapa karakter inovasi (Rogers, 213-232) yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Relative Advantage (Kegunaan Relatif)

Adalah sebuah tingkatan dimana inovasi diterima sebagai sesuatu yang lebih baik untuk menggantikan sebuah ide. Tingkat relatifitas ini bisa diukur melalui faktor ekonomi, kepuasan, dan kecocokan dalam menggunakan sebuah inovasi. Makin tinggi sebuah keuntungan relatif dari inovasi, maka makin cepat pula sebuah adopsi akan terjadi.

Kegunaan dari DSLR yang sangat membantu memudahkan membantu cepatnya adopsi teknologi pada kategori ini. Setelah mengumpulkan berbagai informasi melalui berbagai saluran komunikasi. Keuntungan yang ditawarkan oleh produk inovasi ini menjadi daya tarik untuk diadopsi. Nilai tambah dari sisi kecepatan pengambilan gambar dan kebutuhan mengejar deadline kerja saat itu menjadikan proses adopsi berlangsung cepat.

“Saya mulai berpindah ke digital karena kebutuhan magang saya di Antara Foto, karena kebutuhan di lapangan yang mengharuskan kita menggunakan DSLR.”

(Kurniawan Arie, Fotografer Harian Joglosemar, 28 th)

“Kebutuhan akan kecepatan mengejar deadline, karena wartawan dituntut untuk mengirim berita dengan cepat, praktis, hemat waktu dan saat gelombang internet yang mulai berkembang.”

(Agoes Rudianto, Kontributor Kantor Berita Turki, 28 th)

“Kalau dibilang berganti sih belum, karena ya itu tadi kalau walaupun presentasenya kecil tapi kalau masih ada permintaan tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan analog lagi. Gampangnya sementara ini analog untuk hobi dan DSLR untuk profesi saya kebanyakan. Jadi karena tuntutan kebutuhan saya saat ini lebih banyak menggunakan DSLR. Kamera digital lebih cepat dalam proses produksi.”

(Fahmi Widayat, Fotografer Profesional, 30 th)

b. Compatibility (Kecocokan)

Adalah sebuah tingkatan dimana sebuah inovasi diterima karena konsisten dengan nilai-nilai yang sudah ada, pengalaman masa lalu, dan kebutuhan oleh adopter potensial.

Adanya kesulitan untuk tetap mengadopsi teknologi lama membuat seorang adopter harus berpindah mengadopsi sebuah inovasi baru.

“Kemudian waktu itu karena penggunaan analog cukup rumit ribet seperti cetak indexprint dan cuci film kemudian cukup berat di di biaya produksi dan kebutuhan perlengkapan kamera analog seperti roll film semakin susah didapatkan.” (Hasan Sakri Ghozali, Fotografer Tribun Jogja, 28 th)

c. Complexity (Kompleksitas/Kerumitan)

Adalah sebuah tingkatan dimana sebuah inovasi dilihat dari sisi kesulitan untuk memahami dan menggunakannya. Beberapa inovasi sudah siap untuk dipahami oleh beberapa anggota sistem sosial, anggota yang lain mungkin merasa rumit dan lambat dalam mengadopsi.

Sama dengan kategori di atas mereka, tingkat kerumitan banyak teratasi ketika mereka merasakan proses pembelajaran melalui kamera analog (hampir seluruh individu pada kategori ini mendapatkan pembelajaran fotografi melalui media analog) hal ini membantu mereka cepat dalam proses adaptasi. Selain itu informasi yang didapatkan melalui komunikasi dengan teman profesi dan komunitas memberi masukan tambahan bagi mereka.

“Tidak ada kesulitan, karena pengoperasiannya kan dasarnya sama dengan kamera analog.”

(Kurniawan Arie, Fotografer Harian Joglosemar, 28 th)

“Tidak ada kesulitan mas, saat pertama kali menggunakan DSLR.”

(Fahmi Widayat, Fotografer Profesional, 30 th)

“Tidak mengalami kesulitan saat penggunaan. Hampir sama kok penggunaan secara teknis dengan kamera analog. Selama 1-2 hari langsung menguasai penggunaan DSLR karena prinsip memotret itu sama.”

(Agoes Rudianto, Kontributor Kantor Berita Turki, 28 th)

“Tidak terlalu susah karena kamera analog yang dulu saya gunakan juga dengan merk yang sama dengan kamera digital saya saat itu sehingga tidak perlu banyak penyesuaian juga. Cuma kebiasaan kamera analog kebawa ke digital soal bagaimana menghemat film. Tapi itu enaknya DSLR kita sudah ada kerja semu bisa membuat habit foto udah jadi di kamera. Tidak memerlukan banyak edit-an.”

(Hasan Sakri Ghozali, Fotografer Tribun Jogja, 28 th)

“Waktu itu karena penggunaan analog cukup rumit ribet seperti cetak indexprint dan cuci film kemudian cukup berat di di biaya produksi dan kebutuhan perlengkapan kamera analog seperti roll film semakin susah didapatkan ditambah lagi kamera digital mulai beredar akhirnya memutuskan untuk membeli kamera digital saat itu.”

(Hasan Sakri Ghozali, Fotografer Tribun Jogja, 28 th)

d. Trialability (Percobaan)

Adalah tingkatan dimana sebuah inovasi dapat di eksperimen dengan batasan dasar. Sebuah inovasi atau ide baru yang bisa dicoba dalam rencana instalasi akan lebih cepat diadopsi dibanding sebuah ide baru yang tidak bisa dicoba.

e. Observability (Observatif)

Adalah sebuah tingkatan dimana hasil dari sebuah inovasi dapat dilihat oleh orang lain. Makin mudah sebuah hasil inovasi diamati oleh seseorang, maka inovasi tersebut akan mudah untuk diadopsi.

Pada tahapan persuasi yang erat hubungannya dengan proses pengambilan keputusan, seorang individu akan aktif mencari beberapa tipe informasi, yakni : innovation-evaluation information yang mana untuk mengurangi ketidakpastian tentang konsekuensi yang diharapkan pada sebuah ide baru (inovasi). Tipe informasi ini didapat dengan mudah melalui evaluasi ilmiah mengenai inovasi, biasanya bersifat subjektif berasal dari orang terdekat yang telah menggunakan commit to user

ide tersebut dan sangat meyakinkan. A preventive innovation adalah ide baru yang diadopsi individu dalam rangka menghindari peristiwa yang tidak diinginkan terjadi di masa depan (Rogers, 1983 : 169).

3. Decision Stage (Tahapan Keputusan)

Tahapan pengambilan keputusan terjadi ketika seorang individu atau unit pengambilan keputusan lain terlibat dalam aktivitas yang bertujuan untuk memilih atau menolak sebuah inovasi. Adopsi adalah keputusan untuk menggunakan secarap penuh sebuah inovasi jalan tindakaan terbaik. Rejection adalah penolakan dalam menggunakan sebuah inovasi.

Pada tahapan pengambilan keputusan, penting bagi seorang inovator untuk menghasilkan relative advantage bagi calon adopter yang ingin mereka tuju karena tidak ada satu inovasi yang mampu diadopsi tanpa melalui proses trial atas inovasi tersebut. Ketika relative advantage dirasakan seorang adopter maka akan mendorong mereka pada proses adopsi inovasi secara menyeluruh.

Ketika seorang adopter memilih sebuah inovasi, tentunya mereka sudah mengalami reduksi informasi yang mengurangi ketidakpastian akan inovasi yang akan diadopsi. Inovasi yang baru haruslah memenuhi kelima unsur tersebut diatas untuk memberi kemudahan adopsi ke depannya.

Pada tahapan ini informasi teknis sudah tidak lagi diperhatikan, karena rata-rata para adopter sudah melewati kelima karakter inovasi di atas. Beberapa informan memiliki beberapa alasan yang menguatkan mereka untuk segera mengadopsi sebuah inovasi. Berpindah dari sistem manual menjadi digital. Pada fase ini seorang adopter akan mengambil keputusan apakah menerima atau menolak sebuah inovasi. Setiap keputusan disertai alasan yang menguatkan mereka mengenai kegunaan sebuah inovasi.

Rogers (1983 : 29) mengemukakan terdapat tiga bentuk pengambilan keputusan mengadopsi sebuah inovasi, yakni :

1. Optional innovation-decisions terjadi ketika individu dalam sistem sosial memutuskan untuk mengadopsi sebuah inovasi karena keputusan yang merdeka dari dirinya sendiri terlepas dari anggota lain dalam sistem

sosial. Meskipun dalam pengambilan keputusannya mereka dipengaruhi oleh norma sosial dan pengaruh komunikasi interpersonal.

2. Collective innovation-decisions adalah pilihan untuk mengadopsi atau menolak inovasi yang dibuat secara konsesus diantara anggota dari sistem sosial. Semua anggota unit dari sistem sosial biasanya akan patuh terhadap keputusan dari sistem ketika melakukan adopsi.

“...karena kebutuhan di lapangan yang mengharuskan kita menggunakan DSLR.”

(Kurniawan Arie, Fotografer Harian Joglosemar, 28 th)

“Kebutuhan akan kecepatan mengejar deadline, karena wartawan dituntut untuk mengirim berita dengan cepat, praktis, hemat.”

(Agoes Rudianto, Kontributor Kantor Berita Turki, 28 th)

“...Jadi karena tuntutan kebutuhan saya saat ini lebih banyak menggunakan DSLR. Kamera digital lebih cepat dalam proses produksi.”

(Fahmi Widayat, Fotografer Profesional, 30 th)

“Waktu itu karena penggunaan analog cukup rumit ribet seperti cetak indexprint dan cuci film kemudian cukup berat di di biaya produksi dan kebutuhan perlengkapan kamera analog seperti roll film semakin susah didapatkan ditambah lagi kamera digital mulai beredar akhirnya memutuskan untuk membeli kamera digital saat itu.”

(Hasan Sakri Ghozali, Fotografer Tribun Jogja, 28 th)

Anggota kelompok ini memiliki alasan bervariasi mengenai alasan perpindahan mereka dan mengadopsi kamera digital namun, secara garis besar tuntutan kinerja dan cepat serta deadline menjadi alasan mereka mengadopsi teknologi ini.

Kategori senior sebelum mereka (early majority) tidak memiliki peran dalam memberikan informasi terkait teknologi inovasi DSLR tertentu. Bisa dikatakan subjek penelitian pada kategori ini tidak menggunakan pertimbangan dari early majority dalam proses adopsi teknologi. Informasi lebih digali dari inovator commit to user

sebagai penyaji informasi teknis. Sedangkan kategori early majority memberikan informasi bersifat non teknis. Karena dari sisi pencarian informasi kategori ini lebih aktif dalam menggunakan berbagai media saluran komunikasi termasuk media elektronik melalui internet.

Proses komunikasi pada kategori ini berhenti pada proses penerimaan pesan. Pada kategori ini peneliti melihat bahwasanya persebaran pesan yang dilakukan oleh adopter sudah tidak memiliki power untuk mempengaruhi kategori di bawahnya (laggards), sedangkan peneliti tidak memungkinkan untuk menemui pengguna aktif kamera analog yang saat ini masih aktif di wilayah Solo dan Yogyakarta.

Proses penciptaan pesan berupa sharing lebih banyak dilakukan kepada rekan kerja mereka sesama fotografer tanpa ada penekanan atau informasi mendalam mengenai perkembangan teknologi. Seperti halnya kategori sebelumnya bahwa pada kategori ini proses penciptaan dan pertukaran informasi bersifat berbagi pengalaman bukan menekankan aspek teknis. Namun, pada kategori ini beberapa narasumber masih giat bertukar informasi mengenai teknologi DSLR, hal ini menandakan bahwa pada kategori ini mereka lebih aktif mengikuti perkembangan dunia kamera digital dibandingkan dengan kategori yang memiliki power di atas mereka (early majority).

“...Untuk sharing saya sering lakukan dengan rekan-rekan sesama foto jurnalis, soal teknis , komposisi, bagaimana menangkap momen. Biasanya sering sharing nya malah dengan junior saya di lapangan. Kadang –kadang merasa pekewuh (sungkan) kalau mau sharing dengan rekan senior.”

(Kurniawan Arie, Fotografer Harian Joglosemar, 28 th)

“...Untuk teknologi biasanya kalau ada kamera baru yang akan keluar, kita bahas bagaimana misal hasil gambar, speed kamera, pasti itu kita bahas bareng temen-temen. Biasanya kita dapet dari internet, ataupun sosial media soal informasi itu.”

(Kurniawan Arie, Fotografer Harian Joglosemar, 28 th)

“...Kadang kalau senior jarang malah ga pernah ya ngomongin kamera-kamera tertentu, mereka lebih menggunakan apa adanya. Seringnya malah sama yang muda-muda itu. Mereka lebih update dan terbuka untuk informasi.”

“...Kalau sharing lebih sering untuk tatap muka itu pun bukan ngomongin hal yang bersifat ke tools, tapi dari segi warna, lensa, kamera full frame, crop factor , tapi jarang untuk sesuatu yang bersifat teknis. Untuk saya sharing bareng-bareng ga memandang junior ataupun senior. Kadang saya juga chatting sama temen-temen fotografer yang ada di luar solo juga. Kalau biasanya saya lebih enak ngobrol sama yang seumuran dibanding junior.” (Agoes Rudianto, Kontributor Kantor Berita Turki, 28 th)

“...Iya biasanya kalau ketemu teman kerja di lapangan aja mas,

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah (Halaman 102-116)