• Tidak ada hasil yang ditemukan

Eks Bakorwil III di Banyumas

Dalam dokumen LAPORAN AKHIR PENELITIAN (Halaman 63-71)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

4.1.5. Eks Bakorwil III di Banyumas

Aset eks Bakorwil III di Kabupaten Banyumas berupa kantor dan rumah dinas yang berada di lokasi berbeda namun dalam satu jalur. Kantor berada di Jalan Gatot Subroto Nomor 67, dan Rumah Dinas terdapat di Jalan Gatot Subroto No. 70 Purwokerto. Kedua lokasi tersebut berada pada wilayah perkotaan yang merupakan salahsatu wilayah pertumbuhan di Kabupaten Banyumas. Pemanfaatan aset di kantor diutamakan untuk operasional balai/UPT OPD Provinsi Jawa Tengah, sedangkan untuk rumah

Kawasan kantor seluas 7.229 M2 yang terdiri dari 7 gedung.

Pengelolaan dilakukan bersama-sama oleh Balai/UPT yang berkantor di lokasi tersebut. Gedung tersebut ditempati oleh Balai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (BP2MK Banyumas) atau eks sekretariat Bakorwil seluas 390 M2, UPT BPKAD (UPAD) seluas 200 M2, Balai Kehutanan seluas 390 M2, Disnaker (Balai Pengawas Ketenagakerjaan) 75 M2, Gedung Bhakti Praja seluas 723 M2 beserta garasi seluas 60 M2, Mushala 70 M2 dan tempat parkir 72 M2, selebihnya berupa lahan kosong.

Dari segi penggunaan, kawasan perkantoran ini sudah optimal digunakan untuk menunjang operasional atau tugas dan fungsi OPD Provinsi Jawa Tengah sebagaimana disebutkan di atas. Kondisi bangunan masih dimungkinkan rehab gedung atau penambahan ruang dari yang sudah ada untuk menambah kapasitas. Optimalisasi kawasan kantor ini digunakan untuk menunjang balau/UPT OPD serta terdapat 1 gedung pertemuan yang bisa disewakan kepada umum.

Sesuai dengan informasi Kasi Pemberdayaan Aset UPAD Wilayah Banyumas, Bp. Wdd, bahwa terdapat 1 satker Provinsi Jawa Tengah yaitu Balai Dinas Perhubungan wilayah Banyumas yang masih membutuhkan gedung. Satker tersebut saat ini menumpang di salahsatu fasilitas Rumah Sakit Margono, yang di kemudian hari akan dimanfaatkan oleh pihak rumah sakit. Dengan demikian, Balai Dinas Perhubungan membutuhkan gedung baru untuk operasional mereka. Penambahan gedung baru atau rehab gedung yang ada di Kantor eks Bakrowil Banyumas dapat menjadi solusinya.

Saat ini, kendala dalam penggunaan gedung tersebut adalah biaya pemeliharaan dan operasional serta rehab. Pada tahun 2017 ini masing-masing satker/balai/UPT belum memiliki anggaran khusus untuk kegiatan tersebut. Sementara untuk pemenuhan biaya operasional pada tahun 2017, seperti listrik dan air dilakukan secara bergantian setiap bulan antar satker yang ada.

Adapun kawasan rumah dinas seluas 21.020 M2 secara keseluruhan terdiri dari 9 bangunan, yaitu bangunan utama rumah dinas seluas 902 M2,

garasi 112 M2, garasi pool mobil damkar 85 M2, gedung eks Barlingmascakeb, Mushala 43 M2, Pos satpam 16 M2, dan 2 bangunan mess.

Selain itu terdapat fasilitas serta lapangan tenis dan loket Samsat Drive Thru di halaman rumah dinas, serta sebagian lahan disewa untuk cafe. Selain itu masih terdapat lahan kosong yang difungsikan sebagai taman. Di bagian belakang area ini masih terdapat lahan di luar tembok. Lahan ini terdiri dari jalan, 2 rumah tinggal, 1 bangunan rumah dinas (rusak), serta lahan kosong.

Lahan ini rawan terhadap penyerobotan dari masyarakat terkait batas lahan.

Di sisi lain memiliki potensi untuk dibangun fasilitas tempat tinggal, seperti rusun atau mess atau asrama. Aset ini dikelola oleh UPAD Wilayah Banyumas.

Bangunan utama terdiri dari pendopo depan, ruang tamu, kamar, ruang keluarga, dapur dan pendopo belakang. Ruang tamu sering dimanfaatkan untuk acara hajatan. Ruangan lain juga berpotensi digunakan untuk berbagai keperluan seperti rapat atau penyewaan penghinapan. Saat ini belum ada penggunaan rutin rumah dinas, namun perawatan masih dilakukan dengan baik dan kondisi rumah beserta perabotannya masih terjada dengan baik. Terdapat penjaga khusus yang merawat dan tinggal di dalam rumah dinas tersebut.

Secara umum kondisi bangunan dalam keadaan baik, begitu juga dengan perabotan rumah tangga di dalamnya. Sarana penerangan (listrik dan lampu), pendingn udara, air bersih dan peralatan rumah tangga tersedia dengan baik. Rumah dinas juga selalu terawat dengan adanya petugas yang berjaga sehari penuh di rumah dinas tersebut. Rumah dinas eks Bakorwil Banyumas kondisinya paling baik dan paling terawat diantara rumah dinas di wilayah lain. Selain karena perawatan yang baik, tercatat bangunan ini merupakan yang paling muda diantara rumah dinas lainnya, karena baru dibangun pada tahun 1939. Arsitektur rumah dinas ini juga berbeda dengan rumah dinas lainnya, berupa pilar dengan struktur beton, serta terdapat 2 berbeda dengan bangunan lainnya yang tanpa beton dan hanya 1 lantai. Saat ini rumah dinas disewa oleh PNS/pensiunan dengan tarif 150 ribu rupiah per

bulan. Di bangunan utama (Lantai 2) terdapat 3 orang, di bagian mess terdapat 4 orang, serta di bagian belakang (luar pagar) terdapat 2 keluarga.

UPAD Wilayah Banyumas sudah berusaha mengoptimalkan pemanfaatan aset rumah dinas untuk menunjang pendapatan daerah, sekaligus menjaga kelestariannya karena Gadung utama rumah dinas yang merupakan cagar budaya. Pemanfaatan aset rumah dinas dilakukan terutama disewakan kepada pihak ketiga, mulai dari halaman depan maupun bangunan rumah dinas. target penerimaan setiap tahun dari aset rumah dinas dan gedung pertemuan sebesar 109 juta rupiah per tahun.

Saat ini terdapat beberapa kerjasama pemanfaatan aset rumah dinas ini, yaitu berupa sewa lahan di halaman depan untuk cafe/angkringan dengan nominal 21 juta rupiah per tahun selama 5 tahun. Sewa lahan halaman parkir untuk bursa mobil oleh CV. Batavia Finance senilai 2 juta per bulan (bursa tiap hari minggu) dengan target setahun sebesar 20 juta rupiah. Sewa ruang utama rumah dinas untuk resepsi pernikahan senilai 4 juta rupiah dengan target per tahun senilai 21,5 juta rupiah. Sewa lapangan tenis sebesar 360 ribu per bulan dengan target per tahun 3,6 juta rupiah.

Sewa mess pegawai (2 buah) senilai 150 ribu per bulan dengan target masing-masing 1,5 juta rupiah. Sewa ruang pertemuan Gedung Bhakti Praja dengan target sebesar 40 juta per tahun. Retribusi tersebut sesuai dengan ketentuan Perda No. 1 Tahun 2011 tentang Retribusi Daerah. Semua hasil dari retribusi tersebut kemudian disetorkan ke kas daerah.

Pihak UPAD Banyumas sudah memiliki berbagai rencana pengembangan pemanfaatan aset rumah dinas dengan prinsip kerjasama.

Sudah ada rencana pengembangan aset untuk menambah PAD yaitu diarahkan sebagai wahana wisata edukasi, budaya dan pendidikan dengan penambahan beberapa atraksi, fasilitas dan perbaikan infratsruktur. Terkait dengan rencana tersebut, sudah ada beberapa pihak yang berminat mengajukan permohonan kerjasama dari beberapa pengembang (pihak ke-3) dengan konsep kerjasama pemanfaatan aset. Kerjasama pemanfaatan aset tersebut dilakukan dangan ketentuan yang fleksibel, sehingga Pemerintahn

Provinsi Jawa Tengah tidak terikat dan masih bisa memanfaatkan aset tersebut untuk keperluan lain, di sisi lain masih bisa menghasilkan PAD.

Terkait usulan pengembangan kawasan rumah dinas, setidaknya telah terdapat 2 proposal dari pihak swasta yang menawarkan kerjasama pemanfaatan. Pertama, The PiKAS, selaku pengembang paket wisata bertaraf internasional, dengan konsep “Banyumas Historical Park”, kawasan rumah dinas menjadi salahsatu objek yang akan menjadi paket wisata dengan objek lain. Konsep ini menjual nilai sejarah bangunan, akan dielngkapi dengan perabot dan pernik masa konolial. Atraksi yang dijual berupa tempat transit, historical guesthouse, kuliner khas Banyumas, outdoor meeting dan city garden. Pangsa pasar adalah turis asing, dan konsep tersebut bersifat lebih ekslusif, dengan perkiraan income yang cukup besar. Keuntungan bagi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tergantung bagaimana kesepakatan dalam kontrak kerjasama. Tawaran kedua dari pengembang lokal dengan konsep “Banyumas Kampung Inyong” dengan konsep pusat kebudayaan Banyumas, dimana atraksi yang disediakan berupa kuliner/makanan khas Banyumas, kesenian dan wisata edukasi.

Pangsa pasar konsep ini adalah wisatawan lokal, nusantara maupun asing.

Dengan konsep ini pengelolaan lebih terbuka, bisa melibatkan unsur UMKM menjajakan dagangannya, pemerintah daerah serta penyedia jasa dari masyarakat. Konsep tersebut memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk iktu memanfaatkan lokasi ini sebagai sumber nafkah.

Objek kerjasama tersebut akan diarahkan kepada penyediaan event wisata seperti atraksi, pameran, taman bermain dan sejenisnya. Dengan demikian pengelolaan aset masih berada di bawah kendali Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Kebutuhan pembangunan sarana dan infrastruktur tambahan serta pemeliharaan bangunan dilakukan bersama oleh pihak ketiga dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Selain kepada penyelenggaran event wisata, sebagian lahan juga akan disewakan kepada penyedia jasa kuliner sebagai pelengkap wisata tersebut. Pengelola rumah dinas juga akan membangun kawasan kuliner yang kemudian disewakan kepada UMKM kuliner, sehingga pendapatan dari sewa tersebut langsung masuk ke Kas

Daerah Provinsi Jawa Tengah. Dengan konsep tersebut diharapkan pemasukan kepada pemerintah daerah bertambah, di satu sisi kelestarian aset terjaga dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah masih bisa memanfaatkan aset tersebut.

Selain itu, potensi yang lain sebagaimana telah berjalan saat ini adalah penyewaan tempat untuk berbagai event seperti pernikahan, pameran, bursa dan sejenisnya, atau dikembangkan menjadi hotel atau resort. Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah masalah keamanan aset.

Berdasarkan kondisi lapangan, ada kerawanan terjadi penyerobotan lahan di luar pagar oleh masyarakat.

Adapun beberapa permasalahan yang kini sedang dihadapi oleh pengelola dalam hal ini UPAD Wilayah Banyumas adalah: 1) Belum ada kejelasan mengenai pengelola rumah dinas, saat ini dikelola oleh UPAD Wilayah Banyumas, namun ada rencana akan diserahkan ke Dinas Pendidikan, 2) Belum adanya regulasi yang memayungi pemanfaatan aset tersebut untuk menghasilkan pendapatan daerah. Jika rumah dinas diserahkan ke Balai Dinas Pendidikan, kemungkinan ada perubahan pengelolaan yang dapat mempengaruhi potensi pengembangan sebagai sarana penghasil PAD. Bahkan aset tersebut mungkin saja tidak termanfaatkan dengan baik, justru kebutuhan pemeliharaan menjadi beban anggaran daerah. Sedangkan terkait aspek regulasi, pemanfaatan sebagai sarana penghasil PAD belum memiliki landasan hukum yang kuat.

4.1.6. Ringkasan Kondisi Umum

Secara umum, kondisi aset gedung dan lahan eks Bakorwil di Jawa Tengah memiliki potensi untuk dimanfaatkan. Hampir seluruh gedung merupakan cagar budaya yang memiliki nilai seni dan sejarah dan membutuhkan biaya perawatan yang tidak sedikit, kabanyakan belum terpenuhi melalui APBD. Sesuai dengan penjelasan para pengelola, aset-aset eks Bakorwil memiliki nilai lebih baik dari segi seni arsitektur, sejarah, budaya dan ekonomi memiliki potensi pengembangan yang sangat besar. Di sisi lain pengelolaan yang saat ini dilakukan masih bemum optimal

dikarenakan keterbatasan sumberdaya. Dikhawatirkan akan terjadi penurunan nilai dari aset tersebut.

Kendala perawatan tersebut juga terkait dengan status pengelolaan yang belum tegas, apakah menjadi tanggungjawab Badan Pengelolaan Kekayaan dan Aset Daerah (BPKAD) atau dinas seperti Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (melalui BP2MK). Keputusan mengenai pengelola setiap aset selama ini terkendala masalah belum adanya kesepakatan antar OPD, karena pengelolaan aset akan terkait dengan sumberdaya penganggaran.

Sebagai contoh untuk rumah dinas di Pati, belum ada kesepakatan tertulis antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dengan BPKAD terkait status pengelolaan. Penyerahan pengelolaan tersebut masih bersifat kesepakatan lisan serta belum adanya dukungan anggaran dan tenaga yang memadai, sehingga berdampak pada minimnya pemeliharaan.

Sebagian aset membutuhkan biaya perawatan besar, sedangkan pemanfaatan belum optimal. Belum adanya kejelasan status tersebut juga mempengaruhi status pengelolaan dan anggaran. Belum ada jaminan mengenai ketercukupan anggaran pengelolaan selama ini menjadi hambatan dalam tercapainya kesepakatan. Kerumitan ditambah dengan pembagian pengelolaan antar dinas (UPT/Balai), karena beberapa gedung digunakan bersama olah Balai/UPT. Di dalam operasional gedung, biaya listrik, air dan telepon masih menggunakan rekening yang sama, sehingga beberapa balai/UPT bergiliran melakukan pembayaran. Kemudian soal perawatan gedung, ketika menggunakan bersama-sama namun tidak semua memiliki anggaran sehingga menghambat dalam perawatan gedung.

Minimnya biaya perawatan dikhawatirkan akan mempengaruhi kelestarian bangunan. di beberapa tempat terutama bangunan rumah dinas mengalami kerusakan dan keamanan aset yang rawan. Beberapa kerusakan parah terjadi sementara anggaran terbatas. Selain itu jumlah penjaga atau petugas minim. Perawatan rumah dinas memerlukan biaya yang cukup banyak, baik untuk renovasi/rehab atau perawatan rutin. Di sisi lain ada potensi besar bangunan rumah dinas tersebut untuk dimanfaatkan baik sebagai penghasil PAD maupun pelayanan publik. Pemanfaatan tersebut

akan snaat membantu dalam biaya perawatan dan keseltarian bangunan.

Sebagai contoh di Pekalongan, bangunan yang disewa oleh Cafe diperbaiki sehingga menjadi layak pakai, tanpa perlu mengeluarkan anggaran dari APBD.

Meskipun sebagian aset saat ini sudah diberdaayakan seperti kantor eks Bakorwil di Surakarta, Rumah Dinas di Magelang dan Banyumas, namun dilihat dari outcome yang dihasilkan belum memenuhi sepenuhnya biaya perawatan yang dibutuhkan. Pendapatan dari sewa yang telah disetorkan ke kas daerah tersebut jika dikalkulasi belum mencukupi biaya perawatan. Diluar aset yang telah dimanfaatkan tersebut, aset bangunan di daerah lain tidak terawat dan juga tidak menghasilkan pendapatan. Ada beberapa alasan mengapa aset belum dimanfaatkan. Pertama adalah karena belum adanya keputusan/kebijakan dari yang berwenang terkait pemanfaatan tersbeut. Kedua kondisinya yang belum memadai. Ketiga karena belum adanya inisiatif atau keberanian dari pengelola. Keempat karena belum terbukanya peluang pasar, objek belum dikenal. Di bawah ini merupakan kondisi pengelolaan aset eks Bakorwil di tiap daerah.

Tabel 4.2.

Kondisi Rumah Dinas dan Kantor eks Bakorwil

No Nama Aset dan Lokasi

Luas lahan

(M2) Kondisi Eksisting 1 Kantor eks Bakorwil

Pati

30.220 Pengelolaan oleh beberapa Balai/UPT, untuk kantor balai/

51.850 Pengelolaan oleh BP2MK, Lahan luas, tidak digunakan, belum dimanfaatkan, butuh perawatan, pemasukan sewa lap. Tenis dan sawah, belum jelas pengelola (Dinas Pendidikan atau BPKAD) 3 Kantor eks Bakorwil

Surakarta sebagai transit, ada bangunan baru untuk balai kehutanan, masih

No Nama Aset dan Lokasi

Luas lahan

(M2) Kondisi Eksisting 5 Kantor eks Bakorwil

Magelang

54.000 Satu kompleks rumah dinas dan kantor, banyak lahan kosong,

7 Kantor eks Bakorwil Pekalongan

12.000 Pengelolaan belum ditetapkan, sebagian BPKAD, sebagian Balai

23.000 Pengelolaan oleh BP2MK, digunakan balai pendidikan dan balai kehutanan, butuh banyak rehab, tidak ada anggaran, tersedia lahan kosong

9 Kantor eks Bakorwil Banyumas

7.229 Pengelolaan bersama Balai/UPT, untuk kawasan perkantoran pendidikan, UPAD, Kehutanan, Nakertrans

10 Rumah Dinas eks Bakorwil Banyumas

21.020 Pengelolaan oleh UPAD (BPKAD), untuk transit, disewakan untuk nikahan, lahan luas, sebagaim disewakan untuk cafe, dihuni PNS, bursa mobil, berpotensi untuk wisata, taman bermain.

Sumber: data primer diolah

Dalam dokumen LAPORAN AKHIR PENELITIAN (Halaman 63-71)