COSTS, BENEFITS, AND CASH FLOWS
2.4. Elemen Biaya (Cost Elements)
Dalam analisis ekonomi teknik, elemen-elemen biaya dari suatu proyek atau proses produksi umumnya digolongkan atas beberapa kelompok sebagai berikut.
lkpp
Biaya investasi. Komponen biaya ini dapat terdiri atas biaya pengadaan lahan, biaya pembangunan fasilitas fisik (gedung, jalan akses, instalasi listrik dan air, dll), biaya pengadaan mesin-mesin dan peralatan pendukung, biaya instalasi mesin-mesin, biaya pengadaan peralatan kantor dan meaubelair, dan biaya perizinan.
Biaya operasional. Komponen biaya ini dapat terdiri atas biaya pengadaan bahan baku, biaya listrik dan bahan bakar, biaya tenaga kerja dan gaji staf, biaya bahan kemasan dan bahan pendukung lainnya, biaya distribusi, serta biaya umum dan operasional kantor.
Biaya perawatan dan perbaikan mesin dan fasilitas lainnya. Pembayaran bunga dan pokok pinjaman.
Biaya penyusutan aset fisik (mesin, peralatan, gedung, dan kendaraan operasional).
Pajak perusahaan (Pajak Bumi dan Bangunan, Pajak Pertambahan nilai dan Pajak Penghasilan).
Elemen-elemen biaya tersebut di atas secara umum dapat digolongkan atas dua komponen biaya yang telah dibahas pada bagian sebelumnya yaitu biaya tetap (fixed costs) dan biaya tidak tetap (variable costs). Ilustrasi untuk lebih memahami kedua komponen biaya ini dapat dilihat pada Contoh 2.1.
Contoh 2.1
Sebuah perusahaan travel menawarkan paket biaya untuk perjalanan selama tiga hari dari Makassar ke pusat wisata Tanah Toraja. Harga per paket untuk perjalanan dengan mobil Minivan eksekutif yang dapat memuat sembilan wisatawan adalah Rp. 12,5 juta. Biaya-biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan travel tersebut untuk setiap paket perjalanan selama 3 hari dapat dilihat pada tabel di bawah.
No. Jenis Pembiayaan Jumlah (Rp) 1. Perkiraan biaya penyusutan kendaraan 1.500.000 2. Bahan bakar 1.250.000 3. Oli pelumas 100.000 4. Sopir dan guide 1.000.000 5. Tiket masuk ke berbagai lokasi wisata (per orang) 150.000 6. Konsumsi (per orang). 500.000
lkpp
Dari enam jenis pembiayaan padatabel di atas, pembiayaan 1 – 4 dapat dikategorikan sebagai biaya tetap karena besarnya tidak tergantung pada jumlah anggota rombongan atau jumlah wisatawan yang diangkut. Sebaliknya, pembiayaan 5 dan 6 dikategorikan sebagai biaya tidak tetap karena walaupun kapasitas mobil adalah untuk sembilan orang, besarnya biaya tiket masuk ke tempat-tempat yang dikunjungi dan konsumsi yang harus dikeluarkan tergantung pada jumlah wisatawan dalam rombongan. Perlu disadari bahwaoverhead costs untuk menjalankan usaha tersebut tidak dimasukkandalam perincian biaya karena perusahaan tidak dapat mengalokasikannya ke setiap kegiatan pengantaran. Oleh karena itu, perusahaan secara intrinsik mengasumsikan bahwa dengan tarif pengantaran yang ditetapkan, keuntungan yang diperoleh per periode waktu masih layak setelah overhead costs
pada periode tersebut diperhitungkan.
Berdasarkan perkiraan biaya di atas, total biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan travel untuk setiap paket wisata tiga hari dapat dihitung berdasarkan Persamaan (2.3).
Pada Persamaan (2.3) di atas, n adalah jumlah wisatawan yang diantar. Apabila jumlah wisatawan yang ikut adalah sembilan orang (full kapasitas), total biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan travel tersebut adalah Rp. 9.700.000 (biaya tetap Rp. 3.850.000 dan biaya tidak tetap Rp. 5.850.000). Sebaliknya, apabila jumlah wisatawan yang diantar hanya enam orang maka biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan hanya sebesar Rp. 7.750.000 (biaya tetap Rp. 3.850.000 dan biaya tidak tetap Rp. 3.900.000). Contoh ini jelas memperlihatkan bahwa biaya tetap akan selalu konstan (tidak tergantung pada tingkat aktifitas atau realisasi volume produksi, dalam contoh di atas jumlah wisatawan yang diantar) sedang biaya tidak tetap sangat tergantung pada tingkat aktifitas atau realisasi volume produksi. Representasi grafis dari biaya tetap (fixed cost), biaya tidak tetap (variable cost), dan biaya keseluruhan (total cost) untuk kasus pada Contoh 2.1 dapat dilihat pada Gambar 2.2.
lkpp
Gambar 2.2. Kurva biaya tetap, biaya tidak tetap, dan total biaya untuk jasa pengantaran wisatawan pada Contoh 2.1.
Seperti terlihat pada Contoh 2.1, terdapat beberapa komponen pembiayaan yang nilainya tidak dipengaruhi oleh tingkat aktifitas atau realisasi volume produksi dan ada komponen pembiayaan yang nilainya sangat dipengaruhi oleh tingkat aktifitas atau volume produksi. Kelompok yang pertama merupakan fixed costs dan kelompok yang kedua merupakan variable costs. Hasil penjumlahan fixed costs dan variable costs merupakan biaya total (total cost). Contoh fixed costs meliputi bunga atas modal, biaya penyusutan, pajak bumi dan bangunan, biaya sewa, biayaasuransi, dan gaji pegawai tetap dan eksekutif, biaya promosi dan iklan, dan biaya untuk urusan administrasi dan perkantoran. Pembiayaan untuk upah buruh, bahan baku, dan biaya penyusutan untuk aset tertentu yang penyusutannyadapat dihubungkan langsung dengan tingkat pemakaian secara umum dapat dikategorikan sebagaivariable costs.
Biaya total, yang merupakan gabungan dari biaya tetap dan biaya tidak tetap, juga dipengaruhi oleh volume produksi atau tingkat aktifitas tetapi perubahannya tidak berbanding langsung dengan volume produksi karena didalamnya terdapat komponen biaya tetap. Perlu diperhatikan pada contoh di atas bahwa perkiraan biaya penyusutan diperhitungkan sebagai biaya tetap karena biaya ini mewakili penurunan nilai buku (book value) darimobil yang digunakan akibat penurunan nilai karena pemakaian.
lkpp
Biaya buku (book cost) bukan merupakan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan pada saat kegiatan pengantaran wisatawan dilaksanakan tetapi merupakan amortisasi dari biaya masa lalu (amotisasi biaya pembelian mobil) yang dikeluarkan untuk mendapatkan aset (dalam hal ini mobil yang digunakan untuk mengantar wisatawan) yang masa penggunaannya selama beberapa tahun. Dalam accounting dan perhitungan ekonomi teknik, biaya penyusutan (depreciation cost) dan biaya penurunan nilai (depletion cost)akibat penggunaan suatu asset tetap (fixed asset)
merupakan contoh biaya buku yang paling umum dijumpai.
Dalam proses perencanaan suatu proyek atau produk, para perencana seringkali dituntut untuk memisahkan komponen pembiayaan yang konstant dan komponen pembiayaan yang berubah. Untuk tujuan tersebut, salah satu metode yang sering digunakan adalah metode tinggi-rendah (High-Low Method) yang menganalisa perubahan biaya apabila tingkat aktivitas atau volume produksi berubah. Metode ini membandingkan biaya yang akan dikeluarkan pada tingkat aktifitas yang tinggi dengan biaya yang akan dikeluarkan pada tingkat aktifitas yang rendah. Metode ini memperkirakan komponen biaya yang konstan (fixed cost element) dan komponen biaya yang berubah (variable cost element) dengan menggunakan data biaya tertinggi dan biaya terendah pada berbagai tingkat volume produksi. Karena metode ini hanya menggunakan dua titik data, model persamaan yang dihasilkan akan berbentuk linier seperti terlihat pada Persamaan (2.4). Persamaan tersebut sering dikenal dengan istilah fungsi biaya (cost functionatau cost-volume formula) yang menggambarkan hubungan antara total biaya dengan tingkat aktivitas atau volume produksi.
Pada Persamaan (2.4), C adalah total biaya, X adalah tingkat aktifitas atau volume produksi, a adalah komponen biaya tetap (tidak tergantung pada X), dan b
adalah biaya rata-rata untuk setiap unit tingkat aktifitas atau setiap unit volume produksi. Oleh karena biaya total merupakan penggabungan biaya tetap dan biaya tidak tetap, biaya total sering juga diistilahkan biaya campuran (mixed cost) atau semivariable cost. Cara penentuan komponen biaya tetap dan biaya tidak tetap berdasarkan data biaya produksi dapat dilihat pada Contoh 2.2.
lkpp
Dalam banyak kasus, elemen-elemen tertentu dari biaya tidak tetap dapat berubah dengan tren yang berbeda. Ada elemen pembiayaan yang meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah atau volume produksi suatu komponen (akibat tuntutan spesifikasi rancangan) dan ada elemen pembiayaan yang menurun akibat peningkatan produksi volume komponen yang lain tersebut. Dengan tren perubahan biaya yang bertolak belakang tersebut, kita dapat membuat sebuah model matematik untuk menentukan spesifikasi rancangan yang akan memberikan biaya produksi atau biaya pembangunan yang minimum seperti pada contoh kasus pada Contoh 2.3.
Contoh 2.2
Data produksi dan total biaya pada sebuah perusahaan penghasil komponen otomotif dalam dua belas bulan terakhir diperlihatkan pada tabel berikut:
Jumlah produksi (unit/bulan)
Total Biaya (Juta rupiah/bulan)
Jumlah produksi (unit/ bulan)
Total Biaya (Juta Rupiah/bulan) 1000 545 1810 894 1300 688 1850 899 1700 876 1874 904 1743 886 1925 911 1800 886 1945 917 1806 892 1953 920
Dengan menggunakan metode High-Low, kita dapat menentukan komponen biaya tetap (a) dan biaya tidak tetap (biaya rata-rata per unit komponen yang dihasilkan,b) sebagai berikut:
Perlu diketahui bahwa metode high-low merupakan metode perkiraan yang sangat kasar karena hanya menggunakan data terendah dan data tertinggi pada data total produksi dan total biaya. Untuk mendapatkan perkiraan yang lebih akurat, kita dapat menggunakan metode regresi linier yang menggunakan semua data dalam data
lkpp
set. Analisis regresi linier dengan menggunakan Microsoft Excel menghasilkan nilai sebagai berikut:
a = Rp170.695.100
b = Rp394.748per unit
Contoh 2.3
Pada pembangunan Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Madura, biaya pembangunan secara umum dapat dibagi atas dua elemen pembiayaan yaitu (1) elemen pembiayaan untuk pembangunan tiang-tiang penopang jembatan dan (2) elemen pembiayaan untuk membangun bentangan jembatan. Apabila jarak antara tiang-tiang penopang relatif dekat, panjang setiap bentangan menjadi pendek sehingga ukuran balok dan kawat baja yang dibutuhkan untuk pembangunan bentangan menjadi lebih kecil. Sebaliknya, apabila jarakantara tiang-tiang penopang relative berjauhan, maka panjang setiap bentangan menjadi lebih besar dan ukuran balok dan kawat baja yang dibutuhkan untuk bentangan menjadi lebih besar (butuh kekuatan lebih tinggi). Dengan demikian, dengan semakin dekatnya jarak antara tiang-tiang penopang, jumlah tiang penopangyang dibutuhkan untuk jembatan tersebutmenjadi lebih banyaksehingga biaya pembangunantiang-tiang penopang (biaya bahan dan biaya
tenaga kerja) menjadi lebih tinggi tetapi biaya pembangunan bentangan jembatan menjadi lebih rendah. Sebaliknya, apabila jarak antara tiang-tiang penopang relatif berjauhan, jumlah tiang penopang yang dibutuhkan lebih sedikit sehingga biaya pembangunannya menjadi lebih kecil. Akan tetapi, biaya pembangunan bentangan jembatan menjadi lebih tinggi. Tren perubahan komponen pembiayaan tersebut dapat berbentuk linier ataupun non-linier. Apabila tren perubahan biayaberbentuk linier, maka biaya pembangunan atau biaya produksi dapat dihitung dengan mnggunakan model matematik seperti terlihat pada Persamaan (2.5).
Pada Persamaan (2.5) di atas, a, b, dan c merupakan konstanta bernilai positif atau nol dan X adalah parameter yang berubah (jumlah produksi, ukuran fasilitas yang dibangun, atau parameter disain lainnya). Parameter aX mewakili komponen
lkpp
pembiayaan yang berbanding lurus dengan jumlah atau volume X sedang parameter
b/X merupakan komponen pembiayaan yangberbanding terbalik denganX. Kedua
komponen pembiayaan ini merupakan representasi dari biaya tidak tetap (variable costs) karena besarnya tergantungpada jumlah atau volume X. Konstanta c
merupakan konstanta yang mewakili komponen biaya tetap karena besarnya tidak tergantung pada X. Pada contoh kasus pembangunan Jembatan Suramadu, aX adalah biaya untuk pembangunan tiang-tiang penopang sedang b/X merupakan biaya untuk pembangunan bentangan jembatan. Representasi grafis dari model persamaan di atas disajikan pada Gambar 2.3 dengan nilai konstanta sebagai berikut: a=110, b=200000, dan c=3500. Dapat juga dilihat pada Gambar 2.3 bahwa biaya minimum akan diperoleh apabila unit produksi sekitar 43 atau pada titik dimana kurva aX dan b/X
berpotongan.
Gambar 2.3. Kurva biaya dengan duavariable costsdengan tren yang berbeda dan satufixed cost.