• Tidak ada hasil yang ditemukan

Reformulasi Essensi Dan Urgensitas Pendidikan Islam Dalam Era Transformasi Infromasi

Dalam dokumen 96islam era kontemporer 1 (Halaman 80-83)

KONTEKSTUALISASI REFORMULASI PENDIDIKAN ISLAM

D. Reformulasi Essensi Dan Urgensitas Pendidikan Islam Dalam Era Transformasi Infromasi

Era transformasi informasi yang berkembang saat ini tidak mungkin untuk ditolak eksistensinya, sebab era tersebut merupakan keniscayaan yang harus dihadapi oleh semua pihak termasuk pendidikan Islam. Melihat realitas seperti yang tertulis di atas, maka dibutuhkan solusi yang konstruktif dalam rangka menata atau merekonstruksi kembali seluruh komponen pendidikan Islam. Reformulasi atau dengan kata lain penataan kembali pendidikan Islam bukan sekedar modifikasi atau tambal sulam, tapi memerlukan rekonseptualisasi dan reorientasi, sehingga pendidikan Islam dapat memberikan sumbangan besar bagi pencapaian tahap tinggal landas.

Secara komprehensif, ada beberapa tawaran yang bersifat konstruktif yang dapat dijadikan sebagai alternatif terbaik dalammemformulasi pendidikan Islam agar memiliki kecenderungan dan kemampuan bersaing dalam era transformasi informasi.Konstruksivitas argumentatif-solutif yang dapat dijadikan sebagai agenda ke depan bagi pendidikan Islam dalam upaya membangun pendidikan yang aware dan care terhadap transformasi informasi dari aspek essensi dan urgensitas dapat dimuali dari

Pertama, perlu pengkajian ulang terhadap sistem pendidikan Islam yang saat ini berjalan dengan tetap mengedepankan semangat ajaran Islam. Bahwa semangat tersebut harus diwujudkan dalam bentuk upaya mendialogkan kembali teks-teks suci keagamaan terhadap setiap kenyataan yang terjadi dalam semangat globalisasi transformasi informasi.Konsep pendidikan Islam tersebut atau yang disebut juga multi cultural education sudah mulai dan selayaknya diorientasikan pada implementasi pendidikan Islam yang memiliki padangang

Buyung Syukron Kontekstualisasi Pendidikan Islam…

Proceding Metro International Conference on Islamic Studies (MICIS) STAIN Jurai Siwo Metro

74

pemahaman tentang dunia kepada seluruh komponen yang terlibat di dalamnya, dengan menekankan pada saling keterkaitan antar budaya, umat manusia dan planet bumi.

Kedua, Pendidikan Islam harus mulai menekankan arti penting tentang berfikir kritis dengan fokus substansi pada hal-hal yang mendunia yang semakin bercirikan interpendensi, serta bertujuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, skill, dan sikap yang diperlukan untuk hidup di dunia yang sumber dayanya kian menipis, ditandai keragaman etnis, pluralisme budaya dan saling ketergantungan.

Ketiga, mempersiapkan sumberdaya manusia yang lebih matang dan berkualitas berbekal kemampuan komprehensif.

Keempat, memperteguh kembali peran seluruh elemen dalam pendidikan Islam yaitu, individu, keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan Islam dan negara.

Kelima, perlunya menyatukan spiritual Islam dengan Ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai basis yang kuat untuk menghadapi arus globalisasi yang semakin menghimpit, sebab dalam tradisi intelektual Islam, ada suatu hierarki dan kesalinghubungan antarberbagai disiplin ilmu yang memungkinkan realisasi kesatuan (keesaan) dalam kemajemukan, bukan hanya dalam wilayah iman dan pengalaman keagamaan, tetapi juga dalam dunia pengetahuan. Sebagaimana kita ketahui, ditemukannya tingkatan dan hubungan yang tepat antar-berbagai disiplin ilmu merupakan obsesi para tokoh intelektual Islam terkemuka, dari teolog hingga filosof, dari sufi hingga sejarawan, yang banyak di antara mereka mencurahkan energi intelektualnya pada masalah klasifikasi ilmu.

Keenam, membangun jaringan pendidikan Islam dari skala lokal, nasional dan global sebagai bentuk komunikasi aktif dan sharing informasi antar negara tentang perkembangan pendidikan Islam diseluruh belahan bumi ini, sehingga tidak terjadi ketimpangan konsepsi dan pandangan terhadap pendidikan Islam.

Ketujuh, mempertahankan potensi culture lokal yang dimiliki masyarakat sekaligus jembatan komunikasi dengan tetap memegang teguh semangat keislaman.

Sustainabilty (Keberlanjutan) nyata atas apa yang penulis uraikan di atas, maka dalam mereformulasi essensi dan urgensitas pendidikan Islam agar menjadi pendidikan Islam yang modern dan dapat menjadi solusi dalam berbagai persoalan kehidupan yang saat ini di alami oleh umat Islam, maka upaya reformulasi tersebut dimulai dari me-review atau bahkan merubah essensidan urgensitas pendidikan Islam dari sebuah “tampilan” wajah yang tradisional-konvensional, menjadipendidikan Islam dengan performance yang lebih modernis dan dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam.

Reformulasi essensi dan urgensitas harus diorientasikan dalam upaya membangun pendidikan Islam berwawasan global, modern, fleksibel dan

Buyung Syukron Kontekstualisasi Pendidikan Islam…

dinamis40. Memang bukan sebuah perkara yang mudah untuk melakukan reformulasi ini, apalagi menyangkut essensi dan urgensitas sebagai ruh dari pendidikan Islam itu sendiri. Karena pada waktu yang bersamaan pula, pendidikan Islam memiliki kewajiban untuk melestarikan dan menanamkan nilai-nilai ajaran Islam, sementara disisi lain pendidikan Islam secara essensial dan urgensitas diharapkan juga mampu memiliki karakter kuat berbasis modernitas sebagai imbas dari transformasi informasi yang mau tidak mau harus diintegrasikan dan diimplementasikan dalam sistem, struktur, proses, dan prosedur pendidikan Islam itu sendiri. Dan ini tentu saja harus menjadi sebuah budaya.

Dengan melihat peta konsep dikhotomis sebagaimana dikemukakan di atas, maka pendapat Hujair AH. Sanaky41 patut kita fikirkan. Menurutnya ada tiga langkah yang harus dilakukan untuk memformulasikan kembali pendidikan Islam sebagaimana mestinya, yaitu :

1. Lembaga-lembaga pendidikan Islam perlu mendesain ulang fungsi pendidikannya, dengan memilih apakah :

a. Model pendidikan yang mengkhususkan diri pada pendidikan keagamaan saja sudah sesuai dengan perubahan zaman,

b. Model kurikulumnya sudah integratif antara materi-materi pendidikan umum dan agama

c. Model pendidikan sekuler modern dan mengisinya dengan konsep-konsep Islam,

d. Menolak apapun produk pendidikan barat

e. Pendidikan agama tidak dilaksanakan di sekolah-sekolah tetapi dilaksanakan di luar sekolah.

2. Pendidikan harus diarahkan pada dua dimensi, yakni :

a. Dimensi dialektika (horisontal), pendidikan hendaknya dapat mengembangkan pemahaman tentang kehidupan manusia dalam hubungannya dengan alam atau lingkungan sosialnya. Manusia harus mampu mengatasi tantangan dan kendala dunia sekitarnya melalui pengembangan Iptek, dan

a. Dimensi ketundukan vertikal, pendidikan selain menjadi alat untuk memantapkan, memelihara sumber daya alami, juga menjembatani dalam memahamai fenomena dan misteri kehidupan yang abadi dengan maha pencipta. Berati pendidikan harus disertai dengan pendekatan hati.

Untuk menghindari terjadinya gesekan paradigma dan stigma negatif dalam upaya mereformulasi essensi dan urgensitas pendidikan Islam yang berwawasan transformasi informasi, maka pendidikan Islam harus benar-benar

Buyung Syukron Kontekstualisasi Pendidikan Islam…

Proceding Metro International Conference on Islamic Studies (MICIS) STAIN Jurai Siwo Metro

76

melaksanakannya dengan langkah-langkah yang terencana dan

strategis.Langkah-langkah kosntruktif tersebut, sebagai berikut.

a. Membangun essensi dan urgensitas pendidikan Islam yang berpijak pada sebuah desain dengan mempertimbangkan konsep ilmu pengetahuan, Islamisasi ilmu pengetahuan42 dan karakter ilmu dalam perspektif Islam yang tidak saja bersandar pada kekuatan spiritual yang memiliki hubungan harmonis antara akal dan wahyu, interdependensi akal dengan intuisi dan terkait nilai-nilai spiritual, tetapi juga atas dasar perkembangan dan tuntutan zaman. Essensi dan urgensitas pendidikan Islam seperti ini, menjadi tumpuan harapan dalam membangun kehidupan umat Islam yang lebih baik dengan suatu peradaban Islam yang lebih mapan dan stabil. Reformulasi Essensi dan urgensitas pendidikan Islam sepertiini harus diorientasikan danditekankan pada bangunan totalitas yang didasarkan atas pengalaman dan kenyataan (empirisme) serta menganjurkan banyak cara untuk mempelajari alam (rasionalisme), sehingga ilmu yang diperoleh mampu memberikan keseimbangan antara intelektual, skill, dan spiritual serta moralitasnya.

b. Reformulasi essensi dan urgensitas pendidikan Islam selain berbasis proses tauhid, juga memprirotaskan empiric experience43, di mana dari realitas empirik ini kemudian diamati, dikaji, dan diteliti dengan mengandalkan metode observasi dan eksperimentasi. Langkah ini menekankan bahwareformulasi essensi dan urgensitas pendidikan Islam harus dimaknai sebagai proses,

42 Paradigma ini pertama kali di-launching oleh Ismail Rajil Al-Faruqi dari lembaga Pemikiran Islam Internasional (International Institute of Islamic Thought) di Amerika Serikat menjelang 1980-an. Hal yang sama juga dilakukan olehSyed Muhammad Naquib Al-Attas (Malaysia), Fazlur Rahman (Pakistan), dan belakangan

43 Ziauddin Sardar, Jihad Intelektual..., h. 85. Paradigma ini berangkat dari postulat bahwa prinsip asasi dalam pendidikan Islam adalah “tidak menyekutukan Allah” (tauhid). Dengan asas ini pada hakikatnya memerdekakan manusia dari otoritas-otoritas selain Allah. Pemerdekaan manusia semacam ini dapat menumbuhkan semangat dinamis dan kreatif dalam diri peserta didik, sehingga memiliki kemampuan potensial untuk menjadi khalifah di muka bumi. Melalui asas tersebut peserta didik dapat mengembangkan kepribadian di atas kesadarannya yang fitri dan

hanif, sehingga di dalam dirinya tertanam jihad, dalam arti mampu mengubah tatanan dunia fisik dan mengembangkan intelektualnya sendiri dalam menjawab dunia yang senantiasa berubah.

KonstruksiI

•Membangun Konsep Ilmu Pegetahuan,

Dalam dokumen 96islam era kontemporer 1 (Halaman 80-83)