• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ruang Lingkup

Dalam dokumen LAPORAN AKHIR PENELITIAN (Halaman 21-0)

BAB I PENDAHULUAN

1.5. Ruang Lingkup

Fokus kegiatan ini adalah mendalami beberapa alternatif terbaik dalam rangka pengelolaan aset di masing-masing eks Bakorwil, apakah akan digunakan untuk pelayanan publik, menunjang tugas OPD atau untuk menunjang pendapatan daerah tanpa melanggar ketentuan, tanpa memberikan beban berlebih pada APBD, sesuai prioritas pembangunan daerah dan berfungsi dengan efektif.

Kegiatan ini akan khusus membahas alternatif terbaik bagi pengelolaan aset eks Bakorwil I, II dan III di wilayah Pati, Magelang, Surakarta, Pekalongan, dan Banyumas.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. BARANG MILIK DAERAH

Sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dalam Pasal 1 disebutkan bahwa Barang Milik Daerah adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. Di dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Pedoman Pengelolaan Barang Milik Daerah, pasal 1 disebutkan bahwa Barang milik daerah adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. Sesuai ketentuan Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Pedoman Pengelolaan Barang Milik Daerah, bahwa Barang milik daerah adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah.

Menurut Philiphus M. Hadjon barang-barang milik daerah digolongkan menjadi barang tidak bergerak (tanah, gedung, tempat tinggal tetap atau sementara, monument), barang bergerak (alat-alat) dan barang persediaan (Latifah Amir, 2012). Dalam kajian akademis, barang milik daerah identik dengan aset daerah. Sesuai pendapat Kaganova dan Mc.Kellar (dalam Listiyarko Wijito & Herri Waloejo, 2014) aset adalah sesuatu yang memiliki nilai. Dua elemen yang fundamental dari aset adalah nilai dan umur manfaat. Menurut Mahmudi, aset daerah merupakan semua harta kekayaan daerah yang dimiliki atau dikuasai oleh pemerintah daerah baik dengan pembelian, sumbangan, hadiah, donasi, hibah dan sejenisnya (Dwi Ratnasari, 2015).

Aset atau barang milik daerah dibahas dalam penelitian ini ialah yang berupa tanah, gedung kantor dan rumah dinas atau rumah negara yang sebelumnya dikelola oleh Bakorwil. Gedung kantor yang dimaksud adalah bangunan beserta fasilitas pendukungnya sebagai sarana penunjang

penyelenggaraan pemerintahan daerah, dalam hal ini pelaksanaan tugas dan fungsi balai/UPT dari OPD. Khusus tentang rumah dinas atau rumah negara pengelolaannya telah diatur dalam Permendagri 19 Tahun 2016. Pada Pasal 485 disebutkan bahwa rumah negara merupakan barang milik daerah yang diperuntukkan sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan serta menunjang pelaksanaan tugas pejabat dan/atau pegawai negeri sipil pemerintah daerah yang bersangkutan.

Rumah negara dibagi ke dalam 3 (tiga) golongan, yaitu: rumah negara golongan I, rumah negara golongan II, dan rumah negara golongan III.

Rumah negara golongan I dipergunakan bagi pemegang jabatan tertentu dan karena sifat jabatannya harus bertempat tinggal di rumah tersebut serta hak penghuniannya terbatas selama pejabat yang bersangkutan masih memegang jabatan tertentu tersebut. Rumah negara golongan II adalah rumah negara yang mempunyai hubungan yang tidak dapat dipisahkan dari suatu OPD dan hanya disediakan untuk didiami oleh pegawai negeri sipil pemerintah daerah yang bersangkutan, terdiri dari rumah susun dan mess/asrama pemerintah daerah. Rumah negara golongan III adalah rumah negara yang tidak termasuk golongan I dan golongan II yang dapat dijual kepada penghuninya.

Rumah negara tersebut juga dapat dialih fungsikan menjadi bangunan kantor berdasarkan keputusan Kepala Daerah. Rumah Negara golongan I dan II tidak dapat dijual atau dipindahtangankan kepada penghuninya.

2.2. PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH

Barang atau aset milik daerah tersebut dibutuhkan untuk menunjang pelaksanaan tugas pemerintah daerah, khusunya memberikan pelayanan umum. Oleh sebab itu perlu ada satu upaya pengelolaan aset yang baik agar bisa dioptimalkan pendayagunaannya. Konsep pendayagunaan tersebut dikenal dengan pengelolaan. Balderton mengemukakan bahwa pengelolaan berarti menggerakkan, mengorganisasikan, dan mengarahkan usaha manusia untuk memanfaatkan secara efektif material dan fasilitas untuk mencapai suatu tujuan (Dwi Ratnasari, 2015).

Hasil penelitian Dwi Ratnasari (2015) menunjukkan pentingnya pengelolaan aset dalam melakukan pengamanan secara administrasi, fisik dan hukum. Menurut Sholeh dan Rochmansjah (dalam Dwi Ratnasari, 2015) pengelolaan aset/barang milik daerah intinya meliputi upaya perencanaan yang tepat, pelaksanaan secara efisien dan efektif, serta pengawasan (monitoring). Menurut Doli D Siregar (dalam Sugeng Riyono, 2013) prosedur pengelolaan aset adalah: inventarisasi, legal audit, penilaian aset, optimalisasi aset, pengawasan dan pengendalian. Mardiasmo (dalam Nyemas Hasfi, dkk, 2013) menyatakan terdapat tiga prinsip dasar pengelolaan kekayaan asset daerah yakni: (1) adanya perencanaan yang tepat, (2) pelaksanaan/pemanfaatan secara efisien dan efektif, dan (3) pengawasan/monitoring.

Tujuan utama dari pengelolaan adalah untuk menjaga asset tersebut serta memberikan manfaat bagi penyelenggaraan pemerintahan. Latifah Amir (2012) dalam penelitiannya tentang pengawasan penggunaan rumah dinas, menekankan pentingnya pengawasan administrasi adalah melalui mekanisme pemberian izin. Hasil penelitlian Oktaviadi (2014) menunjukkan pembukuan akuntansi barang milik daerah berpengaruh terhadap pengawasan kekayaan daerah.

Pengelolaam aset identik dengan manajemen aset. Menurut Sugeng Riyono (2013) manajemen aset daerah lahir dari adanya pergeseran paradigma old government menuju paradigma new public management, dimana nilai dan orientasi dari murni pelayanan bergeser kepada keterlibatan swasta dalam pemberian layanan kepada masyarakat dengan pola kemiteraan. Menurut Haryono (dalam Listiyarko Wijito & Herri Waloejo, 2014) dengan manajemen aset akan dapat diketahui apakah suatu aset sesuai dengan strategi penyediaan pelayanan atau tidak. Adapun prinsip-prinsip manajemen aset akan mengarahkan biaya-biaya pelayanan kepada: penurunan permintaan terhadap aset baru dengan mengadopsi solusi nonaset; maksimalisasi potensi manfaat dari aset-aset yang telah ada (existing aset); penekanan biaya keseluruhan (overall cost) dari pemilikan aset melalui penggunaan teknis biaya siklus hidup (life cycle costing);

memastikan perhatian/fokus yang tajam atas hasil dengan penyusunan pertanggungjawaban (responsibility) dan akuntabilitas (accountability) yang jelas untuk aset.

Raimond Flora Lamandasa (dalam Sugeng Riyono, 2013), mengemukakan kerjasama dalam pengelolaan aset lahir dari adanya upaya mengatasi kesulitan pendanaan dalam pemeliharaan maupun pengelolaan aset tersebut. Langkah tersebut biasanya dilakukan melalui kemiteraan antarlembaga pemerintah, BUMN, BUMD maupun swasta. Menurut Sugeng Riyono (2013) bentuk-bentuk kemiteraan pemerintah dengan swasta dipaparkan bisa berupa kontrak pelayanan, operasi dan perawatan (operation, maintenance and service contract), dimana pemerintah memberikan wewenang kepada swasta untuk kegiatan operasional, perawatan dan pelayanan dengan infrastruktur yang disediakan oleh pemerintah. Kemudian prinsip kontrak Bangun, Operasikan dan Transfer (Build, Operate and Transfer) atau Bangun Guna Serah digunakan untuk melibatkan investasi swasta dimana pihak swasta membengun infrastruktur baru dan kemudian mengoperasikan fasilitas tersebut dalam waktu tertentu.

Prinsip Built-Transfer-Operate (BTO) atau Bangun Serah Guna hampir sama dengan BOT, hanya setelah pembangunan diserahkan ke pemerintah daerah, baru kemudian diserahkan pihak lainnya untuk dikelola.

Selain mekanisme di atas, terdapat juga mekenisme sewa, pinjam pakai dan kerjasama pemanfaatan. Menurut Andy Prasetiawan Hamzah dan Arvan Carlo Djohansjah (2010), sewa adalah pemanfaatan barang milik daerah oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dengan menerima imbalan uang tunai. Pinjam pakai adalah penyerahan penggunaan barang antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dan antar pemerintah daerah dalam jangka waktu tertentu tanpa menerima imbalan dan setelah jangka waktu tersebut berakhir diserahkan kembali kepada pengelola. Kerja sama pemanfaatan adalah pendayagunaan barang milik daerah oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dalam rangka peningkatan penerimaan daerah bukan pajak/pendapatan daerah dan sumber pembiayaan lainnya.

Bangun Guna Serah adalah pemanfaatan barang milik daerah berupa tanah

oleh pihak lain dengan cara mendirikan bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya, kemudian didayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati, untuk selanjutnya diserahkan kembali tanah beserta bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya setelah berakhirnya jangka waktu. Bangun Serah Guna adalah pemanfaatan barang milik daerah berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya, dan setelah selesai pembangunannya diserahkan untuk didayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam jangka waktu tertentu yang disepakati.

2.3. KEBIJAKAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH

Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah, membagi pengelolaan aset pemerintah/daerah menjadi 3 (tiga) kelompok utama, yaitu Penggunaan, Pemanfaatan, dan Pemindahtanganan. Dalam pasal 1 disebutkan bahwa penggunaan adalah kegiatan yang dilakukan oleh pengguna barang dalam mengelola dan menatausahakan barang milik negara/daerah yang sesuai dengan tugas dan fungsi instansi yang bersangkutan. Pemanfaatan adalah pendayagunaan barang milik negara/daerah yang tidak digunakan untuk penyelenggaraan tugas dan fungsi kementerian/ lembaga/satuan kerja perangkat daerah dan/atau optimalisasi barang milik negara/daerah dengan tidak mengubah status kepemilikan. Pemindahtanganan adalah pengalihan kepemilikan barang milik negara/daerah yang dapat berupa penjualan, tukar menukar, hibah, atau penyertaan modal. Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Pedoman Pengelolaan Barang Milik Daerah juga mengatur hal yang sama. Penggunaan adalah kegiatan yang dilakukan oleh pengguna barang dalam mengelola dan menatausahakan barang milik daerah yang sesuai dengan tugas dan fungsi OPD yang bersangkutan. Pemanfaatan adalah pendayagunaan barang milik daerah yang tidak digunakan untuk penyelenggaraan tugas dan fungsi OPD dan/atau optimalisasi barang milik daerah dengan tidak mengubah status kepemilikan. Pemindahtanganan adalah pengalihan kepemilikan barang

milik daerah. Di dalam penelitian ini, fokus pembahasan adalah seputar penggunaan dan pemanfaatan barang milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, terutama asset tidak bergerak eks Bakorwil.

Di dalam Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2014 dan Permandagri 19 Tahun 2016 ditetapkan bahwa Pengelola Barang adalah kepala Daerah dan Pengguna Barang adalah Kepala satuan kerja/OPD. Di dalam pasal 18 PP No. 27 tahun 2014, penggunaan barang milik daerah diarahkan penyelenggaraan tugas dan fungsi satuan kerja perangkat daerah atau bisa dioperasikan oleh pihak lain dalam rangka menjalankan pelayanan umum sesuai tugas dan fungsi satuan kerja perangkat daerah yang bersangkutan. Di dalam regulasi tersebut diatur bahwa barang milik daerah yang telah ditetapkan status penggunaannya pada pengguna barang dapat digunakan sementara oleh pengguna barang lainnya dalam jangka waktu tertentu tanpa harus mengubah status penggunaan barang milik daerah tersebut setelah terlebih dahulu mendapatkan persetujuan gubernur/ bupati/walikota.

Selanjutnya lebih jauh di dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 2016, disebutkan bahwa penggunaan barang milik daerah meliputi: a) penetapan status penggunaan barang milik daerah, b) pengalihan status penggunaan barang milik daerah, c) penggunaan sementara barang milik daerah; dan d) penetapan status penggunaan barang milik daerah untuk dioperasikan oleh pihak lain. Penetapan status penggunaan tersebut dilakukan untuk penyelenggaraan tugas dan fungsi OPD atau dioperasikan oleh pihak lain dalam rangka menjalankan pelayanan umum sesuai tugas dan fungsi OPD yang bersangkutan.

Adapun pemanfaatan, di dalam PP No. 27 Tahun 2014, disebutkan bahwa pemanfaatan adalah pendayagunaan barang milik negara/daerah yang tidak digunakan untuk penyelenggaraan tugas dan fungsi kementerian/

lembaga/satuan kerja perangkat daerah dan/atau optimalisasi barang milik negara/daerah dengan tidak mengubah status kepemilikan. Di dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 2016, pemanfaatan barang milik daerah dapat dilakukan sepanjang tidak mengganggu pelaksanaan tugas dan fungsi penyelenggaraan pemerintahan daerah.

Keuntungan pemanfaatan adalah dapat mendatangkan pendapatan daerah, serta biaya pengamanan dan pemeliharaan tidak menjadi beban APBD.

Pemanfaatan terdiri dari sewa, pinjam pakai, kerja sama pemanfaatan, bangun guna serah, bangun serah guna, dan kerja sama penyediaan infrastruktur.

Sewa adalah pemanfaatan barang milik negara/daerah oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dan menerima imbalan uang tunai. Pinjam Pakai adalah penyerahan penggunaan barang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah atau antar pemerintah daerah dalam jangka waktu tertentu tanpa menerima imbalan dan setelah jangka waktu tersebut berakhir diserahkan kembali kepada pengelola barang. Kerja Sama Pemanfaatan adalah pendayagunaan barang milik negara/daerah oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dalam rangka peningkatan penerimaan negara bukan pajak/pendapatan daerah dan sumber pembiayaan lainnya. Bangun Guna Serah adalah pemanfaatan barang milik negara/daerah berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya, kemudian didayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati, untuk selanjutnya diserahkan kembali tanah beserta bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya setelah berakhirnya jangka waktu. Bangun Serah Guna adalah pemanfaatan barang milik negara/daerah berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya, dan setelah selesai pembangunannya diserahkan untuk didayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam jangka waktu tertentu yang disepakati. Kerja Sama Penyediaan Infrastruktur adalah kerja sama antara pemerintah dan badan usaha untuk kegiatan penyediaan infrastruktur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Sesuai Permendagri 19 tahun 2016, penyewaan barang milik daerah dilakukan dengan tujuan mengoptimalkan pendayagunaan barang milik daerah yang belum/tidak dilakukan penggunaan dalam pelaksanaan tugas dan fungsi penyelenggaraan pemerintahan daerah, untuk memperoleh fasilitas yang diperlukan dalam rangka menunjang tugas dan fungsi

pengguna barang; dan/atau mencegah penggunaan barang milik daerah oleh pihak lain secara tidak sah. Jangka waktu sewa barang milik daerah paling lama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang untuk kategori kerja sama infrastruktur; kegiatan dengan karakteristik usaha yang memerlukan waktu sewa lebih dari 5 (lima) tahun; atau ditentukan lain dalam undang-undang.

Adapun jenis kegiatan yang bisa dilakukan meliputi kegiatan bisnis (perdagangan, jasa, industri), non bisnis (pelayanan umum, pendidikan, kebutuhan pegawai atau fasilitas dan kegiatan lainnya), serta kegiatan sosial (pelayanan sosial, keagamaan, kemanusiaan, penunjang dan kegiatan lain).

Adapun pinjam pakai dilaksanakan dengan pertimbangan untuk mengoptimalkan barang milik daerah yang belum atau tidak dilakukan penggunaan untuk penyelenggaraan tugas dan fungsi pengguna barang atau menunjang pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pinjam pakai barang milik daerah dilaksanakan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah atau antar pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan. Objek pinjam pakai dapat berupa tanah dan/atau bangunan dan selain tanah dan/atau bangunan. Jangka waktu pinjam pakai barang milik daerah paling lama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang 1 (satu) kali.

Kerja Sama Pemanfaatan (KSP) barang milik daerah dengan pihak lain dilaksanakan dalam rangka mengoptimalkan daya guna dan hasil guna barang milik daerah dan/atau meningkatkan penerimaan pendapatan daerah.

KSP dilaksanakan apabila tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dana dalam APBD untuk memenuhi biaya operasional, pemeliharaan, dan/atau perbaikan yang diperlukan terhadap barang milik daerah yang dikerjasamakan. Objek KSP dapat meliputi tanah dan/atau bangunan serta selain tanah dan/atau bangunan. Jangka waktu KSP paling lama 30 (tiga puluh) tahun, kecuali untuk penyediaan infrastruktur bisa mencapai 50 (lima puluh) tahun.

Mekanisme Bangun Guna Serah (BGS) dan Bangun Serah Guna (BSG) sebagaimana dilaksanakan dengan pertimbangan bahwa pengguna barang memerlukan bangunan dan fasilitas bagi penyelenggaraan

pemerintahan daerah untuk kepentingan pelayanan umum dalam rangka penyelenggaraan tugas dan fungsi, namun tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dana dalam APBD untuk penyediaan bangunan dan fasilitas tersebut. Objek BGS/BSG meliputi tanah yang berada pada pengelola barang atau pengguna barang. Jangka waktu BGS/BSG paling lama 30 (tiga puluh) tahun dan hanya berlaku untuk 1 (satu) kali perjanjian dan tidak dapat dilakukan perpanjangan.

Kerja Sama Penyediaan Infrastruktur (KSPI) dilakukan dengan pertimbangan dalam rangka kepentingan umum dan/atau penyediaan infrastruktur guna mendukung tugas dan fungsi pemerintahan, namun tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dana dalam APBD untuk penyediaan infrastruktur; dan termasuk dalam daftar prioritas program penyediaan infrastruktur yang ditetapkan oleh pemerintah. Objek KSPI meliputi tanah dan/atau bangunan atau selain tanah dan/atau bangunan. Jangka waktu KSPI paling lama 50 (lima puluh) tahun dan dapat diperpanjang.

Selain upaya pengunaan atau pemanfaatan tersebut di atas, pengelola aset wajib melakukan pengamanan dan pemeliharaan. Menurut pasal 296 Permendagri 19 tahun 2016 bahwa Pengelola Barang, Pengguna Barang dan/atau kuasa Pengguna Barang wajib melakukan pengamanan barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya yang berupa pengamanan fisik, pengamanan administrasi, dan pengamanan hukum. Pengamanan fisik tanah dan bangunan dilakukan dengan antara lain memasang tanda letak tanah dengan membangun pagar batas, memasang tanda kepemilikan tanah, melakukan tindakan antisipasi untuk mencegah/menanggulangi terjadinya kebakaran, memasang kamera, menyediakan satuan pengamanan.

Pengamanan fisik terhadap barang milik daerah berupa gedung dan/atau bangunan tersebut dilakukan dengan memperhatikan skala prioritas dan kemampuan keuangan pemerintah daerah.

Pengamanan administrasi tanah dilakukan dengan menghimpun, mencatat, menyimpan, dan menatausahakan dokumen bukti kepemilikan tanah secara tertib dan aman. Pengamanan administrasi gedung dan/atau bangunan dilakukan dengan menghimpun, mencatat, menyimpan, dan

menatausahakan secara tertib dan teratur atas dokumen kepemilikan berupa surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB), keputusan penetapan status penggunaan gedung dan/atau bangunan, daftar Barang, Berita Acara Serah Terima (BAST) dan dokumen terkait lainnya yang diperlukan.

Terkait dengan rumah dinas/rumah negara, di dalam pasal 309 Permendagri 19 Tahun 2016 ditegaskan bahwa Pengelola Barang/Pengguna Barang/Kuasa Pengguna Barang dilarang menelantarkan rumah negara.

Pengamanan fisik terhadap barang milik daerah berupa rumah negara dilakukan dengan membuat Berita Acara Serah Terima (BAST) rumah negara.

Di dalam pemeliharaan, setiap pengelola wajib melakukan pemeliharaan. Sebagaimaan disebutkan di dalam pasal 321 bahwa pengelola barang, pengguna barang dan kuasa pengguna barang bertanggungjawab atas pemeliharaan barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya.

Pemeliharaan bertujuan untuk menjaga kondisi dan memperbaiki semua barang milik daerah agar selalu dalam keadaan baik dan layak serta siap digunakan secara berdaya guna dan berhasil guna. Dalam hal ini pemerintah daerah harus memprioritaskan anggaran belanja pemeliharaan dalam jumlah yang cukup melalui APBD. Apabila aset dimanfaatkan pihak lain, biaya pemeliharaan menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari mitra pemanfaatan barang milik daerah.

2.4. BANGUNAN CAGAR BUDAYA

Hampir seluruh bangunan di eks Bakorwil merupakan bangunan cagar budaya. Ketentuan mengenai cagar budaya tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya. Di dalam Pasal 1 disebutkan bahwa Bangunan Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak berdinding, dan beratap. Di dalam Pasal 5 disebutkan bahwa benda, bangunan, atau struktur dapat diusulkan sebagai Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, atau Struktur Cagar Budaya apabila memenuhi kriteria: a) berusia 50 (lima

puluh) tahun atau lebih, b) mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun, c) memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan, dan d) memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa. Cagar budaya ditetapkan secara bertingkat, dari peringkat pusat sampai kabupaten/kota. Dalam pasal 43 ditegaskan bahwa Cagar Budaya dapat ditetapkan menjadi Cagar Budaya peringkat provinsi apabila memenuhi syarat: a) mewakili kepentingan pelestarian kawasan cagar budaya lintas kabupaten/kota, b) mewakili karya kreatif yang khas dalam wilayah provinsi, c) langka jenisnya, unik rancangannya, dan sedikit jumlahnya di provinsi, d) sebagai bukti evolusi peradaban bangsa dan pertukaran budaya lintas wilayah kabupaten/kota, baik yang telah punah maupun yang masih hidup di masyarakat, dan e) berasosiasi dengan tradisi yang masih berlangsung.

Beberapa prinsip tata kelola cagar budaya meliputi pengelolaan, pemanfaatan, revitalisasi, pengembangan, pelestarian. Pengelolaan adalah upaya terpadu untuk melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan cagar budaya melalui kebijakan pengaturan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Pemanfaatan adalah pendayagunaan cagar budaya untuk kepentingan sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat dengan tetap mempertahankan kelestariannya.

Pengembangan dilakukan dengan memperhatikan prinsip kemanfaatan, keamanan, keterawatan, keaslian, dan nilai-nilai yang melekat. Revitalisasi adalah menumbuhkan kembali fungsi cagar budaya. Pelestarian merupakan upaya meliputi pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan.

2.5. Kerangka Pikir Penelitian

Gambar 2.1

Kerangka Pikir Penelitian

2.6. DEFINISI KONSEP 2.6.1. Aset Pemerintah Daerah

Aset daerah atau Barang Milik Daerah (BMD) adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah baik berupa tanah dan/atau bangunan maupun benda lainnya. Adapun rumah negara sesuai Permendagri 19 Tahun 2016 Pasal 485 merupakan barang milik daerah yang diperuntukkan sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan serta menunjang pelaksanaan tugas pejabat dan/atau pegawai negeri sipil pemerintah daerah yang bersangkutan.

2.6.2. Bakorwil

Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) merupakan satuan kerja perangkat daerah pendukung tugas gubernur dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang memiliki tugas pokok membantu gubernur di bidang koordinasi, pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan umum di daerah.

Penggunaan Tugas & fungsi OPD

Pemanfaatan (Sewa, PP, KSP, BGS/BSG, KSPI) BKAD Prov. Jateng

selaku pembantu pengelola aset Satker/OPD Prov

Jateng selaku pengguna aset

Aset Pemprov Jateng (tanah/bangunan eks

Bakorwil

Pemindahtanganan (jual, tukar menukar, hibah, penyertaan modal)

Sekda selaku Pengelola Aset

2.6.3. Pengelolaan

Pengelolaan barang milik daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan kebutuhan dan penganggaran, pengadaan, penggunaan, pemanfaatan, pengamanan dan pemeliharaan, penilaian, pemindahtanganan, pemusnahan, penghapusan, penatausahaan dan

Pengelolaan barang milik daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan kebutuhan dan penganggaran, pengadaan, penggunaan, pemanfaatan, pengamanan dan pemeliharaan, penilaian, pemindahtanganan, pemusnahan, penghapusan, penatausahaan dan

Dalam dokumen LAPORAN AKHIR PENELITIAN (Halaman 21-0)