• Tidak ada hasil yang ditemukan

Urgensitas Pendidikan Islam Di Era Transformasi Informasi

Dalam dokumen 96islam era kontemporer 1 (Halaman 76-80)

KONTEKSTUALISASI REFORMULASI PENDIDIKAN ISLAM

C. Urgensitas Pendidikan Islam Di Era Transformasi Informasi

Pendidikan Islam merupakan cerminan masa depan sekaligus katalisator pembaharuan suatu bangsa. Karena itu, transformasi pendidikan Islam ke arah peningkatan mutu, efisiensi, dan efektifitas adalah sebuah keniscayaan. Dan menjadi sebuah keniscayaan pula, bahwa transformasi mutu, efesiensi dan efektifitas pendidikan Islam tidak akan bisa dilepaskan dari proses transformasi infomasi yang terjadi saat ini. Pertanyaannya: “bagaimana urgensitas pendidikan Islam ditengah deras dan pesatnya transfomasi informasi tersebut?”.

Buyung Syukron Kontekstualisasi Pendidikan Islam…

Proceding Metro International Conference on Islamic Studies (MICIS) STAIN Jurai Siwo Metro

70

Untuk menjawab pertanyaan di atas, cukup menarik apa yang dikemukakan oleh Kuntowijoyo, bahwa ada lima program reinterpretasi untuk memerankan kembali urgensitas rasional dan empirisme pendidikan Islam yang bisa dilaksanakan saat ini dalam rangka menghadapi modernisasi dan transfomasi informasi.

1. Perlunya dikembangkan penafsiran social structural lebih daripada penafsiran individual ketika memahami ketentuan-ketentuan tertentu di dalam Al-Qur‟an.

2. Mengubah cara berpikir subjektif ke cara berpikir objektif. Contoh ketentuan zakat, secara subjektif, tujuan zakat memang diarahkan untuk pembersihan jiwa. Akan tetapi, sisi objektif tujuan zakat adalah tercapainya kesejahteraan sosial.

3. Mengubah Islam yang normatif menjadi teoritis. Jika berhasil, banyak disiplin ilmu yang secara orisinal dapat dikembangkan menurut konsep-konsep Al-Qur‟an.

4. Mengubah pemahaman yang ahistoris menjadi historis. Selama ini kisah-kisah yang ditulis dalam Al-Quran cenderung bersifat ahistoris, padahal kisah-kisah itu adalah justru agar kita berpikir historis.

5. Merumuskan formulasi-formulasi wahyu yang bersifat umum menjadi formulasi-formulasi yang spesifik dan empiris. Misal, Allah mengecam sirkulasi keuntungan hanya di orang-orang kaya saja. Secara spesifik, sebenarnya Islam mengecam monopoli dan oligopoli dalam kehidupan ekonomi-politik.35

Pendapat Kuntowijoyo di atas sebenarnya mengandung makna implisit tentang bagaimana urgensitas pendidikan Islam harus senantiasa diupayakan agar mampu menciptakan produktivitas intelektual muslim yang kreatif dalam semua bidang usaha intelektual bersama-sama dengan keterkaitan yang serius kepada Islam. Urgensitas pendidikan Islam adalah apa yang disebut dengan “intelektualisme Islam”, artinya mempunyai makna pertumbuhan suatu pemikiran Islam yang asli dan memadai yang dapat dan harus memberikan kriteria untuk menilai keberhasilan dan kegagalan sebuah sistem pendidikan Islam. Di sini diperlukan kemampuan dan metode yang tepat dalam memahami al-Qur‟an sebagai titik intelektualisme Islam, sebab al-Qur‟an sebagai petunjuk bagi umat manusia (hudan linnas).

35 Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid, (Bandung: Mizan, 2001), h.357. Kuntowijoyo melihat bahwa urgensitas pendidikan Islam adalah mengadakan penyelidikan terhadap ilmu pengetahuan, ketikan pendidikan Islam diposisikan pada ugensitas ini, maka akan terlihat kelezatan padanya. Oleh karena itu, tujuan mempelajari ilmu pengetahuan adalah karena ilmu pengetahuan itu sendiri. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Al-Ghazali, ihya’Ulumiddin I, h.13. Pernyataan itu menyiratkan kesan bahwa penelitian, penalaran, dan pengkajian yang mendalam dengan mencurahkan tenaga dan pikiran (Ijtihad) adalah mengandung kelezatan intelektual kepada mereka dalam mencari hakikat pendidikan Islam.

Buyung Syukron Kontekstualisasi Pendidikan Islam…

Untuk mempertegas rancangan urgensitas pendidikan Islam tersebut, Al-Faruqi menjelaskan bahwa terdapat lima sasaran yang harus menjadi target yang sebenarnya dari urgensitas pendidikan Islam, antara lain: (1) menguasai disiplin-disiplin ilmu modern, (2) menguasai khazanah Islam, (3) menentukan relevansi Islam yang spesifik pada setiap bidang ilmu pengetahuan modern, (4) mencari cara untuk melakukan sintesa kreatif antara khazanah Islam dengan ilmu pengetahuan modern, dan (5) mengarahkan pemikiran Islam ke lintasan-lintas yang mengarah pada pemenuhan pola rancangan Allah36.

Tentunya tidak semua orang muslim bisa menerapkan langkah-langkah yang ditawarkan oleh Al-Faruqi tersebut. Yang paling pas untuk melakukan itu barangkali adalah Lembaga Pendidikan Agama Islam (secara institusional). Dalam hal ini Sayid Ali Asyraf dan Hamid Hasan Bilgrami dalam buku mereka The Concept of Islamic University menulis bahwa tujuan utama urgensitas pendidikan Islam yang benar-benar harus dipahami adalah “melakukan sebuah terobosan modernis terhadap semua cabang ilmu pengetahuan, inovatif-modernisterhadap buku-buku ajar dan bahkan metode-metode pengajarannya. Akan tetapi pada saat yang sama ia juga harus mempertahankan sifat keterbukaan yang esensial pada universitas tersebut”37. Pada posisi ini, kekuatan informasi menjadi sesuatu yang tidak bisa terbantahkan. Mengapa? Karena akan menjadi ambiguitas apabila kita berbicara tentang inovasi-modernisasi pada pendidikan Islam, akan tetapi di sisi lain, pendidikan Islam “alergi” terhadap perkembangan infomasi yang terjadi dewasa ini. Dibutuhkan integralistik pemahaman agar urgensitas pendidikan Islam yang dibangun pada masa kini tidak di claim sebagai urgensitas yang “durhaka”.

Dalam perspektif transformasi informasi, urgensitas pendidikan Islam harus dipandang dalam sudut pandang yang luas. Bahwa pendidikan Islam yang (baca:inovatif-modernis) ideal di masa mendatang tentu tetap harus merujuk kepada al-Qur‟an dan Hadits sebagai sumber utama kegiatan pendidikan Islam, itu menjadi sebuah keniscayaan yang tak terbantahkan. Namun demikian, kedua sumber tersebut tetap harus didialogkan dengan situasi dan kondisi yang berkembang saat ini. Tanpa itu, urgensitas pendidikan Islam bisa jadi tidak relevan lagi dan tidak mampu menjawab persoalan-persoalan krusial yang dihadapi umat Islam di era transformasi informasi saat ini.

Dalam konteks dan perspektif fungsi, menghadapi era globalisasi dan transformasi informasi, urgensitas pendidikan Islam perlu ditingkatkan.

36 Ismail Raji al-Faruqi, Islamisasi Pengetahuan.., h. 85. Lebih lanjut dikemukakan oleh al-Faruqi, bahwa konotasi pendidikan Islam adalah proses pendidikan yang tidak boleh berjalan monoton, indoktrinatif, teacher-centered, top-down, mekanis, verbalis, kognitif dan misi pendidikan telah misleading. Tidak heran jika ada kesan bahwa praktek dan proses pendidikan Islam steril dari konteks realitas, sehingga tidak mampu memberikan kontribusi yang jelas terhadap berbagai problem yang muncul. Pendidikan Islam dianggap tidak cukup efektif memberikan memberikan kontribusi dalam penyelesaian masalah.

Buyung Syukron Kontekstualisasi Pendidikan Islam…

Proceding Metro International Conference on Islamic Studies (MICIS) STAIN Jurai Siwo Metro

72

Tuntutan globalisasi dan transformasi informasitidak mungkin dihindari. Dalam hal ini Ziaduddin Sardar,38 menawarkan solusi untuk menghilangkan ambivalensi orientasi pendidikan Islam, yakni dengan cara meletakkan epistemologi dan teori sistem pendidikan Islam yang modernis menjadi sifat yang mendasar.

Untuk menghilangkan sistem yang dikhotomis di dunia pendidikan Islam, HAR. Tilaar menawarkan beberapa rumusan urgensitas pendidikan Islam yang diharapkan bisa dijadikan alternatif di dalam menghadapi transformasi informasi, antara lain:

1. Dari segi epistemologi, Ummat Islam harus berani mengembangkan kerangka pengetahuan masa kini yang terartikulasi secara sepenuhnya. Ini berarti kerangka pengetahuan yang dirancang dan dikembangkan harus aplikatif, tidak sekedar teoritis saja. Kerangka pengetahuan dimaksud setidaknya dapat menggambarkan metode dan pendekatan yang tepat sekaligus dapat membantu pendidikan Islam dalam mengatasi keterbelakangan informasi.

2. Diperlukan kerangka teoritis ilmu yang berbasis teknologi informasi yang memberikan gambaran konkrit akan sebuah model dan metode ilmiah yang sesuai dengan keinginan dan tinjauan dunia serta merefleksikan nilai-nilai dan budaya Muslim.

3. Perlu diciptakan teori tentang sistem pendidikan yang memadukan ciri-ciri terbaik sistem tradisional dan sistem modern yang berbasis teknologi informasi. Sistem pendidikan integralistik ini secara sentral harus tetap mengacu pada konsep ajaran Islam. Dengan kata lain, sistem integralistik ini harus mampu memenuhi kebutuhan masyarakat muslim secara multidimensional akan masa depan yang terjamin.

4. Menampilkan visi, misi, dan dan tujuan pendidikan Islam yang lebih dinamis, kreatif dan inovatif.

5. Menampilkan pendidikan Islam yang lebih ramah, sejuk, sekaligus menjadi pencerah bagi munculnya kegairahan hidup yang lebih mdernis.

6. Menampilkan revivalitas pendidikan Islam yang tidak saja berorientasi intensif ke dalam, tapi juga bersifat ekstrinsik dan eksoteris, dengan memabangun dan mengembangkan sisi peradaban kemajuan teknologi informasi.39

Dengan memperhatikan aspek-aspek di atas, maka urgensitas Pendidikan Islam sebagai pengejawantahan nilai-nilai al-Qur‟an dan haditsharus diformulasijuga untuk adaptatif terhadap trend era informasi. Sehingga sudah

38 Ziauddin Sardar, Jihad Intelektual Merumuskan Parameter-Parameter Sains Islam, terj. AE Priyono, (Surabaya: Risalah Gusti, 2000), h. 79

39 HAR. Tilaar, Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan: Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, (Bogor : t.p., 1999), h. 3

Buyung Syukron Kontekstualisasi Pendidikan Islam…

selayaknya pendidikan Islam dari dimensi urgensitas diposisikan pada bagaimana membangun pemahaman yang terintegratif. Formulasi urgensitas yang dapat dibangun dan dikembangkan adalah:

Pertama,membangun sinergitas pemahaman tentang betapa pentingnya upaya peningkatan mutu pendidikan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, dan secara kontinyu agar dapat digunakan sebagai wahana dalam membangun pribadi dan watak bangsa (nation character building) serta agar dapat mengelola dan menyesuaikan dengan perkembangan globalisasi melalui arus informasi ini, yang akhirnya pendidikan mampu berkembang secara produktif dan kreatif. Kedua, pendidikan Islam adalah sebagai aset yang paling berharga karena merupakan modal untuk membangun bagsa ini, dan untuk membangun aset tersebut, dibutuhkan peran yang terintegratif dari teknologi informasi sebagai media dan sarananya. Ketiga, pendidikan Islam harus diformulasi dalam upaya mengembangkan manusia Islami yang berkualitas tinggi yang diakui secara universal.

D.Reformulasi Essensi Dan Urgensitas Pendidikan Islam Dalam Era

Dalam dokumen 96islam era kontemporer 1 (Halaman 76-80)