• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GAMBARAN UMUM LEMBAGA Bab ini berisi tentang gambaran secara

A. Landasan Teori

2.1 Evaluasi Program

2.1.3 Evaluasi Dampak

Evaluasi dampak berfokus pada sejauh mana suatu kebijakan program menyebabkan perubahan yang dikehendaki. Tujuan dari penelitian evaluasi dampak yaitu mengukur efektifitas suatu program dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dalam hal ini jika program dikatakan berdampak jika tujuan dan sasaran yang dikehendaki mengalami perubahan.

World Bank Independen Evaluation Group (IEG) menjelaskan bahwa evaluasi dampak merupakan identifikasi sistematis tentanng efek positif atau negative dengan atau tidaknya dari seorang dalam rumah tangga, institusi, dan

37

lingkungan yang disebabkan oleh sebuah intervensi program sebelumnya.

Evaluasi dampak atau sumatif digunakan utuk mengukur dan menilai keluaran serta akibat serta adanya pengaruh yang dihasilkan dari adanya suatu intervensi program. Dengan menilai dan mengetahui seberapa efektif suatu program dalam mencapai tujuan yang ditetapkan sebelumnya.

Evaluasi dampak berfokus kepada keadaan sebelum dan sesudah intervensi program. Menurut Friensterbuch dan Motz evaluasi single before after mencoba mengkaji kondisi masyarakat sebelum dan sesudah pelaksanaan program serta melaksanakan pembanding sehingga nantinya akan diketahui pengaruh program tersebut atau dampaknya terhadap kelompok masyarakat sasaran.

2.1.4 Dampak Program a. Dampak Sosial

Teori Perubahan sosial sebagai dasar awal mula dalam munculnya teori tentang dampak sosial ekonomi.

Perubahan sosial menurut Wiryohandoyo dalam (Agustina and Octaviani 2017,155) adalah suatu bentuk peradaban manusia akibat dari perubahan alam, biologis, fisik yang terjadi dalam kehidupan manusia. Selain itu, perubahan sosial yang terjadi menurut Davis merupakan

38

perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat. Selo Soemardjan juga menyatakan bahwa perubahan sosial sebagai segala perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat yang dapat mempengaruhi sistem sosialnya termasuk didalamnya yaitu nilai, sikap, dan pola-pola perilaku diantara kelompok dalam masyarakat.

Dampak sosial merupakan sebuah bentuk akibat atau pengaruh yang terjadi karena suatu hal. Dalam hal ini pengaruh yang berakibat pada masyarakat, baik karena adanya suatu kejadian yang mempengaruhi masyarakat atau hal lain didalam masyarakat (Rodhiyah 2015,5). Dampak sosial merupakan perubahan yang terjadi pada hubungan atau interaksi antar individu setelah adanya suatu peristiwa atau program (Kurnia et al. 2020,33).

Dampak sosial juga diartikan sebagai perubahan yang terjadi dalam hubungan antara anggota masyarakat yang menimbulkan bentuk kerja sama ataupun perselisihan yang menunjukan keseimbangan dalam interaksi sosial.

Interaksi sosial menurut Bimo dalam (Wawan et al. 2017,10), merupakan hubungan antara individu satu dengan yang lainya dimana individu mempengaruhi individu yang lainya sehingga terdapat hubungan timbal

39

balik. Selain itu, hubungan tersebut dapat antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok. Interaksi sosial juga merupakan hubungan timbal balik antar dua atau lebih individu manusia, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya.

Dari penjelasan diatas bahwa interaksi sosial dapat dijelaskan yaitu hubungan timbal balik yang dinamis antara sesama individu, atau kelompok manusia yang diawali dengan adanya komunikasi sehingga terjadi adanya suatu perubahan tingkah laku pada individu.

Interaksi sosial dibagi menjadi dua yaitu interkasi asosiatif dan disosiatif. Interaksi asosiatif menurut Setiadi & Kolip (2011) adalah proses sosial yang dalam realitas sosial anggota masyarakatnya dalam keadaan harmoni yang mengarah kepada pola kerja sama.

Harmoni sosial akan menciptakan kondisi sosial yang teratur.

Proses asosiatif terbagi menjadi tiga, yaitu:

Pertama, kerja sama merupakan suatu usaha bersama antara perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai suatu tujuan atau beberapa tujuan bersama.

Bentuk kerja sama tersebut berkembang apabila orang dapat digerakakan untuk mencapai tujuan bersama dan

40

harus ada kesadaran bahwa tujuan tersebut berguna dikemudian hari. Bentuk kerja sama seperti kerukunan yang mencakup gotong royong, bargaining (pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang dan jasa antara 2 organisasi atau lebih), kooptasi (penerimaan unsur baru), koalisi.

Kedua, akomodasi menurut Gilin dan Gilin yaitu menggambarkan suatu proses dalam hubungan sosial yang artinya mengadaptasi dalam biologi. Proses ini merupakan cara menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan. Bentuk akomodasi berupa, Corection (dilaksanakan dengan adanya paksaan), Compromise (pihak yang terlibat saling menurunkan tuntutan), arbitratation (cara untuk mencapai apabila pihak yang berhadapan tidak dapat menyelesaikan sendiri).

Ketiga, asimilasi merupakan proses sosial dalam taraf lanjut, yang mana hal ini ditandai dengan usaha mengurangi perbedaan yang terjadi dengan usaha untuk mempertinggi kesatuan, sikap dan proses mental dengan memperhatikan tujuan bersama.

Sedangkan proses disosiatif mengarah kepada hal yang bersifat negative. Hal ini juga dikenal dengan oposisi yang berarti bertentang dengan seseorang atau kelompok untuk meraih tujuan tertentu.

41

Proses dalam interaksi disosiatif yaitu; Pertama, persaingan atau proses sosial saling bersaing antara satu pihak dengan pihak lain tanpa memakai ancaman atau kekerasan untuk mencapai tujuan tertentu. Kedua, kontravensi merupakan sikap menentang dengan tersembunyi agar tidak terdapat perselisihan (konflik) terbuka. Proses sosial dengan tanda ketidakpastian, keraguan penolakan, penyangkalan dengan tidak diungkapkan secara terbuka. Ketiga, konflik merupakan suatu perjuangan individu atau kelompok untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan yang sering kali disertai dengan ancaman dan kekerasan.

Sehingga dalam penelitian ini yang menjadi indicator dalam dampak sosial yaitu mengenai dampak asosiatif dan disosiatif yang dikemukakan oleh Setiadi &

Kolip (2011).

b. Dampak Ekonomi

Menurut Sinaga dalam (Setyaningsih 2014,6) dampak ekonomi dapat dilihat dari sisi positif maupun negative sehingga dapat lebih berimbang dalam memberikan penilaian. Beberapa hal positif seperti meningkatnya kelayakan dan kenyaman usaha dalam hal ini dapat dikaitkan dengan program usaha, terbukanya kesempatan kerja, perubahan status menjadi pedagang

42

yang legal. Cohen dalam (Agustina and Octaviani 2017,155) menjelaskan dampak ekonomi yaitu dilihat pada indicator dampak terhadap pendapatan, dampak pada aktivitas ekonomi, dampak terhadap pengeluaran.

Selain itu, Staynes dalam (Susanto 2019,1689) berpendapat bahwa dampak ekonomi dibagai menjadi 3 bagian. Pertama, dampak langsung yaitu dilihat pada mendapatkanya bantuan dana atau permodalan yang diberikan perusahaan untuk komunitas atau masyarakat.

Kedua, dampak sekunder yang pertama meliputi perubahan tingkat harga, perubahan mutu serta jumlah barang dan jasa, perubahan dalam penyediaan property dan variasi pajak, serta perubahan sosial dan lingkungan.

Dijelaskan bahwa dampak tidak langsung merupakan manfaat dari dampak langsung yang mengakibatkan kenaikan pada input dari suatu unit usaha.

Ketiga, dampak sekunder yang kedua disebut dampak lanjutan meliputi pengeluaran rumah tangga dan peningkatan pendapatan. Dampak ekonomi lanjutan merupakan pengeluaran yang dikeluarkan oleh anggota maupun masyarakat wilayah tersebut yang digunakan untuk biaya konsumsi, biaya sekolah, dan biaya kebutuhan sehari-hari. Dalam hal ini, perputaran ekonomi yang ada diwilayah tersebut menjadi stabil.

43

Sehingga indicator dalam penelitian ini yaitu dampak ekonomi yang dikemukakan oleh Staynes yaitu dampak langsung, tidak langsung, dan lanjutan.

c. Dampak Lingkungan

Lingkungan adalah suatu tempat dimana kita makhluk hidup bertempat tinggal dan bersosialiasi yang dimana kita harus menjaga lingkungan yang kita tempat tinggali terasa nyaman dan indah untuk dipandang

Otto Soewartono berpendapat bahwa Lingkungan hidup merupakan semua benda dan kondisi yang ada dalam ruang yang ditempat dan yang mempengaruhi kehidupan (Silalahi 2001).

Sedangkan Siahaan mendefinisikan lingkungan hidup merupakan satu kesatuan ruang dengan yang ada disekelilingnya seperti benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia, dan tingkah lakunya yang dapat berpengaruh pada kelangsungan hidup dan kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lain. Pada ruang ini berlangsung ekosistem dimana diantara lingkungan abiotic dan organisme terjalin interkasi yang harmonis dan stabil dan saling memberi dan menerima kehidupan. Sehingga dapat terlihat bagaiamana dampak dari adanya suatu intervensi atau program yang membuat adanya saling mempengaruhi dilihat dari adanya perubahan lingkungan (Siahaan 2004,4).

44

Disimpulkan bahwa lingkungan hidup merupakan segala sesuatu yang ada disekitar manusia dan makhluk hidup yang memilki timbal balik dan luas serta saling mempengaruhi antara satu komponen dengan komponen lain. Sebagaimana kita hidup di lingkungan maka perlu menjaga selalu lingkungan yang ditempati terasa nyaman dan asri untuk kita nikmati. Sehingga dalam penelitian ini akan melihat dampak lingkungan yang dapat dilihat dari adanya perubahan kondisi lingkungan disekitar masyarakat sebelum dan sesudah adanya program.