• Tidak ada hasil yang ditemukan

Empat Doktrin

Dalam dokumen BAB I PENGERTIAN FILSAFAT (Halaman 155-161)

BAB X KARL MARX

BENEDETTO CROCE (1886-1952)

C. Pemikiran-pemikiran Croce

3. Empat Doktrin

Selanjutnya, Syafii Maarif mengidentifikasi adanya empat doktrin inti dari Croce, yaitu: (1) sejarah dan filsafat; (2) sejarah sebgai sejarah kontemporer; (3) liberti (kemerdekaan, kebebasan) sebagai penjelasan sejarah; dan (4) pesimisme dalam sejarah.

Pertama, sejarah dan filsafat. Ketika membahas doktrin ini, Syafii Maarif mengawalinya dengan memperhatikan definisi sejarah yang dirumuskan oleh Croce. Menurutnya, definisi sejarah yang dikemukakan Croce merupakan salah satu bentuk proses dari pembebasan filsafat pada umumnya dari tirani ilmu kealaman yang begeitu dominan pada abad ke-19. Menurut Croce ―Sejarah adalah rekaman tentang kreasi jiwa manusia di semua bidang, baik teoritikal maupun praktikal. Kreasi spiritual ini senantiasa lahir dalam hati atau pikiran manusia jenius, para artis, pemikir, manusia yang mengutamakan tindakan (men of action), para pembaru moral atau pembaru agama) (Maarif, 1999:2; 2003: 14).

Definisi di atas terasa berbeda sekali dari sejarah yang selama ini dikenal, yaitu ‗studi tentang masa lampau‘. Untuk mempermudah pemahaman atas definisi sejarah Croce di atas, ada baiknya disandingkan dengan definisi yang disampaikan Carr, sehingga bisa menjembatani definisi sejarah yang dirumuskan Croce. Menurut Carr, sejarah adalah ‗suatu proses interaksi berkelanjutan antara sejarawan dan fakta-faktanya, suatu dialogt tanpa henti antara masa sekarang dan masa lampau‘ Maarif, 2003: 14).

Dalam ungkapan lain, demikian Maarif, dapat dikatakan bahwa sejarah adalah ‗hasil rekaman interaksi dan dialog jiwa dan pikiran sejarawan dengan realitas kehidupan yang berlangsung secara dinamis dan kreatif dalam ruang dan waktu‘. Interaksi dan dialog manusia dengan realitas selalu menyangkut proses berpikir kritis-filosofis dari tingkat yang paling sederhana sampai tingkat yang paling tinggi dan kompleks. Rekonstruksi kritis-filosofis tentang masa lampau yang selalu bercorak interpretatif adalah tindakan berpikir kreatif-imajinatif-logis. Itulah sejarah dalam perspektif Groce. Oleh sebab itu, sejarah jangan disamakan dengan ilmu (Maarif, 2003: 14).

Sejarah merupakan bentuk tertinggi dari filsafat. Perbuatan berpikir adalah filsafat dan sekaligus sejarah pada waktu yang bersamaan. Sejarah oleh karena itu identik dengan tindakan berpikir itu sendiri. Dalam paradigma ini, maka lahirlah rumusan tentang identiknya sejarah dengan filsafat. Carr menafsirkan pandangan Croce: ― Sejarah tidaklah mungkin tanpa unsur logika, dan unsur logika itu adalah filsafat yang mengondisikan sejarah; tetapi juga filsafat tidaklah mungkin tanpa unsur intuitif, dan unsur intuitif itu adalah sejarah yang mengondisikan filsafat‖ (Maarif, 1999: 2; 2003: 36).

Sejarah adalah segala-galanya: ―... tidak ada pertimbangan yang sejati dan konkrit apa pun selain daripada pertimbangan historikal, dengan begitu solusi dan definisi filsafat adalah historikal‖. Dalam hal hubungan fakta dan interpretasi fakta dapat dijelaskan bahwa ―semua fakta adalah historikal; semua interpretasi adalah filosofikal‖. Rupanya karena interpretasi selalu melibatkan kegiatan berpikir, maka pastilah ia berswifat filososfikal. Bagi Croce ―… tidak ada masalah sejarah yang dapat dipahami tanpa menunjuk

kepada konsep-konsep filsafat, begitu juga tidak ada masalah filsafat dapat dipecahkan kecuali dalam hubungannya dengan fakta‖(Maarif, 1999: 3).

Terkait dengan pernyataan di atas, bagi Croce penulisan sejarah ―berarti menghidupkan kembali sebuah tindakan atau perbuatan, yang dengan begitu dia menjadi bagian dari pengalaman kita sendiri. Oleh karena itu dalam sejarah orang tidak dapat berbicara tentang sebab-akibat, karena ini semua adalah produk ilmu pengetahuan ‖. Sejarah menurut Croce tidak pernah menjadi sebuah ilmu, karena ia adalah kreasi jiwa manusia (Maarif, 1999: 3; 2003:39).

Sebagaimana telah ditegaskan di atas, Croce menolak pendapat bahwa sejarah adalah 'sains'. Menurutnya, sejarah adalah seni. Sains merupakan pengetahuan tentang sesuatu yang umum (the general), sedangkan seni adalah intuisi tentang sesuatu yang khusus (the particular). Karena sejarah bergelut dengan fenomena konkret partikular, maka ia adalah sebentuk seni. Sejarah sebagai seni yang khusus, karena, ketimbang menampilkan yang mungkin, ia lebih menampilkan yang aktual.

Croce menegaskan bahwa seni merupakan sumber dari semua pengetahuan. Sependapat dengan Vico, Croce menyatakan bahwa bahasa adalah atribut dan aktivitas sentral manusia (Aesthetic, hlm. 30 dan 485). Karena intuisi terkait erat dengan bahasa, maka seni membentuk dasar bagi seluruh pengetahuan (Aesthetic, hlm.11, 20-21, 26-27, 31). Pandangan Groce tentang dunia yang didominasi oleh seni segera populer di kalangan intelektual muda.

Masih terkait dengan konsepnya mengenai sejarah dan filsafat, adalah doktrin ‗masa kini yang abadi‘ (the eternal present). Dalam My Philosophy, Croce mengeritik kecenderungan semua filsafat sejarah yang menghasilkan system tertutup, baik karena memperlakukan sejarah sebagai sebuah perkembangan yang telah mencapai titik akhir atau yang kesimpulannya sama dengan itu, sambil menarik kesimpulan sejarah tentang masa depan.

Perbedaan masa lampau dan masa sekarangbagi Croce bukanlah perbedaan tentang apa yang pernah ada dan apa yang sedang ada. Baginya masa lampau ada dalam masa sekarang. Menurutnya, tidak ada masa kini yang tidak dilahirkan oleh masa lampau dan sekaligus melahirkan masa depan. Masa sekarang itu sendiri adalah proses lanjut dari sebuah kreasi baru, evolusi tanpa henti dalam bentuk-bentuk baru. Dengan kata lain, konsep sejarah menurut Croce adalah konsep realitas sebagai masa kini yang abadi.

Dalam perspektif praktis, orang dapat mengatakan bahwa untuk mengenal secara tepat persoalan-persoalan mas kini ia harus mengenal secara tepat pula persoalan-persoalan masa lampau. Sebuah pekerjaan yang memang tidak mudah karena informasi tentang masa lampau itu tidak pernah lengkap. Andai punlengkap, tafsiran terhadapnya akan bersifat individual dan tidak

pernah bersifat monolitik. Kerja sejarah memanglah sebuah tricky business (Maarif, 2003: 40).

Masih terkait dengan pernyataan di atas adalah pendapat Croce tentang tugas pengeritik historikal dan pengeritik filosofikal. Menurut Croce, tugas kritik historikal dan kritik filosofikal adalah untuk memahami kualitas dan menangkap makna tempat dan hubungan-hubungan kreasi spiritual dalam konteks sejarah. Dalam kasus ini, Croce dengan keras mengeritik para psikolog, positivis, dan kaum materialis karena semuanya tersesat jalan pada saat mereka mencoba memahami metode ini. Ujung kerja mereka hanyalah sampai pada tingkat melukiskan metode itu sebagai ‗penyebab‘ kreasi-kreasi spiritual.

Mereka, menurut Croce, berpendapat bahwa kreasi itu terjadi melalui serangkaian koinsidensi yang menguntungkan, dank arena itu bersifat serba kebetulan. ‗Inilah‘, yang menurut Croce, ‗dasar yang terendah dari pemahaman filosofikal dan historikal‘. Sebagaimana telah dikenal secara luas, Croce adalah lawan berat dari kaum positivis dan materialis. Posisi ini tidak pernah ditinggalkan sampai akhir hidupnya (Maarif, 2003: 40).

Kesimpulannya, bagi Croce, tindakan berpikir pada saat yang sama pasti bercorak filosofikal dan historical. Dengan demikian, sejarah dan filsafat tidak saja saling melengkapi, tetapi keduanya identik. Inilah doktrin Croce yang krusial dan mendasar tentang hubungana sejarah dan filsafat, yang sampai batas-batas tertentu berbeda dengan doktron Hegel. Bahkan para pengikutnya menyatakan bahwa merupakan orang yang bersikap kritis terhadap pemikiran Hegel.

Kedua, sejarah sebgai sejarah kontemporer. Doktrin ―masa kini yang abadi (the eternal present)‖ Croce menyatakan bahwa: ―… masa lampau ada dalam masa sekarang; … tidak ada masa kini yang tidak dilahirkan oleh masa lampau dan (sekaligus) melahirkan masa depan‖. Masa sekarang adalah proses lanjut dari sebuah kreasi baru, evolusi tanpa henti dalam bentuk-bentuk baru. Konsep sejarah adalah konsep realitas sebagai masa kini yang abadi (Maarif, 1999: 3).

Dalam doktkrin ini terkandung prinsip ―imanen‖, dalam arti tidak ada peristiwa yang bersifat ekternal terhadap sejarah atau dalam ungkapan lain ―tidak ada fakta yang tanpa makna dapat dibubuhi makna oleh pikiran‖. Bagi Croce, semua fakta mestilah bercorak historikal yang mengandung makna, dan makna ini hanya mungkin ditangkap oleh pikiran manusia melalui tafsirannya terhadap fakta. Bangunan pikiran manusia pasti dicoraki oleh suasana kontemporer yang mengondisikan pikiran itu. Dengan begeitu sebuah peristiwa yang tidak terkait dengan kehidupan kontemporer tidak punya nilai sejarah (Maarif, 1999: 4).

Pendapat Croce tersebut dengan sendirinya membawa kepada pemahaman tentang sumber-sumber sejarah yang berguna dan yang tidak, baik yang primer, sekunder, dan tersier. Hanya sumber-sumber yang memiliki nilai sejarah sajalah yang patut diperhatikan, sedangkan selain itu cukup diabaikan saja. Untuk menentukan sumber-sumber yang bernilai sejarah atau tidak, tidaklah mudah. Hal ini dengan sendirinya menyangkut kecenderungan subyektivitas manusia.

Dalam perspektif di atas, seleksi sumber tidak pernah lepas dari kecenderungan subyektif itu. Namun, betapapun subyektivitas seseorang, seleksi itu harus dilakukan, sebab tanpa itu, kerja relonstruksi masa lampau tidak akan pernah terpusat kepada suatu titik perhatian. Selanjutnya, biarlah peneliti lain yang akan menilainya, apakah subyektivitas itu sudah melampaui batas fakta yang harus dihormati oleh setiap sejarawan.

Masih terkait dengan subyektivitas sejarah yang mendapat perhatian khsus oleh Croce, Croce menyatakan bahwa ―sejarah pada esensinya adalah individualitas‖. Oleh karena itu, sejarah tidak boleh tidak, pasti memuat unsur subjektif. Croce menegaskan: ―Sejarah harus selalu menimbang dengan penuh semangat dan harus bercorak subjektif secara energik‖. Sebagaimana diulanginya bahwa sejarah adalah buah dari perbuatan pikiran, lahir dalam hati manusia. Kaitannya dengan sejarah sebagai sejarah kontemporer: ―kepen-tingan masa sekaranglah, bukan kepen―kepen-tingan masa lampau, yang mendorong manusia untuk menulis sejarah‖ (Maarif, 1999: 4; 2003:42).

Sepereti telah dinyatakan di depan, bagi Croce, masa lampau ada dalam masa sekarang, dan waktu yang abadi. Masa sekarang mengandung sebuah keabadian, di samping meliputi semua waktu dalam dirinya. Menurut pandangan ini, obyek sejarah dari pikiran kita senantiasa bercorak kontemporer dengan pikiran itu. Croce menyatakan ―sejarah lahir karena sebuah keperluan, ditentukan oleh keinginan-keinginan khusus kita…‖. Baginya tikdakan dari sebuah pikiran sejarah bertujuan untuk memenuhi keperluan dan keinginan kontemporer manusia. Oleh karena itu, setiap pertimbangan sejarah itu…dibatasi…oleh keperluan yang merupakan motifnya. Pandangan inilah yang secara logis memberi watak kepada sejarah sebagai sejarah kontemporer.

Selanjutnya dinyatakan Croce: ―… sejarah sesungguhnya senantiasa bersifat responsif terhadap keperluan dan situasi sekarang, yang kepadanya peristiwa-peristiwa itu menyampaikan gaungnya‖. Dia juga menyatakan bahwa tujuan kajian sejarah yaitu ―… untuk menyinari masa lampau agar jelas tindakan apa yang harus dilaksanakan‖ (Maarif, 1999: 5). Di sini memang terlihat bahwa sejarah memang memiliki nilai praktis sebagai pedoman bertindak dalam menghadapi situasi kekinian. Dalam pernyataan lain, menurut Maarif (2003:44) sejarah mengandung dua unsur penting, yaitu (1) peristiwa,

dan (2) pemaknaan. Sebagai peristiwa berarti menunjuk masa lampau; sebagai pemaknaan berarti selalu dalam kekinian.

Ketiga, kebebasan sebagai penjelasan sejarah. Istilah liberti sebagai eksplansi sejarah dipinjam Croce dari Hegel. Bagi Hegel, ungkapan the history of liberty bermakna bahwa sejarah merupakan proses kelahiran liberti, pertumbuhannya, pendewasaannya yang sempurna dan kelanjutannya yang statis pada tahap tertentu pada saat ia tidak mungkin lagi berkembang. Liberti berfungsi sebagai penunjuk jalan bagi eksplanasi sejarah. Ungkapan Hegel digunakan Croce tetapi diberi isi dan tujuan lain, yaitu bahwa liberti adalah pewarta abadi dan merupakan subyek semua sejarah. Dengan demikian, ungkap Maarif (2003:44), leberti seperti digunakan Croce di sini, mengandung prinsip penjelas penjelasan sejarah, disamping juga memuat makna cita-cita moral manusia. Perbedaannya, Croce tidak pernah percaya bahwa liberti, sebagai cita-cita moral, akan kandas atau mengalami kekalahan.

Liberti di mata Croce tidak akan pernah mati; memproklamasikan kepada kematian liberti sama artinya dengan memproklamasikan kematian kepada kehiduopan. Sebuah ungkapan yang patut dijadikan catatan penting dalam perjalanan kehidupan seseorang; bukankah jika tanpa kebebasan, hidup manusia kehilangan makna dan hakekat? Hidup tanpa kebebasan dan kemerdekaan adalah hidup dalam perbudakan.

Dari sudut pandang ini, penjajahan manusia oleh manusia atau penindasan bangsa oleh bangsa adalah pengkhianatan terhadap cita-cita moral. Sejarah melaju dan melaju adalah untuk merealiasikan kebebasan ini. Croce yakin betul akan adanya kekuatan kebenaran berupa kebebasan dalam perjalanan sejarah manusia. Suatu saat dapat saja liberti mengalami kekalahan, tetapi tidaklah prnah menyerah, karena ia merupakan kekuatan langgeng dan permanen dalam gerak sejarah. Sebagai ilustrasinya, berakhirnya penjajahan politik dan militer Barat atas berbagai belahan duia adalah bukti dari kekuatan liberti.

Croce mengakui bahwa liberti mungkin saja ditindas pada masa-masa tertentu, tetapi tidak akan pernah lenyap. Adapun pertanyaan, bagaimana kita memahami penderitaan yang dialami manusia karena hilangnya liberti, kekecewaan yang diderita manusia dalam berbagai periode sejarah? Terhadap keluhan itu, dengan tenang Croce menjawab: ‗semuanya itu bukanlah kebenaran filsafat atau kebenaran sejarah; juga bukan kesalahan atau impian. Semuanya itu adalah gerakan-gerakan suara batin moral, sejarah dalam proses pembentukan (history in the making)‘ (Maarif, 2003: 47).

Bagi Croce, liberti mengandung makna optimism terhadap hidup dan masa depan umat manusia, betapapun orang sering dihadapkan kepada persoalan-persoalan rumit dan penuh bahaya. Liberti juga berarti perbaikan terus menerus terhadap kualitas hidup, yaitu ‗dalam penciptaan bentuk-bentuk

kehidupan baru dan lebih kaya‘. Proses perbaikan itu berlangsung sepenuhnya secara dialektis di dalam rahim sejarah, tidak di luarnya. Tidak ada perbaikan yang mungkin diwujudkan, kecuali dalam sejarah. Di atas panggung sejarahlah umat manusia member makna atau tidak memberi makna kepada eksistensinya (Maarif, 2003: 48).

Doktrin liberti Croce dapat dibaca dalam perspektif Pembukaan UUD 1945 alinea pertama yang menegaskan ‗… kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan‘. Penghapusan segala bentuk penjajahan adalah realisasi liberti dalam sejarah. Liberti adalah sebuah kerinduan abadi dari setiap manusia yang brpikiran normal. Sebaliknya mereka yang menderita mentalitas budak, liberti tidak banyak berbicara dalam kehidupannya, demikian menurut Syafii Maarif (2003:48).

Keempat, pesimisme dalam sejarah. Croce adalah seorang pemikir sejarah yang optimis. Ia percaya pada masa depan yang cerah dari cita-cita moral dan kebaikan manusia, sekalipun realitas sejarah sering menunjukkan fenomena yang sebaliknya (Maarif, 1999: 6). Croce percaya sepenuhnya kepada ―kebebasan‖ sebagai kekuatan abadi dalam sejarah. Kehidupan adalah juga sejarah itu sendiri yang memerlukan suatu cita-cita demi mengagungkan kebebasan.

Untuk mewujudkan ―kebebasan‖lah sebenarnya sejarah itu bergerak dan melaju tanpa henti sampai Sang Pencipta Kehidupan menghentikannya. Bagi Croce ―segala sesuatu (yang buruk) dapat saja terjadi, tetapi dalam kesegalaan itu terkandung pula kebalikannya‖. Dengan kata lain, kejadian baik dan buruk akan terus berlangsung secara dialektik dalam sejarah, tetapi kebaikan tidak akan terkalahkan oleh keburukan.

Grice mengeritik pandangan sejarawan yang pesimistik. Baginya liberti sebagaimana ditegaskan di depan tidak pernah mati. Kematian liberti berarti kematian kehidupan, suatu pandangan yang keliru di mata Croce. Dengan demikian, pesimisme historis tidak punya tempat dalam pemikiran Italia ini. Memang Croce tidak diragukan lagi adalah seorang sejarawan yang optimis, dan optimisme ini ingin diwariskannya kepada manusia seluruhnya. Hidup tanpa optimisme adalah hidup tanpa cita-cita moral (Maarif, 2003:51).

Dalam dokumen BAB I PENGERTIAN FILSAFAT (Halaman 155-161)