PENERAPAN PEMBELAJARAN MODEL SIKLUS BELAJAR ( LEARNING CYCLE) BERBASIS INKUIRI UNTUK MEMBANTU SISWA DALAM MENEMUKAN KONSEP AKOMODASI MATA
3) Tahap Ekspans
Pada tahap ekspansi, guru melontarkan fenomena berkaitan dengan alat bantu penglihatan yaitu kacamata. Kegiatan guru tersebut ditanggapi oleh siswa dengan mengemukakan pendapatnya dengan tepat. Pada saat aplikasi konsep, guru tidak menjelaskan dengan detail, namun siswa sudah menyebutkan dan menjelaskan dengan penjelasan yang baik sekali.
4) Evaluasi
Evaluasi meliputi proses dan produk. Penilaian proses pada menunjukkan angka yang di atas Standar Ketuntasan Belajar Minimal Siswa (SKBM). Sedangkan evaluasi produk dalam pembelajaran dilakukan guru dengan meminta laporan praktikum. Berdasarkan nilai pratikum yang dijadikan sebagai dapat diketahui bahwa nilai rerata adalah 84. Nilai tersebut sudah berada di atas Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM). Hal ini menunjukkan dengan penerapan model siklus belajar berbasis inkuiri dapat membantu siswa dalam memahami konsep akomodasi. Dengan demikian melalui penerapan model ini salah satu tujuan pembelajaran IPA SMP tercapai yaitu siswa mampu memahami konsep-konsep IPA.
3.2 Persepsi Siswa Berkaitan Dengan Penerapan Model Siklus Belajar Berbasis Inkuiri
Persepsi siswa berkaitan dengan penerapan model siklus belajar berbasis inkuiri terangkum dalam hasil tabulasi data hasil angket siswa sebagaimana Tabel berikut.
Tabulasi Data Hasil Angket
Pernyataan Jumlah cek pada rentangan Persentase pada rentangan
Ya Biasa Tidak Ya Biasa Tidak
1. Pelajaran IPA merupakan pelajaran yang me- nyenangkan
2. Apakah Anda tertarik atas penerapan siklus belajar berbasis inkuiri
3.Apakah penerapan siklus belajar berbasis inkuiri mudah Anda lakukan 4. Apakah Anda ingin setiap
pembelajaran IPA diterapkan metode ini
5. Apakah Anda ingin metode ini diterapkan untuk pelajaran lainnya 36 34 28 33 30 0 2 6 3 4 0 0 2 0 2 100% 94% 77% 92% 83% 0% 6% 17% 8% 11% 0% 0% 6% 0% 6%
117
Sedangkan untuk angket isian dapat dilihat pada Tabel berikut.
Tabel Hasil Analisis Deskriptif Untuk Angket
Pernyataan Penilaian Siswa Jumlah
Siswa Persentase 1. Apa yang Anda da-
patkan dari penerapan siklus belajar berbasis inkuiri
2. Kesulitan apa yang Anda hadapi siklus belajar berbasis inkuiri melalui siklus belajar diterapkan
Saran dan Kritik
1.Materi lebih mudah untuk diingat, diserap, dan dipahami serta pembelajaran lebih menyenangkan (tidak membosankan)
2.Mengembangkan kemampuan berpikir 3.Belajar menemukan masalah dan men-
jawabnya melalui kegiatan praktikum (bukan teoritik)
4.Merasa tertantang
1.Mendiskusikan masalah kadang belum menemukan titik temu
2.Peralatan kurang
3.Kesulitan dalam melakukan prosedur kerja 4.perlu kesabaran dan ketelatenan
1.Dalam pembelajaran, siswa hendaknya diberi modul/petunjuk praktikum
2.Model ini baik untuk IPA, sehingga perlu sering diterapkan
3.Hendaknya peran guru sebagai pembimbing ditingkatkan
4.Tidak memberi saran
30 4 1 1 18 9 8 1 13 12 9 2 83% 11% 3% 3% 50% 25% 22% 3% 36% 33% 25% 6% Dari beberapa pernyataan siswa di atas ternyata selaras bila dikaitkan dengan keuntungan model inkuri yang dikemukakan oleh Callahan (1982). Hal ini disebabkan model ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar dan melakukan praktek keterampilan berpikir, belajar rasional, memahami proses berikir, dan melibatkan keaktifan siswa. Keuntungan tersebut juga selaras dengan yang diungkapkan oleh Zainuddin (1982), Sund dan Leslie (1973), dan Mbulu (2001) yang menyatakan bahwa melalui penerapan model ini akan mempertinggi daya nalar dan sikap ilmiah siswa, mengembangkan kemampuan inkuiri siswa, dan menekankan keterlibatan aktif siswa. Selain itu, keuntungan juga dicapai dari penerapan siklus belajar di kelas. Keuntungan tersebut sejalan dengan hakikat siklus belajar menurut Sunal (1985) dan hakikat belajar dan pembelajaran menurut Oemar (2003), Slavin (1994), dan Yager (1996).
Dari pembahasan di atas dapat diketahui bahwa penerapan model siklus belajar berbasis inkuiri dapat membantu siswa menemukan bahkan memahami konsep akomodasi mata. model siklus belajar berbasis inkuiri disamping memiliki kelebihan juga memiliki kelemahan. Untuk itu, perlu diterapkan untuk topik pembelajaran IPA yang lain untuk mengetahui kelebihan dan mengatasi kelemahan yang ada. Selain untuk pelajaran IPA, perlu kiranya diterapkan untuk pelajaran yang lain. Untuk mencapai hasil yang optimal, maka guru perlu mengkombinasikan
118
model ini dengan model pembelajaran yang lain seperti Sains, Lingkungan, Teknologi, dan Masyarakat (Salingtemas) maupun model kooperatif Jigsaw dan Team Games Tournament (TGT). IV. SIMPULAN
1. Pembelajaran dengan model siklus belajar berbasis inkuiri dapat membantu siswa dalam menemukan konsep akomodasi mata.
2. Keuntungan pembelajaran dengan model siklus belajar berbasis inkuiri yaitu mendorong siswa mengembangkan keingintahuan mereka dan menjawabnya melalui serangkaian kegiatan ilmiah, meningkatkan akivitas siswa dalam proses pembelajaran, serta menumbuhkan kepercayaan siswa untuk mampu memecahkan permasalahahan yang dihadapi. Sedangkan kelemahan model inkuiri yaitu memprasyaratkan fasilitas untuk percobaan, perlu ketelatenan untuk menemukan konsep, dan perlu prosedur kerja yang jelas.
3. Siswa mayoritas (94%) tertarik dengan dengan model siklus belajar berbasis inkuiri dan ingin supaya model tersebut diterapkan untuk pembelajaran IPA pada topik yang lain maupun pada pembelajaran lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Abruscato, Joseph. 1982.Teaching Children Science. New Jersey: Prentice Hall Inc.
Callahan, Joseph F. dan Clark, Leonard H. 1982. Teaching in the Middle and Secondary Schools: Planning For Competence. New York: Macmillan Publishing Co., Inc.
Dimyati dan Moedjiono. 1999.Belajar dan Pembelajaran.Jakarta: Rineka Cipta
Depdiknas. Puskur Balitbang. Panduan Pembelajaran IPA Terpadu, (Online), (http://www.depdiknas.go.id,diakses 15 November 2008)
Lawson. 2000. Learning Cycle , (Online), (http://mvhs1.mbhs.edu/mvhsproj/ learningcycle/ lcmodel.html, diakses 30 Maret 2007)
Lorbach. 2000. Component of Learning Cycle , (Online), (http://www.cedu.niu. edu /scied/ courses/tlee344/learning_cycle_1.htm, diakses 30 Maret 2007)
Martin, D.J. 1997. Elementary Science Methods: A Constructivist Approach. Albany, NY: Delmar Publishers, (Online), (http://www.usoe.k12.ut.us/ curr/science/ core/5th/TRB5/inquiry.htm, diakses 20 April 2007)
Mbulu, Joseph. 2001.Pengajaran Individual. Malang: Yayasan Elang Mas
Nur, M., & Wikandari, P. R. (2008).Pengajaran Berpusat kepada Siswa dan Pendekatan
Konstruktivis dalam Pengajaran.Surabaya: Pusat Sains dan Matematika Sekolah (PSMS) Universitas Negeri Surabaya.
Oemar. 2003.Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara
Pearce, Evelin C. 2001.Anatomi dan Fisiologi Paramedis.Jakarta: Gramedia
Pratiwi, P.A. 2003. Pengaruh Metode Discovery-Inquiry Terhadap Kemampuan Analisis Dan Sintesis Siswa SLTPN 2 Kulon Progo. PPS-UM: Tesis tidak diterbitkan
119
Soetardjo.1998. Proses Belajar Mengajar Dengan Metode Pendekatan Ketrampilan Proses. Surabaya: Penerbit SIC
Sunal, Dennis W. 1985. Learning Meaning Through Conceptual Reconstruction-A Learning/Teaching Strategy for Secondary Students, (Online), (www.bamaed.ua.edu, diakses 26 Desember 2008)
Sund dan Leslie.1973.Teaching Science By Inquiry In The Secondary School. Ohio: A. Bell & Howell Company
Susanto, Pudyo. 1999. Strategi Pembelajaran Biologi Di Sekolah Menengah. Malang: DIP Proyek UM
KETERAMPILAN PROSES SAINS DALAM PRAKTIKUM FISIKA DASAR