• Tidak ada hasil yang ditemukan

96islam era kontemporer 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "96islam era kontemporer 1"

Copied!
105
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Proceding

Islam dan Pendidikan di Era Kontemporer

Metro International Conference on Islamic

Studies (MICIS)

(3)

Program Pascasarjana

STAIN Jurai Siwo Metro Lampung

Jl. Ki Hajar Dewantara 15 A Kampus Kota Metro Lampung

Telp. 0725-41507, fax 0725-47296

Email : [email protected]

Website : http://www.stainmetro.ac.id

Proceding

Islam dan Pendidikan di Era Kontemporer

Metro International Conference on Islamic Studies (MICIS)

Penanggungjawab

Dr. Ida Umami, M.Pd.Kons

Editor

Dharma Setyawan, MA

ISBN :

(4)

Islam dan Pendidikan

Perubahan masyarakat dewasa ini terasa begitu sangat cepat dan tidak terelakkan lagi. Perubahan yang terjadi dalam masyarakat sudah tentu sangat berpengaruh pada aspek-aspek kehidupan yang lain termasuk di dalam aspek atau bidang pendidikan. Ahli-ahli pendidikan sangat sadar bahwa proses pendidikan tidak berlangsung di ruang kosong dan terisolasi, melainkan di tengah-tengah hiruk pikuk masyarakat yang berubah cepat. Ini artinya, apa yang terjadi dalam masyarakat cepat atau lambat hal itu akan berpengaruh secara signifikan terhadap bidang pendidikan. Bidang pendidikan itu sendiri cakupannya sangat luas, di dalamnya tercakup pula pendidikan agama, yang dimaksudkan untuk mengembangkan potensi religiusitas dan moralitas manusia atau peserta didik. Di era multikulturalisme seperti sekarang ini, pendidikan agama benar-benar dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan, antara lain dengan issu multikulturalisme, pandangan suatu agama terhadap keyakinan atau nilai-nilai yang berbeda tidak boleh hanya dari perspektif tunggal yakni dari pandangan agama yang bersangkutan saja, melainkan juga harus mampu mengakomodasi pandangan yang berbeda. Pandangan yang berperspektif tunggal tersebut tidak sejalan dengan semangat multikultural.

Pendidikan adalah fenomena kemanusiaan yang bersifat universal. Artinya,, di mana ada manusia di sana ada pendidikan. Dalam kenyataannya, manusia sangat membutuhkan pendidikan untuk mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya, baik potensi individualitas, sosialitas, moralitas maupun religiusitasnya. Dalam konteks inilah pendidikan agama menjadi sangat relevan, yakni pendidikan yang dimaksudkan untuk mengembangkan potensi religiusitas dan moralitas manusia (peserta didik).

Manusia meskipun telah dianugerahi berbagai kemampuan oleh sang penciptanya, baik kemampuan inderawi, mupun akalinya, ternyata masih membutuhkan bimbingan dari agama. Hal ini menunjukkan bahwa manusia memiliki keterbatasan-keterbatasan dalam memahami fenomena alam maupun dalam menghadapi kehidupannya, lebih-lebih kehidupan setelah kematian. Sebagai manusia yang beriman tentu sangat membutuhkan informasi dari ajaran agamanya sekaligus membutuhkan bimbingan dari Tuhan agar tidak tersesat baik di dunia maupun di akhirat kelak.

(5)

agama selalu bersumber pada wahyu yang berisikan petunjuk-petunjuk Tuhan atau wangsit (dalam agama-agama primitif dan lokal).

Agama bagi para penganutnya berisikan ajaran-ajaran tentang kebenaran tertinggi dan mutlak, tentang eksistensi manusia dan petunjuk-petunjuk untuk hidup selamat baik di dunia maupun di akhirat, yaitu sebagai manusia yang bertaqwa kepada Tuhannya, beradab, dan manusiawi, yang berbeda dari cara-cara hidup hewan atau makhluk-makhluk gaib yang jahat dan berdosa seperti setan dsb. Pada setiap agama memuat sistem keyakinan (aqidah), sistem peribadatan (syariah) dan sistem nilai baik buruk (akhlaq). Ini artinya, pada setiap agama ada keyakinan-keyakinan yang khas yang tidak dimiliki oleh keyakinan agama lain. Juga, sistem peribadatannya berbeda antara agama satu dengan agama lainnya. Akhirnya, sistem nilai baik buruk (ajaran moral/akhlak) dari masing-masing agama juga tidak sama. Dan inilah yang menjadikan penganut suatu agama terkesan eksklusif. Eksklusivisme dalam beragama akhir-akhir ini mendapat tantangan dengan munculnya issu pluralisme dan multikulturalisme.

Sebegitu pentingnya Islam memandang Pendidikan, maka beberapa tulisan

dalam Proceeding ini mengulas mengenai Islam dan Pendidikan lewat sudut

pandang dari berbagai penulis. Semoga bermanfaat, selamat membaca.[N]

Metro, Desember 2016

(6)

Daftar isi

MODEL ASSESMENT HASIL BELAJAR DENGAN TEORI RESPONSI BUTIR

Esty Apridasari 1-9

MEMBUMIKAN CHARACTER BUILDING MELALUI NILAI KEISLAMAN DALAM KONTEKS PENDIDIKAN DI INDONESIA

Syaripudin Basyar 10-19

PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA UPAYA PENDEKATAN MULTI RELIGIUS DALAM PENEGAKAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI)

Juhri AM 20-28

INTRUCTIONAL SUPERVISION MODEL AN ATTEMPT TO INCREASE THE TEACHER’S PROFESSIONALISM

Adolf Bastian 29-38

IMPLIKASI PENDIDIKAN INKLUSIF TERHADAP PENDIDIKAN DI LPTK DAN PELAYANAN KONSELING

Ida Umami 39-50

PERAN PENDIDIKAN AGAMA DI ERA MULTIKULTURALISME PADA LEMBAGA PENDIDIKAN FORMAL

Ali Mashari 51-58

K O N T E K S T U A L I S A S I P E N D I D I K A N I S L A M : REFORMULASI ESSENSI DAN URGENSITAS PENDIDIKAN ISLAM DALAM ERATRANSFORMASI INFORMASI

Buyung Syukron 59-79

MEMBANGUN MANAJEMEN MUTU DENGAN PRINSIP SIX SGIMA PADA LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM DI ERA GLOBAL

(7)
(8)

MODEL ASSESMENT HASIL BELAJAR DENGAN TEORI RESPONSI BUTIR

Esty Apridasari

STAIN Jurai Siwo Metro Lampung

Abstract

There are two model test used to measure the students learning outcome, that is classic test theory and item response theory. At classic test theory result of test have the character of locally, consequently discrepancy occurs meaning at gained at the place of the other. The difference is possible because nature of classic test theory which depend on ability of test participant group. To overcome weakness of classic test theory is modern test theory or item response theory (IRT). This theory try to eliminate depended measuring instrument ably test participant group. Grains test the high unchanged and keep the high worked out by whoever. Item response theory to give result of better because problem item there no is irrespective of ability of test participant as happened at classic test theory.

A.Pendahuluan

Kualitas pendidikan tidak dapat dilepaskan dari prosedur evaluasi pendidikan. Untuk memperbaiki kualitas pendidikan perlu diciptakan sistem evaluasi yang lebih baik. Sistem evaluasi (kegiatan pengukuran/pengujian, penilaian hingga kegiatan evaluasi) ini, selain prosedurnya yang harus sistematis, pelaksanaannyapun harus memiliki akuntabilitas yang tinggi, serta hasilnya diharapkan mendapatkan pengakuan dari stakeholders pendidikan.

Kumaidi (2004) mengungkapkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan memerlukan perbaikan proses pembelajaran di sekolah dengan menerapkan cara kerja sistematis yang salah satunya dapat dimulai dari pembenahan sistem penilaian (asesment). Pendapat ini bermakna bahwa untuk memperbaiki sistem pembelajaran di sekolah, diperlukan sejumlah informasi dari hasil kegiatan asesmen yang dilakukan secara sistematis dan profesional oleh guru, sekolah, maupun institusi pendidikan.

(9)

Edi Kusnadi Model Assesment Hasil…

Proceding Metro International Conference on Islamic Studies (MICIS) STAIN Jurai Siwo Metro

2

Di beberapa negara, mekanisme dan prosedur penilaian pendidikan telah ditata sedemikian rupa dengan menggunakan instrument baku. Bahkan mekanisme dan prosedur pengujiannya pun sudah memanfaatkan sistem teknologi informasi (Chew Lee Chin, 1998). Pusat pengujian nasional, pengujian regional, maupun pelayanan-pelayanan pengujian di beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Inggris, telah lama menggunakan komputer sebagai cara menerapkan mekanisme dan prosedur pengujian (Patty Farah, 2001).

Di Indonesia telah ditetapkan Undang-undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang mengamanatkan kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu pada standar isi (SI) dan standar kompetensi lulusan (SKL). Kegiatan penyelenggaraan pendidikan yang mengikuti SI dan SKL pada kurikulum tingkat satuan pendidikan adalah penilaian (assessment). Pada pasal 57 ayat 2 Undang-undang Sisdiknas menyatakan bahwa “Evaluasi (penilaian) dilakukan terhadap peserta didik, lembaga dan program pendidikan jalur formal dan nonformal untuk semua jenjang, satuan dan jenis pendidikan”.

Pembelajaran di sekolah merupakan aplikasi pelaksanaan kurikulum dalam mencapai tujuan pendidikan, yaitu terjadinya perubahan perilaku peserta didik ke arah positif. Guna mengetahui tercapai tidaknya suatu tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum, maka dalam kegiatan pembelajaran diperlukan suatu alat ukur. Dalam pembelajaran alat ukur berfungsi sebagai alat untuk membantu mengungkapkan kemampuan-kemampuan laten yang berada dalam diri peserta didik. Hasil pengukuran merupakan input yang memberikan gambaran mengenai kemampuan peserta didik dan berfungsi sebagai indikator keberhasilan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Mengukur hasil belajar dengan tes berbeda dengan yang nontes. S. Eko Putro Widoyoko (2011) mengemukkan bahwa mengukur hasil belajar lebih sulit dan memakan waktu dibandingkan dengan mengukur reaksi.

(10)

Edi Kusnadi Model Assesment Hasil…

Penggunaan bentuk tes objektif pilihan ganda hampir dilakukan di semua mata pelajaran dan di semua jenjang pendidikan dari tingkat pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Perbedaan penggunaan jenis tes objektif pada setiap jenjang pendidikan terletak pada perbedaan kompleksitas bentuk pilihan ganda serta jumlah pilihan jawaban atau butir soal yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Pemilihan jumlah pilihan jawaban dan kompleksitas pertanyaan dalam butir tes tentunya disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik yang tercermin pada masing-masing jenjang pendidikan. Demikian juga dalam penyusunan butir tes pada alat tes, harus ada kecocokan antara kemampuan peserta didik dengan alat ukur yang digunakan serta tahap perkembangan kognitif agar diperoleh gambaran kemampuan yang sebenarnya. Sementara itu, dalam evaluasi dan penilaian hasil pembelajaran ada dua jenis model ujian yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan peserta didik dalam pembelajaran, yaitu teori ujian klasik dan teori responsi butir.

B. Model Sekor Murni: Teori Ujian Klasik

Teori ujian klasik (classical test theory) merupakan suatu teori penyusunan perangkat ukur yang butir tesnya dianalisis dengan teknik penyusunan tes yang pada umumnya sama dengan yang dilakukan oleh guru ketika membuat tes. Teori ujian klasik ini disebut juga dengan model sekor murni (true score model), karena dasar analisis menggunakan sekor murni. Perhitungan yang digunakan untuk pengujian persyaratan dan analisis butir tes pada teori ujian klasik berdasarkan sekor yang diperoleh dari responden dalam menjawab benar semua butir tes dengan menggunakan teknik statistika tertentu dan tidak berdasarkan model grafik.

Pada teori ujian klasik hasil pengukuran berupa data kuantitatif yaitu sekor yang diperoleh peserta tes dinamakan dengan sekor amatan, dan dilambangkan dengan huruf A. Sekor amatan terdiri dari sekor murni dilambangkan dengan huruf M dan sekor keliru dilambangkan dengan huruf K. Secara sederhana struktur sekor amatan dapat dibuat suatu formula sebagai berikut: A = M + K (dimana: A = sekor amatan; M = sekor murni atau tulen; K = sekor keliru). (Budi Susetyo, 2011).

(11)

Edi Kusnadi Model Assesment Hasil…

Proceding Metro International Conference on Islamic Studies (MICIS) STAIN Jurai Siwo Metro

4

peserta tes sendiri. Sekor keliru ini hasilnya selalu berubah-ubah dan sulit untuk diketahui dalam prakteknya.

Sekor ujian yang diperoleh dari perangkat tes pada teori ujian klasik ditemukan jawaban benar dan jawaban salah pada setiap butir dalam suatu ujian. Gabungan sekor jawaban benar dan jawaban salah dinamakan dengan sekor komposit. Sekor komposit ini dapat terjadi pada sekor responden atau amatan dan sekor pada butir tes. Besarnya sekor responden tergantung dari jumlah butir, dan sekor butir akan tergantung dari jumlah responden. Oleh karena itu, ciri butir tergantung pada kelompok responden, jika kelompok responden berubah mengakibatkan nilai ciri butir juga berubah, demikian sebaliknya. Dengan kata lain, nilai keberhasilan responden akan tergantung dari kelompok butir yang ada dalam perangkat tes dan taraf kesukaran butir akan tergantung pada kelompok responden. Hal ini mengakibatkan tidak dapat membahas ukuran kesukaran butir tanpa harus menyebutkan kelompok respondennya.

Sekor pada teori ujian ini, perangkat tes dengan yang dikembangkan ada keterkaitan antara keadaan butir tes dengan kemampuan responden yang tidak terpisahkan. Bila dilihat dari hasil tes, butir mudah diberikan kepada kelompok kemampuannya rendah, maka diperoleh sekor tinggi. Butir yang sukar diberikan pada kelompok yang kemampuannya tinggi, maka diperoleh sekor tinggi. Dari hasil pada kelompok yang beda yaitu kelompok tinggi dan kelompok rendah, maka kemampuan tampak tidak berbeda dalam sekor, yaitu keduanya sama-sama tinggi. Inilah kelemahan utama dalam teori ujian klasik adalah perangkat tes yang disusun terikat pada kemampuan atau ability kelompok responden dengan tingkat kesukaran butir.

Selain ketergantungan antara butir tes dengan kemampuan responden masih ada kelemahan yang lain yaitu tidak dapat mengukur kemampuan responden yang sesungguhnya. Beberapa kelemahan teori ujian klasik menurut Dali S. Naga (1992) adalah: (1) Statistik butir tes sangat tergantung pada subjek yang diuji; (2) Taksiran kemampuan peserta tes sangat tergantung pada butir tes yang diujikan; (3) Kesalahan baku penaksiran sekor baku untuk semua peserta tes, sehingga kesalahan baku pengukuran bagi setiapo peserta tes dan butir tes tidak ada; (4) Informasi yang disajikan terbatas pada menjawab benar/salah, tidak memperhatikan pada jawaban peserta tes; (5) Asumsi tes paralel sulit dipenuhi. Berdasarkan kelemahan ini, maka teori ujian klasik tidak dapat digunakan untuk melakukan pencocokan kemampuan responden dengan tingkat kesukaran butir karena keduanya dependen.

C.Teori Responsi Butir: Model Assesmen Pembelajaran Modern

(12)

Edi Kusnadi Model Assesment Hasil…

mengatasi kelemahan yang terjadi pada teori ujian klasik. Perhitungan pada teori ujian klasik mengaitkan tingkat kesukaran dengan kemampuan kelompok responden (peserta tes) secara langsung. Sedangkan analisis pada teori responsi butir, tingkat kesukaran butir tidak dikaitkan langsung dengan kemampuan responden, tetapi tingkat kesukaran butir dikaitkan langsung dengan karakteristik butir. Tingkat kesukaran butir pada teori ujian modern diberi simbul b, maka tingkat kesukaran suatu butir tes terletak pada;

P(θ) = Pmin + 0,5 (Pmin– Pmin) P(θ) = Pmin + 0,5 (1 - Pmin)

Teori responsi butir memiliki karakteristik butir, yaitu perlu menentukan model karakteristik butir yang digunakan dalam melakukan analisis terhadap perangkat tes yang disusun. Model karakteristik butir atau lengkungan responsi butir dapat berbentuk satu parameter (1P), dua parameter (2P), tiga parameter (3P) atau model lain. Berdasarkan ciri parameter butirnya, terdiri dari tingkat kesukaran (b), daya beda (a), dan tebakan (c), maka model logistik terbagi tiga macam, yaitu:

1. L1P : P(θ) = f(b,θ), model ini hanya memiliki satu parameter butir yaitu tingkat kesukaran.

2. L2P : P(θ) = f(a, b, θ), model ini hanya memiliki satu parameter butir yaitu tingkat kesukaran dan daya beda.

3. L3P : P(θ) = f(a, b, c, θ), model ini hanya memiliki satu parameter butir yaitu tingkat kesukaran, daya beda dan tebakan.

Angka yang menunjukkan bilangan satu, dua, dan tiga menunjukkan banyaknya parameter butir yang digunakan dalam melakukan analisis tes. Sedangkan parameter yang terdapat pada teori responsi butir ada dua, yaitu parameter kemampuan disebut juga theta (θ) dan parameter butir terdiri dari dan dua parameter akan memiliki tingkat kesukaran yang sama besarnya dengan kemampuan responden (b = θ), ketika peluang menjawab benar suatu butir tes terjadi pada P(θ) = 0,5. Sedangkan model tiga parameter yang terdiri dari tingkat kesukaran, daya beda, dan tebakan akan memiliki tingkat kesukaran sama besarnya dengan kemampuan responden (b = θ) ketika P(θ) = 0,5 (1+c).

(13)

Edi Kusnadi Model Assesment Hasil…

Proceding Metro International Conference on Islamic Studies (MICIS) STAIN Jurai Siwo Metro

6

Teori responsi butir memiliki empat persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu: (1) Model logistiik; (b) Unidimensi (c) Invariansi kelompok; (d) Independensi lokal. Pemeriksanaan model logistik dimaksudkan untuk melihat kecocokan data empiris pada setiap butir tes dengan model logistik. Teknik

analisis yang digunakan untuk melihat kecocokan adalah Х2, dengan

membandingkan parameter butir dengan kriteria pada table Х2 atau

menggunakan scatterplot atau grafik model logistik. Unidimensi merupakan persyaratan variable yang diukur dengan perangkat tes yang dibuat hanya satu dimensi. Pemeriksaan dilakukan untuk menentukan apakah tes tersebut mengukur dimensi faktor kemampuan peserta tes dalam bidang tertentu. Invariansi kelompok mengartikan bahwa karakteristik butir adalah sama (invarian) untuk semua subkelompok atau homogen jika semua responden di dalam subkelompok itu memiliki kemampuan yang sama. Independensi lokal, menghendaki, pada lokasi yang sama dengan kemampuan responden yang sama, maka probabilitas menjawab benar P(θ) untuk butir berbeda adalah independen satu butir tes terhadap butir tes yang lainnya.

D.Fungsi Informasi Butir dalam Analisis Butir

Pada teori klasik analisis butir terbagi menjadi tingkat kesukaran, daya beda, pengecoh atau distraktor. Pada teori responsi butir analisis butir terbagi menjadi tingkat kesukaran, daya beda, dan tebakan yang ketiganya dinamakan dengan parameter butir. Istilah analisis butir dalam teori responsi butir dinamakan fungsi informasi butir. Frank Baker (2001) mendefinisikan fungsi informasi berkaitan secara timbal balik dengan ketepatan suatu parameter yang diukur. Secara statistik, ketepatan suatu parameter diukur dengan variable sekitar nilai parameter. Charles Hulin L., dkk., (1993) fungsi informasi butir berbanding terbalik dengan variansi kekeliruan pada estimasi parameter. Budi Susetyo (2011) menjelaskan bahwa fungsi informasi pada teori responsi butir merupakan perbandingan terbalik dengan ketidakpastian. Semakin tinggi ketidakpastian maka semakin rendah nilai fungsi informasi, sebaliknya semakin rendah ketidakpastian maka makin tinggi fungsi informasi. Menurut Dali S. Naga (1992), fungsi informasi merupakan perbandingan terbalik dengan variansi kekeliruan asimtotik, dan dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Ii(θ,X) = 1

� � �() (

� �(�)

�() ) 2

Dimana:

Ii(θ,X) = fungsi informasi butir ke-i untuk pensekoran X Pi(θ) = peluang menjawab butir tes dengan benar Qi(θ) = peluang menjawab butir tes dengan salah

(14)

Edi Kusnadi Model Assesment Hasil…

dikuadratkan dan dapat juga menunjukkan penyebaran nilai. Semakin besar nilai variansi semakin besar bentangan nilai, yang berarti semakin rendah nilai fungsi informasi. Apabila kekeliruan baku terjadi pada butir, maka semakin besar bentangan nilai kekeliruan baku pada butir berarti semakin kecil nilai fungsi informasi butir. Dengan demikian dapat diartikan ada kekurang-cocokan antara parameter kemampuan dengan parameter butir, karena nilai fungsi informasi butirnya rendah. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi besar kecilnya nilai kesalahan baku menurut Ronald K (1985), yaitu jumlah atau banyaknya butir tes, kualitas butir dalam tes, kecocokan antara tingkat kesukaran dengan kemampuan peserta tes.

Nilai fungsi informasi suatu butir rendah menunjukkan bahwa estimasi terhadap kemampuan peserta tes menjauhi nilai estimasi kemampuan peserta yang sebenarnya. Sebaliknya nilai fungsi informasi butir tes tinggi menunjukkan adanya kedekatan antara tingkat kesukaran dengan kemampuan peserta sebenarnya. Tingkat kesukaran butir tes yang semakin tinggi, maka semakin kecil pula probabilitas atau peluang butir tes dijawab benar oleh peserta tes. Adanya kecocokan antara tingkat kesukaran dengan kemampuan peserta memberikan nilai fungsi informasi butir yang tinggi.

E. Standar Asesmen Pembelajaran

Jenis asesmen yang dapat dipergunakan untuk menilai peserta didik dalam proses pembelajaran, yaitu Penilaian Berbasis Kelas (classroom based evaluation). Penilaian berbasis kelas, yakni penilaian yang dilaksanakan secara terpadu dengan kegiatan pembelajaran (pelatihan). Penilaian berbasis kelas ini terdiri atas dua kategori yaitu formatif dan sumatif.

Assesmen pembelajaran yang dilakukan berkenaan dengan pendidikan formal harus memenuhi standar tertentu, agar hasil penilaian dapat mengungkap kemampuan peserta didik yang sesungguhnya. Menurut Joint Committee on Standards for Educational Evaluation (1981), ada beberapa standar asesmen atau penilaian yang perlu diperhatikan.

1. Standar Kegunaan (utility standards)

Standar utilitas untuk menjamin bahwa suatu penilaian yang dilakukan memberikan informasi praktis yang dibutuhkan peserta didik. Beberapa aspek yang harus diperhatikan agar informasi hasil penilaian yang diperoleh dapat menjadi informatif, tepat dan mempunyai pengaruh meliputi: (1) Identifikasi peserta didik, (2) Kredibilitas evaluator, (3) Pemilihan dan ruang lingkup informasi, (4) Interpretasi penilaian, (5) Kejelasan laporan, (6) Diseminasi laporan, dan (7) Dampak evaluasi.

(15)

Edi Kusnadi Model Assesment Hasil…

Proceding Metro International Conference on Islamic Studies (MICIS) STAIN Jurai Siwo Metro

8

Standar fisibility merujuk kepada pengertian bahwa dalam melakukan penilaian harus mengacu kepada prosedur yang mempermudah pelaksanaan, yakni praktis, realistis, diplomatis, dan efektif-efisien dalam pembiayaan dan mampu mengantisipasi posisi-poisisi yang berbeda dari kelompok kepentingan yang bervariasi. 3. Standar Kesopanan (propriety standars)

Penilaian harus dilakukan secara legal dan etis, karena menyangkut hak atas peserta didik yang dinilai dan harus dihargai sebagai individu yang mempunyai privasi.

4. Standar Akurasi (accuracy standars)

Informasi yang diperoleh berdasarkan hasil penilaian suatu lembaga atau guru, secara teknis harus tepat (adequate) dan kesimpulan yang diambil harus terkait secara logis dengan data yang diperoleh di lapangan.

F. Simpulan

Ada dua model ujian yang dapat digunakan untuk mengukur hasil pembelajaran peserta didik, yaitu teori ujian klasik dan teori responsi butir. Teori ujian klasik butir-butir tes dibuat oleh guru atau dosen. Oleh karenanya, hasil ujian umumnya bersifat lokal, akibatnya terjadi perbedaan makna terhadap suatu sekor yang diperoleh pada suatu tempat dengan tempat lainnya. Hasil tes dengan teori ujian klasik pada satu rombongan belajar akan berbeda dengan rombongan belajar pada kelompok yang lain. Perbedaan ini dimungkinkan karena sifat teori ujian klasik yang tergantung pada kemampuan kelompok peserta tes.

Cara lain untuk mengatasi kelemahan teori ujian klasik adalah teori ujian modern atau teori responsi butir (item response theory). Teori responsi butir berusaha menghilangkan ketergantungan alat ukur dengan kemampuan kelompok peserta tes. Butir tes yang memiliki tingkat kesukaran tinggi tidak berubah (invariant) dan tetap tinggi dikerjakan oleh siapapun. Demikian pula sebaliknya, butir tes yang tingkat kesukaran rendah tetap mempunyai tingkat kesukaran rendah dikerjakan oleh mereka berkemampuan tinggi atau rendah. Teori responsi butir memberikan hasil yang lebih baik karena butir soal tidak ada ketergantungan dengan kemampuan peserta tes sebagaimana terjadi pada teori ujian klasik.

Daftar Pustaka

Budi Susetyo, 2011. Menyusun Tes Hasil Belajar. Bandung: Cakra.

Charles Hulin L., dkk. 1993. Item Response Theory: Aplication to Psychological Measurement. Illionis: Dow Jones Irwin.

(16)

Edi Kusnadi Model Assesment Hasil…

Dali S. Naga, 1992. Pengantar Teori Sekor pada Pengukuran Pendidikan. Jakarta: Gunadarma

Djemari Mardapi, 1999. Penyusunan Tes Hasil Belajar. Yogyakarta: Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

Frank Baker, 2001. The Basic of Response Theory. Illionis: State University Service.

S. Eko Putro Widoyoko, 2011. Evaluasi Program Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Joint Committee on Standards for Educational Evaluation, 1981. Standars for Evaluation of Educational Programs, Projects, and Materials. New York: Mcgraw-Hill Book Company

Kumaidi, 2004. Sistem assesmen untuk menunjang kualitas pembelajaran. Jurnal Pembelajaran, Volume 27 No. 02.

Patty Farah, 2001. Computer based analysis of oral presentation assesement for item banking. Research Report. (http://www.whps.org.pdf.)

(17)

MEMBUMIKAN CHARACTER BUILDING MELALUI NILAI KEISLAMAN DALAM KONTEKS PENDIDIKAN DI INDONESIA

Syaripudin Basyar

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jurai Siwo Metro

Abstrak

Artikel ini membahas pentingnya nilai-nilai akhlak bagi pengembangan karakter anak didik di lembaga-lembaga pendidikan dasar dan menengah. Akhlak dalam pengertian sehari-hari sama dengan budi pekerti, kesusilaan, sopan santun, tata krama, atau moral serta etika. Dalam bahasa agama akhlak diartikan sebagai suatu keadaan jiwa yang menyebabkan timbulnya perbuatan tanpa melalui pertimbangan dan pemikiran secara mendalam. Apabila kebiasaan menghasilkan perbuatan baik disebut akhlak al-karimah, bila menghasilkan perbuatan buruk disebut akhlak madzmumah Pendidikan akhlak sarat denegan inspirasi kriteria ideal dan makna karakter yang baik yang sangat dibutuhkan bagi penyelenggaraan pendidikan karakter lewat mana nilai-nilai spiritualitas menjadi entri point yang penting.

Kata Kunci: Character Building, Pendidikan Islam

A.Latar Belakang

Penguatan pendidikan karakter dalam konteks sekarang sangat diperlukan untuk mengatasi krisis moral yang sedang terjadi di negara .Diakui atau tidak diakui saat ini terjadi krisis yang nyata dan perlu diawatirkan dalam masyarakat dengan melibatkan milik kita yang paling berharga, yaitu anak-anak. Krisis itu antara lain berupa meningkatnya pergaulan seks bebas, maraknya angka kekerasan, krisis kesantunan, kebiasaan menyontek, dan penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, perkosaan, perampasan, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas. Perilaku remaja kita juga diwarnai dengan gemar menyontek, kebiasaan bullying di sekolah, dan tawuran. Akibat yang ditimbulkan cukup serius dan tidak dapat lagi dianggap sebagai suatu persoalan sederhana karena tindakan ini telah menjurus kepada tindakan kriminal. Perilaku orang dewasa juga setali tiga uang, senang dengan konflik dan kekerasan atau tawuran, perilaku korupsi yang merajalela, dan perselingkuhan.

(18)

Syaripudin Basyar Membumikan Character Building…

Pendidikan formal di sekolah, bisa jadi salah satu penyebabnya karena pendidikan di Indonesia lebih menitikberatkan pada pengembangan intelektual atau kognitif semata, sedangkan aspek soft skils atau nonakademik sebagai unsur utama pendidikan karakter belum diperhatikan secara optimal bahkan cenderung diabaikan. Saat ini, ada kecenderungan bahwa target-target akademik masih menjadi tujuan utama dari hasil pendidikan, seperti halnya Ujian Nasional (UN), sehingga proses pendidikan karakter masih sulit dilakukan.

Praktik pendidikan yang semestinya memperkuat aspek karakter atau nilai-nilai kebaikan sejauh ini hanya mampu menghasilkan berbagai sikap dan perilaku manusia yang nyata-nyata malah bertolak belakang dengan apa yang diajarkan. Dicontohkan bagaimana pendidikan Moral Pancasila (PMP) dan agama pada masa lalu merupakan dua jenis mata pelajaran tata nilai, yang ternyata tidak berhasil menanamkan sejumlah nilai moral dan humanisme ke da-lam pusat kesadaran siswa. Materi yang diajarkan oleh pendidikan agama termasuk di dalamnya bahan ajar akhlak, cenderung terfokus pada pengayaan pengetahuan (kognitif), sedangkan pembentukan sikap (afektif), dan pembiasaan (psikomotorik) sangat minim. Pembelajaran pendidikan agama lebih didominasi oleh transfer ilmu pengetahuan agama dan lebih banyak bersifat hafalan tekstual, sehingga kurang menyentuh aspek sosial mengenai ajaran hidup yang toleran dalam bermasyarakat dan berbangsa.

Dengan kata lain, aspek-aspek lain yang ada dalam diri siswa, yaitu aspek afektif dan kebajikan moral kurang mendapatkan perhatian. Koesoema menegaskan bahwa persoalan komitmen dalam menginte- grasikan pendidikan dan pembentukan karakter merupakan titik lemah kebijakan pendidikan nasional.

Atas kondisi demikian, semua orang sepakat mengatasi persoalan kemerosotan dalam dimensi karakter ini. Para pembuat kebijakan, dokter, pemuka agama, pengusaha, pendidik, orang tua, dan masyarakat umum, semua menyuarakan kekhawatiran yang sama.

B. Pembahasan

Kata karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” (menandai) dan memfokuskan, bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. Oleh sebab itu, seseorang yang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus dikatakan sebagai orang yang berkarakter jelek, sementara orang yang berperilaku jujur, suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia. Jadi istilah karakter erat kaitannya dengan personality (kepribadian) seseorang. Seseorang bisa disebut orang yang berkarakter (a person of character) apabila perilakunya sesuai dengan kaidah moral.

(19)

Syaripudin Basyar Membumikan Character Building…

Proceding Metro International Conference on Islamic Studies (MICIS) STAIN Jurai Siwo Metro

12

Pandangan pro dan kontra mewarnai diskursus pendidikan karakter sejak lama. Sejatinya, pendidikan karakter merupakan bagian esensial yang menjadi tugas sekolah, tetapi selama ini kurang perhatian. Akibat minimnya perhatian terhadap pendidikan karakter dalam ranah persekolahan. Berkembangnya berbagai penyakit sosial di tengah masyarakat. Seyogianya, sekolah tidak hanya berkewajiban meningkatkan pencapaian akademis, tetapi juga bertanggung jawab dalam membentuk karakter peserta didik. Capaian akademis dan pembentukan karakter yang baik merupakan dua misi integral yang harus mendapat perhatian sekolah. Namun, tuntutan ekonomi dan politik pendidikan menyebabkan pene- kanan pada pencapaian akademis mengalahkan idealitas peran sekolah dalam pembentukan karakter.

Pendidikan karakter diartikan sebagai the deliberate us of all dimensions of school life to foster optimal character development (usaha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah untuk membantu pengembangan karakter dengan optimal). Hal ini berarti bahwa untuk mendukung perkembangan karakter peserta didik harus melibatkan seluruh komponen di sekolah baik dari aspek isi kurikulum (the content of the curriculum), proses pembelajaran (the procces of instruction), kualitas hubungan (the quality of relationships), penanganan mata pelajaran (the handling of discipline), pelaksanaan aktivitas ko-kurikuler, serta etos seluruh lingkungan sekolah.

Pendidikan karakter secara perinci memiliki lima tujuan. Pertama, mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai karakter bangsa. Kedua, mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius. Ketiga, menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa. Keempat, mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, dan berwawasan kebangsaan. Kelima, mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, dan dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity).

(20)

Syaripudin Basyar Membumikan Character Building…

memperkuat peran keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan pemerintah untuk ikut berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam pengembangan potensi warga negara dan pembangunan bangsa menuju bangsa yang maju, mandiri, dan sejahtera. Ketiga, fungsi penyaring. Pendidikan karakter berfungsi memilah budaya bangsa sendiri dan menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat. Ketiga fungsi ini dilakukan melalui: (1) pengukuhan Pancasila sebagai falsafah dan ideologi negara, (2) pengukuhan nilai dan norma konstitusional UUD 45, (3) penguatan komitmen kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), (4) penguatan nilai- nilai keberagaman sesuai dengan konsepsi Bhineka Tunggal Ika, dan (5) penguatan keunggulan dan daya saing bangsa untuk keberlanjutan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara Indonesia dalam konteks global.

Dengan demikian, pendidikan karakter adalah segala upaya yang dilakukan guru, yang mampu memengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.

Pendidikan karakter sebagai bagian dari upaya membangun karakter bangsa mendesak untuk diterapkan. Pendidikan karakter menjadi vital dan tidak ada pilihan lagi untuk mewujudkan Indonesia baru, yaitu Indonesia yang dapat menghadapi tantangan regional dan global. Di antara karakter yang perlu dibangun adalah karakter yang berkemampuan dan berkebiasaan memberikan yang terbaik (giving the best) sebagai prestasi yang dijiwai oleh nilai-nilai kejujuran. Inti karakter adalah kejujuran. Karakter dasar seseorang adalah mulia. Namun, dalam proses perjalanannya mengalami modifikasi atau metamorfosis, sehingga karakter dasarnya dapat hilang. Contohnya, hewan singa memiliki karakter dasar yang galak, tetapi karena mengalami proses modifikasi menjadi bagian dari pertunjukan sirkus, maka singa kehi- langan kegalakannya.

(21)

Syaripudin Basyar Membumikan Character Building…

Proceding Metro International Conference on Islamic Studies (MICIS) STAIN Jurai Siwo Metro

14

intinya merupakan program pengajaran di sekolah yang bertujuan mengembangkan watak dan tabiat siswa dengan cara menghayati nilai-nilai dan keyakinan masyarakat sebagai kekuatan moral dalam hidupnya melalui kejujuran, dapat dipercaya, disiplin, dan kerja sama yang menekankan ranah afektif (perasaan/sikap) tanpa meninggalkan ranah kognitif (berpikir rasional), dan ranah skill (keterampilan, terampil mengolah data, mengemukakan pendapat, dan kerja sama).

Budi pekerti adalah watak atau tabiat khusus seseorang untuk ber- buat sopan dan menghargai pihak lain yang tercermin dalam perilaku dan kehidupannya. Adapun watak itu merupakan keseluruhan doron- gan, sikap, keputusan, kebiasaan, dan nilai moral seseorang yang baik, vang dicakup dalam satu istilah sebagai kebijakan.

Secara operasional, pendidikan budi pekerti merupakan upaya untuk membekali peserta didik melalui bimbingan, pengajaran, dan latihan selama pertumbuhan dan perkembangan dirinya sebagai bekal masa depannya, agar memiliki hati nurani yang bersih, berperangai baik, serta menjaga kesusilaan dalam melaksanakan kewajiban terhadap Tuhan dan sesama makhluk. Dengan demikian, terbentuknya pribadi seutuhnya yang tercermin pada perilaku berupa ucapan, perbuatan, sikap, pikiran, perasaan, kerja dan hasil karya berdasarkan nilai-nilai agama, norma, dan moral luhur bangsa.

Pendidikan karakter perlu mengadopsi dan menginovasi pola pelaksanaan pendidikan budi pekerti. Inovasi yang dilakukan, antara lain dengan memberikan penguatan proses pengembangan ranah afektif secara tuntas, bertahap dan kontinu baik pada lembaga pendidikan formal, informal, maupun nonformal. Ranah afektif (affective domain) maksudnya kawasan yang berkaitan aspek-aspek emosional, seperti perasaan, minat, sikap, dan kepatuhan terhadap moral.

(22)

Syaripudin Basyar Membumikan Character Building…

diinformasikan dengan baik, manusia berkreasi dan menghargai estetika ditunjang oleh kehidupan yang kaya dan penuh disiplin. 2. Hubungan Pendidikan Karakter dengan EQ dan SQ

Mungkin banyak pihak yang mempertanyakan apa dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. Ringkasan dari be- ?erapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah ruletin, Character Educator, yang diterbitkan oleh Character Education Partnership.

Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill).

Penelitian lain juga mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar dua puluh persen oleh hard skill dan sisanya delapan puluh persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan .ebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter untuk peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan.

(23)

Syaripudin Basyar Membumikan Character Building…

Proceding Metro International Conference on Islamic Studies (MICIS) STAIN Jurai Siwo Metro

16

berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi.

Seseorang yang mempunyai kecerdasan emosional yang baik akan dapat dikenali melalui lima komponen dasar sebagai berikut:

a. Self-awareness (pengenalan diri), kemampuan mengenali emosi dan penyebab atau pemicu emosi tersebut. Orang tersebut mampu mengevaluasi dirinya dan mampu mendapatkan informasi untuk melakukan suatu tindakan.

b. Self-regulation (penguasaan diri), kemampuan seseorang untuk mengontrol dalam membuat tindakan secara berhati-hati. Orang itu mampu memilih untuk tidak diatur oleh emosinya.

c. Self-motivation (motivasi diri), ketika sesuatu berjalan tidak sesuai rencana, seseorang yang mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi tidak akan bertanya “apa yang salah dengan saya atau kita?” Sebaliknya ia bertanya, apakah yang dapat saya lakukan agar kita dapat memperbaiki masalah ini?”

d. Empathy (empati), kemampuan untuk mengenali perasaan orang ' ain dan merasakan apa yang orang lain rasakan jika dirinya sendiri yang berada pada posisi tersebut.

e. Effective relationship (hubungan yang efektif), adanya empat Kemampuan tersebut, seseorang dapat berkomunikasi dengan orang lain secara efektif. Kemampuan untuk memecahkan masalah bersama-sama lebih ditekankan dan bukan pada konfrontasi yang tidak penting yang sebenarnya dapat dihindari. Orang yang mempunyai kemampuan intelgensia yang tinggi mempunyai tujuan yang konstruktif dalam pikirannya.

Kecerdasan emosi ini secara garis besar meliputi: self-awareness kesadaran tinggi), mood management (manajemen suasana hati), . --motivation (motivasi diri), impulse control (pengendalian hawa nafsu), dan people skill (keterampilan bermasyarakat). Daniel Goleman menvatakan bahwa Emotional Intelligence (El) memiliki lima ranah sebagai berikut:

a. Knowing your emotions; b. Managing your own emotions; c. Motivating yourself;

d. Recognizing and understanding other people‟s emotions; and

e. Managing relationships, ie„ managing the emotions of others

(24)

Syaripudin Basyar Membumikan Character Building…

C.HubunganPendidikan Karakter dengan Pendidikan Akhlak

Pendidikan akhlak sarat dengan informasi kriteria ideal dan sumber karakter yang baik, maka memadukan keduanya menjadi suatu tawaran yang inspiratif. Hal ini sekaligus menjadi entry point bahwa pendidikan karakter memiliki ikatan yang kuat dengan nilai-nilai spiritualitas.

Pola bentukan definisi “akhlak” di atas muncul sebagai mediator yang menjembatani komunikasi antara Khalik (Pencipta) dan makhluk (yang diciptakan) secara timbal balik, yang kemudian disebut sebagai hablum minallah. Dari produk hablum minallah yang verbal, biasanya lahirlah pola hubungan antar sesama manusia yang disebut dengan hablum minannas (pola hubungan antarsesama makhluk).

Ibnu Athir dalam bukunya an-Nihayah menerangkan bahwa hakikat makna khuluq tersebut ialah gambaran batin manusia yang tepat (yaitu jiwa dan sifat-sifatnya), sedang khalqu merupakan gambaran bentuk luarnya (raut muka, warna kulit, dan tinggi rendah tubuhnya)”.

Senada dengan pendapat Ibnu Athir ini, Imam al-Ghazali menyatakan bahwa bilamana orang mengatakan si A itu baik khalqu-пуа dan khuluq-пуа, berarti si A itu baik sifat lahir dan sifat batinnya”. Berpijak pada sudut pandang kebahasaan, definisi akhlak dalam pengertian sehari-hari disamakan dengan “budi pekerti”, kesusilaan, sopan santun, tata krama (versi bahasa Indonesia) sedang dalam bahasa Inggrisnya disamakan dengan istilah moral atau ethic.

Al-Ghazali mendefinisikan akhlak sebagai suatu perangai (watak/tabiat) yang menetap dalam jiwa seseorang dan merupakan sumber timbulnya perbuatan-perbuatan tertentu dari dirinya secara mudah dan ringan tanpa dipikirkan atau direncanakan sebelumnya”. Pengertian akhlak seperti ini hampir sama dengan yang dikatakan oleh Ibn Maskawih, yang mendefinisikan akhlak sebagai suatu keadaan jiwa yang menyebabkan timbulnya perbuatan tanpa melalui pertimbangan dan dipikirkan secara mendalam.

Akhlak ialah kehendak yang dibiasakan. Artinya, kehendak itu bila membiasakan sesuatu, kebiasaan itu dinamakan akhlak. Kehendak merupakan ketentuan dari beberapa keinginan manusia setelah bimbang, sedang kebiasaan merupakan perbuatan yang diulang-ulang sehingga mudah melakukannya. Masing-masing dari kehendak dan kebiasaan ini mempunyai kekuatan, dan gabungan dari dua kekuatan itu menimbulkan kekuatan yang lebih besar. Kekuatan yang besar inilah yang bernama akhlak. Apabila kebiasaan menghasilkan suatu perbuatan baik disebut akhlakul karimah, bila menghasilkan perbuatan buruk disebut akhlakul mazmumah.

D.Penutup

(25)

Syaripudin Basyar Membumikan Character Building…

Proceding Metro International Conference on Islamic Studies (MICIS) STAIN Jurai Siwo Metro

18

kebiadaban yang meningkat, kekerasan yang bertambah, kecurangan yang meluas, dan kebohongan yang semakin lumrah. Peristiwa ini sangat mencemaskan dan masyarakat pun harus waspada. Sebagian orang tua mulai mulai mengirim anaknya ke sekolah khusus, sementara sebagian lain mendidik anaknya di rumah.

Persoalan karakter atau moral memang tidak sepenuhnya :erabaikan oleh lembaga pendidikan. Akan tetapi, dengan fakta-fakta ;eputar kemerosotan

karakter pada sekitar kita menunjukkan bahwa ada kegagalan pada institusi pendidikan kita dalam hal menumbuhkan manusia Indonesia yang berkarakter atau berakhlak mulia. Hal ini karena apa yang diajarkan di sekolah tentang pengetahuan agama ian pendidikan moral belum berhasil membentuk manusia yang rerkarakter. Padahal apabila kita tilik isi dari pelajaran agama dan moral,, semuanya bagus, dan bahkan kita dapat memahami dan menghafal apa maksudnya. Untuk itu, kondisi dan fakta kemerosotan karakter ian moral yang terjadi menegaskan bahwa para guru yang mengajar mata pelajaran apa pun harus memiliki perhatian dan menekankan rentingnya pendidikan karakter pada para siswa.

Selain itu, dalam masa-masa penuh persoalan seperti sekarang ini, orang tua perlu berusaha keras dalam ikut mendidik karakter ataupun moral anak-anaknya agar mereka bisa berpikir, bersikap, dan bertindak fesuai dengan norma-norma moralitas. Pendidikan karakter perlu iimulai dengan penanaman pengetahuan dan kesadaran kepada anak akan bagaimana bertindak sesuai nilai-nilai moralitas, sebab jika anak tidak tahu bagaimana bertindak, perkembangan moral mereka akan terganggu. Lagi pula telah kita ketahui bahwa karakter dapat dilihat dari “tindakan” bukan hanya dari pemikiran. Dengan meningkatkan kecerdasan moral anak, diharapkan mereka tidak hanya berpikir dengan benar, tetapi juga bertindak benar dan diharapkan juga akan terbangun- nya karakter yang kuat. Cara terbaik mengembangkan kemampuan karakter atau moral anak merupakan langkah paling tepat melindungi kehidupan moralnya sekarang dan selamanya.

Karakter seseorang yang positif atau mulia akan menjadikan meng- angkat status derajat yang tinggi dan mulia bagi dirinya. Kemuliaan seseorang terletak pada karakternya. Karakter begitu penting karena dengan karakter yang baik membuat kita tahan, tabah menghadapi cobaan, dan dapat menjalani hidup dengan sempurna. Karakter membuat perkawinan berjalan langgeng, sehingga anak-anak dapat dididik menjadi individu yang matang, bertanggung jawab dan produktif.

(26)

Syaripudin Basyar Membumikan Character Building…

mencurahkan perhatian, pikiran, dan tindakan untuk membentuk dan mengembangkan secara seimbang dan terpadu antara ketiga potensi kecerdasan ini.

Selama ini pendidikan mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi ditengarai lebih menekankan pada aspek akademik, yaitu sebuah proses mendapatkan pengetahuan (pengajaran), kecerdasan otak atau usaha mengembangkan potensi intelektualitas saja. Padahal lebih dari itu, pendidikan tentang kecerdasan emosional yang mencakup integritas, kejujuran, komitmen, kreativitas, ketahanan mental, kebijaksanaan, keadilan, dan penguasaan diri masih terabaikan. Dalam diri seseorang, pembentukan karakter yang memiliki sifat seperti kerendahan hati, menahan diri, kesetiaan, tenggang rasa, kesabaran, keadilan, dan kesederhanaan.

(27)

PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA

UPAYA PENDEKATAN MULTI RELIGIUS DALAM PENEGAKAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI)

Juhri AM

Universitas Muhammadiyah (UM) Metro Lampung

Abstrak

Sebagai bangsa yang multi religius dan multi keyakinan dalam menjalankan keragaman keyakinan dalam beragama diperlukan upaya untuk tetap tumbuhnya kesatuan dan persatuan yang harmonis, utuh, penuh toleransi, dan kokoh demi tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang bersatu dan berdaulat dalam satu ikatan “Bhinneka Tunggal Ika”. Upa tersebut dapat diwujudkan melalui proses pendidikan karakter dengan menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila khususnya pada Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan penanaman nilai-nilai karakter kepribadian Nabilyullah Muhammad saw.

Kata Kunci: Caracter, Multy Relegi

A.Pendahuluan

Salah satu upa untuk menumbuhkan sikap salinbg memahami dan toleransi dalam kehidupan beragama, sebagaimana telah diamanatkan dalam sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” terjabar dalam butir-butir sila pertama tersebut seperti tertuang dalam TAP MPR RI No. I/2003, adalah: (1) Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa; (2) Manusia Indonesia percaya dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masingmenurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab; (3) mengembangkan sikap hurmat dan menghurmati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa; (4) Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa; (5) Agama dan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa; (6) Mengembangkan sikap saling menghurmatikebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing; dan (7) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Sementara itu dalam “Sila Persatuan Indonesia” diamanahkan butir-butir

(28)

Juhri AM Pendidikan Karakter Bangsa…

adalah: “Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan”.

Apa sebenarnya makna Proklamasi kemerdekaan negara Republik Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 tahun 1945, adalah mencerminkan tekat luar biasa berbagai kelompok masyarakat khususnya generasi muda yang memiliki kemajemukan latar belakang bahasa, agama, kesukuan, budaya, dan tradisi dalam kesamaan cita-cita dalam usaha mencapai kemajuan dan kesejahteraan serta keinginan luhur yang sederajad dengan bangsa-bangsa lain yang sudah mencapai kemerdekaan lebih dahulu. Kesamaan cita-cita luhur ini mendorong terwujudnya persatuan melalui semangat yang bulat merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dengan penuh semangat persatuan tanpa memandang adanya perbedaan agama sekalipun peralatan senjata apai, mortir, granat yang dimiliki alakadarnya yaitu dengan bambu runcingnya.

Tekad dan semangat yang bulat ini, mengumandangan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai ungkapan menggemuruh di angkasa raya di seluruh nusantara bumi Indonesia yang merupakan keinginan luhur bangsa Indonesia tetap dalam satu kesatuan walaupun tersusun dalam berbagai unsur kemajemukan bangsa Indonesia yang tepat dan relevan sampai kapanpun dalam perjalanan bangsa Indonesia. Namun, seiring dengan perjalanaan waktu, perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi dan informasi, pergantian generasi dari generasi yang berada dalam perubahan dan perkembangan IPTEK mendorong adanya perubahan perilaku individu generasi di era ini yang nampak memudar rasa nasionalisme, kesatuan, dan kebersamaannya bahwa kita masih dalam satu ikatan “Bhinneka Tunggal Ika” yang tidak pernah rapuh karena adanya desakan eksternal yang berusaha keras untuk memecah belah bangsa yang memiliki kemajemukan ini. Perjuangan kita selalu berada dalam satu “ikatan emosional” yang utuh dan kuat.

(29)

Juhri AM Pendidikan Karakter Bangsa…

Proceding Metro International Conference on Islamic Studies (MICIS) STAIN Jurai Siwo Metro

22

Masih dalam kaitannya dengan hubungan ikatan emosional bangsa Indonesia yang majemuk ini, mendorong seluruh warga masyarakat Indonesia untuk tetap mencintai keutuhan NKRI, dan hal ini harus terus menerus diwaspadai. Setiap ditemukan adanya aktivitas dari kelompok tertentu yang menjurus ke arah usaha memecah belah kesatuan dan keutuhan bangsa, harus segera diatasi dengan tindakan yang arif dan bijak. Kuatnya aktivitas provokasi yang dilancarkan sekelompok orang penulis melihatnya diawali dari adanya pemahaman yang sempit atau keliru tentang keberadaan daerah wilayah nusantara atau suku bangsa yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Sekilas kita melihat, sejak sebelum menjadi NKRI, berbagai daerah dengan suku bangsa yang mendiaminya memang telah ada. Keberadaan mereka tetap tidak terhapus dengan terbentuknya wadah NKRI. Konsekuensi dari NKRI ini adalah setiap warga masyarakat yang tinggal dan mau menyatakan diri sebagai warga Negara Indonesia, tanpa memandang daerah, agama, dan kesukuan, adalah warga Negara Republik Indonesia yang bebas berada di manapun dalam wilayah NKRI dengan hak dan kewajiban yang disandangnya.

Tetapi, kenyataan yang ada sering kali ditemukan di berbagai daerah tertentu adanya sedikit bertentangan yang dapat menimbulkan konflik yang berkepanjangan. Disadari atau tidak, sengaja atau tidak, diciptakan atau ditumbuhkan persepsi untuk membedakan warga asli (pribumi) atau bukan asli, putra daerah atau bukan putera daerah adalah merupakan gerakan provokasi yang diciptakan untuk mengikis rasa nasionalis dan persatuan bangsa. Dalam konteks ini, tanpa menyadari bahwa siapapun dan di manapun warga negara Indonesia berada, mereka punya hak dan kewajiban yang pada hakikatnya sama. Sentimen kedaerahan melalui isu putra daerah dan kesukuan semacam inilah yang harus dihapuskan untuk mendudukkan permasalahan pada tempat yang semestinya. Dalam makalah ini masalah kedaerahan, kesukuan, keagamaan, dan lainnya yang bisa dilihat secara supervisial dari tanda-tanda fisik akan dikupas dari konsep “pendidikan karakter bangsa” sebagai upaya pendekatan keragaman dalam penegakan NKRI. Tulisan sederhana ini semoga akan menjadi bahan untuk didiskusikan dalam rangka mewujudkan tegaknya sikap nasionalisme yang memiliki semangat tetap tegaknya keutuhan dan kedaulatan NKRI.

B. Pendidikan Karakter Bangsa

(30)

Juhri AM Pendidikan Karakter Bangsa…

memandang perbedaan status sosial, agama, kepercayaan, adat istiadat, suku, dan lainnya. Bukti inilah yang menunjukkan bahwa sikap nasionalisme, kesatauan, kebersamaan, kemanunggalan suatu warga negara Indonesia harus tercipta sebagaimana yang diteladankan dalam sifat Rosulullah saw. yaitu sifat amanah, sidiq, fathonah, dan tabligh. Namun, dalam realitasnya keempat sifat Rosulullah saw. yang masih tetap relevan untuk dimiliki seluruh umat manusia tanpa membedakan agama dan kepercayaan yang dianut oleh bangsa Indonesia. Sifat-sifat ini telah terkikis, semakin menghilang dari setiap pribadi bangsa Indoensia sebagai bangsa yang mayoritas memiliki keyakinan dalam memeluk agama yang dianutnya masing-masing. Secara yuridis formal keyakinan bangsa Indonesia terhadap agama yang dipeluk telah tertuang dalam kontitusional sebagaimana tercantum dalam diktum pasal 29 ayat (2) UUD 1945, “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Selanjutnya apada pasal 30 (1) UUD 1945 mengamanatkan: “Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara”.

Sikap yang mencerminkan nilai-nilai karakter suatu warga negara sebagai bangsa Indonesia yang memiliki pluralis agama, suku, bahasa, dan budaya ini harus dapat memberikan suatu jawaban atas pertanyaan: Hai para generasi penerus bangsa, “jangan bertanya apa yang negara dapat lakukan untukmu, tetapi tanyakanlah pada dirimu, apa yang bisa kau lakukan untuk negaramu?” adalah sebuah pertanyaan yang sangat menggelitik dan memerlukan sebuah jawaban yang didasari pada karakteristik suatu bangsa yang menjunjung tinggi religius yaitu adanya pengakuan terhadap keberadaan Tuhan yang menjadi keyakinannya untuk disembah dan dipercayai keberadaannya sebagai tempat berharap, memuji, bergantung, dan berserah diri, sebagai hamba yang lemah tiada berdaya dengan menunjukkan adanya ketaatan dalam menjalankan syareat agama yang dianutnya secara khusuk.

Karakter bangsa Indonesia seharusnya mengikuti konsep Islam dan/atau agama yang syah berlaku di negeri ini alasan logisnya mayoritas penduduk di negeri ini memeluk agama Islam tanpa mengesampingkan ketentuan agama lain. Senantiasa meneladani empat sifat Rosulullah saw yang yang kini sudah semakin menjauh dari perilaku hidup bagi para pemeluk agama Islam. Semestinya harus dijadikan sebagai pondasi yang kokoh dalam bertingkah laku, bertindak, dan berbuat dalam kehidupan sehari-hari. Dengan meneladani keempat sifat Rosulullah ini tentu akan menjadi moral post, pengendali, dan menjadi benteng yang kokoh bagaikan tembok berlin yang memiliki

ketangguhan menjadi “tameng” kuatnya pengaruh eksternal yang merusak

keyakinan dan keimanan yang sudah terpatri dalam sanubari bangsa Indonesia sejak lama.

(31)

Juhri AM Pendidikan Karakter Bangsa…

Proceding Metro International Conference on Islamic Studies (MICIS) STAIN Jurai Siwo Metro

24

tetap dijunjung tinggi, dijaga eksistensinya, dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Keempat sifat yang menjadi karakter Rosulullah saw. ini apabila diamalkan secara mendalam dalam praktek kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, tentu tidak pernah akan ditemukan di tengah-tengah yang memiliki kemajemukan ini adanya tindakan-tindakan umat manusia yang nyata-nyata bertentangan dengan nilai-nilai luhur Pancasila yang dijadikan dasar filosofi suatu bangsa Indonesia dan nilai-nilai agama yang menjadi panutan bagi setiap pemeluk agama yang diyakininya bagi seluruh warga negara Republik Indonesia. Pendidikan karakter sebagaimana tertuang dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) pengembangannya bersumber dari karakteristik perilaku Rosulullah yang terakumulasi pada konsep Siddiq, Amanah, Fathonah, dan Tabligh.

Sifat Siddiq; berarti memiliki sifat benar dan jujur, sebagai seorang Nabi sekaligus sebagai Rosul dipastikan memiliki sifat benar dan jujur dalam semua aspek hidupnya, tutur kata dan tingkah lakunya. Tutur katanya benar karena ia mengemban misi untuk menyampaikan firman Allah swt. Semua kata yang terucap dari mulut Nabi atau Rosul pasti benar, demikian pula dalam tingkah lakunya karena dia menjadi contoh keteladanan seluruh umat manusia. Selain sifat kebenaran ini, dia adalah seorang yang sangat jujur dan tidak pernah berdusta. Kebenaran dan kejujuran laksana dua sisi mata uang dalam diri seorang nabi. Kebenaran itu semata-mata dari Allah swt. Tuhan semesta alam. Allah menghunjamkan kebenaran itu ke hati para Nabi dan Rosul sehingga mereka berkata benar dan jujur. Dasar hukumnya Al Qur‟an Surat Albaqoroh: 147, artinya: “kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itujangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu”. Mencari kebenaran dan kejujuran di dunia sekarang ini, laksana mencari secuil berlian di lautan padan pasir. Sangat sulit dilakukan, untuk menghasilkan kebenaran dan kejujuran ini kegiatan pendidikan termasuk kegiatan dialog ini akan melahirkan manusia-manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran dan kejujuran.

(32)

Juhri AM Pendidikan Karakter Bangsa…

kepandaian, kesehatan, kekayaan, kedudukan, jabatan dan lainnya. Hal ini didasarkan pada surat Al-Anfal: 27, yang artinya: “wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian menghianati Allah dan jangan pula mengfhianati Rosulullah serta jangan pula menghianati amanah kalian padahal kalian mengetahuinya”. Ketika amanah itu dikhianati, maka bersiap-siaplah menyambut datangnya kerugian, bencana, musibah, yang terjadi secara berantai dan saling terkait. Ketika rahmat dan keberkahan dicabut Allah, maka hilang sudah rasa nyaman, aman, dan tenteram yang ada adalah kegelisahan, waswas, saling curiga, mudah tersinggung, dan mudah marah.

Sifat Fathonah; yang berarti kapabilitas, profesionalitas, cerdas, pintar, terampil, dan cakap. Orang bisa disebut fathonah karena dia memiliki kecerdasan, kecakapan, kepandaian, dan profesionalitas di posisi manapun ia ditempatkan atau ditugaskan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Namun pwerlu diperhatikan bahwa sifat fathonah bukan semata-mata, cerdas, mahir, ataupun profesional, tetapi ifat ini harus didasari oleh moralitas yang tinggi dan akhlaq yang mulia. Landasan inilah yang tidak terkandung dalam kata maka “kecerdasan”, “kemahiran”, atau “kepandaian” dalam bahasa lain. Sifat fathonah tidak harus selalu merupakan hasil lembaga pendidikan formal semata. Sifat fathonah ini muncul karena integritas diri yang kuat. Orang yang fathonah memiliki antusiasme tinggi untuk senantiasa berada dalam keadaan belajar dan berproses. Setiap saat dalam hudupnya adalah momen paling baik untuk menambah ilmu, pengetahuan, dan wawasan. Landasan dalam beraktivitas adalah akhlaq mulia, membuat ia menjadi orang cerdas yang senantiasa mencerdaskan dirinya. Artinyaseluruh kecerdasan, kepandaian, kemahiran, atau profesionalitasnyamembawa manfaat juga untuk orang lain. Dasar hukumnya terdapat pada Al Qur‟an Surat Al-Isra‟: 84, yang artinya: “tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannyamasing-masing”. Dengan demikian, fathonah adalah kecerdasan yang menyeluruh (komprehensif), kecerdasan yang meliputi intelektual, emosional, spiritual, kreatif, dan inovatif.

(33)

Juhri AM Pendidikan Karakter Bangsa…

Proceding Metro International Conference on Islamic Studies (MICIS) STAIN Jurai Siwo Metro

26

Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagamana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka”. Orang-orang mempunyai sifat tabligh pastilah pribadinya menyenangkan, karena mereka adalah pribadi yang hangat, akrab, dan terbuka.Kehadiran mereka ditengah-tengah masyarakat menjadi panutan dan selalu dapat dibanggakan.

C.Pendidikan Karakter Tanggungjawab Siapa?

Adalah sebuah pertanyaan yang harus kita jawab dan jawabannya sesungguhnya ada pada diri kita masing-masing. Di dalam masyarakat adanya kecenderungan untuk mengatakan bahwa apabila terjadi kerusakan moraldari suatu generasi, yang harus bertanggungjawab adalah pendidikan, lebih khusus lagi tanggungjawab utamana adalah pendidik (guru). Demikian pula dengan pendidikan karakter, pada saat muncul berbagai pendapat tentang maraknya korupsi dan perilaku negatif yang terjadi di negeri ini disimpulkan bahwa semua itu terjadi akibat buruknya karakter suatu bangsa, lagi-lagi yang dipersalahkan adalah lembaga pendidikan yang tidak berhasil membangun karakter lulusan yang baik.

Sangat eronis memang. Ketika lembaga pendidikan telah berusaha maksimal menyelenggarakan pendidikan yang berkarakter, sebagian siswa, pelajar, dan atau mahasiswa ada kecenderungan enggan untuk dibentuk menjadi lulusan-lusan yang menguasai pengetahuan di atas pondasi nilai-nilai tanggungjawab, disiplin, jujur, dan taat terhadap nilai-nilai yang dijunjung tinggi lembaga penyelenggara pendidikan yang berorientasi pada lulusan yang berkarakter. Menghadapi kenyataan tersebut, penyelenggaraan pendidikan di Indonesia terus dilakukan pembenahan dengan memperbesar porsi penggemblengan mental, moral, dan spiritual sehingga anak didik mempunyai karakter yang baik. Karena itu, pendidikan harus bertanggungjawab terhadap kemerosotan moral dan lunturnya nilai-nilai kebaikan sebagaimana diamanatkan dalam nilai-nilai luhur Pancasila.

(34)

Juhri AM Pendidikan Karakter Bangsa…

tua menghendaki anaknya memiliki karakter yang baik setidaknya ada empat peran yang dapat dilakukan oleh orang tuanya.

1. Orang tua mendampingi dengan penuh kasih sayang terhadap anaknya, sehingga tumbuh dan berkembang dalam pantauan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya,

2. Orang tua membimbing anaknya agar tumbuh dan berkembang sesuai harapan, dengan cara memberikan petunjuk, dan nasihat untuk menempuh jalan yang baik dan benar.

3. Orang tua mendidik anak-anaknya agar berkembang menjadi generasi yang berkarakter baik. Dalam lingkungan keluarga ini yang bertanggungjawab sepenuhnya adalah orang tuanya.

4. Orang tua menjadi teladan bagi anaknya agar tumbuh dan berkembang dengan karakter yang baik, inilah yang sangat penting dalam dunia pendidikan yakni memberikan keteladanan.

Selain lembaga pendidikan di sekolah dan lembaga keluarga, lembaga pendidikan masyarakat seperti melalui organisasi karangtaruna, kelompok tani, kelompok pedagang, club olah raga, UPGK, kelompok kesenian, dan bentuk-bentuk organisasi sosial lainnya yang menjadi wadah pengembangan bakat, kreativitas, budaya, seni, dan olah raga. Apabila peran lembaga ini difungsikan secara optimal, dapat menghasilkan karakter suatu generasi penerus bangsa yang memiliki sikap kebersamaan, persatuan, dan nilai-nilai patriotisme dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa dan siap menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia sekalipun berasal dari keragaman agama, suku, bangsa, bahasa, ras, dan budaya yang sudah berabad-abad lamanya.

Pertanyaan yang menanyakan siapa yang bertanggungjawab terdapat pendidikan karakter generasi penerus bangsa maka terjawablah suadah. Bahwa pendidikan karakter bangsa menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan, lemabaga keluarga, dan lemabaga pendidikan di lingkungan masyarakat.

Sebagai akhir dari tulisan ini, saya ingin mengenengahkan sekelumit mengenai anggapan adanya konsep tentang pribumi dan non-pribumi. Pemahaman konsep istilah pribumi atau non-pribumi, penduduk asli atau penduduk tidak asli bukan merupakan istilah asing yang terdengar di telinga kebanyakan orang Indonesia. Adalah suatu istilah yang dapat menimbulkan dikotomi dalam “status” kependudukan dan selanjutnya kewarganegaraan ini muncul semasa penjajahan dan semakin mapan karena adanya perbedaan perlakuan oleh penjajah Belanda terhadap penduduk jajahannnya dibanding kaum pendatang. Proklamasi kemerdekaan RI tahun 1945 dan angkat kakinya Belanda dari Bumi Indonesia tidak sendirinya menghilangkan predikat yang

untuk sementara orang menimbulkan ketidaknyamanan. Kenyataan

menunjukkan bahsa sampai sekarang istilah “pribumi dan non-pribamu” tetap

(35)

Juhri AM Pendidikan Karakter Bangsa…

Proceding Metro International Conference on Islamic Studies (MICIS) STAIN Jurai Siwo Metro

28

kemerdekaan sampai sekarang, banyak peristiwa menyedihkan yang berawal dari cara pandang dikhotomis terhadap sesama warga negara Indonesia.

Ingat.... kita adalah satu bangsa yang terikat dalam untaian “Bhinneka Tunggal Ika” berasal dari kemajemukan, semestinya tidak akan dapat terpecah belah akibat dari gerakan provokasi yang sengaja dilakukan oleh pihak-pihak tertentu yang menginginkan bahwa bangsa ini menjadi terpecah belah, rapuh, dan tidak memiliki kekuatan apa-apa. Saya melihatnya hal ini disebabkan oleh lemahnya moral, mental, dan karakter bangsa disebabkan oleh kurang

berfungsinya lembaga pendidikan untuk memainkan peran dalam

menumbuhkan dan mengembangkan bangsanya.

D.Penutup

(36)

INTRUCTIONAL SUPERVISION MODEL

AN ATTEMPT TO INCREASE THE TEACHER’S PROFESSIONALISM

Adolf Bastian

FKIP Universitas Lancang Kuning Pekanbaru

Abstract

Execution of study supervision, addressed to increase the quality of teacher through expansion of teacher professional, shall also be executed professionally, that is by professional supervisor in supervision area and science area supervised by it. Instructional supervision, as professional service to change perception, position and behavior of teacher causing earns realizes professional teacher, hence need to be designed as a requirement of basic teacher, not as supervisor’s instruction which must be obeyed by teacher, but as a change idea which stems from under, submitted persuasively, and collaboratively between teachers and supervisor. Under color of the is designed by study supervision as an improvement effort of professional teacher. Supervision executed by supervisor is understood about supervision duties, and understanding about matter supervised, which is not only limited to class visit and administrative and it is executed ongoing basis.

Key Word: Supervision Model, Professional Service, Bottom up, Persuasive, and collaborative

A. Background of Study

The implementation of instructional supervision, which is addressed to increase the quality of teacher through professionalism development, should be conducted by professional and competent supervisor in the field of supervision and the knowledge of area he/she supervises. One of obstacles to increase the quality of learning is lack of supervisor who has educational background of what he/she supervises and unavailability of special supervision for specific subject. The main requirement to be supervisor is mastering competence and professional ability in the field he/she supervises. The other obstacle is the attempts to introduce innovation are not relevant to development of supervisor‟s competence. This is showed by teacher training that does not involve supervisor.1

Therefore, the learning betterment must be conducted thoroughly, continuously, and skillfully.

The teachers, who have already participated in innovation training, have not implemented the result of training in their learning process in the class. This means

Gambar

Gambar 1. Sistem Loop Tertutup
Gambar 2. Model Proses Bisnis

Referensi

Dokumen terkait

Persentase yang didapat ini terlihat dari aktivitas peneliti dalam melaksanakan keterampilan bertanya dan juga aktivitas siswa dalam pembelajaran yang telah aktif

Dari Periodogram Lomb pada Gambar 4.2, dapat dilihat bahwa data time series stasiun MSAI memiliki komponen sinyal periodik yang ditandai dengan adanya nilai frekuensi

Bagi siapa yang melanggar aturan Peraturan Daerah Kabupaten Wonogiri Nomor 6 Tahun 2012 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 63 ayat (2)

Peranan adalah suatu konsep perihal apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi.. Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilakuan individu yang

Sesuai dengan tujuan yang akan dicapai program diklat ini, maka metode diklat yang akan digunakan adalah proses belajar mengajar dengan metode pembelajaran untuk orang dewasa

1) Komitmen efektif (Affectif Commitment) merupakan perasaan emosional untuk organisasi dan keyakinan dalam nilai-nilainya. Sebagai contoh,seorang karyawan Pecto mungkin

Komunikasi yang tidak efektif dapat menimbulkan salah pengertian (misunderstanding) yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya ketegangan dan konflik dalam

1) Penggunaan alat peraga dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi mempunyai fungsi tersendiri sebagai alat pembantu untuk