BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4. Pengelolaan Alsintan
4.4. PENGELOLAAN ALSINTAN
Alsintan yang difasilitasikan kepada petani melalui kelembagaan brigade, Gapoktan, Poktan dan UPJA harus dikelola dengan baik sehingga dapat melayani petani untuk melakukan usahatani. Tahapan pengelolaan yang dilakukan oleh lembaga pengelola alsintan berbeda-beda tergantung pada kemampuan lembaga yang mengelola alsintan, pengelolaan yang dilakukan oleh lembaga pengelola dapat dilihat pada Tabel 4.9.
53 Tabel 4.9.
Pengelolaan Alsintan
NO Lembaga Perencanaan Pelaksanaan Pengawasan 1 Provinsi Membuat aturan cara
peminjaman alat
1 Dinas Pertanian Membuat aturan cara peminjaman alat
3 Gapoktan Membuat tarif - Operator penentu - Pembukuan masih
54
NO Lembaga Perencanaan Pelaksanaan Pengawasan - Alsin tanggung jawab didistribusikan di Kabupaten Grobogan dan Magelang, pengelolaan yang terbaik ada di Kodim, karena dikelola oleh bagian atau staf territorial Kodim yang telah terbiasa mengelola alat-alat berat kemiliteran.
Proses peminjaman dikawal sejak di tingkat kelompok yang dikawal oleh Babinsa sehingga diketahui dengan benar kebutuhan alsintan di lokasi, peminjaman kemudian dikawal oleh Koramil, baru disampaikan ke Kodim.
Peminjaman alat dilakukan dengan mengisi form yang telah disediakan, waktu peminjaman sesuai dengan kebutuhan dan bisa diperpanjang dengan mengisi form. Alsin yang dipinjamkan dalam kondisi bersih dan tidak rusak maka pada waktu pengembalian juga harus dalam kondisi bersih dan tidak rusak, apabila terjadi kerusakan pada waktu dipinjam maka si peminjam bertanggungjawab untuk memperbaiki sesuai dengan kondisi semula.
Peminjam dikenakan biaya transpotasi pada waktu pengiriman dan pemulangan. Alsin yang ada di Kodim tidak memiliki biaya untuk perawatan, perawatan dilakukan pada alsin yang masih memiliki garansi dan dilakukan oleh perusahaan. Dengan tidak adanya alokasi biaya untuk perawatan kalau alsin sudah tidak garansi maka untuk keberlanjutan alsin agar kondisinya tetap baik bahkan harus menjadi pemikiran lebih lanjut mengingat alsin tidak dikenakan tarif. Di Brigade Kodim Magelang melakukan perawatan setiap hari dengan memanasi mobil setiap pagi, untuk perawatan dilakukan oleh petugas yang memiliki tanggungjawab pada jenis alsin. Kerusakan untuk alsin yang rusak kecil dilakukan sendiri.
Pengelolaan alsintan oleh Gapoktan dan Poktan di Kabupaten Grobogan masih belum professional karena pengelolaan alsintan diserahkan
55
ke operator. Petani sebagai konsumen yang menginginkan lahanya untuk diolah atau alat untuk memanen menghubungi langsung kepada operator dan operator yang akan mengokasikan waktu untuk pelaksanaan olah tanah, dengan demikian pihak kelompok tidak pernah tahu luasan garapan sesungguhnya yang dilakukan oleh operator, jadi sifat usahanya saling percaya. Gapoktan/Kelompok sebelumnya telah menetapkan tarif yang dibebankan kepada petani. Tarif digunakan untuk komponen bahan bakar, operator, kas, kerusakan dan susut alat. Pembukuan yang dilakukan oleh operator tidak pertransaksi tetapi di akumulasi misalnya satu bulan sekali dan pertemuan khusus membahas untuk membahas dan melakukan kegiatan pengawasan alsin belum dilakukan oleh kelompok.
Pengelolaan alsin di Gapoktan dan Poktan Kabupaten Magelang di kendalikan oleh ketua kelompok karena ketua kelompok tani sekaligus sebagai operator sehingga pengaturan penggunaan alsin diutamakan untuk lahan kelompok tani dan lahan petani satu desa yang lokasinya berdekatan dengan lahan anggota yang sedang dikerjakan hal ini dilakukan agar waktu tanam yang dilakukan oleh kelompok waktunya bisa berdekatan. Untuk pengelolaan alsintan di Gapoktan pada umumnya memiliki jenis alsintan lebih dari satu sehingga operator yang dimiliki ada yang anggota kelompok dan ada yang dari luar, operator dalam menjalankan fungsinya melakukan koordinasi dengan ketua kelompok. Hal ini dikondisikan oleh ketua kelompok karena kelompok tani memiliki usaha bersama penjualan beras untuk beras merah organik dengan demikian alsintan yang difasilitasikan ke kelompok sangat menunjang usaha beras yang dilakukan.
Pengelolaan alsin oleh UPJA dilakukan dengan tujuan ekonomi sehingga target yang dicapai adalah untuk memperoleh keuntungan agar alsin yang dikelola bisa bertambah. UPJA membuat tarif berdasarkan jenis alsin, tarif yang diterapkan untuk UPJA di Kabupaten Grobogan sama karena sesuai dengan standar asosiasi UPJA Kabupaten Grobogan.
Operasional alsintan UPJA menggunakan miliki UPJA juga meminjam di Brigade Dinas Pertanian Kabupaten dan Kodim, peminjaman alsin brigade dilakukan sampai satu tahun dengan cara pembaharuan peminjaman,
56
Alsintan yang dipinjam pada umumnya adalah traktor roda dua dan roda empat, serta combine harvester besar. Tarif yang dibayarkan oleh si peminjam digunakan untuk pembelian BBM, operator, kas, perawatan.
Operator bertanggungjawab kebersihan, perawatan dan keamanan alat karena untuk memudahkan selama alat digunakan maka alat dibawa oleh operator, tetapi untuk alat yang tidak digunakan maka alsintan akan disimpan di gudang UPJA. Pada umumnya gudang menjadi satu dengan kantor Poktan/UPJA, dengan ketersediaan lahan terbatas. Status kepemilikan lahan adalah milik desa, bahkan ada yang milik pribadi. Garasi sebagai tempat perlindungan dan perawatan alsintan tidak di dalam gedung, namun sebagian besar di luar gedung tanpa atap.
Pembukuan alsintan di UPJA dilakukan dengan baik, pembukuan yang dilakukan antara lain: Buku inventaris yang berisi catatan jumlah, jenis dan tahun alsintan yang didapat, Buku keuangan, Buku keanggotaan, Buku masing-masing jenis alsintan. Manajer melakukan pengawasan pada operasional alsintan yang dilakukan oleh operator dan pencatatan yang dilakukan oleh seksi administrasi.
Perawatan dan perbaikan ringan alsintan, dilakukan oleh para operator dan atau mekanik yang mengelola Alsintan pada UPJA. Kemampuan teknisnya diperoleh dari pengalaman dan pelatihan dari teknisi agen alsintan sebagai pelayanan pasca jual. Sedangkan, bilamana terjadi kerusakan berat, UPJA berkoordinasi kepada agen alsintan. Namun, hal ini memerlukan waktu dan komunikasi dengan dealernya.
“Menurut Bapak Margono” UPJA Karangrayung bisa menggunakan tenaga anak-anak muda yang bisa menggantungkan hasilnya dari operator karena UPJA wilayahnya luas, bisa mencapai satu kecamatan, karena pelayanan cukup baik dan terjadi promosi dari mulut ke mulut”