2.3. Aspek Pelayanan Umum
2.3.2. Fokus Layanan Urusan Pilihan
2.3.2.3. Energi dan Sumberdaya Mineral
Gambaran umum kondisi daerah terkait dengan urusan energi dan sumber daya mineral salah satunya dapat dilihat dari indikator kinerja sebagai berikut:
a. Energi
Beberapa potensi energi di Kabupaten Tegal yang dapat dimanfaatkan antara lain:
1). Energi panas bumi (geothermal) 2). Energi Mikrohidro
3). Energi Biogas
4). Energi matahari (surya)
5). Energi bahan bakar nabati (limbah organik) b. Sumber Daya Mineral Pertambangan
Kondisi pengelolaan sumberdaya mineral di Kabupaten Tegal masih dilakukan dengan pertambangan rakyat.
Pengelolaan bahan galian di Kabupaten Tegal dilakukan dengan mengedepankankonservasi dan penggalian potensi untuk peningkatan PAD. Untuk pengendalian dan
II-117
pembinaan dilakukan dengan perijinan yang harus dipenuhi oleh pengusaha. Luas penambangan tanpa izin di Kabupaten Tegal pada tahun 2011 mencapai 33,33 ha, dari luasan ini yang berhasil ditertibkan seluas 12,68 ha (38,03%). Sedangkan pada tahun 2012, luas penambangan tanpa izin mencapai 20,75 ha. Dari luasan tersebut telah dilakukan penertiban seluas 16,75 ha (80,73 %). Langkah penanganan yang telah dilakukan adalah dengan pendekatan dan mendorong kepada para pengusaha yang belum beriijin untuk mengikuti prosedur perijinan yang ditetapkan. Sebagaimana Tabel 2.92 di bawah ini.
Tabel 2.92.
Pertambangan Tanpa Izin di Kabupaten Tegal Pada Tahun 2008 – 2012
No. Uraian 2008 2009 2010 2011 2012
1. Luas penambangan tanpa
izin yang ditertibkan (ha) 6,6 8,7 10 12,68 16,75 2. Total luas penambangan
tanpa izin (ha)
51,89 43,33 41,33 33,33 20,75 3. Persentase Luas
penambangan liar yang ditertibkan
12,71 20,07 24,20 38,03 80,73 Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten tegal Tahun 2012
c. Kontribusi Sektor Pertambangan dan Penggalian terhadap PDRB
Pada tahun 2013 kontribusi sektor pertambangan dan penggalian terhadap PDRB Kabupaten Tegal berdasarkan harga berlaku mencapai 2,32% dan berdasar harga konstan adalah sebesar 2,64%, seperti dapat dilihat pada Tabel 2.85. Secara umum, kontribusi sektor pertambangan dan penggalian mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Hal ini perlu mendapat perhatian karena pengembangan sektor ini cenderung akan merusak lingkungan hidup. Selain itu, proses yang hanya ekstraktif akan memberikan nilai tambah yang relatif kecil pada perekonomian. Kabupaten Tegal seharusnya tidak memprioritaskan pengembangan sektor pertambangan dan penggalian untuk menggenjot ekonomi wilayah.
Sebagaimana Tabel 2.93 berikut ini.
II-118
Tabel 2.93.
Kontribusi Sektor Pertambangan dan Penggalian terhadap PDRB Kabupaten Tegal
Tahun 2009 - 2013
No. Uraian dalam Jutaan Rupiah
2009 2010 2011 2012 2013
1. Kontribusi Sektor Pertam-bangan dan Penggalian :
- ADH Berlaku 151.294,43 177.827,13 201.359,84 226.223,47 254.874,25 - ADH Konstan 87.353,96 93.260,34 98.166,72 105.739,77 111.908,12 2. Jumlah PDRB :
- ADH Berlaku 7.129.479,47 7.936.028,74 8.798.459,34 9.802.454,69 10.989.141,94 - ADH Konstan 3.460.131,60 3.627.198,20 3.801.779,47 4.001.204,96 4.233.513,40 3. Persentase
Kontribusi Sektor Pertambangan dan Penggalian thd PDRB
- ADH Berlaku 2,12 2,24 2,29 2,31 2,32
- ADH Konstan 2,52 2,57 2,58 2,64 2,64
Sumber : BPS Kabupaten Tegal Tahun 2013
d. Kegeologian
Kondisi wilayah Kabupaten Tegal yang terdiri dari pegunungan, dataran tinggi maupun dataran rendah.
Untuk dataran rendah Kabupaten Tegal sepanjang Pantura Pulau Jawa, sedangkan dataran tinggi berada di bagian Selatan Kabupaten Tegal yang didominasi oleh pegunungan yang menghubungkan dengan wilayah lain disekitarnya. Potensi bencana yang timbul akibat morfologi wilayah antara lain banjir didaerah pantura dan tanah longsor terutama untuk kawasan dataran tinggi.
Beberapa wilayah di Kabupaten Tegal yang rawan bencana geologi terdapat di wilayah Kabupaten Tegal bagian Selatan yaitu rawan terhadap bencana alam gunung api akibat aktivitas Gunung Slamet yang ada di wilayah kecamatan Bojong dan Bumijawa. Namun demikian, penanganan kejadian bencana telah dilakukan dengan upaya mitigasi dan sosialisasi kepada warga yang terkena dampak untuk menghindari kerugian jiwa maupun material. Penanganan bencana alam telah dilakukan dengan berkoordinasi dengan instansi terkait baik vertikal maupun instansi di Kabupaten Tegal.
II-119
e. Sumberdaya Air Tanah
Sumber daya air tanah di Kabupaten Tegal sebagian besar berasal dari sumber mata air yang sebagian besar berasal dari sumber air di wilayah Kabupaten Tegal bagian Selatan. Berdasarkan RTRW Kabupaten Tegal 2012-2032, Luas keseluruan mata air yang ada di Kabupaten Tegal mencapai 315 ha yang tersebar di 35 sumber mata air
2.3.2.4. Pariwisata
Gambaran umum kondisi daerah terkait dengan urusan pariwisata salah satunya dapat dilihat dari indikator kinerja sebagai berikut :
a. Kunjungan Wisata
Jumlah obyek wisata yang ada di Kabupaten Tegal sejak tahun 2009-2013 sebanyak 37 obyek. Jumlah kunjungan ke-37 obyek wisata tersebut sebanyak 416.081 orang pada tahun 2013. Jumlah ini menurun bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya (tahun 2008-2012). Hal ini disebabkan makin banyaknya obyek wisata baru di luar Kabupaten Tegal. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.94 di bawah ini.
Tabel 2.94.
Jumlah Kunjungan Wisata di Kabupaten Tegal Tahun 2009 - 2013
No. Uraian 2009 2010 2011 2012 2013
1. Jumlah obyek wisata (obyek)
37 37 37 37 37
2. Jumlah kunjungan wisata (orang)
490.372 442.495 527.516 499.252 416.243
a. Wisatawan Manca Negara 0 52 151 159 162
b. Wisatawan Nusantara 490.372 442.443 527.365 499.193 416.081 3. Rata-rata kunjungan
per obyek wisata (orang)
13.253 11.976 14.263 15.714 11.245 Sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tegal Tahun 2013
b. Kontribusi Sektor Pariwisata terhadap PDRB
Sektor pariwisata merupakan bagian dari sektor jasa-jasa.
Penghitungan kontribusi sektor pariwisata dalam perekonomian merupakan hal yang sulit dilakukan, karena sifat pariwisata yang multi-sektor; dimana dalam kepariwisataan tercakup sektor angkutan, sektor perdagangan, hotel, dan restoran, sektor jasa, sektor
II-120
pertanian (jika merupakan wisata agro), sektor industri pengolahan (terutama suvenir), serta sektor keuangan.
Meskipun demikian, sebagai sektor yang termasuk dalam sektor jasa, maka pendekatan yang dapat dilakukan adalah mengukur kontribusi sektor jasa dalam PDRB.
Pada tahun 2013, kontribusi sektor jasa berdasar harga berlaku adalah 5,99% dan berdasar harga konstan adalah 6,07% seperti dapat dilihat pada Tabel 2.87. Dari kontribusi tersebut, sebagian besar kontribusinya disumbangkan oleh jasa pemerintahan umum. Kebijakan pembangunan yang dilaksanakan idealnya adalah mengurangi keterlibatan pemerintah dalam perekonomian, kecuali untuk pengadaan infrastruktur dan penerapan regulasi. Ketika ekonomi tumbuh dengan normal, intervensi pemerintah sedapat mungkin dikurangi karena akan menjadikan pasar menjadi tidak sempurna. Karena itu, tugas yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Tegal adalah untuk menjadikan jasa pemerintahan umum memiliki daya ungkit yang optimal;
dengan usaha dan dana yang relatif kecil tapi dapat memberikan manfaat yang relatif besar. Sebagaimana Tabel 2.95 di bawah ini.
Tabel 2.95.
Kontribusi Sektor Jasa-jasa Terhadap PDRB Kabupaten Tegal Tahun 2009 -2013
No Uraian
Dalam Jutaan Rupiah
2009 2010 2011 2012 2013
1. Kontribusi Sektor Jasa-Jasa
-ADH Berlaku 441.629,43 483.065,00 531.500,68 589.228,88 657.748,53 -ADH Konstan 214.667,37 221.670,29 231.973,22 245.076,15 257.115,28
2. Jumlah PDRB
-ADH Berlaku 7.129.479,47 7.936.028,74 8.798.459,34 9.802.454,69 10.989.141,94 -ADH Konstan 3.460.131,60 3.627.198,20 3.801.779,47 4.001.204,96 4.233.513,40
Persentase Kontribusi Sektor Jasa terhadap PDRB
3. -ADH Berlaku 6,19 6,09 6,04 6,01 5,99
-ADH Konstan 6,20 6,11 6,10 6,13 6,07
Sumber : BPS Kabupaten Tegal (PDRB Kabupaten Tegal Tahun 2009-2013)