BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.8. Indikator
Sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2014 serta Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 2016, serta Perda Provinsi Jawa Tengah Nomor 5 Tahun 2017, maka di dalam penelitian dapat diberlakukan indikator sebagaimana tabel 2.1 sebagai berikut.
Tabel 2.1.
Indikator Penelitian
No Jenis Pengelolaan Indikator
1 Penggunaan - diperlukan untuk menunjang pelayanan publik a Penyelenggaraan Tugas
dan fungsi OPD
- OPD membutuhkan untuk operasional - tersedia pendanaan
b Dioperasionalkan oleh pihak lain
- dibutuhkan pelayanan publik
- OPD tidak memiliki dana untuk operasional - adanya pihak lain yang mampu
2 Pemanfaatan - tidak digunakan untuk menunjang pelaksanaan pemerintahan/tugas fungsi OPD
- tidak mengganggu penyelenggaraan pemerintahan daerah.
a Sewa - tidak digunakan untuk penyelenggaraan pemerintahan daerah tapi perlu dioptimalkan - rawan penggunaan oleh pihak lain secara tidak
sah.
- tidak merugikan pemerintah daerah
- tidak mengganggu penyelenggaraan pemerintahan daerah.
b Pinjam Pakai - pengguna barang tidak/belum memerlukan - menunjang pelaksanaan penyelenggaraan
pemerintahan daerah.
- tidak untuk mendapatkan penghasilan - ada pihak lain yang memerlukan untuk
pelaksanaan pemerintahan
c Kerjasama Pemanfaatan - berpotensi mengoptimalkan daya guna dan hasil guna barang milik daerah
- berpotensi meningkatkan penerimaan pendapatan daerah.
- tidak tersedia apbd yang cukup untuk biaya operasional, pemeliharaan, dan/atau perbaikan d Bangun Serah Guna/
Bangun Guna Serah
- dibutuhkan sarpras bagi pelayanan umum - tidak ada/cukup dana dalam apbd
- mendatangkan penerimaan bagi daerah e Kerjasama
Pengembangan Infrastruktur
- perlu penyediaan infrastruktur untuk kepentingan umum
- tidak ada/cukup dana dalam apbd - termasuk prioritas program penyediaan
infrastruktur.
3 Pemindahtanganan - tidak diperlukan bagi penyelenggaraan tugas pemerintahan
- tidak sesuai dengan tata ruang wilayah atau penataan kota
- bangunan pengganti sudah disediakan - aset sudah tidak layak secara ekonomis.
a penjualan - tidak digunakan/dimanfaatkan;
- lebih menguntungkan apabila dijual - sebagai pelaksanaan ketentuan peraturan
No Jenis Pengelolaan Indikator b tukar menukar - memenuhi kebutuhan operasional
penyelenggaraan pemerintahan;
- optimalisasi barang milik daerah - tidak tersedia dana dalam APBD.
- tanah dan/atau bangunan sudah tidak sesuai dengan tata ruang wilayah atau penataan kota;
- menyatukan barang milik daerah yang lokasinya terpencar;
- pelaksanaan rencana strategis pemerintah pusat/pemerintah daerah;
- mendapatkan/memberikan akses jalan untuk aset tanah dan/atau bangunan
c Hibah - dibutuhkan untuk kepentingan sosial, budaya, keagamaan, kemanusiaan, pendidikan atau penyelenggaraan pemerintahan
- bukan merupakan barang rahasia negara;
- bukan merupakan barang yang menguasai hajat hidup orang banyak
- tidak digunakan untuk penyelenggaraan pemerintahan daerah.
d Penyertaan modal pemerintah daerah.
- dibutuhkan bagi pendirian, pengembangan, dan peningkatan kinerja BUMN/BUMD atau badan hukum lainnya.
- lebih optimal apabila dikelola oleh
BUMN/BUMD atau badan hukum lainnya.
Sumber: PP 27/2014 dan Permendagri 19/2016; Perda Jateng 5/2017 (diolah)
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. JENIS PENELITIAN
Jenis penelitian ini ialah penelitian deskriptif yang akan mengungkapkan kondisi dari objek penelitian. Sebagimana diungkapkan Arikunto (2002), bahwa penelitian deskriptif dilakukan untuk mengetahui keadaan subjek penelitian terkait segala sesuatu tentang subjek tersebut.
Ditinjau dari sifatnya, termasuk dalam penelitian terapan, karena berorientasi pada aplikasi kebijakan sebagaimana dikemukakan Daniel, et all (2005), bahwa penelitian terapan merupakan usaha yang dilancarkan untuk menjawab masalah dengan tujuan praktis dan jelas.
Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini ialah pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif menurut Mudyahardjo (2008) merupakan upaya pemecahan masalah yang terencana dan cermat namun dengan desain yang longgar. Sedangkan Husaini dan Purnomo (2008), penelitian kualitatif berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa sesuai perspektif peneliti.
3.2. SUBJEK PENELITIAN
Subjek yang akan dilibatkan dalam penelitian ini terdiri dari para pejabat pemangku kepentingan pengelolaan aset Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terutama di eks Bakorwil I, II dan III terutama para pejabat pengelola, pengelola barang dan tenaga teknis. Subjek penelitian juga berupa aset itu sendiri, yang terdiri dari tanah dan bangunan milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang sebelumnya berada di bawah pengelolaan eks Bakorwil I, II dan III.
3.3. JENIS SUMBER DATA
Data dalam penelitian ini ialah data primer dan data sekunder. Data primer digali melalui wawancara, diskusi, kuesioner dan pengamatan langsung terhadap objek penelitian. Adapun data sekunder berasal dari
dokumen terkait objek penelitian, baik dari satuan kerja yang membidangi maupun dari sumber lain.
Informan dalam penelitian ini berasal dari pejabat terkait yang membidangi pengelolaan asset, dalam hal ini pejabat di BKAD Provinsi Jawa Tengah dan pejabat pengelola aset di eks Bakorwil. Selain itu penelitian ini juga menggali pendapat dari sumber lain, seperti stakeholder pemerintahan terkait melalui forum FGD.
3.4. INSTRUMEN PENELITIAN
Metode pengambilan data dalam penelitian ini terdiri dari wawancara, pengisian kuesioner, FGD/diskusi dan pengamatan langsung/observasi.
Wawancara dilakukan terhadap individu kunci dalam pengelolaan aset.
Wawancara dan observasi dilakukan antara bulan April-Juni 2017 bertempat di masing-masing eks Bakorwi. Adapun pengisian kuesioner dilakukan terhadap aparat pemerintah terkait dan masyarakat. Diskusi/FGD dilakukan terhadap stakeholder terkait yang diselenggarakan serentak di Bappeda Provinsi Jawa Tengah.
Sesuai dengan teknik di atas, instrumen pengambilan data dalam penelitian ini berupa pedoman wawancara, kuesioner, FGD/diskusi, dan kolom pencatatan pada saat observasi. Instrumen tambahan berupa alat dokumentasi visual dan audio.
3.5. PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS DATA
Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan metode identifikasi terhadap kondisi eksisting pengelolaan aset. Kemudian dilakukan klasifikasi kesesuaian potensi pengelolaan aset berdasarkan kategori sesuai dengan ketentuan regulasi, yaitu penggunaan, pemanfaatan dan pemindahtanganan. Klasifikasi tersebut berdasarkan indikator sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya.
Setelah dilakukan identifikasi permasalahan, potensi dan diklasifikasi kemudian dilakukan pendalaman menggunakan bantuan teknik SWOT.
Kepada masing-masing aset dilakukan pendalaman unsur-unsur Strength
(kekuatan), Weakness (kelemahan), Oportunity (kesempatan), dan Threat (hambatan) untuk pengembangan pengelolaan.
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik kualitatif.
Analisis kualitatif menggunakan model inetraktif dikembangkan oleh Miles dan Huberman, dimana proses pengumpulan, pengolahan dan penyajian data secara simultan untuk menghasilkan kesimpulan yang saling terkait (Husaini dan Purnomo, 2008).
Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi kondisi eksisting, kemudian melakukan identifikasi potensi pengembangan dengan memperhatikan ketentuan regulasi dan teknik SWOT. Analisis regulasi dilakukan untuk menyelaraskan kebutuhan pengembangan dengan ketentuan yang berlaku. Kemudian teknik SWOT dilakukan dengan melakukan identifikasi faktor-faktor kekuatan dan hambatan faktor internal dan eksternal. Dari analisis terhadap aspek regulasi dan SWOT tersebut akan dihasilkan beberapa alternatif pengembangan aset, sebagaimana digambarkan di bawah ini.
Gambar 3.1 Alur pengolahan data
3.6. PELAKSANAAN
Penelitian ini dilaksanakan selama 6 (enam) bulan yang dimulai dari bulan Maret-September 2017 terhadap asset Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di bawah pengelolaan eks Bakorwil I, II dan III. Penelitian dilaksanakan di 5 wilayah eks Karesidenan, yaitu Pati, Surakarta, Magelang, Pekalongan dan Banyumas.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. HASIL
Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) pada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui beberapa tahapan sejarah yang cukup panjang. Pada masa penjajahan Belanda, sistem pemerintahan kolonial terendah adalah karesidenan yang dijabat oleh seorang residen. Karesidenan bertugas membantu gubernur dalam menjalankan pemerintahan kolonial dan membawahi beberapa kabupaten. Pasca kemerdekaan, keberadaan karesidenan ini tetap dipertahankan sebagai kepanjangan tangan gubernur dalam mengkoordinasikan kabupaten di bawahnya.
Di Jawa Tegah terdapat 6 karesidenan, yaitu Karesidenan Pati bertempat di Kabupaten Pati, Karesidenan Semarang bertempat di Kota Semarang, Karesidenan Surakarta bertempat di Kota Surakarta, Karesidenan Kedu bertempat di Kota Magelang, Karesidenan Pekalongan bertempat di Kota Pekalongan, dan Karesidenan Banyumas bertempat di Kabupaten Banyumas.
Seiring dengan perubahan peraturan tentang pemerintahan daerah, status Karesidenan berubah menjadi Pembantu Gubernur, meskipun demikian wilayah Pembantu Gubernur atau eks karesidenan ini tidak berubah. Pasca berlakunya otonomi daerah, kembali terjadi perubahan status dan nama Pembantu Gubernur menjadi Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil). Wilayah Bakorwil mengalami perubahan, jika sebelumnya Pembantu Gubernur (eks Karesidenan) terdapat 6 wilayah, maka setelah dirubah menjadi Bakorwil hanya terbagi menjadi 3 wilayah. Ada penggabungan 2 wilayah Pembantu Gubernur digabung menjadi satu Bakorwil. Eks Pembantu Gubernur Wilayah Pati dan Semarang digabung menjadi Bakorwil I berpusat di Kabupaten Pati. Eks Pembantu Gubernur Surakarta dan Kedu digabung menjadi Bakorwil II berpusat di Kota Magelang. Eks Pembantu Gubernur wilayah Pekalongan dan Banyumas digabung menjadi Bakorwil III berpusat di Kabupaten Banyumas.
Diantara aset-aset yang ada, pengelolaan oleh Bakorwil di wilayah masing-masing sebagian digunakan untuk kantor, sebagian disewakan untuk keperluan rapat, pameran atau hajatan, dan sebagian lagi kurang terawat.
Selama berada dibawah pengelolaan Bakorwil, sebagian besar rumah dinas (kecuali Pekalongan) terawat dan digunakan untuk transit Gubernur ketika bertugas di wilayah tersebut. Adapun sebagian aset lainnya dioptimalkan untuk kantor atau disewakan. Aset di Kota Pekalongan terbilang kurang terawat dibanding daerah lain, baik kantor maupun rumah dinas kondisinya sangat memprihatinkan. Ada catatan untuk aset di Pekalongan kondisinya rusak berat baik kawasan rumah dinas di Jalan Diponegoro berupa bangunan utama yang rusak, paviliun yang tidak dimanfaatkan, lapangan tenis dan bekas asrama rusak berat, dan kawasan kantor di Jalan Pemuda yang sekarang juga tidak ditempati kondisinya akibat rusak berat.
Semenjak awal tahun 2017, terjadi perubahan struktur kelembagaan perangkat daerah Provinsi Jawa Tengah, salahsatunya adalah dibubarkannya Bakorwil. Di sisi lain dibentuk satuan tugas atau unit baru dari beberapa dinas yang bertempat di eks Bakorwil tersbut. Beberapa dinas yang membentuk unit kerja berupa UPT atau Balai adalah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan Dinas Perhubungan, serta Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memiliki Balai Pengendali Pendidikan Menengah dan Khusus (BP2MK) pada 6 wilayah eks Karesidenan. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi memiliki Balai Pengawas Ketenagakerjaan juga pada 6 wilayah eks Karesidenan. Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan memiliki Balai Pengelolaan Hutan yang terbagi dalam 6 wilayah eks Karesidenan. Dinas Perhubungan juga memiliki Unit Pelaksana Teknsi Dinas yang tersebar di 6 wilayah eks Karesidenan.
Badan Pengelola Keungan dan Aset Daerah memiliki Unit Pengelola Aset Daerah sebanyak 3 wilayah yaitu wilayah Semarang, Wilayah Surakarta dan Wilayah Banyumas.
Setelah dibubarkannya Bakorwil, maka pengelolaan aset kantor dan rumah dinas eks Bakorwil dilakukan oleh beberapa OPD. Kantor-kantor dikelola bersama oleh Baial/UPT yang menempati, adapun untuk rumah dinas di wilayah Pati, Magelang dan Pekalongan dikelola oleh BP2MK, sedangkan rumah dinas di Surakarta dan Banyumas dikelola oleh Unit Pengelola Asert Daerah (UPAD) dibawah BPKAD. Adapun SDM atau pegawai dan sarpras pendukung sebagian menjadi bagian dari BP2MK dan UPAD di masing-masing wilayah. Gedung kantor dan rumah dinas dimanfaatkan oleh balai-balai atau UPT tersebut di atas secara bersamaan dengan sistem pemeliharaan secara bergantian. Pada awal tahun 2017, perubahan pengelolaan ini secara umum terkendala belum adanya anggaran serta belum optimalnya pemanfaatan. Beberapa aset juga terancam kelestariannya karena kurangnya pemeliharaan.
4.1.1. Eks Bakorwil I di Pati
Aset tanah dan bangunan eks Bakorwil I di Pati terdiri dari 2 (dua) lokasi utama, yaitu kawasan perkantoran dan rumah dinas. Sesuai dengan penjelasan pengelola aset (Bp. Ags) kondisi saat ini sebagian bangunan baik di perkantoran maupun rumah dinas mengalami kerusakan kecil. Bangunan-bangunan di kedua lokasi tersebut sebagian besar juga merupakan Bangunan-bangunan cagar budaya yang tidak diperbolehkan untuk dirubah.
Kawasan perkantoran berada di Jalan Jenderal Sudirman, tepatnya di Kelurahan Plangitan dan Kelurahan Puri. Kawasan perkantoran ini memiliki luas 3 Ha, tepatnya 30.220 M2 yang terletak di Kelurahan Puri seluas 9.490 M2 dan Plangitan seluas 20.730 M2. Di dalam kawasan tersebut terdapat 11 gedung, meliputi kantor, gudang dan asrama, yang terdiri dari bangunan lama (cagar budaya) dan bangunan baru. Sebagian dalam kondisi baik dan sebagian lagi dalam kondisi rusak. Selain gedung tersebut, masih terdapat gedung yang belum masuk pengelolaan Bakorwil karena belum ada kejelasan serah terima, yaitu bekas gedung PMI, Kesbanglinmas, Dishubkominfo, dan Koperasi Primkopol. Untuk gedung bekas PMI belum dilakukan serah terima karena belum ada data nilai barang, sedangkan eks
gedung Dishubkominfo belum ada berita acara serah terima dan data nilainya. Di lokasi tersebut juga terdapat bangunan eks Samsat (UP3D) yang sudah tidak digunakan. Pada saat ini sedang proses perjanjian sewa dengan Bank Jateng senilai Rp 160 juta per tahun.
Pada awal tahun 2017, kawasan perkantoran ini dikelola secara bersama-sama dan digunakan untuk kantor Balai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (4 gedung), Dinas ESDM (1 gedung), Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (1 gedung), Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (2 gedung), Dinas Perhubungan (1 gedung), pergudangan dan asrama karyawan. Sebagian besar gedung di kawasan ini sudah efektif digunakan untuk menunjang tugas dan fungsi OPD dimaksud, sementara beberapa gedung dalam kondisi rusak, dan memerlukan perbaikan. Sebagai contoh gedung bekas PMI dalam kondisi rusak dan memerlukan banyak perbaikan, selain itu bangunan asrama di bagian belakang kondisinya rusak dan tidak layak huni. Sebagian lagi statusnya belum masuk pencatatan karena belum ada serah terima seperti gedung Dishubkominfo. Pengelolaan masing-masing gedung berada pada OPD masing-masing-masing-masing. Sedangkan untuk fasilitas seperti asrama kepada penghuni dikenakan biaya sewa untuk pemeliharaan.
Di beberapa bagian masih terdapat lahan kosong yang masih bisa digunakan untuk menunjang pelaksanaan tugas OPD. Salahsatu contohnya adalah lahan di sebelah timur bagian belakang masih kosong yang rencana akan digunakan untuk pembibitan oleh Balai Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup.
Di bagian depan sebelah timur terdapat aset yang bukan milik Pemerintah Provinsi namun berada di dalam kawasan perkantoran ini.
Terdapat sebuah gereja yang sudah cukup lama berdiri dan hingga kini masih digunakan. Gereja tersebut memiliki sertifikat tersendiri terpisah dari aset Provinsi Jawa Tengah meskipun lokasinya berada di dalam kompleks perkantoran.
Secara umum lokasi ini lebih sesuai digunakan untuk kawasan perkantoran dalam menunjang tugas dan fungsi OPD. Ketersediaan bangunan serta sarana pendukung lainnya sangat memadai untuk digunakan
sebagai kawasan perkantoran. Dari segi ketersediaan lahan, luas lahan juga terbilang cukup dan ketersediaan bangunan sangat memadai meskipun tidak tersedia lahan yang cukup luas untuk mendirikan bangunan baru.
Kawasan Rumah Dinas juga berada di Jalan Jenderal Sudirman, tepatnya Kelurahan Plangitan dengan jarak kurang lebih 1 Km ke arah barat dari kantor. Kawasan Rumah Dinas seluas 5,2 Ha, tepatnya 51.850 M2 terdiri dari 13 gedung, yaitu: gedung utama rumah dinas (1 bangunan), paviliun (2 bangunan), garasi (4 bangunan), kantor (1 bangunan), asrama (3 bangunan), gudang (2 bangunan), ditambah lapangan tenis (2 lokasi/4 lapangan), serta lahan sawah seluas 2 Ha.
Pengelolaan rumah dinas sampai dengan akhir tahun 2016 berada pada Bakorwil I Pati, dan sejak Januari 2017 seiring dihapusnya Bakorwil, pengelolaan berada di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, (BP2MK Wilayah Pati). Pada tahun 2017 tidak terdapat alokasi anggaran untuk pemeliharaan, dan BP2MK Wilayah Pati kesulitan dana untuk perawatan rumah dinas tersebut. Menurut Bp. Ags selaku pihak pengelola (BP2MK Pati) pihaknya sudah menyampaikan kondisi tersebut kepada BPKAD dengan harapan pengelolaan dapat dialihkan ke BPKAD, namun rumah dinas akhirnya diputuskan berada di bawah pengelolaan BP2MK Wilayah Pati. Tidak adanya anggaran pemeliharaan dikhawatirkan akan memperburuk kondisi aset tersebut. Di sisi lain terdapat potensi antara lain nilai bangunan (cagar budaya) dan lahan yang cukup luas yang bisa digunakan untuk menambah pendapatan daerah. Kondisi saat ini di beberapa bagian seperti gudang dan asrama mengalami kerusakan sedangkan anggaran khusus untuk perawatan gedung tidak tersedia.
Bangunan utama rumah dinas terdiri dari pendopo depan, ruang tamu, ruang keluarga, 4 kamar tidur, dapur dan teras belakang. Ruang tamu cukup besar dan dapat menampung seratus orang untuk rapat. Di samping kanan dan kiri masing-maisng terdapat paviliun berisi kamar, ruang tamu dan kamar mandi. Paviliun di sebelah barat disewa oleh pegawai balai/UPT OPD, adapun paviliun sebelah timur tidak digunakan. Selain paviluan tersebut, terdapat bangunan gudang dan sarama di bagian belakang. Kondisi
gudang rusak berat. Adapun asrama saat ini dihuni oleh 3 keluarga penjaga rumah dinas (2 PNS, 1 tenaga kontrak).
Bangunan utama sebelumnya dimanfaatkan untuk rumah dinas Kepala Bakorwil I dan keperluan dinas lainnya seperti menerima tamu. Sejak awal tahun 2017, bangunan ini tidak lagi dimanfaatkan sebagai rumah dinas. Saat ini bangunan utama hanya dimanfatakan ruang tamunya untuk rapat-rapat dengan guru SMA/SMK di wilayah Pati. Meskipun sudah tidak digunakan untuk rumah dinas, namun saat ini sarana rumah tangga seperti dapur, kamar, ruang tamu, ruang keluarga, pendopo dan teras belakang beserta kelengkapannya masih dalam keadaan baik dan layak untuk digunakan.
beberapa bagiam rumah seperti halaman, pendopo depan, ruang tamu dan pendopo belakang bisa dimanfaatkan untuk penyelenggaraan acara seperti pameran, hajatan atau pertemuan/rapat.
Saat ini penggunaan aset rumah dinas belum optimal, di sisi lain menimbulkan biaya perawatan yang tidak sedikit. Sebagaimana disampaikan Bp. Ags, kebutuhan perawatan meliputi listrik sebesar Rp4.000.000,00 per bulan, penjaga serta tenaga kebersihan. Biaya tersebut belum termasuk pemeliharaan bangunan dan fasilitas pendukungnya.
Dalam upaya pemeliharaan, saat ini hanya terdapat 2 orang penjaga, yaitu 1 orang PNS dan 1 orang honorer yang bertugas menjaga dan membersihakan rumah dinas. Keterbatasan tenaga tersebut membuat perawatan kurang optimal. Jika tidak dilakukan upaya pengelolaan yang lebih optimal, maka dikhawatirkan kelestarian dan kemanfaatan aset ini tidak terwujud dengan baik.
Karena masalah pemeliharaan tersebut, kondisi aset ini rawan penyusutan nilai dan terancam kelestariannya. Aset ini juga sangat rawan terhadap pemanfaatan oleh pihak lain secara ilegal (penyerobotan), serta hilangnya beberapa aset akibat pencurian, rawan konflik dengan warga yang menarik tarif parkir saat ada kegiatan. Lokasi cenderung terbuka tanpa pengawasan, banyak warga bisa bebas masuk lokasi dan menimbulkan situasi yang rawan pencurian atau perusakan aset. Pada beberapa kegiatan seperti rapat para guru atau even tenis, ada sejumlah warga yang menarik
parkir secara liar, dan seringkali terjadi konflik dengan pengelola ketika dilakukan upaya penertiban.
Upaya pemanfaatan aset rumah dinas untuk pemasukan PAD sebelumnya pernah dilakukan oleh Bakorwil Pati berupa penyewaan lapangan tenis, sawah dan asrama. Lahan sawah di bagian belakang dan lapangan tenis pengelolaanya disewakan kepada pihak ketiga. Lapangan tenis sebanyak 2 unit dikelola oleh pihak ketiga dengan sistem sewa sebesar Rp45.000,00 per bulan. Lahan sawah seluas 2 Ha juga disewa oleh petani dengan sistem tahunan sebesar Rp10.000.000,00 per tahun. Selain sewa lapangan dan sawah, penghasilan sewa juga berasal dari asrama. Bangunan asrama dimanfaatkan pegawai eks Bakorwil sebagai tempat tinggal dengan sistem sewa sebesar Rp150.000,00 per orang per bulan. Namun demikian penghasilan tersebut masih jauh dari kebutuhan pemeliharaan secara keseluruhan.
Di luar kondisi tersebut, masih banyak potensi aset yang belum dioptimalkan yang bisa mendatangkan manfaat atau tambahan pendapatan bagi pemerintah daerah maupun masyarakat sekitar. Beberapa potensi yang bisa dimanfaatkan antara lain sewa aula atau gedung utama untuk pernikahan, sewa lahan untuk bursa mobil, sewa lahan untuk kawasan kuliner, sewa bangunan untuk kuliner, sewa lahan untuk pertunjukan seni dan budaya, pengembangan taman wisata edukasi dan sejenisnya. Aset rumah dinas ini juga sangat potensial karena merupakan warisan budaya yang digemari oleh kalangan remaja sebagai lokasi swafoto.
Kendala yang dihadapi menuurt Bp. Ags untuk alternatif tersebut adalah belum adanya regulasi atau aturan yang menjadi landasan pemanfaatan aset tersebut, misalnya tertuang dalam perda tarif. Selain itu kendala kesiapan sarana, terutama toilet, saluran air, dan sumber air yang sangat diperlukan bagi penunjang pemanfaatan aset sebagaimana disebutkan di atas. Pengelola juga belum berani memberikan inisiatif dan keberanian mengawali langkah-langkah pemanfaatan rumah dinas secara lebih optimal terutama menangkap peluang potensi rumah dinas untuk mendatangkan penghasilan tambahan bagi PAD.
Selain belum adanya keberanian pengelola, masyarakat juga masih enggan untuk memanfaatkan aset tersebut karena terdapat stigma mistis.
Sampai saat ini belum ada pihak yang berminat menggunakan gedung rumah dinas sebagai hajatan. Selain karena stigma tersebut, kebanyakan masyarakat juga tidak mengetahui jika gedung tersebut dapat disewa/digunakan untuk acara hajatan. Dengan demikian, perlu adanya sosialisasi atau pengelola perlu mengawali penyelenggaraan hajatan di tempat ini agar masyarakat mengetahui dan tertarik.
Oleh sebab itu, diperlukan langkah optimalisasi aset rumah dinas ini.
Kondisi saat ini rumah dinas tidak dibutuhkan untuk menjalankan tugas dan fungsi OPD, di sisi lain memerlukan perawatan untuk menjaga bangunan sebagai cagar budaya. Di sisi lain ada peluang pemanfaatan yang di satu sisi bisa menjaga kelestarian bangunan di sisi lain dapat mendatangkan penghasilan baik bagi pemerintah daerah dan masyarakat secara langsung maupun tidak langsung.
Sebagaimana disampaikan Bp Ags, saat ini salahsatu pihak investor tertarik dengan aset rumah dinas ini, dan berminat menjadikannya sebagai wahana wisata edukasi bagi kalangan pelajar. Pihak investor tersebut sedang
Sebagaimana disampaikan Bp Ags, saat ini salahsatu pihak investor tertarik dengan aset rumah dinas ini, dan berminat menjadikannya sebagai wahana wisata edukasi bagi kalangan pelajar. Pihak investor tersebut sedang