PERAN PENDIDIKAN AGAMA DI ERA MULTIKULTURALISME PADA LEMBAGA PENDIDIKAN FORMAL
E. Urgensi Pendidikan Multikultural
Wacana pendidikan multikulturalsemakin menggema dewasa ini. Hal ini antara lain timbul karena selama ini pemaknaan secara negatif atas keragaman telah melahirkan penderitaan panjang umat manusia. Pada saat ini, paling tidak telah terjadi 35 pertikaian besar antar etnis di dunia; lebih dari 38 juta orang terusir dari tempat tinggal mereka; dan paling sedikit 7 juta orang terbunuh dalam konflik etnis berdarah. Pertikaian seperti ini terjadi dari Barat sampai ke Timur, dari Utara ke Selatan. Kita dan dunia menyaksikan darah mengalir dari Yugoslavia, Cekoslovakian, Zaire hingga Rwandha, dari bekas Uni Soviet sampai Sudan. Dari Srilangka, India hingga Indonesia. Berbagai konflik yang cukup panjang tersebut melibatkan sentimen etnis, ras, golongan dan juga agama.
Pengalaman bangsa Indonesia telah membuktikan bahwa, kita mendapat informasi bahwa bangsa Indonesia telah mempraktekkan konsep lama yang menyatakan bahwa integritas suatu masyarakt harus mensyaratkan adanya homoginitas di antara komponen-komponen masyarakat tersebut, sehingga tindakan penyeragaman di sana sisni ditetapkan. Kenyataan menunjukkan bahwa komponen-kompnen masyarakat tersebut memiliki hubungan yang sering tidak seimbang, utamanya dalam pengalokasian dan pendistribusian sumber-sumber masyarakat. Persyaratan homoginitas bagi terwujudnya integritas masyarakat, kini mendapat sanggahan. Kesatuan dan persatuan nasional tidak perlu diusahakan lewat homoginisasi masyarakat. Indonesia dapat menyatu di dalam heteroginitas yang saling mendukung, mempercayai,
Ali Mashari Peran Pendidikan Agama...
hormat menghormati, saling menguntungkan, kesetaraan dan kebersamaan. Dan yang terakhir inilah yang sejalan dengan "multi-cultural model".
Kita dapat belajar dari pengalaman Amerika Serikat ketika ingin membentuk masyarakat baru pasca kemerdekaan 4 Juli 1776. Ketika itu sangat disadari bahwa masyarakatnya terdiri dari berbagai ras dan asal negara yang berbeda. Oleh sebab itu, Amerika mencoba mencari terobosan baru dengan menempuh strategi yakni dengan menjadikan sekolah sebagai pusat sosialisasi dan pembudayaan nilai-nilai baru yang dicita-citakan. Melalui pendekatan inilah, dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi, Amerika Serikat berhasil membangun bangsanya, yang dalam perkembangannya melebihi dan melampaui masyarakat induknya yaitu Eropa. Dalam hal ini, Amerika Serikat menggunakan sistem demokrasi dalam pendidikan ala Dewey untuk mensosialisasi dan membudayakan nilai-nilainya, yang pada intinya adalah toleransi yang diperuntukkan bukan hanya untuk kepentingan bersama, tetapi juga untuk menghargai kepercayaan pihak lain dan juga berinteraksi dengan anggota masyarakat.
Pengalaman bangsa-bangsa lain dan juga dari pengalaman bangsa kita sendiri, memberikan bukti bahwa ternyata bangsa Indonesia yang notabene tergolong multikultur sangat membutuhkan paradigma, model atau pendekatan baru dalam mensikapi pluralitas dan perbedaan etnik, ras, budaya maupun agama. Sudah tentu tidak cukup hanya menyadari realitas multikultural, tanpa upaya lanjutan yakni bagaimana agar masing-masing etnis, ras, kelompok budaya dan kelompok agama mampu mengakses dan terlibat secara bersama membangun Indonesia yang lebih baik. Kita pun dapat mencontoh Amerika dalam memanfaatkan lembaga pendidikan untuk dijadikan tempat sosialisasi dan pembudayaan nilai-nilai yang kita cita-citakan bersama itu.
Pengertian dan definisi pendidikan multikultural di atasjuga menekankan bahwa pendidikan multikultural sebagai gagasan, gerakan reformasi pendidikan dan sebagai proses, termasuk dimensi-dimensi yang ada di dalamnya yang satu sama lain saling terkait, sebenarnya sudah terlihat dengan jelas apa yang menjadi tujuan dari pendekatan pendidikan multikultural tersebut secara eksplisit menunjukkan apa yang menjadi tujuan dari pendidikan multikultural, yaitu: 1. Menolong para peserta didik menjadi lebih sadar terhadap mereka sendiri
sebagai individu-individu, dan sadar terhadap budaya mereka sendiri. 2. Menolong individu–individu mengembangkan pemahaman dan apresiasi
terhadap budaya orang lain.
3. Mendorong individu-individu untuk berpartisipasi dalam banyak budaya yang berbeda sebanyak yang mereka pilih.
4. Menolong individu-individu mengembangkan seluruh potensi mereka sehingga mereka dapat mengontrol kehidupan mereka sendiri dan dengan cara demikian menjadi lebih berdaya.
Ali Mashari Peran Pendidikan Agama...
Proceding Metro International Conference on Islamic Studies (MICIS) STAIN Jurai Siwo Metro
58
Dalam konteks pendidikan agama, pendidikan multikultural diharapkan dapat:
1. Menolong peserta didik menjadi lebih sadar terhadap ajaran agama mereka sendiri dan sadar terhadap adanya realitas ajaran agama lain.
2. Menolong peserta didik mengembangkan pemahaman dan apresiasi terhadap agama orang lain.
3. Mendorong peserta didik untuk berpartisipasi dalam kegaiatan sosial yang di dalamnya terlibat berbagai penganut agama yang berbeda.
4. Menolong peserta didik mengembangkan seluruh potensi mereka sendiri termasuk potensi keberagamaan mereka sehingga mereka dapat mengontrol kehidupan mereka asendiri, dan dengan cara demikian mereka lebih berdaya.
Meskipun secara eksplisit tujuan pendidikan multikultural menurut Baker lebih difokuskan pada individu (baca: peserta didik), diharapkan juga dapat memberikan dampak pada lingkungan yang lebih luas, sehingga dengan pendidikan multikultural ini mampu membangun kebersamaan dalam keragaman sekaligus dapat meredakan ketegangan sosial yang diakibatkan oleh latar belakang yang berbeda.
Daftar Pustka
Baker, Gwendolyn C. (1994). Planning and Organizing for Multicultural Instruction. Second Edition. California: Addison-Wesley Publishing Company.
Comard, Harold. 1989. Pluralisme: Tantangan bagi Agama-agama. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
El-Ma‟hadi, Muhaemin (2004). Multikulturalisme dan Pendidikan Multikultural.
http://artikel.us/muhaemin6-04.html.
Gorski, Paul. Defining Multicultural Education.
http://www.mhhe.com/socscience/education/multi/define.html
Suparlan, Parsudi " Kata Pengantar" dalam terjemahan karya Robertson, Roland (Ed.). 1980. Agama: dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologis. Jakarta: Penerbit Rajawali Press.
Suyata. 2001. Pendidikan Nasional dalam Perspektif Lintas Budaya. Makalah
disampaikan pada Pertemuan FIP/JIP Se Indonesia, yang
diselenggarakan oleh universitas Negeri Makasar tanggal 11-13 Oktober 2001.
Buyung Syukron Kontekstualisasi Pendidikan Islam…
K O N T E K S T U A L I S A S I P E N D I D I K A N I S L A M :