• Tidak ada hasil yang ditemukan

Environment Report (SLHD)

Dalam dokumen State of the Environment Report (Halaman 123-126)

Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Lingkungan dan Pembangunan (the United Nations

Conference on Environment and Development–UNCED)

di Rio de Janeiro, 1992, menghasilkan strategi pengelolaan lingkungan hidup yang dituangkan dalam Agenda 21.

Dalam Agenda 21 Bab 40 disebutkan perlunya kemampuan pemerintahan dalam mengumpulkan dan memanfaatkan data dan informasi multisektoral pada proses pengambilan keputusan untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan. Hal itu menuntut ketersediaan data, keakuratan analisis, serta penyajian informasi lingkungan hidup.

Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pasal 70 UU itu menyatakan masyarakat memiliki hak dan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya berperan aktif dalam erlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Peran masyarakat diwujudkan melalui pengawasan sosial, memberikan saran, pendapat, usul, keberatan, pengaduan, penyampaian informasi dan pelaporan.

Pasal 65 ayat (1) menyatakan setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai bagian dari hak asasi manusia. Dalam pasal 65 ayat (2) disebutkan setiap orang berhak mendapatkan The United Nations Conference on Environment

and Development (UNCED) in Rio de Janeiro, 1992, produced environmental formulated environmental management strategies, which were then set forth in Agenda 21.

Chapter 40 of Agenda 21 states that governments need to have the capacity to collect and use multisectoral data and information in decision-making processes to implement sustainable development. This includes data availability, accuracy of analysis and presentation of environmental information.

This is also in accordance with Law No 32 Year 2009 regarding Environmental Protection and Management. Article 70 of this Law states that communities shall have the equal and broad right and opportunity to participate actively in environmental protection and management. Public participation may be in the form of social control, suggestion, opinion, recommendation, objection, complaint, information and report.

Article 65 paragraph (1) states that everybody shall be entitled to proper and healthy environment as part of human rights, while Article 65 paragraph (2) states that everybody shall be entitled to environmental education, information access, participation access and justice access in fulfilling the right to proper and

Dengan demikian, masyarakat berhak mendapatkan informasi terkait kebijakan lingkungan hidup. Informasi merupakan modal bagi masyarakat untuk memahami dan mengawasi pengelolaan lingkungan, dasar mengambil keputusan terkait lingkungan dan kehidupannya, dan memberikan masukan kepada pemerintah dalam pengelolaan lingkungan.

Pelaporan status lingkungan hidup sebagai sarana penyediaan data dan informasi dapat menjadi alat dalam menilai dan menentukan prioritas masalah, membuat rekomendasi bagi penyusunan kebijakan, perencanaan untuk membantu pemerintah daerah dalam pengelolaan lingkungan hidup, dan menerapkan mandat pembangunan berkelanjutan.

Berkaitan dengan akses informasi kepada publik, telah ditetapkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP). Sebagai badan publik pemerintah wajib menyediakan, memberikan dan/atau menerbitkan informasi yang berkaitan dengan kepentingan publik. Informasi yang wajib disediakan dan diumumkan antara lain informasi yang diumumkan secara berkala, dengan cara yang mudah dijangkau dan dalam bahasa yang mudah dipahami.

Pemerintah daerah telah menyusun Neraca Lingkungan Hidup (NLH) sejak 1982, yang pada 1986 berubah menjadi Neraca Kependudukan dan Lingkungan Hidup Daerah (NKLD). Dan mulai 1994 berubah lagi menjadi Neraca Kualitas Lingkungan Hidup Daerah (NKLD). Sejak 2002, bersamaan dengan penerbitan Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia (SLHI) secara nasional yang dilakukan setiap tahun, diterbitkan pula Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) di setiap provinsi dan kabupaten/kota. Mayoritas provinsi telah membuat SLHD setiap tahun sebagaimana yang terlihat pada gambar 3.9.

Kementerian Lingkungan Hidup melakukan evaluasi Laporan SLHD, sehingga bisa dilihat kualitas data dan informasi yang disajikan. Hal yang dievaluasi: sistematika, ketersediaan data, serta analisisnya. Hal itu akan terlihat kapasitas pemerintah daerah dalam mengelola data dan informasi. Hasil evaluasi tercermin pada table 3.4.

forms the basis for the public to understand and control environmental management, to make decisions concerning their environment and livelihood, and to provide input to the government regarding environmental management.

As a means to provide data and information, environment status reports could become instrumental in assessing and determining priority of problems and making recommendations for policy formulation and planning to assist regional governments in managing the environment and implementing sustainable development as mandated.

To address the issue of public access to information, the government has stipulated Law No. 14/2008 regarding Disclosure of Public Information. As a public entity, the government is required to provide, supply and/or publish information of public interest. Such information must be disclosed regularly in an easily accessible manner using easily understood language.

Regional governments have been preparing Environmental Records (NLH) since 1982. This type of document was replaced by Regional Population and Environmental Records (NKLD) in 1986, which in 1994 eventually became the Regional Environmental Quality Records (NKLD).

Since 2002, parallel to the annual publication of the State of the Environment of Indonesia (SLHI) national report, regional state of the environment reports (SLHD) have been published by province and regency/city governments. Most provinces have been publishing state of the environment reports annually, as shown in Figure 3.9

The Ministry of Environment evaluates the quality of data and information presented in Regional State of the Environment Reports. The evaluation criteria include organization of report, availability of data and quality of analysis. This will indicate the capacity of regional governments to manage data and information. The results of the evaluation are shown in Table 3.4.

Table 3.4 Evaluation Results of 2011 Regional State Of the Environment Reports

Tabel 3.4. Hasil Evaluasi Status Lingkungan Hidup Daerah Tahun 2011

No ProvinceProvinsi RegionalRegion Score Nilai

1 D K I Jakarta D K I Jakarta Jawa 90.95

2 West Sumatra Sumatera Barat Sumatera 90.88

3 East Java Jawa Timur Jawa 90.46

4 Bali Bali Bali NT 88.17

5 North Sumatra Sumatera Utara Sumatera 87.99

6 D I Yogyakarta D I Yogyakarta Jawa 83.86

7 Aceh Aceh Sumatera 82.14

8 North Sulawesi Sulawesi Utara Sumapapua 78.11

9 South Sumatra Sumatera Selatan Sumatera 77.06

10 Central Sulawesi Sulawesi Tengah Sumapapua 74.75

11 Banten Banten Jawa 70.09

12 East Kalimantan Kalimantan Timur Kalimantan 70.05 13 Riau Archipelago Kepulauan Riau Sumatera 69.99 14 South Sulawesi Sulawesi Selatan Sumapapua 69.10

15 West Java Jawa Barat Jawa 68.55

16 Bengkulu Bengkulu Sumatera 64.03

17 Lampung Lampung Sumatera 62.69

18 Jambi Jambi Sumatera 62.56

19 Gorontalo Gorontalo Sumapapua 62.22

20 Central Java Jawa Tengah Jawa 53.74

21 Riau Riau Sumatera 53.60

22 West Kalimantan Kalimantan Barat Kalimantan 50.91 23 West Nusa Tenggara Nusa Tenggara Barat Bali NT 50.56 24 East Nusa Tenggara Nusa Tenggara Timur Bali NT 50.10

25 West Papua Papua Barat Sumapapua 49.45

26 Bangka Belitung BangkaBelitung Sumatera 49.01 27 South-East Sulawesi Sulawesi Tenggara Sumapapua 45.40

28 Papua Papua Sumapapua 9.67

29 Maluku Maluku Sumapapua 6.24

Source: Ministry of Environment, 2012

Gambar 3.9. Jumlah Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Tingkat Provinsi 30 25 20 15 10 5 0 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Source: Ministry of Environment, 2012 Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2012

SUMBERDAYA MANUSIA

Dalam dokumen State of the Environment Report (Halaman 123-126)