BAKTI PENYELENGGARA DI TAPAL BATAS NEGERI
ELYSEE PHILBY SINADIA 31
abu, 17 April 2019, adalah puncak dari semua perjuangan perjalanan panjang demokrasi di Indonesia. Di gugusan pulau kecil paling utara di Provinsi Sulawesi Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe, yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Filipina, garda terdepan NKRI, perhelatan pesta demokrasi itu terselenggara sesuai tahapan nasional.
Kabupaten Kepulauan Sangihe sendiri memiliki luas wilayah 736,98 km2 dan karakteristik wilayah yang beragam. Dalam hal berdemokrasi, masyarakat menggunakan momentum perhelatan 5 tahunan dengan penuh antusias. Pemilih menyalurkan aspirasi untuk memilih pemimpin negara dan wakil-wakil rakyat, dengan harapan
31 Ketua KPU Kabupaten Kepulauan Sangihe,
R
bahwa bangsa dan negara, khususnya Kabupaten Kepulauan Sangihe akan lebih baik ke depan.
Di sini dalam goresan catatan seorang pejuang demokrasi, saya akan bercerita tentang pejuang-pejuang demokrasi yang berjuang di panasnya terik matahari, derasnya guyuran hujan dan tingginya gelombang laut. Mereka berkarya dalam pengabdian yang tulus untuk terselenggaranya Pemilu 2019. Itulah sebabnya saya memberi judul tulisan ini sesuai situasi dan kondisi yang dirasakan penyelenggara Pemilu; “Di Tapal Batas NKRI, Insan Penyelenggara Pemilu Berkarya”.
Judul tersebut merupakan gambaran natural sejumlah peristiwa penting perjuangan seorang pemimpin yang menakodai lembaga yang mengurus pesta demokrasi, tentu bersama dengan para komisioner lainnya, sekretariat KPU Sangihe, teman-teman di seluruh wilayah Kecamatan, Kelurahan dan Kampung serta di TPS. Meski dalam jumlah yang sangat banyak, semua bergerak dalam irama yang berbalut integritas dan independen. Untuk pertama kalinya bangsa ini melaksanakan Pemilu serentak, memilih presiden/wapres, wakil-wakil rakyat (DPR-RI, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota).
Keserentakan ini menjadi hal yang baru, baik untuk peserta Pemilu, penyelenggara, pemilih (masyarakat) serta semua komponen yang terlibat dalam penyelenggaraan Pemilu itu sendiri.
Dari awal tahapan, semua dijalani dengan tetap mengedepankan peraturan perundang-undangan. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 menjadi pijakan dasar dalam pelaksanaan Pemilu 2019, diperjelas dengan peraturan-peraturan KPU, sehingga penyelenggaraannya tetap mengacu dan mengikuti irama aturan yang ada.
Yang membedakan juga dengan kabupaten/kota yang didominasi daratan, akses transportasi dan komunikasi di Sangihe masih sangat terbatas. Tak hanya memengaruhi kehidupan dan roda pemerintahan, pelaksanaan tahapan demi tahapan Pemilu juga ikut terimbas.
Meski banyak dinamika, khususnya soal masalah transportasi dan komunikasi, Pelaksanaan Pemilu 2019 di Sangihe relatif berjalan dengan baik. Meski disadari masih banyak yang harus dibenahi, di
BAKTI PENYELENGGARA DI TAPAL BATAS NEGERI
ELYSEE PHILBY SINADIA31
abu, 17 April 2019, adalah puncak dari semua perjuangan perjalanan panjang demokrasi di Indonesia. Di gugusan pulau kecil paling utara di Provinsi Sulawesi Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe, yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Filipina, garda terdepan NKRI, perhelatan pesta demokrasi itu terselenggara sesuai tahapan nasional.
Kabupaten Kepulauan Sangihe sendiri memiliki luas wilayah 736,98 km2 dan karakteristik wilayah yang beragam. Dalam hal berdemokrasi, masyarakat menggunakan momentum perhelatan 5 tahunan dengan penuh antusias. Pemilih menyalurkan aspirasi untuk memilih pemimpin negara dan wakil-wakil rakyat, dengan harapan
31 Ketua KPU Kabupaten Kepulauan Sangihe,
R
bahwa bangsa dan negara, khususnya Kabupaten Kepulauan Sangihe akan lebih baik ke depan.
Di sini dalam goresan catatan seorang pejuang demokrasi, saya akan bercerita tentang pejuang-pejuang demokrasi yang berjuang di panasnya terik matahari, derasnya guyuran hujan dan tingginya gelombang laut. Mereka berkarya dalam pengabdian yang tulus untuk terselenggaranya Pemilu 2019. Itulah sebabnya saya memberi judul tulisan ini sesuai situasi dan kondisi yang dirasakan penyelenggara Pemilu; “Di Tapal Batas NKRI, Insan Penyelenggara Pemilu Berkarya”.
Judul tersebut merupakan gambaran natural sejumlah peristiwa penting perjuangan seorang pemimpin yang menakodai lembaga yang mengurus pesta demokrasi, tentu bersama dengan para komisioner lainnya, sekretariat KPU Sangihe, teman-teman di seluruh wilayah Kecamatan, Kelurahan dan Kampung serta di TPS. Meski dalam jumlah yang sangat banyak, semua bergerak dalam irama yang berbalut integritas dan independen. Untuk pertama kalinya bangsa ini melaksanakan Pemilu serentak, memilih presiden/wapres, wakil-wakil rakyat (DPR-RI, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota).
Keserentakan ini menjadi hal yang baru, baik untuk peserta Pemilu, penyelenggara, pemilih (masyarakat) serta semua komponen yang terlibat dalam penyelenggaraan Pemilu itu sendiri.
Dari awal tahapan, semua dijalani dengan tetap mengedepankan peraturan perundang-undangan. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 menjadi pijakan dasar dalam pelaksanaan Pemilu 2019, diperjelas dengan peraturan-peraturan KPU, sehingga penyelenggaraannya tetap mengacu dan mengikuti irama aturan yang ada.
Yang membedakan juga dengan kabupaten/kota yang didominasi daratan, akses transportasi dan komunikasi di Sangihe masih sangat terbatas. Tak hanya memengaruhi kehidupan dan roda pemerintahan, pelaksanaan tahapan demi tahapan Pemilu juga ikut terimbas.
Meski banyak dinamika, khususnya soal masalah transportasi dan komunikasi, Pelaksanaan Pemilu 2019 di Sangihe relatif berjalan dengan baik. Meski disadari masih banyak yang harus dibenahi, di
antaranya data pemilih, sosialisasi, teknis penyelenggaraan, logistik serta pemahaman aturan. Di Pemilu 2019 partisipasi masyarakat di Sangihe cukup menggembirakan. Capaiannya 82,3 persen, melebihi target secara nasional 77,5%. Sehingga pelaksanaannya boleh dikatakan sukses.
Capaian ini tidak lepas dari peran serta teman-teman penyelenggara yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe. Mereka ujung tombak sesungguhnya Pemilu Serentak 2019 berjalan relatif baik. Ada 75 orang PPK, 501 orang PPS dan 4.086 orang KPPS. Totalnya 4.662. Dalam berbagai keterbatasan, semua penyelenggara bekerja dan berkarya demi suksesnya Pemilu.
Meski endingnya cukup baik, tapi dinamika saat tahapan jelas tidak mudah. Saat tahapan rekrutmen penyelenggara adhoc misalnya, tantangan yang dihadapi tidak mudah. Kendala utamanya soal pemahaman sebagian masyarakat bahwa menjadi penyelenggara Pemilu itu terlalu beresiko hukum. Potensi berhadapan dengan tindak pidana yang akan membawa mereka ke penjara. Belum lagi dengan beberapa syarat menjadi tenaga adhoc yang dianggap cukup berat untuk dipenuhi.
Tidak ada jalan untuk mundur. Tantangan harus dihadapi. Tentu dengan dedikasi dan kerja ekstra. Saya sampaikan ke teman-teman.
Salah satu solusi atas masalah ini adalah menambah intensitas sosialisasi di lapangan. Semua harus turun langsung. Semua momentum dimanfaatkan untuk sosialisasi sambil mengajak warga yang sudah sesuai persyaratan untuk mendaftar jadi tenaga adhoc.
Kami berusaha meyakinkan masyarakat bahwa bekerja sebagai penyelenggara Pemilu itu adalah pekerjaan yang mulia. Ketika dijalankan semua sesuai aturan, niscaya hasil yang akan didapat pasti baik.
Pemahaman segelintir orang tentang pekerjaan di ranah Pemilu selalu dikaitkan dengan situasi Politik, coba kami netralisir dengan narasi-narasi sosialisasi yang edukatif dan gampang dicerna. Apalagi di wilayah-wilayah kecamatan yang rata-rata sumber daya manusia sangat terbatas. Seperti contoh di wilayah Kecamatan Manganitu Selatan. Di sana kami bahkan harus masuk keluar banyak rumah.
Menghubungi sejumlah tokoh kunci di desa-desa yang ada di kecamatan tersebut. Tokoh masyarakat, tokoh agama, mantan penyelenggara, pihak pimpinan lembaga pendidikan kami datangi dan berikan penjelasan yang sebenarnya.
Berkat kerja keras dan totalitas di lapangan, banyak warga yang tertarik mendaftar jadi tenaga adhoc. Tugas kami selanjutnya adalah menyeleksi dengan baik, mencari manusia bermental kuat, memegang teguh integritas dan independen, serta punya kapasitas yang mumpuni.
Walaupun sekali lagi harus kami akui, sumber daya manusia yang ada di daerah ini tidak dapat menjamin secara keseluruhan apa yang diminta oleh aturan.
Satu hal yang sudah jadi masalah klasik di wilayah kepulauan, perekrutan penyelenggara adhoc banyak terkendala ijazah (minimal ijazah SMA). Tidak semua yang punya ijazah SMA. Untunglah ada pasal penyelamat: Ketika si calon boleh menulis, membaca dan berhitung, bisa direkrut. Norma itu jadi acuan kami. Dan syukur dalam pelaksanaan tugas semua penyelenggara Pemilu dapat bekerja dengan penuh dedikasi dan berintegritas. Tahapan demi tahapan yang dilalui, semua dalam satu irama.
Kunci utama adalah koordinasi dan komunikasi. Di antara sesama teman-teman penyelenggara (secara berjenjang), baik lewat rapat-rapat koordinasi maupun sarana telekomunikasi yang ada, kami selalu mengingatkan dan menekankan bahwa tugas yang diemban saat ini adalah tugas yang mulia. Oleh karena sangat dituntut untuk bekerja karena sebuah keterpanggilan. Tugas mulia ini menuntut kesadaran memberi diri, karena jadi penyelenggara bukan karena ingin mendapatkan sebongkah emas. Satu hal yang juga selalu kami tekankan kepada tenaga adhoc, lewat dedikasi dan kerja selama tahapan penyelenggara boleh melahirkan pemimpin-pemimpin yang dapat mengembangkan tugas dan tanggungjawab membawa masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur.
Sebagai penyelenggara yang ada di kabupaten, saya selalu menekankan kepada semua jajaran penyelenggara untuk bekerja profesional, transparan dan independen, untuk mengurangi derajat ketidakpercayaan masyarakat kepada penyelenggara Pemilu. Dengan
antaranya data pemilih, sosialisasi, teknis penyelenggaraan, logistik serta pemahaman aturan. Di Pemilu 2019 partisipasi masyarakat di Sangihe cukup menggembirakan. Capaiannya 82,3 persen, melebihi target secara nasional 77,5%. Sehingga pelaksanaannya boleh dikatakan sukses.
Capaian ini tidak lepas dari peran serta teman-teman penyelenggara yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe. Mereka ujung tombak sesungguhnya Pemilu Serentak 2019 berjalan relatif baik. Ada 75 orang PPK, 501 orang PPS dan 4.086 orang KPPS. Totalnya 4.662. Dalam berbagai keterbatasan, semua penyelenggara bekerja dan berkarya demi suksesnya Pemilu.
Meski endingnya cukup baik, tapi dinamika saat tahapan jelas tidak mudah. Saat tahapan rekrutmen penyelenggara adhoc misalnya, tantangan yang dihadapi tidak mudah. Kendala utamanya soal pemahaman sebagian masyarakat bahwa menjadi penyelenggara Pemilu itu terlalu beresiko hukum. Potensi berhadapan dengan tindak pidana yang akan membawa mereka ke penjara. Belum lagi dengan beberapa syarat menjadi tenaga adhoc yang dianggap cukup berat untuk dipenuhi.
Tidak ada jalan untuk mundur. Tantangan harus dihadapi. Tentu dengan dedikasi dan kerja ekstra. Saya sampaikan ke teman-teman.
Salah satu solusi atas masalah ini adalah menambah intensitas sosialisasi di lapangan. Semua harus turun langsung. Semua momentum dimanfaatkan untuk sosialisasi sambil mengajak warga yang sudah sesuai persyaratan untuk mendaftar jadi tenaga adhoc.
Kami berusaha meyakinkan masyarakat bahwa bekerja sebagai penyelenggara Pemilu itu adalah pekerjaan yang mulia. Ketika dijalankan semua sesuai aturan, niscaya hasil yang akan didapat pasti baik.
Pemahaman segelintir orang tentang pekerjaan di ranah Pemilu selalu dikaitkan dengan situasi Politik, coba kami netralisir dengan narasi-narasi sosialisasi yang edukatif dan gampang dicerna. Apalagi di wilayah-wilayah kecamatan yang rata-rata sumber daya manusia sangat terbatas. Seperti contoh di wilayah Kecamatan Manganitu Selatan. Di sana kami bahkan harus masuk keluar banyak rumah.
Menghubungi sejumlah tokoh kunci di desa-desa yang ada di kecamatan tersebut. Tokoh masyarakat, tokoh agama, mantan penyelenggara, pihak pimpinan lembaga pendidikan kami datangi dan berikan penjelasan yang sebenarnya.
Berkat kerja keras dan totalitas di lapangan, banyak warga yang tertarik mendaftar jadi tenaga adhoc. Tugas kami selanjutnya adalah menyeleksi dengan baik, mencari manusia bermental kuat, memegang teguh integritas dan independen, serta punya kapasitas yang mumpuni.
Walaupun sekali lagi harus kami akui, sumber daya manusia yang ada di daerah ini tidak dapat menjamin secara keseluruhan apa yang diminta oleh aturan.
Satu hal yang sudah jadi masalah klasik di wilayah kepulauan, perekrutan penyelenggara adhoc banyak terkendala ijazah (minimal ijazah SMA). Tidak semua yang punya ijazah SMA. Untunglah ada pasal penyelamat: Ketika si calon boleh menulis, membaca dan berhitung, bisa direkrut. Norma itu jadi acuan kami. Dan syukur dalam pelaksanaan tugas semua penyelenggara Pemilu dapat bekerja dengan penuh dedikasi dan berintegritas. Tahapan demi tahapan yang dilalui, semua dalam satu irama.
Kunci utama adalah koordinasi dan komunikasi. Di antara sesama teman-teman penyelenggara (secara berjenjang), baik lewat rapat-rapat koordinasi maupun sarana telekomunikasi yang ada, kami selalu mengingatkan dan menekankan bahwa tugas yang diemban saat ini adalah tugas yang mulia. Oleh karena sangat dituntut untuk bekerja karena sebuah keterpanggilan. Tugas mulia ini menuntut kesadaran memberi diri, karena jadi penyelenggara bukan karena ingin mendapatkan sebongkah emas. Satu hal yang juga selalu kami tekankan kepada tenaga adhoc, lewat dedikasi dan kerja selama tahapan penyelenggara boleh melahirkan pemimpin-pemimpin yang dapat mengembangkan tugas dan tanggungjawab membawa masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur.
Sebagai penyelenggara yang ada di kabupaten, saya selalu menekankan kepada semua jajaran penyelenggara untuk bekerja profesional, transparan dan independen, untuk mengurangi derajat ketidakpercayaan masyarakat kepada penyelenggara Pemilu. Dengan
begitu masyarakat akan percaya dan ujung-ujungnya akan antusias dan menyalurkan hak pilihnya di Tempat Pemungutan Suara (TPS).
Pemilu 2019 boleh dikata sebagai Pemilu yang rumit dan baru pertama kali diadakan. Kerumitan ini memotivasi kami sebagai penyelenggara untuk mengurangi waktu istirahat. Penyelenggara Pemilu di semua jenjang baik di kecamatan, kampung/kelurahan maupun yang ada di semua TPS, terminta untuk tetap proaktif dalam menjalankan tugas tanggungjawabnya dalam karya dan pengabdian.
Sebagai pimpinan di kabupaten, saya dan teman-teman komisioner selalu menyatakan bahwa penyelenggara adhoc dengan segala dinamika dan latar belakang kehidupan yang berbeda-beda, untuk selalu menjaga kebersamaan, kekompakan dan saling menghargai di antara teman-teman penyelenggara. Dan yang paling penting menjunjung tinggi Integritas. Hal itu juga berlaku buat kami di level kabupaten. Sebagai pimpinan kami harus mampu menjaga dinamika dan perbedaan dalam lembaga ini, sehingga melahirkan irama yang indah penuh kebersamaan. Ada komitmen bersama di antara kami untuk terus menjaga keseimbangan di antara kelambanan dan kekencangan, diantara pertentangan dan kompromi, diantara tua dan yang muda, diantara yang berpendidikan tinggi dan yang berpendidikan rendah, diantara yang bermukim di perkotaan dan bermukim di perkampungan.
Selanjutnya kami berusaha keras untuk menjadi pelayan bagi para pemangku kepentingan utama dalam Pemilu, baik masyarakat sebagai pemilih maupun peserta Pemilu yang mempunyai hak untuk dipilih dan memilih serta semua stakeholder yang ada. Pelayanan yang maksimal, adil dan tidak memihak menjadi modal yang sangat berharga dan kami tetap membuka diri terhadap partisipasi dan dukungan pihak-pihak lain dari manapun untuk meningkatkan performa KPU.
Di balik keunikan, dinamika lengkap dengan sejumlah tantangannya, Kabupaten Kepulauan Sangihe pada akhirnya bisa menyelenggarakan Pemilu 2019 dengan sukses. Di daerah ini ada kurang lebih 4.667 pejuang demokrasi telah berkarya dengan segala dinamika, tantangan dan pergumulan harus dihadapi. Perjuangan yang tak mengenal lelah senantiasa terpatri dalam sanubari mereka.
Sebagai pimpinan kami selalu mendorong teman-teman penyelenggara untuk tetap semangat dalam menjalankan tugas yang mulia, motivasi-motivasi selalu disampaikan, bahwa kitalah Pejuang Demokrasi itu. Siapa lagi kalau bukan kita. Kapan lagi kita akan berkarya untuk daerah ini kalau bukan saat ini, sehingga ada pengakuan dari teman-teman penyelenggara adhoc, bahwa mereka sangat diperhatikan.
Guna menciptakan sumber daya manusia yang berintegritas, mandiri dan profesional, secara rutin kami selalu membekali teman-teman di wilayah kecamatan, kampung/kelurahan, lewat koordinator wilayah (korwil) masing-masing. Tiap korwil mengoordinir tiga wilayah kecamatan. Ada pengetahuan tentang kePemiluan seperti Kode Etik Penyelenggara Pemilu serta Perspektif Penyelenggara Pemilu, apakah itu lewat bimbingan teknis (bimtek), sosialisasi dan kegiatan-kegiatan lainnya.
Tidak gampang memang untuk memimpin ribuan penyelenggara adhoc untuk tetap seirama. Tapi ketika tugas dan tanggungjawab dijalankan secara baik dan bertanggungjawab, niscaya semua yang teremban akan terjalani. Bagi saya dan teman-teman komisioner, sikap yang tetap menjunjung tinggi integritas, independensi dan profesional tetap menjadi dasar dalam melangkah dalam tugas, dengan tetap mengedepankan aturan perundang-undangan.
Pelaksanaan Pemilu telah selesai dilaksanakan, walaupun harus menyisahkan hal-hal yang belum tercapai dengan sempurna. Namun biarlah itu mejadi bahan evaluasi bagi kami penyelenggara untuk menata kelola Pemilu lebih baik ke depannya. Bagi saya, penyelenggara Adhoc di tapal batas NKRI, Kabupaten Kepulauan Sangihe, telah memberi diri dalam tugas dan tanggungjawab. Karya dan pengabdian mereka sungguh tak ternilai. Inilah persembahan terindah untuk ibu pertiwi, teristimewa untuk Kabupaten Kepulauan Sangihe. (*)
begitu masyarakat akan percaya dan ujung-ujungnya akan antusias dan menyalurkan hak pilihnya di Tempat Pemungutan Suara (TPS).
Pemilu 2019 boleh dikata sebagai Pemilu yang rumit dan baru pertama kali diadakan. Kerumitan ini memotivasi kami sebagai penyelenggara untuk mengurangi waktu istirahat. Penyelenggara Pemilu di semua jenjang baik di kecamatan, kampung/kelurahan maupun yang ada di semua TPS, terminta untuk tetap proaktif dalam menjalankan tugas tanggungjawabnya dalam karya dan pengabdian.
Sebagai pimpinan di kabupaten, saya dan teman-teman komisioner selalu menyatakan bahwa penyelenggara adhoc dengan segala dinamika dan latar belakang kehidupan yang berbeda-beda, untuk selalu menjaga kebersamaan, kekompakan dan saling menghargai di antara teman-teman penyelenggara. Dan yang paling penting menjunjung tinggi Integritas. Hal itu juga berlaku buat kami di level kabupaten. Sebagai pimpinan kami harus mampu menjaga dinamika dan perbedaan dalam lembaga ini, sehingga melahirkan irama yang indah penuh kebersamaan. Ada komitmen bersama di antara kami untuk terus menjaga keseimbangan di antara kelambanan dan kekencangan, diantara pertentangan dan kompromi, diantara tua dan yang muda, diantara yang berpendidikan tinggi dan yang berpendidikan rendah, diantara yang bermukim di perkotaan dan bermukim di perkampungan.
Selanjutnya kami berusaha keras untuk menjadi pelayan bagi para pemangku kepentingan utama dalam Pemilu, baik masyarakat sebagai pemilih maupun peserta Pemilu yang mempunyai hak untuk dipilih dan memilih serta semua stakeholder yang ada. Pelayanan yang maksimal, adil dan tidak memihak menjadi modal yang sangat berharga dan kami tetap membuka diri terhadap partisipasi dan dukungan pihak-pihak lain dari manapun untuk meningkatkan performa KPU.
Di balik keunikan, dinamika lengkap dengan sejumlah tantangannya, Kabupaten Kepulauan Sangihe pada akhirnya bisa menyelenggarakan Pemilu 2019 dengan sukses. Di daerah ini ada kurang lebih 4.667 pejuang demokrasi telah berkarya dengan segala dinamika, tantangan dan pergumulan harus dihadapi. Perjuangan yang tak mengenal lelah senantiasa terpatri dalam sanubari mereka.
Sebagai pimpinan kami selalu mendorong teman-teman penyelenggara untuk tetap semangat dalam menjalankan tugas yang mulia, motivasi-motivasi selalu disampaikan, bahwa kitalah Pejuang Demokrasi itu. Siapa lagi kalau bukan kita. Kapan lagi kita akan berkarya untuk daerah ini kalau bukan saat ini, sehingga ada pengakuan dari teman-teman penyelenggara adhoc, bahwa mereka sangat diperhatikan.
Guna menciptakan sumber daya manusia yang berintegritas, mandiri dan profesional, secara rutin kami selalu membekali teman-teman di wilayah kecamatan, kampung/kelurahan, lewat koordinator wilayah (korwil) masing-masing. Tiap korwil mengoordinir tiga wilayah kecamatan. Ada pengetahuan tentang kePemiluan seperti Kode Etik Penyelenggara Pemilu serta Perspektif Penyelenggara Pemilu, apakah itu lewat bimbingan teknis (bimtek), sosialisasi dan kegiatan-kegiatan lainnya.
Tidak gampang memang untuk memimpin ribuan penyelenggara adhoc untuk tetap seirama. Tapi ketika tugas dan tanggungjawab dijalankan secara baik dan bertanggungjawab, niscaya semua yang teremban akan terjalani. Bagi saya dan teman-teman komisioner, sikap yang tetap menjunjung tinggi integritas, independensi dan profesional tetap menjadi dasar dalam melangkah dalam tugas, dengan tetap mengedepankan aturan perundang-undangan.
Pelaksanaan Pemilu telah selesai dilaksanakan, walaupun harus menyisahkan hal-hal yang belum tercapai dengan sempurna. Namun biarlah itu mejadi bahan evaluasi bagi kami penyelenggara untuk menata kelola Pemilu lebih baik ke depannya. Bagi saya, penyelenggara Adhoc di tapal batas NKRI, Kabupaten Kepulauan Sangihe, telah memberi diri dalam tugas dan tanggungjawab. Karya dan pengabdian mereka sungguh tak ternilai. Inilah persembahan terindah untuk ibu pertiwi, teristimewa untuk Kabupaten Kepulauan Sangihe. (*)
Transportasi dan Komunikasi Tantangan Terberat
Kabupaten Kepulauan Sangihe secara teknis pelaksanaannya sama dengan daerah-daerah yang lain. Yang membedakannya adalah karakteristik, kultur dan budaya serta geografisnya serta sumber daya manusia itu sendiri. Kepulauan Sangihe mengoleksi 107.498 pemilih, tersebar di 15 Kecamatan dan 167 Kampung/Kelurahan. Ada tiga kecamatan yang ada di kepulauan. Kecamatan Kepulauan Marore, Nusa Tabukan serta Tatoareng.
Kecamatan Kepulauan Marore adalah contoh nyata. Di kecamatan ini, jangankan perwakilan peserta Pemilu, penyelenggara di level PPS juga banyak selalu terkendala hadir dalam setiap rapat pleno. Kondisi alam di wilayah ini kerap berubah cepat menjadi sangat ekstrim. Selaku pimpinan yang ada di kabupaten, kami berupaya semaksimal mungkin untuk mencari solusi terhadap permasalahan seperti ini. Apalagi terkadang jadwal dan tahapan tidak sesuai dengan jadwal pelayanan pelayaran kapal perintis yang ada. Untunglah teman-teman penyelenggara selalu berupaya semaksimal mungkin, kendati tidak jarang harus mengambil resiko berhadapan dengan ganasnya ombak karena hanya menggunakan kapal motor laut “Pambout”.
Hal yang sama juga berlaku bagi teman-teman yang ada di Kecamatan Kepulauan Tatoareng dan Kecamatan Kepulauan Nusa
Hal yang sama juga berlaku bagi teman-teman yang ada di Kecamatan Kepulauan Tatoareng dan Kecamatan Kepulauan Nusa