BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Pembahasan
4.2.2. Potensi dan Permasalahan Aset
Restrukturisasi OPD (karena perubahan aturan) menghasilkan transisi pengelolaan asset, sehingga ada beberapa aset tidak termanfaatkan dengan baik, namun pada saat yang sama ada kantor yang belum memiliki tempat untuk operasional. Aset eks Bakorwil dan beberapa aset lainnya seperti wisma dan rumah dinas adalah aset yang sebelumnya mendukung fungsi OPD namun saat ini masuk dalam masa transisi oleh karena perubahan aturan, sehingga fungsinya belum jelas. Oleh sebab itu optimalisasi aset sangat dibutuhkan untuk mewujudkan pengelolaan yang lebih baik untuk menunjang pendapatan dan pelayanan publik.
Aset Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam konteks pemanfaatan dapat dibagi menjadi 2 (dua) kategori, yaitu aset sudah dipisahkan dan yang belum dispisahkan. Aset yang sudah dipisahkan seperti misalnya dikelola oleh BUMD, adapun yang belum dipisahkan adalah aset yang dikelola OPD misalnya hotel, wisma atau penginapan. Ada beberapa aset yang dimanfaatkan OPD, tetapi keberadaannya kurang mendukung OPD, bahkan cenderung membebani pembiayaan seperti penginapan/perhotelan di Baturaden, Karimunjawa dan Tawangmangu perlu mendapatkan perhatian.
Kebanyakan fasilitas tersebut membutuhkan pembiayaan yang jauh lebih besar dibanding pendapatan. Rata-rata hanya 1/3 biaya pemeliharaan yang dapat dipenuhi dari pendapatan fasilitas tersebut.
4.2.2.1. Aset di Pati
Sebagaimana telah disebutkan di awal, bahwa bangunan rumah dinas maupun kantor di Pati memiliki nilai tinggi, baik dari sejarah, seni arsitektur, maupun nilai percampuran budaya. Baik kawasan perkantoran maupun rumah dinas memiliki peluang yang sangat besar untuk difungsikan secara optimal.
Kawasan perkantoran memiliki fasilitas gedung yang cukup untuk digunakan sebagai operasional berbagai balai/UPT OPD Provinsi Jawa Tengah, bahkan sebagian dapat disewakan seperti kepada Bank Jateng saat ini. Suplai air, listrik, jaringan telepon, dan akses tersedia dengan baik.
Meskipun beberapa bangunan mengalami kerusakan, akan tetapi masih sangat layak digunakan dengan beberapa perbaikan. Secara umum kondisi kantor sangat layak difungsikan sebagai kantor balai/UPT serta sebagian dapat disewakan kepada pihak lain. Beberapa bangunan yang rusak perlu renovasi, serta untuk menambah ruang rapat bisa merenovasi gedung yang ada, atau membangun bangunan baru.
Oleh sebab itu kawasan perkantoran dioptimalkan menjadi kantor balai/UPT OPD Provinsi, serta sebagian gedung yang tidak digunakan dapat disewakan, sebagaimana gedung di sisi barat yang disewakan kepada Bank Jateng. Secara prinsip tidak terdapat kesulitan dalam pengelolaan aset eks
kantor Bakorwil, karena sudah ditangani masing-masing OPD, serta sebagian dapat disewakan.
Untuk rumah dinas saat ini kondisinya agak kurang terawat, di sisi lain menyimpan berbagai potensi seperti nilai arsitektur bangunan, sejarah dan landskap yang sangat menarik. Rumah Dinas memerlukan beberapa perubahan perubahan manajemen. Saat ini pengelolaan diserahkan kepada BP2MK wilayah Pati. Kondisi bangunan dan perabotan masih dalam keadaan baik, namun kurang terawat. Sarana listrik, air, telepon masih tersedia, meskipun jarang digunakan, namun di sisi tetap menjadi beban anggaran. Adapun halaman depan dan belakang tidak terawat sehingga mengurangi keindahan.
Aset rumah dinas memerlukan biaya perawatan tinggi, SDM yang memadai, sedangkan sumberdaya tidak mencukupi. Dengan kondisi demikian, cukup mendesak bagi pengelola untuk mencari solusi bagi pemeliharaan yang lebih baik, yaitu dengan menambah alokasi atau sumberdaya. Namun jika hanya mengandalkan APBD belum mencukupi.
Secara umum rumah dinas bisa disewakan untuk hajatan, pameran seni, dan sejenisnya. Di bagian depan terdapat halaman luas yang bisa digunakan berbagai acara, baik pentas seni, pameran, bursa dan sebagainya.
Lahan di bagian belakang sangat luas. Lahan sangat luas dibelakang sangat mungkin dibangun beberapa gedung atau tempat rekreasi.
Untuk acara hajatan, pengelola perlu melakukan sosialisasi dan mengawali acara hajatan sehingga masyarakat menjadi tahu dan tertarik.
Beberapa kamar juga bisa disewakan untuk penginapan, kemudian teras belakang bisa digunakan untuk cafe. Halaman depan bisa disewakan untuk event-event seni atau bisnis. Selain itu, terdapat peluang untuk wisata edukasi dsiamping sewa untuk hajatan atau pameran, hotel/resort atau rumah sakit.
Satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah kawasan ini cukup rawan dengan pencurian atau perusakaan. Beberapa aset dan fasilitas selama ini rawan hilang atau rusak karena penjagaan yang relatif lemah dan terbuka. Selain pencurian dan perusakan, situasi kerawanan juga terjadi
dalam hal pengelolaan keamanan dan parkir saat ada acara. Oleh sebab itu perlu adanya penegasan terhadap pengelolaan aset ini secara penuh.
Beberapa alternatif yang bisa dikembangkan untuk pemanfaatan yang lebih baik ialah diberdayakan untuk menghasilkan pendapatan atau memfungsikan untuk pelayanan publik. Sebagai sarana menambah pendapatan dapat dilakukan dengan optimalisasi sebagai area publik atau sebagai area ekonomi tertentu.
Sebagai area publik bisa dikembangkan sebagai wahana wisata keluarga, dimana bisa mengoptimalkan gedung utama untuk disewakan hajatan, wisata seni dan sejarah, atau peristirahatan. Area halaman bisa difungsikan untuk event seni dan promosi, selain itu lahan kosong bisa dimanfaatkan untuk pengembangan taman wisata. Kawasan ini dapat dikembangkan sebagai wahana wisata edukasi bagi kalangan pelajar. Selain itu dapat diselenggarakan berbagai event, pameran atau disewakan juga untuk hajatan. Konsep ini membuka ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi. BP2MK bisa bekerjasama dengan pihak ketiga, namun pengelolaan sepenuhnya tetap berada pada Pemeirntah Provinsi Jawa Tengah.
Sebagai area ekonomi tertentu bisa dimanfaatkan untuk pembangunan hotel atau resort yang juga dikerjasamakan dengan pihak ketiga atau bisa dengan konsep Bangun Guna Serah. Konsep ini menjual keunikan bangunan, sehingga tetap mempertahankan bentuk asli bangunan sebagai cagar budaya. Alternatifnya adalah digunakan untuk kawasan resort, hotel, penginapan yang mengandalkan karakter klasik dari bangunan rumah dinas.
Alternatif ini memungkinkan adanya pemasukan untuk PAD, di sisi lain bisa tetap menjaga kelestarian bangunan sebagai cagar budaya yang memiliki nilai sosial dan ekonomi bagi masyarakat.
Pilihan lainnya adalah bisa digunakan untuk pelayanan publik seperti rumah sakit, dimana bisa membangun bangunan baru tanpa mengganggu bangunan Cagar Budaya yang telah ada. Sebagaimana diketahui, di wilayah Pati belum terdapat rumah sakit rujukan milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Terkait dengan kebutuhan tersebut, ketersediaan lahan dan
aksesibilitas rumah dinas eks Bakorwil Pati sangat memungkinkan, tentunya tanpa merubah aset bersejarah yang ada.
Adapun beberapa kendala yang dihadapi dalam pengembangan potensi tersebut terkait kendala internal dan eksternal. Kendala internal berupa belum adanya inisiatif atau keberanian dari pengelola, dalam hal ini aparat BP2MK untuk mengoptimalkan potensi yang ada. Kendala lainnya berupa keterbatasan sumberdaya serta infrastruktur seperti air dan sanitasi.
Kendala dari aspek kebijakan meliputi belum adanya regulasi yang memberikan jaminan bagi pemanfaatan aset ini. Secara eksternal ada kendala kondusifitas, terutama keamanan dan ketertiban di sekitar lokasi yang rawan dengan gangguan dari kelompok tertentu. Kendala lainnya berupa stigma masyarakat terhadap lokasi ini sebagai area mistis yang menghambat minat masyarakat sekitar dalam memanfaatkan area ini. Perlu adanya peran pihak ketiga dalam mengemas ide dan konsep, pengembangan infrastruktur serta pengelolaan agar aset ini dapat dioptimalkan.
Sebagai upaya optimalisasi sebagaimana tersebut di atas, maka perlu dilakukan analisis terhadap beberapa alternatif secara lebih sistematis.
Untuk itu, di bawah ini disajikan analisis SWOT terhadap aset di eks Bakorwil Pati.
Tabel 4.3.
Analisis Rumah Dinas eks Bakorwil Pati
Potensi Kelemahan
- Bangunan bersejarah, kondisi utama bagus
- Perabotan rumah dinas lengkap - Lahan luas
- Lokasi strategis
- Bangunan dan halaman menarik
- kurang fasilitas (toilet, sanitasi) - perawatan kurang, anggaran kecil - Pengelola belum berani bertindak,
inisiatif kurang
- Beberapa bagian bangunan pendukung rusak
- Pengelolaan lahan belum optimal
Peluang Hambatan
- Diminati pengembang, swasta - Terletak di jalur utama, jalan raya - Akses mudah
- Industri kreatif tumbuh - Belum banyak pesaing
- Sudah dikenal memiliki daya tarik
- Belum ada dasar hukum - Status pengelolaam belum jelas - Keamanan lingkungan cukup rawan - Keterbatasan alokasi dana
- Image mistis dari masyarakat tentang lokasi tersebut
Sumber: Data primer
Berdasarkan analisis tersebut di atas, pemanfaatan rumah dinas di eks Bakorwil Pati ini memerlukan beberapa perbaikan. Berdasarkan penjelasan di, aset ini terbilang tidak termanfaatkan dengan baik sementara membutuhkan biaya perawatan besar, di sisi lain memiliki potensi kemanfaatan yang besar.
Oleh sebab itu ada beberapa langkah yang perlu dilakukan. Pertama masalah kebijakan, perlu ada ketegasan dan komitmen terkait dengan jenis pengelolaan dan siapa pengelolanya. Kedua setelah ditetapkan pengelolaannya, maka ditindaklanjuti dengan alokasi sumberdaya yang memadai. Ketiga, mengidentifikasi pihak-pihak yang berpotensi sebagai mitra dalam pengelolaan. Sesuai dengan potensi yang ada, sebaiknya pengelolaan diperuntukkan sebagai sarana meningkatkan PAD atau untuk pelayanan publik. Satu hal yang menjadi pertimbangan, baik untuk pelayanan maupun seumber PAD, aset ini diharapkan juga memebrikan manfaat bagi masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan. Masyarakat harus memiliki akses mencari nafkah terhadap lokasi ini.
Tabel 4.4.
Analisis Kantor eks Bakorwil Pati
Potensi Kelemahan
- Lokasi strategis - Bangunan memadai - Lahan memadai
- Sumberdaya (energi, air,
komunikasi) dan sarpras memadai - Jumlah bangunan cukup banyak - Sudah ditempati oleh balai/UPT
OPD
- Tersedia fasilitas mess untuk pegawai
- Beberapa bangunan rusak
- Membutuhkan biaya perawatan besar - Anggaran tiap balai/UPT terbatas - Belum adanya koordinasi antar
stakeholder pengguna - Kurang koordinasi dalam
pemeliharaan dan perawatan - Kepedulian para pengguna
dilingkungan tersebut rendah
Peluang Hambatan
- Adanya pihak lain yang membutuhkan bangunan - Terletak di jalur strategis
- Masih ada bangunan yang belum digunakan
- Belum ada kejelasan batas-batas kewenangan pemeliharaan - Keterbatasan alokasi anggaran - Ada pihak lain yang memiliki aset di
dalam lokasi ini Sumber: data primer
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, kondisi aset kantor ini sudah cukup otpimal penggunaannya untuk menunjang kienrja OPD Provinsi Jawa
Tengah. Masih terdapat sisa lahan dan bangunan yang bsia digunakan untuk fungsi lain, seperti tempat rapat atau menampung balai/UPT OPD baru, serta sebagian lain telah disewakan. Beberapa perbaikan diperlukan terkait dengan manajemen pengelolaan tiap gedung oleh OPD berbeda, perbaikan bangunan pendukung yang rusak dan optimalisasi gedung-gedung yang belum terpakai.
4.2.2.2. Aset di Magelang
Kawasan ini memiliki nilai sejarah tinggi, terutama monumen Diponegroro. Selain monumen tersebut, bangunan lain berupa Musem BPK melengkapi kawasan ini sebagai daya tarik wisata minat khusus. Kawasan ini cukup potensial untuk dikembangkan menjadi suatu kawasan wisata edukasi. Hal ini ditambah dengan adanya rencana pengembangan museum BNN yang saat ini tertunda akibat belum tuntasnya serah terima pengelolaan gedung. Sebagai pelengkap kawasan wisata edukasi, keberadaan rusa di lingkungan ini juga menambah daya tarik. Selain itu, di kawasan ini pernah dilakukan penambahan wahana outbond meskipun saat ini tidak digunakan, namun bisa diaktifkan lagi. Adanya lahan belakang dengan view atau pemandangan pegunungan juga menambah daya tarik tempat ini.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa sebagian besar fasilitas bangunan di tempat ini masih digunakan untuk kantor balai atau UPT. Dengan demikian, aktifitas wisata dan pendukungnya harus beriringan dengan aktifitas kantor. Menyikapi hal ini mungkin bisa dilakukan penjadwalan, dimana aktifitas kantor dilakukan pada hari kerja dan wisata dipusatkan pada hari libur. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah perlu mempertegas status pengelolaan aset tersebut. Sebagian lahan dan bangunan telah diminta BPK, dan sebagian lagi diminta oleh Bea Cukai. Adapun aset berupa lapangan tenis dan gedung UGM yang dikelola pihak lain, perlu dilakukan upaya penarikan kembali pengelolaannya. Selain itu pemanfaatan untuk hajatan, pameran, dan rapat, agar dioptimalkan untuk menghasilkan pendapatan. Perlu kaji ulang tarif sewa agar menguntungkan dan sesuai dengan harga pasar, tidak terlalu murah.
Berdasarkan kondisi di atas, alternatif optimalisasi aset eks Bakorwil Magelang bisa diarahkan untuk tujuan wisata edukasi sejarah dengan penambahan museum dan fasilitas pendukung. Kawasan ini juga tetap digunakan sebagai perkantoran balai/UPT dengan tidak menghilangkan nilai bangunan asli. Di sisi lain fungsi wisata harus tetap berjalan dengan adanya manajemen pengelolaan yang profesional dan terpisah.
Keberadaan Museum BPK, Museum Diponegoro menjadi daya tarik kuat pengembangan potensi tersebut. Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, ada beberapa kendala yang memerlukan perubahan kebijakan dan beberapa perbaikan. Beberapa aset yang memiliki potensi seperti lapangan tenis dan gedung eks UGM contohnya, memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan produktif, namun saat ini berada d bawah pengelolaan pihak lain. Kedua aset ini perlu dikembalikan pengelolaanya sebagai pendukung kawasan wisata edukasi. Gedung eks UGM bisa digunakan untuk kawasan souvenir dan gardu pandang. Lapangan tenis bisa dijadikan lahan parkir untuk mengatasi keterbatasan lahan parkir.
Gedung yang saat ini digunakan untuk kantor BP2MK yang berbatasan langsung dengan Museum BPK sebaiknya dijadikan museum atau galeri seni dan budaya Jawa Tengah, sementara rumah dinas sebaiknya tidak digunakan untuk tempat tinggal pejabat, namun untuk perluasan museum Diponegoro.
Kawasan perkantoran sebaiknya dilokalisir di bagian depan, dimana BP2MK bisa dibuatkan bangunan baru di samping kantor eks Bea Cukai (sebelah Knator Balai Pengawas Kehutanan). Perlu upaya penataan ruang yang memadai untuk menampung kegiatan perkantoran di bagian dengan dan kawasan wisata edukasi di bagian belakang, salahsatunya penataan ruang parkir. Perlu juga menjalin kerjasama dengan pengelola Museum BPK untuk menjadikan satu paket wisata terpadu.
Pengelola juga bisa mengaktifkan kembali wahana outbond dengan pengelolaan yang lebih profesional dan bisa dikerjasamakan. Selain itu wahana gardu pandang juga snagat menarik, dengan mengoptimalkan potensi pemandangan di bagian belakang area rumah dinas daya tariknya
menjadi lebih tinggi. Untuk itu, di bawah ini disajikan analisis SWOT terhadap aset di eks Bakorwil Magelang.
Tabel 4.5.
Analisis Kantor dan Rumah Dinas eks Bakorwil Magelang
Potensi Kelemahan
- Nilai sejarah
- Tersedia lahan cukup - Landscape sangat menarik - Tersedia gedung untuk disewakan - Adanya fasilitas outbond dan taman - Lokasi strategis, akses mudah
- Kantor dan rumah dinas dalam 1 lokasi
- Keterbatasan lahan parkir yang ada - Kurangnya wahana pendukung wisata - Penggunaan sarana yang tidak jelas
pengelolaannya
Peluang Hambatan
- Sudah dikenal sebagai lokasi bersejarah
- Adanya objek pendukung Adanya objek pendukung (museum BPK) - Tumbuhnya industri kreatif - Peluang pasar terbuka
- Masyarakat banyak tertarik untuk mengunjungi lokasi bersejarah
- Sulitnya kesepakatan dengan pihak lain yang mengelola area ini - Belum adanya regulasi
- Belum adanya keputusan kepastian pengelolaan
- Tidak adanya kejelasan pengelola lokasi
- Beberapa aset dikelola pihak lain Sumber : data primer
Dari penjelasan tersebut di atas, kawasan ini sangat potensial untuk dijadikan kawasan wisata edukasi terpadu, selain museum yang sudah ada, bisa ditambahkan galeri atau museum seni dan budaya, dilengkapi dengan pusat souvenir, kuliner dan lokasi swafoto. Oleh sebab itu perlu juga ditetapkan pihak pengelola kawasan wisata edukasi, bisa dikerjasamakan atau dikelola sendiri oleh BP2MK. Sebagai upaya optimalisasi sebagaimana tersebut di atas, maka perlu dilakukan analisis terhadap beberapa alternalif secara lebih sistematis.
4.2.2.3. Aset di Surakarta
Lokasi kantor eks Bakorwil di Jalan Slamet Riyadi sudah dikenal masyarakat dapat digunakan untuk resepsi pernikahan, pameran, dan pentas seni lainnya. Selain itu beberapa lembaga, BUMN dan perusahaan swasta kerap memanfaatkan ruangan untuk keperluan rapat. Kompleks ini berada di kawasan bisnis dan strategis, tepatnya Jalan Slamet Riyadi, dengan demikian banyak lembaga pemerintah maupun swasta yang kerap
gelaran seni dan sejenisnya juga kerap dilakukan di tempat ini. Terdapat beberapa ruang rapat dengan fasilitas yang memadai, hampir setara dengan ruang pertemuan di hotel, meskipun diperlukan beberapa pembaharuan.
Selain itu ruang pamer dan pertunjukan juga cukup memadai untuk event dengan skala kecil dan menengah. Selain Pemerintah Provinsi, tenaga kerja lepas (outsourcing) juga mendapatkan keuntungan dari penyewaan aset tersbeut, sehingga memiliki dimensi sosial. Selain aset di atas, perlu diupayakan pemanfaatan aset lain seperti kamar transit agar disewakan dengan beberapa perbaikan.
Di lokasi ini relatif tidak tersedia lahan kosong, namun peningkatan bangunan untuk menambah kapasitas masih memungkinkan. Disamping itu beberapa ruangan ditempat ini digunakan untuk kantor, sehingga tidak optimal untuk disewakan sebagai ruang rapat atau pameran. Sementara dari kapasitas ruangan yang digunakan kurang memadai sebagai kantor. Oleh sebab itu akan lebih baik jika semua untuk sewa ruangan, kantor dipindah agar optimal untuk pendapatan. Dengan demikian, optimalisasi kantor di Jalan Slamet Riyadi dilakukan dengan pemindahan Balai Pengawas Ketenagakerjaan sehingga ruangan bisa sepenuhnya digunakan untuk menghasilkan pendapatan daerah.
Secara umum kondisi rumah dinas di Banjarsari kurang optimal, dimana terdapat 1 bangunan induk dan 1 bangunan pendukung, lahan parkir, serta lapangan tenis dan lapangan futsal. Bangunan induk rumah dinas kondisi masih bagus berpotensi menjadi ruang rapat atau pertemuan dan disewakan untuk hajatan. Hanya saja kondisi bangunan saat ini kurang perawatan yang dapat mengancam kelestarian. Secara umum kondisi rumah dinas membutuhkan perawatan yang lebih baik, penambahan anggaran dan personel. Di bagian belakang rumah dinas masih terdapat lahan yang cukup luas untuk dibangun gedung baru. Berdasarkan kondisi riil tersebut di atas, lokasi rumah dinas lebih tepat difungsikan sebagai kawasan perkantoran, seperti misalnya balai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Nakertrans bisa dipindah ke lokasi rumah dinas, dibangun gedung baru.
Adapun lokasi kantor di Jl. Slamet Riyadi lebih tepat sebagai kawasan
produktif, fasilitas sepenuhnya diarahkan untuk menghasilkan pendapatan daerah.
Optimalisasi rumah ini bisa digunakan untuk ruang rapat, atau disewakan untuk hajatan atau disewakan untuk cafe. Disamping itu bisa juga digunakan untuk kawasan galeri seni atau studio pemotretan. Bangunan pendukung yang memiliki desain mess atau penginapan sementara, saat ini ditempati oleh Balai Pengawas Kehutanan yang terbilang kurang sesuai dengan kebutuhan sebuah kantor. Namun secara teknis semua ruangan sudah termanfaatkan untuk mendukung operasional OPD tersebut.
Lapangan tenis digunakan oleh pegawai Balai Kehutanan, sementara lapangan futsal jarang digunakan dan kurang terawat. Lokasi lapangan futsal cukup memungkinkan dibangun bangunan baru sebagai kantor Balai Pengawas Ketenagakerjaan.
Berdasarkan kondisi di kantor Jalan Slamet Riyadi dan rumah dinas di Banjarsari ini, maka perlu dilakukan penataan untuk mengoptimalkan fungsi masing-masing. Melihat potensi yang ada, maka lokasi di kantor Jalan Slamet Riyadi lebih baik jika difokuskan untuk penyediaan ruang rapat dan pameran, untuk hotel atau kawasan pusat bisnis karena berada di kawasan strategis dan selama ini banyak peminatnya. Berkaitan dengan hal tersebut maka BP2MK Surakarta dan Balai Pengawas Ketenagakerjaan harus dipindah dan disediakan kantor baru. Kawasan rumah dinas dimana terdapat lahan kosong di bagian belakang sangat memungkinkan untuk dibangun kantor BP2MK dan Balai Pengawas Ketenagakerjaan tersebut. Dengan bangunan baru maka penataan kantor sesuai kebutuhan dapat dilakukan dnegan baik, dilengkapi dengan ruang pelayanan, ruang rapat dan sarana pendukung lainnya. Selain itu, sebagian ruangan di rumah dinas juga dapat difungsikan untuk rapat/pertemuan, sewa ruang untuk hajatan. Selain itu nilai sejarah bangunan juga bisa difungsikan untuk wisata edukasi bagi pelajar.
Sebagai upaya optimalisasi sebagaimana tersebut di atas, maka perlu dilakukan analisis terhadap beberapa alternalif secara lebih sistematis.
Untuk itu, di bawah ini disajikan analisis SWOT terhadap aset di eks Bakorwil Surakarta di bawah ini.
Tabel 4.6.
Analisis Rumah Dinas eks Bakorwil Surakarta
Potensi Kelemahan
- Nilai sejarah bangunan
- Kondisi bangunan masih bagus - Objek pendukung (Monumen
Banjarsari)
- Terdapat kantor balai kehutanan
- Bangunan kurang perawatan - Lahan kurang luas
- Lokasi agak sulit dijangkau
- Fasilitas kurang, gedung pendukung sudah digunakan balai kehutanan
Peluang Hambatan
- Industri kreatif tumbuh
- Kebutuhan fasilitas/gedung untuk OPD atau swasta
- Bisa sinergi dengan monumen banjarsari
- Belum ada kejelasan tentang jenis pengelolaan lokasi ini secara keseluruhan
- Kurang mendapat perhatian - Anggaran perawatan kurang Sumber : data primer
Sesuai dengan penjelasan di atas, maka peruntukan lokasi rumah dinas secara keseluruhan belum mendapat kejelasan. Sebagian (bangunan pendukung) digunakan untuk kantor Balai Kehutanan yang berada di bawah pengelolaan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sedangkan rumah utama berada di bawah Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah yang kurang perawatan dan belum jelas penggunaan. Di bagian belakang terdapat lapangan tenis dan lapangan futsal yang kurang optimal penggunaannya.
Oleh sebab itu, dapat diusulkan agar kawasan ini digunakan untuk menunjang tugas OPD dengan penambahan gedung baru. Hal tersebut terkait peluang penataan kawasan kantor di Jalan Slamet Riyadi.
Tabel 4.7.
Analisis Kantor eks Bakorwil Surakarta
Potensi Kelemahan
- Lokasi strategis, jalur bisnis - Fasilitas memadai
- Banyak ruang pertemuan - Pengelola berpengalaman - Perawatan gedung baik
- Berpotensi melibatkan masyarakat
- Ruangan sebagian masih digunakan
- Ruangan sebagian masih digunakan