• Tidak ada hasil yang ditemukan

Earning Management (Manajemen laba/rekayasa laba)

Dalam dokumen Proseeding Seminar Nasional Akuntansi 1 (Halaman 194-197)

Indikator Loan At Risk (LAR) UPK BKM Kec. SUKUN TAHUN 2011 s/d 2015

INDIKASI EARNING MANAGEMENT SEBAGAI RESPON PENERAPAN UNDANG-UNDANG NOMOR 36 TAHUN 2008

D. Earning Management (Manajemen laba/rekayasa laba)

Manajemen laba dapat digambarkan sebagai perilaku manajemen dalam memilih kebijakan akuntansi tertentu atau melalui penerapan aktivitas tertentu dimana manajemen memiliki keleluasaan untuk memilih salah satu kebijakan akuntansi dari prinsip yang berlaku umum, maka wajar jika kemudian muncul pemikiran bahwa manajemen akan memilih metode akuntansi yang secara spesifik akan membantu manajemen dalam meraih tujuannya. Manajemen tampaknya sulit untuk terbebas dari kepentingan pribadi dalam memilih metode akuntansi, hal ini ditambah dengan adanya fleksibilitas dari standar akuntansi yang memperbolehkan manajemen untuk memilih satu dari beberapa alternatif yang tersedia. Seorang manajer yang termotivasi untuk melakukan tindakan oportunistis, akan lebih mampu untuk memanfaatkan peluang-peluang yang ada untuk melakukan manajemen laba. Manajemen laba muncul sebagai konsekuensi langsung dari upaya-upaya manajer atau penyusun laporan keuangan untuk mengatur besaran angka laba demi kepentingan pribadi dan/atau kepentingan perusahaan. Strategi yang dapat diimplementasikan oleh manajer dalam manajemen laba antara lain adalah melakukan pilihan metode akuntansi serta melakukan estimasi tertentu sebagai kebijakan akuntansinya (Isnugrahadi dan Kusuma, 2009). Manajemen laba merupakan perilaku manajer untuk memaksimumkan utilitas mereka dengan memanfaatkan metode akuntansi tertentu untuk menaikkan laba atau menurunkan laba dan dianggap sebagai bentuk tindakan manipulasi laba, karena manajemen laba selalu dilandasi oleh motivasi untuk memperoleh keuntungan pribadi dengan cara memberikan gambaran tentang kinerja perusahaan yang tidak sebenarnya (Riduwan, 2009).

Manajemen laba menjadi topik yang sering diteliti karena hal tersebut memang menarik untuk dibahas, begitu juga dengan tema manajemen laba yang dihubungkan dengan aspek perpajakan. Salah satu motivasi manajer melakukan manajemen laba adalah untuk tujuan meminimaliasi pajak yang harus dibayar ke pemerintah. Beberapa penelitian manajemen laba yang dihubungkan dengan pajak antara lain yang dilakukan oleh Guenther (1994), Dopuch dan Pincus (1998) dan di Indonesia telah dilakukan oleh Hidayati dan Zulaikha (2003), Radianto (2004), serta Wulandari et al. (2005) yang meneliti mengenai respon manajemen perusahaan terhadap keluarnya UU perpajakan tahun 2000 apakah mendorong perusahaan untuk melakukan manajemen laba.

Laporan keuangan merupakan sarana pengkomunikasian informasi keuangan kepada pihak-pihak di luar korporasi. Laporan keuangan merupakan salah satu sumber informasi

yang digunakan untuk menilai posisi keuangan dan kinerja perusahaan, yang terdiri dari neraca, laporan rugi laba, dan laporan ekuitas yang disusun berdasarkan akrual serta laporan arus kas yang berdasarkan dasar kas. Oleh karena itu, dasar akrual dalam laporan keuangan memberikan kesempatan kepada manajer memodifikasi laporan keuangan untuk menghasilkan jumlah laba (earnings) yang diinginkan (Fanani, 2006). Laporan keuangan tersebut diharapkan dapat memberikan informasi kepada para investor dan kreditor dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan investasi dana mereka. Dalam penyusunan laporan keuangan, dasar akrual dipilih karena lebih rasional dan adil dalam mencerminkan kondisi keuangan perusahaan secara riil, namun di sisi lain penggunaan dasar akrual dapat memberikan keleluasaan kepada pihak manajemen dalam memilih metode akuntansi selama tidak menyimpang dari aturan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku (Halim, 2005). Pilihan metode akuntansi yang secara sengaja dipilih oleh manajemen untuk tujuan tertentu dikenal dengan sebutan manajemen laba atau earnings management. Jika pada suatu kondisi dimana pihak manajemen ternyata tidak berhasil mencapai target laba yang ditentukan, maka manajemen akan memanfaatkan fleksibilitas yang diperbolehkan oleh standar akuntansi dalam menyusun laporan keuangan untuk memodifikasi laba yang dilaporkan. Manajemen termotivasi untuk memperlihatkan kinerja yang baik dalam menghasilkan nilai atau keuntungan maksimal bagi perusahaan sehingga manajemen cenderung memilih dan menerapkan metode akuntansi yang dapat memberikan informasi laba lebih baik. Standar akuntansi yang memberikan keleluasaan kepada pihak manajemen untuk memilih dan menggunakan kebijakan atau metode akuntansi tertentu, dijadikan sebagai alasan bagi pihak manajer untuk melakukan aktivitas menajemen laba.

Positive accounting theory (PAT) sering dihubungkan dalam bahasan earning management

karena teori akuntansi positif menjelaskan alasan yang mungkin mempengaruhi manajemen dalam memilih prosedur akuntansi yang optimal dengan tujuan tertentu (Scott, 2003: 273). PAT merupakan suatu teori yang berfokus pada prediksi manajer ketika memilih suatu metode akuntansi yang baru. Dalam teori ini, pemilihan prosedur akuntansi yang digunakan perusahaan tidak harus sama dengan perusahaan lainnya. Perusahaan diberi kebebasan dalam memilih salah satu dari alternatif prosedur akuntansi yang tersedia untuk meminimumkan biaya kontrak dan memaksimumkan nilai perusahaan.

Menurut Watts dan Zimmerman (1978) yang dikutip oleh Scott (2009: 276) ada 3 hipotesis yang secara umum dihubungkan dengan perilaku oportunistik manajer, yaitu: bonus plan hypothesis, debt covenant hypothesis dan political cost hypothesis. Political cost hypothesis

menyatakan jika semakin besar biaya politis yang dihadapi perusahaan maka semakin besar pula kecenderungan perusahaan tersebut untuk menggunakan pilihan metode akuntansi yang dapat mengurangi laba yang dilaporkan, dibandingkan dengan perusahaan lainnya. Tingkat laba yang tinggi akan mendapat perhatian luas dari kalangan konsumen dan media sehingga nantinya akan menarik perhatian pemerintah sehingga menyebabkan timbulnya biaya politis, antara lain dengan munculnya intervensi pemerintah dengan pengenaan pajak yang lebih tinggi, dan berbagai macam tuntutan sehingga dapat meningkatkan biaya politis.

Manajemen laba adalah pemilihan kebijakan akuntansi tertentu oleh manajer untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu (Scott, 2003), dan Schipper (1989) mendefinisikan manajemen laba sebagai intervensi dengan maksud tertentu terhadap proses pelaporan keuangan untuk memaksimalkan keuntungan pribadi. Definisi tersebut mengartikan bahwa manajemen laba merupakan perilaku oportunistik manajer untuk memaksimumkan utilitas mereka. Manajer melakukan metode akuntasi tertentu untuk menaikkan laba atau menurunkan laba. Manajer dapat menaikkan laba dengan menggeser laba periode-periode yang akan datang ke periode kini dan manajer dapat menurunkan laba dengan menggeser laba periode kini ke periode-periode berikutnya.

Laba akuntansi merupakan ukuran kinerja perusahaan yang paling banyak digunakan untuk kepentingan sebagian besar para pemberi modal ekternal, pemasok, pekerja, pelanggan, masyarakat dan pembuat regulasi. Namun demikian aktivitas manajerial dapat mempengaruhi dan mengintervensi pelaporan keuangan. Fleksibilitas manajer untuk

pengungkapan informasi perusahaan mendorong perilaku oportunistik seorang manajer untuk mengoptimalkan kepentingan dan kesejahteraannya, dengan membuat keputusan manajerial yang mengabaikan kesejahteraan stakeholders. Perilaku manajemen laba akan mempengaruhi laporan keuangan. (Midiastuty dan Machfoedz, 2003). Pihak manajemen memiliki peluang dan kebebasan untuk menerapkan kebijakan manajemen yang berhubungan dengan pencatatan dan metode akuntansi yang akan digunakan untuk pelaporan keuangan perusahaan, dan tidak ada observasi sempurna mengingat tidak semua kebijakan manajemen dapat diobservasi oleh para stakeholders perusahaan. Pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian dalam perusahan akan semakin memperluas kemungkinan tindakan manajer yang mempunyai tujuan berbeda dengan

stakeholders, dan setiap pihak ingin memaksimalkan kepentingannya sendiri.

Terdapat beberapa pola manajemen laba, menurut Scott (2003) ada empat pola praktek manajemen laba yaitu :

1. Taking a bath. Ini dapat terjadi selama periode organizational stress atau reorganisasi termasuk penempatan seorang CEO baru, jika suatu perusahaan harus melaporkan suatu kerugian, maka manajemen merasa lebih baik atau sekaligus melaporkan kerugian yang lebih besar.

2. Minimisasi laba. Pola ini adalah hampir sama dengan take a bath tetapi kurang ekstrim. Pola ini dipilih untuk menghindari pengawasan perusahaan secara politik.

3. Maksimisasi laba. Seperti dalam studi Healy (1985) mengemukakan bahwa manajer akan menggunakan cara untuk memaksimisasi laba bersih yang dilaporkan untuk tujuan bonus. Perusahaan yang hampir melanggar perjanjian utang mungkin melakukan maksimisasi laba.

4. Perataan laba. Manajer mempunyai cara untuk meratakan laba yang disisakan antara

bogey dan cap. Sebaliknya earnings mungkin secara permanen atau temporer tidak cukup untuk tujuan bonus. Lebih lanjut, jika manajer adalah risk averse, mereka akan memilih pengurangan variabel aliran bonus. Manajer melakukan perataan laba karena tindakan ini dapat mengurangi kemungkinan untuk diganti.

Dalam penelitian Healy dan Wahlen (1999) menjelaskan, praktik manajemen laba dilakukan oleh manajer karena ada beberapa motivasi. Motivasi ini meliputi pasar modal, kontrak, dan regulator. Scott (2003) berpendapat bahwa praktik manajemen laba dilakukan karena tujuan bonus, motivasi kontraktual lainnya, motivasi politik, motivasi pajak, pergantian dalam CEO, penawaran saham perdana, dan komunikasi informasi kepada investor. Manajer memanfaatkan peluang untuk merekayasa angka laba (earning management) dengan rekayasa akrual, untuk mempengaruhi hasil akhir dari berbagai keputusan antara lain adanya motivasi bonus, dianggap kinerjanya lebih baik, atau untuk meminimalkan beban pajak penghasilan yang harus dibayar oleh perusahaan (Hidayati & Zulaikha, 2003). Sedangkan Defond dan Jiambalvo (1994) menguji debt equity hypothesis dengan menganalisa tingkat akrual dari 94 perusahaan yang melanggar perjanjian hutang. Hasil penelitian mereka menemukan bahwa pada satu periode sebelum pelanggaran perjanjian hutang, perusahaan akan merekayasa akrual (yang disebut dengan abnormal accrual dan terbukti signifikan) yaitu dengan memilih metode akuntansi yang dapat meningkatkan laba untuk meminimalkan kerugian akibat pelanggaran perjanjian kredit.

Penelitian lain yang terkait dengan debt covenant hypothesis juga dilakukan oleh Sweeney (1994) dengan menguji mengenai debt covenant hypothesis dan hasil penelitiannya konsisten dengan hasil penelitian Defond dan Jimbalvo (1994). Sweeney mengevaluasi perubahan metode akuntansi dari 130 perusahaan yang melanggar perjanjian kredit. Hasil penelitian menemukan bukti bahwa manajer melakukan manajemen laba untuk meningkatkan laba bersih sebelum ditemukannya pelanggaran persyaratan hutang.

Laba akuntansi merupakan ukuran kinerja perusahaan yang digunakan untuk kepentingan sebagian besar para pemberi modal ekternal, pemasok, pekerja, pelanggan, masyarakat dan pembuat regulasi. Perilaku manajemen laba akan mempengaruhi laporan keuangan. (Midiastuty dan Machfoedz, 2003). Pemerintah sebagai pemungut pajak sangat berkepentingan terhadap informasi laba pada laporan keuangan karena besarnya jumlah pajak yang harus di bayar oleh perusahaan dihitung berdasarkan laba perusahaan.

Besarnya pajak yang harus dibayar dihitung berdasarkan laba neto usaha (Net Income) komersial yang telah disesuaikan dengan peraturan perpajakan yaitu dengan cara melakukan koreksi fiskal. Hal ini akan menimbulkan perilaku manajer untuk melakukan manajemen laba untuk meminimalkan pajak yang harus di bayar.

Dalam dokumen Proseeding Seminar Nasional Akuntansi 1 (Halaman 194-197)