• Tidak ada hasil yang ditemukan

Usahatani Padi

Dalam dokumen LAPORAN AKHIR PENELITIAN (Halaman 23-0)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Usahatani Padi

Budidaya Padi Sawah menurut Purwono dan Purnamawati (2009), padi tergolong dalam famili Gramineae (rumput-rumputan). Padi dapat beradaptasi pada lingkungan aerob dan nonaerob. Batang padi berbuku dan berongga, dari buku batang inilah tumbuh anakan atau daun. Akar padi adalah akar serabut yang sangat sensitif dalam penyerapan hara, tetapi peka terhadap kekeringan. Biji padi mengandung butiran pati amilosa dan amilopektin yang mempengaruhi mutu dan rasa nasi.

Padi merupakan bahan makanan pokok sehari- hari pada kebanyakan penduduk di negara Indonesia. Padi dikenal sebagai sumber karbohidrat terutama pada bagian endosperma, bagian lain daripada padi umumnya dikenal dengan bahan baku industri, antara lain : minyak dari bagian kulit luar beras (katul), sekam sebagai bahan bakar atau bahan pembuat kertas dan pupuk. Padi memiliki nilai tersendiri bagi orang yang biasa makan nasi dan tidak dapat digantikan oleh bahan makanan yang lain, oleh sebab itu padi disebut juga makanan energi (AAK, 1990). Padi adalah komoditas utama yang berperan sebagai pemenuh kebutuhan pokok karbohidrat bagi penduduk.Komoditas padi memiliki peranan pokok sebagai pemenuhan kebutuhan pangan utama yang setiap tahunnya meningkat sebagai akibat pertambahan jumlah penduduk yang besar, serta berkembangnya industri pangan dan pakan (Yusuf, 2010). Ciri khusus budidaya padi sawah adalah adanya penggenangan selama fase pertumbuhan tanaman.Budidaya padi sawah dilakukan pada tanah yang berstruktur lumpur.Tahapan budidaya padi sawah secara garis besar adalah penyiapan lahan, penyemaian, penanaman, pemupukan, pemeliharaan tanaman, dan panen.Pemberian air pada tanaman padi disesuaikan dengan kebutuhan tanaman yakni dengan mengatur ketinggian genangan.Ketinggian genangan berkisar 2-5 cm, karena jika berlebihan dapat mengurangi jumlah anakan.Prinsip pemberian

14

air adalah memberikan pada saat yang tepat, jumlah yang cukup, kualitas air yang baik, dan disesuaikan fase pertumbuhan tanaman. Budidaya padi dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

1. Persiapan Lahan

Pengolahan lahan dapat dilakukan secara sempurna yaitu 2 kali bajak dan 1 kali garu atau minimal tanpa olah tanah sesuai keperluan dan kondisi lahan. Faktor yang menentukan pengolahan tanah adalah kemarau panjang, pola tanam, jenis/tekstur tanah.

Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan cara tradisional yaiu dengan menggunakan tenaga manusia atau hewan tetapi untuk mempercepat proses pengolahan tanah dapat dilakukan dengan menggunakan alat mesin berupa traktor roda dua dan roda empat. Traktor tangan ini digerakkan oleh motor penggerak dengan daya yang dihasilkan sekitar 4-12 hp. Menurut Soedjatmiko (1972), traktor tangan merupakan salah satu sumber tenaga alat pengolahan tanah yang digunakan baik di lahan sawah (basah) maupun di tegalan (lahan kering) yang bertenaga mesin “Internal Combustion Engine”, beroda dua dan mempunyai tenaga kurang dari 12 hp serta bersifat serba guna.

Kemampuan traktor roda dua untuk mengolah tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah: ukuran dan bentuk petakan, topografi wilayah (datar, bergelombang, berbukit), keadaan traktor (lama atau baru), keadaan vegetasi (tumbuhan yang ada dipermukaan tanah), Keadaan tanah (kering, basah, liat/berlempung, atau keras), Tingkat keterampilan operator (sudah berpengalaman, terampil atau belum berpengalaman), Pola pengolahan tanah (pola spiral, pola tepi, pola tengah, dan pola alfa)

Tabel 2.1.

Kapasitas Kerja Pengolahan Tanah Tenaga Kerja

Penarik Hp Jenis Alat Kapasitas Kerja(Ha/Musim)

15 2. Penanaman

Tanaman bibit muda ditanam pada umur <21 hari setelah sebar (hss) sebanyak 1-3 bibit/rumpun. Bibit lebih muda 14 HSS dengan 1 bibit/rumpun akan menghasilkan anakan lebih banyak.

Mesin tanam pindah bibit padi (transplanter) sistem jajar legowo atau jarwo. Transplanter Jarwo adalah mesin penanam padi yang digunakan pada areal tanah sawah kondisi siap tanam untuk menanam bibit padi dari hasil semaian yang menggunakan tray atau dapog dengan umur bibit sekitar 15 hari atau ketinggian bibit tertentu. Mesin tanam ini dirancang agar dapat beroperasi pada lahan berlumpur (puddle) dengan kedalaman kurang dari 40 cm. Oleh karena itu mesin ini dirancang ringan dan dilengkapi dengan alat pengapung (Taufik, 2010).

Sejak beberapa tahun terakhir ini telah diperkenalkan dan dikembangkan mesin tanam pindah bibit padi (rice transplanter). Mesin penanam padi adalah mesin yang digunakan untuk menanam bibit padi yang telah disemaikan pada areal khusus (menggunakan tray/dapog) dengan umur atau ketinggian tertentu, pada areal tanah sawah kondisi siap tanam, dan mesin dirancang untuk bekerja pada lahan berlumpur (puddle) dengan kedalaman kurang dari 40 cm. Oleh karena itu mesin ini dirancang ringan dan dilengkapi dengan alat pengapung (Taufik, 2010). Mesin penanam padi adalah mesin modern untuk menanam bibit padi dengan sistem penanaman yang serentak. Cara penggunaan mesin penanam padi bibit gabah dalam petakan sawah seluas 20×80 cm. Setelah tumbuh menjadi bibit dan sudah berumur 15 hari, bibit tersebut ditaruh di atas mesin penanam padi, dalam sekali gerak, mesin ini dapat membuat 4 jalur dengan jarak antar jalur 30 cm.

Pada saat operasional uji mesin penanam padi menggunakan 3 tenaga kerja, yaitu 1 orang sebagai operator dan 2 orang sebagai pembantu penyiapan bibit. Pengujian mesin penanam padi di operasikan pada variasi putaran motor penggerak 3100 rpm dan 3600 rpm. Perhitungan parameter kapasitas kerja, slip roda, waktu hilang, kebutuhan energi dan bahan bakar

16

dihitung. Hasil pengamatan dan pengukuran parameter pada masing - masing putaran enjin penggerak 3100 rpm dan 3600 rpm.

Kapasitas kerja rata-rata jarwo transplanter adalah 5,2 jam/ha. Slip yang terjadi pada uji lapang di KP. Sukamandi memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan di KP. Muara, hal ini dikarenakan sebagian besar tekstur tanah di KP. Sukamandi mengandung debu yang lebih banyak.

Banyaknya kandungan debu akan membentuk pelumpuran yang baik. Hal ini juga akan berpengaruh terhadap bibit yang tak tertanam/hilang akibat sliding yang terjadi, sehingga kandungan debu dan kedalaman pelumpuran yang tinggi akan mengakibatkan slip semakin besar pada roda (Kementan, 2014).

3. Pemeliharaan :

a. Pengairan : Pengairan diberikan pada awal penanaman dan berselang. Pengairan berselang perlu dilakukan. Tujuan pengairan berselang: i) Menghemat air irigasi sehingga yang dapat diairi lebih luas; ii) Akar tanaman lebih banyak memperoleh udara; iii) Mencegah timbulnya keracunan besi; iv) Mencegah penimbunan asam organik dan gas H2S; v) Mengaktifkan jasad renik yang bermafaat; vi) Mengurangi kerebahan; vii) Mengurangi jumlah anakan yang tidak produktif; viii) Menyeragamkan pemasakan gabah dan mempercepat waktu panen; ix) Memudahkan pembenaman pupuk kedalam tanah; x) Memudahkan pengendalian hama keong mas, mengurangi penyebaran hama wereng coklat.

Pengairan dilakukan dengan cara konvesional dan modern. Dengan menggunakan alat dan mesin berupa pompa.

b. Pemupukan

Pemupukan pada budidaya padi menggunakan prinsip pemupukan berimbang. Pemupukan berimbang, yaitu pemberian berbagai unsur hara dalam bentuk pupuk untuk memenuhi kekurangan hara yang dibutuhkan tanaman berdasarkan tingkat hasil yang ingin dicapai dan hara yang tersedia dalam tanah. Untuk setiap ton gabah yang

17

dihasilkan, tanaman padi membutuhkan hara N sekitar 17,5 kg; P sebanyak 3 kg dan K sebanyak 17 kg. Dengan demikian jika kita ingin memperoleh hasil gabah tinggi sudah barang tentu diperlukan pupuk yang lebih banyak, Namun demikian tingkat hasil yang ditetapkan juga memperhatikan daya dukung lingkungan setempat dengan melihat produktivitas padi pada tahun-tahun sebelumnya.

4. Panen dan Pasca Panen

Padi sebagai tanaman yang dibudidayakan dengan pola tanam serentak, pada saat dipanen membutuhkan tenaga kerja yang sangat banyak agar panen dapat dilakukan tepat waktu. Kebutuhan tenaga kerja yang besar pada saat panen ini menjadi masalah pada daerah-daerah tertentu yang penduduknya sedikit.

Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah kekurangan tenaga kerja adalah dengan cara meningkatkan kapasitas dan efisiensi kerja dengan menggunakan mesin panen. Keuntungan menggunakan mesin panen antara lain lebih efisien dan biaya panen per hektar dapat lebih rendah dibanding cara tradisional.

Pemanenan dilakukan pada saat gabah telah menguning, tetapi malai masih segar. Potong padi dengan sabit gerigi, 30-40 cm di atas permukaan tanah. Gunakan plastik atau terpal sebagai alas tanaman padi yang baru dipotong dan ditumpuk sebelum dirontok. Sebaiknya panen padi dilakukan oleh kelompok pemanen dan gabah dirontokan dengan power tresher atau pedal tresher. Apabila panen dilakukan pada waktu pagi hari sebaiknya pada sore harinya langsung dirontokan. Perontokan lebih dari 2 hari menyebabkan kerusakan beras.

Pemanenan sekarang juga menggunakan alsintan combine kavester, combine kavester adalah alat pemanen padi yang dapat memotong bulir tanaman yang berdiri, merontokkan dan membersihkan gabah sambil berjalan dilapangan. Dengan demikian waktu pemanen lebih singkat dibandingkan dengan menggunakan tenaga manusia (manual) serta tidak membutuhkan jumlah tenaga kerja manusia yang besar seperti pada

18

pemanenan tradisional. Penggunaan alat ini memerlukan investasi yang besar dan tenaga terlatih yang dapat mengoprasikan alat ini (Barokah, 2001).

Secara umum fungsi operasional dasar combine harvester adalah sebagai berikut : Memotong tanaman yang masih berdiri, menyalurkan tanaman yang terpotong ke selinder, merontokkan gabah dari tangkai atau batang, Memisahkan gabah dari jerami, membersihkan gabah dengan cara membuang gabah kosong dan benda asing. Adapun prinsip kerja combine harvester adalah: i) Padi yang dipotong termasuk jeraminya, semuanya dimasukkan ke bagian perontokan, gabah hasil perontokan ditampung dalam tangki, dan jeraminya di tebarkan secara acak di atas permukaan tanah, Semua jenis combine ini dioperasikan dengan cara dikendarai (riding type).

Lebar pemotongan berkisar antara1,5 hingga 6 meter. Namun yang populer adalah 4 meter; ii) Mesin sebagai sumber tenaga gerak adalah sekitar 25 hp per 1 meter lebar pemotongan. Bagian penggerak majunya adalah menggunakan roda, atau half-track type atau full-track type.

Salah satu contoh mesin pemanen padi otomatis tipe combine harvester adalah mesin panen padi Indo Combine Harvester hasil rancangan Badan Litbang Pertanian untuk mendukung pencapaian program swasembada beras nasional melalui usaha penurunan susut hasil panen.

Kemampuan kerja mesin pemanen padi otomatis tipe combine harvester rancangan litbang pertanian ini mampu menggabungkan kegiatan potong-angkut-rontok-pembersihan-sortasi-pengantongan dalam satu proses kegiatan yang terkontrol.

Adanya proses kegiatan panen yang tergabung dan terkontrol menyebabkan susut hasil yang terjadi hanya sebesar 1,87% atau berada di bawah rata-rata susut hasil metode “gropyokan” (sekitar 10%). Sedangkan tingkat kebersihan gabah panen yang dihasilkan oleh mesin tersebut mencapai 99,5%. Mesin panen padi Indo Combine Harvester yang dioperasikan oleh 1 orang operator dan 2 pembantu mampu menggantikan tenaga kerja panen sekitar 50 HOK/ha. Kapasitas kerja mesin mencapai 5 jam per hektar.

19 2.5. ANALISA EKONOMI

Analisis ekonomi adalah proses dimana kekuatan dan kelemahan suatu kegiatan atau proyek atau usaha dianalisis secara ekonomi. Aktivitas analisis ekonomi sangat penting untuk memahami kondisi ekonomi yang tepat terhadap suatu kegiatan atau proyek atau usaha. Kegiatan analisa ekonomi dapat mencakup sejumlah isu-isu ekonomi penting yang terus cropping up dalam ekonomi tertentu, yang sedang dianalisis.

Analisa ekonomi untuk penggunaan alat mesin pertanian pada usahatani padi berfungsi untuk mengetahui apakah penggunaan alat mesin tersebut dapat menguntungkan atau tidak menguntungkan. Dimana menurut Hunt (1986) dan De Garmo et al.(1984) dinyatakan analisis ekonomi dapat didasarkan pada analisis biaya yaitu :

1. Biaya Tetap. Biaya tetap merupakan fixed cost atau biaya kepemilikan dan biaya tetap pengoperasian alat dapat dihitungan dengan persamaan berikut:

Dimana:

BT = Biaya tetap (Rp/tahun)

D = Biaya penyusutan alat (Rp/tahun)

I = Tingkat pengembalian bunga modal (Rp/tahun) G = Biaya gudang = 1% P/th

P = Harga alat (Rp)

S = Harga akhir alat, 10 % P (Rp) i = Suku bunga modal di bank N = umur ekonomis alat (th)

2. Biaya Tidak tetap

Biaya tidak tetap merupakan variable cost sebagai biaya operasional alat. Biaya tidak tetap dari pengoperasian alat dapat dihitung dengan persamaan berikut:

dengan :

BTT = Biaya tidak tetap (Rp/jam)

PP = Biaya perbaikan dan pemeliharaan alat (Rp/jam) = 1,2 % ( P – S ) / 100 jam Bo = Upah operator tiap jam (Rp/jam) = Wop / Wt

BL = Biaya Listrik (Rp/jam)

Wop = Upah tenaga kerja tiap hari (Rp/hari) Wt = Jam kerja tiap hari (jam/hari)

20 3. Biaya Pokok

Biaya pokok pengoperasian alat (Rp/kg) dapat dihitung dengan persamaan :

dengan:

BP = Biaya pokok pengoperasian alat (Rp/kg) x = Jam kerja dalam satu tahun (jam/tahun) Kp = Kapasitas kerja alat (kg/jam)

2.6. EVALUASI PROGRAM

Menurut Endang Mulyatiningsih (2011), evaluasi program dilakukan dengan tujuan untuk: i) Menunjukkan sumbangan program terhadap pencapaian tujuan organisasi. Hasil evaluasi ini penting untuk mengembangkan program yang sama ditempat lain; ii) Mengambil keputusan tentang keberlanjutan sebuah program, apakah program perlu diteruskan, diperbaiki atau dihentikan. Dilihat dari tujuannya, yaitu ingin mengetahui kondisi sesuatu, maka evaluasi program dapat dikatakan merupakan salah satu bentuk penelitian. Menurut Arikunto (2009) bahwa Evaluasi program merupakan suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sengaja untuk melihat tingkat keberhasilan suatu program.

Melakukan evaluasi program ialah kegiatan yang dimaksudkan untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat keberhasilan dari kegiatan yang telah direncanakan. Berkaiatan dengan difinisi tersebut maka evaluasi program merupakan evaluasi program merupakan rangkaian kegiatan pengumpulan data atau informasi ilmiah yang hasilnya dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil keputusan dalam menentukan alternatif kebijakan program dimasa akan datang. Karenanya, dalam keberhasilan suatu evaluasi program ada dua konsep yang terdapat didalamnya yaitu efektifitas dan efisiensi.

Terdapat banyak model evaluasi yang bisa digunakan dalam melakukan evaluasi suatu program. Meskipun terdapat beberapa perbedaan antara model-model tersebut, tetapi secara umum model-model tersebut memiliki persamaan yaitu mengumpulkan data atau informasi obyek yang

21

dievaluasi sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan (Suharsimi Arikunto dan Cecep Safruddin Abdul Jabbar, 2004).

22

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN

Lokasi penelitian dipilih di Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Magelang. Pemilihan lokasi dilakukan dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Magelang memiliki karakteristik agroekologi yang berbeda sehingga mempengaruhi fungsi dan pemanfaatan Alsintan oleh petani. Penelitian akan dilaksanakan pada pengelola Alsintan (Poktan, Gapoktan, UPJA) dan Brigade Alsintan (Dinas Pertanian, Kodim, Poktan, Gapoktan, UPJA). Waktu penelitian selama sepuluh bulan, dimulai bulan Mei sampai bulan Oktober 2018.

3.2. SIFAT PENELITIAN

Penelitian bersifat evaluasi deskriptif, yaitu penelitian dengan desain evaluasi untuk mengumpulkan dan menganalisis data secara sistematik sehingga diperoleh manfaat dari kegiatan yang telah dilaksanakan. Metode penelitian evaluasi yang digunakan adalah dengan deskriptif kualitatif dilanjutkan dengan kuantitatif.

Pendekatan penelitian yang digunakan adalah fenomologik yaitu untuk memungkinkan mengungkapkan realita dan mendeskripsikan situasi secara komprehensif dengan konteks yang sesungguhnya.

3.3. METODE PENGUMPULAN DATA 1. Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Populasi merupakan wilayah generalisasi berupa subjek atau objek yang diteliti untuk dipelajari dan diambil kesimpulannya. Sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi yang diteliti. Dengan kata lain, sampel merupakan sebagian atau bertindak sebagai perwakilan dari populasi sehingga hasil penelitian yang berhasil diperoleh dari sampel dapat digeneralisasikan pada populasi.

Populasi penelitian adalah alsintan yang ada di Jawa Tengah yaitu di provinsi dan 29 kabupaten. Alsintan terbagi 3 kelompok yaitu prapanen,

23

pasca panen dan pengolahan untuk komoditas padi, tetapi dalam penelitian ini fokus pada Alsintan pra panen dan pasca panen. Selajutnya dilakukan pemilahan sampel lokasi, karena keterbatasan dana dan waktu maka pemilihan sampel lokasi dilakukan secara purposive sampling. Sampel lokasi yang dipilih berdasarkan kondisi iklim, topografi dan luas lahan pertanian yaitu Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Magelang. Selanjutnya akan dipilih Gapoktan, Poktan, UPJA dan Brigade Alsintan berdasarkan kemampuan dalam memanejemen Alsintan yang dimiliki. UPJA dipilih berdasarkan kelas UPJA yaitu Pemula, Berkembang dan Profesional. Selain itu juga dipilih kondisi topografi serta lokasi sentra padi. Informan yang dipilih adalah Ketua atau pengurus Gapoktan/Poktan, Manager atau pengurus UPJA, Operator Alsintan, Pengelola Brigade dan Petani serta Kepala Bidang/Kepala Sub Bidang Dinas Pertanian yang menangani Alsintan.

2. Metode pengumpulan data

Metode pengumpulan data dilakukan dengan tiga cara yaitu : a. Indept interviue:

1) Wawancara secara mendalam dilakukan pada Gapoktan, Poktan, UPJA, Brigade Dipertan Provinsi; Brigade Dipertan Kabupaten dan Brigade Kodim yang dilaksanakan di lokasi yaitu dengan mengunjungi pengelola Brigade Dipertan Kabupaten/Kodim, Gapoktan, Poktan, UPJA untuk memperoleh data :

- Kelembagaan Alsintan: Bentuk lembaga, status hukum lembaga, kepengurusan, uraian tugas, modal (Uang, Alsintan, Tanah, Bangunan), AD/ART, pemeliharaan alsintan, keberlanjutan Alsintan.

- Data analisa ekonomi: harga alat saat diterima, harga alat akhir, biaya gudang-simpan alat, biaya operasional alat (bahan bakar, upah tenaga kerja operasional, umur ekonomis alat, biaya perbaikan atau pemeliharaan, biaya

24

listrik (jika ada), upah tenaga kerja tiap hari, jam kerja tenaga kerja per hari, jam kerja alat per hari, jam kerja dalam satu tahun, kapasitas kerja alat (misalnya traktor mampu mengolah lahan 1 ha/4jam).

- Pengelolaan: Manajemen pengelolaanya

- Implementasi dan Manfaat Alsintan: Prosedur peminjaman, Biaya, Jenis alat yang digunakan, kapasitas penggunaan alat, kebutuhan dan ketersediaan Alsintan.

b. Wawancara pada petani: luas lahan, jenis pengairan, status lahan, varietas padi yang ditanam, bulan penanaman, pola tanam, sistem pengolahan tanah, sistem tanam, pemeliharaan, sistem panen, ketersediaan tenaga kerja, penggunaan Alsintan, analisa usahatani padi, manfaat Alsintan, Jenis alsintan yang digunakan, usahatani padi.

c. Forum Group Discussion (FGD), dilakukan untuk memperkuat hasil indept interviue. FGD dilakukan dengan tokoh-tokoh kunci seperti pengurus kelembagaan yang menangani Alsintan Gapoktan, Poktan, UPJA, Brigade Kabupaten/Provinsi dan petani yang menggunakan Alsintan serta petani yang tidak menggunakan Alsintan, Bappeda, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL).

3. Sumber data

Berdasarkan cara memperolehnya, data penelitian ada dua, yaitu : a. Data primer: data yang diambil dari pengelola Alsintan di Brigade

maupun dikelompok dan petani sebagai pengguna.

b. Data sekunder: data yang diperoleh dari dinas teknis yaitu Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten kaitan dengan jumlah Alsintan, jenis Alsintan, penyaluran Alsintan, analisa usahatani padi.

3.4. METODE PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

Pengolahan data dilakukan dengan mengelompokkan data berdasarkan implementasi alsintan (jenis alsintan, jumlah alsintan, distribusi alsintan,

25

kesesuaian alsintan dengan kondisi geografis); Pengelolaan (Manajemen alsintan) Kelembagaan (Struktur organisasi, posisi kelembagaan alsintan);

ekonomi (analisa alsintan). Selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif.

26

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. GAMBARAN UMUM

4.1.1. Sejarah dan Kebijakan Mekanisasi Pertanian

Pada awal abad ke-20, tepatnya pada tahun 1914 mekanisasi pertanian mulai di gunakan pada perkebunan Gula Tebu di Sidoarjo, kemudian berkembang di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di Sumatera Utara pada perkebunan tembakau di Deli penggunaan mekanisasi pertanian juga berkembang pesat (http://mekanisasisuplirahim.blogspot.com/2013/05/sejarah-mekanisasi-di-indo). Perkembangan teknologi mekanisasi pertanian di Indonesia, secara kronologis sebagai berikut :

a. Tahun 1951, dilakukan pendidikan tenaga bidang mekanisasi pertanian di luar negeri, dan kemudian diresmikan pula Bagian Mekanisasi Pertanian di Departemen Pertanian.

b. Tahun 1958, PT Bahan Makanan dan Pembukaan Tanah (PT BMPT) didirikan dan dilakukan Introduksi traktor tangan dari Jepang.

c. Tahun 1962, PT BMPT berubah menjadi MEKATANI. Peralatan mekanis dibantu oleh Negara Eropa Timur dan dikelola MEKATANI.

Pada periode 1952 - 1962, diperkirakan telah beredar 10.000-an unit mesin pertanian untuk kegiatan mekanisasi pertanian.

d. Tahun 1963/1964, Institut Pendidikan Tinggi di bidang Mekanisasi Pertanian didirikan di UGM dan IPB, dan kemudian tahun 1967 diadakan acara Simposium Nasional Mekanisasi Pertanian.

e. Tahun 1980-an, peralatan sederhana sprayer dan lainnya telah diproduksi di dalam negeri. Pada periode ini juga penggunaan traktor besar untuk pembukaan dan penyiapan lahan perkebunan telah banyak digunakan, termasuk alat pemberantas hama dan penyakit, transportasi dan mesin tanam tebu.

4.1.2. Kondisi Pertanian di Provinsi Jawa Tengah

Peranan mekanisasi pertanian dalam Pembangunan Nasional, adalah untuk: Mempertinggi efisiensi tenaga manusia; Meningkatkan derajat dan

27

taraf hidup petani; Meningkatkan kualitas dan kuantitas serta kapasitas produksi pertanian; Memungkinkan pertumbuhan skala usaha tani, yaitu dari skala pertanian untuk kebutuhan keluarga (subsistem farming) menjadi pertanian perusahaan (commercial farming); dan Mempercepat transisi bentuk ekonomi pertanian dari sifat agraris menjadi industri. Sedangkan ruang lingkup mekanisasi pertanian meliputi :

- Bidang mesin-mesin budidaya pertanian, yang menelaah persoalan-persoalan penggunaan tenaga dan alat-alat dan mesin untuk budidaya pertanian.

- Bidang teknik tanah dan air, yang menelaah persoalan-persoalan yang ada kaitannya dengan keadaan teknik tanah dan air.

- Bidang bangunan pertanian, yang menelaah persoalan-persoalan gedung-gedung, bangunan dan perlengkapan pertanian.

- Bidang mesin-mesin pengolahan hasil pertanian, yang menelaah persoalan-persoalan penggunaan mesin-mesin yang dipakai dalam usaha menyiapkan hasil pertanian, baik untuk disimpan maupun untuk langsung digunakan.

- Bidang mesin-mesin pengolahan pangan, yang menelaah persoalan-persoalan penggunaan alat serta syarat-syarat yang diperlukan bagi suatu pengolahan pangan.

- Kebijakan mekanisasi pertanian di Jawa Tengah tertuang di dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah pada sektor pertanian, khususnya dalam rangka peningkatan produksi pangan. Namun, secara eksplisit kebijakan dan program pemanfaatan, pembangunan dan pengembangan mekanisasi pertanian tidak tersurat di dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah, baik pada RPJMD maupun di dalam RKPD. Perencanaan pembangunan pertanian akan mempengaruhi kondisi pertanian di jawa tengah diantaranya adalah capaian luas tanam yang akan mempengaruhi produksi.

28 4.1.2.1. Luas Tanam Padi Sawah

Komoditas padi merupakan salah satu komoditas yang menjadi sasaran untuk peningkatan produksi, produktivitas dan mutu pangan.

Berkaitan dengan hal tersebut maka berbagai upaya dilakukan untuk memanfaatkan sumberdaya yang ada secara maksimal sehingga pencapaian produksi bisa tercapai. Untuk memperoleh capaian produksi maka

Berkaitan dengan hal tersebut maka berbagai upaya dilakukan untuk memanfaatkan sumberdaya yang ada secara maksimal sehingga pencapaian produksi bisa tercapai. Untuk memperoleh capaian produksi maka

Dalam dokumen LAPORAN AKHIR PENELITIAN (Halaman 23-0)