UNIVERSITAS NEGERI MALANG Lia Yuliat
II. METODE PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan di Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Subyek penelitian adalah mahasiswa calon guru semester 7 peserta mata kuliah Pengembangan Program Pengajaran Fisika (PPPF). Desain penelitian yang digunakan mengacu pada desain Research and Development (R & D Design) dari Borg & Gall (1983) yang sudah mengalami modifikasi. Penelitian dilakukan dengan 3 tahap. Tahap pertama adalah studi kepustakaan yang dilakukan terhadap sumber-sumber pustaka (buku dan hasil penelitian) dan survei lapangan yang dilakukan melalui kajian terhadap pengalaman dosen matakuliah dan hasil wawancara dengan calon guru dan guru di sekolah. Tahap kedua adalah pengembangan model perkuliahan, yang mencakup kegiatan merancang model, penilaian pakar (judgemen) dan ujicoba model. Tahap ketiga adalah pengujian model perkuliahan yang dilakukan dengan desain penelitian kuasi-eksperimenthe Matching Pretest-Posttest Control Group Design.
Data yang dikumpulkan dalam penelitian meliputi data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif terdiri dari hasil pengamatan proses perkuliahan dan respon mahasiswa. Data kuantitatif terdiri dari skor kemampuan mengajar calon guru Pengumpulan data dilakukan dengan perekaman terhadap semua aspek yang terjadi selama proses pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan pedoman observasi, portofolio, catatan lapangan dan tes.
Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif-kualitatif dan kuantitatif untuk desain penelitian kuasi-eksperimen Analisis data kemajuan dan peningkatan kemampuan mengajar calon guru dilakukan dengan analisisgain scoreternormalisasi dan uji perbedaan rerata.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Model perkuliahan yang dikembangkan dalam penelitian ini selajutnya disebut Model Perkuliahan Kemampuan Mengajar Fisika Berbasis Inkuiri (MPKM-BI). Flowchart model perkuliahan yang dikembangkan adalah sebagai berikut.
FlowchartModel Perkuliahan
Data penguasaan teori pembelajaran dikelompokkan pada kategori kelompok atas, tengah dan bawah. Data tersebut diperoleh dari pre-post test yang dilaksanakan pada saat implementasi model perkuliahan. Hasil analisis data penguasaan teori pembelajaran dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Analisis Skor Penguasaan Teori Pembelajaran Calon Guru
Kategori Rerata dan SD
Skor Pre-test Rerata dan SDSkor Post-test Rerata dan SDGain Score
Atas 53.6 8.47 74.87.55 0,440,20 Tengah 59.6 10.41 72.47.65 0,310,15 Bawah 53.6 9.08 67.27.00 0,280,18 Pembelajaran Berbasis Inkuiri dan Siklus Belajar
Strategi Perkuliahan
Prosedur Perkuliahan
1. Kegiatan Pendahuluan: Penggalian pengetahuan awal; Pemaparan tujuan pembelajaran;
2. Kegiatan Inti
a. Eksplorasi : Penyajian contoh model pembelajaran, analisis contoh model, pengajuan pertanyaan dengan jawaban ya-tidak, penyusunan hipotesis
b. Eksplanasi : Diskusi karakteristik model pembelajaran;,pengujian hipotesis, eksplanasi model
c. Elaborasi: latihan model pembelajaran,self-assesment, peer- assessment,umpan balik
3.Kegiatan Penutup: kesimpulan proses pembelajara, tindak lanjut
Penilaian Hasil Belajar Penilaian Proses Belajar Materi Perkuliahan Media Perkuliahan Satuan Acara Perkuliahan
Data implementasi model dianalisis dengan melakukan perbandingan perolehan nilaipre-test dan post-test pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hasil analisis data dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Uji Beda Rerata Penguasaan Teori Pembelajaran Uji Beda
Antar Kelompok Rerata/ SD Nilai Whitung,zhitungdan p Nilai Wkritis,ztabeldan α Keterangan
Pre-testKelompok Kontrol dan Eksperimen 48,44 / 15,02 45,20 / 8,32 zh= 1,55 p = 0,07 α = 0,05zt= 1,64 SignifikanTidak Post-testKelompok Kontrol dan Eksperimen 55,25 / 11,21 76,32 / 8,24 zh= 3,42 p = 0,01 α = 0,05zt = 1,64 Signifikan Pre-testdan Post-testKelompok Kontrol 48,44 / 15,02 55,25 / 11,21 Wh= 182,00 zh = 3,12 p = 0,02 Wk= 30 zt = 1,64 α = 0,05 Signifikan Pre-testdan Post-testKelompok Eksperimen 45,20 / 8,32 76,32 / 8,24 Whzh= 558,50= 5,29 p = 0,00 Wk= 137 zt = 1,64 α = 0,05 Signifikan Gain Score Kelompok Kontrol dan Eksperimen 0,43 / 0,21 0,36 / 0,16 p = 0,05zh = 1,67 α = 0,05zt = 1,64 Signifikan
Efektivitas model perkuliahan diukur dengan membandingkan Model Perkuliahan Kemampuan Mengajar Fisika Berbasis Inkuiri (MPKM-BI, model perkuliahan yang dikembangkan) dengan program pembelajaran reguler (model perkuliahan yang biasa dilaksanakan). Perbandingan dilakukan antara kelompok eksperimen yang memperoleh perlakuan MPKM-BI dan kelompok kontrol yang memperoleh perlakuan model perkuliahan reguler. Perbandingan ditinjau dari penguasaan calon guru terhadap teori pembelajaran dan kemampuan menerapkan model pembelajaran fisika.
Ditinjau dari proses pembelajarannya, calon guru pada kelompok eksperimen lebih aktif dan memperoleh kesempatan berlatih yang lebih banyak dibanding kelompok kontrol. Kesempatan berlatih ini dilakukan secara terintegrasi pada praktek mengajar. Calon guru pada kelompok eksperimen dapat mengembangkan kemampuannya lebih baik dari kelompok kontrol, yaitu kemampuan merancang, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan mengajar, terutama menerapkan model pembelajaran, merupakan keterampilan yang harus dilatihkan. Hasil penelitian terdahulu diungkapkan bahwa kemampuan melaksanakan pembelajaran, yang memadukan teori dan praktek mengajar, merupakan salah satu jenis keterampilan profesional hanya dapat dikembangkan dan dikuasai calon guru melalui latihan (Cooper, 1990:8; NRC, 1996).
Efektivitas model perkuliahan juga ditinjau dari kemampuan merancang, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. Kemampuan tersebut secara tidak langsung mencerminkan kemampuan merancang dan menerapkan model pembelajaran. Secara teoritis calon guru menguasai teori pembelajaran termasuk langkah-langkah pembelajaran dalam suatu model, tetapi calon guru kesulitan dalam menerapkannya. Calon guru tidak dapat mengidentifikasi karakteristik suatu model dan kesesuaian suatu model dengan karakteristik bahan ajar.
Praktek mengajar merupakan salah satu tugas perkuliahan yang diwajibkan pada setiap calon guru. Melalui kegiatan praktek mengajar diharapkan calon guru dapat berlatih dan menguji kemampuannya dalam melaksanakan pembelajaran fisika sekolah dengan materi tertentu sesuai dengan kurikulum sekolah. Melalui praktek mengajar juga diharapkan calon guru dapat melakukan evaluasi diri (self-evaluation) dan dapat melakukan penilaian pada pembelajaran yang dilakukan calon guru lainnya (peer-evaluation)
Kemampuan membuka pembelajaran pada calon guru masih perlu peningkatan. Hal ini terkait dengan kemampuan menerapkan model pembelajaran fisika sekolah dengan pencapaian kemajuan terendah. Kemampuan menerapkan model pembelajaran merupakan kemampuan esensial yang harus dikuasai calon guru dan guru. Kemampuan ini bersifat praktis, dalam arti bahwa kemampuan ini hanya dapat dikembangkan dan dikuasai calon guru bila perolehannya dilakukan dengan pengalaman langsung melalui contoh ((McDermott, 1990; McDermott, et al., 2000), dan latihan (Cooper, 1990:8). Latihan kemampuan menerapkan model pembelajaran dilakukan dengan praktek mengajar yang memberikan kesempatan pada calon guru untuk berlatih dan menguji kemampuannya dalam melaksanakan pembelajaran. Praktek mengajar dirancang untuk menjembatani pemahaman bahwa mengajar bukan hanya merupakan pengetahuan teori tetapi merupakan pengetahuan praktis yang harus sering dilatih.
Calon guru pada umumnya memiliki kemampuan untuk menggunakan media/alat laboratorium yang digunakan dalam pembelajaran. Namun kemampuan tersebut masih terbatas pada kemampuan menggunakan media/alat sebagai alat eksperimen di laboratorium. Calon guru cenderung mengajak siswa untuk melakukan eksperimen dan memberitahukan cara menggunakan alat tersebut pada siswa. Hal terpenting dari media pembelajaran yang hendaknya dikuasai calon guru adalah cara menggunakan media/alat laboratorium sebagai alat bantu pembelajaran yang dapat mempermudah siswa menguasai konsep yang diberikan (Hasibuan & Moedjiono,1995:64).
Kemampuan yang tergali pada praktek menerapkan model pembelajaran adalah kemampuan bertanya calon guru. Secara keseluruhan, kemampuan bertanya calon guru dapat dikembangkan melalui pembelajaran inkuiri. Contoh yang diberikan dosen mempermudah calon guru dalam mengembangkan kemampuannya. Contoh tersebut menjadi acuan cara merumuskan pertanyaan, mengajukan pertanyaan, dan cara menggunakan teknik bertanya dalam suatu pembelajaran. Diskusi yang dilakukan setelah contoh, memberi kesempatan pada calon guru untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi, mengemukakan dan mempertahankan pendapat. Tugas yang diberikan melatih calon guru untuk mempraktekkan kemampuan bertanya secara langsung dan sistematis. Penilaian diri yang diterapkan dalam penelitian mengajak calon guru untuk selalu melakukan introspeksi dan perbaikan secara terus menerus.
Berdasarkan kategori pertanyaan yang mencakup pertanyaan divergen, pertanyaan konvergen, dan pertanyaan produktif, calon guru dapat merumuskan pertanyaan (75%) dan mengajukan pertanyaan (83%). Kesulitan terjadi pada saat merumuskan pertanyaan produktif. Berdasarkan taksonomi Bloom, calon guru lebih banyak merumuskan dan mengajukan pertanyaan dalam ranah pengetahuan (C1) dan pemahaman (C2). Calon guru perlu bimbingan yang lebih intensif dalam merumuskan dan mengajukan pertanyaan produktif karena pertanyaan produktif diperlukan dalam pembelajaran sains (Harlen, 1993:84).
Kemampuan bertanya memegang peranan penting jika calon guru hendak menerapkan pembelajaran inkuiri (NRC, 2000:46 ; Rustaman, 2005) dan konstruktivis (Suparno, 1997). Pembelajaran inkuiri dan konstruktivis ini merupakan hal yang harus diperhatikan dan harus dilakukan guru dalam mengimplementasikan kurikulum berbasis kompetensi. Kemampuan bertanya juga merupakan keterampilan mengajar yang esensial dalam pembelajaran (Cooper, 1990:11; Harlen, 1993:83)
IV. SIMPULAN
Produk penelitian ini adalah model perkuliahan yang dapat membangun kemampuan menerapkan model pembelajaran fisika sekolah. Model tersebut terdiri dari tujuan perkuliahan yang tercakup dalam Satuan Acara Perkuliahan, materi perkuliahan; media perkuliahan, strategi pembelajaran, prosedur perkuliahan, dan penilaian perkuliahan
Model perkuliahan yang dikembangkan memiliki efektivitas cukup tinggi. Terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas yang mengimplementasikan model perkuliahan yang dikembangkan dengan kelas reguler. Hal tersebut terjadi pada kemampuan merumuskan tujuan pembelajaran, mengorganisasi bahan ajar, menyusun dan menerapkan model pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Adair, L. M. & Chiaverina, C. J. 2000.Preparation of Excellent Teachers at All Levels.Canada: AAPT Planning Meeting, 27-28 Juli 2000.
Block, J. W. 1971.Mastery Learning: Theory and Practice.New York: Holt, Rinehart & Winston. Bybee, R.W. et al. 1989. Science and Technology Education for the Elementary Years:
Framework for Curriculum and Instruction.Washington, D.C.: The Nationan Center for Improving Instruction.
Darling-Hammond, L & Sclan, E. 1992. Policy and Supervision.(Glickman.ed.). Supervision in Transition. Association for Supervision and Curriculum. (Online).Tersedia:http://www.ascd.org/readingroom/books/glickman.html.
Gabel, D.L. (editor). 1993Handbook of Research on Science Teaching and Learning: A Project of the National Science Teachers Association. New York: Macmillan Publishing Company. Harlen, W. 1993.The Teaching of Science.London: David Fulton Publisher Ltd.
Hinduan, A. A. 2003. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia melalui Pendidikan IPA. (Makalah). Dipresentasikan dalam Seminar Himpunan Sarjana dan Pemerhati Pendidikan IPA Indonesia II (HISPPIPAI). Bandung, 1-2 Agustus 2003.
Jalal, F. & Supriadi, D. (editor). 2001. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Bappenas – Adicita Karya Nusa.
Lawson, A. E. 1994.Science Teaching and the Development of Thinking. California: Wadsworth Publishing Company.
McDermott, L.C. 1990 A Perspective on Teacher Preparation in Physics and Other Sciences: The Need for Special Science Course for Teacher. American Journal of Physics. 58 (8). p. 734-742.
McDermott, L. C., Shafferi, P. S., & Constantinou, C. P.. 2000. Preparing Teachers to Teach Physics and Physical Science by Inquiry.Physics Education. 35(6). p. 411-416.
National Research Council. 199) National Science Education Standard. Washington DC: National Academy Press.
National Research Council. 2000.Inquiry and the National Science Education Standard:A Guide for Teaching and Learning.Washington DC: National Academy Press.
NSTA & AETS. 1998. Standard for Science Teacher Preparation. National Science Teacher Association in collaboration with the Association for the Education of Teachers in Science
Rustaman, N. Y. 2005 Perkembangan Penelitian Pembelajaran Berbasis Inkuiri dalam Pendidika Sains. (Makalah). Dipresentasikan dalam Seminar Himpunan Sarjana dan Pemerhati Pendidikan IPA Indonesia III (HISPPIPAI). Bandung, 22-23 Juli 2005.
Suma, K. 2003. Pembekalan Kemampuan-kemampuan Fisika Bagi Calon Guru Melalui Mata Kuliah Fisika Dasar. Disertasi Doktor Kependidikan. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. Tidak Diterbitkan
Wiyanto. 2005. Pengembangan Kemampuan Merancang dan Melaksanakan Kegiatan Laboratorium Fisika Berbasis Inkuiri Bagi Mahasiswa Calon Guru. Disertasi Doktor Kependidikan. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. Tidak Diterbitkan.
Yuliati, L. & Suyudi, A. 2002. Pengembangan Model Asesmen Kinerja Kemampuan Melaksanakan Pembelajaran untuk Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang.Laporan Penelitian. Malang: Universitas Negeri Malang. Yuliati, L. 2004. Profil Kemampuan Mengajar Calon Guru Fisika FMIPA Universitas Negeri
Malang (makalah) Dipresentasikan dalam Seminar Nasional MIPA dan Pembelajarannya, Malang, 5 September 2005
Yuliati, L. 2005. Pengembangan Program Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Awal Mengajar Calon Guru Fisika. Disertasi Doktor Kependidikan. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. Tidak
47
MODEL KETERAMPILAN BERPIKIR TENTANG TOPIK GAYA DAN GERAK