KONTEKSTUALISASI REFORMULASI PENDIDIKAN ISLAM
B. Essensi Pendidikan Islam Di Era Transformasi Informasi
Setiap substansi mengandung pengertian esensi, tetapi tidak setiap esensi mengandung pengertian substansi. Substansi dapat ditafsirkan sebagai yang membentuk sesuatu atau yang pada dasarnya merupakan sesuatu. Esensi adalah hakekat barang sesuatu. Essensi dari pendidikan Islam adalah pendidikan tauhid (keimanan) dan pendidikan akhlak atau moral. Untuk mewujudkan hamba Allah dan khalifah fil al ardh32, manusia harus beriman dan berakhlak baik. Manusia yang beriman dan berakhlak mulia dengan berbagai potensinya ia akan dapat menggunakan ilmunya untuk kesejahteraan umat manusia. Dengan demikian pendidikan Islam merupakan sutu proses bertahap dalam membentuk manusia berdasarkan potensi yang dimilikinya agar sesuai dengan maksud penciptaaanya dan eksistensinya. Tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah. Sementara keberadaan manusia di muka bumi adalah untuk mengurus urusan dunia (khalifah fil al ardh).
Kita tidak menginginkan kemajuan sains dan teknologi serta kekayaan pemikiran, tetapi mengalami kemiskinan rohani dan kegersangan batin. Keprihatinan Negara dan masyarakat industri maju seperti eropa dan jepang
31 Ayat kauniyah adalah salah satu ayat Allah atau tanda-tanda kebesaran-Nya, Alam semesta ini menyimpan sejuta ilmu dan rahasia dibaliknya. Tidak akan mengetahui ilmu-ilmu dalam sunnatullah tersebut kecuali dengan cara melakukan penelitian, pengamatan, penemuan dan mengembangkan. Dari penelitian terhadap alam semesta (ciptaan-Nya ini), maka manusia menemukan berbagai ilmu pengetahuan, seperti kimia, biologi, astronomi, sosial, antropologi, giologi, kedokteran, dan lain sebagainya. Semua ilmu itu bersumber dari Allah dan dipergunakan oleh manusia untuk menjalankan tugasnya sebagai kholifatullah dan sebagai Abdullah untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
32 Qamarul Hadi, S., Membangun Insan Seutuhnya, (Al-Ma'arif: Bandung, 1996), h. 67. Tujuan pendidikan Islam merupakan kelanjutan misi besar yang terkadung dalam wahyu ilahi dan sunnah Nabi Muhammad saw. Merujuk pada dua sumber utama itulah, pendidikan Islam harus bersentuhan dengan segala dimensi kehidupan. Tidak hanya seputar pendidikan agama, melainkan juga menyentuh persoalan-persoalan sosial, kultural, ekonomi, politik, dan sebagainya. Pendidikan tidak ingin melahirkan generasi yang berat sebelah. Artinya suatu genarasi yang hanya mementingkan satu dimensi keilmuan, sementara yang lain dipandang tidak penting. Model pendidikan Islam semacam ini justru akan terjebak pada formulasi yang mengarah terjadinya dikhotomi ilmu.
Buyung Syukron Kontekstualisasi Pendidikan Islam…
sudah cukup memberikan pelajaran bagi kita untuk menyongsong tahap industrialisasi masa depan. Al Qur'an berulang kali menyuruh kita melakukan kajian kesejarahan, dengan kata – kata " Siru Fil Ardl " dan " Fanzhuru Kaifa Kana 'Aqibatu….." . hampir semua peradaban yang ditunjuk oleh Al Qur'an sebagai obyek penelitian dan kajian adalah obyek yang mencapai tingkat kemajuan fisik, atau kemajuan keilmuan, namun dalam kehancuran moral keimanan.
Fenomena di atas tentu bukan untuk mematikan dan menghentikan langkah pendidikan Islam dalam upaya merespons konsekwensi dan konsistensi yang muncul dari perkembangan teknologi informasi. Stigma berfikir yang terbangun tentu tidak boleh menjadi stigma yangterbalik, yang melihat bahwa setiap euforia perkembangan -khususnya teknologi informasi- yang terjadi menjadi sesuatu yang belum tentu baik bagi Islam (khususnya pendidikan Islam), bukankah Islam melalui proses pendidikan yang dibangunnya memiliki keluhuran dan kemuliaan tujuan, yang tidak lain adalah menciptakan intelektualitas muslim yang adaptabel terhadap perkembangan zaman, tetapi tetap kokoh menjunjung tinggi keagungan dan kemuliaan Islam itu sendiri.
Dalam konteks di atas, essensi pendidikan Islam sebagaimana yang dikemukakan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas merupakan masalah yang selalu menarik dan penting untuk dikaji, karena penyelenggaraan pendidikan Islam sekarang ini mengalami proses dikotomi, yaitu menerapkan metode dan muatan pendidikan barat dengan menambah beberapa mata pelajaran agama Islam dengan metode dan muatan Islami yang berasal dari zaman klasik yang belum dimodernisasi secara mendasar33. Penyelenggaran pendidikan Islam belum mengacu dan mengantisipasi zaman yang sedang berubah, tetapi hanya menjaga dan melestarikan segala warisan yang bersifat klasik. Pendidikan Islam masih terkonotasi menjadi “cagar budaya” yang hanya berperan merawat dan menjaga tradisi leluhur tanpa berperan melihat sisi prospektifitas yang muncul dalam upaya membangun tradisi pendidikan Islam yang lebih modernis.
Essensi “Pendidikan Islam", sebagaimana dikemukakan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas, bukan dan tidaklah memaksudkan perlengkapan dan peralatan-peralatan fisik atau kuasi-fisik pengajaran seperti buku-buku yang diajarkan ataupun struktur eksternal pendidikan, tetapi adalah apa yang
33 Syed Muhamad,Naquib Al-Attas, Konsep Pendidikan dalam Islam, (Bandung: Mizan, 1987), h. 86. Tesis tersebut di atas tidak berlebihan, karena dibalik kebesaran dan keluasan kapasitas, peran dan fungsi pendidikan Islam itu sendiri, pendidikan Islam belum berani menunjukkan berfikir yang distingtif. Dengan kata lain, pendidikan Islam pada semua jenjang
harus mampu menatap dan “menjejakkan” kiprah dan kontribusinya untuk menunjukkan nalar
kritis dalam menghadapi modernitas zaman. Sekali lagi, penyelenggaran pendidikan Islam bukan
sekedar merawat “cagar budaya” ajaran-ajaran Islam semata, tetapi yang lebih penting menciptakan output yang memiliki daya saing tinggi dihadapan Bangsanya sendiri (internal) dan seluruh Bangsa di dunia (eksternal). Kesemuanya itu dibangun oleh fenomenalisme ilmu pengetahuan yang tidak bisa tidak harus diikuti oleh pendidikan Islam. Oleh karena itu ditinjau dari aspek pengamalannya, pendidikan Islam harus berwatak akomodatif kepada tuntutan
Buyung Syukron Kontekstualisasi Pendidikan Islam…
Proceding Metro International Conference on Islamic Studies (MICIS) STAIN Jurai Siwo Metro
68
menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas sebagai "intelektualisme Islam", dan bagi Syed Muhammad Naquib al-Attas inilah esensi pendidikan Islam. Intelektualisme Islam merupakan pertumbuhan suatu pemikiran Islam yang asli dan memadai, yang harus memberikan kriteria untuk menilai keberhasilan atau kegagalan sebuah sistem pendidikan Islam. Perumusan pemikiran pendidikan Islam haruslah didasarkan kepada metoda penafsiran dan pemahaman yang benar terhadap al-Qur'an, yang berfungsi sebagai petunjuk atau inspirasi bagi seluruh komponen yang berkepentingan terhadap kemajuan pendidikan Islam dan Pendidikan Islam yang berkemajuan, khususnya dalam upaya mengakomodir perkembangan teknologi informasi.
Dari konteks di atas, pada pokoknya seluruh masalah “modernisasi” dalam pendidikan Islam, diupayakan dan dilandasi oleh semangat dalam upaya membuatnya mampu untuk mem-produktsi intelektual-intelektual Islam yang kreatif dalam semua bidang usaha dengan tetap menjaga keterkaitan yang serius kepada Islam. Modernisasi pendidikan Islam bukan pada perlengkapan dan peralatan-peralatan fisik pengajaran seperti buku-buku, tetapi upaya modernisasi lebih pada membangun intelektualisme Islam. Untuk itu, perumusan pendidikan tinggi Islam haruslah didasarkan pada metode penafsiran yang benar terhadap al-Qur‟an, karena al- Qur‟an harus ditempatkan sebagai titik intelektualisme Islam. Pemahaman yang benar dan mendalam terhadap al-Qur‟an yang berfungsi sebagai petunjuk dan inspirasi bagi generasi muda Islam. Dengan kata lain, al-Qur‟an bukanlah Kitab Suci yang hanya dipandang sebagai sebuah Kitab dari dimensi teks semata, tetapi juga harus dilihat dari aspek kontekstual, yang memberikan kesempatan, ruang, gerak, bagi pendidikan Islam untuk berimprovisasi dalam turut membangun dan membuktikan keterlibatannya dalam pembangunan peradaban yang berbasis teknologi, khususnya informasi.
Dari apa yang diuraikan di atas, terlihat bahwa essensi pendidikan Islam dibangun atas beberapa konsep sebagaimana gambar berikut.
Melihat gambar di atas, maka uraian singkat yang dapat kita lihat adalah: (1) Perumusan pemikiran konsep pendidikan tinggi Islam yang hendak
SPIRITUAL INTELEKTUAL MORAL PARADIGMA KEUNGGULAN KAJIAN FILOSOFIS SOCIAL SCIENCE TEKNOLOGI INFORMASI KURIKULUM YANG TERBUKA
Buyung Syukron Kontekstualisasi Pendidikan Islam…
dikembangkan haruslah dibangun di atas sebuah paradigma yang kokoh spritual, unggul secara intelektual, dan agung secara moral dengan al-Qur'an sebagai acuan yang pertama dan utama. Paradigma model inilah, orang boleh berharap bahwa peradaban yang akan datang tidak berubah menjadi kebiadaban yang liar dan brutal. (2) Tawaran kurikulum yang sifatnya terbuka bagi kajian-kajian filsafat, sain-sain sosial, dan Teknologi informasi. Pendidikan Islam harus sudah dan selayaknya membangun paradigma orientaso yang menekankan peranan filsafat sebagai kegiatan kritis analtis dalam melahirkan gagasan-gagasan yang bebas. Dalam hal ini filsafat berfungsi menyediakan alat-alat intelektual bagi teologi dalam menjalankan tugasnya "mem-bangun suatu pandangan dunia berdasarkan al-Qur'an" dan memandang bahwa penting dan menjadi sebuah keniscayaan untuk melibatkan sains-sains sosial dan Teknologi Informasi dalam disain pendidikan tinggi Islam ke depannya.
Kitatidak boleh lagi melabelisasiapalagi memberi sekat-sekat pendididkan Islam padasebuah konotasi yang hanya dibatasi dan dimaknai pada pendidikan agama Islam semata. Pendidikan Islam tidak hanya terbatas pada ruang lingkup yang hanya berbicara tentangtauhid, fiqih, tarikh Nabi, membaca alquran, tafsir, hadist, dan lain-lain.Tetapi paradigma PendidikanIslam harus mampu memberikan warna dan orientasi yang lebih mendunia yang terbangun secara komprehensif dan terintegratif. Termasuk membangun sekaligus memiliki “arkeologi”34 pemikiran sendiri dengan modifikasi gaya pendidikan yang lebih konstruktif dengan mengakomodir perkembangan transformasi informasi yang terjadi, yang pada akhirnya mampu memberikan kesadaran dan kontribusi nyata.
Perkembangan Informasi harus dijadikan sebagai sebuah momentum penting bagi Pendidikan Islam untuk bisa memaksimalkan peran dan fungsinya dalam upaya berkontribusidari aspek pemikiran dan tindakan terhadap berbagai fakta dan problem yang dihadapi Bangsa dan dunia saat ini.Inilah jawaban atas tantangan sekaligus harapan atas sebuah perubahan stigma dan pemikiran terhadap essensi pendidikan Islam yang sebenarnya diinginkan saat ini.