• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implikasi Pendidikan Inklusif Terhadap Pelayanan Konseling

Dalam dokumen 96islam era kontemporer 1 (Halaman 52-58)

PELAYANAN KONSELING

C. Implikasi Pendidikan Inklusif Terhadap Pelayanan Konseling

Definisi pendidikan sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah” “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara”.

Definisi ini memperlihatkan bahwa sesungguhnya pendidikan itu bukan hanya sebuah proses belajar mengajar biasa, namun di dalamnya terkandung tujuan yang amat mulia, yaitu untuk mengembangkan potensi diiri dari peserta didik. Kenapa hal tersebut menjadi penekanan pada UU no 20/2003 ini? Tidak lain adalah karena yang lebih banyak terjadi pada saat ini hanyalah proses belajar mengajar yang sering mengabaikan potensi diri peserta didik. Dan hal tersebut dapat tergambar dari berbagai permasalahan yang ada pada saat ini, dimana terdapat gejala ketidakcerdasan bangsa, antara lain ketidakcerdasan dalam berekonomi, ketidakcerdasan dalam hukum, ketidakcerdasan dalam budaya, ketidakcerdasan dalam bermasyarakat, bahkan ketidakcerdasan dalam beragama, yang semua ketidakcerdasan ini berasal dari tidak digalinya potensi diri peserta didik, tidak disadarinya apa sebenarnya tujuan mulia dari pelaksanaan proses pendidikan tersebut.

Ida Umami Implikasi Pendidikan Inklusi...

Proceding Metro International Conference on Islamic Studies (MICIS) STAIN Jurai Siwo Metro

46

Ada berbagai versi tentang tujuan pendidikan ini, yang semuanya dapat dirangkum dalam satu kalimat yang sangat komprehensif, yaitu untuk memuliakan kemuliaan manusia. Proses pendidikan tersebut diharapkan mampu mengarahkan manusia sesuai dengan apa yang ada pada dirinya, apa yang mampu dilakukannya baik sebagai seorang individu maupun sebagai bagian dari masyarakat. Sebuah tujuannya yang sesungguhnya sangat sakral, yang sama dengan apa yang maksud oleh Allah SWT yang menjadikan manusia sebagai khalifah dimuka bumi ini, yang bukan hanya sebagai yang berkuasa, namun juga sebagai makhluk yang mampu mengayomi dan melindungi apa yang ada disekitarnya. Sementara yang kita lihat sekarang adalah keberadaan manusia, yang telah menjalani proses pendidikan, justru banyak yang melakukan berbagai tindakan pengrusakkan di muka bumi ini, justru tidak mampu mengendalikan berbagai situasi yang dihadapinya secara rasional, bahkan cenderung apatis dengan keadaan di sekitarnya.

Dalam UU No. 20/2003 dinyatakan bahwa pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan tujuan pendidikan. Dengan demikian tugas seorang konselor tidaklah hanya mengajar, tetapi juga mendidik, membimbing, melatih, mengarahkan dan menggerakkan siswa untuk mencapai tujuan luhur pendidikan. Oleh sebab itu seorang guru pemb pembimbing dituntut untuk melaksanakan tugasnya secara profesional tanpa memikirkan kepentingan pihak-pihak tertentu dan tanpa membeda-beda siswa yang menjadi anak didiknya.

Posisi dan kedudukan layanan bimbingan dan konseling semakin kuat dengan tercantumnya konselor sebagai salah satu dari tenaga kependidikan sebagaimana tercantum secara implisit dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003. Ketentuan ini menjadi dasar legal bagi pelaksanaan peran dan fungsi konselor di samping ketentuan-ketentuan lain yang sudah diberlakukan sebelumnya.

Bimbingan dan konseling terutama pada jalur pendidikan formal dewasa ini semakin dirasakan manfaatnya terutama dalam rangka pengembangan diri dan potensi peserta didik. Selain itu, banyak permasalahan yang dialami oleh peserta didik yang tidak dapat diatasi walau hanya dengan proses pembelajaran yang baik sekalipun. Pengentasan permasalahan tersebut akan dapat terlaksana dengan baik dan optimal apabila konselor mampu mewujudkan perannya dengan baik melalui pelaksanaan berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung dalam berbagai bidang bimbingan. Hal ini terutama sekali juga dirasakan oleh anak-anak berkebutuhan khusus yang menempuh pendidikan pada jalur pendidikan formal untuk siswa-siswa normal. Oleh karena itu, peran konselor dalam memberikan pelayanan konseling sangat diperlukan. Untuk

Ida Umami Implikasi Pendidikan Inklusi...

melaksanakan peran tersebut, diperlukan konselor yang memiliki profesionalisme tinggi, yang terwujud melalui wawasan yang luas, pengetahuan yang mendalam, keterampilan yang tinggi, pengamalan nilai-nilai profesi dan kode etik yang mantap serta sikap yang positip terhadap bimbingan dan konseling.

Namun demikian, pada kenyataannya profesionalisme konselor sebagaimana yang diharapkan tersebut masih jauh dari harapan. Fenomena di sekolah menunjukkan adanya gejala-gejala kurang profesionalnya konselor dalam melaksanakan peran dan fungsi utamanya. Hal ini ditandai dengan masih banyaknya konselor yang bertugas sebagai petugas piket/keamanan, praktik peta kelas, mencari pencuri atau praktik polisi sekolah dan sebagainya.

Sekolah merupakan lembaga yang sepenuhnya melaksanakan upaya pelayanan pendidikan kepada peserta didik. Melalui penyelenggaraan proses pembelajaran dengan muatan substansi berbagai mata pelajaran pelayanan pendidikan itu dilaksanakan. Para guru mata pelajaran menggunakan hampir seluruh waktu yang disediakan untuk kepentingan proses pembelajaran. Dalam kaitan proses pembelajaran oleh guru mata pelajaran itu, pertanyaan muncul yaitu: karena guru-guru tersebut melakukan proses pembelajaran (yang adalah pendidikan), apakah itu berarti mereka juga telah melaksanakan pelayanan konseling?

Secara singkat, jawaban atas pertanyaan itu adalah: belum, karena proses pembelajaran yang mereka laksanakan itu belum menggunakan modus-modus pelayanan konseling. Modus-modus pelayanan konseling,. yang berbeda dari modus pengajaran mata pelajaran, akan jelas terlihat pada berbagai jenis layanan konseling dan kegiatan pendukungnya, dengan SKM (standar kompetensi minimal) dan SPO (standar prosedur operasional) nya. Para guru mata pelajaran itu tidak melaksanakan berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung konseling demikian itu.

Jika para guru itu belum melaksanakan pelayanan konseling, pertanyaan berikutnya muncul, yaitu: apa dan bagaimana posisi pelayanan konseling di sekolah? Posisi pelayanan konseling adalah dalam kerangka pengembangan diri peserta didik secara totalitas. Dalam kaitan ini, proses pembelajaran dengan fokus hanya mata pelajaran belum sepenuhnya menjangkau keseluruhan wilayah pengembangan diri peserta didik. Pelayanan konselinglah yang memungkinkan pengembangan diri peserta didik menjadi wajar, total, dan optimal. Dalam kaitan inilah pelayanan pengembangan (yang di dalamnya termasuk kegiatan pengajaran) merupakan pelayanan “pra konseling”. Dengan pelayanan pengembangan yang optimal, masalah-masalah individu yang memerlukan pelayanan konseling akan tercegah dan dikurangi.

Ida Umami Implikasi Pendidikan Inklusi...

Proceding Metro International Conference on Islamic Studies (MICIS) STAIN Jurai Siwo Metro

48

dengan tuntutan akan profesionalisasi pelayanan konseling yang semakin gencar, kental dan mengkristal. Pelayanan ini terarah untuk semua sasaran layanan pada setting sekolah, maupun luar sekolah yang secara keseluruhan mencakup spektrum yang amat luas. Pelayanan ini tidak lain ialah untuk mengembangkan diri individu secara total dan optimal demi kehidupan yang membahagiakan. Oleh karena itu, berbagai upaya harus segera dilakukan untuk memenuhi tuntutan profesionalisme konselor di atas, sehingga konselor memiliki daya potensial optimal dan upaya maksimal sebagai bagian integral dalam pencapaian tujuan pendidikan.

Dalam Pendidikan inklusif, pelayanan konseling berada di dalam keseluruhan pelayanan bagi perkembangan dan kebahagiaan hidup kemanusiaan. Dengan berbagai potensi, kebutuhan dan kondisi dirinya, setiap individu dikehendaki untuk berkembang secara optimal, menjalani dan mencapai taraf kehidupan yang bermartabat serta membahagiakan. Untuk terwujudnya hal-hal yang dimaksudkan itu diperlukan berbagai pelayanan.

Ada tiga tingkatan pelayanan secara menyeluruh, yaitu pelayanan dasar, pelayanan pengembangan, dan pelayanan bantuan teraputik. Pelayanan dasar dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan dasar individual agar eksistensi kehidupan terjamin. Pelayanan pengembangan dimaksudkan agar individu berkembang dan terhindar dari berbagai permasalahan yang mungkin timbul, serta terbukanya kesempatan bagi perkembangan potensi dan masa depan. Dengan pelayanan dasar dan perkembangan yang memadai individu akan dapat berkembang dan menjalani kehidupannya secara minimal wajar. Dengan pelayanan demikian, timbulnya masalah dapat tercegah seminimal mungkin.

Pelayanan bantuan teraputik termasuk untuk anak-anak berkebutuhan khusus dalam oendidikan inklusif, hanya diperlukan apabila individu mengalami masalah (dalam eksistensi dan perkembangan kehidupannya sehari-hari) yang benar-benar mengganggu atau serius. Pelayanan bantuan teraputik dimaksudkan untuk mengentaskan permasalahan tersebut dan mengembalikan individu ke perkembangan yang wajar dan kehidupan yang efektif.

Secara khusus, pelayanan konseling berada pada pelayanan bantuan teraputik. Meskipun demikian, pelayanan konseling juga berperanan dalam pelayanan pengembangan, bahkan dalam pelayanan dasar. Untuk ini diperlukan pendekatan dan teknik-teknik pelayanan yang benar-benar profesional guna menjamin suksesnya pengentasan masalah (dalam pelayanan bantuan teraputik), serta mencegah timbul dan berkembangnya masalah pada tingkat pelayanan dasar dan pelayanan pengembangan.

D.Simpulan

Pendidikan inklusif sebagai sebuah program pendidikan yang diusung guna mencapai tujuan Pendidikan untuk Semua (Eduacation for All), pada

Ida Umami Implikasi Pendidikan Inklusi...

dasarnya mengajak kita untuk kembali menggali dan merenungkan apakah proses pembelajaran yang kita laksanakan selama ini telah berjalan sesuai dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Tuntutan-tuntutan terhadap sikap, metode dan teknik mengajar yang diterapkan oleh seorang guru bukanlah merupakan hal-hal baru yang memang seharusnya dikuasai oleh guru.

Namun demikian, dengan dituntutnya pelaksanaan pendidikan inklusif ini, mau tidak mau LPTK harus lebih serius dalam menangani proses pendidikan calon guru, baik secara teoritis (MKDK) maupun praktis (PPL). Dengan lebih beragamnya siswa, menuntut keterampilan, keahlian dan kepribadian guru yang lebih matang dan profesional dalam memandu proses pembelajaran. Dan jika perlu, LPTK, seperti yang disarankan oleh Skjorten, harus berani melakukan perubahan yang radikal dalam menyiapkan guru-guru yang mampu menjawab tantangan pendidikan inklusif ini. Sementara dalam perspektif profesionalisme, kode etik guru yang menjadi panduan bagi guru dalam melaksanakan tugasnya pada prinsipnya sejalan dengan tuntutan penyelenggaraan pendidikan inklusif.

Sebagai penutup dapat dikemukakan bahwa konselor yang profesional harus menguasai tiga tingkatan pelayanan secara menyeluruh, yaitu pelayanan dasar, pelayanan pengembangan, dan pelayanan bantuan teraputik. Konselor sebagai pendidik juga harus mampu menerapkan kaidah-kaidah keilmuan pendidikan melalui modus pelayanan konseling dengan sisi kekhususan pelayanan konseling secara amat kental diwarnai oleh kaidah-kaidah psikologi dan unsur-unsur budaya pihak-pihak yang dilayani. Oleh karena itu, paradigma konseling dilukiskan sebagai: pelayanan psikopaedagogik dalam bingkai budaya. Seorang konselor harus senantiasa mau dan mampu meningkatkan wawasan, pengetahuan, nilai-nilai, dan sikap (WPKNS) terhadap layanan bimbingan dan konseling, baik melalui pelatihan, seminar, lokakarya, temu ilmiah maupun melakukan diskusi-diskusi dengan teman sejawat tentang bimbingan dan konseling.

Daftar Pustaka

Mitchell, D. 1994. Inclusive Education in Asia : Policies, Problems and Possibilities. Hamilton: Univ. in Waikato, School of Education PP no. 39/1992

Peters, Susan.J. 2003. Inclusive Education: An EFA Strategy for All Children. World Bank. www.worldbank.org

Peters, Susan.J. 2004. Inclusive Education: Achieving Education for All by including those with disabilities and special education needs. World Bank. www.worldbank.org

Prayitno. 2002. Hubungan Pendidikan. Padang: UNP

Prayitno. 2004. Esensi Ilmu Pendidikan dalam Institusi Pendidikan. Seminar dan Lokakarya Pengembangan dan Implementasi Ilmu Pendidikan di LPTK, Padang 29-31 Maret 2004

Ida Umami Implikasi Pendidikan Inklusi...

Proceding Metro International Conference on Islamic Studies (MICIS) STAIN Jurai Siwo Metro

50

Pengembangan dan Implementasi Ilmu Pendidikan di LPTK, Padang 29-31 Maret 2004.

Skjorten,M.D. 2003. Menuju Inklusi dan Pengayaan. Dalam Pendidikan Kebutuhan Khusus, Sebuah Pengantar. Johnsen(ed.). Seri Menuju Inklusi I. UPI Bandung.

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (1989) UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

PERAN PENDIDIKAN AGAMA DI ERA MULTIKULTURALISME

Dalam dokumen 96islam era kontemporer 1 (Halaman 52-58)