VERBATIM WAWANCARA RESPONDEN RR
39. Ee sementara ini cukup pak
40. Iya, cukup nggih
41. Iya, terima kasih pak atas waktunya 42. Sama-sama
VERBATIM WAWANCARA RESPONDEN RR
Pewawancara : Tika Hayyukarina
Responden : RR
Lokasi Wawancara : Di klinik tempat responden bekerja
Waktu : 13.45-14.15 WIB
Keterangan : Cetak tebal: peneliti Cetak biasa: responden Kode Wawancara : RR
No. Verbatim Wawancara
1. Assalamualaikum pak 2. Waalaikumsalam
3. Jadi kita langsung saja ya pak 4. Iya
5. Jadi selama menjadi OT 18 tahun ini, apakah bapak puas menjadi seorang okupasi terapis?
6. Kurang puas, he he, kurang puas 7. Seberapa kurang puas kah itu?
8. Jadi lebih dominan kurang puasnya ya. Jadi apa yang saya lakukan itu kayaknya belum sesuai dengan harapan saya.
9. Ee hal-hal apa saja yang membuat bapak kurang puas?
10. Jadi mungkin apa namanya ee ilmu yang saya dapatkan itu ee saya merasa masih sangat kurang terhadap pelayanan yang saya berikan kepada anak-anak, jadi saya harus ee apa namanya menambah apa ya, ilmu tentang anak-anak terutama. Jadi apa yang saya dapatkan itu masih kurang terhadap pelayanan gitu.
11. Ohh nggih. Berarti tadi bapak bilang tidak puas, setiap akhir jam kerja itu secara emosional itu gimana pak perasaan bapak?
12. Yaa ee kayak ada beban mental juga ya. Jadi apa yang saya berikan itu kok belum terhadap anak-anak yang progresnya belum kelihatan atau perkembangannya tidak terlalu signifikan. Biasanya aduh ini kok anak ee tidak mengalami kemajuan gitu ya, ada beberapa beban mental juga pada diri saya dan orang tua terutama.
13. Terus kenapa hal-hal yang bapak jelaskan tadi itu membuat bapak tidak puas? apakah ada alasan tertentu?
14. Karna mungkinn ya tadi, hasil dari yang saya lakukan itu kok ee apa namanya kurang memberikan nampak kepada anak-anak atau mungkin pada anak-anak itu tidak terdapat kemajuan atau perkembangan, itu biasanya yang bikin saya agak down, agak apa ya yaa beban mental tadi itu 15. Berarti jika bapak kurang puas, bagaimana bapak menjalani profesi
ini hingga saat ini?
16. Yaa karna masalahnya itu pada apa namanya, ilmu pengetahuan ya, itu nanti coba saya imbangi dengan belajar lagi mbak. Jadi belajar kan mesti berhenti di satu bangku kuliah, selesai, terus tidak belajar. Nah itu saya coba imbangi dengan yaa baca buku, baca jurnal, atau mungkin kemarin saya nambah D4 lagi. Dari D4 itu ternyata masih banyak saya rasa ilmu yang masih harus saya kembangkan atau saya pelajari.
17. Selain itu mungkin apalagi pak yang bisa bapak lakukan untuk bisa belajar lagi?
18. Dengan pelatihan bisa, seminar, atau sharing dengan temen-temen juga bisa.
19. Sering ikut seminar atau workshop pak?
20. Kalau sering ya enggak juga sih he he. Tapi ya kadang-kadang ikut.
21. Apa saja pak yang sudah pernah diikuti?
22. Ada kemarin kita ikut bobath konsep yang baru ya tahun 2017 kalau gak salah, pas pemilihan atau pas musda IOTI di kampus, itu kita ikuti. Seminar tentang TOA juga yang di RSJ, nah itu juga, terus apa namanya ee alat untuk modifikasi terapi juga saya ikuti juga.
23. Terus kayak Asmiota gitu pak?
24. Asmiota 2 tahun ini saya absen he he.
25. Ohh sebelumnya ikut?
26. Iyaa
27. Kalau menurut bapak seberapa penting mengikuti seminar?
28. Penting sekali mbak. Karna seminar dan workshop itu biasanya yang dimunculkan adalah ilmu-ilmu baru atau apa ya sesuai dengan penelitian yang dilakukan, artinya ilmunya itu ilmu yang update, jadi tidak ilmu yang dulu.
29. Ee menurut bapak manfaatnya apa saja terhadap pengaplikasiannya?
30. Baik, jadi melalui seminar atau workshop saya jadi apa namanya sedikit banyak tau apa namanya ilmu-ilmu baru yang bisa digunakan, mungkin teknik-teknik baru juga bisa.
31. Ada nggak pak perbedaan penanganan sebelum bapak mengikuti pelatihan-pelatihan tersebut dan setelahnya dalam penanganan dan pengaplikasian pada pasien langsung?
32. Iya, baik. Contohnya gini aja yang kemarin saya ikut yang new bobath concept itu, kalau yang dulu kan harus sesuai dengan pola perkembangan ya, dari cephalo caudal, kalau yang sekarang kan based on problem, jadi langsung kita tangani apa yang menjadi masalah anak.
33. Emm kalau pandangan bapak sendiri terhadap eksistensi profesi OT di kalangan profesi kesehatan lainnya bagaimana pak?
34. Sekarang saya cukup apa ya gembira, terutama menjadi okupasi terapis. OT
saat ini cukup eksis di Indonesia, dengan banyaknya organisasi ee apa namanya ee setiap daerah itu sudah memiliki pengurus OT masing-masing.
Sudah cukup banyak berkembang. Jadi dari ee contohnya ee untuk acara tahunan aja setiap tahun kita pasti mengadakan meeting, jadi seperti Asmiota itu kan ya dilakukan setiap tahun, itu tahunannya rutin, dan tiap mungkin tiap event juga dilakukan seperti ee seminar, workshop itu biasanya OT melakukan
35. Kalau di kalangan tenaga kesehatan lainnya pak, misal kayak fisioterapi, perawat, gitu eksistensinya itu menurut bapak OT sudah mulai dikenal belum?
36. Alhamdulillah sudah cukup dikenal OT. Ee bisa dilihat sekarang nggeh mbak nggeh dibanding jaman saya dulu baru lulus kuliah, ee dulu rumah sakit swasta itu belum tau OT, pada saat saya pertama kali lulus D3 itu belum tau OT itu apa. Ketika saya melamar kerjaan, saya ditanya, OT itu apa, dan saya perlu menjelaskan dulu. Tapi sekarang ee hampir seluruh rumah sakit swasta di Solo ya terutama itu sudah ada OT nya.
37. Ohh iya, sudah rame ya pak di sini 38. Iya
39. Dulu pas dari pertama lulus kuliah, kerja di mana saja pak? Bisa sedikit diceritakan mungkin
40. Oke. Saya lulus tahun 2001 itu langsung pergi ke Bekasi itu hampir 2 tahun kalau nggak salah. Abis dari Bekasi saya ke Mutiara Center sini dari 2004 sampai 2009 kalau nggak salah. Dari 2009 saya di sini sampai saat ini.
41. Ohh. Yang pertama tadi bapak yang mengajukan OT atau memang sudah dicari tenaga OT?
42. Kalau yang di Bekasi ee terus terang mereka butuh, jadi sudah tau OT. Di Mutiara Center juga sudah tau. Kalau di sini, di klinik terapi SLB ini dulu saya mengajukan itu juga lewat proposal juga. Jadi di sini cuma taunya tenaga OT gitu aja, tapi belum tau OT itu kerjaannya seperti apa.
43. Ooh begitu. Terus mulai dari lulus kuliah itu cara beradaptasinya
gimana pak? Dari hanya teori di kampus dan langsung terjun ke lapangan menangani anak, itu cara beradaptasinya gimana pak?
44. Kalau dulu saya pertama kali kerja itu ee kalau nggak salah 3 bulan awal itu kita ditraining dulu, jadi ditraining. Di situ diberi bekal sama praktek langsung ke anak.
45. Itu trainernya dari mana pak?
46. Trainer nya dari pengelola klinik. Kalau dulu kita di bawah temen-temen PLB, lebih banyak ke ABA itu. Jadi ditraining dulu 3 bulan, baru terjun langsung ke anak. Jadi awalnya juga saya bingung, kok yang saya dapatkan di kampus kok ternyata kalau diterapkan di lapangan saya belum bisa mengkonekkan atau gimana he he, awalnya juga bingung tapi ketika sudah ditraining ya nanti tau cara-caranya untuk menghandel anak.
47. Itu kira-kira berapa lama pak adaptasinya?
48. Sampai saat ini hampir setengah tahun dulu dari training. Dari training sudah mulai pahamlah bagaimana cara menghandel anak, kemudian 3 bulan berikutnya itu baru paham apa namanya cara pendekatan pada anak, kalau anak kan perlu pendekatan juga, banyak yang tidak pas, juga intervensinya jadi nggak bagus.
49. Terus apakah lingkungan kerja misal rekan kerja bapak saat ini mendukung dalam menjalani pekerjaan? Terus bagaimana dengan rekan kerja di tempat yang sebelumnya?
50. Saya rasa untuk rekan kerja ya lumayan mendukung lah, dan sebagai teamwork. Yang sebelumnya juga cukup bagus ya.
51. Ee kan tadi pertama bapak bilang saat ini kurang puas, ada nggak sih perbedaan kepuasan itu selama 18 tahun ini? Dari awal hingga saat ini 52. Malah justru kurang puas malahan he he. Ternyata dengan apa namanya
kondisi anak-anak saat ini berbeda dengan yang dulu. Kalau dulu cuman autism rata-rata. Sekarang lebih beragam kondisinya.
53. Ohh jadi dulu sebenernya agak puas?
54. Yaa belum puas juga he he
55. Berarti makin ke sini makin berkurang ya malah?
56. Iya berkurang, karna tantangannya semakin besar. Di samping itu harapan orang tua juga sekarang lenih tinggi. Orang tua lebih pandai sekarang.
57. Iya nggih nggih. Lalu gimana bapak mengkomunikasikan kepada orang tua pak?
58. Ya paling kita sampaikan ke orang tua kondisi anak yang sebenarnya, itu apa namanya hal-hal yang bisa dilakukan, terus prospek kedepannya seperti apa kita juga sampaika ke orang tua secara jujur. Jangan sampai kita berikan harapan palsu kepada orang tua, kasian nanti.
59. Anak-anak yang mengalami perkembangan terapi yang stagnan atau malah mundur, itu bagaimana memberikan dampak pada ketidakpuasan bapak dalam bekerja itu tadi?
60. Yaa untuk penanganan anak yang stagnan ini jujur bikin apa namanya beban mental juga ya buat saya. Tapi bagaimanapun juga ini adalah titipan dari orang tua, nah kita harus berusaha semaksimal mungkin, bagaimana membuat anak lebih maju, atau paling nggak anak ini tidak mengalami kemunduran. Yaa harapan terakhir ya anak ini tidak mengalami kemunduran, dan bisa mandiri.
61. Terus kalau untuk ke kinerja bapak selanjutnya?
62. Jadi untuk anak yang stagnan ya tadi kita berusaha biar tidak mundur. Nah inikan kita harus tau bagaimana caranya, nah ini memberikan efek kepada saya untuk belajar lagi.
63. Apa bagian yang paling berarti dari pekerjaan bapak ini?
64. Hal yang paling berarti atau hal yang menyenangkan bagi saya itu ketika melihat anak yang saya intervensi itu mengalami progres, suatu apaya, suatu kebanggan tersendiri bagi saya.
65. Apa penghargaan paling tinggi dari seorang okupasi terapis, menurut bapak?
66. Orang tua puas dengan layanan yang saya berikan itu menjadi suatu penghargaan tersendiri buat saya.
67. Terus kalau dari profesi kesehatan lainnya pak?
68. Profesi kesehatan lain, temen-temen melihat OT di sini mereka cukup respect, apa yang kita lakukan itu mereka juga membutuhkan. Selain apa namanya wicara, fisioterapi, dilihat OT ke kemandirian terutama ya itu kita sangat dibutuhkan di situ.
69. Emm TW dan fisioterapi ada berapa di sini?
70. TW 2, fisio 2.
71. Ohh sama ya, dua dua semua.
72. Iya.
73. Emm kalau tantangan terbesar dalam menjalani profesi ini pak?
74. Tantangan terbesar ee ini semakin pinternya orang tua, nah itu tantangan juga. Terus sama semakin beragamnya kondisi anak.
75. Hal apa saja yang membuat bapak tetap termotivasi hingga saat ini?
76. Ee ilmu tentang intervensi anak.
77. Pada tahap ini, bapak lebih merasa OT sebagai pekerjaan, karir, atau lebih ke panggilan hidup, dan kenapa pak?
78. Panggilan hidup ya he he. Karna profesi saya sebagai okupasi terapis, yaa saya punya tugas untuk melaksanakan profesi saya, itu panggilan hidup saya.
79. Ee seberapa besar sih pak dukungan dari keluarga bapak dalam menjalani profesi ini selama ini?
80. Sangat besar he he. Istri saya kebetulan OT juga. Jadi tidak ada komplain lah.
81. Mohon maaf ini bapak kan sebagai kepala keluarga ya pak, nah bagaimana bapak memandang gaji dari profesi ini?
82. Kalau gaji ya kita sudah sesuai atau di atas UMR ya. Itu cukup, ya menurut saya cukup sih. Meskipun kita harus menambah yang lain kayak home visit.
83. Home visit juga pak?
84. Iya
85. Sampai sekarang?
86. Iya betul.
87. Kira-kira berapa pasien pak?
88. 5 pasien.
89. Wah banyak juga ya pak he he 90. Iya, tapi ya nggak tiap hari.
91. Ooh itu biasanya sore pak?
92. Sore atau malem.
93. Ini sekarang kan bapak D4, itu gimana gajinya pak?
94. Kita kontrak D3 dan D4 nominalnya beda.
95. Terus jam kerjanya sampai jam berapa pak di sini?
96. Pelayanan sampai jam 2, tapi kita harus kewajiban finger print itu jam setengah 4. Kalau jumat jam 4.
97. Kalau menurut bapak fasilitas di tempat kerja sudah cukup?
98. Masih belum he he. Kita belum punya playground, kita belum punya area SI, itu masih, kalau diitung-itung masih banyak yang kurang he he. Kita sudah mengajukan tapi belum di acc.
99. Jadi ruangannya masih table top pak?
100. Iya masih table top, dan ada sedikit ada ruang di pojok itu, tapi untuk dikatakan ruang snozelen juga belum selesai. Rencananya untuk snozelen.
101. Ohh begitu. Kalau untuk jaminan sosial dan tunjangan ada pak di sini?
102. Ada, kita jaminan sosial tenaga kerja ada, jaminan sosial kesehatan juga ada.
103. Selama praktek, kira-kira lebih banyak mana perkembangan terapi ABK antara maju, stagnan dan mundur?
104. Dominannya yang ada progres, kira-kira hampir 60 persen. Yang 40 ini jad beban buat saya ya jadi tetep kurang puas gitu he he.
105. Apa harapan untuk diri bapak sendiri dan pasien-pasien bapak?
106. Harapan saya ya saya bisa meningkatkan terutama keilmuan saya di OT,
agar bisa melayani anak-anak dengan optimal.
107. Kalau untuk pasien?
108. Pasiennya apa ya, mudah-mudahan apa yang saya lakukan itu bisa berdampak lebih maju lagi pada perkembangan anak.
109. Kalau misalnya diandaikan skala pak, dari 1-10, berapa tingkat kepuasan bapak?
110. 4 lah he he, masih banyak tidak puasnya.
111. Terakhir, indikator yang mempengaruhi antara proses terapi, ketidakpuasan, sama kinerja bapak apa?
112. Kemajuan anak. Kalau anak progres ya kita puas. Kalau anak stagnan aduhh.
113. He he iya pak. Oke pak kalau begitu cukup, terima kasih pak 114. Sama-sama..