• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.5 Pengolahan dan Analisis Data

4.5.2 Estimasi Nilai Kerugian Ekonomi akibat Banjir Rob

Nilai kerugian ekonomi akibat banjir rob yang dihitung dalam penelitian ini adalah kerugian langsung (direct) dan kerugian tidak langsung (indirect). Kerugian

direct meliputi biaya kehilangan peralatan rumah tangga dan biaya perbaikan bangunan rumah maupun peralatan rumah tangga. Kerugian indirect mencakup biaya pengobatan yang terdiri dari biaya kesehatan (biaya pengobatan dan kehilangan pendapatan karena sakit), kehilangan pendapatan karena memilih tidak pergi bekerja serta perubahan pendapatan dari usaha tambak. Berikut metode- metode yang digunakan untuk menghitung kerugian dalam penelitian ini:

4.5.2.1Biaya Perbaikan

Kerugian ini dilihat dari biaya yang ditanggung oleh responden dihitung dari pengeluaran sejumlah uang untuk melakukan perbaikan kerusakan bangunan rumah dan peralatan rumah tangga akibat genangan banjir rob. Biaya perbaikan ini diestimasi menggunakan metode pendekatan harga pasar. Kerusakan bangunan yang dimaksud meliputi pintu, jendela, lantai dan kusen. Kerusakan peralatan rumah tangga yang dimaksud adalah furnitur (tempat tidur, kursi, dan lemari) serta lemari es. Besar biaya rata-rata untuk upaya perbaikan bangunan rumah dan peralatan rumah tangga dapat diperoleh melalui persamaan berikut (Setyaningrum 2012):

BB = ∑BBin i=1

Keterangan:

BB = Rata-rata biaya perbaikan (Rp/KK)

BBi = Biaya perbaikan yang dilakukan responden i (Rp) n = Jumlah responden (KK)

i = Responden ke-i (1, 2, 3, …, n)

4.5.2.2 Biaya Kehilangan

Kerugian ini dilihat dari peralatan rumah tangga yang mengalami kerusakan dan tidak bisa digunakan kembali sesuai fungsinya. Metode yang digunakan adalah pendekatan harga pasar sebenarnya. Biaya kehilangan peralatan rumah tangga yang dialami oleh masyarakat dapat dilihat dari harga pembelian awal dan tahun kehilangan peralatan rumah tangga tersebut. Biaya kehilangan ini dihitung menggunakan Indeks Harga Konsumen (IHK) dengan tahun dasar 2007 = 100. Alasan menggunakan IHK dengan tahun dasar 2007 adalah karena untuk konsistensi keseragaman tahun dasar IHK. IHK tahun dasar 2007 sudah diterapkan mulai tahun 2006 bulan Oktober. Penggunaan metode ini untuk mencari nilai riil dari biaya kehilangan pada setiap tahun.

Perhitungan rata-rata biaya kehilangan responden diperoleh dengan cara membagi total biaya kehilangan dengan jumlah responden yang menderita kerusakan peralatan rumah tangga. Nilai rata-rata biaya kehilangan dapat dilihat pada persamaan berikut (Setyaningrum 2012):

BK = ∑BKin i=1

… … … . . … … … . Keterangan:

BK = Rata-rata biaya kehilangan properti (Rp/KK) BKi = Biaya kehilangan yang dialami responden ke-i (Rp) n = Jumlah responden (KK)

i = Responden ke-i (1, 2, 3, … , n)

4.5.2.3 Biaya Kesehatan

Kerugian ekonomi lainnya dari banjir rob yaitu kerugian kesehatan. Kerugian kesehatan adalah sejumlah biaya yang dikeluarkan responden untuk mengobati penyakit yang berasal dari genangan banjir rob dan hilangnya ... (4.2)

pendapatan responden akibat tidak bekerja karena sakit. Kerugian ini diestimasi menggunakan pendekatan modal manusia (Human Capital Approach) yaitu biaya kesehatan. Biaya kesehatan masyarakat diperoleh dari penjumlahan hilangnya pendapatan karena sakit dengan biaya pengobatan dapat dilihat pada persamaan berikut (Setyaningrum 2012):

C = P + BO ... (4.3) Keterangan:

C = Biaya kesehatan (Rp)

P = Pendapatan yang hilang (Rp) BO = Biaya pengobatan (Rp)

4.5.2.3.1 Biaya Pengobatan

Biaya pengobatan adalah pengeluaran sejumlah biaya responden untuk pengobatan akibat penyakit yang diderita dari genangan air banjir rob. Biaya pengobatan yang ditanggung responden merupakan biaya yang dikeluarkan responden untuk mengobati sakit atau anggota keluarga responden yang menderita sakit yang menjadi tanggungan responden. Biaya pengobatan dihitung dari biaya kunjungan ke puskesmas desa. Biaya pengobatan yang dikeluarkan responden dapat dilihat pada persamaan berikut (Setyaningrum 2012):

BO = ∑BOin i=1

… … … . … … … . Keterangan:

BO = Rata-rata biaya pengobatan (Rp/KK)

BOi = Biaya pengobatan yang dilakukan responden i (Rp) n = Jumlah responden (KK)

i = Responden ke-i (1, 2, 3, … ,n)

4.5.2.3.2 Nilai Pendapatan yang Hilang

Kerugian ini dilihat dari responden yang mengalami kehilangan pendapatan harian karena sakit akibat banjir rob. Kerugian ini diestimasi dengan pendekataan cost of time. Cost of time adalah kerugian responden yang tidak pergi bekerja karena menderita sakit. Nilai rata-rata kerugian dari hilangnya pendapatan responden selama banjir dihitung menggunakan persamaan sebagai berikut (Setyaningrum 2012):

P = ∑[ � � ��� ] =1

… … … . Keterangan:

P = Hilangnya pendapatan responden tidak dapat bekerja (Rp/KK) JHTKi = Jumlah hari tidak bekerja responden ke i (hari)

TPRi = Pendapatan responden ke i per hari (Rp/hari) n = Jumlah responden (KK)

i = Responden ke-i (1, 2, 3, … ,n)

4.5.2.4Pendapatan yang Hilang

Kerugian selanjutnya adalah kehilangan pendapatan harian masyarakat akibat banjir yang menghalangi mereka untuk bekerja. Kerugian ini diestimasi melalui pendekatan pendapatan yang hilang atau Loss of Income. Pendapatan yang hilang ini merupakan pendapatan harian yang tidak responden dapatkan karena responden memilih untuk tidak bekerja selama banjir. Berikut persamaan yang digunakan dalam perhitungan (Setyaningrum 2012):

HP = ∑[PRi x LBi]n i=1

… … … . Keterangan:

HP = Hilangnya pendapatan per responden (Rp/KK)

PRi = Pendapatan harian yang hilang pada responden ke-i (Rp/hari) LB = Lama tidak bekerja (hari)

n = Jumlah responden (KK) i = Responden ke-i (1, 2, 3, …, n)

4.5.2.5Analisis Pendapatan Usaha Tambak

Kerugian lain yang dirasakan oleh masyarakat yang menggantungkan sumber penghidupannya dari usaha tambak, banjir rob menyebabkan pendapatan dari usaha tambak menjadi berkurang. Perubahan pendapatan dari usaha tambak ini merupakan pengurangan antara pendapatan usaha tambak saat tidak banjir rob dengan pendapatan usaha tambak saat banjir rob. Penerimaan usaha tambak dihitung berdasarkan hasil produksi tambak ikan bandeng dan udang windu ... (4.5)

dikalikan dengan harga jual ikan bandeng dan udang windu. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut (Soekartawi 1995):

∆I = I1 – I2 ... (4.7) I1/2 = TR – TC ... (4.8) TR = y . Py ... (4.9) TC = x . Pxi ... (4.10) Keterangan: ∆I = Perubahan pendapatan (Rp)

I1 = Pendapatan saat tidak banjir rob (Rp) I2 = Pendapatan saat banjir rob (Rp) TR = Total Penerimaan (Rp)

TC = Total Biaya (Rp)

y = Hasil panen ikan bandeng dan udang windu (kg) Py = Harga jual ikan bandeng dan udang windu (Rp) xi = Jumlah faktor produksi (i = 1,2, ..., n)

Pxi = Harga faktor produksi (Rp)

4.5.3 Biaya Pencegahan

Biaya ini merupakan biaya yang dikeluarkan responden untuk melakukan pencegahan terhadap banjir rob. Biaya pencegahan diestimasi melalui biaya yang dikeluarkan untuk melakukan tindakan pencegahan pada bangunan tempat tinggal responden dalam rangka melindungi rumah tangga responden dari penurunan kesejahteraan. Besar biaya rata-rata untuk upaya pencegahan tersebut dapat diperoleh melalui persamaan (Setyaningrum 2012):

�� = ∑�� =1

… … … . … … … . Keterangan:

BP = Rata-rata biaya pencegahan (Rp/KK) BPi = Biaya pencegahan responden ke-i (Rp) n = Jumlah responden (KK)

i = Responden ke-i (1, 2, 3, …, n)

Biaya pencegahan yang dikeluarkan masyarakat dihitung menggunakan indeks harga konsumen dengan tahun dasar 2007 = 100. Penggunaan metode ini untuk mencari nilai riil dari biaya pencegahan pada setiap tahun.

4.5.4 Identifikasi Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan Masyarakat untuk MelakukanTindakan Pencegahan terhadap Banjir Rob

Tindakan pencegahan yang akan dilihat dalam penelitian ini adalah berupa peninggian lantai rumah maupun pembuatan tanggul di depan rumah (PEN) yang diasumsikan dapat mewakili tindakan pencegahan yang dilakukan oleh rumah tangga secara keseluruhan. Adapun faktor-faktor yang diduga mempengaruhi keputusan masyarakat dalam melakukan tindakan pencegahan terhadap banjir rob adalah total kerugian ekonomi (TKE), pendapatan rumah tangga (PDT), tingkat pendidikan (PDK), lama tinggal (LMT), dan kekhawatiran masyarakat terhadap datangnya banjir rob (KWM). Berdasarkan faktor-faktor yang diduga mempengaruhinya, maka model logit dapat dijabarkan sebagai berikut:

Ln �

1−� = PENi = β0 + β1 TKE + β2 PDT + β3 PDK + β4 LMT + β5 KWM ... (4.12) Keterangan:

Pi = Peluang keputusan penduduk untuk melakukan tindakan pencegahan 1 – Pi = Peluang penduduk untuk tidak melakukan tindakan pencegahan PENi = Keputusan penduduk untuk melakukan tindakan pencegahan

β₀ = Intersep

βi = Parameter peubah Xi i = Peubah ke-i (1,2,3,...,n) TKE = Total kerugian ekonomi (Rp) PDT = Pendapatan rumah tangga(Rp) PDK = Tingkat pendidikan (tahun) LMT = Lama tinggal (tahun)

KWM = Kekhawatiran masyarakat terhadap terjadinya banjir rob 1 = Dummy (khawatir)

0 = Dummy (tidak khawatir)

Berikut ini adalah hipotesis dari faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan penduduk dalam melakukan tindakan pencegahan terhadap banjir rob:

1. Total kerugian ekonomi

Variabel total kerugian ekonomi yang dirasakan suatu rumah tangga diharapkan akan bernilai positif. Semakin tinggi total kerugian ekonomi yang dialami suatu rumah tangga akibat banjir rob, maka rumah tangga tersebut diharapkan akan lebih mudah untuk melakukan tindakan pencegahan terhadap banjir rob.

2. Pendapatan rumah tangga

Variabel tingkat pendapatan suatu rumah tangga diharapkan akan bernilai positif. Semakin tinggi tingkat pendapatan suatu rumah tangga, maka rumah tangga tersebut diharapkan akan lebih mudah untuk mengeluarkan biaya-biaya yang terkait dengan upaya mereka untuk mencegah dampak negatif terhadap banjir rob.

3. Tingkat pendidikan

Variabel tingkat pendidikan kepala keluarga dalam suatu rumah tangga diharapkan akan bernilai positif. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditempuh oleh suatu kepala keluarga dalam rumah tangga, diharapkan kepala keluarga tersebut akan lebih memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap resiko terjadinya banjir rob pada keluarganya.

4. Lama tinggal

Variabel lama tinggal diharapkan akan bernilai positif. Semakin lama suatu rumah tangga tinggal di lokasi yang sering mengalami banjir rob, maka diharapkan rumah tangga tersebut akan memiliki pengetahuan atau pemahaman yang lebih baik mengenai banjir rob dan biasanya telah memiliki strategi tertentu untuk menghindari dampak negatif sehingga akan melakukan tindakan pencegahan terhadap banjir rob.

5. Kekhawatiran masyarakat terhadap banjir rob

Variabel kekhawatiran rumah tangga terhadap banjir rob diharapkan akan bernilai positif terhadap keputusan rumah tangga untuk melakukan tindakan pencegahan. Masyarakat yang sangat khawatir terhadap terjadinya banjir rob diharapkan akan lebih cenderung untuk melakukan tindakan pencegahan dibandingkan yang sedikit atau sama sekali tidak khawatir terhadap terjadinya banjir rob.

4.5.5 Identifikasi Strategi Adaptasi terhadap Banjir Rob

Identifikasi strategi adaptasi terhadap banjir rob menggunakan Metode Perbandingan Eksponensial (MPE). Marimin (2004) menyatakan bahwa Metode Perbandingan Eksponensial merupakan salah satu metode untuk menentukan urutan prioritas alternatif keputusan dengan kriteria jamak atau disebut juga sebagai model keputusan berbasis indeks kerja. tahapan yang harus dilakukan, yaitu: 1. Menyusun alternatif-alternatif keputusan yang akan dipilih.

Hasil identifikasi literatur dan wawancara kepada stakeholder diperoleh beberapa alternatif adaptasi untuk meminimalisir dampak banjir rob, yaitu penanaman dan perawatan mangrove di sekitar pantai, pembuatan Alat Pemecah Ombak (APO), pembuatan Tembok Penahan Tanah (TPT) di sepanjang sungai, serta relokasi tempat tinggal. Alternatif adaptasi yang didapat dari pemerintah adalah penanaman dan perawatan mangrove, pembuatan TPT, pembuatan APO. 2. Menentukan kriteria atau perbandingan kriteria keputusan yang penting untuk

dievaluasi.

Berdasarkan hasil wawancara dengan stakeholder diperoleh empat kriteria keputusan yang menjadi dasar pengambilan kebijakan dalam strategi adaptasi untuk banjir rob. Masing-masing kriteria keputusan tersebut adalah kesesuaian dengan SDM lokal, ketersediaan dana, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kegiatan adaptasi dan efektivitas teknis. Tabel matriks keputusan dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Matriks keputusan dengan Metode Perbandingan Eksponensial (MPE)

No Alternatif Kriteria Nilai Rangking Kesesuaian dengan SDM lokal Ketersediaan dana Waktu Efektivitas teknis 1 Penanaman dan perawatan mangrove 2 Pembuatan alat pemecah ombak 3 Pembuatan tembok penahan tanah di sepanjang sungai 4 Relokasi tempat tinggal Bobot

3. Menentukan tingkat kepentingan dari setiap kriteria keputusan atau pertimbangan kriteria.

Penentuan tingkat kepentingan kriteria dilakukan dengan cara wawancara dengan stakeholder. Tingkat kepentingan ditentukan dengan menentukan besarnya bobot dari masing-masing kriteria yang ada. Angka pembobotan ditentukan berdasarkan skala ordinal dengan skala 1 sampai 3. Bobot 1 berarti kriteria tersebut tidak penting, bobot 2 jika kriteria penting dan bobot 3 berarti sangat penting (Ruswandi et al. 2008).

4. Melakukan penilaian terhadap semua alternatif pada setiap kriteria 5. Menghitung skor atau nilai total setiap alternatif

6. Menentukan urutan prioritas keputusan didasarkan pada skor atau nilai total masing-masing alternatif.

Penentuan skor alternatif pada kriteria tertentu dilakukan dengan memberi nilai setiap alternatif berdasarkan nilai kriterianya. Semakin besar nilai alternatif, semakin besar pula skor alternatif tersebut. Total skor masing-masing alternatif keputusan akan relatif berbeda secara nyata karena adanya fungsi eksponensial. Formulasi perhitungan nilai untuk masing-masing alternatif dalam metode perbandingan eksponensial adalah sebagai berikut (Marimin 2004):

TNi = ∑ RKij �� =1

… … … . … … … . Keterangan:

TNi = Total nilai alternatif ke-i

RK ij = Derajat kepentingan relatif kriteria ke-j pada pilihan keputusan i TKK j = Derajat kepentingan dari kriteria keputusan ke-j; TKK > 0; bulat n = Jumlah pilihan keputusan

m = Jumlah kriteria keputusan

Dokumen terkait