• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi Program

Dalam dokumen LAPORAN AKHIR PENELITIAN (Halaman 30-0)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.6. Evaluasi Program

Menurut Endang Mulyatiningsih (2011), evaluasi program dilakukan dengan tujuan untuk: i) Menunjukkan sumbangan program terhadap pencapaian tujuan organisasi. Hasil evaluasi ini penting untuk mengembangkan program yang sama ditempat lain; ii) Mengambil keputusan tentang keberlanjutan sebuah program, apakah program perlu diteruskan, diperbaiki atau dihentikan. Dilihat dari tujuannya, yaitu ingin mengetahui kondisi sesuatu, maka evaluasi program dapat dikatakan merupakan salah satu bentuk penelitian. Menurut Arikunto (2009) bahwa Evaluasi program merupakan suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sengaja untuk melihat tingkat keberhasilan suatu program.

Melakukan evaluasi program ialah kegiatan yang dimaksudkan untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat keberhasilan dari kegiatan yang telah direncanakan. Berkaiatan dengan difinisi tersebut maka evaluasi program merupakan evaluasi program merupakan rangkaian kegiatan pengumpulan data atau informasi ilmiah yang hasilnya dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil keputusan dalam menentukan alternatif kebijakan program dimasa akan datang. Karenanya, dalam keberhasilan suatu evaluasi program ada dua konsep yang terdapat didalamnya yaitu efektifitas dan efisiensi.

Terdapat banyak model evaluasi yang bisa digunakan dalam melakukan evaluasi suatu program. Meskipun terdapat beberapa perbedaan antara model-model tersebut, tetapi secara umum model-model tersebut memiliki persamaan yaitu mengumpulkan data atau informasi obyek yang

21

dievaluasi sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan (Suharsimi Arikunto dan Cecep Safruddin Abdul Jabbar, 2004).

22

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN

Lokasi penelitian dipilih di Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Magelang. Pemilihan lokasi dilakukan dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Magelang memiliki karakteristik agroekologi yang berbeda sehingga mempengaruhi fungsi dan pemanfaatan Alsintan oleh petani. Penelitian akan dilaksanakan pada pengelola Alsintan (Poktan, Gapoktan, UPJA) dan Brigade Alsintan (Dinas Pertanian, Kodim, Poktan, Gapoktan, UPJA). Waktu penelitian selama sepuluh bulan, dimulai bulan Mei sampai bulan Oktober 2018.

3.2. SIFAT PENELITIAN

Penelitian bersifat evaluasi deskriptif, yaitu penelitian dengan desain evaluasi untuk mengumpulkan dan menganalisis data secara sistematik sehingga diperoleh manfaat dari kegiatan yang telah dilaksanakan. Metode penelitian evaluasi yang digunakan adalah dengan deskriptif kualitatif dilanjutkan dengan kuantitatif.

Pendekatan penelitian yang digunakan adalah fenomologik yaitu untuk memungkinkan mengungkapkan realita dan mendeskripsikan situasi secara komprehensif dengan konteks yang sesungguhnya.

3.3. METODE PENGUMPULAN DATA 1. Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Populasi merupakan wilayah generalisasi berupa subjek atau objek yang diteliti untuk dipelajari dan diambil kesimpulannya. Sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi yang diteliti. Dengan kata lain, sampel merupakan sebagian atau bertindak sebagai perwakilan dari populasi sehingga hasil penelitian yang berhasil diperoleh dari sampel dapat digeneralisasikan pada populasi.

Populasi penelitian adalah alsintan yang ada di Jawa Tengah yaitu di provinsi dan 29 kabupaten. Alsintan terbagi 3 kelompok yaitu prapanen,

23

pasca panen dan pengolahan untuk komoditas padi, tetapi dalam penelitian ini fokus pada Alsintan pra panen dan pasca panen. Selajutnya dilakukan pemilahan sampel lokasi, karena keterbatasan dana dan waktu maka pemilihan sampel lokasi dilakukan secara purposive sampling. Sampel lokasi yang dipilih berdasarkan kondisi iklim, topografi dan luas lahan pertanian yaitu Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Magelang. Selanjutnya akan dipilih Gapoktan, Poktan, UPJA dan Brigade Alsintan berdasarkan kemampuan dalam memanejemen Alsintan yang dimiliki. UPJA dipilih berdasarkan kelas UPJA yaitu Pemula, Berkembang dan Profesional. Selain itu juga dipilih kondisi topografi serta lokasi sentra padi. Informan yang dipilih adalah Ketua atau pengurus Gapoktan/Poktan, Manager atau pengurus UPJA, Operator Alsintan, Pengelola Brigade dan Petani serta Kepala Bidang/Kepala Sub Bidang Dinas Pertanian yang menangani Alsintan.

2. Metode pengumpulan data

Metode pengumpulan data dilakukan dengan tiga cara yaitu : a. Indept interviue:

1) Wawancara secara mendalam dilakukan pada Gapoktan, Poktan, UPJA, Brigade Dipertan Provinsi; Brigade Dipertan Kabupaten dan Brigade Kodim yang dilaksanakan di lokasi yaitu dengan mengunjungi pengelola Brigade Dipertan Kabupaten/Kodim, Gapoktan, Poktan, UPJA untuk memperoleh data :

- Kelembagaan Alsintan: Bentuk lembaga, status hukum lembaga, kepengurusan, uraian tugas, modal (Uang, Alsintan, Tanah, Bangunan), AD/ART, pemeliharaan alsintan, keberlanjutan Alsintan.

- Data analisa ekonomi: harga alat saat diterima, harga alat akhir, biaya gudang-simpan alat, biaya operasional alat (bahan bakar, upah tenaga kerja operasional, umur ekonomis alat, biaya perbaikan atau pemeliharaan, biaya

24

listrik (jika ada), upah tenaga kerja tiap hari, jam kerja tenaga kerja per hari, jam kerja alat per hari, jam kerja dalam satu tahun, kapasitas kerja alat (misalnya traktor mampu mengolah lahan 1 ha/4jam).

- Pengelolaan: Manajemen pengelolaanya

- Implementasi dan Manfaat Alsintan: Prosedur peminjaman, Biaya, Jenis alat yang digunakan, kapasitas penggunaan alat, kebutuhan dan ketersediaan Alsintan.

b. Wawancara pada petani: luas lahan, jenis pengairan, status lahan, varietas padi yang ditanam, bulan penanaman, pola tanam, sistem pengolahan tanah, sistem tanam, pemeliharaan, sistem panen, ketersediaan tenaga kerja, penggunaan Alsintan, analisa usahatani padi, manfaat Alsintan, Jenis alsintan yang digunakan, usahatani padi.

c. Forum Group Discussion (FGD), dilakukan untuk memperkuat hasil indept interviue. FGD dilakukan dengan tokoh-tokoh kunci seperti pengurus kelembagaan yang menangani Alsintan Gapoktan, Poktan, UPJA, Brigade Kabupaten/Provinsi dan petani yang menggunakan Alsintan serta petani yang tidak menggunakan Alsintan, Bappeda, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL).

3. Sumber data

Berdasarkan cara memperolehnya, data penelitian ada dua, yaitu : a. Data primer: data yang diambil dari pengelola Alsintan di Brigade

maupun dikelompok dan petani sebagai pengguna.

b. Data sekunder: data yang diperoleh dari dinas teknis yaitu Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten kaitan dengan jumlah Alsintan, jenis Alsintan, penyaluran Alsintan, analisa usahatani padi.

3.4. METODE PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

Pengolahan data dilakukan dengan mengelompokkan data berdasarkan implementasi alsintan (jenis alsintan, jumlah alsintan, distribusi alsintan,

25

kesesuaian alsintan dengan kondisi geografis); Pengelolaan (Manajemen alsintan) Kelembagaan (Struktur organisasi, posisi kelembagaan alsintan);

ekonomi (analisa alsintan). Selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif.

26

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. GAMBARAN UMUM

4.1.1. Sejarah dan Kebijakan Mekanisasi Pertanian

Pada awal abad ke-20, tepatnya pada tahun 1914 mekanisasi pertanian mulai di gunakan pada perkebunan Gula Tebu di Sidoarjo, kemudian berkembang di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di Sumatera Utara pada perkebunan tembakau di Deli penggunaan mekanisasi pertanian juga berkembang pesat (http://mekanisasisuplirahim.blogspot.com/2013/05/sejarah-mekanisasi-di-indo). Perkembangan teknologi mekanisasi pertanian di Indonesia, secara kronologis sebagai berikut :

a. Tahun 1951, dilakukan pendidikan tenaga bidang mekanisasi pertanian di luar negeri, dan kemudian diresmikan pula Bagian Mekanisasi Pertanian di Departemen Pertanian.

b. Tahun 1958, PT Bahan Makanan dan Pembukaan Tanah (PT BMPT) didirikan dan dilakukan Introduksi traktor tangan dari Jepang.

c. Tahun 1962, PT BMPT berubah menjadi MEKATANI. Peralatan mekanis dibantu oleh Negara Eropa Timur dan dikelola MEKATANI.

Pada periode 1952 - 1962, diperkirakan telah beredar 10.000-an unit mesin pertanian untuk kegiatan mekanisasi pertanian.

d. Tahun 1963/1964, Institut Pendidikan Tinggi di bidang Mekanisasi Pertanian didirikan di UGM dan IPB, dan kemudian tahun 1967 diadakan acara Simposium Nasional Mekanisasi Pertanian.

e. Tahun 1980-an, peralatan sederhana sprayer dan lainnya telah diproduksi di dalam negeri. Pada periode ini juga penggunaan traktor besar untuk pembukaan dan penyiapan lahan perkebunan telah banyak digunakan, termasuk alat pemberantas hama dan penyakit, transportasi dan mesin tanam tebu.

4.1.2. Kondisi Pertanian di Provinsi Jawa Tengah

Peranan mekanisasi pertanian dalam Pembangunan Nasional, adalah untuk: Mempertinggi efisiensi tenaga manusia; Meningkatkan derajat dan

27

taraf hidup petani; Meningkatkan kualitas dan kuantitas serta kapasitas produksi pertanian; Memungkinkan pertumbuhan skala usaha tani, yaitu dari skala pertanian untuk kebutuhan keluarga (subsistem farming) menjadi pertanian perusahaan (commercial farming); dan Mempercepat transisi bentuk ekonomi pertanian dari sifat agraris menjadi industri. Sedangkan ruang lingkup mekanisasi pertanian meliputi :

- Bidang mesin-mesin budidaya pertanian, yang menelaah persoalan-persoalan penggunaan tenaga dan alat-alat dan mesin untuk budidaya pertanian.

- Bidang teknik tanah dan air, yang menelaah persoalan-persoalan yang ada kaitannya dengan keadaan teknik tanah dan air.

- Bidang bangunan pertanian, yang menelaah persoalan-persoalan gedung-gedung, bangunan dan perlengkapan pertanian.

- Bidang mesin-mesin pengolahan hasil pertanian, yang menelaah persoalan-persoalan penggunaan mesin-mesin yang dipakai dalam usaha menyiapkan hasil pertanian, baik untuk disimpan maupun untuk langsung digunakan.

- Bidang mesin-mesin pengolahan pangan, yang menelaah persoalan-persoalan penggunaan alat serta syarat-syarat yang diperlukan bagi suatu pengolahan pangan.

- Kebijakan mekanisasi pertanian di Jawa Tengah tertuang di dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah pada sektor pertanian, khususnya dalam rangka peningkatan produksi pangan. Namun, secara eksplisit kebijakan dan program pemanfaatan, pembangunan dan pengembangan mekanisasi pertanian tidak tersurat di dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah, baik pada RPJMD maupun di dalam RKPD. Perencanaan pembangunan pertanian akan mempengaruhi kondisi pertanian di jawa tengah diantaranya adalah capaian luas tanam yang akan mempengaruhi produksi.

28 4.1.2.1. Luas Tanam Padi Sawah

Komoditas padi merupakan salah satu komoditas yang menjadi sasaran untuk peningkatan produksi, produktivitas dan mutu pangan.

Berkaitan dengan hal tersebut maka berbagai upaya dilakukan untuk memanfaatkan sumberdaya yang ada secara maksimal sehingga pencapaian produksi bisa tercapai. Untuk memperoleh capaian produksi maka pemerintah telah menetapkan taget luas tanam. Target luas tambah tanam (LTT) ditetapkan setiap tahun dan selalu dipantau oleh kementan. Target LTT pada bulan Oktober-April tahun 2016/2017 ditetapkan seluas 1.569.363 ha dan pada bulan Oktober-April 2017/2018 ditetapkan seluas 1.569.408 sehingga ada kenaikan sebesar 45 ha. Untuk mewujudkan luas tanam padi maka dilakukan usahatani padi dengan sistem intensifikasi karena untuk melakukan dengan sistem ektensifikasi sudah sangat sulit mengingat komoditas jagung dan kedelai juga menjadi target untuk pencapaian produksi sedangkan di satu sisi alih fungsi lahan pertanian tidak terkendali.

Fasilitasi alsintan dimaksudkan untuk mengatasi permasalahan dan kendala ketersediaan tenaga kerja pada waktu pengolahan tanah, pemeliharaan, pemanenan, perontokan karena pada saat ini minat tenaga kerja produktif pada bidang pertanian semakin berkurang. Ketersediaan tenaga kerja yang umurnya sudah tua memiliki kendala penguasaan teknologi di bidang alsintan juga lemah. Sedangkan waktu panen padi tidak semuanya di musim kemarau tetapi juga terjadi di musim penghujan.

Berkaitan dengan hal tersebut maka fasilitasi alsin yan berkaitan dengan alsintan untuk panen, perontok, driyer dan Rice Mill Unit (RMU) sangat diperlukan.

Luas tambah tanam untuk tanaman padi berkaitan erat dengan pengolahan tanah. Sebelum kegiatan pengolahan tanah harus dilakukan kegiatan penyemaian benih padi. Pada saat ini alsintan untuk tanam dan semai padi sudah difasilitasi pemerintah oleh karena itu harapan untuk merealisasikan luas tanam dapat dilakukan karena tidak tergantung lagi pada kesediaan tenaga kerja. Begitu juga untuk pengolahan tanah karena traktor

29

untuk pengolah tanah sudah disediakan sampai pada ujung batasan untuk operasional usahatani. Tenaga kerja yang dibutuhkan pada pengolahan tanah hanya mencangkul pojokan sawah yang sulit dijangkau oleh traktor, kecuai untuk wilayah terasiring dengan kemiringan yang tajam sehingga pengolahan tanah menggunakan tenaga manusia. Realisasi luas tanam padi di jawa tengah selama tiga (3) tahun 2015-2017 dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1.

Realisasi Luas Tanam Padi

Tahun Luas Tanam (Ha)

2015 1.795.704

2016 2.083.336

2017 1.901.980

Sumber : Distanbun, 2018

Pada Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa luas tanam padi melebihi target luas tambah tanam padi yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pertanian.

Luas tanam padi tidak terlepas dari proses penyediaan lahan sawah siap tanam dengan menggunakan alsintan pengolah tanah traktor roda 4 dan traktor roda 2. Menurut Handaka (2012), bahwa kontribusi mekanisasi pertanian pada tanaman pangan ditandai dengan meningkatnya kebutuhan tenaga kerja pada pengolahan tanah karena indek pertanaman meningkat, disamping itu keserempakan tanaman dalam satu kawasan yang luas menyebabkan volume pekerjaan meningkat, waktu pengolahan lahan menjadi singkat, sehingga permintaan tenaga kerja juga meningkat.

Penggunaan alsintan khususnya traktor roda dua (2) yang menjadi gantungan bagi petani. Penggunaan traktor roda dua lebih disukai karena dapat digunakan pada lahan datar dan terasiring sedangkan untuk traktor roda empat digunakan dilahan datar dengan petakan luas, hal ini sesuai dengan pernyataan BPP Kementan (2016) bahwa posisi strategis mekanisasi pertanian memiliki makna yang sangat kompleks bagi Indonesia karena mengandung banyak manfaat mulai dari peningkatan produksi, mengurangi losses dalam proses panen, menekan biaya usaha tani, serta memperluas dan meningkatkan intensitas tanam.

30 4.1.2.2. Jumlah Alsintan di Jawa Tengah

Alsintan merupakan alat mesin pertanian yang digunakan petani untuk melakukan usahatani, sehingga tidak tergantung pada tenaga kerja manusia, waktu yang digunakan lebih cepat dan lebih hemat. Alsintan diharapkan mampu membantu pekerjaan pada tahap perbaikan saluran irigasi, penyediaan air melalui pompa, pengolahan tanah, pembuatan bedengan, pengendalian hama dan penyakit, pemanenan dan perontokan padi.

Pemerintah menetapkan program upaya khusus padi, jagung dan kedelai, supaya produksi dan produktivitas dapat tercapai oleh karena itu upaya yang dilakukan adalah melakukan penanaman serentak untuk komoditas tersebut. Guna mencapai tujuan tersebut maka pemerintah memberikan fasilitasi bantuan alsintan untuk Gapoktan, Poktan dan UPJA dan pada tahun 2017 pemerintah membentuk brigade alsintan untuk Provinsi, Kabupaten/Kota dan Kodim. Berkaitan dengan hal tersebut maka fasilitasi jumlah alsintan di Jawa Tengah setiap tahun meningkat. Jumlah alsintan di Jawa Tengah dapat dilihat pada Tabel 4.2

Tabel 4.2. yang digunakan untuk usahatani tanaman padi dikelompokkan menjadi 2 jenis alsintan yaitu alsintan pra panen atau budidaya dan alsintan panen.

Alsintan pra panen terdiri dari traktor roda dua (2), traktor roda empat(4), Rice tranplanter, cultivator, pompa air; sedangkan untuk alsintan panen terdiri dari power threser dorong, power threser mobile, power threser

31

multiguna, combine harvester kecil, combine harvester sedang, combine harvester besar.

Jumlah alsintan di Jawa Tengah dari tahun 2015 sampai tahun 2018 meningkat sebesar 14,94%, Peningkatan terbesar pada jenis alsintan roda empat (4) sebesar 72,28% dan paling kecil sebesar 0,25% pada jenis alsintan traktor roda dua. Kenaikan jumlah alsintan yang paling sedikit adalah traktor roda dua hal ini dikarenakan jumlah alsintan yang difasilitasikan setiap tahun dalam jumlah banyak. Kenaikan jumlah alsintan setiap tahun tidak mempengaruhi peningkatan luas tanam padi di jawa tengah hal ini terlihat pada tahun 2017 alsintan naik sebesar 12,46% tetapi luas tanam padi turun sebesar 9,54%. Hal ini sesuai dengan pernyataan Paman (2017) bahwa jumlah mesin pertanian meningkat signifikan selama periode 2009-2015, produktivitas meningkat lebih rendah selama periode yang sama dan bahkan cenderung menurun pada tingkat yang paling rendah yaitu 0,5% pada tahun 2013. Selanjutnya, ketika jumlah mesin pertanian meningkat pada tingkat tertinggi tahun 2015, produktivitas padi cenderung menurun dan ini lebih rendah dari tahun 2014.

4.1.2.3. Distribusi Alsintan di Brigade Provinsi Jawa Tengah

Fasilitasi alsintan untuk penanaman padi akan berpengaruh pada efisiensi waktu dan tenaga sehingga diharapkan biaya usahatani padi menjadi efisien dan keuntungan menjadi meningkat. Untuk mewujudkan hal tersebut maka perlu dilakukan upaya untuk penyediaan alsintan yang mudah diakses oleh petani di kabupaten. Fasilitasi yang diberikan oleh pemerintah melalui sumber dana APBN, APBD Provinisi Jawa Tengah dan APBD Kabupaten.

Fasilitasi alsintan di Provinsi jawa tengah yang terbesar diperoleh dari Kementerian pertanian dengan sistem hibah dan pinjam pakai, agar alsintan yang difasilitasikan dapat optimal pemanfaatanya maka Kementerian Pertanian membentuk brigade alsintan. Brigade alsintan di Provinsi Jawa Tengah terbagi menjadi beberapa brigade dengan tujuan agar dapat memenuhi kebutuhan alsintan antar kabupaten dengan lokasi yang tidak

32

jauh. Brigade alsintan di Provinsi Jawa Tengah terbagi pada beberapa gudang yaitu gudang di Kota Surakarta dengan wilayah kerja Kabupaten Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, Surakarta; gudang di Kabupaten Banyumas dengan wilayah kerja Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Cilacap, Wonosobo, Kebumen, Purworejo, Magelang; gudang di Kabupaten Pemalang dengan wilayah kerja Kabupaten Tegal, Brebes, Pemalang, Pekalongan, Batang; gudang di Kabupaten Pati dengan wilayah kerja Kabupaten Blora, Rembang, Pati, Grobogan, Jepara, Kudus; gudang Mojo Songo dan provinsi dengan wilayah kerja Semarang, Kendal dan lokasi terdekat lainnya. Wilayah kerja tersebut dapat berubah sesuai jenis alsintan yang dibutuhkan dan ketersediaan alsintan di gudang.

Fasilitasi alsintan di masing-masing brigade, jenis dan jumlahnya hampir sama, hanya untuk beberapa jenis alsintan yang berbeda, untuk mengetahui distribusi alsintan di brigade provinsi yang terbagi pada brigade wilayah dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3.

Distribusi Alsintan Brigade Provinsi Jawa Tengah

NO JENIS ALSINTAN BRIGADE PROVINSI JAWA TENGAH

Surakarta Pemalang Banyumas Pati Mojosongo Provinsi

1 Traktor Roda 2 40 40 50 50 4

Sumber : Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah, 2018

Pada Tabel 4.3. dapat diketahui bahwa jenis alsintan untuk budidaya padi mulai dari pengolahan tanah, penanaman, pemberantasan hama, pemanenan semua didistribusikan ke seluruh brigade wilayah dan provinsi.

33

Jenis alsintan yang jumlahnya banyak adalah traktor roda dua (2) karena traktor merupakan alsintan yang selalu digunakan oleh petani untuk pekerjaan pengolahan tanah. Jenis alsintan lain yaitu pompa air dan combine harvester, dengan combine harvester diharapkan dapat membantu mempercepat kegiatan pemanenan serta dapat menaikkan rendemen gabah pada waktu panen. Terdapat beberapa jenis alsintan yang hanya dialokasikan di brigade wilayah Surakarta seperti seeding tray dan traktor roda empat (4), seeding tray, exvakator di provinsi.

Seeding tray merupakan jenis alsintan yang dibutuhkan dalam jumlah besar untuk penanaan padi, kebutuhan seeding tray untuk penanaman padi 1 ha sejumlah 180-200 biji, sehingga alat ini di taruh di gudang provinsi yang bisa dipinjamkan ke seluruh brigade wilayah sedangkan yang di Surakarta diharapkan dapat membantu uji benih padi pada waktu sertifikasi benih padi. Begitu juga dengan jenis alsintan traktor roda empat (4) dan ekvakator di tempatkan di provinsi karena harganya yang mahal serta jumlahnya hanya satu, dengan ditempatkan di provinsi maka jenis alsintan tersebut dapat digunakan untuk melayani ke seluruh wilayah jawa tengah.

4.1.2.4. Distribusi Alsintan di Brigade Kabupaten

Pengelolaan alsintan di brigade kabupaten/kota mulai dilakukan pada tahun 2017. Fasilitasi alsintan diperoleh dari dana APBN. Fasilitasi alsintan dibrigade kabupaten/kota bertujuan untuk membantu gapoktan, poktan dan UPJA apabila belum punya alat serta untuk menambah alsintan yang kurang. Jenis alsintan yang didistribusikan di brigade kabupaten/kota dapat dilihat pada Tabel 4.4. dan 4.5.

Tabel 4.4.

Alsintan Pra Panen di Kabupaten/Kota Jawa Tengah NO KAB/KOTA Traktor

34

Pada Tabel 4.4 dapat diketahui bahwa alsintan yang didistribusikan di brigade kabupaten/kota pada tahun 2017 terdiri dari traktor roda 4, traktor roda dua, cultivator, pompa air dan rice transplanter. Jumlah jenis alsintan yang paling banyak adalah pompa air diikuti oleh traktor roda 2. Dengan adanya fasilitasi alsintan di Brigade kabupaten diharapkan dapat memenuhi kebutuhan alsintan diseluruh Jawa Tengah. Pengelolaan penggunaan alsintan di brigade kabupaten tidak dibatasi oleh batas administratif tetapi kalau kabupaten terdekat membutuhkan dan jenis alat tersebut ada di kabupaten lain yang bisa dijangkau diperbolehkan untuk pinjam.

35 Tabel 4.5.

Alsintan Pasca Panen di Kabupaten/Kota Jawa Tengah NO Kabupaten/

Kota

Combine Harvester Power Thressher Dryer Kecil Sedang Besar Dorong Mobil Bed Vertical keberhasilan UPSUS padi dilakukan dengan tanam serentak sehingga memberikan dampak bahwa panen juga harus serempak karena waktu panen yang bersamaan. Panen serempak akan membutuhkan tenaga dalam jumlah

36

besar apalagi saat ini untuk mencari tenaga panen juga sulit oleh karena itu penggunaan alsin untuk panen sangat diperlukan. Alsintan untuk memotong dan merontokan gabah sehingga gabah yang diperoleh bisa bersih dan dapat meningkatkan rendemen adalah combine harvester kecil, sedang dan besar.

Selain itu juga digunakan power threser dorong, mobile dan tidak kalah pentingnya pengering gabah untuk musim hujan sehingga gabah dapat dikeringkan. Jumlah jenis alat yang paling banyak adalah power threser dorong dan yang paling sedikit combine harvester besar. Meskipun jumlahnya lebih sedikit tetapi kemampuan untuk melakukan panen bisa lebih cepat.

4.2. PEMANFAATAN ALSINTAN DI TINGKAT PETANI

Modernisasi peralatan budidaya pertanian, khususnya budidaya tanaman pangan padi dan jagung dengan alsintan dimulai sudah sejak lama.

Tujuan modernisasi alat dan mesin pertanian adalah guna mengatasi dan mengantisipasi kekurangan tenaga kerja di sektor pertanian pedesaaan, sebagai akibat urbanisasi, transformasi tenaga kerja ke sektor industri dan jasa serta guna meningkatkan percepatan pengelolaan usaha tani, seperti pengolahan tanah dan pemanenan.

Alsintan memiliki posisi strategis dalam produksi padi, karena dengan pemanfaatan alsintan diharapkan akan terjadi peningkatan produksi tanaman dan kualitas hasil tanaman serta efisiensi proses produksi sehingga terjadi penurunan biaya per unit. Kondisi demikian, diharapkan ditingkat petani akan terjadi peningkatan pendapatan yang merupakan kontribusi penurunan biaya produksi, meningkatnya hasil dan berkurangnya susut hasil.

Pemanfaatan alsintan bersifat labor saving technology, menggeser penggunaan tenaga manusia dan ternak. Alsintan mempunyai hubungan saling mengganti (substitusi) dengan manusia. Alsintan mempunyai peran dan potensi sangat strategis karena kontribusinya dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi sumberdaya, di samping peningkatan kualitas melalui prosesing dan diversifikasi produk yang menghasilkan nilai tambah

Pemanfaatan alsintan bersifat labor saving technology, menggeser penggunaan tenaga manusia dan ternak. Alsintan mempunyai hubungan saling mengganti (substitusi) dengan manusia. Alsintan mempunyai peran dan potensi sangat strategis karena kontribusinya dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi sumberdaya, di samping peningkatan kualitas melalui prosesing dan diversifikasi produk yang menghasilkan nilai tambah

Dalam dokumen LAPORAN AKHIR PENELITIAN (Halaman 30-0)