INVASIVE MOLE CAUSING ACUTE ABDOMEN MOLA INVASIF YANG MENGAKIBATKAN ABDOMEN AKUT
EVALUASI HASIL PENDIDIKAN 12.1. Pendahuluan
Evaluasi bertujuan untuk menilai kualitas serta kompetensi peserta didik dalam proses pendidikan yang sedang dijalaninya. Evaluasi dapat menentukan pencapaian peserta didik dalam proses pendidikan sehingga dapat diambil suatu kebijakan apakah program dapat dilanjutkan, diubah, atau ditingkatkan.
Evaluasi hasil pendidikan dilakukan pada akhir setiap tahap pendidikan secara lokal maupun nasional. Evaluasi kompetensi dalam melakukan prosedur dengan tepat dan efektif sesuai dengan fasilitas dan kondisi pasien, untuk mengatasi masalah kesehatan dan promosi kesehatan dibidang Anestesiologi dan Terapi Intensif.
Rincian Komponen Area Kompetensi :
a. Mampu memberikan pelayanan anestesi paripurna;
b. Mampu memberikan pelayanan kedokteran perioperatif yang meliputi keterampilan menangani permasalahan kesehatan umum terkait dengan proses pre, intra dan post operatif;
c. Mampu memberikan pelayanan bantuan hidup paripurna atau lanjutan dalam kegawatdaruratan (emergency);
d. Mampu memberikan pelayanan Terapi Intensif; e. Mampu memberikan pelayanan nyeri paripurna. 12.2. Evaluasi Kompetensi
Evaluasi dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan area kompetensi tingkat pendidikan, meliputi kompetensi “Knowledge, Technical Skill, Cognitive Skills, Communication Skills, Professionalism, Afektif dan Psikomotor”
Pada Tahap 1 dan tahap 2 dilakukan evaluasi Ilmu Kedokteran Klinis Spesialis Dasar Bidang Anestesiologi dan Terapi Intensif
Pengetahuan / Knowledge dan Kognitif :
Mampu memahami prinsip-kerja alat atau mesin anestesia, demikian pula alat-alat monitor invasif dan non-invasif, EKG, pulse oxymetri, kapnograf, stimulator saraf, BIS, USG (ultrasonography), X-Ray imaging, CArm.
Mampu memahami/menafsirkan hasil pemeriksaan laboratorium, foto thorax, scan kepala, EKG, Echocardiography dan lain-lain yang diperlukan.
Mampu memahami cara mengatur posisi pasien yang aman selama operasi dan mengetahui akibat buruknya.
Memahami kelaikan mesin anestesia dan ventilator serta peralatan pendukung lainnya.
Menguasai pengetahuan tentang patofisiologi penyakit/comorbid yang menyertai kondisi pasien, dihubungkan dengan tindakan anestesia.
Memahami fisiologi dan patofisiologi penyakit dan comorbid pasien pediatri dan neonatus.
Memahami teori anestesia pada bedah baik dewasa dan anak.
Memahami teori anestesia regional yang meliputi sarafsaraf tepi, subarakhnoid dan epidural.
Buku Panduan Program Studi Anestesiologi dan Reanimasi FK Unud
57
Memahami teori premedikasi, induksi, pemeliharaan anestesia dan pengelolaan pasca anestesia/pasca bedah.
Memahami problema kekhususan anestesia pada bedah umum, bedah THT, bedah mata serta bedah obstetri dan ginekologi.
Memahami tanda-tanda penyulit anestesia serta mampu dengan cepat mengatasi problem tersebut.
Memahami secara dini keadaan darurat yang mengancam nyawa, baik pada waktu induksi, selama maupun pasca-anestesia, dan dalam keadaan kritis serta mengetahui cara cara mengatasinya.
Memahami teori tindakan resusitasi jantung paru otak.
Memahami pengelolaan pasien trauma dalam kegawatan yang mengancam nyawa dan atau cacat.
Memahami teori nyeri akut dan nyeri kronis yang dapat meliputi jaras nyeri, neurobiology nosiseptik dan neuropatik.
Memahami klasifikasi, diagnosis nyeri, dan akibat efek samping dan/atau komplikasi nyeri serta penatalaksanaan nyeri paripurna pada semua golongan pasien, baik dengan atau tanpa menggunakan alat bantu, seperti terapi farmakologi, terapi non-farmakologi, alat bantu diagnostik, pemandu tindakan dan monitoring.
Keterampilan Teknis :
Mampu melakukan penilaian kondisi pasien preoperatif.
Mampu mengoptimalkan kondisi pasien sebelum operasi.
Mampu melakukan teknik dan interpretasi pemantauan fungsi fungsi vital, EKG, oksimetri pulsa, kapnografi, monitor neuro-muskular.
Mampu mengoperasikan meja operasi.
Mampu mengoperasikan berbagai mesin anestesi.
Mampu melakukan beberapa teknik induksi anestesia inhalasi, intravena, perektal.
Mampu menggunakan sungkup muka, sungkup laring, intubasi trakeal serta melakukan pemeliharaan anestesia dengan aman.
Mampu mengelola jalan napas dengan cara-cara seperti yang tertera pada butir-7.
Mampu memberikan ventilasi bantu dan ventilasi kendali manual.
Mampu melakukan ekstubasi dan pengawasan problema-problema dan komplikasi pasca-ekstubasi dan pasca-anestesia.
Mampu melakukan teknik anestesia/analgesia spinal, epidural dan blok saraf tepi serta mampu mengatasi komplikasi akut yang mungkin terjadi.
Mampu melakukan resusitasi jantung paru otak (RJPO), bantuan hidup dasar dan bantuan hidup lanjut.
Mampu mengelola pasien dalam keadaan kedaruratan yang mengancam nyawa dan atau cacat.
Mampu mengelola pasien pasca-anestesia, baik di ruang pulih (PACU/Post Anesthesia Care Unit) maupun di ICU.
Mampu memberikan anestesi pada bedah digestif.
Mampu memberikan anestesi pada bedah ortopedi.
Mampu memberikan anestesi pada trauma.
Mampu memberikan anestesi pada bedah plastik.
Buku Panduan Program Studi Anestesiologi dan Reanimasi FK Unud
58
Mampu memberikan anestesi pada bedah mata.
Mampu memberikan anestesi pada bedah THT dan bedah mulut.
Mampu memberikan anestesi pada bedah urologi.
Mampu memberikan anestesi pada bedah pediatri.
Mampu memberikan anestesi pada bedah geriatri.
Mampu melakukan anestesia rawat jalan.
Mampu melakukan anestesia di luar kamar bedah.
Mampu melakukan klasifikasi nyeri dan menegakkan diagnosis nyeri melalui serangkaian pemeriksaan fisik dan penunjang yang diperlukan.
Mampu melakukan pengelolaan kasus nyeri, baik terapi farmakologi dan terapi non-farmakologi (intervensi dan non-intervensi) dan mampu mengenali dan mengatasi efek samping / komplikasi yang disebabkannya.
Pada Tahap 3 dilakukan evaluasi Ilmu Kedokteran Klinis Spesialis Lanjut Bidang Anestesiologi dan Terapi Intensif :
Pengetahuan / Knowledge dan Kognitif:
Memahami problema dan teknik anestesia bedah otak, bedah jantung, bedah paru dan bedah transplant.
Memahami teori critical care pada kasus-kasus di Intensive Care Unit.
Memahami cara melakukan prosedur klinik serta penggunaannya, tindakan invasif, seperti pemasangan kateter vena sentral, kateter intra arterial, kateter Swan Ganz, krikotirotomi, pungsi pleura pada pneumothorak, dan lain lain.
Menguasai prinsip-prinsip penting pengelolaan pasien kritis.
Memahami cara mengelola unit ICU.
Memahami sistem penanganan bencana.
Keterampilan :
Mampu menilai pasien ICU, baik pasca bedah dan bukan pasca bedah, dan melakukan tindakan awal terhadap keadaan yang mengancam nyawa pasien.
Mampu memberikan anestesia pada bedah saraf.
Mampu melakukan asistensi pada anestesia bedah jantung terbuka.
Mampu memberikan anestesi bedah paru, vaskular, jantung tertutup.
Mampu memberikan anestesi pada penyakit khusus.
Mampu melakukan intubasi sulit.
Mampu mengelola pasien PACU/RR, High Care Unit (HCU) dan ICU.
Mampu melakukan tindakan invasive: pemasangan kateter vena sentral, intra-arterial, krikotirotomi, punksi intrapleural.
Mampu menjawab konsultasi, baik dalam hubungan bidang anestesia maupun kasus ICU dan manajemen nyeri.
Mampu melakukan dan mengkoordinasi penanganan bencana.
Pada Tahap 2 dan tahap 3 dilakukan evaluasi Pengelolaan ICU atau Terapi Intensif : Pengetahuan / Knowledge dan Kognitif :
Memahami prinsip-prinsip umum kedokteran gawat darurat dan Terapi Intensif (Emergency and Critical Care Medicine), Resusitasi Jantung Paru Otak, meliputi Bantuan
Buku Panduan Program Studi Anestesiologi dan Reanimasi FK Unud
59 Hidup Dasar (Basic Life Support), Bantuan Hidup Lanjut (Advanced Life Support) dan Bantuan Hidup Jangka Panjang (Prolonged Life Support).
Mampu menjelaskan indikasi masuk dan keluar ICU.
Mampu menjelaskan indikasi dan pengelolaan prosedur invasif seperti pemasangan kateter vena central, kateter Swan-Ganz, kateter intra-arterial, CRRT (continuous renal replacement therapy), perikardiosentesis, trakeostomi.
Mampu menjelaskan pengelolaan jalan napas dan bantuan napas dengan / tanpa ventilasi mekanik.
Mengenal tanda dan gejala yang mengancam nyawa pasien akibat gangguan pernapasan, kardiovaskular, susunan saraf pusat, gangguan keseimbangan cairan, asam basa dan elektrolit, infeksi berat, gangguan hemostasis, krisis metabolik dan endokrin, gangguan fungsi ginjal dan hepar.
Mampu menjelaskan pengelolaan nutrisi, sedasi, analgesia dan termoregulasi pasien kritis.
Mampu menentukan mati klasis dan mati batang otak.
Mampu menjelaskan penanganan akhir kehidupan: mengakhiri dan menunda bantuan hidup (withdrawing dan with-holding life support).
Keterampilan :
Menguasai keterampilan dalam posedur klinik, baik untuk pemantauan, diagnosis, maupun untuk terapi:
Pemasangan kateter vena sentral, intra arterial.
Pemasangan pungsi pleura untuk pneumothoraks ventil, dan krikotirotomi.
Menanggulangi keadaan yang mengancam nyawa pasien akibat gangguan pernapasan, kardiovaskular, susunan saraf pusat, gangguan keseimbangan cairan, asam basa dan elektrolit, infeksi berat, gangguan hemostasis, krisis metabolik dan endokrin, gangguan fungsi ginjal dan hepar.
Mampu mengelola nutrisi, sedasi, analgesia dan termoregulasi pasien kritis.
Melakukan konsultasi pada disiplin ilmu kedokteran lain pada saat yang tepat.
Melakukan jawaban atas konsultasi pasien-pasien dari ruang perawatan atau rumah sakit lain yang akan dirawat di ICU.
Melakukan komunikasi dengan sejawat dari beberapa disiplin terkait sebagai anggota tim.
Melakukan bimbingan kepada peserta program atau residen lain, mahasiswa kedokteran maupun perawat.
Mampu menanggulangi dan mengelola pasien bayi di ICU/NICU.
Mampu menanggulangi dan mengelola pasien anak di ICU/PICU.
Mampu menanggulangi dan mengelola pasien dewasa di ICU.
Pada Semua Tahap Dilakukan Evaluasi Kompetensi Keterampilan Komunikasi :
Menciptakan dan mempertahankan Komunikasi terhadap kolega, pasien/keluarga, paramedis yang dilakukan dengan Jujur, Terbuka, dan Bersikap baik
Memberikan informasi selengkapnya menggunakan keterampilan non verbal efektif, penjelasan, pertanyaan, dan menulis.
Bekerja secara efektif dengan orang lain sebagai anggota atau pemimpin dari grup yang profesional, khususnya pada tim pelayanan kesehatan yang dapat terdiri dari para profesional dari disiplin ilmu lain.
Bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan;
Buku Panduan Program Studi Anestesiologi dan Reanimasi FK Unud
60
Mampu memimpin suatu tim kerja untuk memecahkan masalah baik pada bidang Anestesiologi dan Terapi Intensif, maupun masalah yang lebih luas dari bidangnya;
Mampu bekerja sama dengan profesi lain yang sebidang maupun yang tidak sebidang dalam menyelesaikan masalah pekerjaan yang kompleks yang terkait dengan bidang Anestesiologi dan Terapi Intensif
Pada Semua Tahap Dilakukan Evaluasi Kompetensi Profesionalisme:
Memperlihatkan rasa hormat, penghargaan, integritas dan kepekaan terhadap kebutuhan pasien dan masyarakat yang lebih dari kepentingan diri sendiri
Bertanggung jawab dan bertindak secara bertanggung jawab
Memperlihatkan komitmen pada kesempurnaan dan pengembangan profesi yang berkelanjutan.
Menunjukkan komitmen terhadap prinsip etika baik pada pemberian maupun penghentian pelayanan klinis, menjaga rahasia terhadap informasi pasien, persetujuan tindakan, dan praktik bisnis, menunjukkan sensitivitas dan kepekaan terhadap perbedaan budaya, termasuk kewaspadaan terhadap latar belakang budaya pasien sendiri. Belajar dari kritik. Evaluasi Psikomotor dan Evaluasi Afektif
Menggunakan format Multi Source Feedback ( MSF ), yaitu pengamatan/observasi secara terus-menerus selama mengikuti kegiatan pendidikan (portofolio) yang dilakukan dengan mencari masukan dari minimal 4 orang yang terkait dengan pendidikan dan stase yang sedang dijalani. Sebelum mengakhiri stase, peserta didik akan mendapatkan 4 penilaian MSF, antara lain dari 2 konsulen terkait, 1 perawat anestesi dan 1 dokter operator.
Evaluasi “Log Book” berkaitan dengan jumlah kasus yang ditangani, kegiatan yang dilakukan peserta didik serta aktivitas pendidikan lainnya.
Log book merupakan salah satu sarana penilaian kompetensi pada level 4, yaitu
melakukan / mengerjakan tindakan / prosedural skill yang telah dilakukan peserta didik I. Pada saat menerima log book baru residen yang bersangkutan wajib menempelkan foto berwarna dengan ukuran 3x4 pada halaman 1 dan mengisi data yang ada pada halaman 1 dengan menggunakan tinta hitam dan huruf balok.
II. Log book adalah buku raport selama pendidikan yang tidak boleh hilang. Apabila Residen yang bersangkutan menghilangkan Log Book, wajib mengganti dengan log book yang baru dan meminta tanda tangan pada dosen sesuai dengan buku yang lama.
III. Log book tidak diperkenankan untuk dicoret–coret atau tip ex. Apabila terdapat kesalahan penulisan maka tulisan dicoret dan diberi paraf.
IV. Log book berisi data residen, jadwal rotasi stase, evaluasi pendidikan, kegiatan ilmiah yang dilakukan, tugas akademik tambahan, prosedur anestesi yang dilakukan, jenis dan jumlah kasus yang ditangani, penelitian dan publikasi ilmiah serta pengabdian masayarakat.
V. Residen wajib meminta tandatangan konsulen setiap selesai mengerjakan suatu tindakan / prosedural skill ataupun kegiatan ilmiah / akademik lain.
VI. Residen wajib mengisi rotasi stase sesuai dengan KRS yang telah disetujui dosen PA dan koordinator rotasi kurikulum
VII. Sebelum mengikuti ujian evaluasi CBT dan OSCE, residen wajib mengumpulkan log book untuk diverifikasi oleh TPPM kesesuaian pencapaian kompetensi dengan tahapan pendidikan yang ditempuh.
Buku Panduan Program Studi Anestesiologi dan Reanimasi FK Unud
61 VIII. Sebelum mendaftar ujian akhir nasional, residen wajib mengumpulkan log book untuk diverifikasi oleh TPPM kesesuaian pencapaian kompetensi dengan standar kompetensi yang ada.
12.3.Tahapan Evaluasi Dan Ujian Peserta Didik :
I. Ujian Orientasi, Introduksi, Prakondisi (OIP), dilakukan pada akhir masa OIP dalam bentuk esai
II. Pretest stase dalam bentuk esai III. Evaluasi saat rotasi stase subdivisi :
A. Case Based Discussion ( CBD )
Merupakan suatu bentuk evaluasi harian yang berkesinambungan dari suatu kasus dalam periode perioperatif. CBD dilakukan dengan konsulen yang menjadi DPJP atas kasus tersebut. Diskusi dilakukan mulai dari saat visite preoperative, persiapan di kamar operasi, tatalaksana anestesia dan pemeliharaan anestesia sampai penanganan pasca operasi dan pain management pasca operasi. CBD dilakukan sesuai rotasi stase residen yang bersangkutan. Dari setiap stase, residen minimal mengumpulkan 5 CBD dalam log book.
B. Anesthesia Clinical Evaluation Exercise ( A-CEX) .
Mulai dilaksanakan pada 2 minggu terakhir stase atas persetujuan konsulen subdivisi. Peserta didik yang diuji melakukan tatalaksana perioperatif Anestesiologi dan Terapi Intensif sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP). Penilai melakukan pengamatan tatalaksana yang dilakukan peserta didik sambil memberikan penilaian kompetensi berdasarkan formulir penilaian yang sudah disiapkan. Selesai melakukan evaluasi A-CEX, peserta didik dapat memberikan umpan balik kepada penilai dan ditulis dalam lembar penilaian A-CEX.
Tatacara dan syarat Evaluasi A-CEX :
1) Mulai dilakukan pada 2 minggu terakhir terakhir stase 2) Telah mempunyai 5 CBD sesuai stase
3) Yang bertindak sebagai penilai adalah konsulen sub divisi terkait, bukan DPJP kasus tersebut.
4) 1 hari sebelum evaluasi A-CEX, residen melaporkan kepada konsulen divisi terkait. Bila diijinkan, residen mencari kasus dan melaporkan kasus tersebut mulai saat evaluasi kunjungan preop pada sore harinya dan berdiskusi dengan konsulen tersebut
5) Saat pelaksanaan A-CEX keesokan harinya, residen tersebut agar menghubungi konsulen bersangkutan agar hadir di tempat penilaian. Penilaian harus dilakukan oleh konsulen subdivisi yang sama dengan saat laporan preop. 6) Residen dinyatakan berhasil melewati stase tersebut apabila memperoleh nilai
minimal memuaskan.
7) Bila residen belum memperoleh nilai memuaskan, maka evaluasi A-CEX diulang sampai mencapai nilai minimal memuaskan.
C. Direct Observed Procedural Skills (DOPS).
Merupakan bentuk evaluasi keterampilan peserta didik dalam melakukan suatu prosedur klinis. Penilai melakukan pengamatan terhadap prosedur yang dilakukan peserta didik dan memberikan penilaian sesuai formulir DOPS. Selesai melakukan ujian
Buku Panduan Program Studi Anestesiologi dan Reanimasi FK Unud
62 praktik, peserta didik peserta didik dapat memberikan umpan balik kepada penilai dan ditulis dalam lembar penilaian
Tatacara dan syarat Evaluasi DOPS :
7) Dapat mulai dilakukan setelah menjalani stase 1 minggu di divisi terkait. 8) Sudah pernah mendapatkan bimbingan procedural skill minimal tiga ( 3 ) kali
oleh konsulen secara langsung
9) Yang bertindak sebagai penilai adalah konsulen yang menjadi DPJP atau yang mewakili
10) Residen dinyatakan berhasil melewati evaluasi DOPS tersebut apabila memperoleh nilai minimal memuaskan
11) Bila residen belum memperoleh nilai memuaskan, maka evaluasi DOPS diulang sampai mencapai nilai minimal memuaskan.
12) Residen harus menyelesaikan evaluasi DOPS sesuai dengan tahapan jenjang pendidikannya, yaitu :
Tahap 1. Melakukan prosedur :