ARIPATRIA24
da perasaan campur aduk saat membuka memori saya tentang penyelenggaraan Pemilu 2019 di Kabupaten Talaud. Masih lekat dalam ingatan bagaimana kapal yang mengangkut tim distribusi Logistik Pemilu ke Pulau Miangas dihantam badai dalam perjalanan. Hampir tenggelam, kehilangan arah, kapal sudah menuju ke Filipina.
Bagaimana kami harus mencermati jadwal pelayaran kapal ke Pulau Miangas tentu jadi hal yang strategis. Paling lambat lima hari sebelum pemungutan suara logistik sudah harus dikirimkan. Terlambat satu hari, akan berakibat pada tertundanya pelaksanaan pemungutan suara di Pulau Miangas. Kisah ini akan coba saya rangkai sambil menceritakan beberapa tahapan krusial di Talaud.
24 Ketua KPU Kabupaten Kepl. Talaud,
A
Pemilu 2019 adalah pesta demokrasi pertama yang tahapan pelaksanaan bersamaan dengan pemilihan Presiden. Sangat menguras tenaga dan pikiran. Bahkan tragedi memilukan terjadi. Tidak sedikit penyelenggara Pemilu yang meninggal. Terbanyak di level KPPS dan PPS. Meskipun Pemilu 2019 begitu kompleks dinamikanya, di Talaud tahapan berjalan relatif baik.
Pelaksanaan tahapan demi tahapan Pemilu 2019 di Kabupaten Kepulauan Talaud bukanlah hal yang mudah. Apalagi kami dilantik pada 9 Januari 2019, dimana tahapan sudah mulai jalan. Situasi yang muncul tidak mudah. Suhu politik sangat tinggi karena residu Pilkada 2018 belum hilang benar. Ditambah juga sebagian besar komisioner belum memiliki pengalaman holistik tentang kepemiluan di tingkat penyelenggara kabupaten. Saat itu, sebagian besar dari kami hanya pernah jadi penyelenggara di strata ad-hoc. Tapi apapun latar belakangnya, tanggung jawab harus direspon dengan totalitas dan dedikasi kerja.
Hal pertama dan mendasar yang kami bangun di antara sesama lima komisioner yakni komitmen bersama bahwa akan bekerja secara kolektif, apa pun tantanganya. Manajemen kesekretariatan kami coba tata sesuai porsi yang sebenarnya. Dan yang terpenting adalah membangun komunikasi dengan semua stake holder. Tujuannya jelas:
“Menghasilkan Pemilu 2019 yang berkualitas dan berintegritas.”
Tagline di atas benar-benar jadi panduan dan modal maksimal buat kami dalam menjalankan tugas yang diembankan. Apalagi sebagai pendatang baru, saya dan teman-teman komisioner lain bertekad menghadirkan warna tersendiri, dalam pelaksanaan Pesta demokrasi di Kabupaten Kepulaun Talaud 2019. Hal ini dibuktikan ketika ada teman komisioner yangg kurang paham tentang tugasnya, kami saling memberikan masukan sebagai saran untuk satu tujuan yang baik. (*)
KEPEMIMPINAN SOLID MENUAI HASIL BAIK
ARIPATRIA24
da perasaan campur aduk saat membuka memori saya tentang penyelenggaraan Pemilu 2019 di Kabupaten Talaud. Masih lekat dalam ingatan bagaimana kapal yang mengangkut tim distribusi Logistik Pemilu ke Pulau Miangas dihantam badai dalam perjalanan. Hampir tenggelam, kehilangan arah, kapal sudah menuju ke Filipina.
Bagaimana kami harus mencermati jadwal pelayaran kapal ke Pulau Miangas tentu jadi hal yang strategis. Paling lambat lima hari sebelum pemungutan suara logistik sudah harus dikirimkan. Terlambat satu hari, akan berakibat pada tertundanya pelaksanaan pemungutan suara di Pulau Miangas. Kisah ini akan coba saya rangkai sambil menceritakan beberapa tahapan krusial di Talaud.
24 Ketua KPU Kabupaten Kepl. Talaud,
A
Pemilu 2019 adalah pesta demokrasi pertama yang tahapan pelaksanaan bersamaan dengan pemilihan Presiden. Sangat menguras tenaga dan pikiran. Bahkan tragedi memilukan terjadi. Tidak sedikit penyelenggara Pemilu yang meninggal. Terbanyak di level KPPS dan PPS. Meskipun Pemilu 2019 begitu kompleks dinamikanya, di Talaud tahapan berjalan relatif baik.
Pelaksanaan tahapan demi tahapan Pemilu 2019 di Kabupaten Kepulauan Talaud bukanlah hal yang mudah. Apalagi kami dilantik pada 9 Januari 2019, dimana tahapan sudah mulai jalan. Situasi yang muncul tidak mudah. Suhu politik sangat tinggi karena residu Pilkada 2018 belum hilang benar. Ditambah juga sebagian besar komisioner belum memiliki pengalaman holistik tentang kepemiluan di tingkat penyelenggara kabupaten. Saat itu, sebagian besar dari kami hanya pernah jadi penyelenggara di strata ad-hoc. Tapi apapun latar belakangnya, tanggung jawab harus direspon dengan totalitas dan dedikasi kerja.
Hal pertama dan mendasar yang kami bangun di antara sesama lima komisioner yakni komitmen bersama bahwa akan bekerja secara kolektif, apa pun tantanganya. Manajemen kesekretariatan kami coba tata sesuai porsi yang sebenarnya. Dan yang terpenting adalah membangun komunikasi dengan semua stake holder. Tujuannya jelas:
“Menghasilkan Pemilu 2019 yang berkualitas dan berintegritas.”
Tagline di atas benar-benar jadi panduan dan modal maksimal buat kami dalam menjalankan tugas yang diembankan. Apalagi sebagai pendatang baru, saya dan teman-teman komisioner lain bertekad menghadirkan warna tersendiri, dalam pelaksanaan Pesta demokrasi di Kabupaten Kepulaun Talaud 2019. Hal ini dibuktikan ketika ada teman komisioner yangg kurang paham tentang tugasnya, kami saling memberikan masukan sebagai saran untuk satu tujuan yang baik. (*)
Tahapan Sosialsasi
Melangkah dengan modal semangat di awal tugas pada Januari 2019, kami memulai dengan tahapan sosialisasi kepada calon pemilih maupun peserta Pemilu. Sekali lagi sebagai pendatang baru, di tahapan ini kami sering berkonsultasi dengan pimpinan KPU Provinsi agar tidak salah dalam menjalankan tugas. Puji Tuhan berkat tuntunan dan arahan pimpinan KPU Provinsi, semua tahapan dapat kami laksanakan dengan baik.
Seiring dengan berjalannya waktu, proses adaptasi tugas, pokok dan fungsi makin membaik. Komitmen untuk belajar disertai tekad maksimal memberi yang terbaik, membantu banyak hal. Sungguhpun saat itu kami bahkan belum mengikuti orientasi tugas (Ortug) dari KPU-RI. Secara teknis benar-benar menantang, begitu juga tantangan lain terkait letak geografis Talaud yang terdiri dari pulau-pulau.
Sebagai pimpinan saya harus membuat formula agar setiap tahapan sosialisasi dapat menyentuh calon pemilih di 19 Kecamatan dan 153 Desa/Kelurahan, bahkan ketika medannya sulit dijangkau.
Untuk ke pulau seperti Miangas dan Nanusa misalnya, transportasi laut bisa memakan waktu sampai 15 Jam. Lama sekali. Nyawa taruhannya.
Situasi ini jugalah yang membuat saya harus membagi tugas kepada teman-teman komisioner. Tidak semua dibebankan kepada Kepala Divisi Sosialisasi-Parmas. Semua harus mengambil peran sama. Meskipun kami sering diperhadapkan dengan kondisi laut yang tidak bersahabat, gelombang yang tinggi, bahkan badai yang taruhannya adalah nyawa kami. Namun karena kami tetap berpegang pada sumpah dan janji, hal ini kami harus lakukan sekalipun tidak mudah.
Sisi positifnya, karena diperhadapkan dengan situasi yang tidak mudah, kami berlima semakin kompak. Berkat kesigapan yang bermodalkan nekat dan semangat, kami mampu menembus badai sampai pada titik titik yang sulit dijangkau. Hal ini dibutuhkan strategi untuk mensiasati keadaan. Dari saling pengertian serta rasa memiliki akan tugas sebagai kolektif kolegial, saya sebagai pimpinan harus membagi wilayah kerja dari lima komisioner sehingga semua tugas
penyelenggaraan Pemilu 2019 mampu di kontrol dan dikendalikan dari tingkat atas.
Mengontrol dan mengendalikan tim kerja dalam cakupan teritorial yang luas, terpisah di pulau-pulau serta sarana komunikasi dan transportasi yang terbatas, menjadi kendala kami untuk melaksanakan fungsi kontrol. Pengendalian tim di tingkat PPK, PPS, sampai Ke KPPS juga dimaksimalkan dengan berbagai suka dukanya.
Strategi yang dibangun ini sangat berdampak dalam menjalankan tugas tugas komisioner di lapangan, sampai pada tahap pelaksanaan Pemilu 2019. Kontrol dan pengendalian tim kerja tidak lepas dari sinergitas dan kekompakan yang dibangun oleh lima komisioner sampai tim sekretariat. (*)
Krusialnya Penerimaan Logistik
Sebelum memastikan logistik diterima di gudang, saya harus membentuk tim kerja. Ketuanya Kepala Sub Bagian Keuangan, Umum dan Logistik (Kasubag KUL). Ia menjadi administrator utama di lapangan untuk melakukan pemeriksaan terhadap jenis dan jumlah barang yang diterima, sehingga logistik yang diterima benar benar sesuai dengan kebutuhan dan peruntukkannya.
Ia juga saya tugaskan untuk benar-benar fokus mencocokkan jenis dan jumlah pada label, dengan jenis dan jumlah pada Surat Perintah Pengiriman (SPP) barang. Itu juga tentu sudah meliputi pengecekan kualitas serta tujuan atau peruntukannya. Supaya semua rapi, semua dicatat dan dituangkan dalam catatan hasil pemeriksaan, kemudian diformalkan di berita acara hasil pemeriksaan. Tahap akhir nan penting adalah menandatangani BAST barang dan membuat BAST untuk disampaikan kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada biro yang menangani bidang Logistik di KPU. Proses ini harus dilakukan dengan cermat, detil dan komprehensif, sehingga tidak salah dalam mekanisme penerimaan logistik. (*)
Tahapan Sosialsasi
Melangkah dengan modal semangat di awal tugas pada Januari 2019, kami memulai dengan tahapan sosialisasi kepada calon pemilih maupun peserta Pemilu. Sekali lagi sebagai pendatang baru, di tahapan ini kami sering berkonsultasi dengan pimpinan KPU Provinsi agar tidak salah dalam menjalankan tugas. Puji Tuhan berkat tuntunan dan arahan pimpinan KPU Provinsi, semua tahapan dapat kami laksanakan dengan baik.
Seiring dengan berjalannya waktu, proses adaptasi tugas, pokok dan fungsi makin membaik. Komitmen untuk belajar disertai tekad maksimal memberi yang terbaik, membantu banyak hal. Sungguhpun saat itu kami bahkan belum mengikuti orientasi tugas (Ortug) dari KPU-RI. Secara teknis benar-benar menantang, begitu juga tantangan lain terkait letak geografis Talaud yang terdiri dari pulau-pulau.
Sebagai pimpinan saya harus membuat formula agar setiap tahapan sosialisasi dapat menyentuh calon pemilih di 19 Kecamatan dan 153 Desa/Kelurahan, bahkan ketika medannya sulit dijangkau.
Untuk ke pulau seperti Miangas dan Nanusa misalnya, transportasi laut bisa memakan waktu sampai 15 Jam. Lama sekali. Nyawa taruhannya.
Situasi ini jugalah yang membuat saya harus membagi tugas kepada teman-teman komisioner. Tidak semua dibebankan kepada Kepala Divisi Sosialisasi-Parmas. Semua harus mengambil peran sama. Meskipun kami sering diperhadapkan dengan kondisi laut yang tidak bersahabat, gelombang yang tinggi, bahkan badai yang taruhannya adalah nyawa kami. Namun karena kami tetap berpegang pada sumpah dan janji, hal ini kami harus lakukan sekalipun tidak mudah.
Sisi positifnya, karena diperhadapkan dengan situasi yang tidak mudah, kami berlima semakin kompak. Berkat kesigapan yang bermodalkan nekat dan semangat, kami mampu menembus badai sampai pada titik titik yang sulit dijangkau. Hal ini dibutuhkan strategi untuk mensiasati keadaan. Dari saling pengertian serta rasa memiliki akan tugas sebagai kolektif kolegial, saya sebagai pimpinan harus membagi wilayah kerja dari lima komisioner sehingga semua tugas
penyelenggaraan Pemilu 2019 mampu di kontrol dan dikendalikan dari tingkat atas.
Mengontrol dan mengendalikan tim kerja dalam cakupan teritorial yang luas, terpisah di pulau-pulau serta sarana komunikasi dan transportasi yang terbatas, menjadi kendala kami untuk melaksanakan fungsi kontrol. Pengendalian tim di tingkat PPK, PPS, sampai Ke KPPS juga dimaksimalkan dengan berbagai suka dukanya.
Strategi yang dibangun ini sangat berdampak dalam menjalankan tugas tugas komisioner di lapangan, sampai pada tahap pelaksanaan Pemilu 2019. Kontrol dan pengendalian tim kerja tidak lepas dari sinergitas dan kekompakan yang dibangun oleh lima komisioner sampai tim sekretariat. (*)
Krusialnya Penerimaan Logistik
Sebelum memastikan logistik diterima di gudang, saya harus membentuk tim kerja. Ketuanya Kepala Sub Bagian Keuangan, Umum dan Logistik (Kasubag KUL). Ia menjadi administrator utama di lapangan untuk melakukan pemeriksaan terhadap jenis dan jumlah barang yang diterima, sehingga logistik yang diterima benar benar sesuai dengan kebutuhan dan peruntukkannya.
Ia juga saya tugaskan untuk benar-benar fokus mencocokkan jenis dan jumlah pada label, dengan jenis dan jumlah pada Surat Perintah Pengiriman (SPP) barang. Itu juga tentu sudah meliputi pengecekan kualitas serta tujuan atau peruntukannya. Supaya semua rapi, semua dicatat dan dituangkan dalam catatan hasil pemeriksaan, kemudian diformalkan di berita acara hasil pemeriksaan. Tahap akhir nan penting adalah menandatangani BAST barang dan membuat BAST untuk disampaikan kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada biro yang menangani bidang Logistik di KPU. Proses ini harus dilakukan dengan cermat, detil dan komprehensif, sehingga tidak salah dalam mekanisme penerimaan logistik. (*)
Tantangan Sortir, Lipat, Packing dan Distribusi Logistik Kegiatan sortir surat suara adalah fase yang sangat krusial. Kami masih melibatkan tim kesekretariatan untuk diperbantukan meneliti, mencocokkan dan menghitung. Selain itu harus juga memisah-misahkan atau memilah jenis barang logistik yang diterima dari penyedia sesuai kebutuhan pengadaan.
Penyortiran dilaksanakan untuk mengetahui kualitas dan jumlah barang seperti surat suara dan formulir. Pemeriksaan dan penyortiran dilakukan untuk memisahkan surat suara dan formulir yang berkualitas baik dan yang rusak. Seluruh kegiatan mulai dari penyortiran logistik, perlengkapan pemungutan suara, dilakukan di gudang KPU Kabupaten Talaud.
Pada tahapan pelipatan surat suara kami sudah melibatkan masyarakat yang berada di seputaran Kota Melonguane. Mereka dipandu serta diawasi Tim Kerja dari Sekretariat KPU, dengan penjagaan ketat pihak kepolisisan dan Bawaslu Kabupaten Kepulauan Talaud. Mereka dilibatkan karena harus berkejaran dengan waktu.
Mengandalkan staf sekretariat saja, waktunya pasti tidak cukup.
Tiba saatnya pengepakan. Sebelum logistik dikirim/didistribusikan ke PPK, PPS, dan KPPS, KPU Kabupaten Talaud melakukan pengepakan logistik. Tahap pengepakan merupakan kegiatan menata dan mengemas surat suara dan perlengkapan lainnya dengan jumlah dan spesifikasi teknis tertentu. Pengepakan dilakukan agar dalam proses identifikasi logistik menjadi lebih efektif dan dapat mencegah pertukaran jenis logistik, plus dapat mengurangi kemungkinan kerusakan barang dan kemudahan dalam pengiriman.
Tuntas di-packing, langsung didistribusikan secara berjenjang.
Baik di TPS, PPS maupun PPK. Tentu dengan dikawal dan diawasi Bawaslu serta aparat keamanan (TNI/Polri). Inilah fase yang sangat menantang sekaligus mendebarkan buat kami. KPU Kabupaten Kepulauan Talaud menditribusikan logistik Pemilu 2019 di 19 Kecamatan, 153 Desa/Kelurahan dan 310 TPS.
Penditribusian dilaksanakan dengan memetakan daerah prioritas dimana daerah yang jauh didistribusikan terlebih dahulu. Mengingat
Kabupaten Kepulauan Talaud terdiri dari daratan dan lautan, maka moda transportasi yang digunakan Speed Boat, Truk dan Pick Up.
Untuk wilayah-wilayah kepulauan, pendistribusian mulai dilaksanakan 13 April 2019. Kecamatan Miangas dan Nanusa jadi prioritas pertama.
(*)
Suka Duka Distribusi Logistik ke Pulau Miangas
Saya menulis khusus soal distribusi logistik di Miangas. Itu karena banyak suka dukanya. Tantangannya begitu besar. Bila diukur, jarak Pulau Miangas yang memiliki luas 2,39 kilometer dengan Kota Manado, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Utara diperkirakan 320 mil. 110 mil dari Kota Melonguane. Hanya 83,6 Kilometer menuju Davao, atau kira-kira empat-enam jam saja menggunakan kapal Funboat menuju wilayah Filipina tersebut.
Secara geografis Pulau ini terletak pada 05” 34” 30” LU dan 126”
35” 35” BT. Miangas termasuk gugusan Kepulauan Nanusa. Sebelah utara dan timur berbatasan dengan Samudera Pasifik. Transportasi ke Pulau Miangas dapat dilakukan dengan menggunakan kapal angkutan dari Pelabuhan Melonguane. Kapal ini juga melayani rute Bitung—
Melonguane-Karatung sebanyak 2 kali sebulan. Lama perjalanan rute ini sekitar 15 hari.
Ada empat kapal yang merapat ke pulau ini setiap dua pekan secara bergantian. Meski demikian, empat kapal yang melayani rute pelayaran hingga ke Pulau Miangas dirasa tak cukup. Bila gelombang Samudera Pasifik mengamuk, tak satupun nakhoda kapal
“Speed yang membawa logistik tiba di Miangas pukul 24.00.
Menurut penuturan tim, saat dihantam badai, kapal hampir tenggelam. Mereka kemudian kehilangan arah dan sudah menuju Filipina. Mengatur Pemilu di Kabupaten Talaud memang tidak mudah. Lebih khusus soal distribusi logistik.
Tantangannya luar biasa berat. Tak hanya cermat dan tepat, juga harus ditambah elemen berani dan sedikit nekat.”
Tantangan Sortir, Lipat, Packing dan Distribusi Logistik Kegiatan sortir surat suara adalah fase yang sangat krusial. Kami masih melibatkan tim kesekretariatan untuk diperbantukan meneliti, mencocokkan dan menghitung. Selain itu harus juga memisah-misahkan atau memilah jenis barang logistik yang diterima dari penyedia sesuai kebutuhan pengadaan.
Penyortiran dilaksanakan untuk mengetahui kualitas dan jumlah barang seperti surat suara dan formulir. Pemeriksaan dan penyortiran dilakukan untuk memisahkan surat suara dan formulir yang berkualitas baik dan yang rusak. Seluruh kegiatan mulai dari penyortiran logistik, perlengkapan pemungutan suara, dilakukan di gudang KPU Kabupaten Talaud.
Pada tahapan pelipatan surat suara kami sudah melibatkan masyarakat yang berada di seputaran Kota Melonguane. Mereka dipandu serta diawasi Tim Kerja dari Sekretariat KPU, dengan penjagaan ketat pihak kepolisisan dan Bawaslu Kabupaten Kepulauan Talaud. Mereka dilibatkan karena harus berkejaran dengan waktu.
Mengandalkan staf sekretariat saja, waktunya pasti tidak cukup.
Tiba saatnya pengepakan. Sebelum logistik dikirim/didistribusikan ke PPK, PPS, dan KPPS, KPU Kabupaten Talaud melakukan pengepakan logistik. Tahap pengepakan merupakan kegiatan menata dan mengemas surat suara dan perlengkapan lainnya dengan jumlah dan spesifikasi teknis tertentu. Pengepakan dilakukan agar dalam proses identifikasi logistik menjadi lebih efektif dan dapat mencegah pertukaran jenis logistik, plus dapat mengurangi kemungkinan kerusakan barang dan kemudahan dalam pengiriman.
Tuntas di-packing, langsung didistribusikan secara berjenjang.
Baik di TPS, PPS maupun PPK. Tentu dengan dikawal dan diawasi Bawaslu serta aparat keamanan (TNI/Polri). Inilah fase yang sangat menantang sekaligus mendebarkan buat kami. KPU Kabupaten Kepulauan Talaud menditribusikan logistik Pemilu 2019 di 19 Kecamatan, 153 Desa/Kelurahan dan 310 TPS.
Penditribusian dilaksanakan dengan memetakan daerah prioritas dimana daerah yang jauh didistribusikan terlebih dahulu. Mengingat
Kabupaten Kepulauan Talaud terdiri dari daratan dan lautan, maka moda transportasi yang digunakan Speed Boat, Truk dan Pick Up.
Untuk wilayah-wilayah kepulauan, pendistribusian mulai dilaksanakan 13 April 2019. Kecamatan Miangas dan Nanusa jadi prioritas pertama.
(*)
Suka Duka Distribusi Logistik ke Pulau Miangas
Saya menulis khusus soal distribusi logistik di Miangas. Itu karena banyak suka dukanya. Tantangannya begitu besar. Bila diukur, jarak Pulau Miangas yang memiliki luas 2,39 kilometer dengan Kota Manado, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Utara diperkirakan 320 mil. 110 mil dari Kota Melonguane. Hanya 83,6 Kilometer menuju Davao, atau kira-kira empat-enam jam saja menggunakan kapal Funboat menuju wilayah Filipina tersebut.
Secara geografis Pulau ini terletak pada 05” 34” 30” LU dan 126”
35” 35” BT. Miangas termasuk gugusan Kepulauan Nanusa. Sebelah utara dan timur berbatasan dengan Samudera Pasifik. Transportasi ke Pulau Miangas dapat dilakukan dengan menggunakan kapal angkutan dari Pelabuhan Melonguane. Kapal ini juga melayani rute Bitung—
Melonguane-Karatung sebanyak 2 kali sebulan. Lama perjalanan rute ini sekitar 15 hari.
Ada empat kapal yang merapat ke pulau ini setiap dua pekan secara bergantian. Meski demikian, empat kapal yang melayani rute pelayaran hingga ke Pulau Miangas dirasa tak cukup. Bila gelombang Samudera Pasifik mengamuk, tak satupun nakhoda kapal
“Speed yang membawa logistik tiba di Miangas pukul 24.00.
Menurut penuturan tim, saat dihantam badai, kapal hampir tenggelam. Mereka kemudian kehilangan arah dan sudah menuju Filipina. Mengatur Pemilu di Kabupaten Talaud memang tidak mudah. Lebih khusus soal distribusi logistik.
Tantangannya luar biasa berat. Tak hanya cermat dan tepat, juga harus ditambah elemen berani dan sedikit nekat.”
yang berani melakukan perjalanan menuju Miangas. Resikonya terlalu besar. Kondisi ini tentu harus diperhitungkan penyelenggara Pemilu dalam mendistribusikan logistik ke pulau tersebut. Berdasarkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2019, ada 504 pemilih di Pulau Miangas. Hanya 1 Desa dan 1 Kecamatan. TPS Cuma dua. Meski sedikit, sudah jadi komitmen kami untuk memberikan ruang kepada semua pemilih di Pulau Miagas untuk menyalurkan suara mereka.
Itulah sebabnya distribusi logistik harus benar-benar diatur dengan tepat waktu.
Kami harus mencermati jadwal pelayaran kapal ke Pulau Miangas.
Paling lambat 5 hari sebelum pemungutan suara logistik sudah harus dikirimkan. Terlambat satu hari akan berakibat pada tertundanya pelaksanaan pemungutan suara di Pulau Miangas. Supaya ini tidak ada penundaan, pemungutan suara di Pulau terluar di bagian utara Republik Indonesia ini dilakukan dengan langkah-langkah tepat dan cermat. Yang pertama memastikan pengadaan logistik tepat waktu, pengepakan logistik ke Pulau Miangas harus selesai lebih awal, paling lambat 14 hari sebelum hari pemungutan suara. Tidak boleh meleset.
Kedua mengecek jadwal pelayaran kapal ke Pulau Miangas.
Memastikan ketersediaan angkutan lain seperti speedboat.
Berkoordinasi dengan TNI dan Polri sebagai langkah antisipasi ketersediaan sarana angkutan laut milik TNI dan Polri. Ketiga mengecek ketersediaan sarana angkutan udara sebagai langkah antisipasi gelombang tinggi di samudera pasifik. Keempat membentuk tim khusus distribusi logistik ke Kecamatan Nanusa di dalamnya adalah Pulau Miangas.
Dari Pelabuhan Melonguane menuju Pulau Miangas, lama perjalanan sekira 15 jam. Bisa lebih lama kalau ada gelombang di antara Melonguane dan Miangas. Kadang tingginya sampai 6 meter.
Plus bonus badai yang super kencang, tak ada cara lain selain berdoa dan memohon kepada Sang Pencipta supaya tiba dengan selamat.
Tidak ada tips lain. Hanya itu: Berdoa.
Pada Pemilu 2019 lalu, tanggal 13 April 2019 Saya menugaskan Kepala Divis SDM, Andri Sumolang, untuk mendistribusikan logistik ke Pulau Miangas. Pakai speeboat. Kapal bertolak dari Pelabuhan
Melonguane pukul 08.00 Wita pagi. Ia berkisah, tiga jam ,perjalanan kapal dihantam gelombang tinggi disertai tiupan angin yang kencang.
Melonguane pukul 08.00 Wita pagi. Ia berkisah, tiga jam ,perjalanan kapal dihantam gelombang tinggi disertai tiupan angin yang kencang.